Strawberry Generation


Judul: Strawberry Generation
Penulis: Prof. Rhenald kasali, Ph.D.
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 2017
Tebal: 279

Strawberry adalah buah mungil yang indah dan menawan. Namun begitu terkena sedikit benturan maka strawberry mudah terkoyak dan hancur. Begitulah gambaran generasi muda saat ini, mereka yang lahir dari tangan orang tua yang jauh lebih sejahtera dari generasi sebelumnya. Rhenald mengatakan, generasi ini adalah mereka yang dimanja oleh fasilitas dan pelayanan orangtua, dimana orangtua turut campur dalam berbagai hal. Oleh karenanya, anak-anak ini kemudian tumbuh menjadi generasi yang mudah menyerah, tidak berani menghadapi tantangan dan mudah sakit hati. Anak-anak seperti ini hidupnya galau bahkan untuk hal sepele. Orang-orang seperti ini memiliki cara berpikir yang digolongkan ke dalam kategori fixed mindset. Fixed mindset yaitu orang-orang yang walau tingkat kecerdasannya tinggi namun statis. Mereka ingin tampak hebat tetapi sebenarnya mudah menyerah dalam menghadapi tantangan baru. Mereka tidak memiliki upaya untuk belajar dan sangat peka terhadap kritik. Keberhasilan orang lain akan dilihat sebagai ancaman.

Berbeda dengan fixed mindset, growth mindset adalah kelompok orang-orang yang cepat beradaptasi ketika menerima hal-hal baru. Meski saat sekolah mereka tidak pintar namun kecerdasan mereka dapat dikembangkan dan dilatih karena mereka terbuka terhadap masukan dan kritik. Tantangan bagi mereka merupakan kesempatan bagus untuk membuat diri menjadi lebih unggul dan kegagalan adalah peluang untuk belajar. Mereka siap belajar hal-hal baru.

Yang perlu orangtua perhatikan adalah anak-anak yang berhasil menemukan potensinya bukanlah anak-anak yang IQ-nya atau IP nya tinggi melainkan anak-anak yang pikirannya terbuka atau tertutup, mengembang atau menguncup, demikian menurut Rhenald. Karena itu, tugas orangtua dan pendidik untuk merombak cara berpikir agar anak tumbuh.

Rhenald, penulis buku ini adalah seorang profesor di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Terinspirasi oleh kutipan bagus ini, “Those who do not travel read only one chapter (mereka yang tidak melakukan perjalanan, -alias cuma belajar di kelas dan mengurung diri- dapat diibaratkan hanya membaca satu bab), Rhenald kemudian mengirim mahasiswanya pergi ke luar negeri. Syaratnya, harus sendiri dan ke negara yang berbeda. Tanpa orangtua, saudara, kenalan, atau jemputan. Pokoknya pergi ke tempat yang jauh dan cari uang sendiri. Rhenald sendiri sempat diprotes oleh orangtua yang khawatir secara berlebihan terhadap anak-anak mereka. Menurut Rhenald rasa khawatir berlebihan ini lah yang merusak anak-anak kita yang sesungguhnya hebat. Didera khawatir anak-anak mereka akan menderita maka orangtua memberikan segala yang dibutuhkan anak-anak itu. Takut berlebihan orangtua ini yang bisa membuat anak-anak ‘lumpuh’ dan akhirnya bermental penumpang. Yang harus dilakukan orangtua adalah memberi ruang dan kepercayaan pada anak-anaknya. Biarkan anak mengalami kegagalan, atau barangkali tersasar ketika ia berada di negara asing. Karena melalui itu semua seseorang memperbaiki cara berpikirnya sekaligus mengembangkan potensi diri yang dimilikinya.

Ingat, kan, kalimat Columbus ketika ia ditertawakan oleh rekan-rekannya karena tersasar? Begini,
“Kalau tidak pernah berani tersasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru.”

Jadi, ringkasnya, kalau ingin anak hebat, maka orangtua harus berubah. Orangtua harus rela melepas anak-anaknya belajar dari alam. Ya, belajar itu berarti menghadapi realitas, bertemu dengan aneka kesulitan, mengambil keputusan, dan berhitung soal hidup, bukan matematika imajiner. Belajar itu bukan cuma memindahkan isi buku ke kertas, melainkan menguji kebenaran dan menghadapi aneka ketidakpastian. (halaman 63)

Memercayai kehebatan anak merupakan awal kehebatan itu sendiri. Nah, siapkah Anda orangtua berubah?
Melatih anak-anak berpikir dan mengambil keputusan sedari muda amatlah penting. Sepenting membangun pertahanan dan keamanan negara, kita butuh penerus yang cerdas dalam menghadapi kesulitan dan ketidakpastian. Sebab, itulah situasi yang dihadapi anak kita kelak pada abad ke-21 ini. (Hal 64)

Manusia yang hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai mata pelajaran tinggi, melainkan manusia yang memiliki karakter yang kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka, mau belajar dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik.

Tentang Penulis
Rhenald Kasali, Ph.D., Guru Besar FEUI, praktisi manajemen dan penulis serangkaian buku-buku perubahan dan manajemen. Saat buku ini ditulis, Rhenald Kasali tengah memimpin sebuah Social Enterprise: Rumah Perubahan dan komisaris pada bebrapa perusahaan. Ia mempunyai relasi yang kuat pada dunia usaha dan sektor pemerintah.

Setelah menyelesaikan program doktornya dari University of Illinois at Urbana & Champaign-USA, ia banyak terlibat dalam berbagai program dengan Harvard Busniness School dan Yale School of Management. Ia juga banyak diminta nasihatnya oleh dunia usaha untuk mendampingi proses transformasi dan melatih para top executive. Training center-nya di kawasan seluas 5 hektare di tengah-tengah perkampungan yang asri di Desa Jati Murni Bekasi- setiap hari ramai didatangi para eksekutif dan tokoh-tokoh perubahan. Di sana, Rhenald Kasali menebarkan gelombang perubahan.

