Category Archives: Filsafat

Cecilia dan Malaikat Ariel

Judul asli: Through a Glass, Darkly
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan Pustaka

Cecilia adalah seorang gadis kecil yang sedang sakit keras. Sepanjang hari Cecilia terbaring di tempat tidur. Cecilia marah kepada Tuhan dan mengganggap Dia tak adil.

Namun keajaiban terjadi di malam natal tahun itu, seorang malaikat – Ariel namanya- mengunjungi Cecilia. Mereka kemudian bersahabat. Malaikat meminta Cecilia memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia, dan malaikat Ariel akan memberitahukannya seperti apa surga itu.

“Ruh dan surga mempunyai jalan yang berdekatan. Ruh bersifat ilahiah. Meskipun manusia terbentuk dari atom-atom dan molekul-molekul, tetapi ruh manusia mungkin saja terpancar langsung dari pikiran Tuhan. Ruh manusia melompat-lompat di dalam sebuah otak yang dibentuk dari sejumlah partikel debu yang dahulu kala datang dari bintang-bintang di ruang angkasa. Pikiran dan perasaan manusia berputar terus menerus pada debu bintang yang tertata apik, yang di dalamnya semua ‘kabel’ syaraf dapat terhubung dengan cara-cara yang selalu baru.

Ariel, si malaikat Tuhan percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki miliaran mata sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Tuhan memberikan mata kepada ikan-ikan karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut. Manusia juga tidak bisa terbang, maka setiap waktu ada burung-burung melayang di angkasa dan mata mereka mengawasi dari atas. Dan kadang ada manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya, sehingga seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin, seperti langit dan laut. Langit becermin pada laut. Seperti itulah Tuhan bisa becermin pada sepasang mata manusia karena mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa becermin pada ruh.”

–Buku yang sangat menyentuh. Kita hanya bisa merasakan kedalamannya ketika membacanya sampai tuntas.

Misteri Soliter

Judul: Misteri Soliter
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Jalasutra

Siapakah Aku? Darimanakah Aku berasal? Dan kemanakah aku akan menuju?

Buku karangan Jostein Gaarder ini bercerita tentang perjalanan seorang anak laki-laki bernama Hans Thomas dengan ayahnya dalam upaya mencari ibunya. Hans adalah anak laki-laki berumur 12 tahun yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Ayah Hans adalah seorang yang jenius dan menyukai filsafat, walau sedikit pemabuk.

Di dalam perjalanan itu Ayah dan anak ini bercakap-cakap. Ayah Hans suka memancing Hans dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Serangkaian peristiwa aneh juga terjadi di dalam perjalanan itu. Dimulai dari lelaki kerdil yang memberi Hans kaca pembesar, kemudian tukang roti yang memberinya kue dan buku mungil yang berkisah tentang seorang pelaut yang terdampar di pulau terpencil. Dan di pulau itu dihuni oleh seperangkat kartu remi (baca: yang mewujud dalam sosok para kurcaci) yang di dalamnya membentuk sebuah permainan soliter.

Kartu remi ibarat sekumpulan manusia di bumi. Ada berbagai wajah manusia di bumi. Seperti juga halnya kartu remi: ada wajik, sekop, hati, dan keriting.Namun yang paling istimewa adalah Joker. Kehadirannya dalam setiap permainan selalu diperebutkan.

Seperti itu pulalah Joker digambarkan dalam buku Misteri Soliter. Seorang joker adalah orang yang jujur, pintar, cerdas, dan selalu banyak bertanya. Ia tidak keberatan untuk berbeda dengan orang lain. Baginya hidup adalah kebebasan untuk mendalami arti kehidupan itu sendiri. Joker adalah mewakili kehausan diri manusia yang ingin terus menerus lebih memahami arti dunia. Berbeda dengan kartu remi lainnya, bagi mereka hidup di dunia sudah begitu adanya.

