Canting

download
Judul: Canting
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 406

Canting adalah alat untuk mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis. Menurut sejarah, seni membatik berawal dari tanah Jawa. Kegiatan membatik memerlukan keterampilan yang hanya dimiliki oleh kaum perempuan pada masa itu. Itulah sebabnya jaman dahulu kegiatan membatik adalah pekerjaan ekslusif bagi kaum perempuan. Namun sejak ditemukannya batik cap maka pekerjaan ini tidak hanya memberi ruang bagi kaum lelaki tetapi juga menggeser keberadaan batik tulis.

Arswendo, sang penulis dengan jeli melihat fenomena ini. Ia menuliskan kisah roman sebuah keluarga dengan menggali unsur budaya Jawa melalui canting.

Raden Ngabehi Sestrokusuma atau Pak Bei adalah seorang bangsawan Jawa pemilik pabrik batik yang diberi cap Canting. Istrinya adalah seorang bekas buruh batik. Bu Bei adalah gambaran wanita Jawa. Kebahagiannya adalah memberikan bekti yang tulus kepada suami.

Tuginem, nama asli Bu Bei, sejak ia kecil ia telah tinggal di rumah Ngabean bersama orang tuanya. Ia juga bisa membatik. Ketika Raden Ngabehi Sestrokusumo, putra sulung Ngabean meminangnya, ia masih berumur empat belas tahun. Priyayi. Ia akan menjadi seorang priyayi, yang akan mengangkat derajat orang tua, leluhur serta seluruh desa tempatnya berasal. Orang memanggilnya dengan Bu Bei, dan kelak ia akan bisa memilihkan nama yang bagus untuk anak-anaknya.

Tahun pertama lahirlah Wahyu, putra sulung kecintaan Bu Bei. Disusul kemudian dengan Lintang, Bayu, dan Ismaya. Pada masa itu Pak Bei dikabarkan memiliki selir. Dua tahun kemudian lahir Wening. Kelahiran Wening membuat sebuah perubahan, Pak Bei mulai kerasan di rumah. Sebelas tahun Wening menjadi bintang keluarga sebelum kemudian adiknya Subandini lahir. Kelahiran Subandini alias Ni memunculkan bermacam pertanyaan yang berkelindan di benak Pak Bei. Ni tumbuh menjadi gadis yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Jiwanya mewarisi roh Pak Bei seutuhya, itulah yang diam-diam kemudian membuat Pak Bei sangat menyayangi putri bungsunya ini.

Keputusan Ni untuk mengurusi usaha pembatikan milik keluarga alih-alih mengikuti suaminya pindah ke Batam merupakan pukulan bagi sang Ibu. Ni ingin mengangkat keberadaan pabrik batik Canting yang perlahan tergeser oleh kemunculan pabrik batik printing. Ni ingin berbuat sesuatu untuk mbok Tuwuh, Pak Jimin, dan buruh-buruh batik lainnya yang telah bekerja keras selama ini sehingga ia dan keluarganya hidup terhormat. Sejak kecil Ni dekat dengan para buruh itu. Bagi Ni, mereka tidak hanya sekedar bekerja tetapi mereka mengabdi. Ni merasa bersalah kalau ia tidak peka, kalau ia mendiamkan saja.

Ni tak menyadari bahwa keputusannya untuk mengurusi batik adalah sesuatu hal yang sangat ditakuti oleh sang Ibu. Malam itu Bu Bei dilarikan ke rumah sakit karena tensi dan gula darahnya yang tinggi. Sepeninggal Bu Bei, Ni tetap pada niatnya semula, mengurusi pabrik batik agar para buruh memiliki pekerjaan yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaan bagi mereka.

Namun membangkitkan usaha batik tulis tidaklah semudah yang ia bayangkan, terutama menghadapi gempuran pasar dari batik printing yang harganya lebih murah. Ni nyaris putus asa, ketika akhirnya ia menyadari bahwa untuk bisa bertahan maka perusahaan batik miliknya harus melebur diri. Memuji keagungan masa lalu ataupun memusuhi pesaing bukanlah cara untuk bisa bertahan hidup.

Melalui para buruh batik Ni belajar tentang nilai-nilai hidup. Pengabdian, tidak menuntut pengakuan, dan kepasrahan adalah sikap mental yang diperlukan untuk tetap bisa menghadapi dunia dengan segala perubahannya.

