Category Archives: Religi

The Best Chicken Soup 2: Persembahan Nabi dan Keluarganya


Judul: The Best Chicken Soup 2: Persembahan Nabi dan Keluarganya
Judul Asli: The Narrative of Veracious
Penulis: Murthada Muthahhari
Penerjemah: Leinovar
Penerbit: Mizan Media Utama
Tahun terbit: 2005
Tebal: 251

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Sebelum para Nabi dan Rasul diutus ke muka bumi, kondisi masyarakat pada saat itu berada dalam kebodohan (ketidaktahuan akan petunjuk dari Tuhan). Mereka hidup sesukanya. Yang kuat menindas yang lemah dan segala perbuatan buruk lainnya. Kemudian secara bertahap para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran dan menyeru kepada umat manusia agar kembali ke jalan yang lurus serta senantiasa beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang pilihan Allah yang memiliki akhlak mulia. Buku ini berisi kisah-kisah keteladanan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw (Nabi terakhir dan penutup) beserta keluarga dan sahabatnya. Buku ini sarat akan nilai-nilai moral seperti kejujuran, ketekunan, dan sifat baik lainnya. Islam memberikan tempat tertinggi pada akhlak yang mulia, seperti tersirat dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”

Dalam kisah Sebuah Nasihat diceritakan seorang lelaki yang mendesak Rasulullah Saw untuk memberikan kata sebagai nasihat untuknya. Setelah membuat lelaki itu berjanji hingga tiga kali maka Rasulullah Saw bersabda, “Tiap saat kau memutuskan untuk melakukan sesuatu, pertama-tama, pikir dan renungkanlah akan akibat, konsekuensi serta hasilnya: jika berdasarkan penglihatanmu konsekuensi serta hasil semuanya baik, maka ikutilah. Namun bila ujungnya ternyata menjauh dan menyimpang dari kebaikan, maka singkirkanlah keputusanmu itu!” (hal 24)

Nasihat Nabi Saw di atas menegaskan utamanya melihat dampak dari suatu perbuatan kita terhadap orang lain dan sekitarnya terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Di sini kita diingatkan untuk tidak bersikap egois dan mau menang sendiri.

Lain kisah bercerita tentang pengorbanan seorang imam yang memiliki gandum sementara orang lainnya kesulitan memperoleh gandum. Ia memerintahkan pembantunya untuk menjual gandum tersebut dan memilih untuk membeli roti di pasar yang sama dengan roti yang dikonsumsi orang lain saat itu, yaitu roti campuran dari gandum dan jewawut. “Meski jauh dari cukup, namun aku lebih mementingkan ‘ukuran ketercukupan’ di mata Allah.” (halaman 34)

Pesan dari kisah di atas mengajarkan agar kita mau berbagi kepada orang lain. Tidak mudah tentu saja menerapkan nasihat di atas apalagi jika kita sendiri merasa membutuhkan hal yang harus kita bagi tersebut. Sikap manusia adalah mendahulukan kepentingannya sendiri terpenuhi baru memikirkan orang lain. Kita cenderung merasa kurang selalu. Berbagi adalah pembelajaran diri untuk mampu melawan hawa nafsu berupa keserakahan yang ada di dalam diri kita.

Kisah lainnya pun tak kalah menarik, seperti nasihat agar manusia selayaknya tak mengganggu orang lain, juga sebaiknya tak mempertontonkan kemalangan dan kesulitan kita kepada orang lain seperti dikutipkan dalam tulisan berikut ini.
“…, namun aku akan mengingatkanmu akan satu hal, janganlah menunjukkan kemalangan serta kesulitanmu di hadapan orang lain. Pertama, tindakan itu akan menunjukkan kau dikalahkan oleh kesulitan yang menimpamu. Dan kedua, kau akan kehilangan harga diri, martabat, dan kehormatanmu menjadi rendah.” (halaman 46)

Dalam kisah Siapa yang Lebih Saleh diceritakan seorang yang awalnya rajin menghadiri kuliah dan ceramah tiba-tiba tidak terlihat selama beberapa waktu. Kemudian imam Sadiq bertanya kepada seseorang. Diketahui si fulan itu jatuh miskin dan ia hanya duduk-duduk saja di rumah dan mengabdikan seluruh waktunya untuk berdoa. Imam Sadiq bertanya, “Lalu bagaimana ia memenuhi kebutuhan hidupnya? Salah seorang temannya menanggung seluruh biaya kehidupannya, kata orang tersebut.
“Demi Allah aku bersumpah! Temannya itu lebih saleh daripada dia.” (halaman 68)

Berdoa dan berikhtiar adalah kewajiban setiap manusia.

Masih banyak kisah menarik lainnya di buku ini. Buku kecil dan ringan ini bisa dibaca berulangkali. Pun cerita di dalamnya bisa menjadi bahan renungan diri yang semoga dapat membawa perubahan yang baik ke dalam diri kita.

Membaca Sirah Nabi Muhammad saw

Ka’bah
Ia berbentuk kubus atau segi empat sehingga mengarah ke timur, barat, selatan, dan utara. Bentuk demikian untuk melambangkan kehadiran Tuhan dimana-mana (baca: QS. al-Baqarah [2]:115).

[Kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah]
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

walillaahi almasyriqu waalmaghribu fa-aynamaa tuwalluu fatsamma wajhu allaahi inna allaaha waasi’un ‘aliimun

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Bangunan ka’bah tidak sakral, tetapi ia wajib dihormati sebagai lambang kehadiran Allah sekaligus sebagai ‘meeting point’.

Yang memandang ka’bah, apalagi yang masuk ke dalamnya, disertai dengan kekaguman dan penghormatan kepada lambang kehadiran Allah itu serta merasakan kehadiran-Nya, merekalah yang memperoleh ganjaran dan anugerah-Nya.

