The Best Stories of Quran

9752-the_best_stories_of_
Judul: The Best Stories of Quran
Penulis: CBM Creative Agency (Tim Erlangga For Kids)
Penerbit: Erlangga
Tebal: 225

Buku ini ditujukan untuk anak-anak. Disajikan dengan unsur cerita dan gambar mengenai nilai-nilai keteladanan dari Alquran yang bertujuan untuk menghidupkan konsep ketuhanan (ilahiyah). Terdiri dari 103 cerita yang diawali dari kisah penciptaan alam semesta, manusia pertama, sampai kisah dan sejarah Nabi.

Tidak hanya untuk anak-anak, buku ini juga bisa dikonsumsi oleh orang dewasa dan terutama bagi siapa saja yang ingin belajar dan mengenal Islam.

Pada kisah pertama dan kedua dipaparkan asal mula bumi terbentuk. Yang awalnya adalah kegelapan kemudian Allah menjadikan bumi beserta isinya untuk kelangsungan hidup manusia kelak. Kemudian kehadiran Adam di surga yang sempat ditolak oleh para malaikat. Namun setelah Allah menjelaskan baru lah para malaikat mau menerima dan bersujud kepada Adam. Hanya lah iblis, makhluk ciptaan Allah yang tak sudi bersujud kepada Adam. Bahkan ia bersumpah untuk menggoda dan membawa sesat anak cucu Adam di muka bumi untuk berbuat maksiat (dan kerusakan). Mendengar perkataan iblis itu Allah menjawab:
“Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi penghuni neraka. Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dengan sepenuh hatinya.” (QS. Al-A’raaf: 11-25 dan Shaad: 71-83)

Sering kemudian orang menyalahkan setan sebagai alibi dari perbuatan buruknya. Apakah setan yang melakukan kejahatan? Manusia sendiri lah yang menjerumuskan dirinya ke dalam perbuatan menyesatkan. Perbuatan jahat yang ditiupkan setan ke dalam diri kita adalah bagian dari ujian keimanan kita kepada Allah SWT. Dan sesuai firman-Nya, maka godaan setan tidak akan bisa memasuki hati hamba yang beriman kepada-Nya dengan sepenuh hati. Semoga kia semua selalu berada di dalam lindungan Allah SWT dan dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk. Amin yra.

Kisah berikutnya adalah manusia-manusia pilihan Allah yang diutus sebagai nabi dan Rasul untuk memberikan pengajaran agama dari Allah terhadap umat manusia yang saat itu berada di jaman kegelapan (kebodohan) atau dikenal dengan jaman jahiliah.

Buku ini meneladani sikap-sikap Nabi dan Rasul yang bisa menjadi panutan tidak hanya bagi anak-anak kita namun juga untuk diri kita sendiri di dalam mengarungi kehidupan. Barangkali, rutinitas dan hiruk pikuknya kehidupan telah membuat kita lupa akan makna hidup kita di dunia, peran dan tanggungjawab kita terhadap diri sendiri dan sesama. Meluangkan waktu sebentar untuk membacai kembali kisah-kisah di dalam Alquran mungkin bisa menjadi pengingat dan melembutkan hati kita kembali. Semoga.

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

3131683
Judul: Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
Tebal: 394

Peter, adalah anak laki-laki yang dijuluki dengan nama ‘Si Laba-laba’. Peter sangat suka sendiri. Ia senang duduk seorang diri untuk berpikir. Ia pandai berimajinasi dan membuat cerita. Kepalanya selalu penuh dengan cerita khayalannya sendiri.

Laba-laba adalah tokoh cerita pertama Peter. Ia menyusun cerita mengenai seorang gadis pemain trapeze di sebuah sirkus. Sirkus menjadi pilihan cerita Peter karena setiap minggu Ayahnya mengajak Peter menonton sirkus. Walaupun sirkus itu hebat, sirkus khayalan Peter lebih hebat lagi.

Si gadis pemain trapeze dalam cerita Peter sesungguhnya adalah putri sang pemimpin sirkus. Namun malangnya, baik sang pemilik sirkus ataupun sang putri sama-sama tidak menyadari bahwa mereka memiliki hubungan darah Ayah dan anak. Suatu ketika, si gadis pemain trapeze ini terjatuh sehingga lehernya patah. Saat berdiri dan menunduk di atas tubuh gadis itu sang pemilik sirkus melihat liontin dari getah ambar yang di dalamnya terdapat fosil laba-laba berumur jutaan tahun menggantung di leher sang gadis. Saat itu lah sang pemilik sirkus menyadari bahwa gadis pemain trapeze ini adalah putrinya yang ia kira telah tenggelam.

Cerita khayalan ini membuat Peter ketakutan oleh imajinasinya sendiri, terutama juga ia takut oleh kehadiran seorang laki-laki kecil yang membawa tongkat bambu di dalam mimpinya. Hanya Peter yang dapat melihat laki-laki kecil tua itu. Lelaki kecil bertopi hijau itu berhasil keluar dari mimpi Peter namun sejak saat itu ia mengikuti Peter sepanjang hidup. Seolah lelaki itu merasa bertanggungjawab atas diri Peter. Laki-laki di dalam mimpi itu muncul begitu saja di dalam dunia nyata Peter bersamaan dengan waktu yang sama ketika Ayah Peter meninggalkan rumah.

