Dian Yang Tak Kunjung Padam

Judul: Dian Yang Tak Kunjung Padam
Penulis: S. Takdir Alisjahbana
Penerbit: Dian Rakyat

“… Bagi adinda tak ada jurang yang menceraikan kita berdua. Cinta yang suci seperti cinta kali ini, ialah pemberian Allah, dan sekalian perbuatan Allah tiada dapat dirusakkan oleh perbuatan manusia. Bukankah kebangsawanan itu perbuatan manusia belaka, manusia yang angkuh dan sombong?”

Di suatu malam, di tepian sungai Musi, Yasin menambatkan perahunya di dekat sebuah rumah yang besar dan tinggi. Di sanalah ia hendak menantikan hari siang untuk menjual para yang dibawanya dari kebun. Malam itu Yasin bersama Ibunya tidur di perahu.

Keesokan hari, Yasin bangun lebih pagi. Ketika ia sedang menikmati pemandangan disekelilingnya, tiba-tiba dari balik jendela rumah besar itu dilihatnya seorang gadis. Mata mereka bertemu. Itulah pertemuan pertama Yasin dengan Molek, anak perawan Raden Mahmud yang kaya raya. Pertemuan yang tak dapat dilupakan oleh keduanya.

Cinta yang bergejolak membuat Yasin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya melalui surat yang diselipkan melalui celah dinding tempat mandi Molek. Tempat ini akan menjadi saksi cinta dan kerinduan mereka yang ditumpahkan melalui surat-menyurat. Namun, hubungan cinta yang indah itu tidak mungkin dapat diwujudkan oleh karena perbedaan status sosial di antara mereka. Lamaran Yasin kepada keluarga Raden Mahmud ditolak.

Molek akhirnya dinikahkan oleh Sayid, saudagar kaya keturunan Arab. Molek menolak tapi keluarganya menerima pinangan lelaki kaya itu. Kehidupan perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan bagi Molek karena ia tidak mencintai Sayid. Suaminya pun sering bersikap kasar. Dalam surat-suratnya kepada Yasin, Molek menceritakan kesedihan dan kerinduannya kepada Yasin. Demi diketahuinya penderitaan Molek serta kerinduannya sendiri terhadap gadis itu, maka Yasin memberanikan diri untuk menemui Molek. Ternyata, itu adalah pertemuan terakhir Yasin dengan Molek. Karena setelah itu Molek meninggal dunia.

Mengutip sinopsis pada sampul buku:
“…Dalam kesetiaannya akan cinta, Yasin mengalami kebahagiaan abadi yang hanya untuk orang yang dapat melepaskan dirinya dari segala ikatan dan kong-kongan dunia. Meski secara fisik tak akan pernah bersatu, namun mereka percaya bahwa kelak cinta yang suci itu akan bertemu di alam lain.”

**
Karya sastra selalu menarik untuk disimak, selain memberikan pengetahuan dan latar belakang budaya, gaya bahasanya pun memikat hati. Bermanfaat sekali buat yang suka puisi, bisa menumbuhkan inspirasi 🙂

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*