Hujan Bulan Juni

download
Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 135

kita tak akan pernah bertemu
aku dalam dirimu

tiadakah pilihan
kecuali di situ?

kau terpencil dalam diriku

Novel Hujan Bulan Juni ini bercerita tentang Sarwono, dosen Antrologi UI dan dan Pingkan dosen Sastra Jepang UI, yang blasteran Jawa-Menado. Sarwono, seorang Jawa yang memiliki pembawaaan tenang, dan cenderung melankolis membuat Pingkan jatuh hati. Laki-laki ringkih dengan batuk kecilnya itu pun memiliki perasaan yang sama dengan Pingkan. Namun keduanya menyadari perbedaan “jarak” yang ada. Kekhawatiran dan kecemasan seringkali terasa mengganggu walau keduanya pandai mengalihkan kesedihan.

Suatu hari Pingkan ditugaskan ke Jepang sementara Sarwono harus berkeliling Indonesia untuk melakukan penelitian. Komunikasi melalui wa tetap terjalin diantara keduanya, walau diam-diam Sarwono menaruh kecemburuan terhadap rekanan Pingkan seorang Jepang yang juga menyayangi Pingkan.

Kesibukan penelitian serta batuk-batuk kecil yang diderita Sarwono mengharuskan ia beristirahat. Ia kembali ke Solo. Penyakit Sarwono bertambah parah. Dalam kondisi kritis Toar, kakak Pingkan mengabarinya lewat wa. Pingkan pulang ke Solo untuk menjenguk Sarwono.

Ulasan:
Hujan Bulan Juni adalah judul puisi SDD yang sangat fenomenal. Selain dibuat novelnya, sebelumnya sudah terbit dalam bentuk lagu dan komik. Rencananya, akan terbit juga filmnya.

Mematahkan bayangan saya bahwa tokoh dan cerita berlatar masa lalu, SDD membuktikan sebaliknya. Kisah berlatar kondisi saat ini, peranan wa sebagai alat komunikasi atau istilah selfie banyak digunakan SDD di buku ini. Meskipun dalam beberapa hal, nostalgia masa lalu masih sedikit tampak dalam sosok tokoh di novel.

Walau berlabel novel tetapi saya suka pemikiran yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Perbedaan pandangan dan keyakinan setiap individu ditampilkan tanpa menghakimi.

“…tidak memanfaatkan agama sebagai alat untuk mencapai apapun, kecuali untuk mendekatkan diri dengan Allah. Itu perintah Allah, itu perintah Muhammad SAW, itu yang menjadi dasar keyakinannya sebagai orang yang harus menghargai keyakinan orang lain, yang selalu mengingatkannya untuk mengharamkan kata ‘liyan’ dalam cara berpikirnya, “Biarlah kata itu tetap ada di kamus, tetapi tidak perlu digunakan untuk mencibir, apalagi menyiksa orang lain.” (halaman 76)

Perenungan akan kondisi sosial dan pemikiran individu terhadap suatu permasalahan selalu menarik minat saya, barangkali juga itu yang membuat saya melihat novel ini tidak sekedar novel biasa.

“Ia tidak ingin tinggal di manapun kecuali di negeri yang menyenangkan karena selalu geger ini. Ia masih harus menuntaskan keinginan untuk blusukan dari pulau ke pulau agar bisa menghayati hal-hal pelik yang tidak akan bisa diuraikan, apa lagi ditata, tanpa didasari keikhlasan untuk memahami dan menerimanya.” (halaman 76)

Dan, SDD masih penyair yang saya kagumi, puisi dan prosanya begitu menghangatkan hati 🙂

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*