Category Archives: Filsafat

Pengakuan


Judul: Pengakuan
Penulis: Anton Chekhov
Penerjemah: Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun terbit: cetakan ketiga, Maret 2018
Tebal: 140

“Jangan percaya kepada Yudas-Yudas, bunglon-bunglon! Di zaman kita ini orang lebih mudah kehilangan kepercayaan daripada sarung tangan tua.”

Buku ini berisi cerita pendek Anton Chekhov yang kesemua isinya menggambarkan kondisi masyarakat Rusia menjelang abad 20. Namun, alih-alih merasa bahwa semua kisah hanya ada di masyarakat Rusia abad 20, inilah sindiran paling tajam tentang manusia yang ada di sepanjang zaman. Bagaimana tidak, praktik korupsi, penjilatan, kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain adalah kenyataan hidup yang kita temui sampai saat ini.

Chekhov menuliskan dengan gamblang, jujur, apa adanya seolah ingin merobek-robek kebanggaan yang ada pada diri manusia. Bayangkan, apa rasanya membaca kisah Ivan Kapitonich, pegawai kecil di sebuah kantor pemerintah yang memiliki penampilan mengibakan. Suatu ketika Ivan tertangkap basah berkoar-koar tentang politik oleh pimpinannya.
“Mendengar tawa saya, sekilas ia menolah kepada saya, dan gemetarlah suaranya. Ia mengenali tawa saya dan tentu juga mantel bulu saya. Sekejab itu juga penggungnya melengkung, wajahnya mengasam, suaranya padam, kedua tangannya turun ke tepi bajunya, dan lututnya membengkok. Berubah dalam sekejab mata!” (halaman 4)

Bahkan di bab awal saja, Chekhov sudah mampu membuat kita salah tingkah dengan pembuka ceritanya. Mungkin dalam hati pun kita menyerapahi, sial.

Perilaku memanipulasi orang lain dan praktik penjilatan disindir Chekhov dalam cerita Pengakuan. Pegawai kecil yang diangkat menjadi kasir dan seketika dunia sekelilingnya berubah. Dari yang tadinya begitu muram menjadi berwarna karena semua orang mendadak begitu baik hati. Chekhov menggambarkan bagaimana seorang manusia mampu menjadi penjilat sekaligus memanipulasi kelemahan manusia lainnya untuk keberuntungan dirinya sendiri.

Jahat? Iya, tapi nyatanya godaan untuk menyengsarakan orang lain demi keuntungan diri sendiri seringkali lebih besar.

Orang lebih senang hidup dalam bayang-bayang atau imajinasi yang dibentuknya sendiri. Bahayanya itu bisa memabukkan dan membuat si pelaku lupa pada tujuan hidupnya yang berakhir pada kehancuran hidupnya sendiri. Tentang ini bisa dibaca pada cermin Perrot. “Sekarang kami berdua, saya dan istri, duduk di depan cermin itu, dan semenit pun tak pernah kami berhenti memandang ke dalamnya; hidung saya berpindah ke pipi kiri, dagu berlipat dua dan bergeser ke samping, tetapi sebaliknya muka istri saya menjadi mepesona. Maka nafsu gila, nafsu liar, pun menguasai diri saya.” (halaman 46)

Masih banyak kisah menarik lainnya di kumpulan cerita pendek Anton Chekhov ini. Tak perlu merasa tersindir, sakit hati atau bahkan membela diri sekalipun. Kisah-kisah dalam buku ini memang ditulis dengan gaya satire yang memikat, jadi kita tak akan merasa tersinggung. Sebaliknya, ambillah hikmah dari pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis, yaitu: Hal yang penting adalah bahwa masyarakat perlu menyadari bahwa mereka…tidak boleh tidak harus menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berbeda... Sepanjang kehidupan itu belum terwujud, saya tidak akan jemu-jemu berkata kepada masyarakat: “Please, mengertilah bahwa kehidupan kalian busuk dan muram!.” demikian komentar Chekhov, Raja Cerpen Rusia (dikutip dari sampul belakang buku).

Oya, buku ini enak dibaca. Barangkali tak lepas dari penerjemahnya yaitu Bapak Koesalah Soebagyo Toer, kakak Pramoedya Ananta Toer.

Tentang Penerjamah
Koesalah Soebagyo Toer, lahir di Blora, Jawa Tengah, 27 Januari 1935. Setamat SMP di Blora dia meneruskan pendidikan di Taman Dewasa dan Taman Madya, Kemayoran, Jakarta, dan Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Indonesia (tidak tamat). Pada 1960-1965 dia belajar di Fakultas sejarah dan Filologi Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa, Moskwa.

Pada 1965-1967 dia menjadi dosen bahasa Rusian di Akademi Bahasa Asing Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK). Pada 1968-1978 menjadi tahanan politik Pemerintah Orde Baru.

Sekarang dia berprofesi sebagai penerjemah bahasa Inggris, Belanda, Rusia, dan Jawa.