Sepeninggal Ibu, orang terdekat yang paling ia kasihi, Peter menempati flat itu sendiri. Rasa kesepian membuat Peter mulai membuka diri terhadap gadis-gadis untuk menemaninya. Sampai suatu ketika ia berkenalan dengan Maria, seorang gadis yang dicintainya. Peter sering menceritakan dongeng-dongeng khayalannya kepada Maria. Maria terpesona oleh Peter namun ia tak ingin membina hubungan mereka ke arah yang lebih serius. Maria mencintai Peter sekaligus takut oleh imajinasi Peter yang meruap-ruap. Suatu hari Maria memberi kabar bahwa dirinya akan pindah ke kota lain, namun sebelum kepergiannnya ia ingin memiliki anak dari Peter.

Peter kemudian menjalani profesi sebagai penjual imajinasi oleh karena kepandaiannya mereka-reka cerita. Ia membantu para penulis atau mereka yang ingin menjadi penulis dengan menyediakan cerita-cerita bagi mereka yang mengalami kebuntuan ide. Program ini ia namakan dengan Writer’s Aid. Awalnya program ini berjalan sangat sukses. Banyak penulis yang menjadi terkenal dengan menggunakan cerita miliknya. Peter, si laba-laba perlahan terjebak dalam jejaring yang dipintalnya sendiri. Skandal memalukan itu akhirnya tercium oleh dunia sastra internasional. Nyawa Peter pun terancam. Peter tidak pernah menyangka bahwa kehancurannya itu bersumber dari perbuatan di masa lalunya.

Ulasan
Sang tokoh, Peter, digambarkan sebagai orang yang terobsesi dengan cerita-cerita. Ia senang menyusun plot untuk buku, film dan theater. Imajinasinya tumpah ruah. Namun ia tak tertarik untuk menulis novel. Agak terdengar tidak biasa. Namun Gaarder mengibaratkan kesenangan sang tokoh ibarat seorang penggemar olahraga pancing yang tidak suka menyantap tangkapannya. Namun demikian mereka menikmati waktu yang dihabiskan berjam-jam mengawasi tali pancing mereka. Dan sesudahnya jika mereka berhasil mendapatkan seekor ikan, mereka akan memberikan kepada teman-temannya atau mengembalikan ikan itu ke air. Orang memancing tidak semata untuk menghemat uang belanja, namun ada nilai kenyamanan pada kegiatan ini. Memancing dalam pandangan mereka adalah permainan keanggunan, sebuah seni tingkat tinggi. Menyitir analogi Ernst Junger (yang juga ada di buku ini, halaman 85), “seseorang sebaiknya tidak menyesali gagasan yang menghilang. Seperti seekor ikan yang terlepas dari mata pancing kemudian berenang masuk ke kedalaman air, suatu hari kembali dengan tubuh yang lebih besar. Sementara jika seseorang menangkap ikan, mengeluarkan isi perutnya, lalu melemparkannya ke dalam ember plastik, perkembangan dari ikan itu jelas terhenti. Hal yang sama persis dapat dikatakan bagi gagasan di balik sebuah novel, begitu ia disajikan dengan ‘saus’ yang ‘lezat’, atau bahkan dipublikasikan. Barangkali dunia kebudayaan punya karakteristik terlalu banyak menangkap tetapi terlalu sedikit melepaskan.”

Perenungan hakikat makna hidup dan peran kita di dunia juga disisipkan dalam dialog pribadi sang tokoh.
“Banyak orang sedemikian kecanduan dengan kesan-kesan indriawi sehingga tidak mampu lagi memahami bahwa di luar sana ada sebuah dunia. Karena itu, mereka juga tidak mampu memahami hal sebaliknya. Mereka tidak paham bahwa suatu hari, dunia akan berakhir. Bagaimanapun, kita hanya beberapa detak jantung jauhnya dari berpisah dengan umat manusia untuk selama-lamanya.

Bertemu dengan orang-orang sombong sungguh merupakan suatu berkat. Mereka hidup seolah-olah ada yang dapat dicapai dalam kehidupan ini, seolah-olah ada yang bisa diraih. Tetapi, kita ini debu. Karenanya, tak ada yang perlu dipermasalahkan. (halaman 88-89)”

Bagaimana akhir kisah Peter? Bagaimana pula nasib laki-laki kecil bertopi hijau? Barangkali rasa penasaran yang membuat saya bergeming, tenggelam dalam setiap untaian kata di dalamnya. Gaarder memang pendongeng yang handal. Pemikiran-pemikiran filsafat pun menjadi begitu menarik melalui tulisannya. Memahami filsafat adalah belajar mengenal diri kita, tak selalu harus dimengerti barangkali cukup dengan merasakan.

“Saya melihat dunia sebagai benda yang tidak nyata dan mengelabui kita. …
Telah kulihat nyaris segala hal. Satu-satunya yang tak mungkin kupahami adalah dunia itu sendiri. Terlalu luas. Terlalu sulit ditembus. Aku sudah sejak lama menyerah untuk memahaminya. Hanya itu saja lah yang menghalangiku merasa mendapat wawasan menyeluruh.” (halaman 117).

