Sebelas Patriot

Judul: Sebelas Patriot
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit : Bentang

Sebelas Patriot adalah novel karya Andrea Hirata yang bercerita tentang persepakbolaan. Sepertinya peluncuran buku ini memang tepat dengan momen Kemerdekaan RI yang dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia pada hari ini tanggal 17 Agustus 2011.

Adalah tiga bersaudara yang sangat mencintai sepakbola. Salah satunya si bungsu adalah Ayah Ikal yang berperan sebagai pemain sayap kiri. Kepiawaian mereka di lapangan sepakbola dianggap Belanda, yang zaman itu menduduki Indonesia, sebagai ancaman yang tidak main-main.

Van Holden, sebagai utusan VOC di Indonesia, memahami bahwa keberadaannya di negeri ini berkaitan juga dengan politisi utusan ratu Belanda. Setiap aspek, termasuk sepak bola, adalah politik dan ia akan menggunakannya untuk satu tujuan yaitu melanggengkan pendudukan Belanda di Indonesia. Lagipula selama ini tak ada yang berani mengalahkan tim sepakbola gabungan Belanda. Maka, kepopuleran tiga bersaudara itu dapat mengancamnya dari dua sisi. Simpati pada tiga bersaudara itu dapat berkembang menjadi lambang pemberontakan sekaligus mengancam kejayaan tim sepakbola Belanda. Mau tidak mau mereka harus dibungkam.

Demi untuk memuluskan tujuannya, Van Holden melakukan berbagai cara. Dari melarang ketiga saudara itu tampil dalam kompetisi sepak bola sampai mengurung dan memberlakukan hukuman kerja rodi kepada pelatih dan tiga bersaudara itu. Sekembali dari pulau buangan, tiga saudara kembali bekerja di parit tambang. Tak lama kemudian ada kompetisi bola antara tim Belanda melawan para kuli parit tambang. Sebelas pemain, sebelas patriot, termasuk di dalamnya tiga bersaudara kembali bermain.

Pertandingan itu dimenangkan oleh tim parit tambang dengan skor 1-0. Gol satu-satunya yang dicetak oleh si bungsu. Ribuan penonton menyerbu lapangan dan si bungsu, Ayah Ikal, seperti kebiasaannya setiap bermain, meneriakkan Indonesia! Indonesia!. Kalimat itu disambut oleh teriakan ribuan penonton lainnya. Indonesia! Indonesia! Teriakan penuh semangat yang membahana dan tanpa henti. Belanda berang mendengarnya.

Usai pertandingan pelatih dan tiga bersaudara diangkut ke tangsi. Mereka dikurung selama seminggu. Ayah Ikal pulang dengan tempurung kaki kiri yang hancur. Sejak saat itu ia tidak bisa bermain sepak bola lagi.

Kecintaan Ayah pada sepak bola dan PSSI, kemudian membuat Ikal bertekad untuk menjadi pemain sepakbola dan bergabung dengan tim PSSI. Akankah Ikal dapat mewujudkan impiannya? Silakan dibaca sendiri ya.

**
Moral pesan dari buku ini adalah cinta. Cinta yang membuat kita dapat berdiri tegak. Cinta yang membuat kita sekuat tenaga meraih kemenangan. Dan itu adalah cinta yang kita persembahkan untuk negeri ini, tanah air Indonesia.

Mengutip tulisan Andrea:

“…. Indonesia, bangsaku, bagaimanapun keadaannya, adalah tanah mutiara di mana aku telah dilahirkan. Indonesia adalah tangis tawaku, putih tulangku, merah darahku, dan indung nasibku. Tak ada yang lebih layak kuberikan bagi bangsaku selain cinta, dan takkan kubiarkan lagi apapun menodai cinta itu, tidak juga karena ulah para koruptur yang merajalela, biarlah kalau tidur mereka didatangi kuntilanak sumpah pocong.”

Khas Andrea, di tengah keharuan selalu terselip candaan yang membuat kita ingin tertawa.

Dirgahayu Indonesia. Berdiri tegaklah merah putih. Selamanya, kami akan mencintaimu.

