Gajah Mada

Judul: Gajah Mada
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai

Dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Jayanegara, kerajaan Majapahit banyak mengalami pemberontakan, salah satunya makar yang dilakukan oleh Ra Kuti. Pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti berhasil menguasai istana sehingga memaksa Prabu Sri Jayanegara bersama keluarganya mengungsi. Dalam pengungsiannya Jayanegara dikawal oleh pasukan Bhayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada. Masa penyelamatan Jayanegara ini merupakan bagian paling menegangkan dari isi cerita. Adanya telik sandi (mata-mata) dari pihak Ra Kuti ke dalam pasukan Bhayangkara sempat membuat pasukan Bhayangkara dan Gajah Mada sendiri kewalahan. Sehingga diputuskan Gajah Mada sendiri yang mengawal raja.

Pada akhirnya kemenangan berada di pihak Jayanegara. Pasukan Bhayangkara berhasil merebut istana serta mengembalikan Sri Prabu Jayanegara menjadi raja Majapahit. Namun kemudian Jayanegara sakit. Untuk menyembuhkan sakitnya maka didatangkan seorang tabib yang bernama Ra Tanca. Ra Tanca ini sesungguhnya adalah orang yang masih menyimpan dendam dan sakit hati pada Jayanegara. Dengan kepandaiannya meracik obat dia mengakali Gajah Mada. Ra Tanca membuat racun yang seolah-olah obat untuk diminumkan kepada Jayanegara. Saat itu juga raja meninggal. Mengetahui rajanya terbunuh, Gajah Mada segera menghukum mati Ra Tanca.

Bagaimana kelanjutannya? Silakan baca buku kedua dari 5 seri buku Gajah Mada ini.

Kisah Gajah Mada dibuat 5 seri, yaitu: Gajah Mada, Bergelut dalam kemelut takhta dan angkara, Hamukti Palapa, Perang Bubat, dan Madakaripura Hamukti Moksa.

Nama Gajah Mada tidak lepas dari Majapahit. Dari seorang bekel, ia kemudian menjadi orang besar yang menghantar Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Langit Kresna Hariadi, penulis buku ini mampu menuliskan cerita dengan sangat menarik. Pembaca seakan dibawa hanyut ke dalam sebuah petualangan yang seru dan mendebarkan.

Sebagai buku fiksi bernuansa sejarah, buku ini sedikitnya mampu membuat saya kembali tertarik menapak tilasi sejarah dari sebuah kejayaan besar yang ada di bumi nusantara.

Sadarlah

Sadarlah adalah terjemahan dari karya Mitch Albom yang berjudul Have A Little Faith. Sadarlah adalah kisah nyata tentang perjalanan iman untuk menemukan tujuan hidup.

Ada dua tokoh yang menjadi inspirasi dari cerita ini, pertama adalah Albert Lewis, seorang rabi (pendeta untuk kaum yahudi) dan Henry Covington, seorang pendeta untuk kaum kristiani. Keduanya adalah orang-orang yang unik, yang bekerja berdasarkan keyakinan mereka demi keselamatan.

Kisah dua orang di atas diceritakan oleh si penulis (Albom). Bersama mereka Albom mengeksplorasi masalah-masalah yang membelit manusia modern: bagaimana bertahan di tengah kesulitan, keraguan akan Tuhan, dan pentingnya iman.

Banyak dialog-dialog yang menarik dalam kisah ini. Seperti pertanyaan tentang Tuhan berikut ini.

Albom: Bagaimana kita tahu Tuhan ada?

Rabi: Buatlah kasus yang menunjukkan bahwa Dia tidak ada. Seberapa kecil kita berhasil menemukansesuatu dalam sains, selalu ada sesuatu yang tidak dapat mereka jelaskan, sesuatu yang menciptakan semuanya dan tidak peduli ilmuwan mencoba berbagai cara untuk memperpanjang kehidupan, pada suatu tahap, hidup tetap saja berakhir. Dan apa yang terjadi ketika kehidupan sudah berakhir? Bila kau sudah sampai di akhir, di situlah Tuhan memulai. Perjalanan menuju keyakinan kepada Tuhan tidak selalu lurus, mudah atau bahkan logis.

Atau soal perkawinan dan komitmen. Mengapa dalam dunia yang modern, perceraian sering terjadi.

