Category Archives: Kumpulan Cerpen

Senyum Karyamin

images
Judul: Senyum Karyamin
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 71

Senyum Karyamin adalah kisah pertama sekaligus judul yang dipilih Ahmad Tohari untuk kumpulan cerita pendek ini. Bercerita tentang seorang pemuda pengangkat batu kali yang bernama Karyamin. Karyamin dan kawan-kawannya setiap hari harus mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material. Kesewenang-wenangan para tengkulak mempermainkan harga batu membuat kehidupan Karyamin dan kawan-kawannya tak menjauh dari kemiskinan dan kelaparan. Para pengumpul batu itu senang mencari hiburan dengan menertawakan diri mereka sendiri. Itu adalah cara mereka untuk bertahan hidup. “Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan (halaman 3).”

Pagi itu seperti biasa Karyamin mengangkut batu bersama kawan-kawannya. Namun beberapa kali ia tergelincir. Ia merasakan matanya berkunang-kunang dan perutnya melilit. Setiap kali tubuh Karyamin meluncur dan jatuh terduduk, beberapa kawannya terbahak bersama. Ketika bibir Karyamin nyaris membiru dan pening di kepalanya semakin menghebat menahan rasa lapar yang menggigit, Karyamin memutuskan untuk pulang walaupun ia tahu tak ada apapun untuk mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Kegetiran Karyamin semakin menjadi ketika sesampainya di rumah Pak Pamong menagih sumbangan dana Afrika untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana.

Ironis, begitu barangkali membaca kisah Karyamin. Serupa dengan kedua belas cerita pendek lainnya di dalam buku ini, Ahmad Tohari mendekatkan pembacanya melalui cerita kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Melalui tokoh-tokoh sentral ceritanya yang berasal dari kalangan wong cilik itu Tohari seolah ingin menyampaikan pesan sebuah tanggung jawab kemanusiaan. Dan mengutip kalimat di Prakata, “Inilah pesan persaudaraan yang berwawasan lintas budaya dan lintas derajat antar makhluk.”

Edward dan Tuhan – Kuniko

0a6ea984d6f23fcffed29814d2ecbabc
Judul: Edward & Tuhan
Penulis: Milan Kundera dkk
Penerbit: Banana Publisher
Tebal: 201
Edward dan Tuhan adalah buku kumpulan cerpen 4 penulis klasik. Mereka adalah Milan Kundera, Alice Munro, Gabriel Garcia Marquez, dan Naoya Shiga. Semua kisah dalam buku ini begitu menarik. Salah satu cerita yang ingin saya tulis di sini adalah karya penulis Jepang, Naoya Shiga dengan cerita pendeknya yang berjudul Kuniko.

Tokoh dalam cerita ini adalah seorang penulis drama yang menikahi seorang wanita bernama Kuniko. Pernikahan mereka berjalan tenang dan damai. Suatu ketika si dramawan dikirimi surat oleh istri kakaknya. Ia diminta untuk membantu menyelesaikan perselingkuhan yang terjadi antara sang kakak dengan seorang gadis pelayan. Menanggapi ini si dramawan merasa tak layak untuk menasihati si kakak. Melalui putri kesayangan mereka, si dramawan kemudian berhasil melakukan hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk keutuhan rumah tangga sang kakak. Selesai?

Tidak bagi si dramawan, karena permasalahan sang kakak akan menjadi pertanyaan bagi Kuniko. Ia tahu bahwa Kuniko akan bertanya apa yang terjadi. Dan itu berarti membuka luka lama, mengakui bahwa ia pun pernah melakukan hal yang sama.
“Walaupun tak ada kepentingan untuk menyembunyikan masalah ini, namun jika aku menyampaikan cerita ini, pada akhirnya aku pasti akan mengakui bahwa aku pernah melakukan hal yang sama. Hal itu menyakitkanku. Itu sudah masa lalu..(halaman 156)”

Kuniko memang terkejut mendengar kejujuran sang suami. Dalam obrolan mereka kemudian Kuniko meminta ketegasan sang suami untuk tidak lagi melakukan perbuatan itu. Walau sang suami mengakui bahwa apa yang ia lakukan bukanlah perbuatan yang terpuji dan tak termaafkan, namun suara hatinya menolak untuk berlebih menyalahkan dirinya.
“Tak ada keraguan bahwa hal itu buruk. Namun, nuraniku terlumpuhkan oleh kebiasaan itu.” (halaman 159)

Sang suami tidak bisa menyatakan janji yang diminta Kuniko.
Kuniko: “Jika kau tak mengatakannya, aku tak akan mendapatkan ketenangan.”
Suami: “Mungkin hal macam itu tak kan terjadi lagi. Aku berusaha sebaik mungkin untuk menghindar dari situasi macam itu.”