Saat ini, bukunya yang berjudul Self Driving telah menginspirasi banyak orang. Disusul dengan buku-buku lainnya yang juga menjadi national bestseller, yaitu Reinventing, Change Leadership, dan Curse to Blessing.

The Best Chicken Soup 2: Persembahan Nabi dan Keluarganya


Judul: The Best Chicken Soup 2: Persembahan Nabi dan Keluarganya
Judul Asli: The Narrative of Veracious
Penulis: Murthada Muthahhari
Penerjemah: Leinovar
Penerbit: Mizan Media Utama
Tahun terbit: 2005
Tebal: 251

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Sebelum para Nabi dan Rasul diutus ke muka bumi, kondisi masyarakat pada saat itu berada dalam kebodohan (ketidaktahuan akan petunjuk dari Tuhan). Mereka hidup sesukanya. Yang kuat menindas yang lemah dan segala perbuatan buruk lainnya. Kemudian secara bertahap para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran dan menyeru kepada umat manusia agar kembali ke jalan yang lurus serta senantiasa beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang pilihan Allah yang memiliki akhlak mulia. Buku ini berisi kisah-kisah keteladanan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw (Nabi terakhir dan penutup) beserta keluarga dan sahabatnya. Buku ini sarat akan nilai-nilai moral seperti kejujuran, ketekunan, dan sifat baik lainnya. Islam memberikan tempat tertinggi pada akhlak yang mulia, seperti tersirat dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”

Dalam kisah Sebuah Nasihat diceritakan seorang lelaki yang mendesak Rasulullah Saw untuk memberikan kata sebagai nasihat untuknya. Setelah membuat lelaki itu berjanji hingga tiga kali maka Rasulullah Saw bersabda, “Tiap saat kau memutuskan untuk melakukan sesuatu, pertama-tama, pikir dan renungkanlah akan akibat, konsekuensi serta hasilnya: jika berdasarkan penglihatanmu konsekuensi serta hasil semuanya baik, maka ikutilah. Namun bila ujungnya ternyata menjauh dan menyimpang dari kebaikan, maka singkirkanlah keputusanmu itu!” (hal 24)

Nasihat Nabi Saw di atas menegaskan utamanya melihat dampak dari suatu perbuatan kita terhadap orang lain dan sekitarnya terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Di sini kita diingatkan untuk tidak bersikap egois dan mau menang sendiri.

Lain kisah bercerita tentang pengorbanan seorang imam yang memiliki gandum sementara orang lainnya kesulitan memperoleh gandum. Ia memerintahkan pembantunya untuk menjual gandum tersebut dan memilih untuk membeli roti di pasar yang sama dengan roti yang dikonsumsi orang lain saat itu, yaitu roti campuran dari gandum dan jewawut. “Meski jauh dari cukup, namun aku lebih mementingkan ‘ukuran ketercukupan’ di mata Allah.” (halaman 34)

Pesan dari kisah di atas mengajarkan agar kita mau berbagi kepada orang lain. Tidak mudah tentu saja menerapkan nasihat di atas apalagi jika kita sendiri merasa membutuhkan hal yang harus kita bagi tersebut. Sikap manusia adalah mendahulukan kepentingannya sendiri terpenuhi baru memikirkan orang lain. Kita cenderung merasa kurang selalu. Berbagi adalah pembelajaran diri untuk mampu melawan hawa nafsu berupa keserakahan yang ada di dalam diri kita.

Kisah lainnya pun tak kalah menarik, seperti nasihat agar manusia selayaknya tak mengganggu orang lain, juga sebaiknya tak mempertontonkan kemalangan dan kesulitan kita kepada orang lain seperti dikutipkan dalam tulisan berikut ini.
“…, namun aku akan mengingatkanmu akan satu hal, janganlah menunjukkan kemalangan serta kesulitanmu di hadapan orang lain. Pertama, tindakan itu akan menunjukkan kau dikalahkan oleh kesulitan yang menimpamu. Dan kedua, kau akan kehilangan harga diri, martabat, dan kehormatanmu menjadi rendah.” (halaman 46)

Dalam kisah Siapa yang Lebih Saleh diceritakan seorang yang awalnya rajin menghadiri kuliah dan ceramah tiba-tiba tidak terlihat selama beberapa waktu. Kemudian imam Sadiq bertanya kepada seseorang. Diketahui si fulan itu jatuh miskin dan ia hanya duduk-duduk saja di rumah dan mengabdikan seluruh waktunya untuk berdoa. Imam Sadiq bertanya, “Lalu bagaimana ia memenuhi kebutuhan hidupnya? Salah seorang temannya menanggung seluruh biaya kehidupannya, kata orang tersebut.
“Demi Allah aku bersumpah! Temannya itu lebih saleh daripada dia.” (halaman 68)

Berdoa dan berikhtiar adalah kewajiban setiap manusia.

Masih banyak kisah menarik lainnya di buku ini. Buku kecil dan ringan ini bisa dibaca berulangkali. Pun cerita di dalamnya bisa menjadi bahan renungan diri yang semoga dapat membawa perubahan yang baik ke dalam diri kita.