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

3131683
Judul: Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
Tebal: 394

Peter, adalah anak laki-laki yang dijuluki dengan nama ‘Si Laba-laba’. Peter sangat suka sendiri. Ia senang duduk seorang diri untuk berpikir. Ia pandai berimajinasi dan membuat cerita. Kepalanya selalu penuh dengan cerita khayalannya sendiri.

Laba-laba adalah tokoh cerita pertama Peter. Ia menyusun cerita mengenai seorang gadis pemain trapeze di sebuah sirkus. Sirkus menjadi pilihan cerita Peter karena setiap minggu Ayahnya mengajak Peter menonton sirkus. Walaupun sirkus itu hebat, sirkus khayalan Peter lebih hebat lagi.

Si gadis pemain trapeze dalam cerita Peter sesungguhnya adalah putri sang pemimpin sirkus. Namun malangnya, baik sang pemilik sirkus ataupun sang putri sama-sama tidak menyadari bahwa mereka memiliki hubungan darah Ayah dan anak. Suatu ketika, si gadis pemain trapeze ini terjatuh sehingga lehernya patah. Saat berdiri dan menunduk di atas tubuh gadis itu sang pemilik sirkus melihat liontin dari getah ambar yang di dalamnya terdapat fosil laba-laba berumur jutaan tahun menggantung di leher sang gadis. Saat itu lah sang pemilik sirkus menyadari bahwa gadis pemain trapeze ini adalah putrinya yang ia kira telah tenggelam.

Cerita khayalan ini membuat Peter ketakutan oleh imajinasinya sendiri, terutama juga ia takut oleh kehadiran seorang laki-laki kecil yang membawa tongkat bambu di dalam mimpinya. Hanya Peter yang dapat melihat laki-laki kecil tua itu. Lelaki kecil bertopi hijau itu berhasil keluar dari mimpi Peter namun sejak saat itu ia mengikuti Peter sepanjang hidup. Seolah lelaki itu merasa bertanggungjawab atas diri Peter. Laki-laki di dalam mimpi itu muncul begitu saja di dalam dunia nyata Peter bersamaan dengan waktu yang sama ketika Ayah Peter meninggalkan rumah.

Sepeninggal Ibu, orang terdekat yang paling ia kasihi, Peter menempati flat itu sendiri. Rasa kesepian membuat Peter mulai membuka diri terhadap gadis-gadis untuk menemaninya. Sampai suatu ketika ia berkenalan dengan Maria, seorang gadis yang dicintainya. Peter sering menceritakan dongeng-dongeng khayalannya kepada Maria. Maria terpesona oleh Peter namun ia tak ingin membina hubungan mereka ke arah yang lebih serius. Maria mencintai Peter sekaligus takut oleh imajinasi Peter yang meruap-ruap. Suatu hari Maria memberi kabar bahwa dirinya akan pindah ke kota lain, namun sebelum kepergiannnya ia ingin memiliki anak dari Peter.

Peter kemudian menjalani profesi sebagai penjual imajinasi oleh karena kepandaiannya mereka-reka cerita. Ia membantu para penulis atau mereka yang ingin menjadi penulis dengan menyediakan cerita-cerita bagi mereka yang mengalami kebuntuan ide. Program ini ia namakan dengan Writer’s Aid. Awalnya program ini berjalan sangat sukses. Banyak penulis yang menjadi terkenal dengan menggunakan cerita miliknya. Peter, si laba-laba perlahan terjebak dalam jejaring yang dipintalnya sendiri. Skandal memalukan itu akhirnya tercium oleh dunia sastra internasional. Nyawa Peter pun terancam. Peter tidak pernah menyangka bahwa kehancurannya itu bersumber dari perbuatan di masa lalunya.

Ulasan
Sang tokoh, Peter, digambarkan sebagai orang yang terobsesi dengan cerita-cerita. Ia senang menyusun plot untuk buku, film dan theater. Imajinasinya tumpah ruah. Namun ia tak tertarik untuk menulis novel. Agak terdengar tidak biasa. Namun Gaarder mengibaratkan kesenangan sang tokoh ibarat seorang penggemar olahraga pancing yang tidak suka menyantap tangkapannya. Namun demikian mereka menikmati waktu yang dihabiskan berjam-jam mengawasi tali pancing mereka. Dan sesudahnya jika mereka berhasil mendapatkan seekor ikan, mereka akan memberikan kepada teman-temannya atau mengembalikan ikan itu ke air. Orang memancing tidak semata untuk menghemat uang belanja, namun ada nilai kenyamanan pada kegiatan ini. Memancing dalam pandangan mereka adalah permainan keanggunan, sebuah seni tingkat tinggi. Menyitir analogi Ernst Junger (yang juga ada di buku ini, halaman 85), “seseorang sebaiknya tidak menyesali gagasan yang menghilang. Seperti seekor ikan yang terlepas dari mata pancing kemudian berenang masuk ke kedalaman air, suatu hari kembali dengan tubuh yang lebih besar. Sementara jika seseorang menangkap ikan, mengeluarkan isi perutnya, lalu melemparkannya ke dalam ember plastik, perkembangan dari ikan itu jelas terhenti. Hal yang sama persis dapat dikatakan bagi gagasan di balik sebuah novel, begitu ia disajikan dengan ‘saus’ yang ‘lezat’, atau bahkan dipublikasikan. Barangkali dunia kebudayaan punya karakteristik terlalu banyak menangkap tetapi terlalu sedikit melepaskan.”

