Category Archives: Klasik dan Sastra

Istanbul

Sinopsis buku Istanbul karya Orhan Pamuk ini sudah saya posting di tulisan sebelumnya. Lalu apa yang membuat saya menuliskannya kembali? Membaca buku ini membuat saya tertarik mencari tahu sejarah Khilafah Utsmaniyah. Dalam peradaban islam, khilafah Utsmaniyah ini termasuk yang memiliki periode paling lama kekuasaanya, sekitar 625 tahun (enam seperempat abad) di sekitaran abad ke-12 sampai abad 16.

Kejayaan dan keruntuhan sebuah pemerintahan ditentukan oleh pemimpinnya. Ini lah yang terjadi di Istanbul. Menjelang jatuhnya Kesultanan Utsmaniyah, disebabkan oleh perilaku para pemimpinnya yang tamak dan hidup bermewah-mewah serta menyengsarakan rakyatnya melalui pajak yang tinggi. Dan juga disebabkan oleh ketidaktegasan penguasa yang memimpin kota serta konflik internal diantara para penguasa.

Sementara itu, Eropa muncul sebagai kekuatan baru dengan teknologi perangnya yang modern. Kekuatan Kesultanan Turki Usmani yang semakin turun membuka peluang bagi Barat untuk mengambil kembali seluruh wilayah Eropa yang pernah dikuasai Kesultanan Usmani.

Istanbul kemudian menjadi negara Republik sekuler melalui presiden pertamanya, Mustafa Kemal Atatürk. Menjadi sekuler barangkali bukanlah keinginan penduduk Istanbul, namun mungkin pilihan terbaik saat itu, ketika sebagian mereka merasakan bahwa agama telah dijadikan alat untuk menindas dalam sebuah sistem kenegaraan.

Di bawah kepemimpinan Atatürk yang sekuler (Sekuler secara harfiah berarti memisahkan hukum negara dengan agama) maka meninggalkan agama berarti menjadi modern dan Barat.
Eforia kebudayaan Eropa melanda kaum borjuis yang ditampakkan dalam rumah-rumah mereka. Pamuk menggambarkan ini dalam cerita benda-benda ala Eropa yang dipamerkan di lemari-lemari kaca kaum kaya Istanbul. Menjadi Eropa adalah pilihan kaum kaya Istanbul untuk meningkatkan status mereka. Sementara itu agama menjadi lekat bagi masyarakat miskin. Keluarga borjuis menyamakan kesalehan dengan kemiskinan, sementara kaum mereka sendiri yang tidak percaya kepada Tuhan tidak sepenuhnya memiliki keberanian untuk memutuskan ikatan.

Keinginan untuk lepas dari (kejayaan) dan keruntuhan masa lalu dan menjadi negara yang modern dan makmur menjadi sebuah tekad bagi bangsa Turki dan karenanya mereka meyakini bahwa segala yang berkaitan dengan agama harus dihindari. Walaupun nyatanya pengingkaran itu menimbulkan rasa ambigu.

Istanbul dalam buku Orhan Pamuk memberi gambaran bagaimana sebuah kota yang mengalami kegemilangan lalu runtuh dan mencoba bangkit kembali dalam perasaan seorang anak yang keterikatannya dengan kota kelahirannya begitu lekat. Kenangan akan sebuah kota yang membentuk keseluruhan dirinya dalam baris-baris puisi dan kisah romantik laut Bosphorus, laut yang menjadi hiburan satu-satunya bagi penduduk saat kepekatan pernah melanda negeri dimana sebuah peradaban agung pernah berdiri.

Istanbul Kenangan Sebuah Kota

istanbul_kenangan_sebuah_kota_
Judul: Istanbul. Kenangan Sebuah Kota.
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: 2015
Tebal: 561

Istanbul atau dulunya dikenal dengan nama Byzantium merupakan kota yang paling penting dalam sejarah. Kota ini menjadi ibu kota dari empat kekaisaran, yaitu Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Romawi Timur, Kekaisaran Latin dan terakhir Kekaisaran Utsmaniyah. Penyebaran agama kristen mengalami kemajuan pada masa kekaisaran romawi dan romawi timur sebelum utsmaniyah menaklukkannya pada tahun 1453 di bawah kepemimpinan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) yang mengubahnya menjadi pertahanan islam sekaligus ibu kota kekhalifahan terakhir.

Sinopsis
Kesultanan utsmaniyah berakhir pada tahun 1922. Istanbul beralih menjadi Republik Turki pada tahun 1923. Namun tak banyak kemajuan yang terjadi pada periode ini. Kota yang dahulunya pernah menjadi rebutan karena kekayaan dan posisinya yang strategis mendadak diabaikan setelah Kesultanan Usmani jatuh. Sebaliknya, kota ini menjadi lebih miskin, kumuh dan terasing. Kegemilangan kota ini perlahan memudar. Rakyat hidup dalam kemiskinan dan penderitaan akan kenangan kejayaan masa lalu.

“seakan-akan begitu kami aman berada di rumah kami, kamar tidur kami, ranjang kami, maka kami dapat kembali pada mimpi-mimpi tentang kekayaan kami yang telah lama hilang, tentang masa lalu kami yang legendaris.” (halaman 50)

Buku memoar Istanbul ini berisi catatan atau rekaman, kenangan yang dialami oleh penulis dari masa kecil sampai dewasa mengenai kota kelahirannnya. Dilahirkan dari keluarga kaya, Pamuk tinggal di apartemen yang setiap lantainya dihuni oleh masing-masing keluarga besar. Seperti rumah keluarga istanbul kaya lainnya, pernak-pernik pengaruh barat tersimpan di dalam lemari kaca yang dingin, suram dan tak tersentuh. Perabotan itu sekedar memamerkan diri kepada para tamu bahwa pemilik rumah adalah orang yang berpikiran Barat.