“Dalam pasrah tak ada keterpaksaan. Dalam pasrah tidak ada penyalahan kepada lingkungan, pada orang lain, juga pada diri sendiri.” (halaman 283)

Sayap-sayap Sakinah

22735782
Judul: Sayap-sayap Sakinah
Penulis: Afifah Afra & Riawani Elyta
Penerbit: Indiva
Tebal: 239

Bila cinta mendatangimu, ikuti dia walaupun jalannya sulit dan terjal
Dan ketika sayapnya mengembang mengundangmu
Walaupun pedang yang tersembunyi di antara ujung sayapnya dapat melukaimu
Ketika dia berkata padamu untuk mempercayainya
walaupun suaranya berserak dalam mimpimu bagaikan
angin utara yang menghembus di kebun
(Kahlil Gibran)

Mungkin sekali waktu kita pernah bertanya-tanya, siapakah jodoh kita? Dimanakah ia berada saat ini dan bagaimanakah kelak kami dipertemukan?

Jodoh adalah rahasia Allah yang tak satu pun manusia bisa mengetahuinya. Sebagai manusia kita hanya bisa berdoa dan berikhtiar agar dipertemukan dengan seseorang yang menjadi pasangan hidup sejati kita.

Nah, bagaimana menemukan jodoh kita? Tak ada satu pun yang tahu. Barangkali doa dan upaya yang kita lakukan akan menuntun jalan menuju kepada jodoh yang Tuhan pilihkan kepada kita.

Ada banyak kisah perjodohan di muka bumi ini. Setiap manusia memiliki kisah cinta dan perjodohannya sendiri. Ada yang mudah dan sederhana, pun ada yang berliku-liku untuk sampai kepada jodohnya. Bahkan, jodoh dan cinta pun ternyata tidak selalu berpasangan. Kisah Abu Bakar dan Zainab di buku ini barangkali bisa menggambarkan bahwa cinta tidak menjadi kepastian seseorang berjodoh dengan yang dicintainya.

Ada orang yang beruntung menikah dengan jodohnya. Ada yang menikah lebih dari satu kali untuk sampai kepada jodohnya. “Jodoh memang misteri, karena hanya Allah yang Mahatahu siapa yang berhak berada di samping kita saat duduk di pelaminan. Allah juga yang Mahatahu, siapa yang berstatus sebagai pasangan sah kita saat kelak Allah mencabut nyawa kita.” (halaman 36)

Yang kita, manusia, bisa lakukan adalah membuat rencana dan mempersiapkan segalanya dengan baik, selebihnya Allah lah yang menentukan.

Dalam mencari jodoh tentu tak salah jika kita mengharapkan jodoh terbaik. Untuk mendapatkan jodoh terbaik nyatanya harus dimulai dari diri kita sendiri dengan cara memperbaiki diri kita terlebih dahulu.

Perjalanan berikutnya dalam hidup manusia setelah menemukan jodoh pilihannya adalah melangkah ke jenjang pernikahan. Ini lah babak baru kehidupan anak manusia dimulai. Indah, menyenangkan barangkali di awalnya, berikutnya adalah jalan panjang yang terkadang terjal dan penuh badai. Bagaimanakah kita melaluinya?

Afifah Afra penulis buku ini bersama Riawani Elyta menuliskan berbagai hal yang perlu Anda persiapkan sejak awal dalam rangka menuju cinta kepada jodoh kita kelak sampai kepada pernikahan serta pernak-pernik di dalam kehidupan pernikahan itu sendiri. Dikemas dengan bahasa yang ringan, renyah dan diselingi candaan menjadikan buku ini mudah diserap.

Buku yang saya rekomendasikan buat Anda yang sedang atau ingin mencari bacaan bermutu mengenai seluk beluk perjodohan, pernikahan dan kiat-kiat membangun rumah tangga yang penuh barakah dengan tulisan yang enak dibaca tanpa kesan menggurui.

Terakhir, terima kasih mbak Riawani atas hadiah bukunya. Buku yang bagus sekali :)

Abu Dzar, Penentang Kezaliman

download
Judul: Abu Dzar, Penentang Kezaliman
Penyunting naskah: Salman Faridi
Penerbit: DAR! Mizan
Tebal: 153
Jenis: Seri Komik Islam

Di suatu sore, Abu Dzar bertemu dengan sepupunya Unais yang baru saja pulang dari Mekkah untuk mencari berita mengenai seorang pria yang mengaku sebagai utusan Allah.
Unais: Demi pemilik bintang di langit. Ia mengajarkan sesuatu yang mirip dengan apa yang kau perjuangkan selama ini.”

