Category Archives: Klasik dan Sastra

Pangeran Kecil


dokumentasi: pribadi

Judul Asli: Le Petit Prince
Penulis: Antoine De Saint – Exupery
Penerjemah: Tresnawati, Ratti Affandi, Hennywati, Lolita Dewi, Wing Kardjo
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya
Cetakan: kedua, 1981
Tebal: 93

Dalam rangka #SavePustakaJaya, bulan November dari tanggal 1-15 BBI mengadakan program baca buku-buku Pustaka Jaya. Buku-buku karya penerbit Pustaka Jaya mengingatkan kita pada buku sastra bermutu. Kali ini saya memilih buku Pangeran Kecil karya pengarang Perancis, Antoine De Saint – Exupery. Pangeran Kecil pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1979, sebagai cetakan pertama. Buku ini sempat menghilang lama dari peredaran, sebelum akhirnya muncul dan diterbitkan ulang oleh PT. Gramedia Pustaka.

Suatu hari seorang pilot terdampar dan pesawat terbangnya mogok di gurun. Tempat itu jauh bermil-mil dari pemukiman orang. Di sinilah ia bertemu dengan seorang laki-laki kecil, yang kemudian disebutnya dengan pangeran kecil. Pangeran kecil ini berasal dari sebuah planet yang lain, Asteroide B-61, sebuah planet yang kecil, ukurannya tidak lebih besar dari sebuah rumah.

Pangeran kecil meminta sang pilot untuk menggambar seekor biri-biri. Sang pilot mengelak pada mulanya. Ia melepaskan bakatnya yang mungkin gemilang dalam lukis melukis ketika masih kecil. Itu adalah saat ketika ia menggambar seekor ular sanca yang sedang mencerna seekor gajah. Tapi orang-orang dewasa mengatakan itu adalah gambar sebuah topi. Bahkan ketika ia mencoba menjelaskan dengan menggambar bagian dalam ular sanca itu.

“Orang-orang dewasa tak pernah mampu mengerti sendiri dan sungguh sangat menjemukan bagi anak-anak untuk selalu dan selalu memberi penjelasan.” (hal 10)

Namun akhirnya pilot menggambarkan seekor biri-biri untuk pangeran kecil. Tapi berulang kali si pangeran menolak gambar biri-biri yang telah dibuat si pilot. Dengan kesal pilot menggambar sebuah kotak dengan tiga lubang di luar. “Ini kotak. Biri-biri yang kau inginkan ada di dalamnya.” dan jawab sang pangeran “Ini dia yang kuinginkan! Apakah biri-biri itu memerlukan rumput banyak?”

Sejak itu pangeran kecil dan sang pilot akhirnya berteman. Planet tempat pangeran kecil mempunyai tiga buah gunung berapi. Dan seperti planet lainnya di sana juga ada tanaman. Tanaman itu ada yang baik dan jelek. Pangeran kecil mempunyai bunga mawar yang sangat disayanginya walaupun bunga itu sangat sombong. Di planet pangeran ada benih tanaman yang sangat berbahaya, itulah pohon baobab. Pohon itu jika besar dapat membebani planet dan akarnya bisa melubangi tanah, Bila planet terlalu kecil dan baobabnya terlalu banyak, planet pun terbongkahlah. Karena itu pangeran mendisiplinkan dirinya untuk selalu mencabuti baobab.

“pekerjaan yang sangat membosankan, tetapi sesungguhnya sangat mudah”

“Menangguhkan pekerjaan kadang-kadang tidak menimbulkan kerugian. Tetapi kalau mengabaikan pohon baobab, berarti bencana.”

Suatu ketika, pangeran kecil bertanya apa gunanya duri pada bunga. Sang pilot yang sedang sibuk memperbaiki pesawat terbangnya, menjawab dengan seenaknya.

“Aku lagi sibuk dengan hal-hal yang sungguh-sungguh.”