Pernyataan sang suami tidak menumbuhkan rasa percaya pada diri Kuniko. Walaupun sang suami bisa saja mengucapkan kalimat yang ingin didengar oleh Kuniko namun ia memutuskan untuk berkata jujur. Namun kejujuran itu melukai Kuniko.
“Tentu saja kebahagiaan itu sempurna karena dusta. Namun, hal itu adalah persoalan tentang sejauh mana seorang perempuan mampu menegakkan kebahagiannya di atas kebenaran…” (halaman 161).

Selanjutnya, Kuniko dibayang-bayangi oleh persoalan perselingkuhan yang pernah dilakukan suaminya. Sang suami yang merasa dicurigai terus menerus pun tak berdaya.
“Tapi, jika kau mencurigaiku seperti itu, aku tak dapat melakukan hal apa pun.” (halaman 164)

Si dramawan kehilangan hasrat menulis dan antusiasme nya terhadap profesi dan sekelilingnya perlahan memudar.

“..kapan saja aku berpikir untuk melakukan sedikit hal lebih dalam kehidupanku ini, kau tampaknya segera berpikir bahwa aku menuruti kata hatiku mengeluh dan bahwa aku ingin lebih menikmati diriku sendiri dengan bermacam kesenangan lainnya. Apa yang kau pikirkan, dan apa yang aku pikirkan sepenuhnya berbeda.”

“Kau menggantungkan kebahagiaan dan ketidakbahagiaanmu pada satu hal itu. Bagi seorang perempuan, hal itu cukup masuk akal, namun jika kau melihatnya dari sudut pandangku, bagaimanapun aku merasakan bahaya yang tak tertahankan.” (halaman 166)

“Kau seharusnya lebih santai dalam menghadapai permasalahan-permasalahan. Kau memiliki kendali atas itu.”

Setelah perdebatan yang panjang, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengakhirinya dan menjalani kehidupan dengan tenang. Namun sesungguhnya kedamaian yang hambar itu begitu membosankan. Bagi sang suami perasaan Kuniko terhadap dirinya menjadi penghalang besar. Dan Kuniko yang merasa kesepian kemudian memutuskan untuk bunuh diri oleh sebab ketidakmampuannya menanggung kepedihan.

“Cobalah untuk tak terlalu peduli. Tak peduli. Jika kau merasa gembira dalam perasaanmu, maka aku dapat mencurahkan diriku dengan pikiran tenang pada pekerjaanku.” (halaman 197)

“Jangan ganggu aku lagi. Kau adalah kau. Lakukan apa pun yang kau inginkan. Aku adalah aku. Aku tak ingin bernegosiasi denganmu atas dasar perasaan macam itu.” (halaman 198)

“Bukankah baik jika aku adalah aku dan kau adalah kau? Wajarlah jika aku larut dalam pekerjaanku dan kau tak dapat bersamaku. Jika kau berperilaku sebagaimana biasanya, itu baik. Ketika kau menampakkan wajah yang depresi, aku akan marah yang sama besarnya dengan aku bersemangat.” (halaman 196).

Banyak kutipan yang menarik, tapi cukup dibatasi sampai di sini saja. Menulisnya cukup pegal :).

Cerita di atas bukan dimaksudkan untuk melegalkan perselingkuhan. Menurut aku mungkin penulis mengambil model perselingkuhan karena umumnya ini bukan kasus yang biasa, terutama untuk mereka yang terikat dalam pernikahan. Pesan dalam cerita ini bersifat universal untuk segala permasalahan yang ada.

Kisah ini menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh apa dan siapa. Seringkali kita berpikir bahwa kita akan bahagia jika memiliki pasangan atau suami seperti A, memiliki anak-anak yang pintar, tampan dan cantik, dan lain sebagainya. Dan ketika kita tidak mendapatkan ‘ukuran kebahagiaan’ yang kita bikin sendiri itu maka kesedihan menyelimuti. Tanpa sadar kita akan melampiaskan kekecewaan dan keputusasaan kepada mereka yang kita anggap tidak mampu memenuhi kebahagiaan kita. ‘Perasaan’ itu tidak hanya mengganggu diri kita namun juga mereka yang menjadi korban ketidakberdayaan diri kita sendiri.

Konon perkawinan adalah penyatuan dua jiwa. Namun sebagai individu mereka tetaplah sendiri-sendiri. Baik diri kita dan pasangan memiliki keinginan dan capaian yang berbeda. Sebuah hubungan yang sehat kata seorang pakar adalah ketika kita bisa saling mendukung dan memercayai satu sama lain. Menjadi ibu rumah tangga dan sepenuhnya merawat anak-anak tidaklah salah, lebih baik lagi jika di sela rutinitas itu pun kita dapat menyediakan waktu untuk sesuatu yang kita sukai. Entah berkebun, membaca buku, menjahit atau apa saja. Terlebih lagi jika bisa bergabung di dalam komunitas kegemaran kita tersebut. Hal-hal seperti ini mampu membangkitkan antusiasme dan bisa menghilangkan perasaan tak berdaya yang berujung pada ketidakpuasan terhadap kehidupan yang kita jalani.