(halaman 305-306)

Mari Bicara Iman


Judul: Mari Bicara Iman
Penulis: Dr. Nadirsyah Hosen
Penerbit: Zaman
Tahun terbit: 2011
Tebal: 237

Mari Bicara Iman adalah buku yang bercerita tentang berbagai persoalan kehidupan dan keberagaman. Setiap potongan kisahnya akan memberikan kesadaran kepada kita bahwa inilah yang kita pikirkan inilah yang terjadi pada kita.
Fragmen cerita diambil dari cerita keseharian dan khazanah keislaman. Buku ini tidak hanya menawarkan nilai-nilai kemanusiaan namun juga mengasah kepekaan dan sekaligus mengusik pikiran kita sebagai hamba Allah yang dikaruniai akal untuk berpikir.

Dibagi dalam 4 bab, buku ini menguraikan Teladan, Kearifan, Tantangan Iman dan Keberkahan Ramadhan.
Dalam sebuah cerita mengenai Keteladanan, dikisahkan suatu hari ketika Nabi Muhammad duduk di masjid bersama para sahabatnya, tiba-tiba Nabi berseru, “Akan datang seorang penghuni surga.” Serempak para sahabat memandang ke arah pintu. Ternyata yang datang hanya seorang sahabat. Ia memberi salam lalu mengerjakan shalat. Keesokan harinya di saat yang sama Nabi kembali berseru, “Akan datang seorang penghuni surga.” Dan yang muncul adalah sahabat yang kemarin. Karena rasa ingin maka seorang sahabat Nabi membuntuti orang yang digelari “penghuni surga” oleh Nabi. Dan sampai di depan rumah, sahabat Nabi meminta ijin untuk menginap di rumah “penghuni surga” karena ia sedang bertengkar dengan keluarganya. Setelah tiga hari sahabat itu akhirnya berterus terang bahwa ia berbohong. Alasannya menginap adalah karena ia ingin mengetahui amalan yang dilakukan oleh orang yang digelari “penghuni surga” oleh Nabi. Menurut sahabat, amalan yang dilakukan oleh orang yang disebut “penghuni surga” itu tidak berbeda dengan amalan yang ia lakukan. Si “penghuni surga” pun tak mengetahui mengapa Nabi menyebutnya “penghuni surga”. Si sahabat pun berlalu. Tak lama sahabat itu berjalan, si “penghuni surga” memanggilnya. “Saudaraku!”, aku teringat sesuatu… Tak pernah terbersit sedikit pun rasa dengki di hatiku.”
“Itulah rahasia mengapa Nabi menyebutmu penghuni surga. “Itu yang tak dapat kami lakukan.”

Dengki bukan persoalan sepele. Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki akan lahir buruk sangka. Dari buruk sangka akan lahir fitnah dan tuduhan. Dan seseorang akan “senang” jika fitnah dan tuduhan yang dibuatnya bisa didengar oleh orang lain. Fitnah itu pun menyebar. Dengki melahirkan perilaku-perilaku buruk lainnya. (halaman 46)

Dalam bab Kearifan ada satu kisah mengenai Ali Baba dan Qasim yang diambil dari “Kisah Seribu Stau Malam”. Ali Baba dan Qasim adalah dua bersaudara yang nasibnya berlainan. Ali Baba hidup miskin dan Qasim sangat kaya raya. Suatu hari ketika Ali Baba sedang berjalan menyusuri gurun pasir ia melihat sekawanan penyamun. Kawanan penyamun ini menuju sebuah pintu batu dan mengucapkan mantra. Ali Baba memperhatikan dengan seksama gerak-gerik sang penyamun. Ketika keluar, pimpinan penyamun mengucapkan kata-kata sakti sehingga batu kembali tertutup. Ali Baba yang penasaran mendekati pintu. Ia mengucapkan mantra dan batu terbuka. Alangkah kagetnya Ali Baba ketika ia mendapati emas serta perhiasan dan barang-barang nahal di dalamnya. Ali Baba mengambil harta itu secukupnya lalu pulang ke rumah. Akibat keteledoran istrinya, Qasim mengetahui perubahan yang terjadi pada adiknya yang kini hidup lebih dari cukup. Karena didorong rasa iri, Qasim bertanya mengenai asal kekayaan yang dimiliki adiknya. Dan Ali Baba terdorong oleh rasa sayang kepada kakaknya menceritakan rahasianya termasuk kata sandi untuk membuka pintu. Singkat cerita, pergilah Qasim. Ia mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Setelah puas ia pun hendak keluar. Namun Qasim lupa kata sandi. Sial bagi Qasim, rombongan penyamun datang. Begitu pintu terbuka, para penyamun mendapati Qasim di dalam gua. Nasib Qasim selanjutnya bisa ditebak.

Kisah Ali Baba dan Qasim mengajarkan kita pada banyak hal. Boleh jadi kita sama-sama memiliki keilmuan. Boleh jadi kita sama-sama mengetahui rahasia ilahi. Boleh jadi juga kita sama-sama hafal ayat ilahi. Namun, kesucian hatilah yang membedakan kita. Ali Baba tidak silau dengan harta duniawi. Sementara itu, meskipun sudah diberitahu mantra sakti, tetapi karena silau dengan harta duniawi, Qasim mendadak lupa mantra itu. Keserakahan membutakan pikiran Qasim. Ketika kepala penuh dengan keserakahan, seseorang akan lupa dengan mantra sakti. Ayat ilahi, atau yang diumpamakan dengan mantra sakti dalam kisah Ali Baba, hanya akan menghampiri mereka yang suci hatinya. Boleh jadi kita sama-sama tahu makna ayat ilahi, namun nasib kita bisa berbeda. (halaman 80)

Sementara di bab Tantangan Iman ada sebuah kisah keseharian penulis dimana suatu ketika ia ditegur oleh seorang kawan mengenai ketidaksempurnaannya dalam shalat. Pada waktu lain si kawan tadi menegur jamaah lain yang rukuknya dianggap tidak sempurna sehingga si jamaah yang ditanya menjadi gelagapan. Penulis menjadi bertanya-tanya apakah pekerjaan kawannya itu adalah mengamati setiap gerakan shalat orang lain dan bersiap menegurnya selepas salam. Dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa tanda seseorang mendapat hikmah adalah ia mudah melihat kesalahan dirinya sehingga ia tak sibuk memikirkan kesalahan orang lain.