Perenungan hakikat makna hidup dan peran kita di dunia juga disisipkan dalam dialog pribadi sang tokoh.
“Banyak orang sedemikian kecanduan dengan kesan-kesan indriawi sehingga tidak mampu lagi memahami bahwa di luar sana ada sebuah dunia. Karena itu, mereka juga tidak mampu memahami hal sebaliknya. Mereka tidak paham bahwa suatu hari, dunia akan berakhir. Bagaimanapun, kita hanya beberapa detak jantung jauhnya dari berpisah dengan umat manusia untuk selama-lamanya.

Bertemu dengan orang-orang sombong sungguh merupakan suatu berkat. Mereka hidup seolah-olah ada yang dapat dicapai dalam kehidupan ini, seolah-olah ada yang bisa diraih. Tetapi, kita ini debu. Karenanya, tak ada yang perlu dipermasalahkan. (halaman 88-89)”

Bagaimana akhir kisah Peter? Bagaimana pula nasib laki-laki kecil bertopi hijau? Barangkali rasa penasaran yang membuat saya bergeming, tenggelam dalam setiap untaian kata di dalamnya. Gaarder memang pendongeng yang handal. Pemikiran-pemikiran filsafat pun menjadi begitu menarik melalui tulisannya. Memahami filsafat adalah belajar mengenal diri kita, tak selalu harus dimengerti barangkali cukup dengan merasakan.

“Saya melihat dunia sebagai benda yang tidak nyata dan mengelabui kita. …
Telah kulihat nyaris segala hal. Satu-satunya yang tak mungkin kupahami adalah dunia itu sendiri. Terlalu luas. Terlalu sulit ditembus. Aku sudah sejak lama menyerah untuk memahaminya. Hanya itu saja lah yang menghalangiku merasa mendapat wawasan menyeluruh.” (halaman 117).

Dunia Anna

download
Judul: Dunia Anna
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Irwan Syahrir
Penerbit: PT Mizan Pustaka
Tebal: 244

“Kita menghancurkan planet kita sendiri. Kitalah yang telah melakukannya, dan kita sedang melakukannya sekarang.” (halaman 120)

Telah lama kita, manusia diingatkan akan dampak pemanasan global. Sebuah temuan di tahun 2012 oleh satelit Badan Antariksa Amerika Serikat NASA mengabarkan bahwa es di Greenland meleleh secara ekstrim. Pelelehan es memang biasanya terjadi di musim panas namun kali ini es meleleh terjadi secara cepat dan dalam cakupan wilayah yang luas. Pelelehan es bahkan terjadi di wilayah yang belum pernah dilihat sebelumnya dalam jangka panjang.

Menurut Abdalati dari NASA, apa yang terjadi saat ini menjadi sinyal tentang apa yang akan terjadi beberapa tahun mendatang.

Melelehnya es adalah salah satu dampak dari adanya perubahan iklim.

Apa yang akan tejadi jika seluruh es mencair kelak?

Jostein menggambarkan situasi masa depan itu dalam Dunia Anna.

12.12.2082. Nova sangat terkejut mendapati surat di terminal onlinenya. Surat itu berasal dari nenek buyutnya, Anna yang ditulis 70 tahun lalu, tepatnya tanggal 12.12.12. Saat itu nenek buyut Nova berusia 16 tahun seperti dirinya saat ini.

Isi surat itu mewakili keresahan yang dirasakan oleh Nova. Tentang spesies flora dan fauna yang berangsur-angsur punah, tanah dan kota yang tenggelam serta pelelehan es yang diakibatkan oleh pemanasan global. Walau Anna dan Nova berada dalam dimensi waktu yang berbeda namun keduanya merasakan kerisauan yang sama.

Bumi yang ditempati Nova saat ini bukan lagi bumi yang cantik. Laut Arktik tak lagi menyisakan es di kutub. Sebagian besar pulau karang di Samudera Hindia telah tenggelam dan seluruh negara di atasnya telah hanyut. Kota-kota itu kini hanya menjadi kenangan. Hanya ada tiang penanda di laut yang menunjukkan itu sebuah pulau, dulu. Sebuah peradaban telah hilang. Di bagian negara lainnya mengalami suhu panas yang tinggi. Beberapa spesies flora dan fauna masih bisa ditemukan, sisa-sisa dari kejayaan bumi masa lalu. Namun lebih banyak yang punah dan terancam punah.