Lingkar Tanah Lingkar Air

Judul: Lingkar Tanah Lingkar Air
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal: 165

Amid adalah pemuda yang berjuang dalam panji Hizbullah untuk bertempur dan membela kemerdekaan RI melawan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Amid berkeinginan untuk bergabung menjadi anggota tentara resmi negara. Namun sebuah peristiwa membelokkan arah hidupnya dan membawa Amid masuk menjadi anggota laskar DI/TII yang menentang pemerintah RI. Amid yang sejatinya seorang yang sangat cinta tanah air sesungguhnya merasa berat hati untuk bergabung menjadi anggota laskar Darul Islam. Ia teringat pesan gurunya, Kiai Ngumar, “Dan ingatlah pelajaran dalam Kitab, terhadap pemerintah yang sah kita wajib menaatinya.” (halaman 74)

Dalam pertempuran melawan pemerintah Amid seringkali diombang-ambingkan rasa bersalah oleh karena pasukannya sering memerangi warga seagama. Sebuah peristiwa penyerangan terhadap jip militer tentara Republik memukul sanubari Amid, ketika ia mendapati korbannya adalah seorang letnan yang di dalam bajunya ditemukan seuntai tasbih dan sebuah quran kecil. Seketika hati Amid terbelah oleh ironi yang sulit ia mengerti. Ia merasakan lelaki yang ia bunuh itu agaknya ingin selalu merasa dekat dengan Tuhan. Di lain sisi, ia meyakini bahwa Tuhan yang selalu ingin diingat oleh lelaki itu melalui tasbih dan quran-nya pastilah Tuhan-nya juga, yakni Tuhan kepada siapa gerakan Darul Islam ini mengatasnamakan khidmahnya.

Amid kembali mengingat perselisihan antara Kiai Ngumar dengan Kang Suyud ketika saat itu mereka menyatakan keinginan untuk bergabung dengan Kartosuwiryo yang ingin mendirikan sebuah negara Islam.

“Sabarlah, Suyud. Aku ingin kembali mengingatkanmu akan kandungan Kitab. Di sana disebutkan, hanya ada satu kekuasaan yang sah dalam satu negara. Dengan kata lain, bila Republik sudah diakui sebagai kekuasaan yang sah, lainnya otomatis menjadi tidak sah.”

“Meskipun Kartosuwiryo orang Islam dan berjuang di bawah bendera dua kalimat syahadat?”

“Bung Karno dan Bung Hatta pun orang Islam. Mereka menyusun kekuasaan pemerintah atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa serta dasar-dasar lain, yang semuanya merupakan pokok-pokok dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dan lebih dari itu, kekuasaan mereka sudah diakui keabsahannya oleh masyarakat. Pengakuan ini akan membuat kekuasaan lain yang muncul belakangan jadi tidak sah.”

“Namun mereka juga bekerjasama dengan orang-orang di luar Islam. Sementara Kartosuwiryo tidak.”

“Suyud, dengarlah. Sudah pernah kujelaskan kepada Amid bahwa Nabi pun pernah melakukan kerjasama dengan orang di luar Islam untuk menjamin keamanan Negeri Madinah.” (halaman 75-76)

Dalam perdebatan itu Kiai Ngumar akhirnya memberikan ketegasannya untuk memilih Republik dalam rangka melaksanakan ajaran islam sendiri.

Setelah hampir 10 tahun hidup dalam perburuan dan kenyataan bahwa pasukan DI/TII telah makin terdesak dan berkurang, Amid mulai merasa kehilangan harapan dan merasa jenuh. Dalam kebimbangannya ia seringkali teringat Kiai Ngumar serta kenangan masa lampau di desanya.

Harapan Amid untuk menjalani kehidupan normal bersama istri dan anaknya akhirnya tercapai ketika Kartosuwiryo menyerukan kepada semua anggota DI/TII untuk menurunkan senjata dan menyerahkan diri kepada pemerintah dan sebagai balasannya mereka akan diberikan pengampunan. Tiga tahun kemudian, Amid, Kiram dan Jun kembali mengangkat senjata. Kali ini seperti yang pernah ia cita-citakan, bertempur dengan semangat jihad untuk Republik.

Ulasan:
“Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”. ~ Soekarno.

Kalimat bijak Bung Karno mengingatkan pentingnya kita memahami sebuah sejarah agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Barangkali kita semua harus bercermin, kehadiran buku ini seperti mengingatkan agar kaum muda berhati-hati dalam menyikapi hasutan dan propaganda yang ditiup-tiupkan golongan tertentu untuk kepentingan politik mereka.

Tentang Pengarang
Ahmad Tohari dilahirkan di Banyumas, 13 Jui 1948. Dia tidak pernah melapaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya yang mewarnai seluruh karya sastranya. Beberapa karyanya adalah: Ronggeng Dukuh Paruk (1982) telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda, Jerman dan Inggris serta difilmkan dengan judul Sang Penari; Di Kaki Bukit Cibalak (1986); Senyum Karyamin (1989); Bekisar Merah (1993) telah diterbitkan dalam bahasa Inggris; Lingkar Tanah Lingkar Air (1992); Orang-orang Proyek (2002); Kabah (2005); Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (2006); Mata yang Enak Dipandang (2013).

Membaca Sirah Nabi Muhammad saw

Ka’bah
Ia berbentuk kubus atau segi empat sehingga mengarah ke timur, barat, selatan, dan utara. Bentuk demikian untuk melambangkan kehadiran Tuhan dimana-mana (baca: QS. al-Baqarah [2]:115).

[Kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah]
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

walillaahi almasyriqu waalmaghribu fa-aynamaa tuwalluu fatsamma wajhu allaahi inna allaaha waasi’un ‘aliimun

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Bangunan ka’bah tidak sakral, tetapi ia wajib dihormati sebagai lambang kehadiran Allah sekaligus sebagai ‘meeting point’.

Yang memandang ka’bah, apalagi yang masuk ke dalamnya, disertai dengan kekaguman dan penghormatan kepada lambang kehadiran Allah itu serta merasakan kehadiran-Nya, merekalah yang memperoleh ganjaran dan anugerah-Nya.

(halaman 305-306)

Kudeta Mekkah


Judul: Kudeta Mekkah (Sejarah yang Tak Terkuak)
Penulis: Yaroslav Trofimov
Penerbit: Alvabet
Tahun terbit: 2017
Tebal: 336

20 November 1979, awal bulan Muharram 1400 H, saat musim haji telah berakhir namun Mekkah masih disesaki oleh banyaknya kaum muslimin yang tinggal untuk berdoa memohonkan ampunan atas segala dosa yang hanya dapat dicapai di tempat suci, Mekkah. Pada hari itu pula, umat muslim merayakan tahun baru islam. Sesuai tradisi, orang-orang Mekkah melakukan ziarah dari kampung mereka masing-masing ke Masjid al-Haram.