“, kemurungan dari kebudayaan yang sekarat ini terasa di mana-mana di sekeliling kami. Sebesar apa pun hasrat untuk meniru Barat dan menjalankan modernisasi, tampaknya keinginan yang lebih mendesak adalah terlepas dari seluruh kenangan pahit dari kesultanan yang jatuh: lebih menyerupai tindakan seorang pria yang diputus cinta membuang seluruh pakaian, barang-barang, dan foto-foto bekas kekasihnya. Namun, karena tidak ada sesuatu pun, baik dari Barat maupun dari tanah air sendiri, yang bisa digunakan untuk mengisi kekosongan itu dorongan kuat untuk berkiblat ke Barat sebagian besar merupakan usaha untuk menghapus masa lalu; pengaruhnya pada kebudayaan bersifat mereduksi dan membuat kerdil, mendorong keluarga-keluarga seperti keluargaku yang, meskipun senang melihat kemajuan Republik, melengkapi perabot rumah mereka layaknya museum. Sesuatu yang di kemudian hari aku ketahui sebagai misteri dan kemurungan yang mewabah, kurasakan pada masa kanak-kanakku sebagai kebosanan, dan kemuraman, rasa jemu mematikan, yang kuhubungkan dengan musik “alaturka” yang membuat nenekku tergerak untuk mengetuk-ngetukkan kakinya yang bersandal: aku melarikan diri dari situasi ini dengan membangun mimpi.” (halaman 43)

Pamuk membangun mimpi melalui fantasi-fantasi yang ia ciptakan sejak kecil. Pada usia lima tahun ia tinggal bersama pamannya yang saat itu menjadi editor majalah Hayat (Hidup), majalah yang paling populer di Turki. Kegemaran berimajinasi dan tinggal bersama paman yang menerbitkan banyak ratusan buku dan memberikan buku-buku tersebut kepada Pamuk setelah ia bisa membaca sedikit banyak memengaruhi dirinya. Diakui oleh Pamuk kemudian bahwa rekan dari banyak penyair dan penulis pamannya juga sangat memengaruhi gagasan-gagasannya mengenai Istanbul.

Istanbul bagi Pamuk adalah kota yang mengingatkan ia pada reruntuhan dan kemurungan, kemuraman yang menular kepada dirinya. Ia menggambarkan Istanbul dengan sangat menyentuh, kota ini seolah hidup dan nyata dalam penggambaran masa lalu. Disertai foto-foto hitam putih, Istanbul bercerita banyak tentang kegemilangan masa lalu sekaligus kemuraman yang diberikan sesudahnya.

Istanbul adalah kota sarat sejarah. Bangunan-bangunan tua yang berdiri di kota ini adalah peninggalan dari sebuah peradaban agung yang pernah berdiri di kota itu.

Tak salah kalau Istanbul (Turki) dijadikan pilihan sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi. Kota yang sarat sejarah ini pasti menyimpan banyak kisah menarik. Empat kekaisaran dari pendahulunya dan peralihan dari kristen, islam dan kemudian kota ini memilih menjadi negara republik yang demokratis, sekuler. Wow, bayangkan betapa kaya peninggalan yang diberikan dari sejarah kota ini. Seperti apa kira-kira Istanbul ya?

Bumi Manusia

BM
Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 535

Minke adalah tokoh dalam cerita ini, laki-laki jawa ningrat yang mendapatkan pendidikan di H.B.S, sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak Eropa dan pribumi yang bergelar bangsawan. Pendidikan ala Eropa yang diperolehnya menumbuhkan keinginan Minke untuk menjadi manusia bebas dan merdeka. Pemuda priyayi ini semampu mungkin berusaha keluar dari kepompong kebudayaan jawa yang membuatnya selalu merasa di bawah.

“Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orang tuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang antusiasme para guruku dalam menyambut hari esok yang cerah bagi umat manusia. Dan entah berapa kali aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah-pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.” (halaman 182)

*
Suatu hari seorang kawan menantang Minke untuk mendekati seorang gadis. Maka, bertamulah mereka ke rumah kawan Robert yang memiliki seorang adik perempuan. Annelies, nama anak perempuan itu dan kakaknya bernama Robert Mellema (Rob) adalah anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan antara ayah Eropa dan Ibu pribumi.

Ibu Anna dan Rob adalah perempuan yang dijual oleh Ayah kandungnya sendiri kepada tuan Mellema demi mendapatkan posisi sebagai kasir. Karena dendam dan sakit hati kepada orang tuanya, Sanikem (kemudian kelak dikenal dengan panggilan Nyai Ontosoroh) bertekad untuk membuktikan kepada orang tuanya bahwa apapun yang telah mereka lakukan terhadap dirinya maka ia harus lebih berharga daripada mereka. Kalau pun ia harus menjadi budak belian maka ia harus menjadi budak belian (Nyai) yang sebaik-baiknya. Ia pelajari semua keinginan tuannya. Tuan mellema adalah guru yang baik. Ia mengajari Sanikem membaca, menulis, berhitung, dan sebagainya. Sikap tuan mellema menghadirkan rasa sayang kepada diri Sanikem apalagi dengan kehadiran dua buah hati mereka, Ann dan Rob.

Semangat dan kemajuan belajar Nyai membuat tuan mellema mulai memercayakan Nyai untuk membantu mengolah usahanya. Perusahaan itu kemudian berkembang dan menjadi besar dibawah kerja keras Nyai. Sayang, kedatangan anak tiri tuan Mellema dari istri syah mengoyak kenyamanan keluarga kecil mereka. Dan sejak saat itu hilanglah rasa penghormatan Nyai kepada suaminya.

Sebagai seorang Nyai, keluasan wawasan serta pemikirannya jauh melebihi dari pribumi kebanyakan. Ia pandai berbahasa Belanda dengan sempurna. Ia pun suka membaca. Ia mengadopsi nilai-nilai Eropa untuk pendidikan anak-anaknya. Nyai Ontosoroh bukanlah seorang nyai biasa. Ia belajar dan bekerja keras agar tak dipandang sebelah mata dan dihinakan semua orang. Semua ini menimbulkan decak kagum pada diri Minke.

Pertautan Minke dengan keluarga Nyai semakin erat. Problema keluarga Nyai menjadi bahan pengamatan bagi Minke. Di saat itu pula ia menyadari bentuk ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia pun mencoba melawan melalui tulisan-tulisannya yang populer dan disukai banyak orang.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

**
Novel ini bercerita mengenai kehidupan bangsa Indonesia, yang pada saat itu begitu mendewakan peradaban Eropa, karena dipandang sebagai simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban. Sementara itu bangsa pribumi adalah bangsa yang hina dan bisa ditindas kapanpun.

