Startup Business Model


Judul: Startup Business Model
Penulis: Hendry E. Ramdhan
Penerbit: Penebar Plus
Tahun terbit: 2016
Tebal: 342

Nokia, handphone yang pernah memperoleh gelar HP sejuta umat pada tahun 2013 mengumumkan kebangkrutannya. Tidak hanya Nokia, beberapa perusahaan yang dulunya pernah berjaya juga mengalami nasib serupa, terjun bebas dan raib. Beberapa diantaranya yaitu Kodak, Lehman Brothers, DEC, dan motorola. Apa yang salah? Tidak ada yang salah dengan mereka. Namun, perubahan terjadi terlalu cepat. Nokia, Kodak dan juga kawan-kawannya terlambat menyadari perubahan dan tiba-tiba kehilangan keunggulan kompetitifnya, sementara para pesaingnya mampu beradaptasi terhadap perubahan dengan cepat. Mereka gagal menyesuaikan model bisnis mereka terhadap perubahan prospek bisnis yang terjadi dengan cepat. Faktanya, keberhasilan di masa lampau tidak menjamin keberhasilan di masa mendatang. Jika hanya berpatokan pada profit yang berhasil dibukukan, tidak akan menjamin perusahaan akan bertahan. (halaman 15)

Tetapi kisah paling menyedihkan barangkali ada pada Kodak. Sejatinya, Kodak adalah penemu kamera digital pertama di dunia pada tahun 1975. Namun karena khawatir mengganggu bisnis kamera analog maka mereka menyimpan penemuan itu. Saat itu model bisnis mereka utamanya berfokus pada menjual film, bukan perangkat kameranya. Hingga akhirnya tahun 1999 teknologi baru kamera digital membanjiri pasar. Namun Kodak mengabaikan fakta itu dan meyakini pangsa pasar kamera digital hanya bisa meraih 5% dalam 10 tahun ke depan. Kodak salah besar, pangsa pasar kamera digital mencapai 95% dan kamera analog tinggal 5%. Malang bagi Kodak, karena pengembangan teknologi sudah sangat terlambat sementara kompetitor sudah lebih dulu melihat peluang kamera digital dan telah melakukan investasi pengembangan di dalamnya. Akhirnya pada tahun 2012 Kodak mengalami nasib yang sama dengan Nokia.
Apa yang dapat dipetik dari kisah kedua perusahaan besar di atas?
Keunggulan kompetitif yang berkelanjutan menjadi mutlak untuk dijaga dengan melakukan inovasi tiada henti. Inovasi apa yang bisa menjamin keunggulan kompetitif secara jangka panjang? Jawabnya adalah inovasi model bisnis.

Mengapa bukan inovasi produk? Karena inovasi produk, proses, atau teknologi dapat ditiru dengan cepat oleh kompetitor. Selain itu, studi BCG menunjukkan perusahaan inovator model bisnis dalam kurun waktu 5 tahun akan lebih profitable 6% dibanding perusahaan yang hanya melakukan inovasi produk dan proses. Studi BCG juga menunjukkan 14 dari 25 perusahaan paling inovatif di dunia adalah inovator model bisnis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inovasi model bisnis adalah kunci utama penggerak inovasi yang berkelanjutan. Artinya, keunggulan kompetitif di masa mendatang bukan berdasar pada inovasi produk atau proses, melainkan inovasi model bisnis. Bukan berarti inovasi produk atau proses tidak penting melainkan tidak akan menentukan gagal atau berhasilnya perusahaan secara jangka panjang.

Jadi, tak salah kalau dikatakan ilmu penting dalam mengelola bisnis startup adalah mengenal model bisnis. Apa sih model bisnis? Sederhananya, model bisnis adalah gambaran bagaimana pelaku bisnis menghasilkan keuntungan (profit). Banyak perusahaan besar yang mengalami kegagalan atau kebangkrutan bisnisnya dikarenakan model bisnis mereka yang sudah ketinggalan jaman sehingga tidak lagi memiliki keunggulan kompetitif.

Nah, sebelum memulai bisnis, ada baiknya kita mengenali beragam model bisnis yang telah terbukti berhasil di startup lokal dan mancanegara. Buku ini memaparkan 50 model bisnis serta 150 startup baik lokal dan mancanegara beserta model bisnisnya.

Oya, buku ini adalah seri ketiga (terakhir) buku tentang startupreneur. Review dari seri pertama dapat dibaca di sini. Seri kedua atau lanjutannya dapat dibaca di sana.

Startup GuideBook


Judul: Startup GuideBook
Penulis: Andika Drajat M & Dita Kartika S
Penerbit: Quadrant
Tahun terbit: 2017
Tebal: 193

Startup business saat ini menjadi pilihan profesi baru banyak anak muda. Mengapa? Faktanya banyak anak muda yang berhasil menjadi pengusaha sukses berawal dari membangun startup business. Bisnis berbasis teknologi ini memberikan penghasilan tak terbatas. Lihat saja Mark Zuckerberg, Jack Ma, dan lain-lain.

Tertarik menjadi seperti mereka? Buku ini memberikan panduan bagaimana membangun sebuah bisnis startup. Apa saja yang harus dipersiapakan, bagaimana pelaksanaannya sampai mengembangkan dan memperoleh gelar ‘unicorn’. Unicorn adalah gelar yang paling diidamkan dalam startup business.

Startup sendiri adalah istilah bagi perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan ini biasanya masih dalam proses pengembangan dan masih berusaha menemukan sasaran pasar yang tepat.

