The Kreutzer Sonata

images
Judul: The Kreutzer Sonata
Penulis: Leo Tolstoy
Penerjemah: Ermelinda
Penerbit: Selasar
Tebal: 200

Betul kata Melisa, blog resensi bukunya bisa dilihat di sini, tuntas membaca buku The Kreutzer mendadak kehilangan minat untuk meresensi karya Leo Tolstoy yang satu ini. Tapi karena saya sudah berjanji kepada diri sendiri maka saya coba membuat reviewnya.

Pozdynsev, -nama tokoh utama- dan kakak lelakinya adalah pemuda yang lugu. Ketertarikan seksual kepada lawan jenis adalah hal yang cukup mengganggu bagi anak-anak muda seusia itu. Pada suatu sore usai kumpul sambil bermain kartu dan minum vodka, salah satu kawan kakaknya mengajak mereka ke tempat-tempat tertentu. Seperti anak lelaki muda lainnya, ia mengikuti tanpa memahami apa yang ia lakukan. Kegiatan itu kemudian menjadi hal yang biasa, karena tak ada orang dewasa disekelilingnya yang menyalahkan apa yang ia lakukan. Sebaliknya, masyarakat lingkungan ia berada menganggap hal itu sebagai kebaikan jasmani yang sah atau pengalihan yang alami secara menyeluruh bagi seorang anak muda yang bukan hanya bisa dimaafkan, tapi bahkan tak bersalah. Pozdnysev semakin jatuh karena ketidaktahuannya.

Sampai suatu ketika ia menyadari bahwa hubungannya dengan para wanita telah rusak selamanya. Ia memutuskan untuk berhenti.

“Jadi seorang pria yang telah berhubungan dengan beberapa wanita demi kesenangan bukan lagi orang normal, tapi orang yang rusak selamanya.” (halaman 132)

“Seorang pezina bisa saja menahan diri, berjuang mengendalikan diri, tapi hubungannya dengan wanita tak pernah lagi sederhana, murni, jernih, seperti hubungan saudara lelaki dengan saudara perempuan.” (halaman 132)

Pozdynsev kemudian menikah. Namun pengalaman masa lalunya memberi ia cara pandang yang berbeda mengenai perkawinan. Walaupun sepanjang perkawinan mereka, Pozdynsev tidak pernah berseligkuh, namun ia memiliki bayangan kecemburuan sendiri yang berlebihan.

Buku ini berkisah tentang pengakuan seorang laki-laki yang karena kecemburuannya membunuh istrinya sendiri.

Tolstoy memang penulis yang piawai. Pembaca bisa larut dalam kebencian terhadap si tokoh utama yang pandangannya mengenai perkawinan sangat vulgar. Agak khawatir juga menuliskannya di sini :). Namun inti cerita ini seperti disinggung di bagian kata pengantar, Tolstoy menuliskan cerita ini berdasarkan pengalaman ia dan istrinya untuk menciptakan ‘gugatan’ terhadap perkawinan yang menyakitkan hati.

Tolstoy menggambarkan bahwa pernikahan kemudian bisa membuat masing-masing pasangan merasa terjebak. Jika situasi itu tidak disadari dan dipahami maka mereka akan saling membenci.

“tapi cinta dan kebencian ini hanya dua sisi mata uang yang sama, perasaan hewani yang sama.” (halaman 105)

“Hidup seperti itu akan tak tertahankan kalau kita saling memahami situasinya. Tapi kami tak memahaminya, bahkan tak menyadarinya. Itu keselamatan sekaligus hukuman terhadap manusia yang ketika menjalani hidup tak beraturan, mereka akan membungkus diri dalam selimut kabut sehingga tak bisa melihat buruknya situasi.” (halaman 105).

Walaupun memang membaca buku ini menimbulkan kesebalan luar biasa kepada si tokoh utama, bahkan membuat mual di bagian akhir, tapi saya mengakui bahwa dalam banyak hal buku ini kaya dengan pemikiran yang realistik.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*