Sang Harimau

Judul asli: The Tiger Rising
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Sang harimau bercerita tentang seorang anak laki-laki yang bernama Rob. Dunianya berubah setelah Ibu yang dikasihinya meninggal dunia. Kehilangan besar itu mengubah pribadinya menjadi seorang yang sangat tertutup. Rob menyimpan semua kesedihannya sendiri. Ia mengibaratkan dirinya sebuah koper, yang di dalam koper itu semua harapan, masalah dan kesedihannya tersimpan. Ia memasukkan semua perasaannya ke dalam koper itu dan menjejalkannya rapat-rapat dan menguncinya. Namun sekali waktu isi koper itu memaksa diri mereka keluar sehingga ia merasa perlu menduduki koper itu. Itu pun belum cukup sampai suatu hari ia melihat sang harimau. Harimau dengan bulunya yang berwarna kuning keemasan dan tatap mata yang tajam datang memberinya sebuah kekuatan yang baru. Rob tak sengaja melihat harimau ini, terkurung dalam kandang di sebuah hutan, dekat dengan motel yang menjadi tempat tinggalnya sekaligus merupakan tempat mata pencarian sang Ayah.

Kekuatan dari harimau itu membantunya untuk tetap tegar menghadapi kenakalan beberapa kawannya. Setiap kali mereka mengolok-olok serta menindasnya Rob tak pernah melawan. Ia juga tak menangis. Ia hanya perlu memikirkan hal-hal lain selama penyiksaan berlangsung. Dan bagi Rob, hal lain itu adalah seekor harimau. Setiap kali ia memikirkan harimau maka Rob merasakan kekuatannya bertambah besar.

Rob juga tahu jika ia tak melawan maka anak-anak itu lama kelamaan akan bosan dan meninggalkannya. Dan Rob tak pernah menangis walaupun rasa perih dan sakit dirasakannya akibat pukulan dan tendangan dari temannya itu.

Suatu hari, di sekolah tempat Rob belajar kedatangan murid baru, Sistine nama anak perempuan itu. Berbalikan dengan Rob, Sistine adalah seorang anak yang sangat pemarah. Sistine berani menantang siapapun yang mengejeknya. Perbedaan kepribadian yang saling bertolak belakang ini justru menjadikan mereka dua orang yang saling bersahabat.

Mengutip sinopsisi dari buku ini “Seiring mereka belajar saling memercayai dan bersahabat, bersama-sama mereka mendapati bahwa kenangan dan luka hati-serta harimau tidak bisa dikurung selamanya.

**
Ada banyak bagian menarik dari buku ini. Salah satunya saya suka bagian ketika Rob merasakan kebahagiaan akan hadirnya seorang teman dalam hidupnya, sesuatu yang tak pernah berani diharapkannya lagi. Kate menuliskannya dengan sangat manis, seperti ini:

“….. Mereka berlari bersama, dan Rob merasakan jantungnya berdentam di dalam–. ……Rasanya jiwanya seolah mengembang dan mendorong semuanya naik di dalam tubuhnya. Anehnya, ia mengenali perasaan itu, namun ia tidak dapat mengingat apa nama perasaan tersebut. ……. Lalu Rob ingat nama perasaan yang mendorong ke atas dalam dirinya, memenuhi dirinya seperti akan meluap. Namanya kebahagiaan. Itulah namanya.”

Bagaimana Kate melukiskan ketegaran Rob yang sebenarnya rapuh itu juga sungguh mengharu biru perasaan. Bagaimana setiap kali Rob membisikkan kata “jangan menangis. jangan menangis” kepada dirinya itu sungguh indah sekaligus mengiris hati.

Pesan indah dari novel ini adalah:
Ketika kamu tersakiti, bayangkanlah sesuatu yang membuatmu bahagia. Entah menyanyi, menggambar, menulis, membaca atau apa saja yang bisa memberimu kekuatan. Jika kamu ingin menangis, menangis lah. Tapi, yakinlah bahwa dirimu berharga dan layak untuk dicintai.

Manis, lembut, dan indah adalah pujian yang pantas diberikan untuk karya-karya Kate.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*