Dua Ibu


Judul: Dua Ibu
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 300

“Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat kebahagiaan anak orang lain, dengan rasa bahagia pula.”

Ada Solemah, Mujanah, Mamid, Ratsih, Herit, Jamil, Adam, Priyadi, dan Prihatin. Anak-anak yang tinggal dan diasuh oleh seorang perempuan yang mereka panggil Ibu. Ibu yang merawat semua anaknya dengan penuh kasih sayang. Ibu, yang kata orang, bukan ibu kandung untuk semua anak yang diasuhnya, kecuali Jamil. Ibu yang setiap kali ditanya mengenai asal usul anak-anaknya akan menjawab dengan pendek.
“Semua anak yang ada di sini adalah anak Ibu”

Solemah sudah menikah dan tinggal bersama suaminya seorang kopral Angkatan Laut di Surabaya. Kemudian Mujanah juga menikah. Pada waktu mereka menikah dahulu, Ibu menjual peninggalan Ayah dan harta benda yang dimilikinya untuk membiayai pesta pernikahan Solemah dan Mujanah. Ada Mamid, seorang anak laki-laki. Ibu kandungnya adalah tante Mirah, yang dulunya juga adalah anak yang pernah diasuh Ibu. Tante Mirah menikah dengan om Bong dan pindah ke Jakarta, menitipkan Mamid untuk diasuh Ibu. Dua belas tahun kemudian setelah berkali-kali tante Mirah meminta Mamid untuk pindah ke Jakarta bersamanya, Mamid memutuskan untuk ikut, demi saudara-saudaranya.

Kemudian Ratsih menikah dengan sersan kepala dan tinggal di Surabaya. Herit, ikut bersama Ratsih. Jamil, anak kandung Ibu mengembara ke Jakarta. Cita-citanya menjadi pelaut.

Adam dan kedua adik kandungnya, Priyadi dan Prihatin, anak kandung Pak De Wiro. Pak De Wiro mengemukakan keinginannya untuk membawa pulang kembali ketiga anaknya kepada Ibu. Pak De Wiro menitipkan ketiga anaknya kepada Ibu setelah kematian istrinya. Adam menolak. Ia bertekad untuk menemani Ibu selamanya. Ibu membujuknya karena khawatir disangka ingin memiliki mereka. Pak De Wiro pada akhirnya memang menuduh Ibu sengaja tidak melepaskan Adam.

“Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Sampai Ibu mati, saya akan tetap bersama Ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan mengubur Ibu.”

Ibu, Surat

“Hidup itu adakalanya gelap adakalanya terang. Jangan terlalu sedih kalau lagi gelap, jangan terlalu gembira kalau lagi terang. … Mintalah selalu kepada Tuhan. Tuhan-lah yang Maha Mengetahui. BagiNya selalu ada jalan bagi kita yang meminta.”

**
Beberapa nukilan yang bagus dari buku Dua Ibu.

“Jangan ikut-ikutan yang jelek. Kalau kau baik, mereka akan ikut-ikutan baik.”
“Tak ada yang lebih baik dari nasihat panjang-lebar selain contoh.”

Ini adalah kisah tentang kasih sayang dari perempuan yang dipanggil Ibu oleh anak-anaknya, tidak peduli apakah itu anak kandung atau anak orang lain. Ibu yang rela menanggung kepedihan dan kelaparan demi kenyamanan dan kenyang putra-putrinya. Ibu yang memendam semua kegetiran hidup untuk dirinya sendiri. Dan Ibu yang dengan kebesaran hati mengorbankan kebahagiaanya sendiri untuk kebahagiaan orang lain.

Arswendo menuliskan cerita ini dengan gayanya yang alami. Kita seperti melihat fragmen kehidupan sesungguhnya. Ada keharuan yang menyeruak sekaligus keluguan di dalamnya. Cerita yang sederhana namun hidup.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*