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Judul asli: Bibbi Bokkens magische Bibliothek
Penulis: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerbit: Mizan

Dalam keriangan musim panas ini,
Segelas coca cola kami nikmati,
Nills dan Berit, itulah kami,
Menghabiskan liburan kami di sini.
Sangat indah di atas sini,
Sampai kami tak ingin pergi.

Itulah puisi yang dibuat oleh dua saudara sepupu, Nills dan Berit. Mereka tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan satu sama lain Berit dan Nills membuat sebuah buku surat yang mereka saling tulisi dan kirimkan.

Cerita bermula ketika Berit memungut sebuah surat yang jatuh dari tas tangan seorang wanita, yang bernama Bibbi Bokken. Surat itu kemudian dikirimkannya kepada Nills. Surat yang dikirim oleh seseorang bernama Siri ini membangkitkan jiwa petualangan pada diri Berit dan Nills. Surat itu juga menyebut tentang Perpustakaan Ajaib, Bibliografer dan incunabula.

Bibbi Bokken si bibliografer itu akan mengumpulkan semua buku yang pernah ditulis dari seluruh dunia, dan termasuk di dalamnya buku-buku yang baru akan diterbitkan tahun depan dan buku-buku yang sedang ditulis.

Namun, apa hubungannya itu semua dengan Berit dan Nills? Rencana apa yang sedang dirancang oleh Bibbi Bokken dan komplotannya dengan melibatkan Berit dan Nills dalam permainan mereka? Berit dan Nills tidak tinggal diam, mereka tertantang untuk mengungkapkan semua misteri ini.

Di tangan Nills dan Berit cerita berkembang. Dari Catatan Harian Anne Frank sampai Winnie The Pooh, dari Lima Sekawan sampai Astrid Lingdren, dari kisah detektif sampai fantasi. Ada juga pembahasan sistem klasifikasi Dewey, puisi, sastra, buku, perpustakaan dan penerbitan.

**
Sebuah buku yang menarik dan tidak biasa. Di buku ini kita dapat belajar salah satunya mengenai sistem klasifikasi perpustakaan. Jika kita perhatikan buku-buku di perpustakaan ditandai oleh nomor-nomor, seperti: 000, 100, 200, dstnya. Nomor-nomor itu disebut dengan Sistem Desimal Dewey. (sumber: dari sini )

Jostein, memang piawai meramu sebuah cerita dengan latar berbagai bidang ilmu. Selalu membangkitkan rasa ingin tahu dan memberikan wawasan baru kepada pembacanya.

“.. dan “ajaib” bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia dimuka bumi ini.”

Seandainya Mereka Bisa Bicara

Judul asli: If Only They Could Talk
Penulis: James Herriot
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku lama yang masih sangat memikat hati. Dan berharap suatu saat Gramedia atau penerbit manapun mencetak ulang kembali 🙂

Herriot adalah dokter muda yang baru saja lulus. Ia mendapatkan jawaban dari Darrowby, sebuah praktik hewan besar di Yorkshire Dales. Siegfried Farnon, calon majikannya, meminta Herriot datang untuk diwawancarai. Jika kedua pihak setuju, maka Farnon akan mengangkat Herriot menjadi asistennya. Maka, berangkatlah Herriot menuju Yorkshire. Yorkshire dalam bayangan Herriot adalah sebuah kota yang kaku dan membosankan. Walau bagaimanapun Herriot patut bersyukur dengan panggilan pekerjaan ini, karena pada masa itu Inggris sedang berada dalam kondisi yang sulit, di mana semua orang berebut mencari pekerjaan.

Gambaran tentang sebuah kota yang membosankan sedikit demi sedikit lenyap dari bayangan Herriot ketika ia memasuki kota Yorkshire untuk pertama kalinya. Herriot melukiskannya seperti ini:

“Pegunungan yang tinggi dan tak berbentuk itu mulai terurai jadi bukit-bukit hijau dan lembah-lembah luas. Di dasar lembah tampak sungai yang berliku-liku di antara pepohonan. Rumah-rumah petani yang terbuat dari batu yang kokoh dan berwarna kelabu, tampak seperti pulau di tengah ladang yang diusahakan. Ladang itu terbentang ke atas seperti tanjung yang hijau cerah di lereng bukit.