Sekitar 100.000 jamaah datang dari pelbagai penjuru dunia berbaur dengan penduduk lokal. Diantara lautan manusia itulah terdapat ratusan pemberontak yang dipimpin oleh Juhaiman al-Utaibi. Sekelompok orang itu adalah orang Arab Badui yang akan mengambil alih secara paksa tempat tersuci umat islam, Masjid al-Haram. Juhaiman, seorang pria dari kaum Muhajir-Sajir dan mantan kopral pasukan Garda Nasional Arab Saudi, menganggap kekuasaan Arab Saudi saat itu tidak sah dan melenceng dari nilai-nilai islam.

Di waktu luangnya, Juhaiman menghadiri banyak diskusi dan kuliah keagamaan. Juhaiman adalah salah satu murid terbaik dari Ibn Baz, seorang ulama yang beraliran wahhabi dan pendiri gerakan Dakwah Salafiyah al-Muhtasiba yang tersohor sampai ke seluruh penjuru Arab Saudi. Melalui serangkaian tulisannya, Juhaiman merangkum ide-idenya mengenai terbentuknya masyarakat islam yang ideal. Ia dengan tegas menulis bahwa pemerintahan raja Arab Saudi saat itu haram. Selain itu ia juga menyinggung bahwa akan muncul Imam Mahdi, sang juru selamat yang akan menyelamatkan kaum muslim. Buku kecil biru dan hijau setebal 170 halaman karya Juhaiman segera menyebar di kampus-kampus di Mekkah, Madinah, Iran, Irak, dan Mesir dengan cara diselundupkan. Sejak itu dukungan dan simpat mengalir. Pemikiran-pemikiran Juhaiman tumbuh subur terutama di kalangan muda. Banyak kaum muda kemudian bergabung dengan gerakan yang dibentuk Juhaiman.

Tumbuh dalam tradisi Wahhabi, Juhaiman dididik untuk mencari semua jawaban mengenai kejayaan Islam masa lalu. Oleh karena itu Juhaiman merenungkan langkah-langkah selanjutnya dari gerakannya. Ia kemudian menemukan jawabannya dari sekumpulan jilid besar kitab hadits yang sudah berdebu, yang menerangkan konsep yang kokoh bagi teologi Islam yang terlihat begitu benar dalam masa yang kacau seperti saat itu, Mahdi. Ide tentang Mahdi sendiri tidak disebut dalam Al-Quran, Tetapi Nabi Muhammad, menurut beberapa perawi, meramalkan bahwa Allah akan mengirimkan seorang juru selamat untuk memerintah dunia Islam dan mendirikan masyarakat Ideal, setelah terjadinya peperangan dengan kekuatan jahat.

Juhaiman dan para pengikutnya mulai menyiapkan langkah selanjutnya, yaitu melindungi Imam mahdi dan akan membaiatnya di tanah suci: dekat Ka’bah di Mekkah. Muhammad bin Abd Allah Al-Qahtani, adalah sosok yang diyakini oleh Juhaiman sebagai Imam Mahdi. Maka, disusunlah rencana pemberontakan yang menjadi babak suram bagi pemerintahan kerajaan Arab Saudi saat itu.

Peristiwa berdarah itu dimulai tepat setelah Imam Masjid al-Haram menutup doa dan menyambut pergantian tahun. Masjidil Haram dikuasai dalam waktu yang singkat oleh pengikut Juhaiman. Diiringi tembakan Juhaiman mengatakan bahwa Imam Mahdi telah datang dan sekarang menduduki Al-Haram sambil menunjuk saudara iparnya tersebut. Para pengikutnya kemudian menyebarkan buku Tujuh Risalah, kumpulan tulisan Juhaiman ke kerumunan jamaah yang disandera.

Perebutan itu berlangsung selama 2 minggu. Juhaiman berhasil ditangkap dan Muhammad Abdullah al-Qahtani tewas tertembak. Juhaiman dihukum pancung di Mekkah. Pemberontak lainnya dihukum pancung yang tersebar di delapan kota. Akibat kudeta ini, beberapa bagian Masjid al-Haram rusak parah meski tak merusaki Ka’bah secuil pun.

Ulasan:
Sejujurnya, saya baru tahu bahwa pernah terjadi kudeta di Mekkah. Barangkali juga, banyak kaum muslim lainnya yang seperti saya. Mereka mungkin pernah mendengar tetapi tak paham apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat itu. Dikutip dari sinosis buku, “Para pengamat politik dan sejarawan menganggap kejadian itu sebagai insiden lokal semata, dan karena itu tak bersangkut-paut dengan peristiwa internasional yang belakangan merebak: terorisme. Tetapi penulis buku ini, Yaroslav Trofimov, berpendapat sebaliknya. Menurutnya, peristiwa itu merupakan akar sejarah gerakan terorisme global, terutama yang dimotori Al-Qaeda.”

Pemerintah Arab Saudi barangkali telah membersihkan orang-orang yang terlibat di dalam gerakan Juhaiman namun mengabaikan ideologi yang berada dibelakangnya, dan membiarkan ajaran itu tumbuh subur dan menyebar.

Penulis:
Untuk menyibak detail peristiwa ini, Trofimov memburu sumber-sumber penting dan tepercaya, perpustakaan British, satu-satunya tempat di Eropa yang menyimpan pelbagai surat kabar Saudi tahun 1979, arsip Pemerintah AS dan Inggris yang berisi laporan rahasia dari para Diplomat dan mata-mata; serta CIA dan British Foreign Office.