Nova merasa ingin marah. Ia marah pada generasi pendahulunya yang telah menghabiskan sumber daya alam dan tak menyisakan apapun untuk generasi berikutnya. Nova merasa ia berhak hidup di alam yang sempurna, seperti ketika nenek buyutnya hidup di masa itu.

Melalui cincin bermata rubi, cincin kuno dari legenda Aladdin 1001 malam, Anna, sang nenek buyut ingin memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki bumi. Bersama dengan Nova, cicitnya, mereka akan memperbaiki segala yang telah dirusak. Bagaimana caranya?

Jostein melalui Dunia Anna mengajak kita merenungkan eksistensi manusia dengan alam semesta.
“Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh jagat raya ini yang memiliki kesadaran universal-sebuah sensasi yang tak terperi atas keleluasaan dan kemisteriusan alam semesta tempat kita menjadi bagiannya. Jadi, menjaga kelestarian sumber kehidupan di planet ini bukan hanya sebuah kewajiban global. Itu adalah juga sebuah kewajiban kosmik.” (halaman 102).

Menjaga alam semesta adalah tanggungjawab kita semua atas masa depan planet ini.

Nah, sebelum terlambat, mari kita peduli. Hemat energi, hindari menggunakan kendaraan saat bepergian dengan jarak yang dekat, kurangi pemakaian kertas atau tissue. Dan jangan lupa, tanam pohon sebanyak-banyaknya.

Seseorang pernah mengatakan kepada saya bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dari bentuk kehidupan lainnya. Manusia membutuhkan makhluk hidup lainnya untuk melengkapi kehidupannya di dunia. Tanpa salah satunya, kehidupan kita akan timpang. Keseimbangan alam akan terputus.

Kita semua memainkan peran kosmik, seperti kata Jostein, bahkan bakteri kecil yang tampak remeh pun memberi makna pada alam semesta. Mari peduli 🙂

Sampar

IMG_0010
Judul: Sampar
Penulis: Albert Camus
Alih Bahasa: NH.Dini
Penerbit: Pustaka Obor
Tebal: 386

“Harapan yang menghalangi manusia pasrah kepada kematian dan yang hanya berupa kegigihan buat hidup.” (halaman 323)

Kisah bermula ketika kota dipenuhi oleh timbunan tikus-tikus mati. Ribuan tikus keluar dari tempat gelap, berjalan terhuyung-huyung dan sempoyongan di tempat terang sebelum akhirnya mati. Tikus-tikus itu telah membawa bakteri mematikan yang bisa menularkan manusia.

Kota dipenuhi oleh orang sekarat. Setiap hari puluhan orang mati karena penyakit sampar. Penduduk yang panik dan ketakutan berusaha keluar dari kota. Namun epidemi sampar telah menyebabkan kota dikucilkan. Mereka yang telah berada di dalam tidak bisa keluar dan sebaliknya.

Camus barangkali ingin menggambarkan berbagai karakter manusia melalui kisah kota yang dikucilkan. Dokter Rieux si tokoh utama misalnya, memilih untuk bertugas setiap hari, melakukan tugasnya dengan baik. Ada Grand, pegawai balai kota yang secara teratur bekerja di bagian statistik Pencatatan Sipil, yang artinya juga dia harus menghitung angka-angka kematian. Grand adalah pribadi yang langka. Ia jujur, sederhana dan memiliki sifat-sifat kebaikan yang tidak banyak dimiliki orang pada masa itu. Ada Rambert, si jurnalis yang bersedia melakukan apapun agar keluar dari kota. Namun di tengah-tengah bencana juga ada orang-orang yang berusaha mengambil keuntungan untuk memperkaya diri sendiri.

Kisah Sampar mengingatkan saya pada sebuah pertanyaan dalam sebuah cerita karya Jostein Gaarder di sini.
“Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya punya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.” (hal 212)

Dan, ketika kamu memilih hidup, bagaimanakah kamu ingin menjalani kehidupan itu? Sementara kamu tahu bahwa suatu saat kamu akan mati. Apakah kamu membiarkan kekhawatiran dan kecemasan meringkupimu sampai kematian itu datang? Atau kamu memilih untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dengan sebaik-baiknya? Atau ? …

Kisah Sampar adalah kisah tentang kita manusia. Ingin menjadi apakah diri kita?

Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada

10794395
Judul: Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada
Penulis: Leo Tolstoy
Penerbit: Serambi
Tebal: 197

Ini adalah kumpulan lima cerita pendek dari sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy. Leo Tolstoy terkenal dengan dua novelnya yang terkenal di dunia yaitu War and Peace dan Anna Karenina.

