Lust For Life


Judul asli: Lust for Life
Penulis: Irving Stone
Penerbit: Serambi
Tebal: 574

“His efforts have not been in vain, but he will probably not live to see them come to fruition, for by the time people understand what he is saying in his paintings it will be too late. He is one of the most advanced painters and it is difficult to understand him, even for me who knows him so intimately. His ideas cover so much ground, examining what is humane and how one should look at the world, that one must first free oneself from anything remotely linked to convention to understand what he was trying to say, but I am sure he will be understood later on. It is just hard to say when.” ~ Teo Van Gogh, http://www.vggallery.com/

Lust for Life adalah novel biografis seorang pelukis termahal di dunia. Ia adalah Vincent Van Gogh. Sebelum memulai karir sebagai pelukis, Vincent pernah menekuni profesi sebagai pramuniaga lukisan di sebuah gallery. Seperti keluarga Van Gogh lainnya, mereka adalah keluarga pedagang lukisan terbesar di Eropa. Kemudian Vincent menjadi pengabar injil di Borinage sebelum akhirnya memutuskan melukis adalah jalan hidupnya.

Berbeda dengan adiknya, Teo Van Gogh yang bekerja di gallery seni, kehidupan Vincent sepenuhnya dilalui dengan kemiskinan dan kegagalan cinta. Selama hidupnya Vincent hanya berhasil menjual satu kali karya lukisnya yang berjudul Ladang Anggur yang merah. Lukisan itu dibuat Vincent di Arles, kota kecil yang dipilihnya untuk menekuni karirnya sebagai pelukis setelah ia sebelumnya sempat tinggal selama setahun bersama Teo, adik yang selalu mendukung Vincent.

Sejak ia memutuskan profesi sebagai pelukis, Teo seorang yang setia mendampingi Vincent. Teo menyokong hidupnya dengan mengirimkan tidak hanya uang untuk kebutuhan sehari-hari namun juga membelikan peralatan lukis yang dibutuhkan Vincent. Teo juga yang merawat ketika Vincent sakit dan kesepian.

Walaupun Vincent bekerja keras setiap hari untuk mematangkan teknik lukisannya ia belum juga mencapai kesuksesan sampai akhir hidupnya.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh seperti mencerap kemuraman dan kesedihan yang tak kunjung habis. Sepertinya kesedihan begitu lekat kepada dirinya, dan tampak pada lukisan-lukisan Van Gogh yang muram.

“Aku akan menjalani hidup dengan kenyataan dan penderitaan. Itu bukanlah jalan yang akan membuat seseorang mati.”

Van Gogh memilih untuk mengungkapkan kejujuran emosi yang ia rasakan dalam setiap karyanya. Vincent mengajarkan kepada kita untuk menangkap keindahan tersembunyi di tempat-tempat yang buruk.

Bagi Vincent, “…figur seorang pekerja, galur-galur di ladang yang sudah dibajak, sebutir pasir, laut dan langit adalah subjek-subjek yang serius, begitu sulit, tetapi dalam waktu yang bersamaan begitu indah, sehingga sangat layak kalau dia mempersembahkan hidupnya untuk mengekspresikan puisi di balik semua itu.” (halaman 260)

Vincent Van Gogh meninggal dunia dalam usia 37 tahun. Ia belum sempat menyaksikan karya-karyanya dihargai orang dan menjadi abadi.

Namun demikian Teo benar, kerja keras Vincent tidak pernah sia-sia. Mengutip kalimat pembuka tulisan ini ada sebuah lirik lagu Starry, Starry Night dari Don McLean untuk Vincent. Starry, Starry Night adalah judul salah satu karya lukisnya yang terkenal.
download (1)

Don McLean – Vincent (Starry, Starry Night)

Starry, starry night.
Paint your palette blue and grey,
Look out on a summer’s day,
With eyes that know the darkness in my soul.
Shadows on the hills,
Sketch the trees and the daffodils,
Catch the breeze and the winter chills,
In colors on the snowy linen land.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they’ll listen now.
Starry, starry night.
Flaming flowers that brightly blaze,
Swirling clouds in violet haze,
Reflect in Vincent’s eyes of china blue.
Colors changing hue, morning field of amber grain,
Weathered faces lined in pain,
Are soothed beneath the artist’s loving hand.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they’ll listen now.

For they could not love you,
But still your love was true.
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night,
You took your life, as lovers often do.
But I could have told you, Vincent,
This world was never meant for one
As beautiful as you.

Starry, starry night.
Portraits hung in empty halls,
Frameless head on nameless walls,
With eyes that watch the world and can’t forget.
Like the strangers that you’ve met,
The ragged men in the ragged clothes,
The silver thorn of bloody rose,
Lie crushed and broken on the virgin snow.

Now I think I know what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they’re not listening still.
Perhaps they never will…

2 Comments

Trackbacks

  1. Belajar Tiada Henti » Blog Archive » Kontemplasi #1 -
  2. Kontemplasi #1 |

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*