Kesan:
Ini buku yang paling bikin nderedeg untuk dibikin review. Dan sukses membuat saya nekad sampai menjelang pagi menuntaskan membacanya sampai akhirnya nggak berani ke toilet sendiri malam itu. Buku bagus sekaligus seram.
Tetapi dibalik keseraman buku ini, ada satu pernyataan Juhaiman yang menyatakan penyesalannya, dinukil dari halaman 248, “Ketika Juhaiman dibawa pergi, salah satu perwira bertanya lagi kepadanya, mengapa dia memperlakukan tempat suci seperti itu. Kenyataan kekalahan mendalam mulai dirasakan, “Jika aku tahu akan berakhir dengan cara seperti ini, aku tidak akan melakukannya,” Juhaiman menjawab dengan nada mengeluh.”

Siap Menjadi StudentPreneur


Judul: Siap Menjadi StudentPreneur
Penulis: Rizal Fikri dan Ferrial Pondrafi
Penerbit: Metagraf
Tahun terbit: 2016
Tebal: 173

“Tak ada istilah terlalu muda untuk memulai bisnis”

Masih sekolah tapi ingin menjadi wirausaha, hm…bisa nggak ya?
Tentu saja bisa. Keriuhan media sosial di era digital tidak hanya membuat orang tahu banyak hal tetapi juga bisa membuka peluang bagi pelajar sepertimu untuk berbisnis. Nggak percaya? Coba perhatikan linimasa mu, adakah kawan atau remaja seusiamu yang mengiklankan bisnis mereka?

Menjadi wirausaha saat ini dapat dimulai sejak di bangku sekolah. Kemajuan teknologi dengan internetnya turut memberikan andil bagi anak muda untuk menggeluti bisnis. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh jika seseorang memulai bisnis pada waktu muda. Salah satunya, faktor risiko yang lebih kecil. Apa maksudnya?

Mengutip tulisan di buku, “Studnetpreneur adalah sebuah gambaran bagaimana masa-masa sekolah dapat diamnfaatkan untuk memulai suatu bisnis yang sangat menguntungkan. Memakai perumpamaan memancing, memulai bisnis di usia sekolah dapat menjadi landasan awal dalam berbisnis, seakan-akan telah melakukan start terlebih dahulu. Studentpreneur memulainya dari benar-benar membangun sebuah tangga, hingga apa yang harus dilakukan ketika sudah berada di puncak tangga.” (halaman Prakata)

Banyak yang mengatakan bahwa membangun bisnis itu susah-susah gampang. Fase membangun ini yang sangat berat. Banyak orang yang percaya diri untuk membangun usaha tetapi berat memulai. Biasanya dikarenakan banyak pertimbangan yang akhirnya membuat calon entrepreneur mengurungkan niatnya. Tanpa niat yang tulus, tekad yang kuat dan semangat pantang menyerah maka bisnis yang telah disiapkan dengan baik tidak akan terealisasikan. Kuncinya adalah keberanian untuk memulai membuka sebuah usaha.

Keberanian saja tidak cukup loh. Ketika akan membuka usaha kamu harus memperhatikan opportunity (kesempatan) dari pasar sasaranmu. Adakah pasar yang menerima produk atau bisnis yang kamu tawarkan. Untuk mengetahui hal ini kamu harus jeli terhadap kebutuhan orang lain. Selanjutnya, kreativitas. Nah, ini penting. Kreatif atau dalam bahasa inggris, creative berasal dari kata to create, yang artinya menciptakan. Jadi, bisa berarti menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada. Mencipta bisa berarti apa saja, mulai dari ide atau gagasan, produk, jasa, seni, tulisan, lagu, dan lain-lain. Itu sebabnya orang-orang yang menciptakan sesuatu sering dianggap sebagai orang yang kreatif.

Sebentar deh, …apakah artinya orang yang nggak kreatif nggak bisa jadi pengusaha?
Oh, nggak begitu. Menurut buku ini kreativitas itu adalah sesuatu yang pada dasarnya dapat dipelajari dan dilatih. Kalau begitu, bagaimana cara melecutkan kreativitas?

Hm, pertanyaan menarik. Bagaimana kalau membaca bukunya langsung? 🙂
Nggak rugi kok. Buku ini mengisahkan pengalaman para usahawan sukses yang memulai bisnisnya sejak usia sekolah. Kegagalan, keberhasilan, ataupun usaha dalam kondisi BEP (rugi nggak, untung juga nggak) pernah mereka rasakan. Juga rasa mendua antara mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang bejibun dengan menyiapkan orderan untuk pelanggan. Kuncinya adalah disiplin dan bertanggungjawab dengan kondisi yang dipilih.

Nah, untuk Anda, remaja, yang ingin menapaki jalan menjadi seorang wirausaha, buku ini patut dipertimbangkan untuk dibaca (jangan disimpan di bawah bantal aja ya.. hehe). Cerita dan langkah-langkah penting yang menjadikan mereka sukses dirangkum dalam kalimat-kalimat ringan dan sederhana untuk membangun sebuah tangga kesuksesan.

Mari Bicara Iman


Judul: Mari Bicara Iman
Penulis: Dr. Nadirsyah Hosen
Penerbit: Zaman
Tahun terbit: 2011
Tebal: 237

Mari Bicara Iman adalah buku yang bercerita tentang berbagai persoalan kehidupan dan keberagaman. Setiap potongan kisahnya akan memberikan kesadaran kepada kita bahwa inilah yang kita pikirkan inilah yang terjadi pada kita.
Fragmen cerita diambil dari cerita keseharian dan khazanah keislaman. Buku ini tidak hanya menawarkan nilai-nilai kemanusiaan namun juga mengasah kepekaan dan sekaligus mengusik pikiran kita sebagai hamba Allah yang dikaruniai akal untuk berpikir.