Nah, bagaimana memulai bisnis startup serta apa saja yang diperlukan? Niat adalah langkah pertama yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin memulai sebuah usaha. Mempersiapkan mental wirausaha tentu saja tidak oleh diabaikan, karena sukses atau tidaknya suatu bisnis, dipengaruhi mental pelakunya. Selanjutnya menentukan ide bisnis. Untuk menggali ide bisnis kuncinya adalah fokus dengan keadaan sekitar. Ingat, startup yang berhasil berawal dari pemecahan masalah sehari-hari. Ide bisnis ini bisa dilakukan dengan menerapkan rumus 5W + 1 H; yaitu What is the problem? Why it’s happened? Where is the problem occurs? When is the problem occurs? Who is the target? How to prevent it?
Langkah berikutnya adalah membentuk tim. Tim merupakan bagian paling penting pada sebuah startup. Pilihlah orang-orang yang memiliki visi sama dengan kemampuan beragam sesuai bidang masing-masing. Memilih orang-orang yang tepat menjadi tim Anda adalah penting. Tim menjadi salah satu penilaian penting bagi venture capital ketika akan memberikan dananya pada sebuah startup.
Kemudian, membuat business plan. Business plan dapat menjembatani ide dan kenyataan serta memudahkan kita menjalankan bisnis. Business plan juga menjadi salah satu syarat untuk memperoleh investor.

Apa yang dipaparkan di atas adalah hanya sebagian dari isi buku Startup GuideBook ini. Untuk lebih detail dan jelasnya silakan Anda membacanya sendiri ya :). Yang jelas buku ini dapat menjadi panduan bagi mereka yang ingin mengenal dunia bisnis startup dan tentunya bagi Anda yang ingin memulai memasuki dunia bisnis startup. Dilengkapi juga dengan beberapa kisah inspiratif dari contoh-contoh startup sukses, seperti Uber, AirBNB, SnapChat, Gojek, Traveloka, Tokopedia dan masih banyak yang lainnya.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, cocok untuk remaja dan Anda yang tidak menyukai sesuatu yang textbook banget :). Walau isinya padat dengan materi tetapi Anda nggak bosan kok membacanya :). Selamat membaca.

Aku Bisa


Judul: Aku Bisa!
Penulis: Tim Noura Books dan Taman Gagasan Anak
Penerbit: Noura Books PT Mizan Publika
Tahun terbit: September, 2015
Tebal: 165

“Terkadang untuk mengatasi suatu masalah – sebesar apapun itu – kita hanya memerlukan dua hal: kepekaan dan kepedulian sebagai modal awal untuk menciptakan sebuah solusi.”

Kepekaan dan kepedulian akan segala hal yang terjadi disekeliling kita akan melahirkan kreativitas untuk menciptakan beragam solusi dari permasalahan yang ada. Sayangnya, kepekaan dan kepedulian masyarakat kita semakin tumpul. Pemandangan ketidakpedulian dan ketakacuhan dapat ditemui dimana-mana. Ketika kemampuan untuk peka dan peduli ini sudah tidak ada sejak dini, maka jangan heran ketika menjadi dewasa mereka akan sulit untuk berpikir kreatif karena tidak merasakan tantangan. Mereka menjadi kurang terhubung dengan dunia sekitar. Mereka kurang memiliki empati.

Pendidikan Indonesia yang cenderung melihat sisi lemah anak juga ditengarai sebagai penyebab terpenjaranya kreativitas anak. Anak-anak didikte, diawasi, lalu dihukum jika salah. Anak dianggap sebagai sosok tak berdaya. Akibatnya, anak menjadi takut salah dan merasa tidak bisa. Selain itu, materi yang diajarkan di sekolah kurang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan di masyarakat. Anak diberi pengetahuan (knowledge) hanya untuk menghadapi ujian. Anak kurang diberi kesempatan untuk menemukan solusi dan membuat keputusan. Padahal inilah yang sesungguhnya dibutuhkan tidak hanya oleh anak namun juga orang dewasa.

Gerakan Design for change yang digagas oleh Ibu Kiran Bir Sethi bertujuan agar anak dapat memupuk keberdayaannya, dan ini menjadi bekal dalam perjalanannya menjadi insan merdeka. Design for change terinspirasi dari pendekatan design thinking. Design thinking pada dasarnya adalah sebuah pola pikir yang membuat kita percaya bahwa kita dapat membuat suatu perubahan. Design thinking terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan solusi baru dan relevan sekaligus bisa menciptakan dampak positif. Design thiking juga memberikan kita keyakinan untuk melakukan proses kreativitas dan melalui tahapannya dapat mengubah tantangan yang sulit menjadi sebuah peluang.

Awalnya design thinking dirancang untuk memecahkan beragam masalah yang ada di dunia bisnis. Melalui design thinking, perusahaan dapat menciptakan produk ataupun jasa yang lebih inovatif dan tepat guna karena berawal dari proses komunikasi yang mendalam akan kebutuhan sang penggguna. Penggunaan metode design thinking tidak hanya diterapkan pada dunia usaha, namun sekarang ini sudah berkembang luas ke ranah sosial dan pendidikan. Design thinking disarankan untuk diterapkan di sekolah-sekolah untuk menyelesaikan beragam masalah, mulai dari mendesain ulang ruang siswa, membantu pendidik mengembangkan rencana pengajaran yang lebih kreatif sampai meningkatkan keterampilan siswa.

Kiran Bir Sethi kemudian mengadopsi metode design thinking yang disederhanakannya dan diturunkan menjadi sub metodologi Design for change (DFC). Tahapan design thinking direlokasi sehingga dapat dijalankan oleh anak-anak usia sekolah. Empat tahapan tersebut adalah: Feel (merasakan), Imagine (membayangkan), Do (melakukan), dan Share (membagikan) atau disingkat FIDS. Melalui keempat tahap ini anak berlatih untuk dapat memiliki kecakapan kerja, keterampilan abad 21, dan kecakapan sosial serta emosional yang dapat mempersiapkan para siswa untuk hidup bermasyarakat.