Melalui tokoh Minke dan Nyai, keduanya membuktikan bahwa pribumi mampu berdiri tegak di atas tanah airnya sendiri. Keduanya juga bahu membahu menentang ketidakadilan. Walaupun pada akhirnya mereka harus menyerah kalah. Namun kalah bukan berarti kesia-siaan.

Pride and Prejudice

Screenshot_2013-06-26-16-04-58
Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Qanita – Mizan
Tebal: 421 (versi ebook)

“Seorang filsuf sejati akan menghibur diri dengan memanfaatkan apa pun yang tersedia.” – halaman 260

Elizabeth Bennet adalah anak kedua dari lima anak perempuan keluarga Bennet, seorang bangsawan miskin di Meryton, England. Kekayaan Ayah Elizabeth, Mr. Bennet, nyaris sepenuhnya tergantung pada tanah warisan senilai dua ribu setahun. Namun tanah itu menjadi hak waris seorang saudara jauh laki-laki. Hal ini merisaukan Ibu mereka, karena jika Ayah mereka meninggal maka Ibu dan anak itu akan kehilangan tempat tinggal dan pendapatan.

Kakak Elizabeth, Jane, mempunyai pribadi hangat dan cenderung menutup diri. Ia tidak pernah menampakkan perasaan yang sesungguhnya dihadapan banyak orang. Namun Jane dan Elizabeth memiliki sifat ceria, santun, dan berwawasan. Berbeda dengan ketiga adik mereka yang sedikit liar, dan lebih mengutamakan kecantikan.

Ibu mereka adalah wanita dengan pemahaman sekadarnya, berpengetahuan sempit, dan bertemperamen angin-anginan. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, dia akan merasa gelisah. Tujuan hidupnya adalah menikahkan anak-anak perempuannya; kesenangannya adalah bertamu dan bergunjing. (halaman 14). Sementara Mr. Bennet, sang Ayah, memiliki sifat acuh tak acuh, memiliki humor sinis terutama kesukaannya mengolok-olok istrinya di depan putri-putri mereka. Ia mencintai pedesaan dan buku. Keduanya adalah sumber utama kesenangannya, terlebih setelah ia merasa kecewa terhadap pernikahannya. Mrs. Bennet adalah wanita cantik yang kemudaan dan keceriaannya menarik hati Mr. Bennet. Sayang, kebebalan dan kepicikan wanita itu menghilangkan kasih sayang sejati di usia pernikahan mereka yang dini. Rasa hormat, kekaguman, dan kepercayaan pun lenyap untuk selamanya, dan seluruh pandangannya akan kebahagiaan rumah tangga pun turut melayang. (hal 260).

Suatu hari, sebuah keluarga bangsawan kaya menyewa rumah di dekat tempat tinggal mereka. Mr. Bingley diterima baik oleh masyarakat setempat. Sebaliknya, rekan Mr. Bingley, yaitu Mr. Darcy agak kurang disukai oleh karena sifatnya yang angkuh dan memandang rendah kepada keluarga Elizabeth. Pada sebuah pesta, kedekatan Jane dengan Mr. Bingley kemudian berkembang menjadi isu bahwa mereka akan bertunangan. Sayangnya, pertunangan itu gagal.

Kelak diketahui batalnya pertunangan Jane dan Mr. Bingley tidak luput dari pengaruh yang dilancarkan Mr. Darcy kepada Mr. Bingley. Mengetahui hal ini memercikkan kebencian kepada diri Elizabeth terhadap Darcy, pria yang diam-diam ternyata menyimpan rasa cinta untuknya. Sementara itu, Elizabeth berkenalan dengan Wickham, pemuda putra dari pelayan Ayah Mr. Darcy yang sudah dianggap seperti anak sendiri. Namun rupanya Wickham tidak menyukai Darcy dan ia menyebarkan kabar bohong yang membuat Elizabeth semakin tidak menyukai Darcy.

Sementara itu adik Elizabeth, Kitty dan Lydia masih dengan kegemaran mereka mengejar prajurit-prajurit yang ditugaskan di Meryton. Elizabeth merasa kesal atas perilaku adik-adik dan Ibunya. Namun ia tak mampu berbuat banyak.

Adegan cerita berganti kepada kedatangan Mr. Collins, pewaris tanah milik Ayah Elizabeth. Setelah gagal melamar Elizabeth ia mengalihkan lamarannya kepada rekan baik Elizabeth, yaitu Charlotte. Mereka menikah dan pindah ke Rosing Park, di daerah dekat kediaman bibi Mr. Darcy tinggal. Elizabeth suatu waktu ke Rosing Park untuk menemui sahabatnya, Charlotte. Di sana ia kemudian bertemu Darcy kembali. Pada saat itu Darcy mengungkapkan perasaannya dan bermaksud melamar Elizabeth, yang ditolak oleh Elizabeth, karena ia membenci Darcy. Sebaliknya, Elizabeth meminta penjelasan Darcy atas gagalnya pertunangan Jane dengan Bingley serta perbuatan jahatnya terhadap Wickham. Menurut Darcy, Jane adalah gadis yang ramah. Namun keseluruhan sikap Jane tidak menunjukkan bahwa ia menyukai Mr. Bingley. Selain itu, perilaku Ibu Elizabeth yang berharap Mr. Bingley menikahi anak perempuannya demi meningkatkan status sosial keluarga itu membuat Darcy risih sehingga ia terpaksa mempengaruhi sahabatnya untuk membatalkan niatnya melamar Jane. Elizabeth merasa malu mendengar penjelasan Darcy. Namun ia tak menampik kebenaran atas pengakuan Mr. Darcy megenai Ibu dan adik-adiknya. Dan mengenai Wickham, Elizabeth tidak mau mempercayai omongan Darcy begitu saja walaupun beberapa pengamatan membuktikan bahwa Darcy tidak berbohong.

