Richard Feynman, Tokoh Pengubah Dunia

re-catalog_2013-2737
Judul: Richard Feynman
Penulis: Sweetspot
Kartunis: Haebong Lim
Alih bahasa: Endah Nawang N
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal:169
Jenis buku: Novel Grafis (Why? People)

“Para profesor universitas terkenal dunia, mereka akan berkata kepada murid-muridnya “jadilah orang yang bisa mengubah dunia’. Ajaran tersebut bukan hanya sesuatu yang mengubah dunia bersinar dan sehat tetapi juga menjadi sesuatu yang bermanfaat dan luar biasa.”

Sinopsis
Sumbangan terbesar Feynman di dunia fisika adalah di bidang Elektrodinamik Kuantum, teori yang menjelaskan interaksi cahaya dan materi (light-matter interaction). Teori Elektrodinamik Kuantum dirintis oleh pakar kuantum Paul Dirac, Werner Heisenberg, Pauli dan Enrico Fermi pada tahun 1920-an. Feynman brhasil menyelesaikan teori ini.

Kontribusi lain Feynman adalah “Diagram Feynman”, yang menyingkatkan kalkulasi berlembar-lembar menjadi sepoton diagram sederhana yang mudah diinterpretasikan secara fisik. Diagram Feynman ini akhirnya dipakai secara luas dalam mempelajari interaksi antarpartikel.

Ulasan
Feynman lahir di Far Rockaway New York, 11 Mei tahun 1918. Ayah Feynman adalah seorang penjual pakaian seragam militer. Kegemaran Feynman pada sains ditularkan dari pola pendidikan sang Ayah yang mengajari Feynman dengan cara mengobservasi benda dengan diskusi dan menjelaskan contohnya.
Prinsip belajar yang mendidik dari sang Ayah memberi pengaruh yang besar di dalam kehidupan Feynman kelak.

Sebagai seorang pendidik, Feynman menggunakan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari sebagai ganti istilah-istilah sulit yang ada dalam pelajaran fisika untuk memudahkan memberikan pengertian konsep fisika kepada mahasiswanya. Feynman berkeinginan menunjukkan kepada orang-orang bahwa belajar fisika menyenangkan.

“Pengajaran yang hanya mementingkan hafalan tanpa pengalaman merupakan pengajaran diam (silent education). Dengan pengajaran yang seperti ini tentu tidak akan menghasilkan ilmuwan-ilmuwan handal.” (halaman 135)

Kontribusi Feynman dalam bidang sains salah satunya adalah Diagram Feynman. Diagram Feynman adalah hasil ide yang dipikirkan saat Feynman belajar elektrodinamika kuantum. Peninggalan bersejarah ini memberikan bantuan yang besar kepada mahasiswa yang belajar fisika di masa mendatang.

Richard Feynman menerima Penghargaan Nobel Fisika pada tahun 1965. Feynman tetap mengajar dan melakukan penelitian karena ia senang sekali menemukan hal-hal baru. Pada tahun 1986 ia diminta untuk menyelidiki kecelakaan pesawat ulang-alik challenger. Berkat Feynman maka penyebab kecelakaan ditemukan. Pada tahun 1988 Feynman meninggal karena sakit yang dideritanya. Kepergian Feynman meninggalkan duka yang dalam. Pribadinya yang bebas, ramah dan menyenangkan melekat di dalam benak orang-orang yang ditinggalkannya. Di dalam sains yang kaku Feynman menemukan kebahagiaan dan menikmatinya dengan penuh rasa humor.

Buku Feyman yang saya baca sebelumnya kalau tidak salah dari Penerbit Mizan. Mengenai isinya hampir serupa, tetapi tentu saja yang ini versi komik. Dibuat dengan alur campuran (cerita memiliki campuran alur maju dan mundur) namun tetap bisa dinikmati. Kisah di buku ini cukup menggambarkan secara ringkas profile dan karya ilmuwan Richard Feynman. Namun jika Anda ingin mengenal tokoh Richard Feynman lebih luas buku What Do You Care What Other People Think dan Surely You’re Joking, Mr. Feynman! bisa menjadi referensi yang menarik juga loh :)

Citra Rashmi

download
Judul: Citra Rashmi, Konspirasi Putri Mahkota
Penulis: Tasaro GK
Penerbit: Qanita (PT Mizan Pustaka)
Tebal:620

Setiap hal di dunia ini sedang berputar sesuai rencana Langit. Tak perlu bersedih, jangan terlalu bergembira. (Hal 190).

Sannaha kecil dikirim ke luar istana sebagai mata-mata. Calon putri mahkota ini berguru kepada Candrabhaga, pemimpin dari perguruan yang ditengarai sebagai tempat bersarang para pemberontak berbahaya. Ajaran yang dibawa Candrabhaga diyakini dapat memecah belah rakyat dibawah kekuasaan raja Linggabuana, ayahanda putri Sannaha.

Sannaha dimbimbing langsung oleh Candrabhaga untuk belajar ilmu kanuragan. Bukan tanpa sebab jika Sannaha harus memiliki keterampilan bela diri. Sebelum dikirim ke perguruan Sannaha pernah ditawan oleh kelompok pemberontak Yaksapurusa. Dengan bantuan salah seorang putra yang sekaligus anggota Yaksapurusa, Elang Merah, Sannaha berhasil melarikan diri dan selamat.

Setelah empat tahun belajar di perguruan, Sannaha ditarik pulang dan setelahnya perguruan diserang dan dihancurkan oleh prajurit kerajaan. Candrabhaga dan para muridnya kemudian menyingkir ke lereng pangrango.

Bertahun-tahun kemudian Sannaha kembali ke perguruan. Ia datang ke perguruan untuk menyampaikan pesan raja. Namun penghormatan dan kecintaan Sannaha kepada sang Guru memaksa ia bersimpang jalan dengan keinginan sang raja. Sannaha memiliki rencananya sendiri.

Sebagai calon putri mahkota, Sannaha paham benar bahaya yang mengincarnya. Ia terjebak ke dalam perseteruan perebutan kekuasaan dan pemberontakan paling berbahaya yang dikepalai ketua Yaksapurusa, seorang lelaki bengis dan tak mengenal kata kasihan. Puncak kemarahan Sannaha adalah ketika ia mengetahui Guru yang dikasihinya dibunuh secara sadis oleh Merak Hitam, salah seorang anggota utama Yaksapurusa. Sejak itu gendang pembalasan diserukan Sannaha kepada Yaksapurusa. Ia tak akan mundur untuk membalas kematian sang Guru.

Sementara itu, diam-diam Purandara (nama asli Elang Merah), lelaki kecil yang dahulu telah membantu Sannaha membebaskan diri dari tawanan Yaksapurusa menyimpan cinta untuk sang putri mahkota. Sannaha bukan tidak mengetahuinya, karena sesungguhnya ia pun menyimpan perasaan yang sama. Ia tahu bahwa Purandara tidak pernah meninggalkannya. Purandara selalu muncul pada saat-saat genting untuk menyelamatkan dirinya. Kisah percintaan mereka membuat kehidupan Sannaha menjadi semakin rumit.

Berbalikan dengan Purandara, Sannaha memilih untuk tidak larut ke dalam perasaannya sendiri.

“Tidak. Kau tidak mengerti. Kau tidak mau mengerti. Di atas bumi ini, banyak hal yang lebih layak untuk diperjuangkan. Perdamaian, kesejahteraan rakyat, perlawanan terhadap ketidakadilan. Itu semua jauh lebih layak untuk diutamakan.” (halaman 610).

Pun ketika Purandara mengetahui Sannaha menerima pinangan raja wilwatikta.
“Kau boleh meninggalkanku, tapi aku tak akan pernah meninggalkanmu.”

