Category Archives: Novel

Orang-orang Biasa

Judul: Orang-orang Biasa
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Cetakan pertama, Februari 2019
Tebal: 262

“Mereka yang ingin belajar, tak bisa diusir.”

Orang-orang biasa bercerita tentang sekumpulan orang-orang “biasa” yang luar biasa.

Handai, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, Dinah, Nihe dan Junilah adalah orang-orang yang saling bersahabat karena nasib yang sama. Semasa sekolah sekawan ini terkumpul secara alamiah berdasarkan kecenderungan bodoh, aneh, dan gagal. Di sekolah itu juga ada kelompok pembuli, yaitu kelompok Bastardin dan Boron. Kedua kelompok ini suka membuli Salud. Kemudian ada Debut Awaludin, yang mengangkat dirinya sebagai ketua sekumpulan anak-anak yang dianggap aneh itu. Debut adalah satu-satunya anak yang berani menghadapi para pembuli. Debut akhirnya out dari sekolah mengikuti kegagalan sekumpulan kawannya. Ia sendiri out dari sekolah karena merasa tak ada lagi yang bisa diperjuangkan dan dibela. Ia memang seorang idealis sejak dari sekolah.

Kesepuluh anak itu tumbuh dan membangun kehidupan mereka sendiri. Dinah menikah dan memiliki anak yang bernama Aini. Aini adalah tokoh utama dari cerita ini. Seperti Dinah, Aini pun adalah anak yang lambat menerima pelajaran. Dia sempat tak naik kelas. Namun kemudian Aini menunjukkan kebiasaan yang baru, membaca buku. Ketertarikan Aini untuk melahap bacaan dan kegigihannya belajar ditunjukkan sejak ayahnya sakit. Aini menyimpan cita-citanya untuk menjadi dokter. Keinginan itu semakin kuat ketika ia melihat sang adik menunjukkan gejala seperti dulu dialami mendiang ayahnya.

Aini akhirnya berhasil diterima di sebuah fakultas kedokteran. Namun kondisi keuangan keluarganya mengaburkan impian Aini. Dinah sang Ibu menceritakan masalah ini kepada Debut. Debut kemudian mengajak Dinah dan kawan-kawan lainnya untuk merampok bank demi memperoleh uang untuk biaya kuliah Aini. Akankah Aini berhasil meraih impiannya untuk kuliah di fakultas kedokteran? Apakah mereka, orang-orang yang dianggap gagal itu mengulangi kegagalan memaknai hidup mereka seperti ketika di bangku sekolah?

Buku ini memang dipersembahkan oleh Andrea untuk seorang anak miskin yang cerdas dan kegagalannya yang getir masuk Fakultas Kedokteran.

Ulasan

Andrea paling pintar menceritakan detil karakter setiap tokohnya. Kenaifan dan kepolosan dari para tokoh Orang-orang Biasa ini seringkali mengundang senyum sekaligus mengalirkan rasa pilu. Keharu-biruan yang mengajak kita sebagai pembaca untuk melihat segala sesuatu dari banyak sudut pandang. Sederhananya, kita bisa belajar untuk lebih bijak menilai sesuatu. Andrea mengajarkan hal itu kepada pembaca melalui karya-karyanya.

Orang-orang Biasa adalah sebuah cerita bagaimana kebanyakan kita menilai orang lain. Kita seringkali menilai orang lain dari apa yang tampak. Namun sesungguhnya seseorang tidaklah seperti tampaknya. Orang-orang Biasa adalah sebuah kisah yang barangkali terinspirasi dari sebuah pepatah dalam bahasa inggris yang berbunyi Don’t judge a book by its cover yang artinya kurang lebih adalah jangan menilai seseorang hanya dengan melihat penampilannya apalagi bila belum mengenalnya. Andrea memang penulis yang top 🙂

Gardens of Water


Judul: Gardens of Water
Penulis: Alan Drew
Penerjemah: Arum Darmawan
Penyunting: Siti Nur Andini
Penerbit: Literati
Tahun terbit: 2009
Tebal: 643

Gardens of Water berkisah tentang kehidupan dua keluarga yang tinggal di pinggiran daerah Turki. Sinan beserta Nulifer, istri dan kedua anaknya, Ismail dan Irem. Mereka adalah keluarga muslim Kurdi yang taat. Sarah Hanim, Marcus, dan Dylan, keluarga Amerika yang tinggal tepat di lantai atas rumah susun keluarga Sinan. Secara diam-diam, Irem dan Dylan, dua remaja dengan latarbelakang budaya dan keyakinan yang berbeda ini menjalin komunikasi melalui jendela kamar.

Suatu ketika Sinan berniat mengkhitankan Ismail. Sinan dan keluarganya mempersiapkan perayaan yang mewah untuk mengantarkan anak laki-laki mereka menjadi dewasa. Irem, anak gadis Sinan merasakan kecemburuan yang besar melihat perlakuan berbeda orangtuanya. Tidak ada pesta meriah, uang dan pakaian mewah untuk Irem ketika suatu hari ia menemukan noda darah di seprai sebagai tanda bahwa dirinya sudah menjadi wanita. Irem bukan tidak menyayangi adiknya, ia hanya cemburu melihat besarnya tumpahan kasih sayang orangtuanya kepada Ismail.

Ibu Sinan bermaksud mengundang pasangan Amerika ke pesta khitan Ismail, namun Sinan merasa sedikit keberatan. Sinan tidak menyukai orang Amerika. Kehidupan masa kecilnya membuat gambaran buruk tentang Amerika. Ia teringat kata-kata ayahnya, “Orang-orang Amerika membiarkan orang-orang Turki melakukan ini pada kita, ” (halaman 59). Ayahnya terbunuh pada suatu malam ketika sebuah mobil jip paramiliter tiba dan ayah Sinan bersama para lelaki lain memekikkan “Hidup Kurdistan”.