Pangeran kecil tercengang. “Kamu ngomong seperti orang dewasa”

Katanya lagi “Aku mengenal suatu planet pada tempat seorang tuan berkulit merah tua. Ia tidak pernah mencium bunga. Ia tidak pernah memandang bintang. Ia tidak pernah mencintai seseorang. Ia tidak pernah mengerjakan apa-apa selain jumlah-menjumlah. Dan sepanjang hari ia seperti kamu, ia selalu berkata, “Aku orang yang bersungguh-sungguh. Aku orang yang bersungguh-sungguh.” Dan itu membuat dadanya busung karena congkak. Tapi ia bukan manusia, ia jamur!” (halaman 28)

Sebelum bertemu dengan sang pilot, pangeran kecil telah mengunjungi planet-planet lainnya. Di planet pertama ia bertemu dengan seorang raja. Raja itu tidak mempunyai pengikut.

“Pangeran kecil tidak tahu bahwa kita para raja dunia sangat sederhana. Semua adalah abdinya.”

Planet kedua berisi orang yang gila hormat.

“Senangkanlah hatiku. Walau begitu kagumilah aku!”
“Aku mengagumimu,” kata pangeran kecil sambil mengangkat bahu. “Tetapi apa untungnya bagimu?”

Planet ketiga diisi oleh peminum.

“Mengapa kau minum?” pangeran kecil bertanya.
“Untuk melupakan … bahwa aku merasa malu,” peminum mengaku sambil menundukkan kepala.
“malu karena apa?” desak pangeran kecil yang ingin menolongnya.
“Malu karena aku peminum,” jawab peminum. Kemudian ia bungkam dalam seribu bahasa.

Yang keempat berisi pengusaha. Si pengusaha selalu menghitung bintang-bintang. Ia orang yang serius dan bersungguh-sungguh. Ia meyakini diri memiliki bintang-bintang dengan cara menghitungnya.

“Aku mempunyai sekuntum bunga yang kusiram setiap hari. Aku mempunyai tiga buah gunung yang selalu kubersihkan setiap minggu, sebab aku membersihkan juga gunung-gunung yang sudah mati. Sebab siapa tahu! Dengan demikian pemilikan bermanfaat bagi bunga dan bermanfaat bagi gunungku. Tapi dengan memilikinya, kau tidak ada gunanya bagi bintang-bintangmu…,” ujar si pangeran kecil.

Planet kelima hanya cukup tempat untuk sebuah lentera dan seorang penyulut lentera. Bagi pangeran kecil, si penyulut lentera bisa menjadi sahabatnya dibanding yang lain.

“Barangkali karena ia sibuk dengan sesuatu yang lain daripada dirinya sendiri.”

Pangeran kecil terus mengunjungi planet-planet lainnya. Ia telah bertemu dengan banyak manusia dewasa.

“Manusia,” kata pangeran kecil, “mereka menjejalkan dirinya ke dalam kereta api kilat, tetapi mereka tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya mereka cari. Demikianlah, mereka tergesa-gesa, sibuk, dan berputar dalam lingkaran,”
Dan ia menambahkan, “Tidak ada gunanya…”

Jika menjadi dewasa hanya membuat kita sibuk dengan diri sendiri serta kehilangan antusiasme dan imajinasi,mungkin saatnya kita berpikir kembali untuk belajar menjadi kanak-kanak. Mereka juga akan mengajari kita pada cinta, seperti dialog indah yang dilakukan oleh seekor rubah dengan pangeran kecil.

“Pergilah lihat kembali bunga-bunga mawar itu. Kamu akan mengerti bahwa mawarmu betul-betul tunggal adanya di dunia. ”

Pangeran kecil pun pergilah melihat kembali mawar-mawar.

“Kalian sama sekali tidak serupa dengan mawarku, kalian belum apa-apa bagiku,” katanya kepada mereka. “Tidak ada seorang pun yang menjinakkan kalian dan kalian tidak menjinakkan siapa pun.”

“Kalian cantik, tetapi kalian hampa,” katanya lagi pada mereka. “Tidak ada yang sanggup mati bagi kalian. Tentu saja bagi orang yang lalu, mawarku dikiranya mirip dengan kalian, mawar biasa, tapi ia, walaupun setangkai, lebih penting dari kalian semua, karena hanya dialah yang kusirami. Karena dialah yang kuletakkan di bawah sungkup. Karena dialah yang kulindungi dengan penahan angin. Untuk kepentingannya kubunuh ulat-ulat kecuali dua atau tiga untuk kupu-kupu. Karena dialah yang kudengarkan keluhnya, bualannya, ataupun kadang-kadang kebisuannya. Karena ia mawarku.”