Habis Galau Terbitlah Move On

habis-galau-terbitlah-move-on-dpn-189x300
Judul: Habis Galau Terbitlah Move On
Penulis: J. Sumardianta
Penerbit: Penerbit Bentang
Tebal: 326

Buku ini berisi pemikiran dan perenungan Pak Guru J. Sumardianta mengenai hal-hal yang kerap ia temui dalam interaksi sosialnya di masyarakat. Wawasan luas penulis dapat dikenali dari beranekaragam kisah yang terkumpul dalam buku Habis Galau Terbitlah Move On.

Buku pertama Beliau, Guru Gokil Murid Unyu, telah menarik perhatian saya. Buku itu lama tuntas sudah saya baca. Saya terkagum-kagum dengan pilihan buku bacaan Beliau. Sesudahnya saya malah memburu beberapa buku yang sering Pak Guru ini kutip di tulisan-tulisannya :). Salah satunya adalah buku perjalanan dari Agustinus Wibowo.

Oke, back to the topik. Membuat review buku Pak Guru ini tidak mudah. Ada banyak tulisan yang ingin dikutip saking bagusnya.. hehe.

Tetapi, saya akan mengambil satu bab terakhir tulisan mengenai persepakbolaan.

“Manusia, memang gemar membangun sarang berlindung dalam kecongkakan yang dipicu ego. Mereka mengira ego itu kekuatan. Ego, pada kenyataannya, hanyalah kelemahan buat menyelubungi perasaan rendah diri. Mereka merasa dibutuhkan, dihormati, dicintai, dan diharapkan.” (halaman 310)

Menurut Pak Guru (halaman 311), pemain yang memiliki ego tinggi menciptakan kesenjangan dalam hubungan antarpemain. Ego tinggi membuat seorang pesepakbola mudah melukai orang lain. Orang yang suka melukai pun akan lebih mudah terluka. Menampilkan ego, apalagi secara demonstratif, akan memancing dan mengusik ego orang lain. Ego mengobarkan semangat persaingan dan saling menjatuhkan. Ego melahirkan pesepak bola sombong terang-terangan maupun tersembunyi. Ego membuat orang berfokus secara defensif pada kebutuhan diri sendiri. Begitu seorang pesepak bola berfokus kepada diri sendiri maka kepentingan kolektif terbengkalai. Padahal inti dari kesuksesan adalah kemampuan untuk berfokus kepada khalayak yang menjadi pemangku kepentingan.

“Your enemies is your ownself in a different uniform. Musuh Anda adalah kedirian Anda sendiri dalam seragam yang berbeda.”

Pemain sepak bola adalah watak kita di dunia nyata. Dalam pergaulan sosial, individu yang hanya fokus kepada kebutuhannya sendiri lambat laun akan diliputi perasaan sengsara, dan tanpa daya. Karena, sejatinya manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendiri. Manusia memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi dengan sesamanya.

Sepak bola telah mengajarkan bahwa setiap pemain harus mengesampingkan rasa ego untuk mencapai tujuan bersama. Pun demikian dalam hidup, di dalam hubungan sosial antarmanusia, kita tak lepas dari konsekuesi sosial, dimana setiap individu harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama.

Permainan sepak bola adalah juga permainan yang dimainkan oleh banyak orang yang berada dalam sebuah tim. Selain ada pemain juga ada manajer. Ada juga peraturan yang harus dipatuhi oleh semua pemain di lapangan. Tidak hanya peraturan lapangan namun juga menyangkut rasisme. Pengatur regulasi sepak bola dunia pasti menindak tegas segala bentuk perundungan rasisme. Pelanggaran sekecil apapun akan dikenai sanksi. Ketika tim sepak bola saling bertanding dengan ketat kita melihat kerasnya perjuangan hidup. Permainan ini juga memberikan kepuasan dan rasa senang kepada semua orang karena betapapun kerasnya perjuangan kita mengetahui bahwa perilaku dan regulasi menyatu.

Bagaimana di dunia nyata? Berbeda dengan dunia sepak bola, aturan di dunia nyata bisa dibelokkan. Jabatan dan kedudukan bisa dibeli. Pelanggar aturan diringankan hukumannya selama bisa membayar mahal, dan lain sebagainya.

Barangkali tak mengherankan jika sepak bola dicintai banyak orang. Keberadaan sepak bola bagaikan oase di tengah kesumpekan hidup dunia nyata. Mungkin, dunia kecil sepak bola adalah representasi keinginan diam-diam diri kita sebagai individu yang merindukan keselarasan.

Gelombang

23252584
Judul: Gelombang
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Tebal: 474

“Ruang dan waktu menyimpan tipu daya bagi mereka yang matanya belum terbuka.” (hal16)

Keping 43, mengisahkan seorang lelaki bernama Gio. Gio ditemani Paulo, rekan kerjanya kembali ke Taman Nasional Bahuaja-Sonene, untuk mencari Diva, kekasih Gio. Diva hilang di Rio Tambopata. Namun pencarian itu tidak menemukan hasil sehingga Paulo dan Gio kembali ke Cusco.