Demikian juga dengan rutinitas yang kita lakukan. Dinamika hidup tidak semata pada pekerjaan. Masih banyak hal menarik yang bisa kita lakukan. Dan seperti kata kata Pak Cik Andrea Hirata, jika kita ingin merasakan sari pati kehidupan, maka hiduplah untuk hidup. Atau mengutip kata Pak Guru John Kaeting di Dead Poets Society, Seize the Day, Live your life to the fullest!

Edward dan Tuhan

9fe4791661d779a95b3b547bbf8c8f79
Judul: Edward & Tuhan
Penulis: Milan Kundera dkk
Penerbit: Banana Publisher
Tebal: 201

Buku ini berisi kumpulan cerpen dari para penulis klasik dunia. Kesemua cerita pendek ini berkisah tentang cinta ganjil. Cinta yang tak biasa, absurd namun ada. Edward dan Tuhan oleh Milan Kundera, Bagaimana Aku Bertemu Suamiku dari Alice Munro, Pertemuan Agustus karya Gabriel Garcia Marquez, dan Kuniko oleh Naoya Shiga.

Cerita pertama ditulis oleh penulis yang terkenal dengan karyanya, Unbearable Lightness of Being, Milan Kundera. Di sini Milan Kundera berkisah mengenai seorang pemuda komunis bernama Edward. Edward menyukai Alice, seorang wanita yang religius. Demi mendekati Alice, Edward yang atheis berpura-pura menjadi seorang yang percaya kepada Tuhan. Ketaatannya kepada Tuhan menimbulkan masalah di sekolah, tempat Edward mengajar, di mana mereka yang memiliki keyakinan akan adanya Tuhan disingkirkan dari lingkungannya. Demi mengetahui pengorbanan yang telah dilakukan Edward (dari orang lain) membuat Alice berbalik memuja Edward dan menyerahkan tubuhnya kepada Edward. Edward pada akhirnya memperoleh apa yang telah lama diinginkannya dari Alice. Namun ternyata penyerahan diri Alice membuat Edward sengsara. Edward marah karena betapa mudah Alice berubah haluan mengkhianati Tuhannya, Tuhan yang ia puja secara fanatik dulu, yang melarang perzinahan. Ia marah karena melihat sikap Alice yang datar saja dan tanpa perasaan bersalah menjalani semuanya.
“Mengapa penderitaan Edward karena kesetiaannya kepada keyakinannya harus berakibat ketidaksetiaan Alice kepada hukum Tuhan? Jika Edward tidak mengkhianati Tuhan di depan komisi pencari fakta, mengapa kini Alice harus mengkhianatinya di depan Edward?” (halaman 58)

Edward merasa Alice tidak konsisten. Ia melihat Alice sebagai sosok manusia yang tidak utuh antara fisik dan pikirannya. “Keyakinan gadis itu dalam kenyataannya hanyalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan jalan hidup gadis itu, dan takdir Alice hanyalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan tubuhnya. Ia melihat gadis itu sebagai gabungan kebetulan dari tubuh, pikiran, dan tindakan; sebuah gabungan yang tidak organik, saling berselisih dan tidak stabil. Ia membayangkan Alice, dan ia melihat tubuh gadis itu berpisah dari pikirannya.” (halaman 61)

Ia mencintai Alice namun penyerahan total dirinya menyebarkan kebencian dan dendam yang memenuhi pikiran Edward.
“Dan seseorang yang sanggup mengkhianati Tuhan, sanggup dengan mudah mengkhianati manusia ratusan kali.” (halaman 66)

Dan mengenai Tuhan? Walau Edward tidak sepenuhnya memercayai adanya Tuhan, namun ia merasa bahagia akan hiburan nostalgis dengan gagasan adanya Tuhan (halaman 68).
“Tuhan adalah esensi itu sendiri, sementara Edward tidak pernah menjumpai (sejak insiden dengan kepala sekolah dan Alice, tahun-tahun telah berlalu) apa pun yang esensial dalam hubungan asmaranya, dalam mengajarnya, atau dalam pikirannya. Ia terlalu cemerlang untuk mengakui bahwa ia melihat yang esensial dalam ketidakesensialan, namun ia terlalu lemah untuk tidak diam-diam merindukan yang esensial. Itulah mengapa Edward merindukan Tuhan, karena Tuhan sendiri yang terbebas dari kewajiban pemunculan, dan semata-mata ada untuk mengganggu perhatian. Karena Ia menghadirkan (Ia sendiri, tak berteman, dan tak nyata) lawan yang esensial dari dunia yang tidak esensial (namun begitu banyak yang nyata). (halaman 69).