Salah satu aplikasi Design for Change berikut ini dilakukan oleh anak-anak berusia 5 tahun di Kamerun, Afrika.

Suatu hari, beberapa anak di sekolah Afrika mendatangi Ibu Guru dan menyampaikan kekhawatiran mereka karena beberapa anak di sekolah itu bermain sepak bola dengan menendangi botol plastik bekas minuman. Mereka merasa bahwa permainan itu berbahaya karena botol plastik itu dapat mencederai mata anak. Setelah mendengar keluhan tersebut, Ibu Guru mengajak mendiskusikannya. Dalam diskusi, ada anak yang mengusulkan agar sekolah membuat larangan permainan sepak bola. Ada juga yang mengusulkan larangan membawa botol plastik. Setelah mendiskusikan berbagai usulan mereka sampai pada pemahaman bahwa percuma jika sekolah membuat larangan. Larangan tak menyelesaikan masalah, kata anak-anak itu. (FEEL)

Akhirnya, disepakati bahwa permasalahan ini perlu diselesaikan pada akar masalahnya, yaitu tidak tersedianya bola. Oleh karena itu mereka mengangankan dan berpikir untuk membuat bola. (IMAGINE)

Maka, mereka meminta Ibu Guru mendampingi untuk membuat bola, karena mereka tidak tahu caranya. Ibu Guru kemudian menyarankan agar anak-anak merancang penelitian tentang bahan apa yang cocok untuk emmbuat bola. Kemudian, mereka mencari beberapa bahan bekas untuk dicoba. Dalam penelitian, tiap bola dengan berbagai bahan berbeda diuji coba. Sampai akhirnya mereka menyimpulkan bahwa bola berbahan tas plastik bekas (kita di Indonesia menyebutnya dengan tas kresek 🙂 ) paling cocok, karena dapat memantul dengan baik. Dibantu oleh orang tua, anak-anak lalu mengumpulkan tas plastik bekas di rumah dan membawanya ke sekolah. Di sana, mereka belajar bersama gurunya membuat bola. (DO)
Sekarang, mereka senang, karena anak-anak tetap dapat bermain sepak bola tanpa khawatir lagi. Setelah itu, dengan bantuan Ibu Guru, anak-anak Kamerun ini membuat video tentang kisah keberhasilannya dan diunggah ke kanal Youtube. (SHARE)

Dari pengalaman di atas, anak-anak Kamerun telah menerapkan 4 langkah design of change. Mereka telah menggagas dunia dari lingkungannya. Di sini, anak merasakan sebagai manusia terhormat yang berhak menggagas dan bisa bernalar. Anak-anak di atas telah mengasah dan mempraktikkan keterampilan abad ke-21, seperti merumuskan masalah, berpikir kreatif dan kritis, dan berkomuniaksi. Perasaan percaya diri anak sekaligus keterampilannya bernalar ini mewabahkan virus keyakinan “Aku Bisa” ke berbagai pelosok dunia.

Dahsyat sekali pendekatan design of change ini ya? Kalau berbagai negara sudah menerapkan metode ini mengapa kita tidak? Saya yakin metode ini bisa diterapkan ke dalam berbagai mata pelajaran.
Design for change adalah salah satu metode yang dapat melatih empati anak-anak kita sejak dini. Sejalan dengan cita-cita Indonesia yaitu mencetak generasi emas, melahirkan generasi cemerlang yang mampu bersaing secara global. Jalan menuju ke sana adalah dengan menerapkan pendidikan karakter kepada generasi muda. Pendidikan karakter yang juga menjadi perhatian dalam kurikulum 2013 yang mengedepankan 4C (Creative, Critical Thinking, Collaboration, dan Communication) yang semuanya ada dalam pendekatan design for change.

Kepada generasi muda lah kelak kita berharap agar dapat menjadi perintis perubahan dalam membentuk kehidupan dan peradaban bangsa yang lebih baik, generasi yang bermodalkan kecerdasan komprehensif, yakni produktif, inovatif, interaksi sosial yang baik, dan berperadaban unggul.

Startup Lessons


Judul: Startup Lessons
Penulis: Hendry E. Ramdhan
Penerbit: Penebar Plus
Tahun terbit: cetakan 1, 2016
Tebal: 139

Ini adalah buku kedua dari seri bisnis startup yang ditulis oleh Hendry E. Ramdhan. Resensi buku pertamanya bisa Anda baca di sini. Jika buku pertama menceritakan persiapan apa saja yang diperlukan oleh para pendiri startup, maka buku ini mempertanyakan bagaimana menumbuhkan bisnis yang telah kita jalankan. Seorang pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu tumbuh atau mati. Tumbuh adalah harga mati bagi startup. Tumbuh adalah cara startup untuk bertahan hidup. Nah, tumbuh seperti apa yang ideal bagi startup? Bagaimana menumbuhkan startup? Dan bagaimana seorang pelaku bisnis mengetahui bahwa startup nya telah tumbuh cukup pesat? Buku ini akan memaparkan pertanyaan-pertanyaan tadi. Penasaran? Yuk, ikuti sedikit ulasannya di bawah ini.