Cusco adalah markas kantor Paulo dan Gio. Mereka membuka kantor tur ekspedisi yang melayani permintaan ekspedisi bagi para petualang atau wisatawan yang ingin menjajal Amerika Selatan dengan cara lebih menantang, seperti: arung jeram, panjat tebing, trekking ke tempat-tempat yang tidak akan ditemui di paket wisata pada umumnya. Usaha ini lalu melebarkan sayap ke Peru. Gio sendiri memilih menetap di Amerika Selatan.

Pada saat Gio mulai berhasil menerima kenyataan hilangnya Diva, seorang lelaki muncul secara tiba-tiba mengetuk pintu apartemennya. Mereka pernah bertemu sebelumnya di Vallagrande. Saat itu lelaki yang belakangan diketahui bernama Amaru menjejalkan empat batu misterius ke tangannya. Amaru juga muncul dengan tiba-tiba di tengah kerumuman orang dan bicara tentang kehilangan seseorang yang dicintai sesaat sebelum sebelum Gio mendengar kabar Diva hilang. Seakan Amaru sudah mengetahui nasib Gio.

Kedatangan Amaru membuka jalan bagi Gio ke arah pencarian baru hilangnya Diva. Petunjuknya adalah empat batu bersimbol, yang mewakili empat orang, dan Gio adalah salah seorang dari mereka.

Keping 44, bercerita tentang tokoh yang bernama Alfa Sagala, lelaki batak yang terhantui mimpi seram sejak mengikuti ritual upacara gondang. Sejak saat itu pula Alfa diperebutkan oleh banyak orang sakti. Dari kampung Sianjur Mula-Mula, Alfa hijrah ke kota besar, Jakarta bersama Ayah, Ibu dan kedua kakaknya demi cita-cita sang Ayah untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik untuk anak dan keluarganya serta sekaligus menjauhkan Alfa dari orang-orang sakti tersebut.

Dari Jakarta Alfa kemudian menjadi migran illegal di Amerika Serikat. Tinggal di lingkungan kumuh sekaligus lokasi strategis bagi para gangster mencari korban para imigram illegal. Mereka tak segan merampok atau membunuh. Untungnya Alfa seorang yang pintar, otak encernya membuat pimpinan salah satu gangster mempercayakan adiknya untuk belajar bersama Alfa, dengan misi bisa menembus beasiswa universitas. Misi itu berhasil. Alfa bersama dua orang kawannya masuk ke universitas yang sama dengan beasiswa penuh.

Berkat kecemerlangan otaknya Alfa ditawari bekerja di sebuah bursa saham. Pimpinan perusahaan juga bersedia mengeluarkan biaya pengurusan ijin tinggal untuk Alfa. Satu-satunya alasan Alfa menerima tawaran bekerja di sana adalah karena ia bisa bekerja sampai malam. Ia menjauh dari keinginan berlama-lama tidur karena setiap tidurnya menjadi pertaruhan nyawa.

Namun sebuah peristiwa memaksa Alfa mencari tahu rahasia di balik mimpi yang menggangggu tidurnya. Alam mimpinya ternyata menyimpan rahasia besar yang harus ia pecahkan. Di lembah Yarlung, Tibet, perlahan jawaban atas rahasia itu mulai terkuak.

Di buku ini Dee banyak menuliskan pengetahuan tentang alam mimpi. Dikisahkan ketika Nicky akan mengobservasi polisomnogram (pola tidur) untuk mendeteksi masalah Alfa.

Mimpi, kata buku itu (hal 283), terutama yang kuat terjadi di tahap REM (Rapid Eye Movement). Mulanya NREM, lanjut REM. Di siklus pertama, REM umumnya singkat, hanya beberapa menit. Pada tahap REM manusia memiliki mekanisme lumpuh tidur. Mekanisme itu adalah perlindungan supaya tubuh kita tidak melakoni apa yang terjadi di dalam mimpi.

Saya dulu pernah membaca buku tentang mimpi, teorinya Freud kalau nggak salah, tapi udah lupa :).

Nah, di buku ini ada istilah teknik mimpi sadar. Teknik ini akan membuat diri kita bertahan lama di kondisi REM. (Halaman 303). Pertama, kamu harus punya objek yang kamu pegang untuk panduan di alam mimpi nanti. Objek itu harus sesuatu yang bisa kamu lihat dengan mudah, misalnya tanganmu. Sebelum tidur kamu harus melihat tanganmu terus menerus, serta tanamkan dalam pikiran bahwa kamu akan melihat kedua tanganmu dalam posisi yang sama dalam mimpi nanti. Jika kamu sudah tidur dan mulai mimpi, kamu akan ingat untuk melihat tanganmu, dan saat itu pula kamu akan ingat kalau kamu sedang mimpi. Tanganmu akan menjadi jangkar bagi batinmu untuk tidak hanyut dalam arus mimpi. Tanganmu menjadi pengingat. Begitu kamu berhasil mengingat, mimpi sadarmu dimulai. Kamu bermimpi, tapi kamu tahu bahwa itu cuma mimpi. Kekuatan menjadi berbalik. Kamu tidak lagi diseret. Kamu punya kendali.”

Apakah itu artinya kita punya kendali di alam mimpi? Tidak tepat seperti itu. Kata buku itu lagi, tidak ada yang bisa mengendalikan alam bawah sadar. Namun kamu bisa berdialog dengannya, meminta penjelasan. Biasanya akan dimunculkan figur mimpi atau penjelasan dalam bentuk lain.