Robohnya Surau Kami

Judul: Robohnya Surau Kami
Penulis: A.A. Navis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 139

Ada sepuluh cerita pendek di dalam buku ini. Salah satunya yang cukup fenomenal yaitu “Robohnya Surau Kami”.

Bercerita tentang seorang kakek yang bersedih setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi. Cerita itu adalah tentang percakapan Tuhan dengan seorang manusia yang bernama Haji Saleh, di akhirat ketika Tuhan memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Haji Saleh meyakini bahwa dirinya akan dimasukkan ke surga. Namun ternyata Tuhan mengirimnya ke neraka. Haji Saleh kaget dan begitu tercengangnya ketika ia mendapati teman-temannya sedang merintih kesakitan di dalam sana. Ia tak mengerti karena semua orang yang dilihatnya adalah mereka yang tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk memprotes keputusan Tuhan. Dan inilah jawaban Tuhan:

“…kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”

Semua menjadi pucat pasi, dan bertanyalah haji Saleh pada malaikat yang menggiring mereka.

“Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.”

Navis seperti ingin mengingatkan kita yang seringkali berpuas diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita rajin sahalat, mengaji dan kegiatan ritual keagamaan lainnya karena kita takut masuk neraka. Kita menginginkan pahala dan keselamatan hanya untuk diri kita sendiri. Kita melupakan kebutuhan orang lain. Karenanya kita tidak merasa berdosa dan bersalah ketika mengambil hak orang lain, menyakiti perasaan sesama atau bahkan melakukan ketidakjujuran dan kemaksiatan di muka bumi.

Jika demikian, maka kesalehan agama yang kita miliki tak lebih superfisial saja sifatnya. Kita tidak sepenuhnya ikhlas.

Kita lupa bahwa belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh adalah juga ibadah. Berbuat baik terhadap sesama makhluk hidup juga ibadah. Dan bahwa kita mempunyai tangungjawab sosial terhadap masyarakat dan sekeliling kita.

Tarian Bumi

Judul Buku: Tarian Bumi
Penulis: Oka Rusmini
Tahun Penerbitan: 2007
Cetakan Ke: Pertama
No ISBN: 978-979-22-2877-9/979-22-2877-2
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cerita tentang seorang anak perempuan bernama Telaga yang lahir dari seorang Ibu bernama Luh Sekar, perempuan sudra yang menikah dengan seorang Ida bagus (nama depan laki-laki dari kasta Brahmana, kasta tertinggi dari masyarakat bali). Sudra adalah kasta terendah dalam masyarakat bali.

Telaga atau lengkapnya Ida Ayu (nama depan anak perempuan kasta brahmana) Telaga Pidada menyandang gelar bangsawan. Sejarah hidup Telaga sendiri penuh luka. Karena cintanya pada seorang laki-laki dari kasta sudra ia bersedia menanggalkan kebangsawannya.

Pernikahan Telaga dan Wayan sejak semula tidak direstui oleh kedua belah pihak orang tua mereka. Ibu Telaga, yang kemudian berganti nama menjadi “Jero” (Jero adalah nama yang harus dipakai oleh seorang perempuan sudra yang menjadi anggota keluarga griya) Kenanga, dulunya seorang penari sudra yang sangat cantik. Kehidupan keluarganya yang miskin dan terhina membuat Kenanga sangat berambisi untuk menjadi kaya dan terhormat. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan keinginan itu adalah dengan menerima pinangan dari lelaki bangsawan yang tidak dicintainya. Bagi Kenanga, cinta tak penting, yang utama adalah kekayaan.

Laki-laki bangsawan yang dinikahi Kenanga kemudian ditemukan meninggal dalam dekapan pelacur. Ibu mertua Kenanga adalah wanita yang sangat keras. Sejak awal ia tidak menyukai anak laki-laki kesayangannya menikahi perempuan sudra. Ia menerapkan aturan yang sangat kaku. Bagi nenek Telaga, wibawa harus terus dijaga agar orang di luar griya mau menghargainya.

