Edward dan Tuhan

9fe4791661d779a95b3b547bbf8c8f79
Judul: Edward & Tuhan
Penulis: Milan Kundera dkk
Penerbit: Banana Publisher
Tebal: 201

Buku ini berisi kumpulan cerpen dari para penulis klasik dunia. Kesemua cerita pendek ini berkisah tentang cinta ganjil. Cinta yang tak biasa, absurd namun ada. Edward dan Tuhan oleh Milan Kundera, Bagaimana Aku Bertemu Suamiku dari Alice Munro, Pertemuan Agustus karya Gabriel Garcia Marquez, dan Kuniko oleh Naoya Shiga.

Cerita pertama ditulis oleh penulis yang terkenal dengan karyanya, Unbearable Lightness of Being, Milan Kundera. Di sini Milan Kundera berkisah mengenai seorang pemuda komunis bernama Edward. Edward menyukai Alice, seorang wanita yang religius. Demi mendekati Alice, Edward yang atheis berpura-pura menjadi seorang yang percaya kepada Tuhan. Ketaatannya kepada Tuhan menimbulkan masalah di sekolah, tempat Edward mengajar, di mana mereka yang memiliki keyakinan akan adanya Tuhan disingkirkan dari lingkungannya. Demi mengetahui pengorbanan yang telah dilakukan Edward (dari orang lain) membuat Alice berbalik memuja Edward dan menyerahkan tubuhnya kepada Edward. Edward pada akhirnya memperoleh apa yang telah lama diinginkannya dari Alice. Namun ternyata penyerahan diri Alice membuat Edward sengsara. Edward marah karena betapa mudah Alice berubah haluan mengkhianati Tuhannya, Tuhan yang ia puja secara fanatik dulu, yang melarang perzinahan. Ia marah karena melihat sikap Alice yang datar saja dan tanpa perasaan bersalah menjalani semuanya.
“Mengapa penderitaan Edward karena kesetiaannya kepada keyakinannya harus berakibat ketidaksetiaan Alice kepada hukum Tuhan? Jika Edward tidak mengkhianati Tuhan di depan komisi pencari fakta, mengapa kini Alice harus mengkhianatinya di depan Edward?” (halaman 58)

Edward merasa Alice tidak konsisten. Ia melihat Alice sebagai sosok manusia yang tidak utuh antara fisik dan pikirannya. “Keyakinan gadis itu dalam kenyataannya hanyalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan jalan hidup gadis itu, dan takdir Alice hanyalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan tubuhnya. Ia melihat gadis itu sebagai gabungan kebetulan dari tubuh, pikiran, dan tindakan; sebuah gabungan yang tidak organik, saling berselisih dan tidak stabil. Ia membayangkan Alice, dan ia melihat tubuh gadis itu berpisah dari pikirannya.” (halaman 61)

Ia mencintai Alice namun penyerahan total dirinya menyebarkan kebencian dan dendam yang memenuhi pikiran Edward.
“Dan seseorang yang sanggup mengkhianati Tuhan, sanggup dengan mudah mengkhianati manusia ratusan kali.” (halaman 66)

Dan mengenai Tuhan? Walau Edward tidak sepenuhnya memercayai adanya Tuhan, namun ia merasa bahagia akan hiburan nostalgis dengan gagasan adanya Tuhan (halaman 68).
“Tuhan adalah esensi itu sendiri, sementara Edward tidak pernah menjumpai (sejak insiden dengan kepala sekolah dan Alice, tahun-tahun telah berlalu) apa pun yang esensial dalam hubungan asmaranya, dalam mengajarnya, atau dalam pikirannya. Ia terlalu cemerlang untuk mengakui bahwa ia melihat yang esensial dalam ketidakesensialan, namun ia terlalu lemah untuk tidak diam-diam merindukan yang esensial. Itulah mengapa Edward merindukan Tuhan, karena Tuhan sendiri yang terbebas dari kewajiban pemunculan, dan semata-mata ada untuk mengganggu perhatian. Karena Ia menghadirkan (Ia sendiri, tak berteman, dan tak nyata) lawan yang esensial dari dunia yang tidak esensial (namun begitu banyak yang nyata). (halaman 69).

Kisah kedua bercerita tentang seorang wanita yang bertemu dengan seorang pilot, yang berjanji untuk mengiriminya surat. Si wanita setia menanti di depan kotak pos, menunggu kedatangan tukang pos mengantarkan surat yang tak pernah datang untuknya. Sampai pada akhirnya ia menerima kencan dari si tukang pos dan mereka pun menikah. Kepada anak-anaknya lelaki itu selalu berkata bahwa ibu mereka selalu duduk di dekat kotak pos setiap hari untuk menemuinya.

Kisah ketiga mengenai seorang istri yang berselingkuh dengan lelaki yang lebih muda. Sialnya, si lelaki kemudian meninggalkan ia dengan menyelipkan beberapa lembar uang untuknya. Ternyata lelaki yang dia kira mencintainya menganggapnya tak lebih dari seorang wanita penghibur.

Terakhir adalah kisah pasangan suami istri yang kehidupan perkawinannya tenang dan damai. Namun ternyata kedamaian yang ada tidak menjadi kebahagiaan bagi sang suami.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*