Malam setelah pesta khitan berakhir terjadi sebuah peristiwa gempa besar yang menerjang barat laut Turki. Sinan kehilangan Ahmet, adik ipar yang telah banyak menolong Sinan dan keluarganya. Ismail ditemukan setelah 3 hari terkurung dalam reruntuhan dibalik pelukan Sarah Hanim yang tewas dalam peristiwa tersebut. Sinan merasa berhutang budi kepada keluarga Amerika itu.

Setelah gempa, Sinan dan keluarganya tinggal di tenda darurat di atas bukit. Di sana tinggal juga keluarga lain. Fasilitas yang minim membuat kondisi kesehatan para pengungsi rentan terhadap penyakit. Suatu hari Marcus Bey datang menawarkan Sinan untuk pindah ke kamp. Walau awalnya Sinan menolak tapi kemudian dia mengikuti saran Marcus demi keluarganya. Di sini hubungan Irem dan Dylan semakin dekat. Irem yang kesepian dan merasa tidak disayangi orangtuanya menemukan kebahagiaan bersama Dylan.

Lanjutan kisah kasih Irem dan Dylan silakan dibaca sendiri ya :). Alih-alih kisah perihal cinta romantis, buku ini sebenarnya berkisah banyak tentang kasih sayang orangtua dan anak, ketegangan antara menghormati tradisi dan keinginan memeluk kebebasan pribadi, konflik antara kebudayaan dan keyakinan, penyesalan orangtua dan gairah anak muda.

Ada suatu dialog yang saya suka, halaman 514.
“Masalahnya denganmu, Sinan, adalah kau hidup di dunia yang tidak ada lagi. Kau masih berpikir wanita tidak bisa berpikir sendiri. Kau masih percaya ada batasan yang tidak boleh diseberangi orang–orang Amerika harus tetap di Amerika, orang Inggris di Inggris, orang Kurdi di Kurdistan, jika ada tempat yang seperti itu. Dunia tidak seperti itu lagi dan kau tidak bisa melarikan diri dari dunia. ”

Tidak bisa dinafikan bahwa banyak manusia yang masih hidup di masa ‘lampau’ dan tidak menyadari bahwa dunia berputar dan terus berubah. Seperti manusia, dunia pun berubah. Bukan berarti mengikuti arus, namun kita harus mampu beradaptasi agar mampu mengantisipasi dan membentuk masa depan dunia yang lebih baik. Mengingkari kenyataan bahwa dunia berubah akan menimbulkan goncangan psikologis. Alvin Tofler pernah mengulas mengenai ini dalam bukunya Future Shock.

Alan Drew juga mengungkapkan dengan apik pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan, seperti yang terjadi pada dialog Ismail dan sang Ayah di halaman 413.

“Mengapa Tuhan memberimu kaki itu?”, Ismail mempertanyakan kaki ayahnya yang cacat.

Sinan: “Tak ada manusia yang sempurna, Ismail. Ada yang punya paru-paru yang lemah, ada yang punya mata yang lemah, dan ada yang punya jantung yang lemah. Baba punya kaki ini. Kalau kita sempurna, kita tidak akan membutuhkan Tuhan. Dia mengerti itu sehingga saat Dia menciptakan kita, Dia membuat kita tak sempurna agar kita tetap dekat dengan-Nya.”

Indah, bukan? Buku ini membuat kita belajar menghargai perbedaan, belajar menjadi bijak melalui kisah Sinan dan Marcus.

Lingkar Tanah Lingkar Air

Judul: Lingkar Tanah Lingkar Air
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal: 165

Amid adalah pemuda yang berjuang dalam panji Hizbullah untuk bertempur dan membela kemerdekaan RI melawan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Amid berkeinginan untuk bergabung menjadi anggota tentara resmi negara. Namun sebuah peristiwa membelokkan arah hidupnya dan membawa Amid masuk menjadi anggota laskar DI/TII yang menentang pemerintah RI. Amid yang sejatinya seorang yang sangat cinta tanah air sesungguhnya merasa berat hati untuk bergabung menjadi anggota laskar Darul Islam. Ia teringat pesan gurunya, Kiai Ngumar, “Dan ingatlah pelajaran dalam Kitab, terhadap pemerintah yang sah kita wajib menaatinya.” (halaman 74)

Dalam pertempuran melawan pemerintah Amid seringkali diombang-ambingkan rasa bersalah oleh karena pasukannya sering memerangi warga seagama. Sebuah peristiwa penyerangan terhadap jip militer tentara Republik memukul sanubari Amid, ketika ia mendapati korbannya adalah seorang letnan yang di dalam bajunya ditemukan seuntai tasbih dan sebuah quran kecil. Seketika hati Amid terbelah oleh ironi yang sulit ia mengerti. Ia merasakan lelaki yang ia bunuh itu agaknya ingin selalu merasa dekat dengan Tuhan. Di lain sisi, ia meyakini bahwa Tuhan yang selalu ingin diingat oleh lelaki itu melalui tasbih dan quran-nya pastilah Tuhan-nya juga, yakni Tuhan kepada siapa gerakan Darul Islam ini mengatasnamakan khidmahnya.

Amid kembali mengingat perselisihan antara Kiai Ngumar dengan Kang Suyud ketika saat itu mereka menyatakan keinginan untuk bergabung dengan Kartosuwiryo yang ingin mendirikan sebuah negara Islam.