Beberapa bulan kemudian ketika Elizabeth bersama paman dan bibinya pergi ke Derbyshire, mereka mengunjungi Pemberly, rumah kediaman Darcy. Elizabeth awalnya tidak menyetujui rencana itu namun berbalik ketika mengetahui Darcy sedang berada di luar kota. Namun tak disangka, ketika mereka keluar dari rumah, Darcy melihat kedatangan mereka. Keduanya merasa canggung, namun sikap Darcy yang baik dan penuh perhatian kepada paman dan bibinya menyentuh hatinya.

Bagaimana akhir cerita ini? Barangkali mudah ditebak bahwa Elizabeth menerima lamaran yang diajukan Darcy kembali. Dan Jane serta Bingley akhirnya menikah.

Jane Austen si penulis buku ini menceritakan kehidupan masyarakat Eropa di sekitaran tahun 1813. Saat itu banyak masyarakat memiliki pola jalan instan demi meningkatkan status sosial mereka. Kebodohan dan sempitnya cara berpikir membuat mereka tak lagi segan melakukan keculasan. Kaum wanita bertingkah liar, memamerkan kegenitan dan kecantikannya untuk memikat lelaki kaya. Para lelaki mendekati perempuan kaya untuk mengeruk harta mereka.

Membaca buku ini melemparkan saya kepada kenyataan yang sedang terjadi di negeri tercinta ini. Setiap saat saya membacai berita gadis-gadis muda, cantik, dan ceria yang memasrahkan tubuh mereka ke pelukan laki-laki kaya demi meningkatkan status sosial mereka di masyarakat atau demi beberapa rupiah.

Apakah negeri ini sedang bergerak ke masa kegelapan?
Semoga tidak.

The Kreutzer Sonata

images
Judul: The Kreutzer Sonata
Penulis: Leo Tolstoy
Penerjemah: Ermelinda
Penerbit: Selasar
Tebal: 200

Betul kata Melisa, blog resensi bukunya bisa dilihat di sini, tuntas membaca buku The Kreutzer mendadak kehilangan minat untuk meresensi karya Leo Tolstoy yang satu ini. Tapi karena saya sudah berjanji kepada diri sendiri maka saya coba membuat reviewnya.

Pozdynsev, -nama tokoh utama- dan kakak lelakinya adalah pemuda yang lugu. Ketertarikan seksual kepada lawan jenis adalah hal yang cukup mengganggu bagi anak-anak muda seusia itu. Pada suatu sore usai kumpul sambil bermain kartu dan minum vodka, salah satu kawan kakaknya mengajak mereka ke tempat-tempat tertentu. Seperti anak lelaki muda lainnya, ia mengikuti tanpa memahami apa yang ia lakukan. Kegiatan itu kemudian menjadi hal yang biasa, karena tak ada orang dewasa disekelilingnya yang menyalahkan apa yang ia lakukan. Sebaliknya, masyarakat lingkungan ia berada menganggap hal itu sebagai kebaikan jasmani yang sah atau pengalihan yang alami secara menyeluruh bagi seorang anak muda yang bukan hanya bisa dimaafkan, tapi bahkan tak bersalah. Pozdnysev semakin jatuh karena ketidaktahuannya.

Sampai suatu ketika ia menyadari bahwa hubungannya dengan para wanita telah rusak selamanya. Ia memutuskan untuk berhenti.

“Jadi seorang pria yang telah berhubungan dengan beberapa wanita demi kesenangan bukan lagi orang normal, tapi orang yang rusak selamanya.” (halaman 132)

“Seorang pezina bisa saja menahan diri, berjuang mengendalikan diri, tapi hubungannya dengan wanita tak pernah lagi sederhana, murni, jernih, seperti hubungan saudara lelaki dengan saudara perempuan.” (halaman 132)

Pozdynsev kemudian menikah. Namun pengalaman masa lalunya memberi ia cara pandang yang berbeda mengenai perkawinan. Walaupun sepanjang perkawinan mereka, Pozdynsev tidak pernah berseligkuh, namun ia memiliki bayangan kecemburuan sendiri yang berlebihan.

Buku ini berkisah tentang pengakuan seorang laki-laki yang karena kecemburuannya membunuh istrinya sendiri.

Tolstoy memang penulis yang piawai. Pembaca bisa larut dalam kebencian terhadap si tokoh utama yang pandangannya mengenai perkawinan sangat vulgar. Agak khawatir juga menuliskannya di sini :). Namun inti cerita ini seperti disinggung di bagian kata pengantar, Tolstoy menuliskan cerita ini berdasarkan pengalaman ia dan istrinya untuk menciptakan ‘gugatan’ terhadap perkawinan yang menyakitkan hati.

Tolstoy menggambarkan bahwa pernikahan kemudian bisa membuat masing-masing pasangan merasa terjebak. Jika situasi itu tidak disadari dan dipahami maka mereka akan saling membenci.

“tapi cinta dan kebencian ini hanya dua sisi mata uang yang sama, perasaan hewani yang sama.” (halaman 105)

“Hidup seperti itu akan tak tertahankan kalau kita saling memahami situasinya. Tapi kami tak memahaminya, bahkan tak menyadarinya. Itu keselamatan sekaligus hukuman terhadap manusia yang ketika menjalani hidup tak beraturan, mereka akan membungkus diri dalam selimut kabut sehingga tak bisa melihat buruknya situasi.” (halaman 105).

Walaupun memang membaca buku ini menimbulkan kesebalan luar biasa kepada si tokoh utama, bahkan membuat mual di bagian akhir, tapi saya mengakui bahwa dalam banyak hal buku ini kaya dengan pemikiran yang realistik.

Anna Karenina

images
Judul: Anna Karenina
Penulis: Leo Tolstoy
Dikisahkan oleh: Svetlana Belova
Penerbit: Gradien Mediatama
Tebal: 239

Mengutip sinopsis di sampul belakang buku, “Ini kisah tentang seorang wanita yang bersedia mempertaruhkan segalanya demi cinta.”

Kondektur meniupkan peluit. Tak lama para penumpang mulai menuruni tangga. Anna berjalan menyusuri gerbong. Sosoknya begitu tenang. Seorang lelaki muda memperhatikannya. Vronsky memberi jalan kepada wanita berwajah teduh itu. Tak sengaja pandangan mereka bertemu. Vronsky tertegun.