Startup identik dengan style anak-anak muda. Mengapa? Karena secara umum, pendiri startup adalah anak-anak muda, yang digambarkan serius tapi santai, tidak formal dan penuh inovasi. Tidak jarang inovasi yang diluncurkan oleh para startup ini adalah inovasi yang mampu ‘mengacaukan’ industri yang sudah terbentuk, atau istilahnya disruptive innovation. Startup ingin bergerak lincah, gesit, dan cepat untuk melayani pelanggan mereka melalui inovasi-inovasi bisnis yang mereka buat. Mulai lah membuat startup dengan tujuan mulia, yaitu masalah apa yang ingin Anda pecahkan melalui kehadiran startup Anda. Dengan demikian, produk Anda tidak hanya berguna untuk diri Anda sendiri namun juga memberi manfaat bagi orang lain yang menggunakannya. Ingat lah sebuah produk yang baik adalah yang memenuhi 3 persyaratan, yaitu layak, dibutuhkan dan berkelanjutan.

Untuk tumbuh, sebuah bisnis memerlukan dana. Ada beberapa pilihan bagi startup untuk mendanai bisnis mereka, antara lain bootstrapping (mendanai dirinya sendiri atau dari dana internal perusahaan) dan mendapatkan dana eksternal melalui bantuan VC (venture capital). Ada kalanya beberapa startup memilih untuk mendanai dirinya sendiri dan tidak mencari investor dari luar dengan beberapa alasan. Salah satunya, dengan keterbatasan dana yang dimiliki maka mereka akan dipaksa untuk fokus pada produk yang benar-benar memenuhi ekspektasi pelanggan. Karena dari pelanggan lah Anda baru memperoleh uang. Dan pelanggan lah yang membuat startup Anda bisa bertahan dan berkembang. Dengan bisnis yang baik, nantinya investor akan datang sendiri.

Perusahaan harus tumbuh, karena jika stagnan atau cenderung menurun maka ia akan mati karena kalah bersaing. Tumbuh dapat dilihat dari 3 hal, yaitu tumbuh dalam jumlah pengguna, tumbuh dalam jumlah pendapatan, dan tumbuh dalam jumlah profit.

Ingin tahu lebih lanjut? Nah, silakan baca bukunya sendiri ya :). Mengutip sinopsis sampul belakang buku, “Inilah buku yang mengulas detail model bisnis, budaya dan organisasi, modal, pertumbuhan, angka dan keuangan, serta berbagai kontes dan konferensi startup, baik regional maupun internasional.”

Startupreneur


Judul: Startupreneur. Menjadi Entrepreneur Startup
Penulis: Hendry E. Ramdhan
Penerbit: Penebar Plus
Tahun terbit: cetakan keempat, 2018
Tebal: 203

Sejarah digital di Indonesia sudah dimulai di era 1990-an. Pada masa itu istilah startup terdengar kembali. Startup yaitu kewirausahaan rintisan yang berbasis inovasi digital. Startup yang lahir pada masa itu seperti Kaskus dan Detik sukses mempertahankan jaringan usahanya sampai sekarang. Kewirausahaan berbasis digital ini marak kembali pada tahun 2008-2009. Ratusan startup dilahirkan bersamaan dengan tumbuhnya kaum muda yang memiliki budaya yang melekat pada internet. Akhir 2014, Tokopedia, salah satu startup yang didirikan oleh William Tanuwijaya memperoleh kucuran dana dari perusahaan pemodal ventura yang disegani di dunia dengan angka yang fantastis dan terbesar dalam sejarah startup di Indonesia, yaitu 100 juta dollar. Tidak hanya Tokopedia, beberapa startup lainnya kemudian menyusul kesuksesan Tokopedia. Para startup ini diminati oleh para pemodal ventura asing. Mereka tak segan memberikan pemodalan bagi perusahaan-perusahaan yang baru berdiri, bahkan tak jarang yang masih sekadar konsep atau bibit yang bahkan belum teruji di pasar dengan baik.

Nah, bagaimana meyakinkan para ventura memberikan permodalan pada perusahaan-perusahaan yang baru berdiri? Pelajari apa saja yang harus dipersiapkan oleh perusahaan rintisan (startup) untuk mengelola startupnya dengan mengadopsi pengajaran dari para profesor dari Stanford.

Pada buku ini, sang penulis, Hendry E. Ramdhan ingin membagikan pengalamannya yang berhasil mewakili Indonesia dalam program Stanford Go-to-Market yang diadakan oleh sekolah bisnis terkemuka di dunia, Stanford graduate School of Business (GSB) yang berlokasi dekat dengan kawasan Silicon Valley. Stanford terkenal karena banyak lulusannya yang melahirkan startup fenomenal seperti Google, Yahoo, eBay, Linkedin, dan netflix.

Ingin seperti Larry Page dan Sergey Bin (pendiri Google) atau Pierre Omidyar (pendiri eBay) dan kawan-kawannya yang sukses membesarkan startup mereka? Yuk, kita belajar apa saja yang perlu disiapkan oleh para pendiri startup agar startupnya bisa dikelola seperti startup di kawasan Silicon Valley, Apa saja perangkat yang digunakan untuk memulai, menjalankan, dan mengembangkan startup? Apa yang membuat mereka berbeda dan meraih kesuksesan?

Buku ini membahas detail bisnis startup, seperti design thinking untuk menemukan ide bisnis startup, strategi dan model bisnis, proposisi nilai pelanggan, membangun tim yang solid, belajar manajemen entrepreneurship dari Silicon Valley, mengelola manajemen keuangan startup, presentasi pitching ke investor dan pemodal ventura, strategi penentuan harga, dan riset pasar.

Pengakuan


Judul: Pengakuan
Penulis: Anton Chekhov
Penerjemah: Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun terbit: cetakan ketiga, Maret 2018
Tebal: 140

“Jangan percaya kepada Yudas-Yudas, bunglon-bunglon! Di zaman kita ini orang lebih mudah kehilangan kepercayaan daripada sarung tangan tua.”