“Sabarlah, Suyud. Aku ingin kembali mengingatkanmu akan kandungan Kitab. Di sana disebutkan, hanya ada satu kekuasaan yang sah dalam satu negara. Dengan kata lain, bila Republik sudah diakui sebagai kekuasaan yang sah, lainnya otomatis menjadi tidak sah.”

“Meskipun Kartosuwiryo orang Islam dan berjuang di bawah bendera dua kalimat syahadat?”

“Bung Karno dan Bung Hatta pun orang Islam. Mereka menyusun kekuasaan pemerintah atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa serta dasar-dasar lain, yang semuanya merupakan pokok-pokok dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dan lebih dari itu, kekuasaan mereka sudah diakui keabsahannya oleh masyarakat. Pengakuan ini akan membuat kekuasaan lain yang muncul belakangan jadi tidak sah.”

“Namun mereka juga bekerjasama dengan orang-orang di luar Islam. Sementara Kartosuwiryo tidak.”

“Suyud, dengarlah. Sudah pernah kujelaskan kepada Amid bahwa Nabi pun pernah melakukan kerjasama dengan orang di luar Islam untuk menjamin keamanan Negeri Madinah.” (halaman 75-76)

Dalam perdebatan itu Kiai Ngumar akhirnya memberikan ketegasannya untuk memilih Republik dalam rangka melaksanakan ajaran islam sendiri.

Setelah hampir 10 tahun hidup dalam perburuan dan kenyataan bahwa pasukan DI/TII telah makin terdesak dan berkurang, Amid mulai merasa kehilangan harapan dan merasa jenuh. Dalam kebimbangannya ia seringkali teringat Kiai Ngumar serta kenangan masa lampau di desanya.

Harapan Amid untuk menjalani kehidupan normal bersama istri dan anaknya akhirnya tercapai ketika Kartosuwiryo menyerukan kepada semua anggota DI/TII untuk menurunkan senjata dan menyerahkan diri kepada pemerintah dan sebagai balasannya mereka akan diberikan pengampunan. Tiga tahun kemudian, Amid, Kiram dan Jun kembali mengangkat senjata. Kali ini seperti yang pernah ia cita-citakan, bertempur dengan semangat jihad untuk Republik.

Ulasan:
“Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”. ~ Soekarno.

Kalimat bijak Bung Karno mengingatkan pentingnya kita memahami sebuah sejarah agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Barangkali kita semua harus bercermin, kehadiran buku ini seperti mengingatkan agar kaum muda berhati-hati dalam menyikapi hasutan dan propaganda yang ditiup-tiupkan golongan tertentu untuk kepentingan politik mereka.

Tentang Pengarang
Ahmad Tohari dilahirkan di Banyumas, 13 Jui 1948. Dia tidak pernah melapaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya yang mewarnai seluruh karya sastranya. Beberapa karyanya adalah: Ronggeng Dukuh Paruk (1982) telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda, Jerman dan Inggris serta difilmkan dengan judul Sang Penari; Di Kaki Bukit Cibalak (1986); Senyum Karyamin (1989); Bekisar Merah (1993) telah diterbitkan dalam bahasa Inggris; Lingkar Tanah Lingkar Air (1992); Orang-orang Proyek (2002); Kabah (2005); Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (2006); Mata yang Enak Dipandang (2013).

Salju


Judul: Salju
Penulis: Orhan Pamuk
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal: 665

“Salju mengingatkan saya kepada Tuhan. Salju mengingatkan saya pada keindahan dan kemisteriusan makhluk hidup, pada kebahagiaan yang paling asasi, yaitu kehidupan.” (halaman 146)

Salju berkisah tentang seorang buangan politik bernama Ka. Ka adalah penyair Turki yang menganut paham ateis. Oleh karena pilihannya ia kemudian diasingkan dan diberi suaka ke Frankfurt, Jerman. Ka kemudian memutuskan hubungan dengan para komunis Turki setelah ia dinyatakan sebagai buangan politik dan diberi tunjangan suaka. Setelah lama tidak mengunjungi negaranya, Ka memutuskan kembali Ke Turki untuk menyelidiki banyaknya wanita muda berkerudung yang melakukan bunuh diri.

Kota Kars adalah tempat Ka menetap sebagai utusan wartawan dari tempatnya bekerja. Di sana Ka bertemu dengan cinta lamanya, seorang wanita bernama Ipek. Ipek yang kini telah bercerai dari suaminya kemudian menjalin hubungan kembali dengan Ka. Pada suatu peristiwa ketika Ka dan Ipek sedang berada dalam sebuah cafe terjadi penembakan yang dilakukan oleh seorang ekstrimis muslim kepada direktur pendidikan. Kejadian ini menyeret Ka menjadi saksi mata dalam peristiwa tersebut.

Kota Kars, Ipek dan Salju ternyata menginspirasi Ka untuk membuat puisi kembali. Kepingan salju mengingatkan Ka akan masa kecil dan perasaan mistik akan keberadaan dirinya di masa lampau dan kini. Ka seolah mendapatkan kemampuan menulis puisi-puisinya kembali.

Tokoh lainnya dalam kisah ini yang juga mengambil peran penting adalah Kadife. Kadife, adik kandung Ipek adalah seorang muslimat taat. Kadife bergabung dan menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok perempuan Turki yag memperjuangkan hak mereka untuk berhijab. Ka menyebut kelompok ini sebagai feminis islam. Kadife mencintai seorang islamis politis yang hendak melakukan kudeta militer untuk mengembalikan Turki menjadi negara islam.