Apa rencana Sannaha, yang memiliki sebutan Putri Citra Rashmi? Konspirasi apa yang sedang direncanakan calon putri mahkota yang teguh hati dan keras kepala itu?

Nah, penasaran? Barangkali rasa ingin tahu itu harus kita simpan lebih lama karena buku ini merupakan dwilogi dari kisah Citra Rashmi.

Ulasan:
Citra Rashmi adalah novel berbalut sejarah yang terinspirasi dari kitab raja-raja. Citra Rashmi sendiri adalah putri kerajaan Sunda yang dikenal dengan nama Dyah Pitaloka Citraresmi. Konon Dyah Pitaloka atau Citraresmi digambarkan sebagai gadis yang memiliki kecantikan luar biasa. Menurut pararaton, ia dijodohkan dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit yang berkeinginan untuk menjadikan Citraresmi sebagai permaisuri. Namun dalam tragedi Perang Bubat dikisahkan Citraresmi melakukan bunuh diri.

Tragedi ini sangat merusak hubungan antara kedua kerajaan (Sunda dan Jawa) yang berakibat permusuhan hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan kedua negara ini tidak pernah pulih kembali seperti sediakala.

Konflik yang ada di dalam buku ini adalah rangkaian kisah berulang di dalam setiap jaman, dengan kemasan yang berbeda. Ajaran atau keyakinan seringkali menjadi sumber perseteruan antar manusia. Pengkhiatanan, perebutan kekuasaan, dan beragam intrik memiliki wajahnya sendiri.

“Lihatlah para pejabat Kawali. Apa bedanya yang mereka lakukan dengan apa yang kukerjakan? Mereka merampasi harta rakyat setiap hari. Dengan cara sopan yang menekan sampai cara paling kasar, bahkan pembunuhan. Apa bedanya? Kecuali mereka mengenakan seragam pembesar, kami sama saja. …. Lihatlah orang-orang Kawali, para tohaan, panglima, sampai prajurit kacangan. Yang mereka lakukan hanyalah membungkus keberingasan mereka dengan pakaian yang necis dan kata-kata memabukkan.” (Hal 405).

Penulis juga menyelipkan sebuah cerita sederhana mengenai keteraturan. Sesuatu, yang barangkali perlahan memudar di dalam sebuah hubungan sosial masyarakat. Menurut KBBI Daring, keteraturan adalah kesamaan keadaan, kegiatan, atau proses yg terjadi beberapa kali atau lebih; keadaan atau hal teratur. Dalam berbagai pergaulan, interaksi antarmanusia, tindakan serampangan lebih banyak dipertontonkan. Mengapa kah?

Sebelum dan Setelah Bersama Bebi …

Mulai dari mana ya? Hm, dari kesamaan sebelum dan sesudah bergabung BBI dulu ya.
Saya berasal dari keluarga yang gemar membaca. Orang tua saya adalah penikmat buku bacaan bahkan kegemaran itu masih berlangsung di usia senja mereka. Koleksi buku bacaan saya banyak banget (dan masih berlangsung sampai saat ini). Rasanya indah sekali masa kanak-kanak :). Masa dimana saya sering berkhayal berada dan bertemu dengan para tokoh yang ada di buku-buku tersebut. Kalau boleh memilih, saya lebih senang membaca buku di rumah daripada harus ke sekolah. Seperti sekarang, saya bahagia banget kalau libur mengajar karena bisa lebih banyak membaca buku… hahaha. (sstt… 😛 )

Oke, singkatnya, sebelum dan setelah bersama BBI saya masih cinta buku. Buku adalah kawan akrab saya. Timbunan buku? Nah, ini berbeda makna ;-). Kalau dulu, timbunan buku itu lebih berarti tumpukan buku yang sudah dibaca dan karena tempatnya nggak ada maka jadi lah semua majalah dan buku ditumpuk sekedarnya. Kalau saat ini, timbunan buku terjadi karena tidak berhasil mengekang keinginan beli buku padahal di rumah masih ada antre-an buku yang belum dibaca. Yah, jangan salahin saya donk, salahin aja toko bukunya yang suka menghilangkan buku-buku bagus dari rak sehingga menyebabkan kita kesulitan untuk mencari buku itu kembali. Maka, tagline ‘mumpung ada, beli aja deh’ terpaksa dijalankan walau terkadang budgetnya melirik-lirik ngga jelas gitu .. wkwkwk.

Dari kesamaan sebelum dan sesudah, sekarang bagian bikin daftar untuk pilihan sebelum dan setelahnya biar jelas. Tada, ini lah dia:

    Sebelum …

  • Nggak punya kawan ngobrol untuk berdiskusi tentang buku. Selesai baca buku ya udah disimpan di dalam ingatan sendiri.
  • Genre buku tidak banyak
  • Nggak ada yang ngasih buku gratis :(, eh kecuali kalau lagi ulang tahun :) P
  • nggak kenal kawan yang jual buku online
    Setelah gabung di BBI …

  • Punya banyak kawan pecandu buku sekaligus penimbun buku :)
  • budget beli buku tambah banyak karena racun yang ditebar oleh sesama anggota BBI dari ulasan buku mereka di blog atau foto dan status mereka di sosial media yang berkaitan dengan buku
  • kadang dihubungi sama penulis buku langsung untuk meresensi buku mereka (asyikk :) )
  • nimbun buku lebih sering
  • ikut reading challenge, walau target tahun kemarin gagal total
  • Sekarang punya wadah untuk mencurahkan isi hati seusai membaca buku melalui tulisan review, dari celoteh singkat dengan sesama kawan penggemar buku
  • punya kawan dan kenalan yang punya banyak informasi mengenai buku, misalnya dimana bisa dapat e-book gratis dan lain-lain :)

Yang pasti, bergabung di BBI banyak memberikan pengalaman berharga. Walau saya termasuk member yang tak begitu aktif dalam banyak event BBI, tetapi sesekali saya meluangkan waktu membaca kabar tentang BBI. Dan saya bersyukur memiliki kawan-kawan yang memiliki kegemaran sama karena kami bisa saling berbagi informasi.

Di empat tahun usia BBI kini. Usia yang masih sangat muda tapi sarat dengan prestasi. Semoga BBI selalu menginspirasi dan semakin banyak generasi muda yang tertulari virus membaca darimu :)

Imam Syafi’i Pejuang Kebenaran

download
Judul: Imam Syafi’i Pejuang Kebenaran
Penulis: Abdul Latip Talib
Penyelaras Bahasa: Wahyu Elvina, S.S.
Penerbit: Emir Cakrawala Islam, imprint dari Penerbit Erlangga
Tebal:277

“Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin karena ia akan menjagamu dan membuatmu bercahaya di dunia dan di akhirat.”

Nama lengkapnya Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafiʿī atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i atau yang lebih dikenal dengan Imam Syafi’i, ulama besar pendiri mazhab Syafi’i. Buku ini menceritakan kisah hidup dan perjuangan Beliau dalam menegakkan kebenaran.

Imam Syafi’i memiliki garis kerabat dari Rasulullah Saw dari keturunan al-muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.

Imam Syafi’i adalah satu dari empat imam besar yang riwayat hidupnya wajib dikenal oleh orang Islam. Selain Syafi’i adalah Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (Mazhab Hambali), Imam Abu Hanifah (Mazhab Hanifah) dan Imam Malik (Mazhab Maliki). Ke-empat ulama ini terkenal karena mereka adalah ulama yang bebas, tidak terikat, dan tidak pula berutang budi kepada siapa pun terutama kepada pemerintah. Keempat mazhab ini tidak pernah berselisih dalam perkara pokok (ushul) agama karena mereka tetap berpegang pada Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW. Keempat ulama besar ini pun tidak pernah memaksa pengikutnya untuk fanatik pada ajaran mereka tanpa menyelidiki kebenaran nas (perkataan atau kalimat dari Alquran atau hadis yang dipakai sebagai alasan atau dasar untuk memutuskan suatu masalah) yang digunakan dalam memutuskan suatu masalah.