Dalam surah al-Najm ayat 32 Allah berfirman, Dia lebih mengetahui keadaanmu ketika Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Jika hanya Allah yang mengetahui kadar ketakwaan seseorang maka mengapa kita harus terlalu bersemangat memikirkan kesalahan orang lain. Dakwah itu penting, tetapi yang harus dihindari dalam berdakwah adalah merasa dirinya paling benar, paling suci, dan paling bertakwa, juga hanya sibuk memikirkan kesalahan orang lain tanpa peduli pada kesalahan dan kekurangannya sendiri. Semoga kita semua tidak termasuk golongan terakhir ini. Insya Allah. (halaman 103)

Bab terakhir bercerita tentang Keberkahan Ramadhan. Sebentar lagi, insya Allah kita akan akan memasuki bulan ramadhan. Ramadhan adalah saat rahmat Allah turun begitu banyak. Salah satunya adalah terkabulnya doa-doa. Mari rebahkan diri kita dan banyaklah berdoa pada bulan ini. Tuhanmu amat dekat denganmu pada bulan suci dan Ia telah menjanjikan akan mengabulkan semua permohonanmu. Setelah ramadhan berlalu, apakah doa-doa kita tetap terkabul? Apakah Allah tetap dekat dengan kita pada selain Ramadhan? Ayat penutup dari rangkaian ayat puasa, ayat ke-188 berbunyi:
Jangan sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil. Dan, janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, dengan berniat memakan sebagian harta itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.

Saat Ramadhan, kita diperintahkan menahan menikmati makanan halal pada waktu tertentu. Di luar Ramadhan, kita diperintahkan menahan diri dari harta yang haram. Jika demikian-insya Allah- di dalam dan di luar Ramadhan, Allah selalu dekat dan mengabulkan doa-doa kita.

Demikianlah sebagian penggalan kisah dari buku Mari Bicara Iman. Sebagai umat muslim maka tunjukkanlah kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang indah, mengajarkan kebaikan budi dan kelembutan hati, seperti teladan yang telah diberikan oleh Nabi Muhammad saw.

The Great of Two Umars

buku_The-Great-of-Two-Umar
Judul: The Great of Two Umar
Penulis: Fuad Abdurrahman
Penerbit: Zaman
Tebal: 346

Buku ini berkisah tentang dua khalifah paling legendaris, yaitu Umar ibn Al-Khathab dan Umar ibn Abdul Aziz. Bagaimana sosok mereka sebagai pribadi dan khalifah sesudahnya dikisahkan dengan sangat menarik di dalam buku ini.

1. Umar ibn Al-Khathab

Doa Rasulullah, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang laki-laki yang paling Engkau cintai di antara keduanya: Umar ibn Al-Khathab atau Amr ibn Hisyam.”

Dan, Allah mengabulkan permohonan Nabi Muhammad saw. dengan memilih Umar ibn Al-Khathab.

Umar ibn Al-Khathab adalah pribadi yang unik: keras tapi berhati lembut. Ia telah menjadi al-faruq atau pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Dari seorang pembenci Islam ia berubah menjadi pendukung utama Islam. Ia lah orang yang melawan kebathilan di seluruh jazirah Arab hingga di seluruh dunia pada akhirnya.

Kalau blusukan baru menjadi perhatian pemimpin kita saat ini, sebaliknya kegiatan blusukan sudah lama dilakukan oleh kedua pemimpin Islam ini. Selama menjabat khalifah, Umar kerap menyamar menjadi orang biasa untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Ia bahkan tak sungkan turun langsung membantu kesulitan rakyatnya. Seringkali rakyat yang dibantunya bahkan tak mengenali bahwa sosok yang membantu mereka itu adalah raja mereka sendiri. Umar akan merasa sangat bersalah dan bersedih hati jika mengetahui ada rakyatnya yang masih hidup dalam kesulitan.

Ada sebuah cerita menarik yang mungkin bisa menjadi renungan untuk kita semua, terutama di tengah maraknya kasus korupsi yang seperti tak berkesudahan di negeri ini.

“Suatu hari, Umar menjelaskan kepada para sahabatnya mengenai betapa pentingnya amar ma’ruf dan nahyi munkar dalam kehidupan masyarakat. Dia berkisah lewat tamsil berikut ini.
“Sekelompok orang naik perahu mengarungi lautan. Sesuai kesepakatan dan andil masing-masing, setiap orang mendapatkan tempat sendiri-sendiri dalam perahu itu.
Tiba-tiba, salah seorang diantara mereka ada yang sengaja mau merusak kaveling yang menjadi bagiannya. Dia merasa bebas berbuat apa saja terhadap kaveling yang sudah menjadi miliknya. Kapak di tangannya siap diayunkan untuk menghantam bagian perahu yang menjadi kavelingnya itu.
Bagaimana sikap teman-temannya menyaksikan hal tersebut? Mungkin ada yang acuh tak acuh, ‘Biarkan saja, itu toh kavelingnya sendiri!’ Mungkin ada yang berusaha bertanya atau menegur mengapa dia berbuat demikian. Mungkin ada pula yang langsung memegang tangan orang yang bersangkutan, dan berusaha merebut kapak yang akan digunakan untuk merusak perahu tersebut.
Namun yang jelas, apabila semuanya diam, membiarkan orang itu merusak kaveling bagiannya, bukan dia sendiri yang terancam bahaya perahunya akan tenggelam, melainkan seluruh penumpang juga ikut terancam.” (Halaman 140).