Kisah pertama bercerita tentang seorang tukang sepatu bernama Martin yang kecewa kepada Tuhan karena putranya mati. Namun kemudian di masa tuanya ia terpanggil untuk kembali ke jalan yang lurus dan bercita-cita untuk bertemu Tuhan. Pada suatu malam Martin bermimpi Tuhan memanggil dan menjanjikan bahwa Ia akan datang esok hari. Keesokan paginya, Martin duduk di tepi jendela untuk bekerja. Setiap ada orang yang tak dikenalinya melintas Martin akan melongok keluar. Pertama, ia melihat seorang tua yang kelelahan bekerja membersihkan salju. Ia kemudian mengajak laki-laki itu masuk ke dalam rumah dan menjamunya. Tamu kedua adalah seorang perempuan miskin yang sedang menggendong seorang anak. Martin menjamu dan memberikan perempuan itu dan anaknya uang serta baju hangat. Dan yang terakhir adalah nenek tua penjaja apel dan seorang pemuda yang mencuri apel itu dari sang nenek. Martin menengahi pertikaian antara mereka. Awalnya si nenek tidak mau memaafkan. Martin kemudian menasihati keduanya. Ia juga menyuruh anak laki-laki itu meminta maaf kepada si nenek dan memberikan apel kepada si pemuda. Sikap lembut dan kebaikan hati Martin melunakkan sang nenek dan anak laki-laki itu. Malam itu Martin menyadari bahwa Tuhan telah menemuinya. Tuhan memerintahkannya agar berbuat baik kepada sesama jika ia ingin ‘bertemu Tuhan’.

Pada kisah Tiga Pertapa diceritakan tiga pertapa suci yang tinggal di sebuah pulau. Seorang uskup berniat mendatangi para pertapa untuk mengajari mereka berdoa dan membantu mereka ke jalan Tuhan. Bersama rombongan sang uskup berlayar menuju pulau tersebut untuk menemui para pertapa. Setelah berhasil melatih ketiga pertapa itu berdoa maka rombongan itu pulang. Namun alangkah kagetnya sang uskup ketika ia melihat para pertapa itu berlari di atas air seolah-olah sedang berada di daratan, mengejar rombongan mereka karena para pertapa itu lupa dengan doa yang diajarkan sang uskup. Kata sang uskup kemudian, “Doa kalian akan didengar Tuhan. Bukan aku yang harus mengajari kalian. Berdoalah untuk kami, para pendosa ini.” (halaman 57)

Kesemua cerita bertema cinta spiritual. Buku ini sangat tepat untuk dibaca dan direnungkan baik-baik.
“Apa gunanya menyeberang lautan untuk mencari Tuhan, bila selama itu aku kehilangan kebenaran yang ada di dalam diriku. Di sini, ya, di sinilah aku harus memperbaiki nasib orang-orang ini.” (halaman 171). Begitulah pertarungan hati Elisha pada saat memutuskan untuk melanjutkan kepergiannya ziarah untuk mencari Tuhan atau menolong manusia lain yang sedang menderita.

Tuhan sesungguhnya tidaklah jauh, ia dekat, bahkan sangat dekat di hati setiap hamba yang mencintai dan mengasihi sesamanya.

Maya, Misteri Dunia dan Cinta

Judul: Maya, Misteri Dunia dan Cinta
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Winny Prasetyowati
Penerbit: Mizan
Halaman: 458

“Kita adalah teka-teki yang tak teterka siapapun”

Di sebuah kepulauan Fiji, tepatnya pulau Taveuni beberapa turis tanpa sengaja bertemu. Mereka ada di sana dalam rangka menyaksikan pergantian milenium. Ada John Spooke, seorang penulis Inggris yang masih berduka akan kematian istrinya. Frank Andersen, seorang ahli biologi evolusioner dari Norwegia, yang telah kehilangan seorang anak dalam sebuah kecelakaan tragis dan berpisah dari istrinya, Vera serta Ana dan Jose, pasangan penuh teka-teki dari spanyol.

Frank adalah narator dari kisah ini. Ia menuliskan surat untuk Vera, istrinya. Cerita bermula ketika Frank melakukan ekspedisi di sebuah pulau Fiji untuk tugas menyelidiki bagaimana spesies-spesies tanaman dan hewan yang didatangkan dari luar daerah telah memengaruhi keseimbangan ekologi. Pulau Taveuni merupakan rangkaian tahap akhir dari ekspedisi panjang Frank di Pasifik. Sebelum kembali ke negaranya, Frank memutuskan untuk berlibur beberapa hari di Taveuni sekaligus merayakan datangnya abad milenium di pulau yang disebut menjadi tempat berpenduduk pertama di dunia yang akan melihat milenium ketiga.

Di sebuah resor ini lah Frank bertemu dan berkenalan dengan beberapa turis lainnya. Mereka adalah: Laura, Bill, John, Jose dan Ana-pasangan penuh teka-teki dari spanyol. Beberapa kali kesempatan, disengaja maupun tidak, Frank, Jose dan Ana seringkali bertemu. Kesenangan Jose dan Ana mengutip kalimat-kalimat ganjil tentang alam semesta dan joker menarik perhatian Frank. Rasanya sejak pertama kali John melihat Ana, ia meyakini bahwa dirinya pernah melihat wajah Ana, entah di mana. Ada sesuatu yang begitu misterius pada diri perempuan itu. Dan pada saat yang sama, Frank pun memiliki perasaan yang tidak menyenangkan bahwa pada suatu waktu telah terjadi sesuatu pada Ana.