Dalam rumah besar dan mewah itu hanya teriakan nenek dan kata-kata kasar ayah yang sering keluar. Ibu Telaga jarang berbicara. Dan kakek hanya bisa diam. Setelah kematian ayah Telaga disusul kemudian nenek, Ibu mulai mengatur kehidupan Telaga. Kenanga tidak membiarkan Telaga berpikir untuk hidupnya sendiri. Keinginan-keinginan Kenanga adalah harga mati yang tak seorang pun bisa membelokkannya, pun demikian jodoh untuk Telaga, putri satu-satunya.

Sementara itu, Ibu Wayan, sangat keberatan niat putranya menyunting Telaga. Tak pantas laki-laki sudra meminang perempuan brahmana. Jika itu terjadi maka dikhawatirkan malapetaka akan menimpa keluarga mereka. Namun pernikahan tidak dapat dibatalkan karena Telaga telah mengandung calon benih Wayan. Telaga dan Wayan menikah untuk kemudian mereka tinggal bersama Ibu Wayan.

Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama. Wayan ditemukan meninggal di studio lukisnya. Dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa Wayan mengidap penyakit jantung bawaan sejak kecil. Kematian putra satu-satunya mendorong Ibu Wayan meminta Telaga untuk melakukan upacara Patiwangi. Ibu Wayan meyakini sebelum Telaga melakukan upacara itu, selamanya ia akan menjadi pembawa malapetaka.

Upacara patiwangi adalah semacam upacara pamitan kepada leluhur di griya (tempat tinggal kasta Brahmana), karena ia tidak lagi menjadi bagian dari keluarga griya. Bukan sebuah upacara yang mudah. Karena upacara ini akan menurunkan harga diri keluarga griya dan menjatuhkan nama baik mereka. Dengan upara pamit ini akan menimbulkan masalah, karena Telaga akan dijadikan contoh dan dapat menyebabkan banyak Ida Ayu yang kawin dengan laki-laki sudra. Dan ini adalah aib bagi leluhur griya.

**
Kisah yang menarik. Pembaca diajak mengenal dan mengetahui lebih dalam kehidupan para perempuan Bali. Di tengah dunia yang bergerak maju, masih ditemui bentuk ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Keterikatan pada adat dan budaya membuat mereka memasrahkan diri sekaligus mencoba memberontak.

Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu

Judul: Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu
Penulis: Tolstoy
Penerbit: Jalasutra

Setelah Pesta Dansa adalah salah satu kisah dari buku kumpulan cerpen Tolstoy yang berjudul Tuhan Maha Tahu, tapi Dia menunggu.

“Hidup ini tidak bisa ditebak.”

Aku pernah begitu mencintai seorang perempuan. Ayah gadis ini adalah seorang bangsawan. Suatu hari diadakan pesta dansa di rumah ayah Varenka, nama gadis ini. Aku datang. Di pintu masuk aku disambut oleh Ayah dan Ibu Varenka. Mataku tak sengaja bersitatap dengannya. Saat itu aku merasa jatuh cinta. Mata kami saling menatap. Tak aku pedulikan orang-orang di sekitarku. Sepanjang malam itu perhatianku tak lepas dari dirinya. Varenka membalas perhatianku. Aku berdansa dengan Varenka. Menemaninya makan malam. Melihatnya berdansa dengan ayahnya. Kolonel Barishnykov, ayah Varenka adalah seorang pedansa ulung. Kemudian, aku diperkenalkan oleh ayahnya dan bercakap-cakap. Malam itu pikiranku penuh oleh bayangan dirinya, bahkan ketika aku sampai di rumah.