Buku ini berisi cerita pendek Anton Chekhov yang kesemua isinya menggambarkan kondisi masyarakat Rusia menjelang abad 20. Namun, alih-alih merasa bahwa semua kisah hanya ada di masyarakat Rusia abad 20, inilah sindiran paling tajam tentang manusia yang ada di sepanjang zaman. Bagaimana tidak, praktik korupsi, penjilatan, kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain adalah kenyataan hidup yang kita temui sampai saat ini.

Chekhov menuliskan dengan gamblang, jujur, apa adanya seolah ingin merobek-robek kebanggaan yang ada pada diri manusia. Bayangkan, apa rasanya membaca kisah Ivan Kapitonich, pegawai kecil di sebuah kantor pemerintah yang memiliki penampilan mengibakan. Suatu ketika Ivan tertangkap basah berkoar-koar tentang politik oleh pimpinannya.
“Mendengar tawa saya, sekilas ia menolah kepada saya, dan gemetarlah suaranya. Ia mengenali tawa saya dan tentu juga mantel bulu saya. Sekejab itu juga penggungnya melengkung, wajahnya mengasam, suaranya padam, kedua tangannya turun ke tepi bajunya, dan lututnya membengkok. Berubah dalam sekejab mata!” (halaman 4)

Bahkan di bab awal saja, Chekhov sudah mampu membuat kita salah tingkah dengan pembuka ceritanya. Mungkin dalam hati pun kita menyerapahi, sial.

Perilaku memanipulasi orang lain dan praktik penjilatan disindir Chekhov dalam cerita Pengakuan. Pegawai kecil yang diangkat menjadi kasir dan seketika dunia sekelilingnya berubah. Dari yang tadinya begitu muram menjadi berwarna karena semua orang mendadak begitu baik hati. Chekhov menggambarkan bagaimana seorang manusia mampu menjadi penjilat sekaligus memanipulasi kelemahan manusia lainnya untuk keberuntungan dirinya sendiri.

Jahat? Iya, tapi nyatanya godaan untuk menyengsarakan orang lain demi keuntungan diri sendiri seringkali lebih besar.

Orang lebih senang hidup dalam bayang-bayang atau imajinasi yang dibentuknya sendiri. Bahayanya itu bisa memabukkan dan membuat si pelaku lupa pada tujuan hidupnya yang berakhir pada kehancuran hidupnya sendiri. Tentang ini bisa dibaca pada cermin Perrot. “Sekarang kami berdua, saya dan istri, duduk di depan cermin itu, dan semenit pun tak pernah kami berhenti memandang ke dalamnya; hidung saya berpindah ke pipi kiri, dagu berlipat dua dan bergeser ke samping, tetapi sebaliknya muka istri saya menjadi mepesona. Maka nafsu gila, nafsu liar, pun menguasai diri saya.” (halaman 46)

Masih banyak kisah menarik lainnya di kumpulan cerita pendek Anton Chekhov ini. Tak perlu merasa tersindir, sakit hati atau bahkan membela diri sekalipun. Kisah-kisah dalam buku ini memang ditulis dengan gaya satire yang memikat, jadi kita tak akan merasa tersinggung. Sebaliknya, ambillah hikmah dari pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis, yaitu: Hal yang penting adalah bahwa masyarakat perlu menyadari bahwa mereka…tidak boleh tidak harus menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berbeda... Sepanjang kehidupan itu belum terwujud, saya tidak akan jemu-jemu berkata kepada masyarakat: “Please, mengertilah bahwa kehidupan kalian busuk dan muram!.” demikian komentar Chekhov, Raja Cerpen Rusia (dikutip dari sampul belakang buku).

Oya, buku ini enak dibaca. Barangkali tak lepas dari penerjemahnya yaitu Bapak Koesalah Soebagyo Toer, kakak Pramoedya Ananta Toer.

Tentang Penerjamah
Koesalah Soebagyo Toer, lahir di Blora, Jawa Tengah, 27 Januari 1935. Setamat SMP di Blora dia meneruskan pendidikan di Taman Dewasa dan Taman Madya, Kemayoran, Jakarta, dan Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Indonesia (tidak tamat). Pada 1960-1965 dia belajar di Fakultas sejarah dan Filologi Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa, Moskwa.

Pada 1965-1967 dia menjadi dosen bahasa Rusian di Akademi Bahasa Asing Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK). Pada 1968-1978 menjadi tahanan politik Pemerintah Orde Baru.

Sekarang dia berprofesi sebagai penerjemah bahasa Inggris, Belanda, Rusia, dan Jawa.

Panduan Memilih Sekolah


Judul: Panduan Memilih Sekolah
Penulis: Bukik Setiawan-Andrie Firdaus-Imelda Hutapea
Penerbit: Buah Hati
Tahun terbit: 2018
Tebal: 153

“Cara belajar menumbuhkan memberi kemungkinan lebih besar pada anak untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang lebih luas, bukan sekedar capaian akademis.” (halaman 45)

Tak lama lagi tahun ajaran baru akan dimulai, sudah tentu inilah saat bagi para orang tua berburu memilih sekolah bagi putra-putrinya. Semua orang tua pasti menginginkan sekolah terbaik bagi putra-putri tercinta. Namun seperti apakah sekolah yang baik itu? Sekolah favorit? Sekolah dengan akreditasi A? Sekolah para bintangnya olimpiade? Nah, sebelum menjatuhkan pilihan pada sekolah yang diinginkan ada baiknya membaca buku panduan memilih sekolah yang satu ini.

Memilih sekolah untuk putra-putri kita, itu artinya sebagai orang tua kita harus memahami ciri anak zaman now, mereka yang hidup di era digital, zaman yang tentu saja berbeda dengan kita para orang tuanya. Karena itu, kita tidak bisa menyamakan keinginan kita dengan mereka. Sebagai orang tua kita harus belajar memahami tantangan yang akan dihadapi anak-anak kita di masa depan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan tersebut.