Rasa ingin tahu Frank yang tinggi terhadap pesan-pesan Jose dan Ana memenuhi sebagian besar isi surat Frank kepada Vera. Belum lagi percakapan imajiner Frank dengan seekor tokek di kamar hotelnya. Siapakah Ana? Siapakah joker? Dan apa hubungan Ana dengan Maya, si model lukisan Maja dari karya Goya yang terkenal itu?

Jostein memberikan renungan kepada kita bahwa keberadaan alam semesta dan seluruh isinya memiliki makna, pun hidup kita sendiri.

“Kita adalah bagian dari sesuatu yang sangat besar.” (halaman 366)

Enzo

Judul: Enzo, The Art of Racing in the Rain
Penulis: Garth Stein
Penerjemah: Ary Nilandari
Tebal: 408 hlm
Terbit: Cetakan 1, April 2009
Penerbit: Serambi

“Hidup, seperti halnya balapan, tidaklah hanya soal melaju kencang. Dengan menggunakan teknik-teknik di arena balap, manusia dapat berhasil menjalani liku-liku kehidupan.”

Enzo adalah kisah seekor anjing yang berjiwa manusia. Menjelang ajal, ia mengenang kembali perjalanan hidupnya dengan Denny.

Ketika Enzo berusia 12 minggu, Denny, seorang pembalap membawanya pulang ke rumah. Sejak saat itu Enzo dan Denny menjalin persahabatan yang dalam. Mereka saling mengasihi dan mempercayai satu sama lain.

Denny gemar menonton acara balap mobil. Sambil menonton Denny akan mengajaknya berbicara berbagai teknik balap mobil. Dari balap mobil pula Enzo belajar bahwa teknik-teknik di arena balap mobil bisa membantu manusia menjalani kehidupan dengan baik. Enzo banyak belajar dari Denny. Selain acara balap mobil, Enzo juga menyukai National Geographic dan Discovery Channel. Enzo juga suka menonton film-film yang dimainkan oleh aktor favoritnya.

Pelajaran pertama Enzo dalam kehidupan Denny adalah kehadiran Eve. Enzo sempat merasa cemburu. Rasa ketakutan Enzo menghalangi ia untuk mendekati Eve. Untuk beberapa waktu hubungan Enzo dan Eve memang tak akrab. Namun Enzo ingin belajar untuk mencintai Eve sebagaimana Denny mencintai gadis itu. Dan kesadaran itu muncul ketika suatu hari Denny mengajak Enzo menonton balapan mobil.

“Apa yang kau wujudkan ada di depanmu, kitalah yang menciptakan nasib kita sendiri. Baik disengaja atau tidak, kesuksesan dan kegagalan disebabkan oleh kita sendiri, bukan orang lain.”

Enzo kemudian menyadari bahwa ia harus memberikan kesempatan kepada Eve untuk melihat dirinya dari sisi yang lain. Enzo juga yang pertama kali mengetahui ada sesuatu yang tak beres pada Eve. Sayangnya, Enzo tak bisa memberikan peringatan kepada Denny. Eve jatuh sakit dan meninggal. Kepergian Eve meninggalkan duka yang dalam untuk Denny dan Zoe.

Hidup Denny hancur, terutama setelah hak pengasuhan Zoe, putri satu-satunya jatuh kepada orang tua Eve. Dan Denny sama sekali tak mempunyai hak untuk mengunjungi. Selain masalah finansial yang membuat ia tak mampu menafkahi kebutuhan putrinya.

Di tengah cobaan berat yang menghampirinya, Enzo selalu menemani Denny. Enzo lah sahabat Denny, yang selalu siap mendengarkan dan memberinya cinta yang tulus.

**
Buku ini menjadi menarik karena Enzo berperan sebagai narator, kecuali di bagian akhir.

Enzo adalah anjing yang cerdas. Ia meyakini bahwa dirinya akan lahir kembali sebagai manusia, seperti yang selama ini diangankannya. Walau untuk itu ia harus melupakan Denny dan semua kenangan yang pernah mereka jalani bersama.

Apakah kemudian Enzo benar akan menjema menjadi manusia setelah kematiannya? Jawabannya ada di bagian akhir buku ini. Silakan membaca 🙂

Gadis Jeruk


Judul : Gadis Jeruk
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : Yuliani Liputo
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan : Juli 2011 (Gold Edition)
Tebal : 252 hlm

“Bagaimana perasaan Anda jika mendapat surat dari Ayah Anda yang meninggal sebelas tahun yang lalu? Bingung, tentunya”.