“Setiap perkara yang telah saya ucapkan jika bertentangan dengan sabda Rasulullah SAW, maka sabda Rasulullah itu lebih penting untuk ditaati.” ~ Imam Syafi’i

Mazhab-mazhab ini timbul oleh karena pada masa itu umat tidak lagi berpegang pada Al-Qur’an dan Hadis. Untuk itu lah para imam besar ini muncul untuk memimpin umat islam kembali pada Al-Qur’an dan Hadis. Keempat mazhab ini berpegang kepada akidah Ahlus Sunah Waljama’ah.

Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza, Palestina pada bulan Rajab tahun 150 Hijriah. Sejak awal mengandung ibu Imam Syafi’i, Ummu Habibah selalu membaca surah Yusuf dan surah Luqman. Kedua orang tua itu berharap agar kelak bayi mereka memiliki paras rupawan dan cerdas. Harapan itu semakin besar ketika suatu malam si Ibu bermimpi melihat satu bintang keluar dari perutnya lalu naik ke langit. Kemudian bintang itu pecah dan jatuh bertaburan ke bumi. Cahaya dari bintang itu menjadikan bumi terang benderang. Mimpi yang sama dialami juga oleh Idris, sang suami. Harapan keduanya semakin bertambah ketika orang alim yang pandai dalam ilmu tasfir mengartikan makna mimpi tersebut. Kelak, anak tersebut akan menjadi seorang yang berilmu dan ilmunya memenuhi muka bumi. Untuk itu sang tafsir mimpi mengingatkan agar keduanya menjaga dan mendidik anak itu dengan baik, serta mengajarkan kepadanya ilmu agama agar ketika dewasa menjadi insan yang berilmu serta berguna bagi agama, bangsa, dan tanah air.

Ketika di kota Bagdad seorang ulama besar, Imam Hanifah meninggal, pada saat yang sama Syafi’i dilahirkan di kota Gaza. Imam Syafi’i dibesarkan dalam keadaan kekurangan. Ayahnya meninggal di kota Gaza. Sesuai pesan sang suami maka Ummu Habibah pulang kembali ke kota kelahiran mereka di Mekkah. Karena miskin maka Ummu Habibah tidak mampu mengirim anaknya belajar, karena itu ia sendiri yang mendidik Syafi’i. Ia pula yang mengenalkan Syafi’i kepada majelis ilmu yang diadakan secara gratis di Masjidil Haram. Syafi’i sudah mempelajari al-qur’an dan menghapalnya sejak berusia sembilan tahun. Pada usia sepuluh tahun ia sudah memahami dan menghapal kitab Al-Muwatta’ yang dikarang oleh Imam Malik. Ia juga memiliki suara yang merdu, pandai bersyair dan bersajak.

Karena kepandaiannya pada usia 15 tahun ia telah memberi fatwa dan mengajar orang-orang di Masjid Al-Haram. Imam Syafi’i sangat gemar belajar, ia haus akan ilmu pengetahuan. Ia pergi ke banyak tempat untuk belajar dengan para ulama-ulama besar dan menyebarkan ilmu kepada umat manusia. Imam Syafi’i dikenal sebagai pribadi yang zuhud. Kebaikan hati dan kepandaiannya memikat banyak orang. Imam Syafi’i meninggal di Mesir pada usia 54 tahun pada tahun 204 Hijriah.

Apakah jalan hidup Syafi’i sebagai penyampai kebenaran lancar-lancar saja? Tentu saja tidak. Ia dan pengikutnya pernah mengalami siksaan berat dan nyaris dihukum mati karena difitnah oleh kaum mu’tazilah. Ia pun harus menghadapi kebencian dari para pengikut mazhab lainnya. Namun Imam Syafi’i menghadapi segala rintangan itu dengan kesabaran dan keikhlasan.

Pesan imam Syafi’i kepada para pengikutnya:
“Sabar dalam menghadapi musibah adalah sebesar-besarnya arti sabar. Sabar itu memerlukan kesabaran pula. Ada pun celaka dan musibah, menunjukkan adanya perhatian dan kasih sayang Allah. Oleh karena itu, bersyukurlah sebab bersyukur yang seperti itu adalah setinggi-tingginya arti syukur.”

“Siapa yang ingin meninggalkan dunia dengan selamat, hendaklah ia mengamalkan perkara berikut: mengurangi tidur, mengurangi makan, mengurangi bicara, dan merasa cukup dengan rejeki yang ada.”

“Perbanyaklah menyebut Allah daripada menyebut makhluk. Dan perbanyaklah menyebut akhirat daripada menyebut dunia.”

“Berbuatlah sebanyak-banyaknya amal saleh karena itu merupakan dinding dan perisai orang mukmin dan pelindung dari serangan iblis.”

Imam Syafi’i memberikan sumbangan besar dalam bidang perundang-undangan agama Islam. Ia juga menyusun tidak kurang dari 113 buah kitab.

Kinanthi

16096731
Judul: Kinanthi Terlahir Kembali
Penulis: Tasaro GK
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Tebal:534

Kinanthi, merupakan bagian dari tembang atau puisi tradisional Jawa, yang menggambarkan tahapan kehidupan manusia.
Diawali dari Maskumambang. Tembang pertama ini menceritakan ketika calon bayi berada dalam kandungan ibunya. Mas artinya belum ketahuan apakah si calon bayi laki-laki atau perempuan. Kumbang artinya hidup calon bayi itu mengambang dalam kandungan si ibu.
Tembang kedua adalah Mijil, ketika bayi sudah lahir, sudah diketahui pula jenis kelaminnya. Selanjutnya adalah tembang Kinanthi, yang berasal dari kanthi atau tuntun. Artinya dituntun supaya anak manusia bisa berjalan menepuh kehidupan di alam dunia.
Berikutnya, Sinom, artinya kanoman, yaitu bekal untuk para remaja supaya menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Dilanjutkan oleh tembang kelima, Asmarandana yang berarti rasa cinta kepada seseorang. Kemudian Gambuh, asalnya dari kata jumbuh. Maksudnya, jika dua orang laki-laki dan perempuan sudah jumbuh, cocok, sebaiknya disatukan dalam sebuah pernikahan.
Tembang ketujuh, Dandanggula, menggambarkan hidup seseorang yang sedang bahagia. Apa yang diingini bisa terlaksana. Punya keluarga, anak, harta yang cukup. Makanya, orang yang bombong atine, senang hatinya, dikatakan sedang ndandanggula.

Selanjutnya, Durma, tembang yang sulit. Durma memiliki arti weweh atau bederma. Seharusnya, ketika seseorang sudah hidup serbacukup, akan muncul dalam hatinya keinginan untuk berbagi. keinginan untuk menolong sesamanya yang sedang mengalami kesulitan.
Pungkur adalah tembang berikutnya yang memiliki maksud untuk menyingkir dari segala nafsu angkara murka. Hal yang dipikir adalah bagaimana menolong orang lain, tidak lagi memikirkan kepentingan pribadi. Semua untuk orang lain.

Dan terakhir adalah, Megatruh dan Pocung. Megatruh artinya putus nyawa. Seseorang harus rela untuk kembali kepada Sang Pencipta, jika saatnya tiba. Dan Pocung, berarti hidup kita akan berakhir dengan kain mori putih atau pucung kemudian dikubur.