“Tiba-tiba kusadari banyak manusia yang hidup di bumi tanpa sadar akan banyak hal di sekitarnya, seperti halnya para kurcaci pemalas di Pulau Ajaib itu. Kehidupan kita adalah bagian dari petualangan yang unik. Sekalipun demikian, sebagian besar dari kita berpikir dunia ini “biasa-biasa saja” dan terus menerus mencari sesuatu yang tak biasa-seperti bidadari atau makhluk angkasa luar. Tetapi itu terjadi karena kita tak menyadari bahwa dunia adalah misteri.”

Tidakkah pertanyaan mengenai siapa diri kita, darimana kita berasal menjadi sebuah misteri? Dan bagaimanakah mungkin sesuatu bisa muncul begitu saja dari ketiadaan? Bukankah itu seperti mimpi yang menakjubkan?

Candide

Judul: Candide
Penulis: Voltaire
Penerbit: Liris Publishing

Candide adalah salah satu karya filsuf Perancis pada era pencerahan, dengan nama pena Voltaire. Nama aslinya adalah Francois Marie Arouet.

Sinopsis:
Candide adalah seorang laki-laki yang berwatak lembut, tabah dan berkemauan keras. Ia meyakini bahwa ia tinggal di dunia yang terbaik dari semua kemungkinan yang ada. Ia sangat mempercayai ajaran gurunya yang menyatakan “semua yang terjadi di dunia ini selalu yang terbaik.”

Candide menyukai Cunegonde, putri bangsawan seorang baroness. Suatu hari sang baroness melihat Candide mencium putri kesayangannya. Sang baroness marah dan ditendanglah Candide dari istana. Di luar istana ia menemui kenyataan yang bertolak belakang dengan ajaran gurunya. Ia menemui kejahatan, peperangan, bencana, musibah. Namun ia masih meyakini ajaran gurunya, bahwa semua diciptakan dalam bentuk yang terbaik.

Sampai suatu ketika ia bertemu gurunya, Panglos yang terlunta-lunta dan menderita sakit. Kemudian gurunya bercerita bahwa istana baroness dihancurkan musuh, nona cunegonde dikabarkan meninggal. Selanjutnya, guru dan murid ini kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan mereka. Sampai kemudian Panglos dihukum gantung.

Setelah menghadapi kenyataan-kenyataan pahit yang dilaluinya, Candide mulai menggugat ajaran gurunya. “Seandainya ini adalah dunia terbaik dari yang paling mungkin, lalu bagaimana dengan kemungkinan dunia yang lainnya?”

Voltaire di sini sebenarnya ingin menyindir filosofis optimisme yang memandang bahwa semua bencana, musibah, kejahatan yang dibuat oleh manusia sendiri dapat dianggap sebagai kehendak Tuhan.

Yang ditentang oleh Voltaire adalah sikap pasrah manusia. Alih-alih menyalahkan takdir karena banjir, misalnya, bukankah sebaiknya kita bergerak, melakukan sesuatu? Bukankah itu gunanya akal dan pikiran yang Tuhan berikan? Untuk kita berpikir dan tidak hanya berpangku tangan saja? Manusia tidak boleh menyerah pada nasibnya, ia harus berkarya untuk memperbaiki kehidupannya. Seperti dinyatakan dalam kutipan di bawah ini:

“Aku juga tahu,” Candide berkata,”bahwa kita harus menggali kebun kita.”
“Kau benar,” Pangloss berkata, “karena ketika manusia ditempatkan di taman Eden maka dia ditempatkan di sana ut operaretur eum-sehingga dia bisa bekerja: itulah bukti bahwa manusia dilahirkan bukan untuk menganggur.”
“Mari bekerja kalau begitu, dan jangan berdebat,” Martin berkata. “Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat hidup menjadi berguna.”

Voltaire kemudian menutup kisah Candide dengan sindiran halus menggelitik.
Setiap kali Panglaoss berkata seperti ini kepada Candide: “Tentu saja ada rangkaian peristiwa dalam dunia yang terbaik ini. Pertimbangkan saja: seandainya kau tidak ditendang keluar dari kastel indah karena mencintai Nona Cunegonde – seandainya kau tidak…… – seandainya kau…. ”

“Sungguh pengamatan yang luar biasa,” Candide berkata. “Tapi ayo kita mencangkuli kebun kita.”