Ini sebuah kisah tentang seorang anak laki-laki bernama Georg Roed, di usia-nya yang ke lima belas tahun ia mendapat surat warisan dari sang ayah, Jan Olav. Surat panjang itu berisi kenangan hari-hari yang dilalui Ayah bersama dirinya. Namun yang terutama adalah cerita Ayah tentang seorang gadis jeruk. Siapakah ia? Dan mengapa Ayah bertanya tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble? Apa hubungan gadis jeruk dengan Teleskop Ruang Angkasa Hubble?

Gadis jeruk adalah sebutan Jan Olav untuk seorang gadis cantik bernama Veronika, yang mengenakan mantel kulit berwarna oranye. Gadis itu ditemuinya pertama kali ketika mereka berada di dalam trem. Gadis itu memeluk erat sebuah kantong yang berisi jeruk-jeruk. Namun yang teristimewa dari gadis itu adalah ada sesuatu yang magis dan memikat tapi tak terjelaskan.

Sejak itu Jan Olav tidak bisa melupakan si gadis jeruk. Jan Olav mengejar si gadis jeruk kemanapun. Gadis jeruk dan Jan Olav tahu mereka mempunyai peraturan yang harus mereka tepati bersama. Aturan yang mesti mereka lakukan atau hindari, tanpa perlu memahaminya atau bahkan tak perlu membicarakannya.

Kisah mereka adalah dongeng yang juga kita, manusia jalani dalam kehidupan di dunia.

“Bukankah dunia ini hanya sebuah dongeng panjang? Dongeng besar yang kita merupakan bagian-bagiannya, puzzle besar yang mana kamu dan aku hanya merupakan beberapa keping kecilnya. Dongeng itu pun punya hukum dan peraturan tertentu yang tidak bisa kita kita mengerti, yang bisa kita sukai atau benci, tapi mau tidak mau harus kita ikuti.”

Dan sebagai sebuah dongeng tentu mempunyai akhir.

“Dongeng hebat apakah yang sedang kita jalani dalam hidup ini, dan yang masing-masing dari kita hanya boleh mengalaminya untuk waktu yang sangat singkat? Mungkin teleskop ruang angkasa akan membantu kita untuk mengerti lebih banyak tentang hakikat dongeng ini suatu hari. Barangkali, di luar sana, di balik galaksi-galaksi, terdapat jawaban apa sebenarnya manusia itu.”

Teleskop Angkasa Hubble adalah teleskop luar angkasa yang berada di orbit bumi. Sebagian besar benda-benda angkasa yang dapat ditemukan dan berhasil diidentifikasi adalah berkat jasa teleskop Hubble ini. Termasuk di antaranya lubang hitam, galaksi, supernova, sampai tabrakan bintang. Teleskop ini telah mengambil gambar-gambar yang menakjubkan tentang masa lalu alam semesta. Bagaimana mungkin? Walau terdengar absurd inilah penjelasannya:

“Sesungguhnya melihat ke ruang angkasa itu sama dengan melihat ke masa lalu”

Jika kita melihat planet yang jaraknya 100 juta tahun cahaya itu sama artinya kita melihat masa kehidupan planet itu di 100 juta tahun yang silam.

Bukankah menakjubkan? Bahkan teleskop ruang angkasa Hubble nyaris bisa melihat langsung ke dentuman besar ketika ruang dan waktu tercipta.

Manusia akan terus mencari jawaban tentang hakikat dirinya, melalui bintang-bintang, planet, galaksi, dan seluruh kehidupan di alam semesta. Entah sampai kapan.

Dan seandainya, Anda diberikan pertanyaan seperti di bawah ini, apakah jawabannya?

“Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya punya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.” (hal 212)

Oya, Gadis Jeruk versi ebook bisa kamu unduh di Qbaca. Dan untuk mendapatkan kabar terbaru mengenai koleksi buku-buku dari Qbaca bisa kamu peroleh di sini atau di sana. Untuk mendaftar ke Qbaca silakan klik laman berikut ini.

Sang Pemberontak

Judul asli: The Outsider, Sang Pemberontak
Penulis: Albert Camus
Penerbit: Liris

Camus, si pengarang The Outsider adalah filsuf yang mengenalkan filsafat absurditas. Absurdisme sendiri adalah paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal (absurd). Kesadaran para pengikut aliran itu terhadap tata tertib sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Absurdisme)

Novel sastra ini bercerita tentang seorang laki-laki, Mersault yang rela mati demi kebenaran. Mersault dikenal sebagai orang yang pendiam, baik dan mengasihi orang yang membutuhkan pertolongan. Awal cerita bermula dari kematian ibunda Mersault yang dititipkan di panti wreda. Pada saat mengunjungi jenasah sebelum proses pemakaman, Mersault tidak menunjukkan ekspresi seorang anak yang kehilangan Ibu. Reaksi yang dimunculkan Mersault mengundang gugatan dan pertanyaan.

Sehari setelah kematian Ibunya, laki-laki ini pergi berenang dan bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Dan mereka pergi nonton film komedi malam harinya.