Review
Kinanthi bercerita tentang seorang anak dari sebuah dusun yang dijual oleh orang tuanya demi 50 kg beras. Kemiskinan yang parah membuat orang tua Kinanthi tak memiliki pilihan lain. Kinanthi merasa sakit hati. Ia dipaksa meninggalkan kampung halaman, adik dan laki-laki teman bermain yang dicintai dan mencintainya diam-diam. Lelaki yang tak pernah sekalipun hilang dari ingatan Kinanthi.

Bermula dari menjadi pembantu rumah tangga di Bandung dari orang tua yang ternyata merupakan penyalur pembantu rumah tangga. Kemudian dijual dan menjadi TKI di tanah Arab. Harapan akan kehidupan yang lebih baik di tanah Arab alih-alih menyisakan kepedihan. Beberapa kali kabur dari tempat majikan, ditipu, disiksa serta ancaman perkosaan adalah bagian perjalanan hidup yang harus dilalui Kinanthi. Sampai suatu hari, ia menerima pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga untuk pasangan yang akan berangkat ke Amerika.

Berubahkah hidup Kinanthi di Amerika? Ternyata, kesengsaraan dan kegetiran belum menghilang dari Kinanthi. Pasangan yang semula baik ternyata memperlihatkan keaslian karakter mereka. Ada skenario balas dendam dari majikan Kinanthi sebelumnya. Penderitaan Kinanthi belum lah usai. Sampai suatu hari ia ditemukan oleh seorang perempuan Arab yang terenyuh melihat kondisinya di sebuah pagi di masjid. Dan melalui pengadilan Amerika, kehidupan Kinanthi berubah.

Ulasan:
Yang menarik dari buku ini adalah perenungan dan pemikiran yang dihadirkan melalui tokoh Kinanthi. Contohnya, penderitaan yang diperoleh Kinanthi dari majikan-majikan Arabnya, kegiatan Ibu asuhnya yang menganggap perlawanannya sebagai wujud perjuangan bagi kaum perempuan Islam digambarkan membuat Kinanthi berkesimpulan bahwa agama semakin membuatnya tidak merasa nyaman.
“Aku bahkan tidak peduli bagaimana kalian akan shalat,” Kinanthi mengalihkan pandangannya ke pintu,”Aku tidak memikirkan hal-hal semacam itu lagi. Buat apa? Agama tidak bisa mendamaikan hati kalian. Satu masjid saja saling mencaci dan mencari-cari kesalahan. Apa poinnya? Kalian sibuk berdebat bagaimana caranya menyembah Tuhan, tapi lupa untuk menyampaikan esensi kehendak Tuhan untuk menyebarkan kebaikan,” (halaman 265).

Atau di suatu dialog antara Kinanthi dengan rekan kerjanya.
Zhaxi: “Waktu ke India, seorang kenalan menghadiahi saya sebuah buku yang mengatakan, nabi orang Islam diakui juga oleh Buddha, Hindu, Zoroaster. Saya melihatnya sebagai sebuah kerinduan manusia untuk berdamai dengan sesama umat Tuhan. Berperang atas nama Tuhan bagi saya memang masih sangat membingungkan.” (halaman 300)

Obrolan menarik dari buku ini adalah bab dimana Kinanthi menjadi pembicara di acara peluncuran sebuah buku. Berikut adalah sepenggal kutipannya.
“Anda tahu, kita tidak bisa menghakimi sebuah kebudayaan dengan kacamata budaya kita. Namun dalam kasus Zana, justru dia yang mengalami gegar budaya ketika harus mempraktikkan pola tradisi lokal Yaman. Sementara sepanjang hidupnya sebelum itu, dia hanya mengenal kebiasaan masyarakat Inggris. Cara hidup yang rasanya biasa-biasa saja bagi para perempuan Yaman, pada waktu itu, berarti penderitaan tak terkira bagi Zana dan adiknya. Ini jelas tentang dua budaya yang saling memangsa, bukan saling melengkapi.”

Maka, apakah perlakuan kejam yang diterima oleh para TKI itu juga bisa disebut sebagai bentuk pemangsaan budaya? Mari kita baca komentar dari tokoh buku kita, Kinanthi.
“…Saya bekerja seperti kuda dan dinamakan pembantu rumah tangga. Saya lebih merasa diperlakukan sebagai budak.” (halaman 318)

Kesimpulannya (barangkali), sesuatu yang membuat seseorang tertekan, terpaksa, dan tidak bahagia atau yang ia yakini sebagai sebuah penyiksaan seumur hidup maka bisa dikategorikan sebagai bentuk adanya pemangsaan budaya atau … penjajahan?

Jika kita mengkaitkan agama (Islam) dengan nasib naas yang menimpa para TKI, maka kutipan di bawah ini patut disimak.
“Saya pikir kita mengalami kemunduran jika masih berpikir sebuah agama mengajarkan cara hidup semacam ini. Saya lahir di keluarga muslim meskipun tidak mempraktikkan ritus islam. Begitu juga Zana. Zana akhirnya menemukan keyakinannya dalam Islam, sedangkan saya baru sampai pada tahap meyakini harus ada pemisahan antara ajaran agama ini dan tingkah laku para penganutnya. Majikan saya semua muslim dan tidak ada satu pun di antara mereka yang mengenalkan nilai moral islam lewat perilaku mereka. Indonesia itu jumlah orang Islamnya nomor satu, begitu juga angka korupsinya. Saya pikir, Nabi Muhammad Saw. sebagai tokoh sentral agama ini, tahu benar detail ajaran agama ini tidak pernah mengajarkan korupsi.” (halaman 319)

Sebagai pembaca saya larut dalam pemikiran si tokoh Kinanthi. Saya tidak menafikan, acap kali pertanyaan serupa melintas, bagaimana mungkin seseorang bisa taat menjalani ritual agama sementara di saat yang sama dengan mudahnya melakukan pelanggaran nilai moral agamanya sendiri.

Ah, buku ini lumayan menguras pikiran juga loh :). Saya bertanya-tanya lalu apa yang mempengaruhi baik buruknya perilaku seseorang? Agama? Hati nurani? Logika? Atau malah mungkin semuanya? Entahlah.

Yang jelas ini buku bagus. Alih-alih menerka akhir cerita kepala saya justru penuh dengan berbagai pertanyaan yang berkelindan.

Kitab Komik Sufi 3

download
Judul: Kitab Komik Sufi 3
Penulis: Ibod
Penerbit: Muara (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal:146

Sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. (sumber dari sini)

Sufisme merupakan konsep dalam Islam yang mengajarkan tentang cinta kepada Tuhan, Nabi, dan kepada sesama makhluk.

Kebijaksanaan sufi tidak hanya dapat ditemukan di cerita-cerita bijak, nasihat dan hikayat namun juga dalam cerita keseharian yang seringkali tampak sepele bahkan mengundang tawa.

Kisah kebijaksanaan sufi yang ada dalam cerita-cerita Nasruddin Hoja, misalnya menyimpan pesan yang memunculkan banyak persepsi. Nasruddin Hoja adalah salah satu tokoh legenda kaum sufi yang memiliki anugerah kebijaksanaan. Ia seringkali membuat ulah yang menarik perhatian bagi banyak orang. Namun dibalik tingkahnya yang tampak jenaka dan lugu, terdapat pelajaran berharga bagi kita untuk menempuh perjalanan hidup di dunia.

