Lingkar Tanah Lingkar Air

Judul: Lingkar Tanah Lingkar Air
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal: 165

Amid adalah pemuda yang berjuang dalam panji Hizbullah untuk bertempur dan membela kemerdekaan RI melawan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Amid berkeinginan untuk bergabung menjadi anggota tentara resmi negara. Namun sebuah peristiwa membelokkan arah hidupnya dan membawa Amid masuk menjadi anggota laskar DI/TII yang menentang pemerintah RI. Amid yang sejatinya seorang yang sangat cinta tanah air sesungguhnya merasa berat hati untuk bergabung menjadi anggota laskar Darul Islam. Ia teringat pesan gurunya, Kiai Ngumar, “Dan ingatlah pelajaran dalam Kitab, terhadap pemerintah yang sah kita wajib menaatinya.” (halaman 74)

Dalam pertempuran melawan pemerintah Amid seringkali diombang-ambingkan rasa bersalah oleh karena pasukannya sering memerangi warga seagama. Sebuah peristiwa penyerangan terhadap jip militer tentara Republik memukul sanubari Amid, ketika ia mendapati korbannya adalah seorang letnan yang di dalam bajunya ditemukan seuntai tasbih dan sebuah quran kecil. Seketika hati Amid terbelah oleh ironi yang sulit ia mengerti. Ia merasakan lelaki yang ia bunuh itu agaknya ingin selalu merasa dekat dengan Tuhan. Di lain sisi, ia meyakini bahwa Tuhan yang selalu ingin diingat oleh lelaki itu melalui tasbih dan quran-nya pastilah Tuhan-nya juga, yakni Tuhan kepada siapa gerakan Darul Islam ini mengatasnamakan khidmahnya.

Amid kembali mengingat perselisihan antara Kiai Ngumar dengan Kang Suyud ketika saat itu mereka menyatakan keinginan untuk bergabung dengan Kartosuwiryo yang ingin mendirikan sebuah negara Islam.

“Sabarlah, Suyud. Aku ingin kembali mengingatkanmu akan kandungan Kitab. Di sana disebutkan, hanya ada satu kekuasaan yang sah dalam satu negara. Dengan kata lain, bila Republik sudah diakui sebagai kekuasaan yang sah, lainnya otomatis menjadi tidak sah.”

“Meskipun Kartosuwiryo orang Islam dan berjuang di bawah bendera dua kalimat syahadat?”

“Bung Karno dan Bung Hatta pun orang Islam. Mereka menyusun kekuasaan pemerintah atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa serta dasar-dasar lain, yang semuanya merupakan pokok-pokok dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dan lebih dari itu, kekuasaan mereka sudah diakui keabsahannya oleh masyarakat. Pengakuan ini akan membuat kekuasaan lain yang muncul belakangan jadi tidak sah.”

“Namun mereka juga bekerjasama dengan orang-orang di luar Islam. Sementara Kartosuwiryo tidak.”

“Suyud, dengarlah. Sudah pernah kujelaskan kepada Amid bahwa Nabi pun pernah melakukan kerjasama dengan orang di luar Islam untuk menjamin keamanan Negeri Madinah.” (halaman 75-76)

Dalam perdebatan itu Kiai Ngumar akhirnya memberikan ketegasannya untuk memilih Republik dalam rangka melaksanakan ajaran islam sendiri.

Setelah hampir 10 tahun hidup dalam perburuan dan kenyataan bahwa pasukan DI/TII telah makin terdesak dan berkurang, Amid mulai merasa kehilangan harapan dan merasa jenuh. Dalam kebimbangannya ia seringkali teringat Kiai Ngumar serta kenangan masa lampau di desanya.

Harapan Amid untuk menjalani kehidupan normal bersama istri dan anaknya akhirnya tercapai ketika Kartosuwiryo menyerukan kepada semua anggota DI/TII untuk menurunkan senjata dan menyerahkan diri kepada pemerintah dan sebagai balasannya mereka akan diberikan pengampunan. Tiga tahun kemudian, Amid, Kiram dan Jun kembali mengangkat senjata. Kali ini seperti yang pernah ia cita-citakan, bertempur dengan semangat jihad untuk Republik.

Ulasan:
“Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”. ~ Soekarno.

Kalimat bijak Bung Karno mengingatkan pentingnya kita memahami sebuah sejarah agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Barangkali kita semua harus bercermin, kehadiran buku ini seperti mengingatkan agar kaum muda berhati-hati dalam menyikapi hasutan dan propaganda yang ditiup-tiupkan golongan tertentu untuk kepentingan politik mereka.

Tentang Pengarang
Ahmad Tohari dilahirkan di Banyumas, 13 Jui 1948. Dia tidak pernah melapaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya yang mewarnai seluruh karya sastranya. Beberapa karyanya adalah: Ronggeng Dukuh Paruk (1982) telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda, Jerman dan Inggris serta difilmkan dengan judul Sang Penari; Di Kaki Bukit Cibalak (1986); Senyum Karyamin (1989); Bekisar Merah (1993) telah diterbitkan dalam bahasa Inggris; Lingkar Tanah Lingkar Air (1992); Orang-orang Proyek (2002); Kabah (2005); Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (2006); Mata yang Enak Dipandang (2013).

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*