“.. kota ini sesungguhnya indah. Tepi sungainya berbatu-batu kerikil. … Di mana-mana, di jalan-jalan, melalui jendela-jendela rumah, kita dapat melihat bukit itu melatarbelakangi deretan rumah. Bukit itu tampak besar dan megah. Udaranya bersih dan segar.”

Pemandangan Yorkshire yang indah seketika membuat Herriot jatuh cinta. Cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan karena sejak hari itu Herriot resmi memulai karirnya sebagai dokter hewan di pedesaan Yorkshire.

Buku ini mengisahkan pengalaman-pengalaman menarik Herriot selama bekerja menjadi dokter hewan serta pergaulannya dengan penduduk setempat. Berbagai cerita dituliskan dengan sangat menarik dan penuh humor, terkadang membuat kita tertawa tergelak-gelak, di lain waktu mampu membuat kita begitu terharu.

Buku yang sungguh menginspirasi, membangkitkan semangat sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral yang patut dijunjung tinggi, tanpa menggurui.

Dog Stories, Kisah-Kisah Anjing

Judul: Dog Stories Kisah-Kisah Anjing
Penulis: James Herriot’s
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku yang berisi kumpulan cerita tentang anjing-anjing dan pemilik mereka. Kisah nyata ini ditulis oleh James Herriot, dokter hewan yang bertugas di pedesaan Yorkshire yang indah.

Awalnya, Herriot bercita-cita menjadi dokter anjing. Sejak kecil ia terpesona oleh anjing. Bagi Herriot, anjing bukanlah makhluk yang biasa-biasa saja. Hewan ini mampu memperlihatkan kasih sayang dan kesetiaan yang tanpa batas.

Khayalan sebagai dokter anjing membawa Herriot pada pilihan profesi dokter ahli bedah hewan. Namun kemudian, situasi perekonomian menakdirkan Herriot untuk menempati kedudukan di Yorkshire Dales. Ini adalah praktik hewan besar yang berurusan dengan kuda pertanian, lembu, domba, dan babi. Tak ada anjing? Dan kemana impiannya, seorang dokter dengan jas praktek putih di bawah lampu operasi yang terang benderang dengan dikelilingi para perawat?

Namun, Herriot tidak punya waktu untuk menyesali semua itu. Seperti dituliskannya di bawah ini.

“Aku melewatkan waktu mengenakan kemeja biasa dan sepatu bot, melangkah susah payah mengarungi lumpur dan kotoran hewan, bergulat dengan hewan-hewan besar, ditendang, dirobohkan, dan diinjak-injak. Sebagai anak kota yang terlempar ke komunitas pedesaan terkecil yang hanya kubaca di buku, aku mirip perenang payah yang berusaha tetap mengambang di air dalam.”

Tapi, semua itu tidak sia-sia. Ada hal lain yang memesona Herriot di luar sana. Pemandangan Yorkshire yang indah. Seperti negeri ajaib. Dan ketika Herriot berada sendirian di lanskap itu, ia merasakan kesendirian, kedekatan dengan alam liar yang sangat menggugah semangat. Dan di desa ini, juga ada anjing-anjing yang harus ia tangani. Walaupun ia tak menjadi dokter anjing namun Herriot kerap menangani mereka juga.

Dan buku ini adalah kisah pengalaman Herriot dengan anjing-anjing itu. Ada Tricky, si anjing peking kesayangan Mrs. Pumphrey. Anjing betina Great Dane milik Harold, anjing betina yang tampak jinak namun sangat protektif sekaligus berbahaya saat melindungi anak-anaknya dan memberikan bekas luka gigitan di kulit paha Herriot. Tip, anjing pertanian yang tidur di bawah lapisan salju. Shep, anjing besar yang hobi menyalak dan berpura-pura ganas. Jake, anjing lurcher yang hidupnya berpindah-pindah bersama tuannya, Roddy Travers. Dan masih banyak cerita menarik lainnya.