“Kekuatan alam bawah sadar jauh lebih besar daripada yang bisa manusia bayangkan. Mimpi adalah jalan cepat untuk memasuki dan mengenalnya. ”

*
Saya nggak mengikuti serial Supernova ini. Hanya satu judul bukunya yang saya baca yaitu Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Agak nekad juga sih membaca buku ini tanpa membaca sekuel sebelumnya, terasa blank.. hehe.

Awalnya memang tak terasa kalau buku ini adalah lanjutan dari serial sebelumnya, namun begitu di halaman akhir tertera “Bersambung ke episode Intelegensi Embun Pagi”, saya baru tersadarkan walau kisah novel di buku ini seolah berdiri sendiri sebenarnya satu dengan lainnya saling berkaitan. Baik lah, mungkin saya memang harus menuntaskan serial Supernova sebelumnya sambil menunggu si Intelegensia terbit :).

Sejauh manakah cakrawala etika kita?

Sumber: Dunia Anna, Jostein Gaarder

“Sejauh manakah cakrawala etika kita? Ujung-ujungnya permasalahan ini kembali kepada pertanyaan tentang identitas. Apakah manusia itu? Dan siapakah aku? Jika aku hanya diriku – badan yang sedang duduk dan menulis ini- maka aku adalah sekadar suatu ciptaan tanpa harapan. Dalam pengertian yang luas. Namun, aku memiliki sebuah identitas yang lebih mendalam ketimbang sekadar badanku dan masa hidupku yang singkat di bumi ini. Aku adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku sendiri.

… sebagai wakil dari keseluruhan planet tempat hidupku. Itu semua menjadi aku. Aku peduli dengan nasib planet ini karena aku takut kehilangan bagia inti terdalam dari jati diriku. (halaman 209)

Dunia Anna

download
Judul: Dunia Anna
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Irwan Syahrir
Penerbit: PT Mizan Pustaka
Tebal: 244

“Kita menghancurkan planet kita sendiri. Kitalah yang telah melakukannya, dan kita sedang melakukannya sekarang.” (halaman 120)

Telah lama kita, manusia diingatkan akan dampak pemanasan global. Sebuah temuan di tahun 2012 oleh satelit Badan Antariksa Amerika Serikat NASA mengabarkan bahwa es di Greenland meleleh secara ekstrim. Pelelehan es memang biasanya terjadi di musim panas namun kali ini es meleleh terjadi secara cepat dan dalam cakupan wilayah yang luas. Pelelehan es bahkan terjadi di wilayah yang belum pernah dilihat sebelumnya dalam jangka panjang.

Menurut Abdalati dari NASA, apa yang terjadi saat ini menjadi sinyal tentang apa yang akan terjadi beberapa tahun mendatang.

Melelehnya es adalah salah satu dampak dari adanya perubahan iklim.

Apa yang akan tejadi jika seluruh es mencair kelak?

Jostein menggambarkan situasi masa depan itu dalam Dunia Anna.

12.12.2082. Nova sangat terkejut mendapati surat di terminal onlinenya. Surat itu berasal dari nenek buyutnya, Anna yang ditulis 70 tahun lalu, tepatnya tanggal 12.12.12. Saat itu nenek buyut Nova berusia 16 tahun seperti dirinya saat ini.

Isi surat itu mewakili keresahan yang dirasakan oleh Nova. Tentang spesies flora dan fauna yang berangsur-angsur punah, tanah dan kota yang tenggelam serta pelelehan es yang diakibatkan oleh pemanasan global. Walau Anna dan Nova berada dalam dimensi waktu yang berbeda namun keduanya merasakan kerisauan yang sama.

Bumi yang ditempati Nova saat ini bukan lagi bumi yang cantik. Laut Arktik tak lagi menyisakan es di kutub. Sebagian besar pulau karang di Samudera Hindia telah tenggelam dan seluruh negara di atasnya telah hanyut. Kota-kota itu kini hanya menjadi kenangan. Hanya ada tiang penanda di laut yang menunjukkan itu sebuah pulau, dulu. Sebuah peradaban telah hilang. Di bagian negara lainnya mengalami suhu panas yang tinggi. Beberapa spesies flora dan fauna masih bisa ditemukan, sisa-sisa dari kejayaan bumi masa lalu. Namun lebih banyak yang punah dan terancam punah.

Nova merasa ingin marah. Ia marah pada generasi pendahulunya yang telah menghabiskan sumber daya alam dan tak menyisakan apapun untuk generasi berikutnya. Nova merasa ia berhak hidup di alam yang sempurna, seperti ketika nenek buyutnya hidup di masa itu.

Melalui cincin bermata rubi, cincin kuno dari legenda Aladdin 1001 malam, Anna, sang nenek buyut ingin memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki bumi. Bersama dengan Nova, cicitnya, mereka akan memperbaiki segala yang telah dirusak. Bagaimana caranya?