Aku gelisah, tak bisa tidur. Malam beranjak pagi dan akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, terjadilah suatu peristiwa yang kemudian mengubah perjalanan hidupku selanjutnya. Sayup-sayup kudengar bunyi tambur. Pelan tapi mengarah ke tempat aku berdiri. Iringan tambur terdengar semakin keras disertai derap langkah sepatu tentara. Bayangan itu semakin dekat dan aku melihat pasukan tentara mengawal seorang pemberontak. Bajunya sobek dan kumal. Langkah kakinya tampak berat karena kedua pergelangan tangannya dirantai. Tangannya pun ikut dibelenggu ikatan rantai yang berat. Sesekali pemberontak itu terlihat menggeliat dan berteriak. Teriakannya terdengar memilukan dan menyayat hati. Ia dipecut. Bunyi tali pecut itu terdengar jelas mengalahkan derap pasukan tentara. Aku hampir menutup telingaku, tak sanggup aku mendengar teriakannya.

Darah mengucur dari bekas luka pecutan. Si pemberontak terjatuh dan tentara di barisan depan memaksanya berdiri, namun si pemberontak terjatuh kembali. Sampai kemudian terdengar aba-aba berhenti dan komandan pasukan memberi perintah kepada si pemberontak untuk berdiri. namun perintah itu sia-sia. Komandan pasukan marah, mengambil tali pecut dan memecut pemberontak itu dengan bernafsu. Dari gerakannya aku dapat melihat ia puas telah menyakiti pemberontak itu. Teriakan pilu pemberontak tak dihiraukannya. Setelah puas komandan pasukan membalikkan badannya ke arahku. Aku tak percaya, ketika aku melihat wajahnya, ia adalah kolonel Barishnykov.

Sejak dini hari itu aku tak bisa melupakan wajah kesakitan si pemberontak, bunyi tambur dan derap pasukan tentara serta wajah haus darah dan sorot mata kejam kolonel Barishnykov. Aku masih beberapa kali menemui Varenka. Tapi setiap kali menatap mata Varenka aku melihat bayangan peristiwa dini hari itu. Kengerian itu menghantuiku. Akhirnya kuputuskan pergi dari kota itu dan meninggalkan Varenka.

**
Perilaku barbar manusia seperti di atas nyatanya masih tampak di abad 21. Kebencian dan aniaya menjadi jalan pintas untuk menyikapi sebuah perbedaan. Apakah selamanya manusia tak pernah belajar dari sejarah hidupnya sendiri?

Dian Yang Tak Kunjung Padam

Judul: Dian Yang Tak Kunjung Padam
Penulis: S. Takdir Alisjahbana
Penerbit: Dian Rakyat

“… Bagi adinda tak ada jurang yang menceraikan kita berdua. Cinta yang suci seperti cinta kali ini, ialah pemberian Allah, dan sekalian perbuatan Allah tiada dapat dirusakkan oleh perbuatan manusia. Bukankah kebangsawanan itu perbuatan manusia belaka, manusia yang angkuh dan sombong?”

Di suatu malam, di tepian sungai Musi, Yasin menambatkan perahunya di dekat sebuah rumah yang besar dan tinggi. Di sanalah ia hendak menantikan hari siang untuk menjual para yang dibawanya dari kebun. Malam itu Yasin bersama Ibunya tidur di perahu.

Keesokan hari, Yasin bangun lebih pagi. Ketika ia sedang menikmati pemandangan disekelilingnya, tiba-tiba dari balik jendela rumah besar itu dilihatnya seorang gadis. Mata mereka bertemu. Itulah pertemuan pertama Yasin dengan Molek, anak perawan Raden Mahmud yang kaya raya. Pertemuan yang tak dapat dilupakan oleh keduanya.

Cinta yang bergejolak membuat Yasin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya melalui surat yang diselipkan melalui celah dinding tempat mandi Molek. Tempat ini akan menjadi saksi cinta dan kerinduan mereka yang ditumpahkan melalui surat-menyurat. Namun, hubungan cinta yang indah itu tidak mungkin dapat diwujudkan oleh karena perbedaan status sosial di antara mereka. Lamaran Yasin kepada keluarga Raden Mahmud ditolak.

Molek akhirnya dinikahkan oleh Sayid, saudagar kaya keturunan Arab. Molek menolak tapi keluarganya menerima pinangan lelaki kaya itu. Kehidupan perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan bagi Molek karena ia tidak mencintai Sayid. Suaminya pun sering bersikap kasar. Dalam surat-suratnya kepada Yasin, Molek menceritakan kesedihan dan kerinduannya kepada Yasin. Demi diketahuinya penderitaan Molek serta kerinduannya sendiri terhadap gadis itu, maka Yasin memberanikan diri untuk menemui Molek. Ternyata, itu adalah pertemuan terakhir Yasin dengan Molek. Karena setelah itu Molek meninggal dunia.