Kisah kedua bercerita tentang seorang wanita yang bertemu dengan seorang pilot, yang berjanji untuk mengiriminya surat. Si wanita setia menanti di depan kotak pos, menunggu kedatangan tukang pos mengantarkan surat yang tak pernah datang untuknya. Sampai pada akhirnya ia menerima kencan dari si tukang pos dan mereka pun menikah. Kepada anak-anaknya lelaki itu selalu berkata bahwa ibu mereka selalu duduk di dekat kotak pos setiap hari untuk menemuinya.

Kisah ketiga mengenai seorang istri yang berselingkuh dengan lelaki yang lebih muda. Sialnya, si lelaki kemudian meninggalkan ia dengan menyelipkan beberapa lembar uang untuknya. Ternyata lelaki yang dia kira mencintainya menganggapnya tak lebih dari seorang wanita penghibur.

Terakhir adalah kisah pasangan suami istri yang kehidupan perkawinannya tenang dan damai. Namun ternyata kedamaian yang ada tidak menjadi kebahagiaan bagi sang suami.

Akar Pule


Judul: Akar Pule
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Grasindo. Pt Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tebal: 145

“Pada akhirnya aku percaya, aku sendiri yang harus bertanggung jawab atas hidupku.”

Saring adalah seorang wanita yang meninggalkan kampung halamannya demi menghindari kesialan yang menimpa desa itu. Kisah Ayah dan Ibunya adalah legenda yang tiada habis dibicarakan. Setiap bencana dan musibah yang terjadi selalu dikaitkan warga dengan riwayat Kondra, Ayah Saring. Kepergian Saring dari desa diyakini sebagai sebuah keputusan terbaik, karena tidak akan ada lagi darah kesialan yang mengobrak-abrik desa itu.

Akar Pule adalah buku kumpulan cerita pendek yang berisi 10 kisah. Kesemuanya mengenai perempuan. Oka Rusmini, sastrawati Bali ini dikenal sebagai penulis yang karya-karyanya banyak mengupas mengenai keberadaan perempuan serta pendobrak kekakuan adat (dari sini).

Dalam kisah Pastu melalui tokoh Cenana, Oka menanyakan arti cinta dan kebahagiaan. Cok Ratih, sahabat yang disayanginya rela meninggalkan kebangsawanannya dan memutuskan hubungan baik dengan keluarga besarnya untuk menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Namun pengorbanan besar yang diberikan Cok Ratih atas nama cinta tidak mendapatkan balasan yang seimbang. Sahabatnya itu mati bunuh diri sementara suaminya entah di mana. Desa adat memberinya sanksi, mayatnya tak boleh diaben karena menurut konsep agama, Cok Ratih mati dengan cara yang salah, mati bunuh diri.
“Apakah Tuhan tahu? Apa alasannya sahabatku yang riang dan bersemangat itu menjerat leher dan mengiris nadinya? Apakah Tuhan mau mengerti dan menerima alasannya?”

“Katanya, kehidupan perempuan baru disebut sempurna jika sudah kawin. Perkawinan membuat perempuan sadar arti menjadi istri, juga arti menjadi Ibu. Tapi kalau nyatanya kawin malah bikin susah dan rumit, apakah perkawinan masih bisa dijadikan alasan bahwa pohon kebahagiaan itu hanya bisa ditemukan di dalam rumah perkawinan?” (halaman 93)

Dalam Sawa, penulis mengisahkan pertentangan bathin yang dialami oleh seorang wanita bernama Ni Luh Putu Pudakwangi. Di usianya yang ketiga puluh lima tahun dan di tengah kegamangan rumah perkawinannya ia bertemu dengan seorang lelaki yang mencintainya. Pudak berada di dalam kebimbangan, di antara perasaan bersalah dan keinginan untuk menyambut cinta yang ditawarkan lelaki itu.
“Salahkah cinta yang datang selarut ini?” (halaman 84)

“Mencintai itu bukan dosa. Sebuah pertemuan adalah hal biasa. Jadi tidak biasa ketika pertemuan itu meninggalkan luka.” (halaman 76)

Oka juga menggugat perlakuan masyarakat serta ketidakadilan hukum terhadap pemerkosa anak-anak, seperti ada dalam kisah Bunga.
Bunga, gadis kecil cantik berumur 7 tahun. Bunga suka menari. Ibu Bunga adalah pelacur dan Ayahnya tidak diketahui keberadaannya. Bunga berteman dengan tiga laki-laki, salah satunya Gus Putu yang berusia 10 tahun. Ibu Gus Putu tidak menyukai jika putranya bermain dengan Bunga. Suatu ketika Bunga ditemukan mati terapung di sungai. Vagina gadis kecil itu sobek dan terus mengeluarkan darah.