Ulasan
Salju adalah kisah tentang benturan peradaban Timur dan Barat. Bercerita tentang Turki sebagai negara sekuler dibawah pemerintahan Kemal Ataturk, novel ini berisi dilema yang dihadapi oleh sebuah bangsa yang terpecah belah antara tradisi, agama, dan modernisasi. Ataturk adalah pendiri dan presiden pertama Republik Turki. Dikutip dari Wikipedia, “Setelah kekalahan Kekaisaran Ottoman di tangan tentara Sekutu, dan rencana-rencana berikutnya untuk memecah negara itu, Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki dalam apa yang kemudian menjadi Perang Kemerdekaan Turki. Kampanye militernya yang sukses menghasilkan kemerdekaan negara ini dan terbentuknya Republik Turki. Sebagai presiden pertama negara ini, Mustafa Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan yang luas yang berusaha menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis.”

Reformasi Ataturk ini melarang penggunaan jilbab yang dinilai sebagai sebuah kemunduran dan menjadi hambatan dalam mencapai tujuan Turki yang modern. Pelarangan ini kemudian mendapat pertentangan dari kaum muslim konservatif sehingga mengakibatkan bentrokan dengan pihak militer.

Sejujurnya, ini novel yang berat. Namun demikian tetap layak untuk dituntaskan. Dialog dan pemikiran tokoh-tokoh di dalam buku ini membuka wawasan kita tentang pertentangan yang terjadi antara dunia islam radikal dan sekuler, bahasan yang masih akurat sampai saat ini pun.

Drupadi


Judul: Drupadi
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2017
Tebal: 149

“…pengabdian yang sempurna adalah setia kepada peranan hidup kita, apapun peran yang kita mainkan.” (hal 78)

Drupadi adalah tokoh wanita dari kisah Mahabharata. Konon Drupadi diciptakan dari sekuntum bunga teratai yang sedang merekah. Itulah sebabnya ia memiliki kecantikan yang tiada terkira. Banyak ksatria dari seluruh penjuru yang memperebutkan dirinya. Hingga suatu hari, Drupada, ayah Drupadi menyelenggarakan sayembara untuk mencari pasangan bagi putrinya. Karna, seorang putra kusir berhasil memanah sasaran. Namun Drupadi menolak Karna karena tidak ingin bersuamikan seorang yang lebih rendah derajatnya.

Arjuna, ksatria Pandawa yang saat itu menyamar sebagai brahmana berhasil memenangkan sayembara. Namun Arjuna menolak menikahi Drupadi, sebaliknya ia mempersembahkan Drupadi untuk kakaknya, Yudhistira. Yudhistira yang tidak mengikuti pertandingan menolak permintaan Arjuna dan memberikan Drupadi untuk saudara pandawa lainnya. Namun mereka semua menolak. Dewi Kunti, ibu ksatria Pandawa akhirnya memutuskan untuk menikahkan Drupadi dengan kelima putranya, yaitu Yudhistira, Arjuna, Bima, Nakula, dan Sadewa. Arjuna adalah ksatria Pandawa yang paling dicintai oleh Drupadi.

Drupadi bersama kelima suaminya tinggal di dalam istana Indraprastha yang mewah. Saudara Pandawa lainnya, Kurawa, yaitu Duryodana merasa iri dengan keberuntungan Yudhistira. Akhirnya dibuatlah sebuah rencana yang mengakibatkan Yudhistira tidak hanya kehilangan harta, istana, dan kerajaannya namun juga saudara-saudara Pandawa lainnya beserta Drupadi. Pandawa mengalami kejatuhan, kehilangan kehormatan dan kemerdekaan mereka sebagai manusia. Istri mereka, Drupadi dihinakan oleh Kurawa. Terhina, terlunta-lunta dan terusir adalah derita yang harus ditanggung Drupadi di dalam masa pengasingan bersama kelima suaminya. Namun Drupadi tak tinggal diam. Ia melakukan perlawanan melalui kata-kata, doa, dan mantra yang pada akhirnya membawa kemenangan bagi Pandawa.

Ulasan
Drupadi, menggambarkan sosok wanita cerdas, yang dengan kekuatan dan kelembutannya mampu memberi perlawanan atas penghinaan yang dilakukan Kurawa. Sepanjang hidupnya Drupadi ingin memanusia (hal 128). Kisah Drupadi dalam buku ini juga menggambarkan bentuk pengabdian Drupadi kepada hidup yang dilakoninya. Perannya sebagai istri dari lima ksatria Pandawa membawa Drupadi kepada kebahagiaan dan kesengsaraan yang tidak terperi. Namun demikian ia tetap bersetia kepada takdir yang telah menentukan jalan kehidupannya.

“Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu.”

The Martian

the-martian_20160127145159
Judul: The Martian
Penulis: Andy Weir
Alih bahasa: Rosemary Kesauli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011, 2014
Tebal: 527

The Martian berkisah tentang seorang astronaut yang berjuang untuk bertahan hidup di Mars. Si tokoh, Watney, adalah seorang ahli botani yang turut dalam program NASA yang dinamai dengan Ares. Ares memiliki misi mencoba menggapai Mars untuk mengirim orang-orang ke planet lain untuk pertama kalinya, mengembangkan cakrawala pengetahuan dan misi kemanusiaan lainnya. Kru Ares 1 dan Ares 2 berhasil menjalankan tugas dan kembali pulang ke bumi dengan selamat sebagai pahlawan. Bagaimana dengan Ares 3? Ares 3 adalah program NASA yang diikuti oleh Watney.