Abu Dzar menjadi semakin penasaran. Segera ia memutuskan berangkat ke Mekkah. Perjalanan menuju Mekkah tidaklah mudah, sepanjang perjalanan Abu Dzar diterpa oleh panasnya siang dan debu pasir. Hingga sampailah ia di Mekkah. Abu Dzar tahu bahwa ia harus berhati-hati karena hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad saw.

Suatu hari Abu Dzar bertemu dengan Ali Bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad Saw). Ali menanyakan perihal keperluan Abu Dzar demi diperhatikannya Abu Dzar adalah seorang musafir. Abu Dzar lalu menceritakan tujuannya. Ali merasa gembira dan menuntun Abu Dzar menemui Nabi Muhammad saw. Abu Dzar lalu meminta Nabi membacakan ayat quran yang mulia. Nabi membacakan dan pada saat itu juga Abu Dzar menyatakan masuk islam. Abu Dzar mengucapkan dua kalimah syahadat dengan dituntun oleh Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad berpesan kepadanya, “Pulanglah engkau kepada kaummu. Dan beritakan kepada mereka sehingga perintahku datang lagi kepadamu.”

Keesokan harinya, Abu Dzar yang pemberani memproklamirkan keislamannya di hadapan Ka’bah, dimana saat itu banyak orang, utamanya kaum Quraisy berkumpul untuk menyembah Latta dan Uzza. Mendengar hal itu, mereka marah besar. Akibatnya Abu Dzar dipukuli. Pertolongan datang ketika Al Abbas bin Abdul Mutthalib, tokoh Bani Hasyim paman Rasulullah yang disegani kamu Quraisy berteriak kepada masyarakat, “Dia seorang suku Ghifari. Kalian tahu sendiri kan suku ghifari letaknya mesti kalian lalui bila hendak ke Syams.” Sontak mereka berhenti memukuli Abu Dzar.

Setelah itu Abu Dzar pulang ke kampung halamannya. Di sana ia berdakwa dan berhasil mengajak keluarga dan saudara-saudaranyanya masuk islam diikuti oleh separuhnya kaum Bani Ghifar.

Setelah masuknya islam ke seluruh kampung Bani Ghifar, Abu Dzar hijrah ke Madinah. Di sana ia berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah. Ia selalu mendampingi dan mengawal Nabi.

Setelah wafatnya Rasululah saw, Abu Dzar menyendiri. Abu Dzar adalah seorang penyayang terhadap kaum miskin dan lemah. Ia selalu menyuarakan kebenaran walau pahit. Maka ketika sepeninggal Nabi dan penguasa baru banyak melupakan ajaran Nabi dengan hidup berfoya-foya dan menelantarkan orang miskin, Abu Dzar tidak berdiam diri. Ia berdakwah.

Para pemimpin merasa khawatir oleh dakwah Abu Dzar yang dianggap dapat menghasut rakyat kecil. Beberapa kali Abu Dzar diusir dari kota yang ia diami dan berakhir di pengungsian. Abu Dzar meninggal seorang diri, tanpa ditemani oleh sahabat-sahabatnya, seperti sabda Nabi Muhammad SAW mengenai Abu Dzar.
“Ia berjalan kaki seoranng diri. Kelak akan meninggal seorang diri. Dan akan dibangkitkan seorang diri pula.”

Abu Dzar, sahabat Nabi, ia menghembuskan nafas terakhirnya di tengah panasnya gurun pasir, di Rabadzah. Jenasah Abu Dzar dishalati dan dikubur oleh rombongan kafilah yang melewati jalan itu.

Abu Dzar mengajarkan kepada kita tentang konsistensi pada sebuah keyakinan untuk menyayangi dan mencintai kaum miskin dan lemah, berbuat baik terhadap sesama dan tidak ikut hanyut dalam kezaliman. Kisah yang mengharu biru sekaligus menerbitkan kebahagiaan melihat orang-orang seperti Abu Dzar. Kesendirian dan terkucil adalah harga yang harus dibayar oleh Abu Dzar di dunia, namun baginya nikmat akhirat lebih dari segalanya.

