Cecilia dan Malaikat Ariel

Karya lain dari penulis dunia Sophie, Jostein Gaarder. Buku aslinya berjudul Through a Glass, Darkly.

Malaikat melihat dengan mata hati.

Malaikat berbicara dengan saling mendengarkan pikiran.

Manusia melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Dan seluruh semesta adalah cermin dan seluruh jagat raya adalah misteri.

Cecilia adalah seorang gadis kecil yang sedang sakit keras. Cecilia marah kepada tuhan dan mengganggap Dia tak adil. Namun keajaiban terjadi di malam natal tahun itu, seorang malaikat – Ariel namanya- mengunjungi Cecilia. Mereka kemudian bersahabat dan membuat sebuah perjanjian. Malaikat meminta Cecilia memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia, dan malaikat Ariel akan memberitahukannya seperti apa surga itu.

Tuhan

Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi.

Ariel, si malaikat Tuhan percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki miliaran mata sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Tuhan memberikan mata kepada ikan-ikan karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut.  Manusia juga tidak bisa terbang, maka setiap waktu ada burung-burung melayang di angkasa dan mata mereka mengawasi dari atas. Dan kadang ada manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya, sehingga seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin, seperti langit dan laut. Langit becermin pada laut. Seperti itulah Tuhan bisa becermin pada sepasang mata manusia karena mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa becermin pada ruh manusia.

Surga

Ruh dan surga mempunyai jalan yang berdekatan. Ruh bersifat ilahiah. Meskipun manusia terbentuk dari atom-atom dan molekul-molekul, tetapi ruh manusia mungkin saja terpancar langsung dari pikiran Tuhan. Ruh manusia melompat-lompat di dalam sebuah otak yang dibentuk dari sejumlah partikel debu yang dahulu kala datang dari bintang-bintang di ruang angkasa (Hei, kita sudah pernah membahas, bahwa manusia berasal dari sebuah bintang, bukan?).  Pikiran dan perasaan manusia berputar terus menerus pada debu bintang yang tertata apik, yang di dalamnya semua ‘kabel’ syaraf dapat terhubung dengan cara-cara yang selalu baru.

Manusia mempunyai ingatan-ingatan yang berlompatan, yang terkadang terlupakan tapi kemudian sewaktu-waktu muncul kembali. Ada ‘sesuatu’ yang memunculkan kembali, entah apa. Pikiran yang tak dikehendaki seperti itu diarahkan oleh sesuatu yang bukan kesadaran manusia. Kesadaran pastilah mirip dengan sebuah teater. Dan kita sama sekali tak tahu lakon apa yang akan dimainkan pada pementasan berikutnya.

Ruh seperti sebuah teater dan aktor-aktor di atas panggung adalah berbagai pikiran yang terus menerus muncul dan memainkan beragam peran. Dan banyak ruang di teater kesadaran dengan banyak pula panggung di sana.

Dalam pikiran, manusia dapat melakukan semua hal yang bisa dilakukan malaikat dengan tubuh mereka. Seperti ketika manusia bermimpi. Manusia bisa terbang, bisa menembus pintu dan apapun yang kita mau. Dan saat manusia bermimpi, tak ada yang bisa menyakiti mereka. Manusia akan sama amannya dengan malaikat di surga. Semua yang dialami hanyalah kesadaran dan tak menggunakan pancaindra. Bukankah itu keabadian? Artinya ruh manusia juga abadi seabadi malaikat-malaikat di surga.

Takdir

Manusia yang hidup di bumi seperti memainkan peran sandiwara tanpa akhir. manusia datang dan pergi, sampai mantra KELUAR terucap.

Apakah manusia bisa menolak takdir untuk dirinya sendiri? Aku ingin mengutip kalimat dari Ariel ketika Cecilia memberikannya sebuah pertanyaan.

Cecilia: “Kalau kau, mana yang kau pilih: hidup beberapa tahun sebagai manusia atau hidup selamanya sebagai malaikat?”

Malaikat Ariel: “Baik aku maupun kamu tak bisa memilih, jadi tak ada gunanya membicarakannya. Lagipula, pastilah lebih baik mendapat satu kesempatan menyaksikan alam semesta ini ketimbang tak mengalami apa pun. Segala sesuatu yang belum diciptakan tak punya hak menuntut untuk diciptakan.”

Kita semua tak bisa melepaskan diri dari takdir yang mengikat. Kita sekedar menjalankan apa yang harus kita jalani dalam hidup. Terima dan jalani dengan keceriaan. Seperti malaikat Ariel membantu cecilia untuk belajar  menerima takdirnya.

Hidup

Manusia melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan manusia bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan melihat lebih banyak lagi. Tapi saat itu, kita tak bisa lagi melihat diri kita sendiri.

–Buku yang sangat menyentuh. Kita hanya bisa merasakan kedalamannya ketika membacanya sampai tuntas.

(sumber: Cecilia dan malaikat Ariel, Jostein Gaarder)

Aku, kita manusia mungkin tanpa sadar lebih sering membiarkan diri kita dikendalikan oleh perasaan dibanding kita yang mengendalikan perasaan. Mungkin itu juga yang terjadi pada cecilia. Dan malaikat Ariel membantunya agar cecilia mau belajar berdamai dengan dirinya sendiri, yaitu ketika ia belajar menerima takdirnya.

1 Comment

  1. Bukunya seperti menarik sekali, Mbak. Sy dah lama gak baca buku macam gituan.
    Salam hangat dari Pekalongan.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*