“…Dia memang terkutuk. Makanya mati pun dia tetap terkutuk!” Perempuan itu menggeram penuh dendam.” (halaman 121)

Pelaku pemerkosa Bunga, sejumlah laki-laki dewasa dihukum hanya 5 tahun penjara. Bisa jadi pelaku pemerkosa itu hanya meringkuk 2 tahun atau 3 tahun jika ada potongan hukum penjara.

“Gus Putu meringsut, tak ada perempuan yang berdemo untuk membuat keputusan: hukum mati para pemerkosa anak-anak!”.

Oka, penulis yang begitu jujur menyuarakan hati perempuan. Membaca tulisan Oka terkadang menimbulkan getir dan ngilu, sekaligus kelembutan yang samar pada sisi kewanitaan kita sebagai makhluk bernama perempuan.

Matinya Seorang Buruh Kecil


Judul asli: Chekhov The Early Stories
Penulis: Anton Chekhov
Penerbit: Melibas
Tebal: 164

Mengutip catatan dari penerbit: “Tapi cerpen-cerpen Chekhov unik, selain meng-“KO” kan, ia juga bisa membuat pembacanya tersenyum simpul dan senang. Tanpa beban, tapi membuat penasaran, juga mengejutkan.”

Nukilan di atas ada benarnya. Ketiga belas cerita pendek dari Chekhov ini memiliki ending yang mengejutkan. Cerita-cerita Chekhov juga lekat pada realitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Ditulis dalam bahasa sederhana yang dipenuhi dengan unsur humor dan olok-olok, cerita-cerita dalam buku ini seperti menelanjangi sifat asli manusia.

Seperti kisah Di kota Ada Surga, yang menceritakan pengalaman kepala biara selama berada di luar tembok biara demi niat awalnya untuk membantu mereka yang tersesat. Ia menggambarkan semua rayuan iblis, cantik moleknya dosa, menggiurkannya tubuh perempuan dihadapan para rahib yang terpaku di tempatnya. Mereka menelan setiap kata yang diucapkan kepala biara dan hampir-hampir tak bisa bernapas karena keranjingan. Dan ketika esok harinya sang kepala biara keluar dari kamarnya, ia tak melihat seorang rahib pun tertinggal di biara. Mereka semua lari ke kota.

Atau cerita Peristiwa di Pengadilan, ketika seorang pengacara ternama harus membela terdakwa yang berdasarkan bukti dan fakta-fakta telah dinyatakan bersalah. Akhir ceritanya sungguh tak terkira. Satire. Sungguh membuktikan kata-kata si penulis di awal cerita yang menggambarkan bahwa sang tokoh, si pengacara, adalah orang yang penuh kharisma dan disegani oleh banyak orang.

Atau cerita Catatan Harian si Pemberang. Si tokoh kita ini yang sekilas tampak anti sosial, dan lebih menyukai mengamati gerhana matahari serta pemikir yang dalam, tetap berupaya meluangkan waktunya untuk tidak mengecewakan orang-orang di dalam lingkungan kecil hidupnya. Sekalipun sesungguhnya dalam hati ia menyesali dan membenci ketidakberdayaan dirinya sendiri. Di sini Chekhov begitu manis sekaligus menyayat menampilkan sisi manusiawi dari kita, manusia.

Semua cerita di buku ini memang layak difavoritkan. Kesemua kisahnya memiliki keunikan dan kedalaman pesan yang berbeda namun menyentuh. Tapi jika harus memilih satu cerita, sepertinya saya memilih Moronoff, Pak Inspektur Polisi. Gambaran dalam cerita ini adalah fenomena yang sampai detik ini masih banyak kita temukan. Mereka yang gagap dalam mengambil keputusan ketika harus berbenturan dengan ‘orang-orang (yang mereka anggap) penting’. Barangkali kita pun pernah mengalami situasi seperti yang digambarkan dalam cerita Moronoff itu dan pada saat itu kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, di mana hati nurani dan kepentingan lainnya saling bertarung.

Terima kasih buat Jamal Kutubi, yang salah satu review bukunya di sini juga membuat saya penasaran membaca bukunya Umberto Eco tentang Foucault’s Pendulum. Karena bulan biru aku bisa tahu ada buku sebagus ini :).