Di antara kisah Nasruddin Hoja adalah ketika suatu hari seorang kawan melihat Nasruddin shalat tergesa-gesa. Si kawan ini kemudian memerintahkan Nasruddin untuk mengulang shalatnya dengan perlahan. Usai menyelesaikan shalat, si kawan bertanya kepada Nasruddin, “Bagaimana menurutmu sekarang, mana yang lebih baik antara shalatmu yang pertama atau yang kedua,” Dan Nasruddin menjawab yang pertama. “Karena shalatku yang pertama walau bagaimanapun kulakukan karena Allah semata, sedangkan yang kedua kulakukan untuk penilaian Anda.” (hal 18)

Reaksi kita sebagai pembaca barangkali tersenyum pahit, karena boleh jadi kita sering melakukan sesuatu karena berharap penilaian orang lain dan bukan atas dasar keikhlasan dalam diri.

Nasruddin pun seringkali menyindir perilaku kita, manusia, dengan menempatkan dirinya sendiri sebagai tokoh yang tampak bodoh dan lugu.
Misal, dalam cerita lain dimana ia kedatangan tamu dari jauh. Ketika ia meminta tolong istrinya untuk menghidangkan makanan ternyata istrinya mengatakan bahwa Nasruddin lupa membeli beras. Dan Nasruddin pun kemudian menyajikan piring kosong di depan tamunya sambil berujar, “Kawan, seharusnya di piring ini ada nasi goreng, sayang aku lupa beli beras.” (hal 31)

Lainnya adalah ketika Nasruddin bertanya kepada seorang pemuda.
N: Engkau akan bekerja apa di kota nanti?
P: Aku belum tahu pasti, yang jelas aku akan bekerja dengan jujur
N: Kalau begitu engkau akan punya sedikit saingan

Pesan: Kejujuran adalah hal yang langka dan berharga. (hal 53)
(meskipun langka, tetap milikilah kejujuran. Karena nilai manusia itu ada pada kejujurannya).

Beberapa kutipan bagus dari buku ini:
“Mengharap kebahagiaan abadi dengan menzalimi orang lain adalah sesuatu yang tidak mungkin”. (halaman 69)
“Hawa nafsu ibarat keledai tunggangan, kalau tidak dikendalikan akan menjadi liar sehingga bahkan si pemilik hawa nafsu tak punya kendali atasnya. (hal 78)

Buku Kitab Komik Sufi 3 ini tidak sekedar menyajikan cerita jenaka kosong tanpa arti sebaliknya sarat makna dan juga sindiran atas sikap perilaku kita. Cerita Nasruddin yang mengalir di dalam buku ini adalah juga cerita keseharian kehidupan manusia dengan berbagai permasalahannya.
Membaca buku ini diperlukan kelapangan hati untuk menerima atau bahkan mentertawai diri kita sendiri. Barangkali kita tersindir, tertohok apapun itu namanya. Bersyukurlah, itu tanda bahwa kita masih punya hati nurani.

The Great of Two Umars

buku_The-Great-of-Two-Umar
Judul: The Great of Two Umar
Penulis: Fuad Abdurrahman
Penerbit: Zaman
Tebal: 346

Buku ini berkisah tentang dua khalifah paling legendaris, yaitu Umar ibn Al-Khathab dan Umar ibn Abdul Aziz. Bagaimana sosok mereka sebagai pribadi dan khalifah sesudahnya dikisahkan dengan sangat menarik di dalam buku ini.

1. Umar ibn Al-Khathab

Doa Rasulullah, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang laki-laki yang paling Engkau cintai di antara keduanya: Umar ibn Al-Khathab atau Amr ibn Hisyam.”

Dan, Allah mengabulkan permohonan Nabi Muhammad saw. dengan memilih Umar ibn Al-Khathab.

Umar ibn Al-Khathab adalah pribadi yang unik: keras tapi berhati lembut. Ia telah menjadi al-faruq atau pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Dari seorang pembenci Islam ia berubah menjadi pendukung utama Islam. Ia lah orang yang melawan kebathilan di seluruh jazirah Arab hingga di seluruh dunia pada akhirnya.

Kalau blusukan baru menjadi perhatian pemimpin kita saat ini, sebaliknya kegiatan blusukan sudah lama dilakukan oleh kedua pemimpin Islam ini. Selama menjabat khalifah, Umar kerap menyamar menjadi orang biasa untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Ia bahkan tak sungkan turun langsung membantu kesulitan rakyatnya. Seringkali rakyat yang dibantunya bahkan tak mengenali bahwa sosok yang membantu mereka itu adalah raja mereka sendiri. Umar akan merasa sangat bersalah dan bersedih hati jika mengetahui ada rakyatnya yang masih hidup dalam kesulitan.

Ada sebuah cerita menarik yang mungkin bisa menjadi renungan untuk kita semua, terutama di tengah maraknya kasus korupsi yang seperti tak berkesudahan di negeri ini.

“Suatu hari, Umar menjelaskan kepada para sahabatnya mengenai betapa pentingnya amar ma’ruf dan nahyi munkar dalam kehidupan masyarakat. Dia berkisah lewat tamsil berikut ini.
“Sekelompok orang naik perahu mengarungi lautan. Sesuai kesepakatan dan andil masing-masing, setiap orang mendapatkan tempat sendiri-sendiri dalam perahu itu.
Tiba-tiba, salah seorang diantara mereka ada yang sengaja mau merusak kaveling yang menjadi bagiannya. Dia merasa bebas berbuat apa saja terhadap kaveling yang sudah menjadi miliknya. Kapak di tangannya siap diayunkan untuk menghantam bagian perahu yang menjadi kavelingnya itu.
Bagaimana sikap teman-temannya menyaksikan hal tersebut? Mungkin ada yang acuh tak acuh, ‘Biarkan saja, itu toh kavelingnya sendiri!’ Mungkin ada yang berusaha bertanya atau menegur mengapa dia berbuat demikian. Mungkin ada pula yang langsung memegang tangan orang yang bersangkutan, dan berusaha merebut kapak yang akan digunakan untuk merusak perahu tersebut.
Namun yang jelas, apabila semuanya diam, membiarkan orang itu merusak kaveling bagiannya, bukan dia sendiri yang terancam bahaya perahunya akan tenggelam, melainkan seluruh penumpang juga ikut terancam.” (Halaman 140).

Umar memberi pesan tentang hidup bermasyarakat. Bagaimana kita bersikap dan berperilaku sejatinya bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja melainkan juga memperhatikan kebutuhan dan kepentingan orang banyak. Tidak diragukan, selama kepemimpinannya, Umar selalu mendahulukan kepentingan orang banyak dibandingkan kepentingannya sendiri. Ia menolak kenaikan gaji yang disarankan oleh sahabat-sahabatnya. Ia tidak meminta perlakuan istimewa ketika suatu hari ia dituntut di persidangan karena berselisih paham dengan Ubay. Ia bahkan marah ketika sang Qadhi memberi hormat kepadanya layaknya orang yang memberi hormat kepada khalifah. Ia menolak perlakuan istimewa yang diberikan sang Qadhi. Ucap Umar, “teruskanlah pengadilan ini sebagaimana mestinya. Sesudah ini, aku akan memikirkan tindakan apa yang akan diambil terhadap Saudara atas sikap Saudara yang tidak bersedia memperlakukan para terdakwa sama rata di pengadilan hanya karena orang itu adalah Umar.” (halaman 76)

Itulah Umar ibn Al-Khathab, yang perkataan dan perbuatannya selaras. Ia akan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, bahkan kepada anak kandungnya sendiri. Ia marah kepada siapapun yang bermaksud melakukan penyimpangan dalam penegakan keadilan. Walaupun tampak kasar, keras, dan tegas, namun Umar pasti mendengar orang yang memberi nasihat atau ide kepadanya. Ia sosok yang bisa menerima kebenaran dengan penerimaan hati yang lembut.