Jostein melalui Dunia Anna mengajak kita merenungkan eksistensi manusia dengan alam semesta.
“Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh jagat raya ini yang memiliki kesadaran universal-sebuah sensasi yang tak terperi atas keleluasaan dan kemisteriusan alam semesta tempat kita menjadi bagiannya. Jadi, menjaga kelestarian sumber kehidupan di planet ini bukan hanya sebuah kewajiban global. Itu adalah juga sebuah kewajiban kosmik.” (halaman 102).

Menjaga alam semesta adalah tanggungjawab kita semua atas masa depan planet ini.

Nah, sebelum terlambat, mari kita peduli. Hemat energi, hindari menggunakan kendaraan saat bepergian dengan jarak yang dekat, kurangi pemakaian kertas atau tissue. Dan jangan lupa, tanam pohon sebanyak-banyaknya.

Seseorang pernah mengatakan kepada saya bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dari bentuk kehidupan lainnya. Manusia membutuhkan makhluk hidup lainnya untuk melengkapi kehidupannya di dunia. Tanpa salah satunya, kehidupan kita akan timpang. Keseimbangan alam akan terputus.

Kita semua memainkan peran kosmik, seperti kata Jostein, bahkan bakteri kecil yang tampak remeh pun memberi makna pada alam semesta. Mari peduli :)

Canting

download
Judul: Canting
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 406

Canting adalah alat untuk mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis. Menurut sejarah, seni membatik berawal dari tanah Jawa. Kegiatan membatik memerlukan keterampilan yang hanya dimiliki oleh kaum perempuan pada masa itu. Itulah sebabnya jaman dahulu kegiatan membatik adalah pekerjaan ekslusif bagi kaum perempuan. Namun sejak ditemukannya batik cap maka pekerjaan ini tidak hanya memberi ruang bagi kaum lelaki tetapi juga menggeser keberadaan batik tulis.

Arswendo, sang penulis dengan jeli melihat fenomena ini. Ia menuliskan kisah roman sebuah keluarga dengan menggali unsur budaya Jawa melalui canting.

Raden Ngabehi Sestrokusuma atau Pak Bei adalah seorang bangsawan Jawa pemilik pabrik batik yang diberi cap Canting. Istrinya adalah seorang bekas buruh batik. Bu Bei adalah gambaran wanita Jawa. Kebahagiannya adalah memberikan bekti yang tulus kepada suami.

Tuginem, nama asli Bu Bei, sejak ia kecil ia telah tinggal di rumah Ngabean bersama orang tuanya. Ia juga bisa membatik. Ketika Raden Ngabehi Sestrokusumo, putra sulung Ngabean meminangnya, ia masih berumur empat belas tahun. Priyayi. Ia akan menjadi seorang priyayi, yang akan mengangkat derajat orang tua, leluhur serta seluruh desa tempatnya berasal. Orang memanggilnya dengan Bu Bei, dan kelak ia akan bisa memilihkan nama yang bagus untuk anak-anaknya.

Tahun pertama lahirlah Wahyu, putra sulung kecintaan Bu Bei. Disusul kemudian dengan Lintang, Bayu, dan Ismaya. Pada masa itu Pak Bei dikabarkan memiliki selir. Dua tahun kemudian lahir Wening. Kelahiran Wening membuat sebuah perubahan, Pak Bei mulai kerasan di rumah. Sebelas tahun Wening menjadi bintang keluarga sebelum kemudian adiknya Subandini lahir. Kelahiran Subandini alias Ni memunculkan bermacam pertanyaan yang berkelindan di benak Pak Bei. Ni tumbuh menjadi gadis yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Jiwanya mewarisi roh Pak Bei seutuhya, itulah yang diam-diam kemudian membuat Pak Bei sangat menyayangi putri bungsunya ini.

Keputusan Ni untuk mengurusi usaha pembatikan milik keluarga alih-alih mengikuti suaminya pindah ke Batam merupakan pukulan bagi sang Ibu. Ni ingin mengangkat keberadaan pabrik batik Canting yang perlahan tergeser oleh kemunculan pabrik batik printing. Ni ingin berbuat sesuatu untuk mbok Tuwuh, Pak Jimin, dan buruh-buruh batik lainnya yang telah bekerja keras selama ini sehingga ia dan keluarganya hidup terhormat. Sejak kecil Ni dekat dengan para buruh itu. Bagi Ni, mereka tidak hanya sekedar bekerja tetapi mereka mengabdi. Ni merasa bersalah kalau ia tidak peka, kalau ia mendiamkan saja.

Ni tak menyadari bahwa keputusannya untuk mengurusi batik adalah sesuatu hal yang sangat ditakuti oleh sang Ibu. Malam itu Bu Bei dilarikan ke rumah sakit karena tensi dan gula darahnya yang tinggi. Sepeninggal Bu Bei, Ni tetap pada niatnya semula, mengurusi pabrik batik agar para buruh memiliki pekerjaan yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaan bagi mereka.

Namun membangkitkan usaha batik tulis tidaklah semudah yang ia bayangkan, terutama menghadapi gempuran pasar dari batik printing yang harganya lebih murah. Ni nyaris putus asa, ketika akhirnya ia menyadari bahwa untuk bisa bertahan maka perusahaan batik miliknya harus melebur diri. Memuji keagungan masa lalu ataupun memusuhi pesaing bukanlah cara untuk bisa bertahan hidup.