Pertemuan pertama Anna Karenina, -istri dari Count Alexei Alexandrovich, bangsawan kaya dan ternama di kotanya, serta Ibu dari seorang putra bernama Seyrozha- dengan Vronsky, lelaki muda putra dari Countes Vronskaya di stasiun itu kelak menjadi malapetaka bagi kehidupan perkawinan Anna.

Vronsky memuja Anna sedemikian rupa. Anna yang awalnya berusaha mengingkari perasaannya tak mampu lagi berkelit. Mereka mulai mencuri kesempatan untuk bertemu. Gosip kedekatan mereka telah menyebar, Alexei, suami Anna pun telah mengetahu perselingkuhan yang dilakukan oleh istrinya.

“..kamu tidak tinggal seorang diri di dunia ini. Ada masyarakat. Dan, sebagai suamimu, aku merasa perlu mengingatkan kamu akan konsekuensi-konsekuensi dari semua tindakan yang kamu ambil (halaman 104).” Alexei memperingatkan istrinya. Namun Anna sudah terbutakan oleh cinta. Ia muak dengan semua aturan dan norma dan moral.

“Mengapa semua harus mengikuti norma dan aturan yang ditetapkan entah oleh siapa. Mengapa hidup tidak dapat menjadi sederhana saja. Bersama dengan orang yang kita cintai.” (halaman 128)

Alexei bukannya tidak tahu seluruh kota membicarakan istrinya, namun ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Ketenangan Alexei membuat Anna semakin meradang. Bagi Anna, Alexei hanya membutuhkan kebohongan dan sopan santun sebagai caranya untuk tetap berada di pucuk pimpinan, di tempat terhormat para bangsawan Petersburg.

Kehamilan membuat Anna memberanikan diri untuk meminta cerai kepada suaminya. Namun Alexei tidak mengabulkan keinginan istrinya.
“Sepanjang masyarakat tidak mengetahui hubungan kalian, maka aku juga akan menutup mata dan menganggap tak ada yang terjadi. Silakan lakukan apa pun yang kamu mau. Tapi kau harus tetap istriku. Titik.”

Masa persalinan Anna begitu berat. Pada saat itulah ia merenungkan semua tindakannya. Perasaan berdosa pada suami yang ia khianati. Namun ternyata pernyataan sesal itu tidak berumur panjang. Usai melahirkan bayinya dan mendapatkan kekuatan tubuhnya, Anna kembali mengajukan perceraian. Ia pada akhirnya memilih untuk meninggalkan suami dan putranya untuk hidup bersama dengan orang yang paling dicintainya, Vronsky.

Semua terasa menyenangkan, pada awalnya. Pada akhirnya manusia dihadapkan pada pilihan. Dan Anna menyerah kalah. Ia kembali ke Petersburg untuk menjemput kematiannya sendiri.

“Mati itu mudah, bertahan hiduplah yang sulit. Memilih bertahan hidup membutuhkan keberanian lebih dibandingkan memilih kematian.”

Anna Karenina adalah salah satu karya masterpiece Leo Tolstoy selain War and Peace. Cerita ini berkisah tentang kehidupan kaum bangsawan Rusia pada masa itu yang suka pesta dan bergosip. Tolstoy menyoroti perilaku para bangsawan Rusia yang tidak lagi mengindahkan ajaran agama dan lebih suka bersenang-senang.

Buku Anna Karenina dari penerbit Gradien yang saya baca adalah kisah Anna Karenina yang dikisahkan kembali oleh Svetlana. Svetlana menuturkan ulang kisah ini dengan bahasa yang puitis dan sederhana.

Oya, buku aslinya sendiri konon sangat tebal dan terdiri dari dua buku (saya belum pernah membacanyanya). Dua buku untuk kisah Anna dan Vronsky? :). Tentu saja tidak, selain cinta membara Anna dan Vrosky, ada tokoh lain yang juga memiliki kisah cinta menarik, seperti pasangan Dolly dan Stiva, kakak Anna serta kisah cinta yang lembut dan manis dari Levin dan Kitty.

Mengutip kata Levin, “kadang cinta tidak harus berarti romansa menggebu-gebu.”

Azab dan Sengsara

Screenshot_2013-01-02-21-36-15
Judul: Azab dan Sengsara
Penulis: Merari Siregar
Penerbit: Balai Pustaka
Tebal: 835 halaman (versi digital dengan pengaturan huruf sangat besar)

Banyak kita temui kisah roman klasik dengan tema adat dan perkawinan. Tengok saja Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Dian yang Tak Kunjung Padam, dan lain sebagainya. Demikian juga Azab dan Sengsara. Alkisah di sebuah kota Sipirok, di dekat Tapanuli (Tapanuli sebenarnya adalah Tapian na Uli yang artinya Tepian yang elok), tinggalah sebuah keluarga yang memiliki seorang anak gadis, Mariamin namanya. Mariamin atau Riam tinggal bersama Ibu dan adiknya. Ayah Mariamin, Sutan Baringin sesungguhnya adalah seorang bangsawan. Namun kekayaan keluarga itu ludes disebabkan oleh perilaku sang Ayah yang boros dan suka berhura-hura. Sejak kecil Mariamin bersahabat erat dengan seorang pemuda bernama Aminuddin. Seperti Riam, Aminuddin adalah anak dari keluarga terhormat dan bangsawan kaya. Ayah Aminuddin, Sutan Baginda di atas adalah kepala kampung di desanya. Sesungguhnya Mariamin dan Aminuddin mempunyai hubungan keluarga. Mereka saudara sepupu, karena Ayah Mariamin adalah kakak kandung Ibu Aminuddin.

Hubungan akrab antara keduanya berlangsung sampai mereka dewasa. Mereka pun berikrar untuk sehidup semati. Untuk itu Aminuddin pergi ke lain kota untuk mencari penghidupan dan berjanji membawa Mariamin kelak bersamanya. Setelah dirasa cukup bekal yang ia punya, Aminuddin mengirimkan surat kepada orang tuanya dan mengutarakan niat hatinya untuk menyunting dan membawa Riam ke Medan. Ibu Aminuddin bersuka cita mendengar berita tersebut. Dalam adat mereka, perkawinan antara anak muda yang serupa itu amat disukai orang tua kedua belah pihak.
“Tali perkauman bertambah kuat,” kata orang di kampung-kampung. (hal 121).
Tak lupa Aminuddin pun mengabarkan keinginan hatinya kepada Riam. Alangkah senang hati anak perawan itu. Demikian pula dengan sang Ibu, yang berharap kebahagiaan untuk putri tercinta.