Vader’s little son

download
Judul: Darth Vader and Son
Penulis: Jeffrey Brown
Penerbit: Chronicle Books, San Fransisco
Tebal: –
Jenis: novel grafis (komik)

Ini adalah review lanjutan dari novel grafis pertama di sini. Bagaimana Darth Vader menangani Luke, anak laki-lakinya? Sama seperti perlakuan Ayah terhadap anak laki-laki mereka pada umumnya lah :)

Luke belajar dengan cepat, sulit diatur dan penuh rasa ingin tahu membuat si Ayah seringkali tak berkutik. Walau kadang kewalahan menghadapi perilaku anak laki-lakinya namun Darth Vader memiliki kesabaran tanpa batas untuk putra kesayangannya. Dan sebagai Ayah, terbit juga rasa bangganya ketika suatu hari Luke memperoleh medali di sekolahnya :).

Gambar-gambar di buku ini menceritakan kisah sehari-hari yang umum ditemui dalam sebuah hubungan keluarga. Sisi romantisme hubungan Ayah dan anak terlukis dalam gambar ketika Luke tertidur di pelukan tangan si Ayah (wow, so sweet).Atau cerita ketika mereka bermain hide and seek dan tertawa bersama. Pokoknya, gambar-gambar di dalam buku ini sangat menyentuh hati. Dan di halaman terakhir novel grafis, Jeffrey Brown menggambarkan Luke kecil yang sedang memeluk kaki ayahnya sambil berucap, “I love you, Dad” dan sang Ayah yang berdiri canggung tanpa bisa menutupi perasaannya sendiri. :)

Hatta. Aku Datang karena Sejarah

18942841
Judul: Hatta. Aku Datang karena Sejarah
Penulis: Sergius Sutanto
Penerbit: Qanita
Tebal: 354

“Sekali lagi, para pejabat di Istana harus kembali kepada buku.”

Hatta mencintai buku seperti penari gandrung irama lagu. Buku adalah kawan setianya. Buku-buku itu telah mengajarkan banyak kebenaran. Kebenaran yang terasa menyakitkan bagi mereka yang bergumul dengan penyelewengan dan kesalahan, tapi menyegarkan bagi yang tahan penderitaan. (halaman 24)

Buku-buku itu pula yang menjadi alasan Hatta meninggalkan kemegahan Istana Merdeka. Bagi Hatta, kejujuran adalah mempelai hati nurani. Ia menolak segala bentuk penyelewengan, penyimpangan, keserakahan yang bernama: korupsi.

Hatta teringat pada pesan sang kakek, Ayah Gaek Arsyad.
“Harta dunia ini tidak ada yang kekal, yang kekal hanya harta, ilmu dan pengetahuan serta ibadah. Segala yang terjadi di dunia ini sudah ditakdirkan Allah. Sudah ada suratannya lebih dahulu.” (halaman 20)

Sang kakek menggantikan peran Ayah sejak Ayah kandung Hatta meninggal. Ketertiban dan kedispilinan Hatta adalah teladan sang kakek yang sehari-hari menangani usaha gerobak pos dengan kuda-kudanya. Kisah-kisah religi dan nasihat baik dari Ayah Gaek terserap baik oleh Hatta.

“Kita wajib belajar dan bersekolah agar pandai dan berbudi.” (halaman 28)

Hatta melanjutkan sekolahnya di Jakarta kemudian ke Belanda. Ia pun aktif berorganisasi. Hatta bergabung dengan Perhimpunan Indonesia, organisasi yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Karena aktivitasnya ini, Hatta beberapa kali dipenjara sebelum akhirnya dibuang ke Digul dan dipindahkan ke Banda Neira bersama tahanan politik lainnya.

Dalam pergerakan itulah Hatta bertemu dengan Syahrir, kelak bersama Syahrir Hatta membentuk PNI. PNI adalah organisasi yang bertujuan untuk menyusun kekuatan baru lewat pikiran dan mental anggotanya sampai saatnya lahir sebagai satu kekuatan penuh untuk kemerdekaan.

Syahri dan Hatta memercayai bahwa pendidikan adalah hal penting dan menjadi masalah serius di Tanah Air. Oleh karena itu visi Hatta dan Syahrir adalah membentuk sebuah gerakan politik yang lebih mengedepankan pendidikan bagi para anggotanya. Menurut Hatta proses pembelajaran mampu membukakan mata hati.