Melalui para buruh batik Ni belajar tentang nilai-nilai hidup. Pengabdian, tidak menuntut pengakuan, dan kepasrahan adalah sikap mental yang diperlukan untuk tetap bisa menghadapi dunia dengan segala perubahannya.

“Dalam pasrah tak ada keterpaksaan. Dalam pasrah tidak ada penyalahan kepada lingkungan, pada orang lain, juga pada diri sendiri.” (halaman 283)

Sayap-sayap Sakinah

22735782
Judul: Sayap-sayap Sakinah
Penulis: Afifah Afra & Riawani Elyta
Penerbit: Indiva
Tebal: 239

Bila cinta mendatangimu, ikuti dia walaupun jalannya sulit dan terjal
Dan ketika sayapnya mengembang mengundangmu
Walaupun pedang yang tersembunyi di antara ujung sayapnya dapat melukaimu
Ketika dia berkata padamu untuk mempercayainya
walaupun suaranya berserak dalam mimpimu bagaikan
angin utara yang menghembus di kebun
(Kahlil Gibran)

Mungkin sekali waktu kita pernah bertanya-tanya, siapakah jodoh kita? Dimanakah ia berada saat ini dan bagaimanakah kelak kami dipertemukan?

Jodoh adalah rahasia Allah yang tak satu pun manusia bisa mengetahuinya. Sebagai manusia kita hanya bisa berdoa dan berikhtiar agar dipertemukan dengan seseorang yang menjadi pasangan hidup sejati kita.

Nah, bagaimana menemukan jodoh kita? Tak ada satu pun yang tahu. Barangkali doa dan upaya yang kita lakukan akan menuntun jalan menuju kepada jodoh yang Tuhan pilihkan kepada kita.

Ada banyak kisah perjodohan di muka bumi ini. Setiap manusia memiliki kisah cinta dan perjodohannya sendiri. Ada yang mudah dan sederhana, pun ada yang berliku-liku untuk sampai kepada jodohnya. Bahkan, jodoh dan cinta pun ternyata tidak selalu berpasangan. Kisah Abu Bakar dan Zainab di buku ini barangkali bisa menggambarkan bahwa cinta tidak menjadi kepastian seseorang berjodoh dengan yang dicintainya.

Ada orang yang beruntung menikah dengan jodohnya. Ada yang menikah lebih dari satu kali untuk sampai kepada jodohnya. “Jodoh memang misteri, karena hanya Allah yang Mahatahu siapa yang berhak berada di samping kita saat duduk di pelaminan. Allah juga yang Mahatahu, siapa yang berstatus sebagai pasangan sah kita saat kelak Allah mencabut nyawa kita.” (halaman 36)

Yang kita, manusia, bisa lakukan adalah membuat rencana dan mempersiapkan segalanya dengan baik, selebihnya Allah lah yang menentukan.

Dalam mencari jodoh tentu tak salah jika kita mengharapkan jodoh terbaik. Untuk mendapatkan jodoh terbaik nyatanya harus dimulai dari diri kita sendiri dengan cara memperbaiki diri kita terlebih dahulu.

Perjalanan berikutnya dalam hidup manusia setelah menemukan jodoh pilihannya adalah melangkah ke jenjang pernikahan. Ini lah babak baru kehidupan anak manusia dimulai. Indah, menyenangkan barangkali di awalnya, berikutnya adalah jalan panjang yang terkadang terjal dan penuh badai. Bagaimanakah kita melaluinya?

Afifah Afra penulis buku ini bersama Riawani Elyta menuliskan berbagai hal yang perlu Anda persiapkan sejak awal dalam rangka menuju cinta kepada jodoh kita kelak sampai kepada pernikahan serta pernak-pernik di dalam kehidupan pernikahan itu sendiri. Dikemas dengan bahasa yang ringan, renyah dan diselingi candaan menjadikan buku ini mudah diserap.

Buku yang saya rekomendasikan buat Anda yang sedang atau ingin mencari bacaan bermutu mengenai seluk beluk perjodohan, pernikahan dan kiat-kiat membangun rumah tangga yang penuh barakah dengan tulisan yang enak dibaca tanpa kesan menggurui.

Terakhir, terima kasih mbak Riawani atas hadiah bukunya. Buku yang bagus sekali :)

Abu Dzar, Penentang Kezaliman

download
Judul: Abu Dzar, Penentang Kezaliman
Penyunting naskah: Salman Faridi
Penerbit: DAR! Mizan
Tebal: 153
Jenis: Seri Komik Islam

Di suatu sore, Abu Dzar bertemu dengan sepupunya Unais yang baru saja pulang dari Mekkah untuk mencari berita mengenai seorang pria yang mengaku sebagai utusan Allah.
Unais: Demi pemilik bintang di langit. Ia mengajarkan sesuatu yang mirip dengan apa yang kau perjuangkan selama ini.”

Abu Dzar menjadi semakin penasaran. Segera ia memutuskan berangkat ke Mekkah. Perjalanan menuju Mekkah tidaklah mudah, sepanjang perjalanan Abu Dzar diterpa oleh panasnya siang dan debu pasir. Hingga sampailah ia di Mekkah. Abu Dzar tahu bahwa ia harus berhati-hati karena hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad saw.

