Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu

Judul: Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu
Penulis: Tolstoy
Penerbit: Jalasutra

Setelah Pesta Dansa adalah salah satu kisah dari buku kumpulan cerpen Tolstoy yang berjudul Tuhan Maha Tahu, tapi Dia menunggu.

“Hidup ini tidak bisa ditebak.”

Aku pernah begitu mencintai seorang perempuan. Ayah gadis ini adalah seorang bangsawan. Suatu hari diadakan pesta dansa di rumah ayah Varenka, nama gadis ini. Aku datang. Di pintu masuk aku disambut oleh Ayah dan Ibu Varenka. Mataku tak sengaja bersitatap dengannya. Saat itu aku merasa jatuh cinta. Mata kami saling menatap. Tak aku pedulikan orang-orang di sekitarku. Sepanjang malam itu perhatianku tak lepas dari dirinya. Varenka membalas perhatianku. Aku berdansa dengan Varenka. Menemaninya makan malam. Melihatnya berdansa dengan ayahnya. Kolonel Barishnykov, ayah Varenka adalah seorang pedansa ulung. Kemudian, aku diperkenalkan oleh ayahnya dan bercakap-cakap. Malam itu pikiranku penuh oleh bayangan dirinya, bahkan ketika aku sampai di rumah.

Aku gelisah, tak bisa tidur. Malam beranjak pagi dan akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, terjadilah suatu peristiwa yang kemudian mengubah perjalanan hidupku selanjutnya. Sayup-sayup kudengar bunyi tambur. Pelan tapi mengarah ke tempat aku berdiri. Iringan tambur terdengar semakin keras disertai derap langkah sepatu tentara. Bayangan itu semakin dekat dan aku melihat pasukan tentara mengawal seorang pemberontak. Bajunya sobek dan kumal. Langkah kakinya tampak berat karena kedua pergelangan tangannya dirantai. Tangannya pun ikut dibelenggu ikatan rantai yang berat. Sesekali pemberontak itu terlihat menggeliat dan berteriak. Teriakannya terdengar memilukan dan menyayat hati. Ia dipecut. Bunyi tali pecut itu terdengar jelas mengalahkan derap pasukan tentara. Aku hampir menutup telingaku, tak sanggup aku mendengar teriakannya.

Darah mengucur dari bekas luka pecutan. Si pemberontak terjatuh dan tentara di barisan depan memaksanya berdiri, namun si pemberontak terjatuh kembali. Sampai kemudian terdengar aba-aba berhenti dan komandan pasukan memberi perintah kepada si pemberontak untuk berdiri. namun perintah itu sia-sia. Komandan pasukan marah, mengambil tali pecut dan memecut pemberontak itu dengan bernafsu. Dari gerakannya aku dapat melihat ia puas telah menyakiti pemberontak itu. Teriakan pilu pemberontak tak dihiraukannya. Setelah puas komandan pasukan membalikkan badannya ke arahku. Aku tak percaya, ketika aku melihat wajahnya, ia adalah kolonel Barishnykov.

Sejak dini hari itu aku tak bisa melupakan wajah kesakitan si pemberontak, bunyi tambur dan derap pasukan tentara serta wajah haus darah dan sorot mata kejam kolonel Barishnykov. Aku masih beberapa kali menemui Varenka. Tapi setiap kali menatap mata Varenka aku melihat bayangan peristiwa dini hari itu. Kengerian itu menghantuiku. Akhirnya kuputuskan pergi dari kota itu dan meninggalkan Varenka.

**
Perilaku barbar manusia seperti di atas nyatanya masih tampak di abad 21. Kebencian dan aniaya menjadi jalan pintas untuk menyikapi sebuah perbedaan. Apakah selamanya manusia tak pernah belajar dari sejarah hidupnya sendiri?

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*