Dibagi dalam 4 bab, buku ini menguraikan Teladan, Kearifan, Tantangan Iman dan Keberkahan Ramadhan.
Dalam sebuah cerita mengenai Keteladanan, dikisahkan suatu hari ketika Nabi Muhammad duduk di masjid bersama para sahabatnya, tiba-tiba Nabi berseru, “Akan datang seorang penghuni surga.” Serempak para sahabat memandang ke arah pintu. Ternyata yang datang hanya seorang sahabat. Ia memberi salam lalu mengerjakan shalat. Keesokan harinya di saat yang sama Nabi kembali berseru, “Akan datang seorang penghuni surga.” Dan yang muncul adalah sahabat yang kemarin. Karena rasa ingin maka seorang sahabat Nabi membuntuti orang yang digelari “penghuni surga” oleh Nabi. Dan sampai di depan rumah, sahabat Nabi meminta ijin untuk menginap di rumah “penghuni surga” karena ia sedang bertengkar dengan keluarganya. Setelah tiga hari sahabat itu akhirnya berterus terang bahwa ia berbohong. Alasannya menginap adalah karena ia ingin mengetahui amalan yang dilakukan oleh orang yang digelari “penghuni surga” oleh Nabi. Menurut sahabat, amalan yang dilakukan oleh orang yang disebut “penghuni surga” itu tidak berbeda dengan amalan yang ia lakukan. Si “penghuni surga” pun tak mengetahui mengapa Nabi menyebutnya “penghuni surga”. Si sahabat pun berlalu. Tak lama sahabat itu berjalan, si “penghuni surga” memanggilnya. “Saudaraku!”, aku teringat sesuatu… Tak pernah terbersit sedikit pun rasa dengki di hatiku.”
“Itulah rahasia mengapa Nabi menyebutmu penghuni surga. “Itu yang tak dapat kami lakukan.”

Dengki bukan persoalan sepele. Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki akan lahir buruk sangka. Dari buruk sangka akan lahir fitnah dan tuduhan. Dan seseorang akan “senang” jika fitnah dan tuduhan yang dibuatnya bisa didengar oleh orang lain. Fitnah itu pun menyebar. Dengki melahirkan perilaku-perilaku buruk lainnya. (halaman 46)

Dalam bab Kearifan ada satu kisah mengenai Ali Baba dan Qasim yang diambil dari “Kisah Seribu Stau Malam”. Ali Baba dan Qasim adalah dua bersaudara yang nasibnya berlainan. Ali Baba hidup miskin dan Qasim sangat kaya raya. Suatu hari ketika Ali Baba sedang berjalan menyusuri gurun pasir ia melihat sekawanan penyamun. Kawanan penyamun ini menuju sebuah pintu batu dan mengucapkan mantra. Ali Baba memperhatikan dengan seksama gerak-gerik sang penyamun. Ketika keluar, pimpinan penyamun mengucapkan kata-kata sakti sehingga batu kembali tertutup. Ali Baba yang penasaran mendekati pintu. Ia mengucapkan mantra dan batu terbuka. Alangkah kagetnya Ali Baba ketika ia mendapati emas serta perhiasan dan barang-barang nahal di dalamnya. Ali Baba mengambil harta itu secukupnya lalu pulang ke rumah. Akibat keteledoran istrinya, Qasim mengetahui perubahan yang terjadi pada adiknya yang kini hidup lebih dari cukup. Karena didorong rasa iri, Qasim bertanya mengenai asal kekayaan yang dimiliki adiknya. Dan Ali Baba terdorong oleh rasa sayang kepada kakaknya menceritakan rahasianya termasuk kata sandi untuk membuka pintu. Singkat cerita, pergilah Qasim. Ia mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Setelah puas ia pun hendak keluar. Namun Qasim lupa kata sandi. Sial bagi Qasim, rombongan penyamun datang. Begitu pintu terbuka, para penyamun mendapati Qasim di dalam gua. Nasib Qasim selanjutnya bisa ditebak.

Kisah Ali Baba dan Qasim mengajarkan kita pada banyak hal. Boleh jadi kita sama-sama memiliki keilmuan. Boleh jadi kita sama-sama mengetahui rahasia ilahi. Boleh jadi juga kita sama-sama hafal ayat ilahi. Namun, kesucian hatilah yang membedakan kita. Ali Baba tidak silau dengan harta duniawi. Sementara itu, meskipun sudah diberitahu mantra sakti, tetapi karena silau dengan harta duniawi, Qasim mendadak lupa mantra itu. Keserakahan membutakan pikiran Qasim. Ketika kepala penuh dengan keserakahan, seseorang akan lupa dengan mantra sakti. Ayat ilahi, atau yang diumpamakan dengan mantra sakti dalam kisah Ali Baba, hanya akan menghampiri mereka yang suci hatinya. Boleh jadi kita sama-sama tahu makna ayat ilahi, namun nasib kita bisa berbeda. (halaman 80)

Sementara di bab Tantangan Iman ada sebuah kisah keseharian penulis dimana suatu ketika ia ditegur oleh seorang kawan mengenai ketidaksempurnaannya dalam shalat. Pada waktu lain si kawan tadi menegur jamaah lain yang rukuknya dianggap tidak sempurna sehingga si jamaah yang ditanya menjadi gelagapan. Penulis menjadi bertanya-tanya apakah pekerjaan kawannya itu adalah mengamati setiap gerakan shalat orang lain dan bersiap menegurnya selepas salam. Dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa tanda seseorang mendapat hikmah adalah ia mudah melihat kesalahan dirinya sehingga ia tak sibuk memikirkan kesalahan orang lain.