Sang Pemberontak, Albert Camus

Sambil membaca Catatan Pinggir 7-Goenawan Mohamad, diselingi dengan menuntaskan The Outsider (Sang Pemberontak), Albert Camus.

Camus, si pengarang The Outsider adalah filsuf yang mengenalkan filsafat absurditas. Absurdisme sendiri adalah paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal (absurd). Kesadaran para pengikut aliran itu terhadap tata tertib sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum.

Novel sastra ini bercerita tentang seorang laki-laki yang rela mati demi kebenaran. Tokoh kita ini dikenal sebagai orang yang pendiam, baik dan mengasihi orang yang membutuhkan pertolongan. Awal cerita bermula dari kematian ibu sang tokoh yang dititipkan di panti wreda. Pada saat mengunjungi jenasah sebelum proses pemakaman, si tokoh tidak menunjukkan ekspresi seorang anak yang kehilangan Ibu (Parameter yang berlaku di masyarakat umum). Reaksi yang dimunculkan si tokoh mengundang gugatan dan pertanyaan.

Sehari setelah kematian Ibu, laki-laki ini pergi berenang dan bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Dan mereka pergi nonton film komedi malam harinya.

Laki-laki ini juga berkenalan dengan tetangganya yang bernama Raymond. Raymond menghidupi dirinya dari para wanita. Raymond menyebutnya sebagai ‘Penjaga Gudang.’ Ada juga seorang tua dengan anjingnya.

Suatu saat Raymond bermasalah dengan seorang perempuan. Sang tokoh membantu Raymond. Raymond bebas namun kakak dan teman gadis ini tampaknya tak suka.

Pada suatu hari, Raymond mengajak tokoh dan kekasihnya berlibur ke pantai, di rumah sahabat Raymond. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para lelaki teman wanita Raymond. Mereka sampai di rumah sahabat Raymond. Ketika Raymond, tokoh dan sahabatnya ini tengah berjalan-jalan di pantai, para lelaki musuh Raymond muncul. Pertikaian pertama menyebabkan luka di wajah sahabat Raymond. Perkelahian usai.

Menit berikutnya sang tokoh sedang menyusuri pantai ketika ia melihat salah satu musuhnya berbaring di pantai. Sang tokoh meneruskan berjalan tapi kemudian sebuah benda tajam menyentuh pelipisnya. Rasa asin dan bau darah menerpa penciumannya. Dalam siraman cahaya matahari yang menyilaukan dan luka yang dialiri bulir-bulir air berwarna merah sehingga mengaburkan pandangannya, sang tokoh mengeluarkan senapan yang dipinjamkan sahabat Raymond. Dilepaskannya tembakan sebanyak empat kali.

Singkat cerita, sang tokoh menjadi tawanan dalam penjara. Ia kemudian di hukum mati.

Tokoh kita ini dalam perenungannya tak habis mengerti mengapa bukti bersalah yang memberatkan hukumannya adalah berkaitan dengan sifat-sifat dalam dirinya. Para hakim, jaksa menggugat perilakunya yang tidak menangisi kematian Ibunya. Mereka beranggapan sang tokoh adalah monster yang harus dibasmi.

Reaksi sang tokoh yang biasa saja menanggapi hukuman juga menjadi hal yang mengherankan. Ditampiknya pendeta yang ingin bertemu untuk melakukan ritual sebelum eksekusi dijalankan, seperti pengakuan dosa dan menerima penyesalan (tobat) korban. Pendeta mengira sang tokoh dalam keputusasaan sehingga berperilaku seperti itu. Dan laki-laki itu menjelaskan bahwa ia tak sedang putus asa. “Aku cuma takut yang menurutku wajar,” kata laki-laki itu.