Sonata Musim Kelima


Judul: Sonata Musim Kelima
Penulis: Lan Fang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 151

“Kemudian seperti biasa kamu berlalu. Tetap terburu-buru. Aku tidak tahu apakah kamu sedang memburu atau sedang diburu hujan. Itu tidak penting lagi.
Tahukah kamu kalau aku ingin menyampaikan ada yang lebih penting?
Bila kamu memeluk hujan, itu aku. Bila kamu menyentuh dingin, itu aku. Bila kamu mencium angin, itu aku. Maka kamu adalah tanah yang begitu tabah menadah hujan.
Kurasa ini paling penting.” (halaman 151)

Kalimat di atas adalah kutipan dari salah satu kumpulan cerpen yang ada di buku Sonata Musim Kelima. Mengapa bagian ini yang saya kutip? Hem, entah. Mungkin karena kita, manusia, sering terjebak oleh rutinitas yang membuat kita tidak lagi bisa merasa?

Kelima belas cerpen yang ada di buku ini bercerita tentang cinta. Cinta yang tak bersatu dan perpisahan menjadi pilihan Lan Fang, yang kemudian mengemas cerita-ceritanya dalam bahasa yang puitis.

Kisah Mahabrata menjadi inspirasi bagi Lan Fang di cerpennya yang berjudul Sri Kresna. Ada juga kisah cinta dari legenda China, siluman ular putih.

Saya suka cerita tukang dongeng dan tukang mimpi. Suatu saat tukang mimpi kehilangan pangeran negeri mimpinya, pangeran bermata bintang. Nama pangeran itu Bisma, yang dicintai oleh Amba setengah mati. Namun Bisma memendam gairahnya sendiri walau hatinya sepenuhnya hanya untuk Amba, wanita yang ia cintai.

“Aku ingin memeluknya, menciumnya dan menghirupnya. Hanya aku dan dia.
Tetapi kenapa kau diam saja?
Karena cinta semakin terdengar di dalam kediamannya.” (halaman 146)

Atau ini, cerita tentang si pianis buta dan penulis tuli. Si penulis tuli tidak dapat mendengarkan denting piano indah dari si pianis dan sang pianis tidak dapat membaca tulisan si penulis. Kedalaman arti cinta begitu terasa pada larik berikut ini.
“Bukankah di dalam cinta, kebungkaman lebih berarti daripada percakapan?” (halaman 104)

Ini adalah kali pertama saya membaca novel Lan Fang. Saya terpesona dengan setiap rangkaian kalimat yang ditulisnya, bertabur puisi dan memiliki makna yang dalam. Sesekali Lan Fang juga menyisipkan sajak dari penyair Sapardi Djoko Damono, salah satu penyair kesukaan saya.

Walau kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini bernuansa kelabu namun pencarian arti cinta sejati terasa lebih menggugah. Dalam.

Atas Nama Malam


Judul: Atas Nama Malam
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Cetakan: Jakarta, 1999
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 157

Berisi kumpulan cerpen yang bercerita tentang kehidupan di malam hari. Ada 14 cerita dari tokoh yang sama dalam satu bab dan ada 10 kisah dari bab kedua.

Tokoh pertama adalah seorang peracik minuman di sebuah bar. Sebagai pekerja malam kehidupannya dimulai ketika senja datang sampai menjelang pagi. Kehidupan malam yang kelam dan hening menjadi hingar bingar dengan musik, lampu disko serta asap nikotin yang memenuhi ruangan. Orang-orang kesepian yang mencari kesenangan duniawi berkumpul dan menyatu dalam lingkaran kebahagiaan yang semu. Dibalik keriaan tersembunyi tangis, kebencian dan juga pertanyaan tentang makna hidup, seperti yang ada di dalam kisah Hidup Terasa Panjang.

“Hidup akhirnya memang jalan terus. Namun, mimpi juga jalan terus. Hidup ini seperti perjalanan yang panjang dan melelahkan.”

Pada sebuah kisah juga diceritakan seorang dokter yang ternyata sering datang ke bar tempat si tokoh bekerja. Tak bisa ia mengerti bagaimana seorang dokter yang tentunya suka membaca buku dan tidak rendah seleranya bisa sering mengunjungi bar. Bukankah bar tempat berkumpulnya orang-orang sakit yang tak tahu harus melakukan apa, selain minum dan memeluki perempuan-perempuan.

Pada akhir bab ini, si tokoh menutup kisahnya dengan Senja, Penutupan. Cinta.

“Hidup berlalu dan aku pun berlalu, kenyataan dan khayalan menyatu dalam waktu.”

Buku ini tidak hanya bercerita tentang cinta, dan kehidupan yang berlangsung di malam hari, tetapi juga sisi gelap dalam kehidupan manusia. Setiap kita, manusia, mempunyai sebuah rahasia dalam hidupnya.