Perkembangan teknologi informasi tidak hanya mengubah cara manusia mengakses informasi, tetapi juga pola pikir dan cara hidup. Saat ini telah muncul banyak pekerjaan-pekerjaan baru, seperti youtuber, selebgram, buzzer, manajer media sosial dan banyak lagi. Pekerjaan yang bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, bukan? Bagi generasi lama barangkali memilih pekerjaan sebagai dokter atau insinyur menjadi pilihan yang aman. Namun tidak demikian bagi anak zaman now. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda tentang pekerjaan dan karir yang ingin mereka jalani. Jika generasi lama menuntut kepatuhan, kedisiplinan dan keseragaman, sebaliknya anak zaman now menuntut keterlibatan, otonomi, dan kreativitas.

Dengan melihat gambaran dunia kerja yang kelak dihadapi anak zaman now, maka orang tua mulai dapat memperkirakan harapan apa yang ingin diperoleh dari sekolah untuk putra-putri mereka serta bekal keterampilan apa yang harus dimiliki anak-anak abad 21 ini.

Lahirnya kurikulum 2013 kemudian memunculkan kerangka belajar abad 21 yang mengedepankan pada keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity atau 4C). Inilah keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak zaman now untuk berkompetisi kelak.

Maka, cara belajar anak-anak abad 21 tentu saja berbeda dengan generasi sebelumnya. Menghapal dan mengerjakan soal semustinya mulai dikurangi dan digantikan dengan cara belajar baru yang memberikan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar. Untuk memahami sesuatu anak dapat diajarkan untuk mengalami, menalar, dan menyimpulkan dari pengalamannya. Cara belajar di atas adalah cara belajar menumbuhkan.

Nah, setelah Anda tahu cara belajar anak zaman now, masalah berikutnya adalah bagaimana memahami sekolah untuk anak zaman now?
Buku ini membahas elemen-elemen penting yang harus dimiliki sekolah agar dapat mengimplementasikan sebagai sekolah anak zaman now. Apa saja? Pertama, artefak. Artefak adalah tulisan visi misi yang dipajang di dinding sekolah, ornamen yang dipasang di sekolah dan segala hal yang kasat mata dan bisa diamati oleh pihak internal maupun eksternal sekolah. Kedua adalah praktik, yaitu perilaku anggota sekolah yang kasat mata tetapi kesehariannya bisa diamati oleh pihak internal dan eksternal sekolah pada momen tertentu. Ketiga, prinsip nilai. Elemen ketiga ini tidak dapat diamati dan cukup sulit namun bisa disimpulkan dengan mengamati dua elemen sebelumnya.

Buku ini memberikan paparan yang sangat detil dan lengkap mengenai panduan memilih sekolah dilengkapi dengan lembar observasi dan pertanyaan yang dapat direnungkan dan dikerjakan oleh Anda sebagai orang tua untuk memberi gambaran jelas sekolah yang tepat untuk putra-putri Anda. Ada juga panduan observasi dan wawancara yang memudahkan orang tua menilai dan memilih sekolah untuk anak zaman now. Sebagai bonus diberikan juga panduan memilih pendidikan anak usia dini.

Nah, bagi para orang tua yang masih kebingungan memilih sekolah untuk putra-putrinya, silakan merapat dan tidak ada salahnya membaca buku ini terlebih dahulu untuk membantu Anda memperoleh wawasan tentang ragam cara belajar dan sekolah serta memahami karakteristik dan tantangan yang akan dihadapi anak zaman now.

Selamat memilih sekolah, dan jangan sampai salah pilih ya 🙂

Ulasan pribadi 🙂
Sebagai pendidik, saya setuju sekali bahwa kegemaran untuk belajar dan cinta kepada ilmu pengetahuan itu harus ditumbuhkan. Dengan demikian anak tidak lagi merasakan belajar sebagai sesuatu yang berat dan membosankan. Melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang mengasyikkan dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bereksplorasi, dan berkreasi maka keterampilan-keterampilan abad 21 yang dibutuhkan anak-anak ini akan tumbuh dengan sendirinya.

Oya, untuk Pak Bukik terima kasih atas kesempatannya untuk saya me-review buku ini. Maaf sangat kalau saya agak lama menulis review ini. Semoga bermanfaat.

Gardens of Water


Judul: Gardens of Water
Penulis: Alan Drew
Penerjemah: Arum Darmawan
Penyunting: Siti Nur Andini
Penerbit: Literati
Tahun terbit: 2009
Tebal: 643

Gardens of Water berkisah tentang kehidupan dua keluarga yang tinggal di pinggiran daerah Turki. Sinan beserta Nulifer, istri dan kedua anaknya, Ismail dan Irem. Mereka adalah keluarga muslim Kurdi yang taat. Sarah Hanim, Marcus, dan Dylan, keluarga Amerika yang tinggal tepat di lantai atas rumah susun keluarga Sinan. Secara diam-diam, Irem dan Dylan, dua remaja dengan latarbelakang budaya dan keyakinan yang berbeda ini menjalin komunikasi melalui jendela kamar.

Suatu ketika Sinan berniat mengkhitankan Ismail. Sinan dan keluarganya mempersiapkan perayaan yang mewah untuk mengantarkan anak laki-laki mereka menjadi dewasa. Irem, anak gadis Sinan merasakan kecemburuan yang besar melihat perlakuan berbeda orangtuanya. Tidak ada pesta meriah, uang dan pakaian mewah untuk Irem ketika suatu hari ia menemukan noda darah di seprai sebagai tanda bahwa dirinya sudah menjadi wanita. Irem bukan tidak menyayangi adiknya, ia hanya cemburu melihat besarnya tumpahan kasih sayang orangtuanya kepada Ismail.