Di sana pula Hatta bertemu dengan Soekarno. Soekarno yang ketika itu juga baru mendirikan Partindo, berniat menggabungkan Partindo dengan PNI Hatta-Syahrir. Namun, Hatta merasa bahwa mereka berbeda visi. Partindo-nya Soekarno lebih mengedepankan mobilisasi massa, sedangkan PNI versi Hatta-Sjahrir ingin mendidik kader.

“Ya, aku dan Soekarno memang sudah berbeda jalan sejak awal.” (halaman 167)

Partindo Soekarno dan PNI Hatta-Syahrir adalah awal perbedaan yang muncul diantara Soekarno-Hatta. Namun demikian kawan-kawan seperjuangan adalah sahabat sepanjang hayat. Pun ketika pada akhirnya mereka berselisih jalan, yang menyebabkan Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil presiden. Ikatan yang lekat karena rasa pertemanan tidaklah putus begitu saja, dan itu dibuktikan Hatta dengan datang menjenguk di saat-saat terakhir Soekarno.

Didikan agama dan teladan baik dari Ayah Gaek, Ibu dan paman serta bibinya selalu mengiringi setiap langkah hidup Hatta, tak lupa ribuan buku yang menjadi kawan setianya, kawan sepenanggungan yang menyimpan banyak rahasia dan cerita.

Kebanyakan buku biografi berkesan serius dan berat, sehingga seringkali membuat orang mengurungkan niat untuk membacanya. Namun melalui sebuah novel tentang Bung Hatta ini, Sergius ingin menampilkan kisah biografi yang dikemas dengan cara berbeda. Walaupun berbentuk novel, data tentang riwayat dan sejarah perjuangan Bung Hatta tidak diubah. Untuk Anda yang ingin mengetahui Bung Hatta dan sejarah perjuangannya tanpa harus mengerutkan kening, buku ini layak dibaca.

Vincent

GetImage
Judul: Vincent
Penulis: Barbara Stok
Penerbit: Self Made Hero
Tebal: 141

Vincent adalah buku komik grafis yang bercerita tentang pelukis ternama, Vincent Van Gogh. Cerita bermula ketika Vincent berpamitan kepada sang adik untuk kepergiannya ke Arles. Arles adalah kota kecil yang dipilih Vincent untuk menekuni karirnya sebagai pelukis. Sementara bagi Theo, Arles adalah kota yang diharapkan bisa mengembalikan kesehatan untuk Vincent. Udara bersih, suasana nyaman dan pemandangan indah adalah tempat yang tepat untuk kedua tujuan tersebut sekaligus.

Biasan cahaya matahari pada ladang-ladang gandum, bunga-bunga yang bermekaran serta geliat para pekerja adalah pemandangan indah tak terlukiskan di Arles. Vincent ingin berbagi keindahan itu kepada adik dan semua orang melalui karyanya.

Kesukaan Vincent adalah menuangkan warna-warna secara berlebihan. Cara itu menurutnya untuk menangkap jiwa dari sebuah objek lukisan. Bagi Vincent sebuah lukisan yang baik adalah yang memiliki jiwa. Setiap guratan dan tarikan garis pada setiap lukisan karya Vincent adalah gambaran emosi yang ia rasakan. Begitu hidup.

Inilah buku yang menceritakan tidak saja mengenai proses kreatif sebuah karya seni yang mengagumkan namun juga kesepian dan keterasingan yang dirasakan oleh si pelukis. Dibalik kesuksesan -yang tidak pernah dirasakan si pelukis selama ia hidup-, Vincent, adalah sosok sang adik tercinta, Theo, yang tidak pernah putus mendukungnya. Theo memercayai bahwa suatu saat dunia akan mengerti dan memahami keindahan karya-karya sang kakak.

“How rich art is; if one can only remember what one has seen, one is never without food for thought or truly lonely, never alone.”

Sampar

IMG_0010
Judul: Sampar
Penulis: Albert Camus
Alih Bahasa: NH.Dini
Penerbit: Pustaka Obor
Tebal: 386

“Harapan yang menghalangi manusia pasrah kepada kematian dan yang hanya berupa kegigihan buat hidup.” (halaman 323)

Kisah bermula ketika kota dipenuhi oleh timbunan tikus-tikus mati. Ribuan tikus keluar dari tempat gelap, berjalan terhuyung-huyung dan sempoyongan di tempat terang sebelum akhirnya mati. Tikus-tikus itu telah membawa bakteri mematikan yang bisa menularkan manusia.