Ayah Aminuddin rupanya tak suka dengan kabar itu. Ia kemudian bersekongkol dengan dukun dan mengajak istrinya untuk mendengar ramalan yang akan menimpa Aminuddin jika ia menikah dengan Mariamin. Demi mengetahui kesengsaraan yang kelak dihadapi Aminuddin maka sang Ibu tidak mampu menolak keputusan sang suami untuk menjodohkan Aminuddin dengan gadis lain dari golongan sederajat dengan keluarga mereka.

Surat mengenai kedatangan calon istri Aminuddin dikirimkan oleh orang tuanya. Aminuddin bahagia mendengar kabar kedatangan calon istrinya yang ia sangka adalah Mariamin. Namun alangkah getir hati Aminuddin ketika mengetahui bahwa gadis yang didatangkan Ayahnya bukanlah Riam. Ia pun tak mampu menolak keputusan orang tuanya untuk menikahi gadis pilihan mereka. Dengan berat hati Aminuddin memberitahukan Riam rencana tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan hati gadis perawan itu. Mariamin jatuh sakit.

Lama berselang Ibu Mariamin kemudian menjodohkan anak perempuannya kepada seorang lelaki. Ibu Riam sebenarnya tak mengetahui banyak asal usul lelaki itu. Pernikahan pun dilaksanakan. Ternyata baru diketahui lelaki itu telah beristri dan baru saja menceraikan istrinya ketika ia akan menikahi Riam. Riam yang tidak pernah mencintai suaminya semakin benci melihat perilaku lelaki itu yang kasar dan kejam. Suatu saat Aminuddin berkunjung dan melihat keadaan Mariamin. Riam yang tak tahan menerima siksaan dari suaminya memutuskan untuk melaporkan hal itu kepada polisi. Riam kemudian bercerai dari suaminya. Ia kembali ke Sipirok, kampung halamannya dan meninggal karena menanggung deraan dan kesedihan.

Tema pernikahan dan adat seringkali dipilih dalam banyak karya sastra klasik. Posisi perempuan yang lemah menjadi topik sentral dalam cerita ini.
“Mereka itu memandang perkawinan itu suatu kebiasaan, yakni kalau anaknya yang perempuan sudah genap umurnya harus dijodohkan. Demikian pula jadinya pada anak laki-laki. Haruslah ia lekas dikawinkan, karena keaibanlah di mata orang banyak, kalau orang tua terlambat memperistrikan anaknya.”

Mengutip kalimat di buku ini “Perkawinan memang suatu adat dan kebiasaan yang harus dilakukan tiap-tiap manusia, bila sudah sampai waktunya.” Namun perkawinan yang dilakukan dengan terpaksa dan tanpa rasa cinta akan meninggalkan kesedihan dan kekecewaan bagi yang menjalaninya. Tidak hanya untuk si perempuan namun juga anak-anak yang mereka tinggalkan. Lagi-lagi perempuan lah yang akan menanggung akibatnya.

Adat lahir dari pemikiran manusia. Ada kalanya adat yang berlaku di suatu masyarakat membelengu manusia.
Barangkali, diperlukan kebebasan berpikir dengan sikap bijak untuk menyeimbangkan keselarasan dalam menjalani kehidupan.

catatan:
Jika kesulitan untuk mendapatkan buku-buku karya sastra lama, Anda dapat membelinya dalam versi digital melalui aplikasi Qbaca. Mengenai Qbaca dapat dilihat di sini.

A Short History of Tractors in Ukrainian


Judul Asli: A Short History Of Tractors In Ukrainian (Sejarah Singkat Traktor Dalam Bahasa Ukraina)
Penulis: Marina Lewycka
Cetakan: Februari, 2008
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 413

Jangan tertipu dengan judulnya :).

Nikolai adalah seorang duda berusia 84 tahun. Dua tahun setelah kematian istrinya ia jatuh cinta pada seorang wanita bernama valentina, 36 tahun yang mempunyai seorang putra. Valentina masuk ke Inggris bersama putranya, Stanislav dengan visa turis. Ia bekerja secara illegal di panti perawatan. Stanislav belajar di sekolah swasta yang bergengsi. Valentina sendiri bersuamikan seorang direktur politeknik ternopil di Ukraina.

Segera setelah visa turis Valentina berakhir, ia akan kembali ke Ukraina, mengajukan gugatan cerai kepada suaminya dan kembali ke Inggris untuk menikah dengan Nikolai. Valentina dan Stanislav selanjutnya akan tinggal bersama Nikolai.

Namun sesungguhnya Valentina yang cantik ini tidak sungguh-sunggguh mencintai Nikolai. Ia memanfaatkan Nikolai untuk mendapatkan hak tinggal di Inggris, sekolah yang baik untuk Stanislav dan hidup mewah serta nyaman di negara ini. Valentina seringkali menganiaya Nikolai, terutama ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ia sangat licik dan kejam.

Ketika suatu hari, Nadia, putrinya mengetahui perbuatan semena-mena Valentina terhadap ayahnya, Nadia memprotes sang Ayah. Namun Nikolai hanya menjawab dengan singkat: “Orang bisa memaafkan wanita cantik atas banyak hal.” (hal 224)

Kedua putri Nikolai, Vera dan Nadezhda, yang sejak awal tidak menyetujui pernikahan ini, kemudian bersatu padu untuk menyelamatkan Ayah mereka dari Valentina yang hanya menginginkan uang dan harta dari ayah mereka.

