Ridha

Dokumentasi: dari sini

Judul: The Road to Allah.
Penulis: Jalaluddin Rahmat
Penerbit: Mizan

Seorang sufi akan menerima kebahagiaan dan kesedihan dengan sama baiknya.

Suatu hari Nabi Musa a.s, bermaksud menemui Tuhan di Bukit Sinai. Seorang yang sangat saleh mendatanginya dan menitip pesan, “Wahai Kalimullah, selama hidup saya telah berusaha untuk menjadi orang baik. Saya melakukan shalat, puasa, haji, dan kewajiban agama lainnya. Untuk itu, saya banyak sekali menderita. Tetapi tidak apa, saya hanya ingin tahu apa yang Tuhan persiapkan bagiku nanti. Tolong tanyakan kepada-Nya. “Baik,” kata Musa. Di tengah jalan dia bertemu seorang pemabuk. “Mau kemana? Tolong tanyakan kepada Tuhan nasibku. Aku peminum, pendosa. Aku tidak pernah shalat, puasa, atau amal saleh lainnya. Tanyakan pada Tuhan apa yang dipersiapkan-Nya untukku.” Musa menyanggupi permintaannya.

Ketika kembali dari Bukit Sinai, ia menyampaikan jawaban Tuhan kepada orang saleh. “Bagimu pahala besar, yang indah-indah.” Orang saleh itu berkata, “saya memang sudah menduganya.” Kepada si pemabuk, Musa berkata,” Tuhan telah mempersiapkan bagimu tempat yang paling buruk.”. Mendengar itu si pemabuk bangkit, dengan riang menari-nari. Musa heran. “Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorangpun yang mengenalku,” ucap pemabuk itu dengan kebahagiaan yang tulus.

Akhirnya, nasib keduanya di Lauh Mahfuz berubah. Mereka bertukar tempat. Orang saleh di neraka dan orang durhaka di surga.

Musa takjub. Ia bertanya kepada Tuhan. Inilah jawaban Tuhan.

“Orang yang pertama, dengan segala amal salehnya, tidak layak memperoleh anugerah-Ku, karena anugerah-Ku tidak dapat dibeli dengan amal saleh. Orang yang kedua membuat Aku senang, karena ia senang pada apa pun yang Aku berikan kepadanya. Kesenangannya kepada pemberian-ku menyebabkan Aku senang kepadanya.”

—ridha dengan diri sendiri, alangkah sulitnya, bukan?—

sumber: Road to Allah, Jalaluddin Rahmat

4 Comments

  1. Yudha P Sunandar

    i’ve read this post, and never bored to read again, again, and again.
    thx, mba. i like this story. 4 thumbs for you and the book 🙂

  2. Enggar

    Sama-sama Yud. Aku cuma mengutip cerita itu aja kok. Aku pun suka cerita ini 🙂

  3. Great story… Ridho Allah memang hak prerogatif Allah SWT.

    http://www.tjakiel.blogspot.com

  4. Enggar

    @Dedi: Betul mas.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*