Sifat keras kepala laki-laki ini yang tak mau mengakui dosanya membuat pendeta jengkel. Tampak pada cukilan kalimat berikut ini.

“Kujelaskan bahwa keadilan itulah yang memvonisku hukuman mati. Pendeta bilang, hukuman itu tak menghapuskan dosaku sama sekali. Kubilang aku tak tahu apa dosaku. Aku hanya diputuskan bersalah. Aku bersalah dan harus membayarnya. Jadi, tak ada lagi yang bisa diminta dariku.”

Keyakinan sang tokoh begitu besar dan tampak pada paragraf ini.
“Aku mungkin dungu tapi aku yakin atas diri sendiri, yakin akan semuanya, yakin atas hidupku dan kematian yang mendatangiku. Ya, itulah yang kumiliki. Tapi setidaknya itu kebenaran yang kupegang sebagaimana kebenaran itu memegangku. Aku telah hidup dengan cara tertentu, aku juga bisa hidup baik dengan cara lain. Telah kulakukan ini dan tak kulakukan itu. Aku tak melakukan satu hal, sebaliknya kulakukan yang lainnya. Lantas kenapa?”

“Tak ada, tak ada sama sekali yang berhak menangisinya. Aku juga merasa siap menjalani hidupku lagi. Seolah-olah ledakan besar kemarahan ini telah menyingkirkan semua sakitku, membunuh seluruh harapanku, kupandang ke atas ke gugusan tanda dan bintang di langit malam dan membiarkan diri terbuka untuk pertama kali terhadap pengabaian dunia yang ramah. Kutemukan sangat mirip diriku sendiri, faktanya begitu memiliki rasa persaudaraan, kusadari bahwa aku bahagia dan tetap bahagia.”

Bagi sang tokoh, hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup akan berharga jika ia mempunyai makna. Karena itu walaupun sang tokoh tahu bahwa kematian membayanginya, ia memilih untuk menghadapinya dengan tegar.

“Dari kedalaman masa depanku, sepanjang seluruh hidupku yang absurd yang kujalani, aku merasakan tiupan samar-samar berhembus ke arahku selama bertahun-tahun yang masih akan berhembus.”

Candide

Candide adalah salah satu karya filsuf Perancis pada era pencerahan, dengan nama pena Voltaire. Nama aslinya adalah Francois Marie Arouet.

Secuil kisah dan renungan dari buku Candide.

Candide ini cerita seorang laki-laki yang berwatak lembut, tabah dan berkemauan keras. Ia meyakini bahwa ia tinggal di dunia yang terbaik dari semua kemungkinan yang ada. Ia sangat mempercayai ajaran gurunya yang menyatakan “semua yang terjadi di dunia ini selalu yang terbaik.”

Jadi, Candide ini menyukai Cunegonde, putri bangsawan seorang baroness. Suatu waktu sang baroness melihat Candide mencium putri kesayangannya, marahlah Ia dan Candide ditendang dari istana. Kemudian cerita berlanjut pada kisah Candide setelah keluar dari istana Baroness. Di luar istana ia menemui kenyataan yang bertolak belakang dengan ajaran gurunya.Ia menemui kejahatan, peperangan, bencana, musibah. Namun ia masih meyakini ajaran gurunya, bahwa semua diciptakan dalam bentuk terbaik dari semua dunia yang mungkin.

Sampai suatu ketika ia bertemu gurunya, Panglos yang terlunta-lunta dan menderita sakit. Kemudian gurunya bercerita bahwa istana baroness dihancurkan musuh, nona cunegonde dikabarkan meninggal. Selanjutnya, guru dan murid ini kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan mereka. Sampai kemudian Panglos dihukum gantung.

Candide setelah mengalami kenyataan-kenyataan pahit (gurunya Panglos dihukum gantung, kabar meninggal gadis pujaannya, tenggelamnya Anabaptis, pelindungnya, dll) menggugat dirinya dengan pertanyaan berikut “Seandainya ini adalah dunia terbaik dari yang paling mungkin, lalu bagaimana dengan kemungkinan dunia yang lainnya?”