Umar memberi pesan tentang hidup bermasyarakat. Bagaimana kita bersikap dan berperilaku sejatinya bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja melainkan juga memperhatikan kebutuhan dan kepentingan orang banyak. Tidak diragukan, selama kepemimpinannya, Umar selalu mendahulukan kepentingan orang banyak dibandingkan kepentingannya sendiri. Ia menolak kenaikan gaji yang disarankan oleh sahabat-sahabatnya. Ia tidak meminta perlakuan istimewa ketika suatu hari ia dituntut di persidangan karena berselisih paham dengan Ubay. Ia bahkan marah ketika sang Qadhi memberi hormat kepadanya layaknya orang yang memberi hormat kepada khalifah. Ia menolak perlakuan istimewa yang diberikan sang Qadhi. Ucap Umar, “teruskanlah pengadilan ini sebagaimana mestinya. Sesudah ini, aku akan memikirkan tindakan apa yang akan diambil terhadap Saudara atas sikap Saudara yang tidak bersedia memperlakukan para terdakwa sama rata di pengadilan hanya karena orang itu adalah Umar.” (halaman 76)

Itulah Umar ibn Al-Khathab, yang perkataan dan perbuatannya selaras. Ia akan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, bahkan kepada anak kandungnya sendiri. Ia marah kepada siapapun yang bermaksud melakukan penyimpangan dalam penegakan keadilan. Walaupun tampak kasar, keras, dan tegas, namun Umar pasti mendengar orang yang memberi nasihat atau ide kepadanya. Ia sosok yang bisa menerima kebenaran dengan penerimaan hati yang lembut.

Di dalam masa pemerintahan Umar ajaran Islam berkembang pesat dan menjadi negara adikuasa yang menaklukkan imperium Persia dan Bizantium. Menjelang ajalnya, Umar meminta ijin kepada Aisyah, melalui anaknya Abdullah, agar dimakamkan di sisi kedua sahabatnya (Rasulullah dan Abu Bakar). Aisyah menerima. Umar bersyukur kepada Allah seraya berkata,”itu keinginanku yang paling penting.” (halaman 223)

Potongan syair dari Atikah, salah satu istri Umar untuk suaminya.

Penyayang kaum lemah, keras terhadap lawan
Kawan tepercaya, tempat kembali dalam mara-bahaya
Tatkala berkata, ucapannya tidak mendustai Allah
Cepat tidak lamban dalam berbuat kebaikan

2. Umar Ibn Abdul Aziz

Alkisah suatu hari Umar ibn Al-Khathab melaksanakan ronda malam mengelilingi kota Madinah. Ketika ia tengah beristirahat di sebuah dinding rumah terdengarlah sebuah percakapan seorang Ibu dengan putrinya. Sang Ibu memerintahkan putrinya untuk mencampur susu dengan air. Namun si putri menolak karena ia teringat pesan Khalifah Umar yang melarang penjual susu untuk mencampur susunya dengan air karena mengharapkan banyak keuntungan. Si Ibu terus mendesak dan putrinya tetap menolak.
“Tuhannya Khalifah Umar ibn Al-Khathab, Tuhan kita, Tuhan Semesta Alam. Dia tetap melihat kita walau di lubang semut di tengah malam pekat sekalipun. Ibu, demi Allah, aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menaati perintah di tempat ramai, dan durhaka di tempat sunyi,” tegas sang gadis menolak permintaan ibunya. Umar yang mendengar percakapan itu meminta pembantunya untuk menandai rumah tersebut. Mengetahui bahwa di dalam rumah itu tinggal seorang gadis yang belum menikah bersama ibunya, Umar berniat untuk meminang gadis tersebut untuk putranya, Ashim yang belum menikah. Akhirnya disampaikanlah keinginan tersebut. Pasangan ini kemudian menikah. Mereka memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuan ini lah yang kelak melahirkan seorang bayi lelaki yang diberi nama Umar ibn Abdul Aziz.

Umar ibn Abdul Aziz adalah cicit Umar ibn al-Khathab. Jauh sebelum Umar ibn Abdul Aziz dilahirkan, sang buyut telah melihat sosoknya dalam mimpi. Konon, Umar bermimpi. Ia terbangun, “Siapakah orang Bani Umayah dalam mimpiku ini? Salah seorang keturunan Umar, memiliki nama Umar, dan akan menjadi pemimpin dengan karakter Umar,”. Empat puluh tahun kemudian sang cicit lahir, ia lah Umar ibn Abdul Aziz dari Bani Umayyah. Terinspirasi oleh kepemimpinan Umar ibn Al-Khathab, sang cicit menjalankan pemerintahan sebagaimana Umar ibn Al-Khathab, sang buyut melakukannya.

Umar ibn Aldul Aziz terkenal karena kezuhudan dan keadilannya seperti leluhurnya, Umar ibn Al-Khattab.

Sejak kecil Umar ibn Abdul Aziz sudah menunjukkan kecintaan kepada ilmu. Ia menyukai sastra dan telah hafal Al-Qur’an sejak dini. Hafalannya pada Al-Qur’an memberinya pengetahuan tentang Allah, kehidupan, alam semesta, surga, neraka, qadha, qadhar, dan hakikat kematian. Semua pengetahuan itu membuat Umar ibn Abdul Aziz sering menangis, terutama mengingat kematian dan kehidupan akhirat.