Rabi: Di masa kini orang terlalu berharap dari perkawinan. Mereka mengharapkan kesempurnaan. Setiap saat harus jadi sumber kebahagiaan. Itu hanya ada di televisi atau film, tetapi bukan pengalaman manusia. Orang sekarang tidak ingin membelenggu dirinya, tidak mau berkomitmen. Seorang yang berkomitmen adalah orang yang setia dan andal, begitupun dengan keyakinan.

Kita tidak mau terikat untuk terus menerus beribadat dan mengikuti semua aturan. Kita tidak ingin memiliki komitmen dengan Tuhan. Kita mendatangi-Nya bila kita membutuhkan. Komitmen yang sesungguhnya membutuhkan kekuatan yang terus menerus-dalam keyakinan dan dalam perkawinan.

Albom dengan lugas ingin menyatakan bahwa ada satu kesatuan dari beragam keyakinan yang ada di bumi ini. Semuanya mengaju kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, ialah Tuhan.

Takhta dan Angkara

Bergelut dalam kemelut Takhta dan Angkara adalah buku Gajah Mada jilid 2. Seperti telah dikisahkan sebelumnya bahwa Sri Prabu Jayanegara, raja Majapahit ini meninggal karena diracun oleh Ra Tanca. Sri Jayanegara adalah anak laki satu-satunya dari Raden Wijaya (raja Majapahit pertama) dengan istri ke-5 nya, Dara Petak. Kepergian Jayanegara yang tiba-tiba menimbulkan luka yang mendalam bagi seluruh rakyat Majapahit. Tidak itu saja mangkatnya Beliau menimbulkan kegoncangan di dalam istana. Para ratu, yaitu: Tribuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Gayatri dan Dara Petak, kalang kabut memutuskan penerus kerajaan Majapahit. Sri Jayanegara pada saat meninggal belum menikah.

Dua adik Sri Jayanegara lainnya adalah perempuan, yaitu: Sri Gitarja dan Dyah Wiyat. Keduanya anak dari Raden Wijaya dengan istri ke-4, Gayatri. Ibu ratu Gayatri adalah seorang biksuni. Dengan mangkatnya sri Prabu maka penerus takhta kerajaan Majapahit akan diteruskan oleh salah satu dari dua putri sekar kedaton itu. Pada saat para ratu sedang berembug untuk memutuskan pilihan antara Sri Gitarja dengan Dyah Wiyat, terjadilah peristiwa genting seperti pembunuhan beruntun. Dari laporan Gajah Mada, dicurigai bahwa peristiwa di atas dilakukan oleh beberapa orang yang berkehendak melakukan makar.

Kecurigaan awal ditujukan kepada calon suami para sekar kedaton, Raden Cakradara (pasangan Sri Gitarja) dan Raden Kudamerta (pasangan Dyah Wiyat). Baik Cakradara dan Kudamerta mempunyai banyak pendukung yang juga berambisi untuk menduduki jabatan puncak di kerajaan. Maka dapatlah dibayangkan permainan apa yang sedang mereka lakonkan untuk memenuhi hasrat pribadi.

Jangan lupa juga dendam kesumat Ra Tanca pada Sri Jayanegara yang kemudian membuat dia tega meminumkan racun pada sri Prabu. Masih ingat kisah di Gajah Mada jilid 1, makar yang dilakukan oleh Ra Kuti dan kelompoknya (termasuk Ra Tanca) berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Hanya Ra Tanca yang menyerahkan diri dan kemudian kesalahannya diampuni. Namun sembilan tahun kemudian ternyata Ra Tanca masih menyimpan dendam kepada Sang Prabu. Ra Tanca berhasil membalas kematian teman-temannya dengan memberikan racun kepada Sri Jayanegara.

Apa hubungan Ra Tanca dengan pembunuhan beruntun? Bukankah Ra Tanca sudah mati ditebas pedang oleh Gajah Mada? Siapa dalang dibalik semua kekacauan? Penasaran kan? Baca saja bukunya ya? 🙂

Akeelah and The Bee

Mencuri waktu untuk bisa membaca buku adalah hal yang sangat teristimewa saat ini. Tapi, saya berhasil menyelesaikan satu buku bagus di tengah rutinitas yang padat. Ya, walaupun hingar bingar film dan novel ini sudah jauh berlalu, namun pesan dan kesan yang disampaikan tidak pernah lekang oleh waktu, bukan?