Voltaire di sini sebenarnya ingin menyindir filosofis optimisme. Oya, ada dua macam optimisme. Saya kutip dari sini. Pertama, yang mudah, variasi puas diri optimisme yang mana selalu dengan bodoh percaya bahwa sesuatu yang dikehendaki baik yang akhirnya muncul dari kejahatan. Mereka yang berpegang teguh pada optimisme macam ini memandang pada kehidupan yang sering dikatakan bahwa apapun juga yang Tuhan kerjakan ia pasti mengerjakan untuk yang terbaik.

Yang kedua, adalah jenis optimisme yang beralasan, ditemukan pada pertimbangan dan kebijaksanaan. Pertimbangan fakta yang seksama dan kesimpulan seimbang mencapai pada akhirnya. Jenis optimisme yang kedua ditandai sebagai sikap orang yang bijaksana dalam kehidupannya.

Voltaire mungkin ingin menyindir filosofis optimisme yang pertama.

Apakah semua bencana dan musibah yang dibuat oleh manusia sendiri dapat dianggap sebagai kebaikan yang dibuat oleh Tuhan? Contoh, misalkan banjir yang terjadi saat ini. Apakah kita bisa mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa musibah yang terjadi saat ini adalah yang terbaik menurut Tuhan?

Banjir yang terjadi di negeri kita ini bukan untuk yang pertama. Sejak di sekolah dasar kita sudah belajar penyebab banjir, seperti: sampah yang dibuang di got, tidak ada tanaman hijau yang dapat menyerap air, dll. Tapi, dalam aplikasi kehidupan sehari-hari, kita tetap saja dengan santainya membuang sampah di selokan atau dimanapun, seakan-akan semua tempat adalah keranjang sampah. Kalau sudah demikian masih pantaskah kita mengatakan bahwa musibah banjir yang terjadi karena takdir?

Lalu, apa gunanya Tuhan memberikan manusia akal dan pikiran?

Cecilia dan Malaikat Ariel

Karya lain dari penulis dunia Sophie, Jostein Gaarder. Buku aslinya berjudul Through a Glass, Darkly.

Malaikat melihat dengan mata hati.

Malaikat berbicara dengan saling mendengarkan pikiran.

Manusia melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Dan seluruh semesta adalah cermin dan seluruh jagat raya adalah misteri.

Cecilia adalah seorang gadis kecil yang sedang sakit keras. Cecilia marah kepada tuhan dan mengganggap Dia tak adil. Namun keajaiban terjadi di malam natal tahun itu, seorang malaikat – Ariel namanya- mengunjungi Cecilia. Mereka kemudian bersahabat dan membuat sebuah perjanjian. Malaikat meminta Cecilia memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia, dan malaikat Ariel akan memberitahukannya seperti apa surga itu.

Tuhan

Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi.

Ariel, si malaikat Tuhan percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki miliaran mata sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Tuhan memberikan mata kepada ikan-ikan karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut.  Manusia juga tidak bisa terbang, maka setiap waktu ada burung-burung melayang di angkasa dan mata mereka mengawasi dari atas. Dan kadang ada manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya, sehingga seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin, seperti langit dan laut. Langit becermin pada laut. Seperti itulah Tuhan bisa becermin pada sepasang mata manusia karena mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa becermin pada ruh manusia.

Surga

Ruh dan surga mempunyai jalan yang berdekatan. Ruh bersifat ilahiah. Meskipun manusia terbentuk dari atom-atom dan molekul-molekul, tetapi ruh manusia mungkin saja terpancar langsung dari pikiran Tuhan. Ruh manusia melompat-lompat di dalam sebuah otak yang dibentuk dari sejumlah partikel debu yang dahulu kala datang dari bintang-bintang di ruang angkasa (Hei, kita sudah pernah membahas, bahwa manusia berasal dari sebuah bintang, bukan?).  Pikiran dan perasaan manusia berputar terus menerus pada debu bintang yang tertata apik, yang di dalamnya semua ‘kabel’ syaraf dapat terhubung dengan cara-cara yang selalu baru.