Ia tumbuh menjadi seorang anak yang kritis, menghormati guru dan para ulama pada masanya. Ia tidak menyukai kezaliman. Umar ibn Abdul Aziz menjadi gubernur pada usia muda. Ia kemudian mengundurkan diri. Ia sering berseberangan dengan khalifah Al-Walid yang memerintah dengan banyak melakukan tindakan zalim. Ia pun menentang ketika Khalifah Al-Walid hendak mencabut hak Sulaiman dan menggantinya dengan mengangkat putranya menjadi khalifah sesudahnya.

Setelah penobatan Sulaiman menjadi Khalifah, Umar ibn Abdul Aziz diangkat menjadi penasihat sekaligus menterinya. Keduanya selalu bersama. Abdul Aziz banyak memberikan pengaruh kepadanya. ketika ia merasa ajalnya semakin dekat, Sulaiman membuat surat keputusan pengganti dirinya. Ia menunjuk Umar ibn Abdul Aziz. Bagi Umar, pengangkatan dirinya menjadi khalifah adalah musibah.

Selama menjadi pemimpin, Umar dikenal dengan ketegasan dan keadilannya. Kebijakan pertama yang dibuat Umar menyebabkan ia dimusuhi oleh keluarga dari ayahnya. Setelah gagal bernegosiasi dengan Umar secara langsung maka Bani Umayyah mengutus bibi mereka, seorang yang juga dihormati oleh Umar untuk berbicara kepada Umar. Setelah perbincangan panjang, sang bibi kembali menemui Bani Umayyah dan menyampaikan perkataan Umar. Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa sang bibi berkata kepada Bani Umayyah.
“Kalian merugikan diri sendiri! Kalian menikah dengan anak cucu Umar ibn Al-Khathab, tetapi ternyata hanya Umar ibn Abdul Aziz yang meneladaninya!”

Umar juga memecat gubenur dan pejabat yang zalim, memberikan perlindungan dan keamanan untuk seluruh rakyat tanpa membeda-bedakan ras dan agama, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Ia juga mengembalikan hak-hak orang tertindas. Hal yang sama diberlakukan Umar untuk dirinya sendiri. “Ia mengembalikan harta bendanya yang mengandung unsur kezaliman atau ragu akan kemurnian haknya pada harta benda tersebut. Ia mengembalikan semua itu kepada pemiliknya yang asli karena kezuhudan dan kepercayaannya bahwa mengembalikan harta benda yang didapatkan tanpa hak kepada pemilik aslinya adalah salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah dan meletakkan hak pada tempatnya.” (halaman 314)

Seperti Umar ibn Al-Khathab, Abdul Aziz memiliki hati yang lembut. Ia seringkali menangis jika mengingat mati dan akhirat. Ia seorang yang memiliki rasa kepedulian yang sangat besar terhadap orang lain. Ia pun lapang dalam menerima nasihat dan kritikan.

Satu cerita ini barangkali tak asing. Suatu malam, Khalifah Umar sedang mengerjakan tugas negara dengan ditemani lampu minyak kecil. Kemudian datanglah seorang keluarganya. Ketika Umar mengetahui bahwa kedatangan keluarganya adalah untuk membicarakan urusan pribadi maka Umar segera mematikan lampu minyak tersebut. Keluarganya heran dan mempertanyakan hal itu. Kata Umar, “Wahai Saudaraku, bukankah engkau datang ke sini untuk keperluan pribadi, yang tak ada kaitannya dengan urusan negara? Sedangkan, lentera minyak ini dibiayai oleh negara. Agar kita tidak menyalahgunakan harta kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, maka lampu ini aku matikan.” (halaman 296)

Begitulah Umar ibn Abdul Aziz, yang memulai dari dirinya sendiri untuk menjadi contoh dan panutan bagi rakyat.

Masa kepemimpinan Umar tidak lah lama, ia sakit karena diracun oleh pelayannya (yang sebenarnya menolak melakukan itu) yang ditekan oleh orang-orang dibalik aksi itu. Dalam masa kepemimpinan yang singkat (dua tahun lima bulan empat hari) Umar berhasil memimpin sehingga kesejahteraan dan keadilan dirasakan oleh seluruh rakyat.

Dalam sebuah surat kepada penggantinya, Yazid ibn Abdul Malik (yang dipilih oleh khalifah sebelumnya, Sulaiman, setelah mengangkat Umar ibn Abdul Aziz terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk menghindari pertikaian dari keluarga Abdul Malik yang merasa lebih berhak menggantikan khalifah Sulaiman pada saat itu), Abdul Aziz berpesan:
” ….
Aku juga berpesan kepadamu agar engkau selalu bertakwa kepada Allah. Perhatikanlah kepentingan masyarakat. Utamakan mereka. Engkau hanya hidup sebentar saja karena engkau juga akan dipanggil Tuhan Yang Maha Lembut juga Maha Mengetahui.”

Menjelang ajalnya, Umar melantunkan firman Allah:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash [28]:83).
(halaman 336)

Umar pergi untuk selamanya. Kedua mata Umar tertutup, mata yang selama ini tidak pernah menutup diri dari hak Allah dan hak manusia. Umar telah kembali kepada Tuhan-nya, bertemu dan berkumpul bersama golongan yang diberi nikmat Allah Ta’ala.

Jika kita mengira bahwa kepemimpinan yang adil itu bisa terwujud karena pada masa itu tidaklah serumit sekarang situasinya, baca lah kisah Umar ibn Abdul Aziz ini. Abdul Aziz mewarisi kekhalifahan sebelumnya yang jauh dari keadilan dan dekat dengan kezaliman dan penindasan. Saat itu pun tak banyak yang membantu dan mendukung dirinya dalam menjalankan roda kepemimpinan. Namun nyatanya Abdul Aziz berhasil membangun pemerintahan yang bersih, adil dan sejahtera.