Kota dipenuhi oleh orang sekarat. Setiap hari puluhan orang mati karena penyakit sampar. Penduduk yang panik dan ketakutan berusaha keluar dari kota. Namun epidemi sampar telah menyebabkan kota dikucilkan. Mereka yang telah berada di dalam tidak bisa keluar dan sebaliknya.

Camus barangkali ingin menggambarkan berbagai karakter manusia melalui kisah kota yang dikucilkan. Dokter Rieux si tokoh utama misalnya, memilih untuk bertugas setiap hari, melakukan tugasnya dengan baik. Ada Grand, pegawai balai kota yang secara teratur bekerja di bagian statistik Pencatatan Sipil, yang artinya juga dia harus menghitung angka-angka kematian. Grand adalah pribadi yang langka. Ia jujur, sederhana dan memiliki sifat-sifat kebaikan yang tidak banyak dimiliki orang pada masa itu. Ada Rambert, si jurnalis yang bersedia melakukan apapun agar keluar dari kota. Namun di tengah-tengah bencana juga ada orang-orang yang berusaha mengambil keuntungan untuk memperkaya diri sendiri.

Kisah Sampar mengingatkan saya pada sebuah pertanyaan dalam sebuah cerita karya Jostein Gaarder di sini.
“Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya punya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.” (hal 212)

Dan, ketika kamu memilih hidup, bagaimanakah kamu ingin menjalani kehidupan itu? Sementara kamu tahu bahwa suatu saat kamu akan mati. Apakah kamu membiarkan kekhawatiran dan kecemasan meringkupimu sampai kematian itu datang? Atau kamu memilih untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dengan sebaik-baiknya? Atau ? …

Kisah Sampar adalah kisah tentang kita manusia. Ingin menjadi apakah diri kita?

Steal Like An Artist

books
Judul: Steal Like An Artist
Penulis: Austin Kleon
Penerjemah: Rini Nurul B
Penerbit: Noura Books
Tebal: 147

“Semua ide baru hanyalah campuran atau leburan dengan satu ide lain atau lebih” (halaman 9)

Kleon adalah penulis dan seniman. Dalam bukunya Steal Like An Artist, ia memaparkan bahwa tidak ada ide yang benar-benar murni. Seperti diungkapkan oleh Pablo Picasso “Semua karya seni adalah hasil pencurian”. Namun, pencurian yang seperti apa? Jangan salah paham, buku ini sama sekali tidak mengajarkan teknik-teknik menipu :)

Seniman yang baik menyadari bahwa tak ada yang muncul tiba-tiba. Semua kreasi berasal dari sesuatu yang pernah ada.

Kleon mengibaratkan silsilah ide dengan silsilah keluarga dalam ilmu genetika. Kamu punya Ayah dan Ibu. Ada beberapa ciri fisikmu yang mirip mereka, tetapi karaktermu sendiri lebih banyak. Kamu adalah paduan orang tua dan semua leluhurmu. Demikian juga dengan silsilah ide. Kamu tak bisa memilih keluarga, tetapi bisa menentukan guru, teman, dan musik yang kamu dengarkan, juga buku bacaan dan film yang kamu tonton. Kamu adalah leburan pilihan yang kamu terima dalam hidup. Kamu adalah paduan pengaruh. “Kita dibentuk dan dipoles oleh hal yang kita cintai”~ Goethe.

Lalu, bagaimana mencuri yang baik? mencuri lah seperti seorang seniman. Seorang seniman adalah seorang kolektor yang sangat selektif. Mereka hanya mengumpulkan yang benar-benar mereka sukai. Demikian juga ide. Ide yang kamu peroleh bergantung kepada hal-hal di sekitarmu. Itu sebabnya kamu perlu memperhatikan apa yang kamu baca, lihat, dan dengar.

Tugasmu hanya menghimpun gagasan bagus. Semakin banyak ide keren yang kamu kumpulkan, semakin banyak pengaruh yang bisa kamu pilih. (Benar banget :)). Namun, ada baiknya, pilih satu tokoh yang kamu suka untuk kamu serap ilmunya. Pelajari semua mengenai tokoh itu. Lalu, temukan tiga orang yang disukai si tokoh dan gali lebih dalam tentang mereka. Ulangi sesering mungkin. Jadikan mereka sebagai gurumu, yang dari mereka kamu belajar apa pun yang kamu mau.