Kita mulai saja. Akeelah berkisah tentang seorang gadis kecil keturunan Afrika-Amerika. Berasal dari sebuah lingkungan di mana kebanyakan orang kulit hitam di Los Angeles Selatan tinggal. Daerah yang berbahaya, di mana kekerasan dan narkoba menjadi bagian yang tak terlepaskan. Belajar di sebuah sekolah, yang seadanya, merupakan siksaan bagi Akeelah, yang sesungguhnya cerdas dan gemar belajar. Teman-teman yang memusuhi karena dia pintar membuat gadis kecil ini mati-matian menutupi kecerdasannya. Jangan menonjol karena pintar adalah sebuah simbol yang melekat pada sebagian besar anak-anak dalam lingkungan sekolah tersebut.

Namun kesukaannya pada kata, membawa perubahan yang besar tidak saja pada gadis ini tapi juga pada lingkungan sekitarnya. Buku ini mengisahkan perjalanan Akeelah meraih mimpinya. Perjuangan berat yang dilalui Akeelah, gadis kecil dari sebuah keluarga dan lingkungan miskin untuk mengikuti dan menjuarai sebuah lomba yang sangat bergengsi. Bersaing dengan para peserta yang tidak saja bersekolah di tempat yang bagus juga mayoritas berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan.

Pada akhirnya, Akeelah membuktikan, walaupun berasal dari keluarga yang pas-pasan dengan lingkungan sosial yang penuh bahaya dan bersekolah di tempat yang tidak termasuk kategori baik, dengan dukungan dan kasih sayang orang-orang sekitarnya mampu memperlihatkan kemampuan luar biasa yang tak terduga.

Pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini adalah bahwasanya pendidikan sangat penting. Pendidikan akan membawa kita ke dalam kehidupan yang lebih baik. Tidak saja secara materi namun yang utama adalah cara memandang dan mengatasi berbagai persoalan kehidupan yang tidak akan pernah selesai selama manusia hidup.

Laika

laika.jpgSuatu hari di sebuah toko buku, mata saya  terpaku pada sebuah buku dengan gambar seekor anjing dan pesawat antariksa. Buku cerita bergambar ini berjudul Laika. Sepertinya menarik, saya sempat mem-browsing halaman dalam komik tersebut. Ragu antara ingin membeli atau tidak. Tak lama, partner mendekat dan mengambil buku itu. Kemudian, “Siapa yang pertama kali ke luar angkasa?”tanyanya.

Yuri Gagarin adalah kosmonot pertama dari Uni Soviet/Rusia, yang berhasil menerbangkan pesawat antariksa pada bulan April 1961.  Jauh sebelumnya, tepatnya tanggal 4 Oktober 1957, Uni Soviet mencengangkan dunia dengan peluncuran Sputnik I, satelit buatan pertama di dunia. Pencapaian prestasi ini menjadi bukti nyata atas keunggulan teknologi negeri tersebut, yang kala itu sedang berperang dingin dengan Amerika Serikat.  Keberhasilan yang luar biasa membuat pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev, memutuskan untuk memberikan kejutan yang lebih besar untuk perayaan ulang tahun ke-40 Revolusi Oktober (Kira-kira, tenggat waktu satu bulan setelah peluncuran Sputnik I yang spektakuler). Waktu yang singkat bagi para ilmuwan untuk mengelola program antariksa Uni Soviet, dengan peluncuran Sputnik II yang berpenumpang. Projek ini kelak menentukan nasib Laika, sehingga misinya menjadi misi sekali jalan saja.

Laika sendiri adalah seekor anjing jalanan yang kelak dipilih untuk menjadi pelopor sekaligus martir dalam peluncuran Sputnik II.

Alih-alih menjadikan program antariksa ini sebagai kelanjutan dari Sputnik I, penyesalan atas nasib Laika yang  dikirim untuk mati di luar angkasa menuai protes dari berbagai kalangan. Seperti dikatakan Oleg Gazenko pada akhir buku itu sendiri. “Bahwa nilai ilmiah Sputnik II sangat kecil. Tidak banyak yang bisa disumbangkannya pada penerbangan antariksa pertama yang dipiloti manusia, yakni Yuri Gagarin pada bulan April 1961.”

Penyesalan Oleg pun tertulis dalam kutipan berikut ini.