Di dalam masa pemerintahan Umar ajaran Islam berkembang pesat dan menjadi negara adikuasa yang menaklukkan imperium Persia dan Bizantium. Menjelang ajalnya, Umar meminta ijin kepada Aisyah, melalui anaknya Abdullah, agar dimakamkan di sisi kedua sahabatnya (Rasulullah dan Abu Bakar). Aisyah menerima. Umar bersyukur kepada Allah seraya berkata,”itu keinginanku yang paling penting.” (halaman 223)

Potongan syair dari Atikah, salah satu istri Umar untuk suaminya.

Penyayang kaum lemah, keras terhadap lawan
Kawan tepercaya, tempat kembali dalam mara-bahaya
Tatkala berkata, ucapannya tidak mendustai Allah
Cepat tidak lamban dalam berbuat kebaikan

2. Umar Ibn Abdul Aziz

Alkisah suatu hari Umar ibn Al-Khathab melaksanakan ronda malam mengelilingi kota Madinah. Ketika ia tengah beristirahat di sebuah dinding rumah terdengarlah sebuah percakapan seorang Ibu dengan putrinya. Sang Ibu memerintahkan putrinya untuk mencampur susu dengan air. Namun si putri menolak karena ia teringat pesan Khalifah Umar yang melarang penjual susu untuk mencampur susunya dengan air karena mengharapkan banyak keuntungan. Si Ibu terus mendesak dan putrinya tetap menolak.
“Tuhannya Khalifah Umar ibn Al-Khathab, Tuhan kita, Tuhan Semesta Alam. Dia tetap melihat kita walau di lubang semut di tengah malam pekat sekalipun. Ibu, demi Allah, aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menaati perintah di tempat ramai, dan durhaka di tempat sunyi,” tegas sang gadis menolak permintaan ibunya. Umar yang mendengar percakapan itu meminta pembantunya untuk menandai rumah tersebut. Mengetahui bahwa di dalam rumah itu tinggal seorang gadis yang belum menikah bersama ibunya, Umar berniat untuk meminang gadis tersebut untuk putranya, Ashim yang belum menikah. Akhirnya disampaikanlah keinginan tersebut. Pasangan ini kemudian menikah. Mereka memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuan ini lah yang kelak melahirkan seorang bayi lelaki yang diberi nama Umar ibn Abdul Aziz.

Umar ibn Abdul Aziz adalah cicit Umar ibn al-Khathab. Jauh sebelum Umar ibn Abdul Aziz dilahirkan, sang buyut telah melihat sosoknya dalam mimpi. Konon, Umar bermimpi. Ia terbangun, “Siapakah orang Bani Umayah dalam mimpiku ini? Salah seorang keturunan Umar, memiliki nama Umar, dan akan menjadi pemimpin dengan karakter Umar,”. Empat puluh tahun kemudian sang cicit lahir, ia lah Umar ibn Abdul Aziz dari Bani Umayyah. Terinspirasi oleh kepemimpinan Umar ibn Al-Khathab, sang cicit menjalankan pemerintahan sebagaimana Umar ibn Al-Khathab, sang buyut melakukannya.

Umar ibn Aldul Aziz terkenal karena kezuhudan dan keadilannya seperti leluhurnya, Umar ibn Al-Khattab.

Sejak kecil Umar ibn Abdul Aziz sudah menunjukkan kecintaan kepada ilmu. Ia menyukai sastra dan telah hafal Al-Qur’an sejak dini. Hafalannya pada Al-Qur’an memberinya pengetahuan tentang Allah, kehidupan, alam semesta, surga, neraka, qadha, qadhar, dan hakikat kematian. Semua pengetahuan itu membuat Umar ibn Abdul Aziz sering menangis, terutama mengingat kematian dan kehidupan akhirat.

Ia tumbuh menjadi seorang anak yang kritis, menghormati guru dan para ulama pada masanya. Ia tidak menyukai kezaliman. Umar ibn Abdul Aziz menjadi gubernur pada usia muda. Ia kemudian mengundurkan diri. Ia sering berseberangan dengan khalifah Al-Walid yang memerintah dengan banyak melakukan tindakan zalim. Ia pun menentang ketika Khalifah Al-Walid hendak mencabut hak Sulaiman dan menggantinya dengan mengangkat putranya menjadi khalifah sesudahnya.

Setelah penobatan Sulaiman menjadi Khalifah, Umar ibn Abdul Aziz diangkat menjadi penasihat sekaligus menterinya. Keduanya selalu bersama. Abdul Aziz banyak memberikan pengaruh kepadanya. ketika ia merasa ajalnya semakin dekat, Sulaiman membuat surat keputusan pengganti dirinya. Ia menunjuk Umar ibn Abdul Aziz. Bagi Umar, pengangkatan dirinya menjadi khalifah adalah musibah.

Selama menjadi pemimpin, Umar dikenal dengan ketegasan dan keadilannya. Kebijakan pertama yang dibuat Umar menyebabkan ia dimusuhi oleh keluarga dari ayahnya. Setelah gagal bernegosiasi dengan Umar secara langsung maka Bani Umayyah mengutus bibi mereka, seorang yang juga dihormati oleh Umar untuk berbicara kepada Umar. Setelah perbincangan panjang, sang bibi kembali menemui Bani Umayyah dan menyampaikan perkataan Umar. Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa sang bibi berkata kepada Bani Umayyah.
“Kalian merugikan diri sendiri! Kalian menikah dengan anak cucu Umar ibn Al-Khathab, tetapi ternyata hanya Umar ibn Abdul Aziz yang meneladaninya!”

Umar juga memecat gubenur dan pejabat yang zalim, memberikan perlindungan dan keamanan untuk seluruh rakyat tanpa membeda-bedakan ras dan agama, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Ia juga mengembalikan hak-hak orang tertindas. Hal yang sama diberlakukan Umar untuk dirinya sendiri. “Ia mengembalikan harta bendanya yang mengandung unsur kezaliman atau ragu akan kemurnian haknya pada harta benda tersebut. Ia mengembalikan semua itu kepada pemiliknya yang asli karena kezuhudan dan kepercayaannya bahwa mengembalikan harta benda yang didapatkan tanpa hak kepada pemilik aslinya adalah salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah dan meletakkan hak pada tempatnya.” (halaman 314)

Seperti Umar ibn Al-Khathab, Abdul Aziz memiliki hati yang lembut. Ia seringkali menangis jika mengingat mati dan akhirat. Ia seorang yang memiliki rasa kepedulian yang sangat besar terhadap orang lain. Ia pun lapang dalam menerima nasihat dan kritikan.

Satu cerita ini barangkali tak asing. Suatu malam, Khalifah Umar sedang mengerjakan tugas negara dengan ditemani lampu minyak kecil. Kemudian datanglah seorang keluarganya. Ketika Umar mengetahui bahwa kedatangan keluarganya adalah untuk membicarakan urusan pribadi maka Umar segera mematikan lampu minyak tersebut. Keluarganya heran dan mempertanyakan hal itu. Kata Umar, “Wahai Saudaraku, bukankah engkau datang ke sini untuk keperluan pribadi, yang tak ada kaitannya dengan urusan negara? Sedangkan, lentera minyak ini dibiayai oleh negara. Agar kita tidak menyalahgunakan harta kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, maka lampu ini aku matikan.” (halaman 296)

Begitulah Umar ibn Abdul Aziz, yang memulai dari dirinya sendiri untuk menjadi contoh dan panutan bagi rakyat.

Masa kepemimpinan Umar tidak lah lama, ia sakit karena diracun oleh pelayannya (yang sebenarnya menolak melakukan itu) yang ditekan oleh orang-orang dibalik aksi itu. Dalam masa kepemimpinan yang singkat (dua tahun lima bulan empat hari) Umar berhasil memimpin sehingga kesejahteraan dan keadilan dirasakan oleh seluruh rakyat.