Umar ibn Abdul Aziz memilih untuk menegakkan keadilan di jalan Allah. Ia bekerja tanpa pamrih untuk kemaslahatan umat. Cukuplah ridha Allah atas dirinya.

Kisah-kisah teladan kepemimpinan dalam buku ini sungguh menyentuh, dan menghadirkan keterharuan. Semoga kita semua (tak hanya para pejabat dan pemimpin negeri) bisa meneladani kepemimpinan dua khalifah besar umat islam ini.

Dan, untuk negeri ini, semoga suatu hari nanti Allah berkenan memberikan kita pemimpin-pemimpin yang adil seperti kedua Umar di atas. Amin.

Ka’bah

download

Kendati Ka’bah telah beberapa kali mengalami pemugaran, tetapi fondasi yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim tidak goyah dan tidak diganti. Demikian Allah mengekalkan usaha Nabi Ibrahim sepanjang masa, karena keikhlasan beliau.

Ka’bah berbentuk kubus atau segi empat sehingga mengarah ke timur, barat, laut, selatan, dan utara. Bentuk demikian untuk melambangkan kehadiran Tuhan dimana-mana (baca: QS. al-Baqarah [2]:115]. Bangunan Ka’bah tidak sakral, tetapi ia wajib dihormati sebagai lambang kehadiran Allah sekaligus sebagai “meeting point”.

tawaf1

Tidak otomatis semua orang yang berkesempatan masuk ke dalam ruangan Ka’bah adalah orang-orang yang memperoleh restu Allah. Bukankah dahulu sempat masuk sekian banyak kaum musyrik dan bukankah di sana pernah ditempatkan dan disembah aneka berhala? Yang memandang Ka’bah, apalagi yang masuk ke dalamnya, disertai dengan kekaguman dan penghormatan kepada lambang kehadiran Allah itu serta merasakan kehadiran-Nya, mereka lah yang memperoleh ganjaran dan anugerah-Nya. Demikian, wa Allah A’lam.

Sumber: Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih, M. Quraish Shihab.

Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW

download
Judul: Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Tebal: 1150

Ada banyak buku bercerita mengenai sejarah Nabi Muhammad. Buku ini adalah salah satunya.

Sinopsis
Bermula dari cerita mengenai kondisi umum masyarakat sebelum kehadiran Nabi Muhammad Saw. Sementara di semenanjung Arabia sendiri, masyarakat Arab pada masa itu digambarkan sangat mahir menggunakan bahasa mereka dengan baik dan tepat, bahkan tidak jarang mereka mengucapkan kalimat bersajak atau syair-syair secara spontan. Pada masa itu syair juga berfungsi sebagai media, seperti koran atau tv jaman sekarang. Karena umumnya mereka tidak pandai membaca dan menulis maka mereka sangat mengandalkan hapalan. Kemampuan mereka mengingat sangat mengagumkan, dan kelebihan ini lah nantinya yang berperan dalam memelihara keotentikan ayat-ayat al-Qur’an.

Masyarakat Arab secara umum saat itu percaya kepada Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as. Namun ajaran itu sedikit demi sedikit luntur dan disalahpahami. Walaupun mereka mengagungkan Nabi Ibrahim dan mengakui wujud Allah sebagai pencipta alam raya, tetapi dalam substansi yang berbeda.

Dari kondisi masyarakat jahiliyah, kemudian pohon keluarga Nabi, pengutusan Nabi Muhammad dan dakwah sembunyi-sembunyi yang dimulai dari keluarga terdekat. Sampai kemudian Nabi melakukan dakwah secara terang-terangan dan dimusuhi oleh masyarakat Quraisy. Ditolak oleh kaumnya sendiri namun sebaliknya ajaran Nabi Muhammad diterima oleh masyarakat di Madinah. Kemudian Nabi hijrah ke Madinah dan berhasil membangun komunitas muslim yang hidup tenang sambil berdakwah.

Perang Badar I
Perang badar I adalah perang yang disebabkan oleh dirampasnya aset-aset kaum muslim di Mekkah. Melihat hal ini, Nabi dan para sahabatnya memutuskan untuk menghadang kafilah Mekah yang dipimpin oleh Abu Sufyan dalam perjalanan pulang dari Syam ke Mekkah. Maka pergilah Nabi bersama orang-orangnya. Abu sufyan yang mengetahui rencana ini meminta bantuan kepada masyarakat musyrik Mekkah. Kemudian dipimpin Abu Jahal berangkatlah pasukan kaum musyrik. Para kafilah berhasil lolos. Abu Sufyan kemudian meminta pasukan musyrik untuk kembali namun Abu Jahal menolak dan memutuskan bersama pasukannya untuk melanjutkan perjalanan dan berangkat menuju Badar. Akhir kisah perang Badar dimenangkan oleh kaum muslim.

Kekuatan muslim semakin bertambah demikian juga kebencian kaum musyrik. Perang besar lainnya adalah perang Uhud. Perang ini mengambil korban paling banyak dari pihak muslim. Peristiwa itu dipicu oleh ketidakpatuhan pasukan pemanah yang ditugaskan Nabi untuk tidak meninggalkan tempat. Namun mereka lalai oleh karena tergoda harta yang ditinggalkan oleh kaum musyrik yang saat itu sebenarnya sudah kepayahan.

Cerita selanjutnya berkisar pada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama periode hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah.

Kesan:
Yang menarik dari buku ini adalah: Pertama, saya sukar mengalihkan perhatian ke tempat lain :). Sunggguh deh, enak banget dibacanya. (ini mungkin nggak perlu diperdebatkan lagi kalau melihat nama penulisnya).