Seperti para pendahulunya, semua misi Ares menggunakan Hermes, nama pesawat angkasa yang membawa para kru untuk pulang-pergi ke Mars.
Tahu nggak? Ternyata untuk mengirim para kru ke Mars, mereka (NASA) terlebih dahulu harus mengirim semua perlengkapan yang dibutuhkan Ares 3 ke Mars. Dan itu memakan waktu tiga tahun. Setelah NASA memastikan semua perlengkapan berhasil mencapai permukaan dengan selamat, baru lah mereka memberangkatkan para kru Ares 3 menuju Mars.

Para kru kemudian menggunakan kendaran yang diberi nama MAV. MAV adalah kendaraan untuk turun dan naik dari Mars. Kendaraan ini pula yang akan mengantarkan mereka kembali ke Hermes setelah operasi permukaan planet selesai.

Nah, ini lah awal kisah Watney, sang astronaut yang diduga tewas dan hilang di Mars. Ketika sedang melakukan operasi permukaan, Mars diterjang badai pasir. Mulanya para kru diminta untuk berteduh di bawah HAB. Namun kemudian pihak NASA memerintahkan agar mereka kembali ke MAV dikarenakan kecepatan angin yang semakin tinggi. Dalam perjalanan dari HAB menuju MAV, terjadilah insiden yang menyebabkan Watney terlempar dan terpisah dari kawan-kawannya. Dalam kebimbangan dan perintah NASA yang semakin mendesak dengan terpaksa para kru meninggalkan Watney setelah sang komandan gagal menemukan Watney.

Bagaimana kehidupan Watney selanjutnya di Mars? Apa yang menyebabkan ia selamat dari kecelakaan yang menimpanya di badai pasir? Dan bagaimana cara awak NASA di bumi membawanya kembali ke bumi?

Ulasan
Apa yang kamu rasakan ketika mengetahui dirimu berada di tempat yang ekstrim, sendirian dan kemungkinan untuk bertahan hidup barangkali tinggal menghitung hari? Putus asa, marah, ketakutan?

Putus asa adalah hal pertama yang juga dirasakan Watney. Namun kemudian, bagi seorang Watney, dengan karakternya yang humoris dan pantang menyerah ia bertekad untuk bisa bertahan hidup. Untungnya, ia seorang ahli botani. Tempat yang tandus, gersang dan tidak memungkinkan bagi bertumbuhnya tanaman barangkali bisa menjadi semacam tantangan sekaligus penentu keberlangsungan hidup sang astronaut. Menyediakan pasokan pangan adalah hal pertama yang harus ia persiapkan. Tidak hanya proses mempersiapkan lahan berkebun di Mars yang membuat kita sebagai pembaca akan terkagum-kagum membaca buku ini. Cara Watney memecahkan masalah dengan melibatkan semua unsur ilmu pengetahuan dan teknologi membangkitkan rasa cinta dan keingintahuan yang lebih mendalam terhadap ilmu pengetahuan. Sepertinya buku ini pas banget buat pelajar yang sedang kehilangan minat belajar fisika, matematika, kimia, dan biologi :). Tidak hanya itu, dari karakter Watney sebenarnya kita bisa belajar bagaimana ia berinteraksi dengan diri dan sekitarnya. Perjuangan Watney bertahan hidup di Mars tidak selalu mulus dan lancar. Namun berbekal semangat hidup untuk mempertahankan diri, kerja keras dan rasa humor, Watney mampu menguatkan dirinya untuk pantang menyerah.

Hm, jadi apa pesan moral buku ini? Salah satunya adalah jangan pernah meremehkan pelajaran apapun, karena semua ilmu saling terhubung, saling terkait untuk membekali manusia agar dapat berjuang mempertahankan hidup di bumi, planet terindah dan nyaman untuk ditempati bagi semua penduduk bumi.

Sebagai tambahan, saya mendiskusikan buku ini dengan partner. Dia bilang, The Martian menyuguhkan kondisi-kondisi yang masuk akal. Secara logika, solusi yang ditawarkan atas peristiwa di buku ini dapat diterima seiring dengan kemajuan teknologi yang mengikutinya.

The Housekeeper & the Professor

THAT
Judul: The Housekeeper & the Professor
Penulis: Yoko Ogawa
Penerjemah: Maria Lubis
Penerbit: PT Qanita
Tahun terbit: 2016
Tebal: 251

√100 = 10, √16 = 4, Berapa √-1 = ?
Halaman awal buku ini sudah membuat saya sedikit mengerenyitkan dahi. Hei, ini memang bukan buku roman, itulah asyiknya :).

Seorang profesor matematika hanya memiliki ingatan selama delapan puluh menit. Kecelakaan mobil tujuh belas tahun lalu telah menyebabkan kerusakan pada otaknya. Dia tidak pikun, otaknya masih berfungsi dengan baik, terutama terhadap matematika. Ingatannya berhenti pada tahun 1975. Dia mampu mengingat teorema yang dia kembangkan tiga puluh tahun lalu namun tak tahu apa yang dia santap saat makan semalam.

Profesor tinggal sendiri. Namun ia tak sepenuhnya sendiri. Pondok tempat ia tinggal berada di dalam lingkungan rumah utama yang dibatasi dengan pintu taman. Di rumah utama itulah kakak ipar sang profesor tinggal, seorang perempuan tua yang anggun. Ia yang membiayai semua keperluan sang profesor.

Perempuan muda dengan satu anak laki-laki itu bekerja untuk mengurus semua keperluan profesor. Profesor senang berbicara tentang bilangan-bilangan. Bilangan membuatnya merasa nyaman. Setiap pagi perempuan muda mengulangi tanya jawab yang sama. Bagi sang profesor, yang ingatannya hanya bertahan selama delapan puluh menit si perempuan muda itu selalu merupakan pengurus rumah yang baru dia jumpai untuk pertam kali. Untuk mengatasi ingatannya yang lemah, profesor menuliskan hal-hal yang harus dia ingat dan menempelkannya di tubuhnya sendiri, di dalam setelan jasnya yang tertutup oleh banyak potongan kertas.

