Jalan Menikung

images
Judul: Jalan Menikung
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: PT Pustaka Utama Gravity
Tebal: 184

“Merantau itu pergi jauh. Kadang-Kadang jauh, jauh sekali. Kadang-Kadang rasanya sewaktu-waktu akan dapat kembali. Rasanya. Padahal jalan yang telah dilalui dan akan ditempuh begitu banyak menikung. Kita akan terus merantau. Bagaimanapun, jalan akan terus menikung…”

Konon, Jalan Menikung ini adalah sambungan dari buku Para Priyayi yang bercerita tentang keluarga besar Sastrodarsono dari Wanagalih. Di buku ini kisah keluarga Sastrodarsono berlanjut dengan kehidupan Harimurti dan Sulistianingsih bersama putra tunggal mereka, Eko yang belajar di Sunnybrook College, Connecticut, Amerika Serikat.

Suatu saat Harimurti mendapat undangan makan siang dari bos-nya. Mesipun terasa aneh, toh Harimurti datang memenuhi ajakan itu. Seperti telah diduga, ternyata pemimpin perusahaan tempat nya bekerja meminta kesukarelaan Harimurti untuk keluar dari pekerjaannya. Alasannya, ia tidak bersih diri alias pernah terlibat G30S/PKI. Harimurti tak mengerti mengapa kasusnya bertahun-tahun lampau masih dipermasalahkan. Padahal telah bertahun-tahun lamanya ia dibebaskan dari penjara.

“Begitu lengketkah praduga manusia sampai sekian lama?” (halaman 110)
“… tapi rupanya manusia hidup terus menggendong sentimennya.” (halaman 110)

Harimurti teringat putra nya, Eko, yang sebentar lagi selesai kuliahnya dan bercita-cita untuk pulang dan mengabdi untuk negerinya. Cita-cita luhur. Namun peristiwa yang menimpa diri nya membuat ia harus menghalangi niat Eko untuk pulang ke tanah air. Eko kemudian bekerja dan bahkan menikahi wanita Amerika berkebangsaan Yahudi.

Harimurti dan Sulistianingsih digambarkan sebagai pasangan sederhana dan masih menggenggam budaya leluhur. Namun demikian mereka adalah sosok yang bisa menerima perbedaan. Sebaliknya dengan Tommy dan Jeannete, saudara ipar Harimurti. Penampilan mereka yang mewah dan kekinian tidak diimbangi dengan cara berpikir yang terbuka. Perbedaan ras menjadi salah satu penolakan Tommy menikahkan putrinya dengan Boy, putra Cina dari mitra bisnisnya.

Kisah di buku ini sedikit banyak ingin menyentil bagaimana terkadang kita sendiri masih berpikiran rasis. Dan diskriminasi di belahan dunia mana pun masih saja ada.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*