Buku mengenai Sirah Nabi memang banyak sekali versinya. Ada yang berjilid-jilid, atau cukup satu jilid. Namun yang membuat buku ini berbeda adalah tambahan ‘dalam sorotan al-qur’an dan hadits-hadits shahih’. Setidaknya, saya berharap buku ini bisa menjawab beberapa pertanyaan yang tersimpan di dalam hati.

Kita tidak bisa menafikan bahwa dalam buku-buku sejenis ada kalanya ditemui kisah-kisah dari riwayat lalu yang barangkali ditambahi bumbu-bumbu. Pun adanya penyalahan makna maupun tafsir. Seperti penilaian keliru yang menganggap tidak bisa membaca dan menulis Nabi sebagai kekurangan Beliau. Perlu diingat pada masa itu alat tulis sulit diperoleh, maka kemampuan menghafal sangat diandalkan dan menjadi tolak ukur keluasan pengetahuan.

Penilaian yang salah terjadi karena kekeliruan penilaian masyarakat menyangkut baik dan buruk yang dianut oleh masing-masing masyarakat, bahkan oleh masyarakat yang sama dalam waktu yang berbeda. Kata penulis lagi, kita harus menyadari bahwa ada nilai-nilai yang bersifat universal dan langgeng, ada juga yang lokal dan berubah-ubah. (halaman 15)

Kisah di atas adalah sebagian kecil informasi yang harus kita cermati dengan hati-hati, pun tidak bedanya menyikapi informasi yang mengandung keluarbiasaan yang terjadi pada Nabi Muhammad saw.

Kata penulis lagi, “Kita tidak perlu membuktikan kehebatan Nabi Muhammad saw. dengan mengandalkan riwayat-riwayat yang bersifat suprarasional/luar biasa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya. Sebagai muslim, kita mengagumi Beliau dengan kekaguman berganda dari ajaran dan akhlak Beliau.

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya pemberi peringatan yang nyata.’Apakah belum cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-kitab (al-qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang beriman” (QS. Al-Ankabut [29]: 50-51)

Pada intinya, diperlukan kehati-hatian kita untuk setiap kali menyikapi dan menyerap informasi dari sebuah buku (apalagi buku mengenai sejarah Nabi). Tujuannya tentu agar kita tidak terjebak ke dalam perbuatan atau hal-hal yang sirik.

Yang juga perlu kita pahami, kendati Nabi Muhammad saw adalah manusia seperti kita juga, jangan lupa Beliau adalah Nabi, utusan Allah. Sebagai Nabi, tentu Allah berikan hal-hal istimewa (keluarbiasaan) pada diri Beliau yang tidak diberikan pada manusia lainnya. Keluarbiasaan yang terjadi pada Nabi selama masih berada dalam fungsi kenabian patut kita terima, dan yang sebaliknya baik untuk kita tolak atau kritisi dengan hati-hati.

Nabi Muhammad adalah bukti kebenaran dari Allah dan al-qur’an adalah mukjizat yang Allah berikan kepada umat muslim melalui Nabi terakhir dari umat seluruh manusia.

“Katakanlah: Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepadanya.” (QS. Fushshilat [41]:6]

Abu Dzar, Penentang Kezaliman

download
Judul: Abu Dzar, Penentang Kezaliman
Penyunting naskah: Salman Faridi
Penerbit: DAR! Mizan
Tebal: 153
Jenis: Seri Komik Islam

Di suatu sore, Abu Dzar bertemu dengan sepupunya Unais yang baru saja pulang dari Mekkah untuk mencari berita mengenai seorang pria yang mengaku sebagai utusan Allah.
Unais: Demi pemilik bintang di langit. Ia mengajarkan sesuatu yang mirip dengan apa yang kau perjuangkan selama ini.”

Abu Dzar menjadi semakin penasaran. Segera ia memutuskan berangkat ke Mekkah. Perjalanan menuju Mekkah tidaklah mudah, sepanjang perjalanan Abu Dzar diterpa oleh panasnya siang dan debu pasir. Hingga sampailah ia di Mekkah. Abu Dzar tahu bahwa ia harus berhati-hati karena hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad saw.

Suatu hari Abu Dzar bertemu dengan Ali Bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad Saw). Ali menanyakan perihal keperluan Abu Dzar demi diperhatikannya Abu Dzar adalah seorang musafir. Abu Dzar lalu menceritakan tujuannya. Ali merasa gembira dan menuntun Abu Dzar menemui Nabi Muhammad saw. Abu Dzar lalu meminta Nabi membacakan ayat quran yang mulia. Nabi membacakan dan pada saat itu juga Abu Dzar menyatakan masuk islam. Abu Dzar mengucapkan dua kalimah syahadat dengan dituntun oleh Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad berpesan kepadanya, “Pulanglah engkau kepada kaummu. Dan beritakan kepada mereka sehingga perintahku datang lagi kepadamu.”

Keesokan harinya, Abu Dzar yang pemberani memproklamirkan keislamannya di hadapan Ka’bah, dimana saat itu banyak orang, utamanya kaum Quraisy berkumpul untuk menyembah Latta dan Uzza. Mendengar hal itu, mereka marah besar. Akibatnya Abu Dzar dipukuli. Pertolongan datang ketika Al Abbas bin Abdul Mutthalib, tokoh Bani Hasyim paman Rasulullah yang disegani kamu Quraisy berteriak kepada masyarakat, “Dia seorang suku Ghifari. Kalian tahu sendiri kan suku ghifari letaknya mesti kalian lalui bila hendak ke Syams.” Sontak mereka berhenti memukuli Abu Dzar.

Setelah itu Abu Dzar pulang ke kampung halamannya. Di sana ia berdakwa dan berhasil mengajak keluarga dan saudara-saudaranyanya masuk islam diikuti oleh separuhnya kaum Bani Ghifar.