Keduanya membangun jalinan kasih sayang yang lebih misterius daripada bilangan imajiner. Sama misteriusnya dengan hasil akar kuadrat -1 yang berupa i, representasi dari imajiner. i adalah jenis bilangan paling rahasia, tidak pernah keluar sehingga bisa terlihat. Seperti itulah hubungan aneh tapi indah yang berkembang di antara keduanya.

Ulasan
Membaca sekilas judul buku ini memang bisa memberikan persepsi yang berbeda kepada setiap orang. Saya awalnya mengira ini buku roman sehingga saya sempat ragu untuk membelinya. Namun berbagai simbol matematika di sampul buku dan sinopsis di halaman belakang buku membuat saya penasaran. Saya nggak suka matematika sih tetapi cerita atau film yang membahas tentang misteri alam semesta dengan ilmu pengetahuannya selalu mampu membangkitkan rasa ingin tahu. Buku ini tuntas saya baca setelah seorang kawan saya meminjam buku ini karena tertarik dengan barisan kalimat di sampul depan buku.

Walau banyak persamaan matematika yang tidak saya kenal dan sukses membuat saya terpaksa browsing di internet mencari istilah-istilah semisal bilangan kembar, bilangan bersahabat, dan lain-lain, saya sungguh tidak menyesal membacanya. Buku yang keren. Ternyata, untuk bisa meresapi indahnya kisah di buku ini memang harus ‘ngeh’ matematika juga ya? Hehehe :).

Night Flight

Untitled-1 copy
Judul: Night Flight
Penulis: Antoine de Saint-Exupery
Alih bahasa: Isao Arief
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2010
Tebal: 190

Buku Night Flight ini berbentuk grafis (komik). Kisah dalam buku ini lebih merupakan memoar pengalaman Exupery sendiri sebagai pilot pos udara dan tragedi yang nyaris merenggut nyawanya.

Night Flight bercerita tentang perusahaan angkutan pos udara pertama yang melayani rute Amerika Selatan. Pada masa itu pengangkutan dan transportasi didominasi oleh kereta api dan kapal untuk jalur darat dan laut. Riviere adalah nama pemilik perusahaan armada pos udara ini. Ia melihat pasar yang cukup potensial untuk melakukan pengangkutan pada malam hari dengan mengggunakan pesawat untuk mempersingkat waktu.

Riviere memimpin dengan sangat keras. Para pilot mengemudikan pesawat dengan mengandalkan baling-baling pesawat, tongkat kendali penentu arah, sinar bulan dan bintang-bintang. Pesawat pada masa itu belum dilengkapi dengan radar dan peralatan digital seperti saat ini. Pekerjaan ini sepenuhnya mengandalkan kemampuan seorang pilot dengan keberanian tinggi.

Dikisahkan seorang pilot pemberani bernama Fabien yang baru menikah dan harus bertugas mengantarkan paket dengan rute Patagonia, Buenos Aires. Cuaca yang semula cerah berubah menjadi badai. Fabien pilot yang terlatih dan tidak mudah menyerah. Setelah ia berhasil melewati badai angin Fabien dan rekannya terpaksa harus menerima kenyataan bahwa bahan bakar mereka tidak mencukupi. Sementara pesawat mereka tersesat terbawa angin sampai lautan atlantik.

Fabien adalah bagian dari sebuah kisah mengenai kebanggaan dan keberanian orang-orang yang bekerja di udara. Pengorbanan Fabien dan para pilot pemberani lainnya tidak pernah sia-sia karena pengabdian mereka melebihi cinta dan kematian.

Terima kasih untuk mbak Lilik Wijayati yang telah memberikan buku ini. Kejutan buat saya karena tidak menyangka ada buku di dalam paket benih tanaman :).

Para Pencari Keadilan

PARA PENCARI KEADILAN.indd

Pengarang: Pipiet Senja
Penerbit: Emir
Tahun terbit: 2015
Tebal: 221 halaman
Harga buku: Rp 80.000,-
Dimensi buku: 14,5 x 21

Sinopsis

Rumondang Siregar adalah satu-satunya Jaksa di Indonesia blasteran Batak-Tionghoa. Sejak bayi ia dalam pengasuhan keluarga besar ayahnya di kawasan Tapanuli Selatan, sementara kedua orang tuanya mengejar karier di Ibukota. Acapkali ia menerima tindak kekerasan dari neneknya. Beruntunglah ia memiliki seorang kakek yang sangat mengasihinya, sehingga membentuk karakter yang mandiri, dan istiqomah sebagai muslimah tangguh.

Ketika ia berhasil menduduki jabatan Jaksa di daerah, segenap pikiran dan upayanya dipusatkan demi memberantas para koruptor. Sepak-terjangnya ternyata membuat gerah para seniornya, maka ia pun ditarik ke Ibukota. Di sini ternyata ia harus berhadapan dengan situasi yang tak pernah terbayangkan; mulai dari intrik, isu murahan, sampai fitnah yang keji. Serbuan dan tantangan lawan itu bukan saja dari kalangan sejawat, melainkan juga dari keluarga besar ibunya sendiri, etnis Tionghoa.

Bagaimana sepak-terjangnya, saat ia harus berhadapan dengan para sepupu dan pamannya sendiri yang ternyata adalah gembong narkoba? Dan ia pun menjadi korban dalam suatu tragedi pemboman di Mall. Dapatkah ia bangkit dari situasi in-coma yang mengenaskan itu?