Tulisan-tulisan Seno seperti biasa memaksa kita untuk merenung. Tapi itulah kelebihannya, dalam sebuah kisah yang biasa, yang terjadi di sekitar kita, begitu banyak pelajaran kehidupan yang bisa kita petik.

Negeri Kabut


Judul: Negeri Kabut
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Cetakan: kedua, Juli 1999
Penerbit: Grasindo
Tebal: 122

Mengutip dari sinopsis, “Buku Negeri Kabut ini berisi tiga belas cerpen tentang perjuangan manusia dalam mencapai keinginannya. Terkadang, untuk mencapai semua itu, tanpa disadari sang tokoh harus bertindak di luar kemampuannya. Ada pula keinginan yang di luar kendalinya: sang tokoh terjebak dalam suatu konflik yang tak mungkin dapat dihindari lagi. …. Segala sesuatu terjadi begitu saja. Tanpa siasat, tanpa rencana.”

Cerita pertama yang sekaligus menjadi judul buku ini adalah Negeri Kabut. Negeri kabut berkisah tentang seorang laki-laki yang selama hidupnya terus berpetualang. Dalam Perjalanannya menuju Negeri Kabut, ia banyak bertemu dengan pengembara lainnya. Para pengembara itu menyampaikan berita-berita dari tempat mereka yang jauh; peperangan, wabah penyakit, pembunuhan, dan kisah sedih lainnya. Para pengembara selalu mengatakan kepada lelaki itu bahwa setiap orang harus peduli dengan keadaan dunia yang dihidupinya. Mereka bilang, orang yang mencari ilmu harus kembali pulang untuk menyelamatkan bangsanya. Lelaki itu terdiam. Ia merenung, bertanya-tanya apakah pengembaraannya selama ini untuk mencari ilmu? Lelaki itu ragu. Mungkin yang sebenarnya ia hanya melarikan diri dari segala persoalan, dari kenyataan, karena ia sebenarnya tak cukup tabah untuk menghadapi penderitaan.

Kedua belas cerpen lainnya sama menariknya dengan Negeri Kabut. Namun seperti yang banyak dikatakan orang, tulisan Seno di buku Negeri Kabut ini adalah sebuah karya sastra surealis. Setiap pembaca mempunyai interpretasi yang berbeda atas karya sastra yang dibacanya. Maka, pesan dan makna yang ingin disampaikan dalam setiap cerita di buku ini akan lebih mengena jika Anda membacanya langsung.

Saya sendiri paling suka kisah Negeri kabut. Menggambarkan bahwa sesuatu yang sempurna, nyaris tak memberikan tantangan di dalamnya. Kesempurnaan tidaklah selalu memberikan rasa nyaman, seperti yang kita kira. Kita, manusia membutuhkan ketegangan, kesulitan, serta tantangan dalam hidup untuk memahami arti perjuangan dan kehidupan itu sendiri.

Linguae

Judul: Linguae
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 128

Berisi 14 kumpulan cerpen. Satu di antaranya menjadi judul buku ini, yaitu: Linguae. Linguae, dalam bahasa latin artinya lidah. Linguae berkisah tentang pasangan yang saling mencinta dan bagaimana lidah begitu berperan untuk menyatakan perasaan cinta melebihi kata-kata.

“…kupersembahkan cintaku dalam percakapan tanpa kata karena lidah kami menyatakan segalanya dengan lebih nyata daripada kata-kata dalam tata bahasa sempurna manapun di dunia.”

Di “Cintaku Jauh di Komodo” bercerita tentang pasangan yang saling mencintai seiring wujud mereka yang terus be-reinkarnasi, bahkan ketika salah satunya berubah wujud menjadi komodo. Atau kisah tentang seorang perempuan yang baru saja diceraikan suaminya dan memesan “rembulan dalam cappucino” di sebuah kafe. Sendu sekaligus menggelitik. Ada juga kisah manusia yang bersayap dalam lakon “Joko Swiwi”.

“Senja di Pulau Tanpa Nama” bercerita tentang sebuah senja dan bagaimana pesona senja menghadirkan perasaan cinta. Atau “Perahu Nelayan Melintas Cakrawala” yang berkisah tentang sebuah gambar di dalam kartu pos. Gambar perahu nelayan dengan layar dan cadiknya dan sebuah kenangan.

“Perjumpaan dan perpisahan. Upacara kehidupan. Apakah aku masih akan berjumpa lagi denganmu, suatu ketika entah kapan dan entah di mana?”

“Aku sendirian saja di pantai ini, terbekukan menjadi gambar. Pada kartu pos, perahu nelayan itu masih saja melintas cakrawala dalam senja yang terus merayap dan akan menjadi malam-bersama dirimu…”

Seno sangat piawai memainkan kata-kata. Puitis dan penuh imajinasi. Kisah-kisah di dalam buku ini begitu sederhana, namun Seno melukiskannya dengan sangat indah dan imajinatif.