Ibu Sinan bermaksud mengundang pasangan Amerika ke pesta khitan Ismail, namun Sinan merasa sedikit keberatan. Sinan tidak menyukai orang Amerika. Kehidupan masa kecilnya membuat gambaran buruk tentang Amerika. Ia teringat kata-kata ayahnya, “Orang-orang Amerika membiarkan orang-orang Turki melakukan ini pada kita, ” (halaman 59). Ayahnya terbunuh pada suatu malam ketika sebuah mobil jip paramiliter tiba dan ayah Sinan bersama para lelaki lain memekikkan “Hidup Kurdistan”.

Malam setelah pesta khitan berakhir terjadi sebuah peristiwa gempa besar yang menerjang barat laut Turki. Sinan kehilangan Ahmet, adik ipar yang telah banyak menolong Sinan dan keluarganya. Ismail ditemukan setelah 3 hari terkurung dalam reruntuhan dibalik pelukan Sarah Hanim yang tewas dalam peristiwa tersebut. Sinan merasa berhutang budi kepada keluarga Amerika itu.

Setelah gempa, Sinan dan keluarganya tinggal di tenda darurat di atas bukit. Di sana tinggal juga keluarga lain. Fasilitas yang minim membuat kondisi kesehatan para pengungsi rentan terhadap penyakit. Suatu hari Marcus Bey datang menawarkan Sinan untuk pindah ke kamp. Walau awalnya Sinan menolak tapi kemudian dia mengikuti saran Marcus demi keluarganya. Di sini hubungan Irem dan Dylan semakin dekat. Irem yang kesepian dan merasa tidak disayangi orangtuanya menemukan kebahagiaan bersama Dylan.

Lanjutan kisah kasih Irem dan Dylan silakan dibaca sendiri ya :). Alih-alih kisah perihal cinta romantis, buku ini sebenarnya berkisah banyak tentang kasih sayang orangtua dan anak, ketegangan antara menghormati tradisi dan keinginan memeluk kebebasan pribadi, konflik antara kebudayaan dan keyakinan, penyesalan orangtua dan gairah anak muda.

Ada suatu dialog yang saya suka, halaman 514.
“Masalahnya denganmu, Sinan, adalah kau hidup di dunia yang tidak ada lagi. Kau masih berpikir wanita tidak bisa berpikir sendiri. Kau masih percaya ada batasan yang tidak boleh diseberangi orang–orang Amerika harus tetap di Amerika, orang Inggris di Inggris, orang Kurdi di Kurdistan, jika ada tempat yang seperti itu. Dunia tidak seperti itu lagi dan kau tidak bisa melarikan diri dari dunia. ”

Tidak bisa dinafikan bahwa banyak manusia yang masih hidup di masa ‘lampau’ dan tidak menyadari bahwa dunia berputar dan terus berubah. Seperti manusia, dunia pun berubah. Bukan berarti mengikuti arus, namun kita harus mampu beradaptasi agar mampu mengantisipasi dan membentuk masa depan dunia yang lebih baik. Mengingkari kenyataan bahwa dunia berubah akan menimbulkan goncangan psikologis. Alvin Tofler pernah mengulas mengenai ini dalam bukunya Future Shock.

Alan Drew juga mengungkapkan dengan apik pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan, seperti yang terjadi pada dialog Ismail dan sang Ayah di halaman 413.

“Mengapa Tuhan memberimu kaki itu?”, Ismail mempertanyakan kaki ayahnya yang cacat.

Sinan: “Tak ada manusia yang sempurna, Ismail. Ada yang punya paru-paru yang lemah, ada yang punya mata yang lemah, dan ada yang punya jantung yang lemah. Baba punya kaki ini. Kalau kita sempurna, kita tidak akan membutuhkan Tuhan. Dia mengerti itu sehingga saat Dia menciptakan kita, Dia membuat kita tak sempurna agar kita tetap dekat dengan-Nya.”

Indah, bukan? Buku ini membuat kita belajar menghargai perbedaan, belajar menjadi bijak melalui kisah Sinan dan Marcus.

Teach Like Finland


Judul: Teach Like Finland
Penulis: Timothy D. Walker
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2017
Tebal: 197

Siapa yang tak kenal Finlandia? Negeri ini menjadi rujukan bagi sebuah sistim pendidikan terbaik di dunia. Pada tahun 2001 Finlandia mengejutkan dunia dengan pencapaian siswanya yang berhasil mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan pertama PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2001. Sejak itu banyak negara berkiblat kepada sistem pendidikan di negeri Nordik ini. Tak terkecuali Indonesia. Walau tentu saja jalan panjang masih harus ditempuh oleh bangsa yang budaya literasinya masih sangat rendah ini.

Nah, penasaran seperti apa sih sistem pendidikan di Finlandia? Buku ditulis oleh Timothy D. Walker, seorang guru berkebangsaan Amerika yang tinggal di Finlandia. Walker sebelumnya adalah guru Amerika. Berbekal pengalamannya menjadi guru di Amerika, ia menerapkan cara mengajar Amerika nya di awal tahun ia mengajar di Finlandia. Ternyata, Walker mengalami banyak kejutan yang tak ia bayangkan di sekolah Finlandia nya. Proses belajar dan interaksi Walker bersama guru dan murid-murid kecilnya (setingkat sekolah dasar) memberikan banyak pengalaman berharga, yang membuat ia mencatat rahasia-rahasia di balik kesuksesan sekolah-sekolah Finlandia. Tulisan dan artikel Walker mengenai rahasia-rahasia ini dan cara mengimplementasikan model pembelajaran sekolah-sekolah di Finlandia kemudian menuai tanggapan antusias dari para pembacanya di Atlantic.