Setelah masuknya islam ke seluruh kampung Bani Ghifar, Abu Dzar hijrah ke Madinah. Di sana ia berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah. Ia selalu mendampingi dan mengawal Nabi.

Setelah wafatnya Rasululah saw, Abu Dzar menyendiri. Abu Dzar adalah seorang penyayang terhadap kaum miskin dan lemah. Ia selalu menyuarakan kebenaran walau pahit. Maka ketika sepeninggal Nabi dan penguasa baru banyak melupakan ajaran Nabi dengan hidup berfoya-foya dan menelantarkan orang miskin, Abu Dzar tidak berdiam diri. Ia berdakwah.

Para pemimpin merasa khawatir oleh dakwah Abu Dzar yang dianggap dapat menghasut rakyat kecil. Beberapa kali Abu Dzar diusir dari kota yang ia diami dan berakhir di pengungsian. Abu Dzar meninggal seorang diri, tanpa ditemani oleh sahabat-sahabatnya, seperti sabda Nabi Muhammad SAW mengenai Abu Dzar.
“Ia berjalan kaki seoranng diri. Kelak akan meninggal seorang diri. Dan akan dibangkitkan seorang diri pula.”

Abu Dzar, sahabat Nabi, ia menghembuskan nafas terakhirnya di tengah panasnya gurun pasir, di Rabadzah. Jenasah Abu Dzar dishalati dan dikubur oleh rombongan kafilah yang melewati jalan itu.

Abu Dzar mengajarkan kepada kita tentang konsistensi pada sebuah keyakinan untuk menyayangi dan mencintai kaum miskin dan lemah, berbuat baik terhadap sesama dan tidak ikut hanyut dalam kezaliman. Kisah yang mengharu biru sekaligus menerbitkan kebahagiaan melihat orang-orang seperti Abu Dzar. Kesendirian dan terkucil adalah harga yang harus dibayar oleh Abu Dzar di dunia, namun baginya nikmat akhirat lebih dari segalanya.

Ridha

Dokumentasi: dari sini

Judul: The Road to Allah.
Penulis: Jalaluddin Rahmat
Penerbit: Mizan

Seorang sufi akan menerima kebahagiaan dan kesedihan dengan sama baiknya.

Suatu hari Nabi Musa a.s, bermaksud menemui Tuhan di Bukit Sinai. Seorang yang sangat saleh mendatanginya dan menitip pesan, “Wahai Kalimullah, selama hidup saya telah berusaha untuk menjadi orang baik. Saya melakukan shalat, puasa, haji, dan kewajiban agama lainnya. Untuk itu, saya banyak sekali menderita. Tetapi tidak apa, saya hanya ingin tahu apa yang Tuhan persiapkan bagiku nanti. Tolong tanyakan kepada-Nya. “Baik,” kata Musa. Di tengah jalan dia bertemu seorang pemabuk. “Mau kemana? Tolong tanyakan kepada Tuhan nasibku. Aku peminum, pendosa. Aku tidak pernah shalat, puasa, atau amal saleh lainnya. Tanyakan pada Tuhan apa yang dipersiapkan-Nya untukku.” Musa menyanggupi permintaannya.

Ketika kembali dari Bukit Sinai, ia menyampaikan jawaban Tuhan kepada orang saleh. “Bagimu pahala besar, yang indah-indah.” Orang saleh itu berkata, “saya memang sudah menduganya.” Kepada si pemabuk, Musa berkata,” Tuhan telah mempersiapkan bagimu tempat yang paling buruk.”. Mendengar itu si pemabuk bangkit, dengan riang menari-nari. Musa heran. “Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorangpun yang mengenalku,” ucap pemabuk itu dengan kebahagiaan yang tulus.

Akhirnya, nasib keduanya di Lauh Mahfuz berubah. Mereka bertukar tempat. Orang saleh di neraka dan orang durhaka di surga.

Musa takjub. Ia bertanya kepada Tuhan. Inilah jawaban Tuhan.

“Orang yang pertama, dengan segala amal salehnya, tidak layak memperoleh anugerah-Ku, karena anugerah-Ku tidak dapat dibeli dengan amal saleh. Orang yang kedua membuat Aku senang, karena ia senang pada apa pun yang Aku berikan kepadanya. Kesenangannya kepada pemberian-ku menyebabkan Aku senang kepadanya.”

—ridha dengan diri sendiri, alangkah sulitnya, bukan?—

sumber: Road to Allah, Jalaluddin Rahmat

Masyitoh

Masyitoh (Drama 3 babak), ditulis kembali oleh Ajip Rosyidi.

Kisah Masyitoh adalah cerita yang terdapat dalam al-Hadist. Kisah seorang sahaya Fir’aun, yang bertugas menyisiri rambut putri sang Raja. Suatu hari, ketika Masyitoh sedang mengandam tuan putri, tiba-tiba sisir terjatuh dari tangannya. Maysitoh terkejut dan langsung mengucapkan beberapa kalimat yang menyentak hati tuan putri. Singkat cerita, sang putri mengadukan percakapan yang telah terjadi antara dirinya dan Maysitoh kepada baginda raja Fir’aun. Fir’aun yang murka segera menimpakan hukuman kepada Maysitoh dan keluarganya, yaitu digodog dalam timah mendidih.

Dalam buku ini dilukiskan pengorbanan Maysitoh bukanlah pengorbanan sekedar mengharapkan surga dan takut masuk neraka. Pengorbanan Maysitoh dilandasi oleh keikhlasan untuk menegakkan hak Allah dan martabat manusia.

Kisah Maysitoh mengingatkan dan mengajarkan bahwa tanpa sadar dalam melakukan sesuatu kita seringkali berhitung dengan pahala. Pahala itu wilayah Allah. Urusan kita adalah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya seperti yang telah diamanahkan oleh-NYA.