Keunggulan Buku
Novel karya penulis legendaris Indonesia ini, merupakan salah satu novel lintas etnis yang tidak biasa dari novel kebanyakan saat ini. Pipiet Senja seorang penulis yang dikenal sebagai sosok perempuan yang konsisten dengan kesederhanaan, baik dalam kehidupan maupun karya-karyanya. Dapat dilihat dari salah satu novel karyanya, Para Pencari keadilan. Novel ini menceritakan perjuangan seorang wanita tangguh di tengah maraknya kasus peradilan yang berakhir dengan tidak adil.
Sangat menarik, karena di dalamnya penuh konflik yang mengharukan, serta sarat dengan nilai-nilai Islam yang tercermin dari tokoh utama seorang muslimah, bernama Rumondang. Tentu saja dapat menginspirasi tidak hanya bagi wanita, tetapi juga untuk semua orang yang sangat mendambakan keadilan di dunia ini.

sumber: Erlangga

Romansa 2 Benua

ROMANSA DUA BENUA.indd

Penulis: Pipiet Senja
Penerbit: Erlangga
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2015
Cetakan: Ke-1
Deskripsi Fisik: 223 Halaman
Kode Buku: 808-813-002-0
ISBN: 978-602-0935-24-9

Sinopsis Romansa 2 Benua

Soli tak pernah tahu siapa ayah kandungnya dan mengapa ibunya sampai hati membuangnya begitu saja? Masa kecilnya dihiasi dengan pergulatan seru melawan kemiskinan dan kekerasan fisik bahkan seksual dari kaum adam. Soli yang tinggal hanya berdua dengan neneknya tercinta harus menjalani pahitnya hidup di sebuah desa kecil di Jawa Barat. Di usianya yang masih belia, Soli telah mendapat pelecehan dan perlakuan sadis dari seorang lelaki jahim. Drama hidup terus berlanjut, ketika Soli harus kehilangan neneknya tercinta, satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Kini, ia harus menjalani kerasnya hidup sebatang kara. Hingga suatu hari, Soli kembali mengalami babak pahit dalam skenario hidupnya. Soli disekap berhari-hari di gerbong kereta, kesuciannya kembali direnggut untuk kedua kali. Namun, kali ini Soli telah berubah, dia berani bangkit melawan dan menghabisi si Durjana. Berbagai hujatan dan penghinaan bertubi-tubi menyerangnya. Kegetiran hidupnya tak kunjung bermuara.

Penantian panjang yang begitu indah dalam imajinasinya itu kini di depan mata. Soli telah menemukan ibu kandungnya yang telah meninggalkannya sejak masih bayi. Kebahagiaan yang menghiasi relungnya kala berjumpa untuk pertama kalinya dengan sosok perempuan yang sudah melahirkannya ke dunia fana itu pun hanya ada dalam kisah dongeng belaka. Sang ibu justru menolak kehadirannya, bahkan mengusirnya. Tidak ada sedikit pun kasih dan sayang seorang ibu yang layaknya dicurahkan kepada buah hatinya. Soli pun pasrah, dia sudah tak mampu berharap.Pada suatu hari, ibu Soli pun datang dan mengajaknya untuk tinggal bersama layaknya keluarga. Bukan girang Soli mendengar kabar itu dan sontak dia langsung mengiayakan. Tak ada sedikit pun rasa curiga terhadapo niat baik sang ibu. Namun, di balik kebaikan hatinya, sungguh tega sang ibu justru menjual Soli. Soli pun tak berdaya. Dia benar-benar telah terpenjara di rumah Baba Liong, tauke tembakau dari Deli yang juga mempunyai bisnis di kota kembang. Soli menjalani hidupnya yang baru bergelimang harta dan kemewahan di rumah Baba Liong hingga pada suatu hari Soli menemukan cinta pertamanya yang bernama Nuwa.

Cinta pertama yang telah membutakan matanya. Cinta pertama yang begitu manis di awalnya. Cinta pertama yang selalu menggetarkan hatinya setiap waktu. Cinta yang justru membawa petaka. Cinta yang justru menorehkan luka, cinta yang perih tak terperi yang meninggalkannya sorang diri di Negri Kincir Angin. Cinta yang membuahkan benih manusia di dalam rahimnya. Hingga akhirnya dia pun benar-benar tidak tahu arah setelah Nuwa meninggalkannya sebatang kara dengan janinnya. Tuhan tidak pernah melepas Soli begitu saja, Sang Maha Agung yang tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Titik terang dalam hidupnya kembali datang. Jan van Hartland, pria bule bertubuh sangat subur, berperawakan tinggi kini telah mengisi lembar hidupnya dengan penuh kebahagiaan. Kini, Soli telah melahirkan Nuwa, buah hatinya dengan cinta pertamanya yang telah membutakannya yang juga bernama Nuwa. Hidup terus berjalan penuh kebahagiaan hingga Soli pun melahirkan buah hati lainnya yaitu Beatrice dan Martin.