Dalam sebuah surat kepada penggantinya, Yazid ibn Abdul Malik (yang dipilih oleh khalifah sebelumnya, Sulaiman, setelah mengangkat Umar ibn Abdul Aziz terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk menghindari pertikaian dari keluarga Abdul Malik yang merasa lebih berhak menggantikan khalifah Sulaiman pada saat itu), Abdul Aziz berpesan:
” ….
Aku juga berpesan kepadamu agar engkau selalu bertakwa kepada Allah. Perhatikanlah kepentingan masyarakat. Utamakan mereka. Engkau hanya hidup sebentar saja karena engkau juga akan dipanggil Tuhan Yang Maha Lembut juga Maha Mengetahui.”

Menjelang ajalnya, Umar melantunkan firman Allah:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash [28]:83).
(halaman 336)

Umar pergi untuk selamanya. Kedua mata Umar tertutup, mata yang selama ini tidak pernah menutup diri dari hak Allah dan hak manusia. Umar telah kembali kepada Tuhan-nya, bertemu dan berkumpul bersama golongan yang diberi nikmat Allah Ta’ala.

Jika kita mengira bahwa kepemimpinan yang adil itu bisa terwujud karena pada masa itu tidaklah serumit sekarang situasinya, baca lah kisah Umar ibn Abdul Aziz ini. Abdul Aziz mewarisi kekhalifahan sebelumnya yang jauh dari keadilan dan dekat dengan kezaliman dan penindasan. Saat itu pun tak banyak yang membantu dan mendukung dirinya dalam menjalankan roda kepemimpinan. Namun nyatanya Abdul Aziz berhasil membangun pemerintahan yang bersih, adil dan sejahtera.

Umar ibn Abdul Aziz memilih untuk menegakkan keadilan di jalan Allah. Ia bekerja tanpa pamrih untuk kemaslahatan umat. Cukuplah ridha Allah atas dirinya.

Kisah-kisah teladan kepemimpinan dalam buku ini sungguh menyentuh, dan menghadirkan keterharuan. Semoga kita semua (tak hanya para pejabat dan pemimpin negeri) bisa meneladani kepemimpinan dua khalifah besar umat islam ini.

Dan, untuk negeri ini, semoga suatu hari nanti Allah berkenan memberikan kita pemimpin-pemimpin yang adil seperti kedua Umar di atas. Amin.

Anak Bukan Kertas Kosong

download (7)
Judul: Anak Bukan Kertas Kosong
Penulis: Bukik Setiawan
Penerbit: Pandamedia
Tebal: 249

Setiap anak itu istimewa, barangkali itu lah pesan singkat yang saya tangkap dari buku Anak Bukan Kertas Kosong. Pak Bukik, penulis buku ini akan mengingatkan kita kembali kepada visi dan misi yang pernah disampaikan oleh Bapak Pendidikan Negeri Indonesia tercinta, Ki Hadjar Dewantara.

Jauh sebelum teori kecerdasan majemuk Howard Gardner diamini oleh banyak orang, Ki Hadjar Dewantara sudah menelurkan dasar-dasar pendidikan yang mengarah kepada keragaman kodrat anak dan interaksi mereka dengan lingkungannya.

Ada tiga pemikiran KDH yang kemudian menjadi dasar penulis untuk membuat buku Anak Bukan Kertas Kosong. Pertama, bahwa setiap anak itu istimewa. “Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.”

Anak, sejak lahir telah dibekali kecerdasan tertentu. Kecerdasan satu anak dengan anak lainnya akan berbeda. Mereka hanya butuh bertemu orang yang dapat menumbuhkembangkan kecerdasan tersebut agar optimal. Siapakah orang-orang itu? Mereka lah yang disebut KDH sebagai pendidik, yaitu: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Namun, keluarga, dalam hal ini orang tua memegang peranan yang sangat penting sebagai pendidik utama putra-putri mereka. Seperti diungkapkan oleh KDH dalam tulisannya berikut ini.
“Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas.”

Pendidikan tidak bisa dialihtugaskan kepada sekolah, lembaga bakat, atau sesiapapun. Pendidikan putra-putri kita adalah tanggung jawab kita sendiri terhadap mereka. Keluarga adalah benteng yang dapat melindungi anak-anak kita dari pengaruh luar yang buruk. Setidaknya, kita berharap agar pengaruh buruk dari luar yang masuk dapat diminimalisir.

Pemikiran kedua dari KDH adalah, belajar bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke diri anak. Belajar adalah proses membentuk pengetahuan, mengonstruksikan pemahaman.

Sistim pendidikan konvensional, tidak hanya di Indonesia, memang belum bisa menampung semua keistimewaan anak. Kurikukulum tunggal membuat kecerdasan anak diseragamkan sedemikian rupa agar sesuai dengan parameter kecerdasan yang ditentukan oleh pusat. Akibatnya, tanpa disadari kita telah mematikan bibit-bibit potensi kecerdasan lain yang dimiliki oleh anak-anak itu.
“Ketika keberagaman potensi anak hanya dilihat dari kecerdasan tunggal, banyak anak yang akan mengalami kesulitan belajar.” (halaman 67).

Di sinilah tugas pendidik diperlukan, bagaimana ia bisa menumbuhkan potensi yang dimiliki oleh seorang anak alih-alih memasukkan pengetahuan sebanyak-banyaknya di benak mereka.

Ketiga, pentingnya peranan keluarga dalam pendidikan anak.

Kehidupan modern saat ini telah banyak mengubah cara pandang orang bersikap dan berperilaku. Keluarga, dalam hal ini orang tua, melupakan peran mereka sebagai pendidik utama untuk putra-putri mereka. Pendidikan seolah cukup diserahkan kepada sekolah. Padahal bukan itu, sejatinya “keluarga adalah pusat dan keadaan terbaik bagi pendidikan anak.”

Tugas kita, orang tua, adalah mendidik mereka dengan baik, mengarahkan potensi yang mereka miliki untuk bisa bertumbuhkembang optimal sehingga memberikan manfaat bagi diri sendiri, orang lain dan sekelilingnya.

Dengan merujuk kepada tiga pemikiran KDH di atas, Pak Bukik mengajak kita semua untuk bersama kembali meluruskan tujuan pendidikan ke arah yang lebih baik untuk putra-putri kita. Menggali potensi yang mereka miliki dengan memberikan ruang dan kebebasan bagi putra-putri kita untuk berkreasi. Terdapat juga panduan bagi para orang tua untuk berperan di dalam mengembangkan bakat dan kecerdasan anak. Buku yang patut dibaca utamanya oleh orang tua dan pendidik di sekolah.

Saya ingin mengutip kalimat bagus dari Abuya Assayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Almaliki
“Orang tua laksana busur, dan anak-anaknya bagaikan anak panah. Busur yang baik adalah yang mampu melesatkan anak panah jauh melewati zamannya”.

Sebagai penutup review buku Anak Bukan Kertas Kosong, berikut ini adalah syair Khalil Gibran yang bercerita tentang anak. I really like this poem :)

Anakku : Kahlil Gibran
Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

(Terima kasih untuk Pak Bukik yang telah memercayakan saya untuk me-review buku Anak Bukan Kertas Kosong. Semoga bermanfaat :) ).

Ka’bah

download

Kendati Ka’bah telah beberapa kali mengalami pemugaran, tetapi fondasi yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim tidak goyah dan tidak diganti. Demikian Allah mengekalkan usaha Nabi Ibrahim sepanjang masa, karena keikhlasan beliau.

