Pangeran Kecil


dokumentasi: pribadi

Judul Asli: Le Petit Prince
Penulis: Antoine De Saint – Exupery
Penerjemah: Tresnawati, Ratti Affandi, Hennywati, Lolita Dewi, Wing Kardjo
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya
Cetakan: kedua, 1981
Tebal: 93

Dalam rangka #SavePustakaJaya, bulan November dari tanggal 1-15 BBI mengadakan program baca buku-buku Pustaka Jaya. Buku-buku karya penerbit Pustaka Jaya mengingatkan kita pada buku sastra bermutu. Kali ini saya memilih buku Pangeran Kecil karya pengarang Perancis, Antoine De Saint – Exupery. Pangeran Kecil pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1979, sebagai cetakan pertama. Buku ini sempat menghilang lama dari peredaran, sebelum akhirnya muncul dan diterbitkan ulang oleh PT. Gramedia Pustaka.

Suatu hari seorang pilot terdampar dan pesawat terbangnya mogok di gurun. Tempat itu jauh bermil-mil dari pemukiman orang. Di sinilah ia bertemu dengan seorang laki-laki kecil, yang kemudian disebutnya dengan pangeran kecil. Pangeran kecil ini berasal dari sebuah planet yang lain, Asteroide B-61, sebuah planet yang kecil, ukurannya tidak lebih besar dari sebuah rumah.

Pangeran kecil meminta sang pilot untuk menggambar seekor biri-biri. Sang pilot mengelak pada mulanya. Ia melepaskan bakatnya yang mungkin gemilang dalam lukis melukis ketika masih kecil. Itu adalah saat ketika ia menggambar seekor ular sanca yang sedang mencerna seekor gajah. Tapi orang-orang dewasa mengatakan itu adalah gambar sebuah topi. Bahkan ketika ia mencoba menjelaskan dengan menggambar bagian dalam ular sanca itu.

“Orang-orang dewasa tak pernah mampu mengerti sendiri dan sungguh sangat menjemukan bagi anak-anak untuk selalu dan selalu memberi penjelasan.” (hal 10)

Namun akhirnya pilot menggambarkan seekor biri-biri untuk pangeran kecil. Tapi berulang kali si pangeran menolak gambar biri-biri yang telah dibuat si pilot. Dengan kesal pilot menggambar sebuah kotak dengan tiga lubang di luar. “Ini kotak. Biri-biri yang kau inginkan ada di dalamnya.” dan jawab sang pangeran “Ini dia yang kuinginkan! Apakah biri-biri itu memerlukan rumput banyak?”

Sejak itu pangeran kecil dan sang pilot akhirnya berteman. Planet tempat pangeran kecil mempunyai tiga buah gunung berapi. Dan seperti planet lainnya di sana juga ada tanaman. Tanaman itu ada yang baik dan jelek. Pangeran kecil mempunyai bunga mawar yang sangat disayanginya walaupun bunga itu sangat sombong. Di planet pangeran ada benih tanaman yang sangat berbahaya, itulah pohon baobab. Pohon itu jika besar dapat membebani planet dan akarnya bisa melubangi tanah, Bila planet terlalu kecil dan baobabnya terlalu banyak, planet pun terbongkahlah. Karena itu pangeran mendisiplinkan dirinya untuk selalu mencabuti baobab.

“pekerjaan yang sangat membosankan, tetapi sesungguhnya sangat mudah”

“Menangguhkan pekerjaan kadang-kadang tidak menimbulkan kerugian. Tetapi kalau mengabaikan pohon baobab, berarti bencana.”

Suatu ketika, pangeran kecil bertanya apa gunanya duri pada bunga. Sang pilot yang sedang sibuk memperbaiki pesawat terbangnya, menjawab dengan seenaknya.

“Aku lagi sibuk dengan hal-hal yang sungguh-sungguh.”

Pangeran kecil tercengang. “Kamu ngomong seperti orang dewasa”

Katanya lagi “Aku mengenal suatu planet pada tempat seorang tuan berkulit merah tua. Ia tidak pernah mencium bunga. Ia tidak pernah memandang bintang. Ia tidak pernah mencintai seseorang. Ia tidak pernah mengerjakan apa-apa selain jumlah-menjumlah. Dan sepanjang hari ia seperti kamu, ia selalu berkata, “Aku orang yang bersungguh-sungguh. Aku orang yang bersungguh-sungguh.” Dan itu membuat dadanya busung karena congkak. Tapi ia bukan manusia, ia jamur!” (halaman 28)

Sebelum bertemu dengan sang pilot, pangeran kecil telah mengunjungi planet-planet lainnya. Di planet pertama ia bertemu dengan seorang raja. Raja itu tidak mempunyai pengikut.