Kini, Soli bukan lagi gadis desa lugu yang bodoh dan miskin. Soli van Hartland kini telah menjadi menjelma menjadi wanita cerdas dan bergelimang harta karena kesuksesan bisnisnya di Negeri Kincir Angin. Namun, kesedihan kembali menimpanya kala dia mendengar kabar bahwa putranya meninggal karena tenggelam di laut bersama kapal pesiar pribadinya. Hatinya hancur menerima kenyataan itu. Soli mempunyai cucu bernama Max, yang tak lain adalah anak kandung Nuwa van Hartland dan istrinya, Jennifer Hamilton, artis Hollywood. Kini, Max dirawat oleh Soli. Dia begitu mencintai cucunya. Namun, Soli kembali harus kehilangan orang yang dicintainya, Jan Van Hartland, suaminya tercinta. Kini, dia membiarkan skenario Tuhan berjalan apa adanya. Seiring berjalannya waktu, usia Soli semakin tua. Kesehatannya pun semakinmenurun. Soli kini tengah tak berdaya terbaring di rumah sakit. Max, cucunya telah beranajk dewasa dan memilih jalan hidup yang benar, kini dia menjadi muslim sejati dan mengganti namanya menjadi Faiz. Bagaimana pun panjang nya perjalanan hidup Soli, kini ia kembali teringat pada Nuwa, cinta pertamanya. Ia masih menyimpan dendam yang tak kunjung padam. Faiz pun mulai tahu akan kisah cinta pertama sang nenek yang getir. Dia pun berusaha mencari sosok Nuwa, cinta pertama neneknya. Maka dia terbang ke Indonesia, tepatnya di Papua.

Pencariannya pun tak sia-sia, hingga dia menemukan cinta pertama sang nenek. Soli pun semakin sehat. Kini dia telah belajar ilmu agama dari perawatnya, Laila. Perjalanan hidup memang tak bisa ditebak, Soli tak pernah menyangka bahwa dia akan kembali ke Indonesia dan dipertemukan dengan Nuwa. Kini Soli sudah memaafkannya. Faiz merasa bahagia karena bisa mempertemukan dua insan yang saling mencintai walupun penuh dengan tragedi.

Unsur Intrinstik Novel
1. Tema
a. Seorang wanita yang kuat dan tegar dalam menghadapi kegetiran hidup
b. Wanita yang lugu dan baik hati namun terlalu mudah percaya terhadap perkataan orang lain yang justru membuatnya lara.
c. Perjuangan hidup penuh tragedi seorang gadis yang ditinggal ibu kandung sejak bayi dan kemudian harus hidup sebatang kara setelah neneknya, satu-satunya keluarganya meninggal dunia dan akhirnya ibunya tega menjualnya.

2. Tokoh
a. Tokoh Utama : Soli
b. Tokoh Kedua : Titin
c. Tokoh Ketiga : Nuwa
d. Tokoh Keempat: Jan Van Hartland
e. Tokoh Kelima: Faiz
f. Tokoh Pembantu :Mak Dijah, Tunem, Baba Liong, Beatrice, Martin

3. Penokohan :
a. Soli: Sosok perempuan yang kuat dan tegar, keinginannya untuk mandiri sejak muda, dan sangat menyayangi nenek dan ibunya.
b. Titin: Ibu kandung Soli yang cinta harta hingga tega menjual anaknya.
c. Nuwa: Sosok laki-laki yang cerdas dan mampu memikat hati Soli namun dia tega meninggalkan Soli seorang diri dalam keadaan mengandung anaknya
d. Jan van Hartland: Laki-laki bule yang berperawakan tinggi, baik hati, penyayang, dan mencintai Soli apa adanya.
e. Penokohan lainnya.

4. Alur
Alur maju mundur, dimana novel menceritakan keadaan Soli yang sedang tak berdaya berbaring di rumah sakit. Kemudian alur kembali mundur menceritakan kisah hidup Soli sejak bayi hingga remaja yang penuh tragedi hingga ia hamil namun ditinggal oleh Nuwa dan kemudian dia berjumpa dengan Jan van Hartland di Negeri Kincir Angin dan menikah dengan Jan van Hartland dan kemudian mempunyai dua anak, Beatrice dan Martin. Alur maju ditutup dengan bertemunya Soli dan Nuwa.

5. SudutPandang
Sudut pandang orang ketiga

6. Amanat :
a. Tidak ada anak yang dilahirkan dengan keadaan haram. Perbuatan orang tuanya lah yang haram.
b. Sepahit apapun hidup, tidak boleh menyerah. Hidup terus berlanjut. Berusahalah menjalani hidup dengan baik.
c. Memaafkan orang yang telah berbuat jahat memang susah, akan tetapi kita harus mampu melakukannya agar hidup tenang.
d. Jangan mudah terpercaya oleh perkataan orang, terkadang berujung sengsara.
e. Sebagai wanita, kita harus menjadi wanita yang cerdas, kuat, mandiri, dan tangguh dalam menjalani warna warni kehidupan yang tak terduga.

Keunggulan dan kelemahan novel

1. Keunggulan Novel

  • Novel ini mengajarkan kita akan apa arti tegar, kuat, mandiri dan tangguh bagi wanita
  • Sebuah bacaan menarik yang sangat inspiratif
  • Bahasanya mudah dipahami
  • Pewatakan tokoh mudah dipahami dan digambarkan secara jelas
  • Alur cerita mudah dipahami meski alur maju mundur, dan alur tersebutlah yang membuat kita menjadi semakin penasaran.
  • Sarat akan nilai religi

2. Kelemahan Novel

  • Terlalu banyak nama tokoh
  • Ada beberapa sesi cerita yang cukup panjang dan sedikit membosankan karena intinya sama saja.

Kesimpulan
Novel ini pantas dibaca untuk siapa saja, terutama untuk wanita. Novel ini mampu menginspirasi para wanita dalam menjalani hidup yang penuh tantangan agar selalu kuat, tangguh, dan mandiri. Novel ini juga mengandung nilai religi. Bahwa sejatinya hidup harus seimbang antara dunia dan akhirat. Banyak pesan dan kesan yang dapat diambil sebagai pelajaran hidup dari novel ini. Sebuah novel yang mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang sederhana namun mampu membangkitkan emosi pembaca.

Sumber: Erlangga