Mersault kemudian juga berkenalan dengan tetangganya yang bernama Raymond. Raymond menghidupi dirinya dari para wanita. Raymond menyebutnya sebagai ‘Penjaga Gudang.’ Ada juga seorang tua dengan anjingnya.

Suatu saat Raymond bermasalah dengan seorang perempuan. Mersault membantu Raymond. Raymond bebas namun kakak dan teman gadis ini tampaknya tak suka.

Pada suatu hari, Raymond mengajak Mersault dan kekasihnya berlibur ke pantai, di rumah sahabat Raymond. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para lelaki teman wanita Raymond. Mereka sampai di rumah sahabat Raymond. Ketika Raymond, Mersault dan sahabatnya ini tengah berjalan-jalan di pantai, para lelaki musuh Raymond muncul. Pertikaian pertama menyebabkan luka di wajah sahabat Raymond. Perkelahian usai.

Menit berikutnya Mersault sedang menyusuri pantai ketika ia melihat salah satu musuhnya berbaring di pantai. Mersault meneruskan berjalan tapi kemudian sebuah benda tajam menyentuh pelipisnya. Rasa asin dan bau darah menerpa penciumannya. Dalam siraman cahaya matahari yang menyilaukan dan luka yang dialiri bulir-bulir air berwarna merah sehingga mengaburkan pandangannya, Mersault mengeluarkan senapan yang dipinjamkan sahabat Raymond. Dilepaskannya tembakan sebanyak empat kali.

Akibat tindakan itu Mersault menjadi tawanan dalam penjara. Ia kemudian di hukum mati. Namun Mersault dihukum bukan karena tindakan pembunuhan itu melainkan oleh karena alasan norma dan ketentuan moral etika dalam menanggapi kematian ibunya.

Mersault dalam perenungannya tak habis mengerti mengapa bukti bersalah yang memberatkan hukumannya adalah berkaitan dengan sifat-sifat dalam dirinya. Para hakim, jaksa mempertanyakan perilakunya yang tidak menangisi kematian Ibunya. Mereka beranggapan Mersault adalah monster yang harus dibasmi.

“Kujelaskan bahwa keadilan itulah yang memvonisku hukuman mati. Pendeta bilang, hukuman itu tak menghapuskan dosaku sama sekali. Kubilang aku tak tahu apa dosaku. Aku hanya diputuskan bersalah. Aku bersalah dan harus membayarnya. Jadi, tak ada lagi yang bisa diminta dariku.”

“Aku mungkin dungu tapi aku yakin atas diri sendiri, yakin akan semuanya, yakin atas hidupku dan kematian yang mendatangiku. Ya, itulah yang kumiliki. Tapi setidaknya itu kebenaran yang kupegang sebagaimana kebenaran itu memegangku. Aku telah hidup dengan cara tertentu, aku juga bisa hidup baik dengan cara lain. Telah kulakukan ini dan tak kulakukan itu. Aku tak melakukan satu hal, sebaliknya kulakukan yang lainnya. Lantas kenapa?”

Bagi Mersault, hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup akan berharga jika ia mempunyai makna. Karena itu walaupun Mersault tahu bahwa kematian membayanginya, ia memilih untuk menghadapinya dengan tegar.

Cecilia dan Malaikat Ariel

Judul asli: Through a Glass, Darkly
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan Pustaka

Cecilia adalah seorang gadis kecil yang sedang sakit keras. Sepanjang hari Cecilia terbaring di tempat tidur. Cecilia marah kepada Tuhan dan mengganggap Dia tak adil.

Namun keajaiban terjadi di malam natal tahun itu, seorang malaikat – Ariel namanya- mengunjungi Cecilia. Mereka kemudian bersahabat. Malaikat meminta Cecilia memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia, dan malaikat Ariel akan memberitahukannya seperti apa surga itu.

“Ruh dan surga mempunyai jalan yang berdekatan. Ruh bersifat ilahiah. Meskipun manusia terbentuk dari atom-atom dan molekul-molekul, tetapi ruh manusia mungkin saja terpancar langsung dari pikiran Tuhan. Ruh manusia melompat-lompat di dalam sebuah otak yang dibentuk dari sejumlah partikel debu yang dahulu kala datang dari bintang-bintang di ruang angkasa. Pikiran dan perasaan manusia berputar terus menerus pada debu bintang yang tertata apik, yang di dalamnya semua ‘kabel’ syaraf dapat terhubung dengan cara-cara yang selalu baru.

Ariel, si malaikat Tuhan percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki miliaran mata sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Tuhan memberikan mata kepada ikan-ikan karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut. Manusia juga tidak bisa terbang, maka setiap waktu ada burung-burung melayang di angkasa dan mata mereka mengawasi dari atas. Dan kadang ada manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya, sehingga seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin, seperti langit dan laut. Langit becermin pada laut. Seperti itulah Tuhan bisa becermin pada sepasang mata manusia karena mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa becermin pada ruh.”

–Buku yang sangat menyentuh. Kita hanya bisa merasakan kedalamannya ketika membacanya sampai tuntas.