“Pangeran kecil tidak tahu bahwa kita para raja dunia sangat sederhana. Semua adalah abdinya.”

Planet kedua berisi orang yang gila hormat.

“Senangkanlah hatiku. Walau begitu kagumilah aku!”
“Aku mengagumimu,” kata pangeran kecil sambil mengangkat bahu. “Tetapi apa untungnya bagimu?”

Planet ketiga diisi oleh peminum.

“Mengapa kau minum?” pangeran kecil bertanya.
“Untuk melupakan … bahwa aku merasa malu,” peminum mengaku sambil menundukkan kepala.
“malu karena apa?” desak pangeran kecil yang ingin menolongnya.
“Malu karena aku peminum,” jawab peminum. Kemudian ia bungkam dalam seribu bahasa.

Yang keempat berisi pengusaha. Si pengusaha selalu menghitung bintang-bintang. Ia orang yang serius dan bersungguh-sungguh. Ia meyakini diri memiliki bintang-bintang dengan cara menghitungnya.

“Aku mempunyai sekuntum bunga yang kusiram setiap hari. Aku mempunyai tiga buah gunung yang selalu kubersihkan setiap minggu, sebab aku membersihkan juga gunung-gunung yang sudah mati. Sebab siapa tahu! Dengan demikian pemilikan bermanfaat bagi bunga dan bermanfaat bagi gunungku. Tapi dengan memilikinya, kau tidak ada gunanya bagi bintang-bintangmu…,” ujar si pangeran kecil.

Planet kelima hanya cukup tempat untuk sebuah lentera dan seorang penyulut lentera. Bagi pangeran kecil, si penyulut lentera bisa menjadi sahabatnya dibanding yang lain.

“Barangkali karena ia sibuk dengan sesuatu yang lain daripada dirinya sendiri.”

Pangeran kecil terus mengunjungi planet-planet lainnya. Ia telah bertemu dengan banyak manusia dewasa.

“Manusia,” kata pangeran kecil, “mereka menjejalkan dirinya ke dalam kereta api kilat, tetapi mereka tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya mereka cari. Demikianlah, mereka tergesa-gesa, sibuk, dan berputar dalam lingkaran,”
Dan ia menambahkan, “Tidak ada gunanya…”

Jika menjadi dewasa hanya membuat kita sibuk dengan diri sendiri serta kehilangan antusiasme dan imajinasi,mungkin saatnya kita berpikir kembali untuk belajar menjadi kanak-kanak. Mereka juga akan mengajari kita pada cinta, seperti dialog indah yang dilakukan oleh seekor rubah dengan pangeran kecil.

“Pergilah lihat kembali bunga-bunga mawar itu. Kamu akan mengerti bahwa mawarmu betul-betul tunggal adanya di dunia. ”

Pangeran kecil pun pergilah melihat kembali mawar-mawar.

“Kalian sama sekali tidak serupa dengan mawarku, kalian belum apa-apa bagiku,” katanya kepada mereka. “Tidak ada seorang pun yang menjinakkan kalian dan kalian tidak menjinakkan siapa pun.”

“Kalian cantik, tetapi kalian hampa,” katanya lagi pada mereka. “Tidak ada yang sanggup mati bagi kalian. Tentu saja bagi orang yang lalu, mawarku dikiranya mirip dengan kalian, mawar biasa, tapi ia, walaupun setangkai, lebih penting dari kalian semua, karena hanya dialah yang kusirami. Karena dialah yang kuletakkan di bawah sungkup. Karena dialah yang kulindungi dengan penahan angin. Untuk kepentingannya kubunuh ulat-ulat kecuali dua atau tiga untuk kupu-kupu. Karena dialah yang kudengarkan keluhnya, bualannya, ataupun kadang-kadang kebisuannya. Karena ia mawarku.”

3 Comments

  1. Sri Wuri Pangesti

    Selamat pagi, saya sedang mencari terjemahan Le Petit Prince asli karya Wing Kardjo. Jika berkenan, bisakah anda memberi tatahu saya dimana saya bsa mendapatkannya? Karena sejauh ini yg saya dapatkan adalah terjemahan terbaru versi gramedia dngn penerjemah yg berbeda.
    Terima kasih atas jawabannya

    • admin

      Selamat malam mbak. Maaf, saya kurang tahu. Tapi barangkali bisa coba dicari di toko buku kecil di sudut TIM atau di tobuk Palasari di Bandung. Hanya saja untuk cetakan yang mbak cari sepertinya sudah agak sulit ditemukan.

Trackbacks

  1. Menciptakan Hubungan « Always in motion is the future~Yoda

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*