“Bekerja bersama binatang-binatang merupakan sumber penderitaan bagi kami semua. Kami memperlakukan mereka seperti bayi-bayi yang tidak bisa bicara.

Dengan berlalunya waktu, semakin besar penyesalanku. Tidak banyak yang kami pelajari dari misi itu untuk bisa membenarkan kematian anjing tersebut.”

Kisah ini dirangkum dengan indah oleh Nick Abadzis. Melalui riset yang teliti dan gabungan imajinasi antara manusia dan anjing, menjadikan cerita ini mempesona dan mengharukan.

“Sebuah renungan yang dalam atas makna takdir serta betapa indah dan rapuhnya rasa percaya.” (Alexis Siegel, 2007).

The Warrior Of The Light, A Manual

“.. ia mampu melihat hal-hal indah karena ia membawa keindahan dalam dirinya, karena dunia adalah sebuah cermin dan memantulkan bayangan wajah sang manusia itu sendiri. Sang ksatria tahu kesalahan-kesalahan dan keterbatasannya, tapi ia berbuat semampu dirinya untuk mempertahankan keriangan pada saat-saat krisis. Lebih-lebih dunia ini berbuat yang terbaik untuk membantunya, walaupun segala sesuatu yang ada di sekitarnya kelihatan berlawanan. (Ksatria Cahaya dan Pertempuran).”

Rangkaian kalimat di atas adalah nukilan dari buku The Warrior The Light A Manual (Kitab Suci Ksatria Cahaya), Paulo Coelho. Penulis satu ini memang sangat piawai mengajarkan nilai-nilai kehidupan dalam setiap tulisannya. Seperti pesan dalam buku ini “Setiap orang mampu menjadi seorang ksatria. Dan walaupun tak ada seorangpun yang mengira diri mereka sebagai seorang ksatria, tapi sebenarnya mereka adalah para ksatria.”

Totto-Chan

images
Judul: Totto Chan Gadis Jilik di Jendela
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 271

Totto-Chan adalah cerita seorang gadis cilik yang dianggap ‘nakal’ oleh gurunya. Karena kewalahan oleh kebandelan Totto-Chan maka sang guru meminta ibu gadis cilik ini untuk memindahkannya ke sekolah lain. Sekolah baru Totto-Chan bernama Tomoe Gakuen. Ruang kelas sekolah ini berada di dalam gerbong kereta. Tidak seperti sekolah lainnya, para murid bebas memilih urutan pelajaran yang mereka sukai. Setiap pagi Bapak dan Ibu guru menuliskan soal-soal dan pertanyaan yang akan diajarkan hari itu. Murid bebas memilih pelajaran yang akan mereka kerjakan terlebih dahulu. Metode pengajaran ini membantu guru dapat mengamati bakat dan minat pada setiap anak didik.

Setiap anak juga membawa bekal ke sekolah. Untuk ‘memaksa’ anak menyantap makanan yang bergizi, kepala sekolah meminta siswa untuk melengkapi bekal makanan mereka dengan ‘sesuatu dari pegunungan’ dan ‘sesuatu dari laut’. ‘Paksaan’ tersebut tidak dirasakan oleh anak, karena mereka lebih tertarik untuk menebak-nebak dan sebisa mungkin melengkapi bekal mereka dengan ‘sesuatu dari pegunungan’ (makanan dari daratan) dan ‘sesuatu dari laut’ (makanan dari laut). Sebelum mulai acara makan, kepala sekolah akan berkeliling dan memeriksa bekal setiap anak. Kadang Beliau mengajukan pertanyaan dan menjelaskan menu makanan tertentu.

Setelah seharian belajar, siswa dibolehkan memilih acara bebas. Biasanya mereka memilih untuk berjalan-jalan. Ditemani dengan Bapak atau Ibu guru mereka berjalan-jalan dengan riang, sesekali mereka bertanya tentang apa saja yang mereka lihat atau temui. Anak-anak tidak pernah menyadari, bahwa dalam acara bebas ini mereka sesungguhnya belajar banyak tentang sains, biologi, dan sejarah. Banyak sekali pengalaman menarik yang diperoleh dari siswa-siswi di sekolah Tomoe Gakuen ini. Mereka bermain dan belajar sekaligus.

Buku yang dapat memberikan inspirasi dan membuka wawasan terutama untuk dunia pendidikan.