Jangan lupa, selalu belajar. Belajar bukan ketika hanya kamu sekolah.

“Sekolah itu satu hal. Pendidikan lain lagi. Keduanya tidak selalu beriringan. Bersekolah atau tidak, belajar selalu menjadi tugasmu.” (halaman 19)

Jadi, bagaimana belajar yang baik? Ini kata Kleon
Rasa ingin tahu adalah kuncinya. Perhatikan berbagai hal. Buru semua referensi dan telusuri lebih dalam dibandingkan siapapun. Dan, teruslah membaca.

Nah, oke banget kan tips dari mr. Kleon ini. Sederhananya, mencuri ide ala seniman adalah dengan belajar terus menerus, mengisi otakmu dengan hal-hal positif, dan banyak membaca. Bacaan adalah aset yang berharga, yang membuka jalan bagi ide-ide yang awalnya tertutup serupa dengan musik, film, yang kamu dengar dan tonton. Pengalaman hidup juga memberikan sumbangan bagi munculnya ide-ide kreatif.

Buku yang bagus, layak dibaca untuk semua orang terutama bagi mereka yang barangkali bertanya, bikin ide apa ya? :)

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

13414402
Judul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 507

Kisah di dalam buku ini berlatar kota Pontianak. Sejujurnya saya baru tahu kalau Pontianak itu adalah nama hantu dalam bahasa Melayu. Konon menurut cerita, pendiri kota ini adalah pemuda perkasa keturunan raja-raja yang mengalahkan hantu Ponti. Maka, untuk merayakan kemenangan itu sang raja menamakan kota ini dengan nama musuhnya, yaitu Pontianak. Kota Pontianak adalah kota sungai, maka tak heran transportasi air sangat penting. Perahu bertenaga motor atau yang mereka sebut sepit menjadi kendaraan utama warga Pontianak. Namun keberadaan perahu sepit berangsur-angsur berkurang setelah adanya jembatan beton besar di kota Pontianak. Persaingan semakin sulit dengan munculnya perahu feri, musuh utama pengemudi perahu sepit.

Cerita bermula ketika Borno, anak laki-laki berusia 12 tahun meraung-raung di sudut rumah sakit ketika dokter menyimpulkan bahwa Ayah yang dikasihinya telah dinyatakan meninggal secara klinis. Sebelum tubuhnya benar-benar berhenti bekerja, Ayah Borno telah menyetujui untuk mendonorkan jantungnya untuk seorang pasien gagal jantung.

10 tahun kemudian Borno lulus dari SMA. Lelaki berhati lurus ini beberapa kali berganti pekerjaan, sebelum akhirnya memutuskan menjadi pengemudi sepit-(dan kelak menjadi pemilik bengkel) yang awalnya ia hindari karena pesan sang Ayah. Namun keluarga dan kawan-kawan Ayahnya meyakinkan bahwa hakikat sejati pesan sang Ayah adalah agar dirinya menjadi lebih baik. Maka, walaupun melanggar wasiat Ayah, Borno memutuskan menjadi pengemudi sepit dan berjanji akan menjadi orang baik, “setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras-meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit. (halaman 54)

Dibawah bimbingan Pak Tua, Borno belajar mengemudikan sepit. Menjadi pengemudi sepit juga memberi jalan bagi Borno untuk berkenalan dengan seorang gadis peranakan Cina berwajah sendu yang meninggalkan sepucuk amplop berwarna merah. Surat yang ia kira berisi angpau, serupa yang diberikan gadis itu kepada semua pengemudi sepit di perayaan tahun baru Cina. Sepucuk surat itu kelak memberi jawaban atas semua pertanyaan yang menyeruak di kepala Borno tentang keputusan Mei, nama gadis itu untuk menjauh dari dirinya setelah kedekatan mereka.

Ada banyak tokoh di dalam cerita ini, selain tokoh utama Borno dan Mei. Andi, sahabat sejati, teman sepermainan sejak kecil, Pak Tua yang setia dengan kata-kata bijak dan petuah cinta untuk Borno dan Bang Togar, pemuda tinggi besar menyebalkan namun tidak ada yang mengalahkan ia mengenai kepedulian dan setia kawan.