Manusia mempunyai ingatan-ingatan yang berlompatan, yang terkadang terlupakan tapi kemudian sewaktu-waktu muncul kembali. Ada ‘sesuatu’ yang memunculkan kembali, entah apa. Pikiran yang tak dikehendaki seperti itu diarahkan oleh sesuatu yang bukan kesadaran manusia. Kesadaran pastilah mirip dengan sebuah teater. Dan kita sama sekali tak tahu lakon apa yang akan dimainkan pada pementasan berikutnya.

Ruh seperti sebuah teater dan aktor-aktor di atas panggung adalah berbagai pikiran yang terus menerus muncul dan memainkan beragam peran. Dan banyak ruang di teater kesadaran dengan banyak pula panggung di sana.

Dalam pikiran, manusia dapat melakukan semua hal yang bisa dilakukan malaikat dengan tubuh mereka. Seperti ketika manusia bermimpi. Manusia bisa terbang, bisa menembus pintu dan apapun yang kita mau. Dan saat manusia bermimpi, tak ada yang bisa menyakiti mereka. Manusia akan sama amannya dengan malaikat di surga. Semua yang dialami hanyalah kesadaran dan tak menggunakan pancaindra. Bukankah itu keabadian? Artinya ruh manusia juga abadi seabadi malaikat-malaikat di surga.

Takdir

Manusia yang hidup di bumi seperti memainkan peran sandiwara tanpa akhir. manusia datang dan pergi, sampai mantra KELUAR terucap.

Apakah manusia bisa menolak takdir untuk dirinya sendiri? Aku ingin mengutip kalimat dari Ariel ketika Cecilia memberikannya sebuah pertanyaan.

Cecilia: “Kalau kau, mana yang kau pilih: hidup beberapa tahun sebagai manusia atau hidup selamanya sebagai malaikat?”

Malaikat Ariel: “Baik aku maupun kamu tak bisa memilih, jadi tak ada gunanya membicarakannya. Lagipula, pastilah lebih baik mendapat satu kesempatan menyaksikan alam semesta ini ketimbang tak mengalami apa pun. Segala sesuatu yang belum diciptakan tak punya hak menuntut untuk diciptakan.”

Kita semua tak bisa melepaskan diri dari takdir yang mengikat. Kita sekedar menjalankan apa yang harus kita jalani dalam hidup. Terima dan jalani dengan keceriaan. Seperti malaikat Ariel membantu cecilia untuk belajar  menerima takdirnya.

Hidup

Manusia melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan manusia bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan melihat lebih banyak lagi. Tapi saat itu, kita tak bisa lagi melihat diri kita sendiri.

–Buku yang sangat menyentuh. Kita hanya bisa merasakan kedalamannya ketika membacanya sampai tuntas.

(sumber: Cecilia dan malaikat Ariel, Jostein Gaarder)

Aku, kita manusia mungkin tanpa sadar lebih sering membiarkan diri kita dikendalikan oleh perasaan dibanding kita yang mengendalikan perasaan. Mungkin itu juga yang terjadi pada cecilia. Dan malaikat Ariel membantunya agar cecilia mau belajar berdamai dengan dirinya sendiri, yaitu ketika ia belajar menerima takdirnya.

Kurcaci dan Pulau Ajaib

Ini dongeng tentang kurcaci dan pulau ajaib, dari buku Misteri Soliter. Soliter sendiri adalah nama salah satu permainan kartu remi, yang dapat dimainkan sendiri.

Jadi, begini ceritanya: Alkisah ada seorang pelaut terdampar di sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Dalam kesendiriannya ia sering melamunkan bercakap-cakap dengan teman-teman khayalan. Mereka adalah sekumpulan kartu remi dalam wujud kurcaci. Si pelaut sangat intens berkomunikasi dengan teman-teman khayalannya, seolah-seolah mereka betul-betul ada. Hingga suatu hari, dia bertemu dengan mereka dalam kehidupan nyata. Para kurcaci itu hadir karena khayalan si pelaut. Mereka membentuk koloni dan bertindak seperti titah sang pelaut dalam dongeng yang dihidupkannya sendiri.