Ka’bah berbentuk kubus atau segi empat sehingga mengarah ke timur, barat, laut, selatan, dan utara. Bentuk demikian untuk melambangkan kehadiran Tuhan dimana-mana (baca: QS. al-Baqarah [2]:115]. Bangunan Ka’bah tidak sakral, tetapi ia wajib dihormati sebagai lambang kehadiran Allah sekaligus sebagai “meeting point”.

tawaf1

Tidak otomatis semua orang yang berkesempatan masuk ke dalam ruangan Ka’bah adalah orang-orang yang memperoleh restu Allah. Bukankah dahulu sempat masuk sekian banyak kaum musyrik dan bukankah di sana pernah ditempatkan dan disembah aneka berhala? Yang memandang Ka’bah, apalagi yang masuk ke dalamnya, disertai dengan kekaguman dan penghormatan kepada lambang kehadiran Allah itu serta merasakan kehadiran-Nya, mereka lah yang memperoleh ganjaran dan anugerah-Nya. Demikian, wa Allah A’lam.

Sumber: Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih, M. Quraish Shihab.

Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW

download
Judul: Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Tebal: 1150

Ada banyak buku bercerita mengenai sejarah Nabi Muhammad. Buku ini adalah salah satunya.

Sinopsis
Bermula dari cerita mengenai kondisi umum masyarakat sebelum kehadiran Nabi Muhammad Saw. Sementara di semenanjung Arabia sendiri, masyarakat Arab pada masa itu digambarkan sangat mahir menggunakan bahasa mereka dengan baik dan tepat, bahkan tidak jarang mereka mengucapkan kalimat bersajak atau syair-syair secara spontan. Pada masa itu syair juga berfungsi sebagai media, seperti koran atau tv jaman sekarang. Karena umumnya mereka tidak pandai membaca dan menulis maka mereka sangat mengandalkan hapalan. Kemampuan mereka mengingat sangat mengagumkan, dan kelebihan ini lah nantinya yang berperan dalam memelihara keotentikan ayat-ayat al-Qur’an.

Masyarakat Arab secara umum saat itu percaya kepada Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as. Namun ajaran itu sedikit demi sedikit luntur dan disalahpahami. Walaupun mereka mengagungkan Nabi Ibrahim dan mengakui wujud Allah sebagai pencipta alam raya, tetapi dalam substansi yang berbeda.

Dari kondisi masyarakat jahiliyah, kemudian pohon keluarga Nabi, pengutusan Nabi Muhammad dan dakwah sembunyi-sembunyi yang dimulai dari keluarga terdekat. Sampai kemudian Nabi melakukan dakwah secara terang-terangan dan dimusuhi oleh masyarakat Quraisy. Ditolak oleh kaumnya sendiri namun sebaliknya ajaran Nabi Muhammad diterima oleh masyarakat di Madinah. Kemudian Nabi hijrah ke Madinah dan berhasil membangun komunitas muslim yang hidup tenang sambil berdakwah.

Perang Badar I
Perang badar I adalah perang yang disebabkan oleh dirampasnya aset-aset kaum muslim di Mekkah. Melihat hal ini, Nabi dan para sahabatnya memutuskan untuk menghadang kafilah Mekah yang dipimpin oleh Abu Sufyan dalam perjalanan pulang dari Syam ke Mekkah. Maka pergilah Nabi bersama orang-orangnya. Abu sufyan yang mengetahui rencana ini meminta bantuan kepada masyarakat musyrik Mekkah. Kemudian dipimpin Abu Jahal berangkatlah pasukan kaum musyrik. Para kafilah berhasil lolos. Abu Sufyan kemudian meminta pasukan musyrik untuk kembali namun Abu Jahal menolak dan memutuskan bersama pasukannya untuk melanjutkan perjalanan dan berangkat menuju Badar. Akhir kisah perang Badar dimenangkan oleh kaum muslim.

Kekuatan muslim semakin bertambah demikian juga kebencian kaum musyrik. Perang besar lainnya adalah perang Uhud. Perang ini mengambil korban paling banyak dari pihak muslim. Peristiwa itu dipicu oleh ketidakpatuhan pasukan pemanah yang ditugaskan Nabi untuk tidak meninggalkan tempat. Namun mereka lalai oleh karena tergoda harta yang ditinggalkan oleh kaum musyrik yang saat itu sebenarnya sudah kepayahan.

Cerita selanjutnya berkisar pada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama periode hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah.

Kesan:
Yang menarik dari buku ini adalah: Pertama, saya sukar mengalihkan perhatian ke tempat lain :). Sunggguh deh, enak banget dibacanya. (ini mungkin nggak perlu diperdebatkan lagi kalau melihat nama penulisnya).

Buku mengenai Sirah Nabi memang banyak sekali versinya. Ada yang berjilid-jilid, atau cukup satu jilid. Namun yang membuat buku ini berbeda adalah tambahan ‘dalam sorotan al-qur’an dan hadits-hadits shahih’. Setidaknya, saya berharap buku ini bisa menjawab beberapa pertanyaan yang tersimpan di dalam hati.

Kita tidak bisa menafikan bahwa dalam buku-buku sejenis ada kalanya ditemui kisah-kisah dari riwayat lalu yang barangkali ditambahi bumbu-bumbu. Pun adanya penyalahan makna maupun tafsir. Seperti penilaian keliru yang menganggap tidak bisa membaca dan menulis Nabi sebagai kekurangan Beliau. Perlu diingat pada masa itu alat tulis sulit diperoleh, maka kemampuan menghafal sangat diandalkan dan menjadi tolak ukur keluasan pengetahuan.

Penilaian yang salah terjadi karena kekeliruan penilaian masyarakat menyangkut baik dan buruk yang dianut oleh masing-masing masyarakat, bahkan oleh masyarakat yang sama dalam waktu yang berbeda. Kata penulis lagi, kita harus menyadari bahwa ada nilai-nilai yang bersifat universal dan langgeng, ada juga yang lokal dan berubah-ubah. (halaman 15)

Kisah di atas adalah sebagian kecil informasi yang harus kita cermati dengan hati-hati, pun tidak bedanya menyikapi informasi yang mengandung keluarbiasaan yang terjadi pada Nabi Muhammad saw.

Kata penulis lagi, “Kita tidak perlu membuktikan kehebatan Nabi Muhammad saw. dengan mengandalkan riwayat-riwayat yang bersifat suprarasional/luar biasa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya. Sebagai muslim, kita mengagumi Beliau dengan kekaguman berganda dari ajaran dan akhlak Beliau.

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya pemberi peringatan yang nyata.’Apakah belum cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-kitab (al-qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang beriman” (QS. Al-Ankabut [29]: 50-51)

Pada intinya, diperlukan kehati-hatian kita untuk setiap kali menyikapi dan menyerap informasi dari sebuah buku (apalagi buku mengenai sejarah Nabi). Tujuannya tentu agar kita tidak terjebak ke dalam perbuatan atau hal-hal yang sirik.

Yang juga perlu kita pahami, kendati Nabi Muhammad saw adalah manusia seperti kita juga, jangan lupa Beliau adalah Nabi, utusan Allah. Sebagai Nabi, tentu Allah berikan hal-hal istimewa (keluarbiasaan) pada diri Beliau yang tidak diberikan pada manusia lainnya. Keluarbiasaan yang terjadi pada Nabi selama masih berada dalam fungsi kenabian patut kita terima, dan yang sebaliknya baik untuk kita tolak atau kritisi dengan hati-hati.

Nabi Muhammad adalah bukti kebenaran dari Allah dan al-qur’an adalah mukjizat yang Allah berikan kepada umat muslim melalui Nabi terakhir dari umat seluruh manusia.

“Katakanlah: Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepadanya.” (QS. Fushshilat [41]:6]