Seperti Herriot bilang…
“Setiap anjing (dan pemiliknya) mempunyai kisah uniknya masing-masing…”

Kalatidha

Judul: Kalatidha
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kalatidha adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat.

Kalatidha, artinya adalah zaman gila atau zaman edan seperti ditulis oleh Rangga Warsita. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Kalatidha)

Bercerita tentang seorang pembobol bank yang masuk penjara. Di dalam sel ia  merekam kembali ingatan ke masa lalunya bersama kliping koran dari tahun 1965 milik kakaknya yang berhasil ia selundupkan.  Sebuah peristiwa sejarah G30S/PKI,  menjadi latar cerita dari novel Kalatidha ini.  Sejarah yang menyisakan luka bagi para korban dan keluarganya.

Adalah seorang gadis yang keluarganya dihabisi di depan kepalanya sendiri. Rumah mereka dibakar massa. Ia berhasil selamat walaupun menjadi gila. Gadis ini kemudian membalas dendam. Namun dalam kegilaannya masih saja ia diperlakukan kejam oleh orang-orang disekelilingnya.

Zaman edan,  sebutan yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang sakit. Di mana kebencian menghilangkan akal sehat, luka dan sakit hati meluapkan amarah dan dendam yang tak berperikemanusiaan.

Novel Seno Gumira yang ini memang berbeda dari novel-novel dia sebelumnya. Agak rumit dan alurnya meloncat-loncat. Tapi saya suka cara Seno memaparkan cerita tentang kabut, hutan bambu, dan cahaya. Khas Seno, puitis dan penuh makna.

“Pada mulanya memang kabut, masih, dan akan selalu kabut dan sebaiknya memang tetap saja kabut, yang kekelabuannya tiada pernah dan tiada perlu memberikan sesuatu yang jelas. Apalagi yang menarik dari hidup ini jika segala sesuatu sudah begitu jelas dan begitu pasti? Aku adalah anak kabut,dilahirkan oleh kabut, hidup di dalam kabut, dan hanya bisa hidup dalam dunia berkabut, karena hanya di dalam kabut aku bisa menjadi pengembara di dalam dunia yang kuciptakan sendiri. Hanya kabut, demi kabut, dan atas nama kabut kupertaruhkan hidup dan matiku, pahit dan manisku, suka dan dukaku, kebahagiaan dan kepahitanku, kehidupan dan kematianku dalam segala kemungkinan yang telah diciptakan Tuhan untuk dijelajahi olehku. kabut adalah duniaku-Dalam kabut itulah aku mengembara dan menjelajahi seribusatu kemungkinanku.”

Cinta di Dalam Gelas

Judul: Cinta di Dalam Gelas
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka

Cinta di Dalam Gelas adalah buku kedua Dwilogi Padang Bulan. Di buku ini Andrea banyak berkisah tentang permainan catur dan kopi. Lelaki Melayu dikenal dengan 3 hal, yaitu: kopi, sisa kebanggaan, dan catur. Setiap pagi, sore, dan malam hari para lelaki melayu pergi ke pasar demi segelas kopi. Di warung kopi itulah para pria berkumpul, menceritakan nasib, membanggakan jabatan terakhir sebelum maskapai timah gulung tikar dan mempertaruhkan martabat di atas papan catur.

Bagi lidah orang melayu kopi adalah minuman ajaib karena rasanya yang dapat berubah berdasarkan tempat. Bagi mereka kopi buatan rumah berbeda dengan kopi di warung-warung kopi yang tersedia. Diceritakan di salah satu kisah, seorang istri yang diam-diam membeli kopi di warung kopi langganan suaminya, kemudian ia menyajikan kopi itu. Setelah meminumnya sehirup, si suami segera berkemas. Sang istri bertanya, dan dijawab oleh suami bahwa ia mau ke warung kopi karena kopi di rumah tak seenak di warung kopi. Tak lama melayanglah panci ke kepala si lelaki.