Nadia adalah seorang dosen sosiologi. Pandangan Nadia yang sosialis (si kakak sering menyebutnya dengan pekerja sosial) seringkali berbenturan dengan si kakak yang lebih bersikap sinis menyikapi sesuatu. Perbedaan pandangan itu menyebabkan permusuhan di antara mereka. Namun demi ayah, kedua bersaudara ini kemudian melupakan permusuhan mereka. Dan dalam rentang waktu inilah Nadia dipaksa kembali kepada masa lalu Ayah dan Ibunya serta kakak yang begitu tampak gagah di luar namun sesungguhnya menyimpan rahasia dan luka masa kecil. Nadia dan Vera berbeda sepuluh tahun. Vera lahir dalam keadaan negara diancam perang. Sebaliknya Nadia, lahir ketika negara dalam keadaan damai.

“Yang menurutku sulit dipahami, Vera, mengapa orang-orang begitu mudah saling mengkhianati? Mestinya mereka menunjukkan solidaritas dalam menghadapi penjajahan.”

“Tidak tidak, itu pandangan naif, Nadeshda. Kau tahu, ini sisi gelap manusia. Kalau seseorang punya kekuasaan, kalangan yang ditindas semakin berusaha mendapat perlakuan baik dari mereka. Lihat saja bagaimana Pappa selalu mencoba menyenangkan hati Valentina, meski Valentina menganiayanya. Lihat saja bagaimana cara kaum politikus Buruh merangkak untuk menawarkan kesetiaan mereka kepada kaum kapitalis padahal mereka sudah bersumpah akan menggulingkan kaum kapitalis. Tentu saja bukan cuma kaum politisi, ini terjadi di seluruh kerajaan hewan juga.” (hal 269-270)

Dan bagaimana pandangan vera mengenai sisi gelap manusia? Ini dia:
“Dari mana kau pikir kepicikan dan keegoisan berasal, kalau bukan dari semangat kemanusiaan? Apa kau benar-benar percaya ada kekuatan jahat yang mengganggu dunia? Tidak, kejahatan datang dari dalam hati manusia.” (hal 329)

Pada akhirnya, kisah yang mengulas begitu banyak hal ini juga menyelipkan sebuah kesadaran bahwa: “Wanita selalu mau berbuat apa saja demi anak mereka.”
(Mengacu pada kisah di buku: Valentina mengupayakan apapun agar Stanislav bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Vera yang materialis, yang juga diam-diam menginginkan harta warisan orang tuanya melakukan itu semata-mata demi masa depan anak-anaknya. Pun demikian dengan Nadia.)

Buku yang menarik, sunguh sayang dilewatkan. Melalui buku ini kita bisa menapak tilas Ukraina beberapa tahun yang lampau. Sebuah negara kecil yang berulangkali dijajah oleh negara-negara tetangganya.

Ada suatu pengetahuan berharga (sekaligus pertanyaan) yang saya peroleh dari sini.
“Ambil apel, tancapkan paku besi ke dalamnya, biarkan semalam, lalu keluarkan paku dan makan apelnya- dengan begitu, kau akan mendapat vitamin C sekaligus zat besi.”

update:
Oya, kalau Anda bertanya apa hubungannya dengan traktor, saya lupa menceritakan bahwa Ukraina adalah negeri pertanian. Dalam buku ini dikisahkan Nikolai sedang menulis sebuah buku mengenai traktor. Kemunculan traktor di negara itu mengubah pola tradisional kehidupan di desa, di mana yang awalnya dibutuhkan banyak pekerja untuk membajak ladang maka dengan traktor dapat mengurangi pekerjaan manusia. Namun yang menyedihkan adalah ketika kehadiran traktor di negara itu diluncurkan dengan mekanisme yang mengerikan.
Maka, Nikolai menutup ceritanya dengan menuliskan pesan ini.

“Maka aku meninggalkan Anda dengan pikiran ini, pembaca yang budiman. Gunakan teknologi yang dikembangkan insinyur, tetapi gunakan dengan semangat rendah hati dan selalu mempertanyakan. Jangan pernah membiarkan teknologi menjadi penguasamu, dan jangan manfaatkan demi menguasai orang lain.”

Ibu, Pergi ke Surga


Judul: Ibu, Pergi ke Surga
Penulis: Sitor Situmorang
Cetakan: pertama, Januari 2011
Penerbit: Komunitas Bambu
Tebal: 218

Buku berisi kumpulan cerita Sitor, dengan “Ibu, Pergi ke Surga” sebagai judul pilihan. Ibu, yang menderita sakit paru-paru sejak lama, tinggal berdua dengan Bapak di kampung. Dua anaknya merantau. Pada hari menjelang kematiannya, ia mengirim telegram meminta anaknya datang. Si tokoh datang sendiri, tanpa istri dan anaknya. Si kakek belum pernah sekalipun melihat cucunya. Anak satunya tak lagi diketahui rimbanya.

Bapak adalah seorang yang percaya pada takhyul, sebaliknya Ibu adalah penganut kristen yang taat. Ketika itu natal sudah dekat, pendeta mengusulkan agar jemaat merayakan natal di rumah Ibu. Si tokoh sedikit keberatan untuk sebuah alasan yang tak dapat ia katakan, namun ia tak dapat menolak. Sebelum itu, sudah beberapa kali orang berhari Minggu di rumah mereka. Si tokoh merasa seolah-olah itu adalah upacara kematian. Pendeta bertanya kepadanya tentang mengapa ia tak ke gereja beberapa bulan lalu ketika ia datang berkunjung ke desa itu. Si tokoh mengalihkan pertanyaan tersebut, pun ketika pendeta memintanya untuk membaca injil di malam natal nanti. Si tokoh tak setuju tapi ia diam. Pendeta menganggap itu sebagai tanda setuju.

Di malam natal, sebelum tamu-tamu berdatangan, si tokoh masih mendengar suara batuk Ibu. Kemudian untuk beberapa lama suasana sunyi. Si tokoh menengok, memperhatikan Ibu yang sedang terbaring. Diperhatikannya wajah Ibu yang tirus, dan dada yang tak lagi bergerak. Ibu telah meninggal. Si tokoh merasakan perasaan syukur yang ganjil, yang tak memberi kesempatan pada haru yang menyumbat kerongkongannya. Tak ada orang yang tahu, pun Bapak yang ada di dekatnya. Tak ada yang menyadari kematian Ibu, pun ketika tamu-tamu berdatangan dan upacara dimulai. Pendeta dan semua orang mengira Ibu tertidur, mereka tak ada yang ingin mengganggunya. Ketika tamu pulang barulah si tokoh memberitahu Bapak.