Dalam surah al-Najm ayat 32 Allah berfirman, Dia lebih mengetahui keadaanmu ketika Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Jika hanya Allah yang mengetahui kadar ketakwaan seseorang maka mengapa kita harus terlalu bersemangat memikirkan kesalahan orang lain. Dakwah itu penting, tetapi yang harus dihindari dalam berdakwah adalah merasa dirinya paling benar, paling suci, dan paling bertakwa, juga hanya sibuk memikirkan kesalahan orang lain tanpa peduli pada kesalahan dan kekurangannya sendiri. Semoga kita semua tidak termasuk golongan terakhir ini. Insya Allah. (halaman 103)

Bab terakhir bercerita tentang Keberkahan Ramadhan. Sebentar lagi, insya Allah kita akan akan memasuki bulan ramadhan. Ramadhan adalah saat rahmat Allah turun begitu banyak. Salah satunya adalah terkabulnya doa-doa. Mari rebahkan diri kita dan banyaklah berdoa pada bulan ini. Tuhanmu amat dekat denganmu pada bulan suci dan Ia telah menjanjikan akan mengabulkan semua permohonanmu. Setelah ramadhan berlalu, apakah doa-doa kita tetap terkabul? Apakah Allah tetap dekat dengan kita pada selain Ramadhan? Ayat penutup dari rangkaian ayat puasa, ayat ke-188 berbunyi:
Jangan sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil. Dan, janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, dengan berniat memakan sebagian harta itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.

Saat Ramadhan, kita diperintahkan menahan menikmati makanan halal pada waktu tertentu. Di luar Ramadhan, kita diperintahkan menahan diri dari harta yang haram. Jika demikian-insya Allah- di dalam dan di luar Ramadhan, Allah selalu dekat dan mengabulkan doa-doa kita.

Demikianlah sebagian penggalan kisah dari buku Mari Bicara Iman. Sebagai umat muslim maka tunjukkanlah kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang indah, mengajarkan kebaikan budi dan kelembutan hati, seperti teladan yang telah diberikan oleh Nabi Muhammad saw.

Salju


Judul: Salju
Penulis: Orhan Pamuk
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal: 665

“Salju mengingatkan saya kepada Tuhan. Salju mengingatkan saya pada keindahan dan kemisteriusan makhluk hidup, pada kebahagiaan yang paling asasi, yaitu kehidupan.” (halaman 146)

Salju berkisah tentang seorang buangan politik bernama Ka. Ka adalah penyair Turki yang menganut paham ateis. Oleh karena pilihannya ia kemudian diasingkan dan diberi suaka ke Frankfurt, Jerman. Ka kemudian memutuskan hubungan dengan para komunis Turki setelah ia dinyatakan sebagai buangan politik dan diberi tunjangan suaka. Setelah lama tidak mengunjungi negaranya, Ka memutuskan kembali Ke Turki untuk menyelidiki banyaknya wanita muda berkerudung yang melakukan bunuh diri.

Kota Kars adalah tempat Ka menetap sebagai utusan wartawan dari tempatnya bekerja. Di sana Ka bertemu dengan cinta lamanya, seorang wanita bernama Ipek. Ipek yang kini telah bercerai dari suaminya kemudian menjalin hubungan kembali dengan Ka. Pada suatu peristiwa ketika Ka dan Ipek sedang berada dalam sebuah cafe terjadi penembakan yang dilakukan oleh seorang ekstrimis muslim kepada direktur pendidikan. Kejadian ini menyeret Ka menjadi saksi mata dalam peristiwa tersebut.

Kota Kars, Ipek dan Salju ternyata menginspirasi Ka untuk membuat puisi kembali. Kepingan salju mengingatkan Ka akan masa kecil dan perasaan mistik akan keberadaan dirinya di masa lampau dan kini. Ka seolah mendapatkan kemampuan menulis puisi-puisinya kembali.

Tokoh lainnya dalam kisah ini yang juga mengambil peran penting adalah Kadife. Kadife, adik kandung Ipek adalah seorang muslimat taat. Kadife bergabung dan menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok perempuan Turki yag memperjuangkan hak mereka untuk berhijab. Ka menyebut kelompok ini sebagai feminis islam. Kadife mencintai seorang islamis politis yang hendak melakukan kudeta militer untuk mengembalikan Turki menjadi negara islam.

Ulasan
Salju adalah kisah tentang benturan peradaban Timur dan Barat. Bercerita tentang Turki sebagai negara sekuler dibawah pemerintahan Kemal Ataturk, novel ini berisi dilema yang dihadapi oleh sebuah bangsa yang terpecah belah antara tradisi, agama, dan modernisasi. Ataturk adalah pendiri dan presiden pertama Republik Turki. Dikutip dari Wikipedia, “Setelah kekalahan Kekaisaran Ottoman di tangan tentara Sekutu, dan rencana-rencana berikutnya untuk memecah negara itu, Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki dalam apa yang kemudian menjadi Perang Kemerdekaan Turki. Kampanye militernya yang sukses menghasilkan kemerdekaan negara ini dan terbentuknya Republik Turki. Sebagai presiden pertama negara ini, Mustafa Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan yang luas yang berusaha menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis.”

Reformasi Ataturk ini melarang penggunaan jilbab yang dinilai sebagai sebuah kemunduran dan menjadi hambatan dalam mencapai tujuan Turki yang modern. Pelarangan ini kemudian mendapat pertentangan dari kaum muslim konservatif sehingga mengakibatkan bentrokan dengan pihak militer.

Sejujurnya, ini novel yang berat. Namun demikian tetap layak untuk dituntaskan. Dialog dan pemikiran tokoh-tokoh di dalam buku ini membuka wawasan kita tentang pertentangan yang terjadi antara dunia islam radikal dan sekuler, bahasan yang masih akurat sampai saat ini pun.

5W1H


Judul: 5W1H
Penulis: Yoris Sebastian
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal: 131

Ingin bikin bisinis, tapi masih bingung usaha apa? Jangan khawatir, buku ini akan membedah jurus-jurus memulai bisnis online. Tentunya kita harus bersyukur bahwa kita ada di era dimana peluang terbuka untuk siapa saja dan dimana saja.

