Laika

Judul: Laika
Penulis: Nick Abadzis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 200

Manusia pertama yang ke luar angkasa ialah Yuri Gagarin. Ia adalah kosmonot pertama dari Uni Soviet (Rusia), yang berhasil menerbangkan pesawat antariksa pada bulan April 1961. Namun jauh sebelumnya, tepatnya tanggal 4 Oktober 1957, Uni Soviet mencengangkan dunia dengan peluncuran Sputnik I, satelit buatan pertama di dunia. Pencapaian prestasi ini menjadi bukti nyata atas keunggulan teknologi negeri tersebut, yang kala itu sedang berperang dingin dengan Amerika Serikat. Keberhasilan yang luar biasa membuat pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev, memutuskan untuk memberikan kejutan yang lebih besar untuk perayaan ulang tahun ke-40 Revolusi Oktober (Kira-kira, tenggat waktu satu bulan setelah peluncuran Sputnik I yang spektakuler). Waktu yang singkat bagi para ilmuwan untuk mengelola program antariksa Uni Soviet, dengan peluncuran Sputnik II yang berpenumpang.

Kelak, projek inilah yang menentukan nasib seekor anjing bernama Laika. Laika bernama asli Kurdyavka adalah seekor anjing yang dibuang, mengembara di jalanan dan berakhir di sebuah penampungan.

Laika kemudian dipilih untuk menjadi pelopor dalam peluncuran sputnik II. Laika akan menjalankan misi pesawat antariksa ini menjadi misi sekali jalan. Artinya, Laika sekaligus akan menjadi martir dalam peluncuran sputnik II.

Laika kemudian memang dikorbankan untuk memenuhi ego manusia. Laika mati. Tubuhnya hancur di orbit dan terbakar saat masuk ke atmosfir.

Alih-alih menjadikan program antariksa ini sebagai kelanjutan dari Sputnik I, penyesalan atas nasib Laika yang dikirim untuk mati di luar angkasa menuai protes dari berbagai kalangan. Seperti dikatakan Oleg Gazenko pada akhir buku itu sendiri. “Bahwa nilai ilmiah Sputnik II sangat kecil. Tidak banyak yang bisa disumbangkannya pada penerbangan antariksa pertama yang dipiloti manusia, yakni Yuri Gagarin pada bulan April 1961.” Penyesalan Oleg pun tertulis dalam kutipan berikut ini. “Bekerja bersama binatang-binatang merupakan sumber penderitaan bagi kami semua. Kami memperlakukan mereka seperti bayi-bayi yang tidak bisa bicara. Dengan berlalunya waktu, semakin besar penyesalanku. Tidak banyak yang kami pelajari dari misi itu untuk bisa membenarkan kematian anjing tersebut.”

Kisah ini dirangkum dengan indah oleh Nick Abadzis. Melalui riset yang teliti dan gabungan imajinasi antara manusia dan anjing, menjadikan cerita ini mempesona dan mengharukan. “Sebuah renungan yang dalam atas makna takdir serta betapa indah dan rapuhnya rasa percaya.” (Alexis Siegel, 2007).

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*