Pendeta datang, katanya “Kudengar Tuan besok pergi. Mudah-mudahan selamat saja di perjalanan!”
“…. saya tahu Tuan juga percaya, walaupun orang terpelajar tidak lagi suka datang ke gereja. Saya selalu yakin Tuan berpegang pada kristus,” kata pendeta seperti pada dirinya sendiri. …. Mana bisa manusia tak ber-Tuhan! Mana mungkin tak ada surga!” katanya dengan pandang seakan-akan kambing menghadap batu.
Si tokoh pergi menuju pohon natal yang sudah kering terbengkalai di pekarangan. Dengan api sebuah korek, dibakarnya pohon itu sehingga menjadi unggun.

Dalam cerita Ibu, Pergi ke Surga, Sitor memberikan penghayatan kepada pembacanya perasaan terharu bahagia. Kisah ini tidak sekedar tentang kematian Ibu, tapi mengutip sinopsis buku, yaitu: “Membacanya memperoleh nilai tambah pengetahuan latar belakang konflik yang tumbuh dalam keluarga Batak antara kekristenan dan penganutan adat yang sebaiknya dilenyapkan. Meminjam ungkapan Hary Aveling, dalam cerita ini terdapat suatu jalinan kompleks tentang sikap moral di sekitar tema kematian, sikap positif mereka yang tinggal di sebuah kampung di pegunungan, dan sikap nihilistik “aku”.”

Cerita-cerita dalam karya Sitor sarat dengan pengetahuan latar belakang kebudayaan, terutama Batak, ajaran eksistensialisme seperti tampak pada Ibu, Pergi ke Surga serta filsafat.

Selain bahasanya yang puitis, kisah-kisah dalam buku ini dapat menambah kekayaan bathin pembacanya melalui pengalaman para tokoh-tokohnya.

Anak Bajang Menggiring Angin

Judul: Anak Bajang Menggiring Angin
Penulis: Sindhunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: kesembilan, Agustus 2010
Tebal: 467

Alkisah, di sebuah negeri Lokapala, seorang putra dari Begawan Wisrawa, Prabu Danareja jatuh cinta pada putri Sukesi. Putri dari sahabatnya, Sumali, seorang raksasa dari negeri Alengka. Sang Ayah yang sangat mencintai anaknya memutuskan untuk pergi menemui Sumali untuk melamar putri Sukesi. Sesampai di sana, Begawan Wisrawa mengutarakan niatnya. Sumali, sahabat yang dikasihinya itu menceritakan syarat yang diinginkan oleh Sukesi. Sukesi bersumpah hanya mau menerima lamaran dari orang yang bisa menerjemahkan arti mimpinya, yaitu menguraikan makna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Wisrawa memutuskan untuk menguakkan makna Sastra Jendra demi putranya.

Apakah Sukesi berhasil menguraikan Sastra Jendra? Apakah dengan memahami Sastra Jendra maka keduanya telah menjadi sempurna sebagai titah? Batara Guru memutuskan untuk turun ke dunia, ia akan mencobai kekuatan budi Wisrawa dan Sukesi.

Gagal menaklukkan kedua makhluk dunia yang berada di ambang kesempurnaan, Batara Guru kembali ke kahyangan. Sementara itu jagad raya bergemuruh. Bala tentara kejahatan menemui Batara Guru.
“Hai Raja para Dewa, keluarlah, dan dengarkanlah kami,”
“Lihatlah, berjuta-juta manusia yang mengiringi kami. Mereka ini belum lelah dengan dosa-dosanya. pandanglah tangis mereka. Kami ingin mereka tetap menangis, karena memang demikian kehendak mereka. Jangan sampai tangis mereka diubah menjadi kebahagiaan oleh kesucian Wisrawa dan Sukesi, yang kini sudah berada di ambang Sastra jendra.”

“Maka, hai Raja para Dewa, jangan kau mengira mereka telah berhasil memasuki alam ilahimu. Mereka masih milik kami. Percobaanmu terhadap mereka belum lengkap. Manusia itu adalah laki-laki dan wanita. manusia belum menjadi ilahi, bila hanya lelaki saja yang bisa memiliki cahaya ilahi. Dan manusia belum ilahi pula, bila hanya wanita saja yang bisa memiliki cahaya ilahi. Turunlah ke dunia dan cobailah mereka berdua bersama-sama. Nanti kau akan tahu bahwa keduanya adalah makhluk yang masih ingin berdosa. Wisrawa dan Sukesi tak mungkin menghindar dari kekuasaan kami. mereka sama dengan manusia-manusia yang mengiringi kami dengan tangisnya ini.”

Batara Guru kembali ke dunia bersama Dewi Uma. Keduanya menyusup ke dalam tubuh masing-masing pria dan wanita itu. Wisrawa dan Sukesi pada akhirnya gagal menghayati Sastra Jendra dalam kehidupannya meski mereka sudah memahami dalam pikirannya. Dalam penyesalannya mereka berdua mendengar suara ilahi.

“… “Hati manusia dalam badan jasmaninya itu demikian lemahnya. Budimu bisa membayangkan keluhuran apa saja, tapi serentak dengan itu hatimu bisa terjerumus ke dalam kenistaan tak terkira. Maka, anakku Sastra Jendra pada hakekatnya adalah kepasrahan hati pada ilahi, supaya yang ilahi menyucikannya. Kepasrahan hati itulah yang tak kau alami, ketika kau merasa memahami Sastra Jendra. Kau dihukum oleh kesombongan budimu sendiri, yang tidak mempedulikan jeritan hati dalam belenggu jasmaninya yang masih berdosa tapi ingin pasrah.”

Dan, Sukesi pun melahirkan kandungannya, seorang anak dengan sepuluh muka raksasa, yang kemudian dinamakan Rahwana. Kelak, Rahwana inilah yang menculik Dewi Sita dari suaminya, Rama. Sepuluh muka Rahwana melambangkan semua nafsu manusia dan kekacauan budinya.

Diilhami dari kisah pewayangan Ramayana, Sindhunata mengemas karya sastra ini dengan sangat menarik, dan sarat dengan nilai-nilai filosofi.