Nah, apa saja yang harus dipersiapkan untuk mulai membangun sebuah bisnis? Yoris Sebastian merangkumnya dalam 4 huruf yang juga menjadi judul buku ini, yaitu 5W1H. Apa sih 5W1H itu?
1. Who am i?
Kenalilah dirimu. Mengenali diri sendiri itu ternyata perlu loh jika kamu ingin memulai bisnis pribadi. Banyak enterpreneur sukses karena mereka mengenali kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri. Perjalanan hidup setiap individu bisa dijadikan ide bisnis yang baru. Jeli dan peka terhadap talenta yang kamu miliki.
2. What am i offering?
Setelah mengenali diri sendiri lalu apa? Apakah cukup dengan mengetahui kesukaan diri sendiri maka bisnis dapat dimulai? Ide bisnis yang baik tidak dapat dijalankan hanya cukup dengan minat namun juga memiliki dasar-dasar yang kuat.
3. Why does it matter?
Tanyakan alasan mengapa produkmu perlu? Untuk mengetahui jawabannya kamu harus banyak membaca, browsing, bertanya kepada teman, mentor, dan jangan lupa dengarkan kata hati. Misalnya, kamu ingin membuat usaha kaos. Apa yang membedakan kaos mu dengan kaos lain? Apa pentingnya produk kaos yang kamu buat? Kisah anak SMA di sini mungkin bisa menjadi sumber inspirasi bisnis mu.
4. Whom are we talking to?
Kepada siapa pasar kita tujukan? Nah, ini bagian yang penting loh. Karena di sini kamu akan memilih pelanggan untuk awal bisnis mu. Jika pun produk yang kita buat nantinya ditujukan untuk semua kalangan, ada baiknya kamu menentukan pasar utamamu terlebih dahulu.
5. When is the right time?
Tidak ada yang waktu yang benar-benar tepat untuk menjalankan sebuah bisnis selain kamu harus memulainya. Adakalanya bisnis dimulai secara tidak sengaja atau bertepatan dengan situasi atau kondisi saat itu.
6. How to attract customer?
Bagian terakhir dari sebuah proses menjalankan bisnis adalah memasarkan. Bagaimana cara kamu mempromosikan bisnis mu agar dikenal dan diingat orang. Manfaatkanlah dunia digital untuk mempromosikan bisnismu. Berbagai layanan sosial media, blog, ataupun bergabung di market place dapat kamu coba untuk mengenalkan produkmu di masyarakat.

Itu tadi di atas adalah poin-poin untuk memulai sebuah bisnis yang saya rangkum dari buku 5W1H. Di dalam bukunya sendiri diberikan contoh dan pengalaman beberapa onlinepreneur kreatif di Indonesia disertai proses perjalanan bisnis mereka. Jika kamu tertarik menjadi seorang enterpreneur maka buku ini bisa menjadi rujukan. Ditulis dalam kalimat yang ringan dan mudah dicerna maka membaca buku ini tidak akan membuatmu bosan. Oya, ada juga halaman catatan pembaca untuk setiap tahapan proses memulai bisnis yang dapat kamu isi. Siapa tahu kelak halaman catatan yang kamu isi dan tulis itu sendiri bisa diwujudkan menjadi sebuah bisnis kelak :).

Drupadi


Judul: Drupadi
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2017
Tebal: 149

“…pengabdian yang sempurna adalah setia kepada peranan hidup kita, apapun peran yang kita mainkan.” (hal 78)

Drupadi adalah tokoh wanita dari kisah Mahabharata. Konon Drupadi diciptakan dari sekuntum bunga teratai yang sedang merekah. Itulah sebabnya ia memiliki kecantikan yang tiada terkira. Banyak ksatria dari seluruh penjuru yang memperebutkan dirinya. Hingga suatu hari, Drupada, ayah Drupadi menyelenggarakan sayembara untuk mencari pasangan bagi putrinya. Karna, seorang putra kusir berhasil memanah sasaran. Namun Drupadi menolak Karna karena tidak ingin bersuamikan seorang yang lebih rendah derajatnya.

Arjuna, ksatria Pandawa yang saat itu menyamar sebagai brahmana berhasil memenangkan sayembara. Namun Arjuna menolak menikahi Drupadi, sebaliknya ia mempersembahkan Drupadi untuk kakaknya, Yudhistira. Yudhistira yang tidak mengikuti pertandingan menolak permintaan Arjuna dan memberikan Drupadi untuk saudara pandawa lainnya. Namun mereka semua menolak. Dewi Kunti, ibu ksatria Pandawa akhirnya memutuskan untuk menikahkan Drupadi dengan kelima putranya, yaitu Yudhistira, Arjuna, Bima, Nakula, dan Sadewa. Arjuna adalah ksatria Pandawa yang paling dicintai oleh Drupadi.

Drupadi bersama kelima suaminya tinggal di dalam istana Indraprastha yang mewah. Saudara Pandawa lainnya, Kurawa, yaitu Duryodana merasa iri dengan keberuntungan Yudhistira. Akhirnya dibuatlah sebuah rencana yang mengakibatkan Yudhistira tidak hanya kehilangan harta, istana, dan kerajaannya namun juga saudara-saudara Pandawa lainnya beserta Drupadi. Pandawa mengalami kejatuhan, kehilangan kehormatan dan kemerdekaan mereka sebagai manusia. Istri mereka, Drupadi dihinakan oleh Kurawa. Terhina, terlunta-lunta dan terusir adalah derita yang harus ditanggung Drupadi di dalam masa pengasingan bersama kelima suaminya. Namun Drupadi tak tinggal diam. Ia melakukan perlawanan melalui kata-kata, doa, dan mantra yang pada akhirnya membawa kemenangan bagi Pandawa.

Ulasan
Drupadi, menggambarkan sosok wanita cerdas, yang dengan kekuatan dan kelembutannya mampu memberi perlawanan atas penghinaan yang dilakukan Kurawa. Sepanjang hidupnya Drupadi ingin memanusia (hal 128). Kisah Drupadi dalam buku ini juga menggambarkan bentuk pengabdian Drupadi kepada hidup yang dilakoninya. Perannya sebagai istri dari lima ksatria Pandawa membawa Drupadi kepada kebahagiaan dan kesengsaraan yang tidak terperi. Namun demikian ia tetap bersetia kepada takdir yang telah menentukan jalan kehidupannya.

“Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu.”