Madre

Judul: Madre
Penulis: Dee (Dewi Lestari)
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2011
Halaman: 160

“…, kata “Madre” itu ternyata berasal dari bahasa Spanyol, artinya “ibu”. Madre, Sang Adonan Biang, lahir sebelum ibu kandung saya. Dan dia bahkan sanggup hidup lebih panjang dari penciptanya.”

Madre adalah kumpulan cerita yang terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek.

Madre berkisah tentang seorang laki-laki muda bernama Tansen yang diberi warisan sebuah adonan biang roti bernama Madre. Madre merupakan cikal bakal dari tumbuhnya toko roti Tan De Bakker, yang dimiliki oleh laki-laki bernama Tan. Tan muda bertemu Laksmi ketika mereka bersama-sama bekerja di toko roti. Demi melihat talenta laksmi, Tan mengajak Laksmi keluar dari toko roti dan kemudian menjual roti sendiri. Dari kecil-kecilan sampai kemudian Tan memiliki toko. Kedekatan mereka berubah dari sahabat menjadi saling jatuh cinta. Tan dan Laksmi menikah. Laksmi yang mewarisi darah India tidak diterima oleh keluarga Tan, begitupun sebaliknya. Akibatnya, mereka berdua diusir dari keluarga masing-masing. Malangnya, nenek Tansen tidak berumur panjang. Tak lama setelah Kartika lahir (Ibu Tansen), Laksmi meninggal. Hidup Tan kocar-kacir dan hampir bangkrut. Namun pertolongan datang dari keluarganya. Setelah Laksmi tiada, hubungan keluarga mereka akur kembali. Dan jadilah toko roti yang sekarang ditempati oleh Pak Hadi dan kondisinya mati suri.

Tanpa secuilpun pengetahuan mengenai roti, laki-laki yang menikmati hidupnya dalam ruang kecil yang ia beri nama kebebasan, tentu saja Tansen menolak untuk mengurusi toko roti yang telah lama tak beroperasi ini. Pertemuannya dengan Mei, menguatkan niat Tansen untuk menjual Madre kepada perempuan pengusaha roti itu. Namun obrolannya dengan Pak Hadi dan sejarah masa lalu neneknya membuat Tansen berubah pikiran. Madre bukan sekedar biang roti biasa, selain cita rasanya yang memang unik, ia juga menyimpan kenangan. Madre adalah adonan biang roti yang dikulturkan oleh neneknya, umurnya saudah tujuh puluh tahun. Biang roti itu bahkan sanggup bertahan hidup melebihi dari umur penciptanya.

Bersama dengan Pak Hadi dan rekan-rekan sejawatnya serta Mei, Tansen membangun kembali toko roti warisan kakek dan neneknya. Toko roti itu berganti nama menjadi Tansen De Bakker.

**
Selain prosa pendek ada dua cerita yang juga saya sukai. Pertama, Have You Ever dan Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan.

Have You Ever bercerita tentang seorang laki-laki di kehidupannya yang telah matang kemudian mendapat kejutan berupa surat dari seorang perempuan, yang baru dikenalnya sebulan yang lalu. Keduanya menyadari bahwa ada sesuatu yang tak terjelaskan di antara mereka. Sepertinya mereka saling terhubung satu sama lain. Sampai kemudian si perempuan memberinya sebuah surat. Surat berisi sebuah tanda yang bisa ditelusuri oleh lelaki itu untuk mencari pembuktian atas perjanjian abadi antara mereka berdua. Beranikah lelaki itu mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya?

“Hidup telah menunjukkan dengan caranya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu ke mana ini semua berakhir. Bagiku, itulah keajaiban yang kucari, yang dihidangkan semesta bagiku, dan kulahap abis… Jiwaku kenyang sudah”

Dan pada kisah kedua, Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan.
Apakah itu cinta?
Apa itu Tuhan?

Si pencerita meminta si pewawancara untuk mengupas kulit bawang merah dari semangkuk acar yang ada di hadapannya dengan kuku. Maka berdua mereka terus menguliti bawang sampai tak bersisa lagi.

“Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa.

Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau harus nelangsa, lagi aku berkata. “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan.”

**

Dee selalu menarik dengan kedalaman kata-katanya.

Dan, satu hal yang cukup mengusik hati saya, apakah ada restoran yang menggunakan kaldu biang yang dikulturkan bertahun-tahun lampau sebagai bumbu sup atau masakan lainnya?

Untuk roti, ya saya mengerti. Tapi, kaldu? Bagaimana caranya? 🙂