Suatu hari Abu Dzar bertemu dengan Ali Bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad Saw). Ali menanyakan perihal keperluan Abu Dzar demi diperhatikannya Abu Dzar adalah seorang musafir. Abu Dzar lalu menceritakan tujuannya. Ali merasa gembira dan menuntun Abu Dzar menemui Nabi Muhammad saw. Abu Dzar lalu meminta Nabi membacakan ayat quran yang mulia. Nabi membacakan dan pada saat itu juga Abu Dzar menyatakan masuk islam. Abu Dzar mengucapkan dua kalimah syahadat dengan dituntun oleh Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad berpesan kepadanya, “Pulanglah engkau kepada kaummu. Dan beritakan kepada mereka sehingga perintahku datang lagi kepadamu.”

Keesokan harinya, Abu Dzar yang pemberani memproklamirkan keislamannya di hadapan Ka’bah, dimana saat itu banyak orang, utamanya kaum Quraisy berkumpul untuk menyembah Latta dan Uzza. Mendengar hal itu, mereka marah besar. Akibatnya Abu Dzar dipukuli. Pertolongan datang ketika Al Abbas bin Abdul Mutthalib, tokoh Bani Hasyim paman Rasulullah yang disegani kamu Quraisy berteriak kepada masyarakat, “Dia seorang suku Ghifari. Kalian tahu sendiri kan suku ghifari letaknya mesti kalian lalui bila hendak ke Syams.” Sontak mereka berhenti memukuli Abu Dzar.

Setelah itu Abu Dzar pulang ke kampung halamannya. Di sana ia berdakwa dan berhasil mengajak keluarga dan saudara-saudaranyanya masuk islam diikuti oleh separuhnya kaum Bani Ghifar.

Setelah masuknya islam ke seluruh kampung Bani Ghifar, Abu Dzar hijrah ke Madinah. Di sana ia berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah. Ia selalu mendampingi dan mengawal Nabi.

Setelah wafatnya Rasululah saw, Abu Dzar menyendiri. Abu Dzar adalah seorang penyayang terhadap kaum miskin dan lemah. Ia selalu menyuarakan kebenaran walau pahit. Maka ketika sepeninggal Nabi dan penguasa baru banyak melupakan ajaran Nabi dengan hidup berfoya-foya dan menelantarkan orang miskin, Abu Dzar tidak berdiam diri. Ia berdakwah.

Para pemimpin merasa khawatir oleh dakwah Abu Dzar yang dianggap dapat menghasut rakyat kecil. Beberapa kali Abu Dzar diusir dari kota yang ia diami dan berakhir di pengungsian. Abu Dzar meninggal seorang diri, tanpa ditemani oleh sahabat-sahabatnya, seperti sabda Nabi Muhammad SAW mengenai Abu Dzar.
“Ia berjalan kaki seoranng diri. Kelak akan meninggal seorang diri. Dan akan dibangkitkan seorang diri pula.”

Abu Dzar, sahabat Nabi, ia menghembuskan nafas terakhirnya di tengah panasnya gurun pasir, di Rabadzah. Jenasah Abu Dzar dishalati dan dikubur oleh rombongan kafilah yang melewati jalan itu.

Abu Dzar mengajarkan kepada kita tentang konsistensi pada sebuah keyakinan untuk menyayangi dan mencintai kaum miskin dan lemah, berbuat baik terhadap sesama dan tidak ikut hanyut dalam kezaliman. Kisah yang mengharu biru sekaligus menerbitkan kebahagiaan melihat orang-orang seperti Abu Dzar. Kesendirian dan terkucil adalah harga yang harus dibayar oleh Abu Dzar di dunia, namun baginya nikmat akhirat lebih dari segalanya.

Vader’s little son

download
Judul: Darth Vader and Son
Penulis: Jeffrey Brown
Penerbit: Chronicle Books, San Fransisco
Tebal: –
Jenis: novel grafis (komik)

Ini adalah review lanjutan dari novel grafis pertama di sini. Bagaimana Darth Vader menangani Luke, anak laki-lakinya? Sama seperti perlakuan Ayah terhadap anak laki-laki mereka pada umumnya lah :)

Luke belajar dengan cepat, sulit diatur dan penuh rasa ingin tahu membuat si Ayah seringkali tak berkutik. Walau kadang kewalahan menghadapi perilaku anak laki-lakinya namun Darth Vader memiliki kesabaran tanpa batas untuk putra kesayangannya. Dan sebagai Ayah, terbit juga rasa bangganya ketika suatu hari Luke memperoleh medali di sekolahnya :).

Gambar-gambar di buku ini menceritakan kisah sehari-hari yang umum ditemui dalam sebuah hubungan keluarga. Sisi romantisme hubungan Ayah dan anak terlukis dalam gambar ketika Luke tertidur di pelukan tangan si Ayah (wow, so sweet).Atau cerita ketika mereka bermain hide and seek dan tertawa bersama. Pokoknya, gambar-gambar di dalam buku ini sangat menyentuh hati. Dan di halaman terakhir novel grafis, Jeffrey Brown menggambarkan Luke kecil yang sedang memeluk kaki ayahnya sambil berucap, “I love you, Dad” dan sang Ayah yang berdiri canggung tanpa bisa menutupi perasaannya sendiri. :)