Ada 33 strategi sederhana yang dapat dipraktikkan di ruang kelas. Umumnya strategi yang ada di buku ini memang diterapkan di usia sekolah dasar. Namun beberapa dapat juga diaplikasikan untuk siswa sekolah menengah dengan beberapa modifikasi dan perkembangan. Agar anak-anak tetap fokus misalnya, sekolah-sekolah Finlandia menerapkan istirahat berkali-kali yang bertujuan untuk menyegarkan otak mereka. Mengistirahatkan otak ini bisa dilakukan dengan beragam cara sederhana, yaitu Guru memberikan blok waktu pilihan dalam satu hari, yang di dalamnya ada berbagai alternatif istirahat yang dapat mereka pilih seperti membaca bebas selama 10 menit, menulis bebas, atau permainan matematika yang menyenangkan. Lainnya adalah belajar sambil bergerak. Alih-alih duduk manis maka anak-anak di sekolah Finlandia boleh menyelesaikan tugas sambil berdiri atau mengganti kursi konvensional dengan bola senam sehingga murid dapat belajar dan bergerak dalam waktu yang bersamaan. Tentu masih banyak strategi menarik lainnya. Silakan dibaca sendiri ya 🙂

Buku ini memuat strategi dan anjuran yang sangat mudah dipraktikkan dari sistem pendidikan kelas dunia, sangat tepat dibaca oleh para pengajar dan praktisi pendidikan.

Ulasan
Satu hal yang saya pelajari dari keseluruhan buku ini adalah adanya kolaborasi antara Guru, siswa, orang tua, dan masyarakat dari berbagai bidang keilmuan. Guru yang bagus tidak bisa bekerja sendiri tanpa peran serta keaktifan siswa-siswa mereka. Sebagai pengajar saya melihat ada banyak rekan-rekan Guru yang memiliki ide-ide menarik dan menyenangkan di dalam proses KBM mereka bersama siswa. Untuk membuat sebuah perubahan yang positif maka diperlukan kesungguhan dari Guru dan siswa untuk bersama-sama belajar dan mengubah diri menjadi lebih baik. Ketika berdialog bersama murid sering saya perhatikan siswa-siswa saya membanding-bandingkan sistim pendidikan di Indonesia dengan di luar, yang seperti ini, seperti itu, gurunya begini dan seterusnya. Biasanya saya akan diam dan mendengarkan, sebelum bagian saya berbicara :).

Singkatnya, mengadopsi sebuah sistem pendidikan dari suatu tempat tidak semudah seperti yang tertuang dalam banyak tulisan. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, budaya, kebiasaan, dan lain-lain. Berdasarkan hasil survei dari studi Most Littered Nation In the World 2016, minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara. Miris memang. Menurut saya pribadi sih, kurangnya minat baca ini lah yang harus diperbaiki dahulu, bukan hanya dari sekolah akan tetapi yang lebih utama dari rumah. Orang tua yang gemar membaca akan menularkan kegemarannya kepada anak. Anak yang gemar membaca sejak kecil biasanya juga mencintai ilmu pengetahuan. Sulitnya, tidak banyak orang tua di Indonesia yang suka membaca. Bagaimana bisa mengajak anak mencintai buku kalau orang tuanya sendiri tidak suka membaca? Nah, itu PR untuk kita semua jika ingin sistem pendidikan negeri ini menjadi baik.

Buku yang Menginspirasi di Tahun 2017

Seperti juga postingan tahun sebelumnya di sini, inilah daftar buku bacaan saya sepanjang tahun 2017. Beberapa buku seperti juga tahun 2016 ada yang belum sempat dibuat review-nya. Entah sok sibuk atau kalau mau jujur sih memang malas bikin tulisannya. Kalau hati sumpek bin kesal bin capek pengin rasanya menyepi dan tenggelam saja di lautan buku. Menyesap aroma buku, menatap ribuan aksara dan berpetualang ke dalam dunia imajiner, dunia buku yang tak pernah membosankan, sahabat yang setia dan tak pernah mengecewakan.

Berikut ini adalah daftar buku bacaan saya sepanjang tahun 2017.
1. Time is More Valuable Than Money. Kategori buku: Non fiksi. 145 halaman.
2. Drupadi. Kategori buku: Novel. 149 halaman.
3. 5W1H. Kategori buku: Non fiksi. 131 halaman.
4. Salju. Kategori buku: Novel. 665 halaman.
5. Mari Bicara Iman. Kategori buku: Religi. 237 halaman.
6. Siap Menjadi StudentPreneur. Kategori buku: Non fiksi. 173 halaman.
7. Kudeta Mekkah (Sejarah yang Tak Terkuak). Kategori buku: Non fiksi, Religi. 336 halaman.
8. Lingkar Tanah Lingkar Air. Kategori buku: Novel. 165 halaman.
9. The Best Chicken Soup 2: Persembahan Nabi dan Keluarganya. Kategori buku: Non fiksi. 251 halaman.
10. Strawberry Generation. Kategori buku: Non fiksi. 279 halaman.

Buku lainnya lebih banyak buku-buku teks dan buku penunjang untuk mengajar. Walaupun awalnya saya tak menyukai buku-buku bisnis, namun belakangan buku-buku ini yang saya konsumsi. Ternyata menarik juga :).
Kalau di tahun 2016 jumlah buku yang saya baca berhasil dibuat ulasannya sebanyak 8 buah, di tahun 2017 ini menjadi 10 buku. Nambah 2 :). Alhamdulillah. naik sedikit tetapi mudah-mudahan di tahun 2018 ini buku yang berhasil dibaca dan dibuat ulasannya bisa lebih meningkat lagi ya. Amin yra.