Mengutip sinopsis pada sampul buku:
“…Dalam kesetiaannya akan cinta, Yasin mengalami kebahagiaan abadi yang hanya untuk orang yang dapat melepaskan dirinya dari segala ikatan dan kong-kongan dunia. Meski secara fisik tak akan pernah bersatu, namun mereka percaya bahwa kelak cinta yang suci itu akan bertemu di alam lain.”

**
Karya sastra selalu menarik untuk disimak, selain memberikan pengetahuan dan latar belakang budaya, gaya bahasanya pun memikat hati. Bermanfaat sekali buat yang suka puisi, bisa menumbuhkan inspirasi 🙂

Jodoh

Judul: Jodoh
Penulis: A.A. navis
Penerbit: Grasindo

Kumpulan cerpen karya A.A. Navis ini berisi 10 cerita pendek, yaitu: Jodoh (yang menjadi judul kumpulan cerpen), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin, Kisah seorang Pengantin, Maria, Nora, dan Ibu.

Dalam jodoh, dikisahkan seorang laki-laki bernama Badri. Oleh karena idealismenya yang berlebihan dalam lapangan sosial dan kebudayaan membuat ia belum berani untuk menikah, walaupun usianya sudah beranjak 30 tahun. Ada 3 halangan yang membuat Badri tidak mudah untuk mencari seorang istri. Pertama: Badri menginginkan gadis yang tinggi semampai untuk memperbaiki keturunannya, di mana hal itu tidak mudah ditemui dalam masyarakat yang berbakat pendek. Kedua: Badri berdarah campuran yang dianggap kurang bermutu oleh masyarakat Minangkabau yang lebih suka perkawinan di antara suku mereka. Ketiga: kalkulasi biaya hidup setelah menikah.

Diliputi oleh berbagai pertimbangan membuat Badri sangat berhati-hati menentukan calon istrinya. Badri kemudian menghubungi rubrik kontak jodoh. Dari sana ia terpikat oleh seorang wanita dan mereka berjanji untuk bertemu. Alangkah kagetnya Badri ketika mengetahui wanita itu adalah Lena, gadis manis yang pernah dikencaninya. Singkat cerita mereka menikah dan Badri tinggal di rumah mertuanya. Ketika anak keduanya lahir, Badri menganjurkan istrinya untuk berhenti menjadi guru. Ternyata, kekhawatirannya dahulu tidak beralasan. Navis menyatakannya seperti ini:

“Pola hidup matrilini yang tidak disukai Badri ketika masa perjakanya, ternyata demikian indah dalam kenyataannya. …..Karena seni hidup ternyata bukanlah perhitungan yang eksak, melainkan dengan upaya penyesuaian diri pada iklim yang membentuk masyarakat. Dan idealisme masa perjaka ternyata suatu utopia semata, yaitu idealisme yang membius orang-orang yang tidak punya beban hidup keluarga. Idealisme seorang laki-laki yang telah menjadi suami dan menjadi seorang ayah, ialah idealisme yang abadi, yakni bagaimana caranya membahagiakan istri dan anak-anak.”

**
Cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Jodoh ini banyak berkisah tentang perjodohan, kecuali cerpen “Ibu”. Navis juga menyoroti kawin paksa yang masih banyak terjadi di masyarakat, tidak saja pada wanita tapi juga pada pria. Seperti tampak pada cerpen “Kisah Seorang Pengantin” dan “Kawin”, di mana laki-laki menjadi korban kawin paksa yang dikuasai oleh Ibu. Mencukil kata pengantar dari buku tersebut:

“Idealisme manusia modern yang betapapun kentalnya, masih lumat oleh tuntunan sosial budaya tradisional yang dikuasai Ibu. Demikian juga halnya dengan tema cerpen “Jodoh” yang mengisahkan seorang idealis yang berpikir rasional pun lumat oleh kondisi tradisional.”