Sebuah buku yang sarat dengan cinta, persahabatan dan kerja keras. Cinta yang dipenuhi dengan kesabaran dan penghormatan, pun ketika harus merelakan sang pujaan memilih untuk pergi menjauh dan kesadaran untuk menata hati yang patah.

“Boleh jadi ketika orang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memilik separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga.” Hal. 479

Saya baru pertama kali membaca buku Tere Liye, dan bisa dibilang selama membaca buku ini saya seringkali tergoda untuk tersenyum dan tertawa membaca rangkaian kisah di dalam buku. Kisah getir kehidupan dan cinta sendu yang dikemas dengan warna ceria, selintas mengingatkan saya kepada gaya penulisan Andrea Hirata. Pintar benar mengaduk-aduk isi hati pembacanya :). Tampaknya, saya berminat untuk membeli buku Tere Liye lainnya. woahh.. hehe :)

Girls & Tech

girls-and-tech
Judul: Girls & Tech
Penulis: Ollie
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Tebal: 184

“…women with husband and children sometimes feel guilty when they have to work busier or travel away from their family for works. You might have to choose between your career and your family. But now with technology women can do both and can find balance in their life. They can use video conference without having to physically attend the meeting, so they can stay at home. They can do a lot of activities with the help of technology.” (halaman 30)

Kutipan di atas adalah bagian lektur Ibu Betty Alisyahbana yang dituliskan kembali oleh mbak Ollie ke dalam bukunya yang berjudul Girls & Tech. Selaras dengan tujuan buku ini dibuat yaitu untuk mendekatkan perempuan dengan teknologi. Apa manfaat teknologi untuk perempuan khususnya? Wow, banyak.

Perempuan seringkali mengalami dilema ketika mereka sudah berkeluarga, meneruskan karir di luar rumah atau sepenuhnya mengurus keluarga. Bagaimana kalau perempuan ingin memilih keduanya? Mengurus keluarga dan juga bekerja?

Pernah ada yang mengatakan bahwa orang yang bisa menguasai dunia adalah mereka yang menguasai bahasa inggris dan komputer. Teknologi berkembang pesat. Layanan surel (surat elektronik) memungkinkan kita mengirim dan menerima surat secara cepat dan mudah. Anda tidak perlu repot-repot menerjang kemacetan ibukota hanya agar bisa bertatap muka dengan rekan bisnis Anda, Anda cukup menyalakan webcam dan bisa melakukan teleconference (percakapan jarak jauh). Anda tidak perlu mendatangi sebuah toko untuk membeli barang yang Anda butuhkan. Anda bisa membaca buku tanpa perlu repot-repot membawa banyak tumpukan buku di dalam tas. Semua bisa dilakukan hanya di perangkat gadget Anda.

Yang perlu Anda, perempuan lakukan adalah mempelajari dan memanfaatkan segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi untuk memberdayakan diri Anda agar mandiri dalam menghadapi permasalahan-permasalahn hidup, begitu kata mbak Ollie :).

Menjeburkan diri ke dalam sosial media itu perlu loh. Masuki grup dan komunitas-komunitas yang dapat memberikan nilai tambah ke dalam diri kita sembari menjalin pertemanan dengan kawan-kawan baru. Belajar itu perlu sepanjang hayat dikandung badan :).

Selain menceritakan peran dan kiprah perempuan-perempuan di dalam bidang teknologi, buku ini juga memberikan tips-tips praktis untuk meningkatkan ketrampilan kita, seperti blogging, berbicara di depan umum, dan networking.

Tak lupa mbak Ollie juga menuangkan tips membangun usaha rintisan di bidang IT atau digital. Pengalamannya sebagai co-founder tokobuku online Kutukutubuku.com dan CTO serta co-founder Nulisbuku.com-platform online self-publishing print on demand, ia tuangkan dalam tulisannya tips membangun startup. Dari merumuskan ‘pitch’ untuk menjual ide, membuat business plan, mencari partner, dan memulai bisnis dengan modal Rp 0,-.

Untuk saya yang berprofesi sebagai pengajar TIK, buku ini membantu saya memberikan wawasan dan bahan cerita menarik yang kelak bisa saya bagi ke murid-murid. Thanks mbak Ollie :)