Setelah 52 tahun berselang (jumlah satu pak kartu remi), seorang pelaut lain terdampar di pulau ajaib itu. Suatu hari dia bertemu dengan para kurcaci dan menanyakan siapa raja di pulau itu. Para kurcaci menjawab bahwa mereka punya banyak raja. Sang pelaut merasa kebingungan. Sampai ketika akhirnya dia bertemu dengan pelaut tua yang lebih dahulu terdampar di pulau ajaib ini. Dia lah, sang pelaut tua, penguasa pulau ajaib.

Pada permainan kartu remi, dikenal 4 simbol raja yang berbeda satu sama lain, yaitu sekop, keriting, wajik, dan hati. Menurut cerita, 4 simbol raja pada kartu remi, ternyata melambangkan 4 raja yang terkenal di jaman masing-masing, yaitu: Sekop (David/Raja Daud), Keriting (Alexander the Great/Iskandar Agung), Hati (Charlemagne/Raja Prancis), Wajik(Julius Caesar). Oya, ada juga dua buah kartu joker, merah dan hitam sebagai kartu tambahan. Joker adalah kartu yang ikut menentukan kemenangan dan kekalahan dalam setiap permainan remi. Kartu remi adalah contoh bagaimana sebuah keteraturan bekerja.

Demikian juga kehidupan di pulau ajaib. Mereka punya banyak raja. Dan ada juga tokoh joker. Joker adalah tokoh yang pintar dan tak berhenti bertanya.  Kehadirannya seringkali menimbulkan kekacauan pada sistem nilai yang telah lama dianut. Namun demikian ia adalah seorang yang netral. Joker tidak masuk ke dalam kelompok manapun tapi ia bisa masuk ke kelompok mana saja. Ia lah chaos di antara keteraturan.

Apakah akhirnya para kurcaci itu mengetahui asal usul mereka? Atau akankah selamanya dunia dan kehidupan mereka di pulau ajaib menjadi misteri selamanya? Seperti juga, manusia?

Enzo

“Hidup, seperti halnya balapan, tidaklah hanya soal melaju kencang. Dengan menggunakan teknik-teknik di arena balap, manusia dapat berhasil menjalani liku-liku kehidupan.”

imagesEnzo adalah kisah seekor anjing yang berjiwa manusiawi. Kebersamaan yang dilaluinya bersama Denny, sang majikan, dan keluarganya mengajarkan Enzo untuk memahami kehidupan manusia.

Pelajaran pertama Enzo dalam kehidupan (keluarga) Denny adalah kedatangan Eve, istri Denny. Enzo merasakan ketakutan walaupun dia sendiri ingin belajar mencintai Eve, sebagaimana Denny mencintainya. Dan bagaimana Enzo kemudian memperbaiki hubungan dengan Eve, adalah sebuah pelajaran menarik yang diberikan Denny, ketika suatu hari mereka berkumpul menonton rekaman balap mobil. ….. “Apa yang kau wujudkan ada di depanmu; kitalah yang menciptakan nasib kita sendiri. Baik disengaja atau tidak, kesuksesan dan kegagalan disebabkan oleh kita sendiri, bukan orang lain.” Dengan demikian Enzo bersikukuh untuk memberi kesempatan kepada Eve untuk melihat dirinya dari sudut yang berbeda.

Dan bagaimana kemudian Enzo berusaha menghilangkan sisi manusiawinya ketika menghadapi kenyataan bahwa Eve pergi selamanya, setelah menderita sakit parah dan meninggalkan duka yang dalam untuk Denny dan Zo, putri tunggal mereka.

Bagaimana kelanjutannya? Baca sendiri ya :). Nilai-nilai yang diajarkan dalam buku ini tidak cukup sekadar dibuat reviewnya saja.