Homo Deus

Judul: Homo Deus, Masa Depan Umat Manusia
Penulis: Yuval Noah Harari
Penerbit: PT Pustaka Alvabet
Tahun terbit: Cetakan 4, Februari 2019
Tebal: 527

“Kemana kita pergi dari sini? Takdir baru apa yang kita jalani? Bagaimana kita melindungi planet rapuh ini dan umat manusianya dari kekuatan destruktif kita sendiri?”

Ini adalah buku kedua dari trilogi Yval Noah Harari setelah Homo Sapiens. Jika Homo Sapiens mengajak kita melihat dari mana manusia berasal dan bagaimana Homo sapiens menjadi spesies yang dominan di bumi, Homo Deus mengajak kita menengok ke arah sebaliknya, ke mana manusia akan pergi?

Jika keberadaan manusia pada awalnya merupakan hasil dari proses evolusi dan seleksi alam, Harari membayangkan sebuah tahap baru ketika manusia mulai memiliki kemampuan yang sebelumnya hanya dianggap sebagai kemampuan β€œdewa”. Kemajuan bioteknologi, rekayasa genetika, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi memungkinkan manusia mengubah dirinya sendiri sekaligus lingkungan tempat ia hidup.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah teknologi yang diciptakan manusia pada akhirnya justru akan menggeser keberadaan manusia itu sendiri? Apakah manusia akan mengalami nasib seperti spesies-spesies lain yang dahulu tersingkir dalam persaingan evolusi? Bedanya, kali ini lawannya bukan spesies lain yang muncul secara alamiah, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, yaitu mesin dan kecerdasan buatan.

Harari terlebih dahulu mengajak kita melihat persoalan-persoalan besar yang selama ribuan tahun menghantui umat manusia, yaitu kelaparan, wabah, dan perang. Saat ini, kita meyakini bahwa kita telah mampu mengatasi masalah-masalah tersebut walaupun belum sepenuhnya hilang dari muka bumi. Dengan pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia telah mampu memahami penyebabnya dan mampu untuk mencegah serta mengatasinya.

Ketika perang terjadi, kita tidak lagi sekadar mengatakan bahwa itu adalah takdir. Ketika wabah muncul, kita mencari penyebab biologisnya, mengembangkan obat dan vaksin, serta membangun sistem kesehatan untuk mengendalikannya. Demikian juga dengan kelaparan. Kita memahami bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata karena bumi tidak mampu menyediakan makanan, tetapi juga berkaitan dengan produksi, distribusi, ekonomi, politik, dan akses.

Kegagalan tentu saja masih terjadi. Namun, cara manusia memandang masalah telah berubah. Kita tidak lagi menyerah begitu saja pada keadaan. Kita percaya bahwa masalah dapat dipahami, dikendalikan, dan dicari solusinya. Lalu, setelah masalah-masalah ini dapat dikendalikan, masalah besar apa yang akan menghadang manusia selanjutnya?

Menurut Harari, agenda manusia berikutnya bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan meningkatkan kemampuan manusia hingga melampaui keterbatasan biologisnya sendiri. Manusia ingin hidup lebih lama, lebih sehat, lebih bahagia, bahkan mungkin mencapai keabadian. Dan untuk mencapai itu semua, manusia semakin bergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama bioteknologi dan teknologi informasi. Gagasan inilah yang menghadirkan Homo Deus, manusia yang berusaha menjadi seperti dewa, yaitu manusia yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan merekayasa kehidupan dengan tingkat yang sebelumnya tidak pernah dimiliki.

Namun, kemampuan besar selalu membawa risiko besar. Menurut Harari, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih baik. Sebaliknya, semakin besar kemampuan manusia, semakin besar pula potensi kerusakan yang bisa ditimbulkannya. Oleh karena itu, Harari mengingatkan bahwa kemampuan manusia yang terlalu besar juga harus disertai dengan kebijaksanaan yang memadai.

Di sinilah humanisme menjadi penting. Harari menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat membuat manusia mempertanyakan kembali posisi manusia itu sendiri. Jika algoritma mampu mengetahui apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan, bahkan mengambil keputusan yang lebih baik daripada kita, lalu apa yang tersisa dari keistimewaan manusia? Pertanyaan ini akan menjadi relevan di tengah perkembangan kecerdasan buatan saat ini.

Membaca Homo Deus memang dapat menghadirkan kesan yang kelam. Kita seolah diajak melihat masa depan ketika teknologi berkembang sedemikian rupa hingga manusia mungkin kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.

Dan mungkin inilah pertanyaan yang perlu kita renungkan setelah menutup buku ini:

Jika suatu hari manusia mampu menciptakan sesuatu yang lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih kuat daripada dirinya sendiri, apakah manusia masih tahu untuk apa semua kemampuan itu digunakan?

Pada akhirnya, bukan apakah manusia akan menjadi Homo Deus, tetapi apakah manusia masih mampu menjadi manusia ketika teknologi telah memberi mereka kekuatan seperti dewa?

This entry was posted in Non Fiksi. Bookmark the permalink.

3 Responses to Homo Deus

  1. Bona says:

    Setelah sapiens, saya ingin beli buku ini πŸ™‚ trims ya resensinya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.