Dikisahkan pula perjalanan panjang Enong demi mencapai keinginannya untuk bertanding catur melawan Matarom, lelaki pemenang kejuaraan catur berturut-turut. Suatu hal yang mustahil tercapai karena Enong tak pernah bermain catur. Tapi, jangan salah, kalau kita tidak lupa, Enong adalah perempuan yang sangat keras hati dan mempunyai kemauan belajar yang tinggi. Selain itu, sebenarnya ada dendam masa kecil yang tersimpan di hati Enong terhadap lelaki yang bernama Matarom itu.

Apakah impian Enong untuk mengalahkan Matarom terwujud?

**
Ada bagian menarik, yaitu ketika lampu lalu lintas masuk ke desa mereka. Lampu lalu lintas sedikit menandakan bahwa desa mereka siap untuk menjadi modern. Namun lihatlah kisah berikut:

“Jika kawan naik sepeda motor dan berhenti saat lampu merah, seseorang akan berteriak dari warung kopi di dekat lampu itu. “Lampu itu acih, Bang, lanjutlah.”

Andrea menuliskan pendapatnya: “Untuk menjadi modern, memang diperlukan persiapan yang tidak kecil.”

Kalimat di atas sederhana tapi mengandung pesan yang cukup bermakna :).

Dwilogi Padang Bulan

Judul: Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal terbit: Juni – 2010

Di novel pertama, Padang Bulan, Andrea lebih banyak bercerita tentang Enong, si guru kesedihan serta bagaimana cinta membuat Ikal -tokoh cerita kita ini- bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.

Enong adalah gadis kecil dengan semangat belajar yang tinggi. Namun sayang, sebuah peristiwa di suatu siang membuat Enong menanggalkan mimpinya untuk terus sekolah. Ayah yang dicintai dan merupakan tulang punggung keluarga meninggal tertimbun tanah ketika sedang menambang timah. Sejak saat itu Enong beralih tugas menggantikan peran sang Ayah. Ia harus membantu Ibu dan adik-adiknya untuk menyambung hidup. Enong keluar dari sekolah dan mulai mencari pekerjaan. Namun, tentu saja tidak mudah bagi anak seusia Enong untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah beberapa kali tak berhasil mendapatkan pekerjaan, Enong mencoba menjadi penambang timah. Kelak, ia menjadi perempuan penambang timah pertama di desanya.

Ketika Enong merasa lelah bekerja, ia akan membuka Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata yang dibelikan ayahnya dahulu. Kamus itu selalu menemani Enong. Ia sering menandai kata yang sangat asing baginya, seperti: sacrifice, honesty, dan freedom. Enong sangat terpukau dengan kata-kata itu, terdengar hebat.

Andrea, si penulis, melukiskan ketiga kata itu dengan kalimat yang menarik.

“Arti yang mewakili jeritan hatinya. Ia siap berkorban untuk keluarganya, ia ingin menjadi orang yang jujur, dan ia ingin memerdekakan dirinya dari kesedihan.”

Kisah Enong adalah bagian yang mengharu biru sekaligus memancarkan semangat dan kekuatan yang luar biasa.

Dan, kegilaan cinta macam apa yang dilakukan si Ikal untuk merebut kembali A Ling?

Kekonyolan Ikal dalam upayanya merebut kembali A Ling adalah bagian yang akan membuat kita menertawakan diri sendiri. Sebab apa? Ya, kawan, cinta itu memang absurd, bukan? Sanggup membuat pelakunya melakukan ketidakwarasan dalam berpikir dan bertindak.

Ikal, yang mendapat kabar dari detektif M.Nur bahwa A Ling dijodohkan oleh keluarganya dengan Zinar, lelaki yang tampan dan pandai dalam bidang olahraga serta mempunyai rasa seni yang tinggi. Kecemburuan Ikal yang disertai oleh rasa tak ingin mengalah membuat ia melakukan hal-hal yang seringkali mempermalukan dirinya sendiri.

Kegilaan oleh sebab cinta itu pada akhirnya mereda. Itulah saat Ikal menyadari bahwa cinta Zinar dan A Ling tak dapat ia lawan. Namun di kemudian hari diketahui bahwa kabar tentang perjodohan A Ling dan Zinar itu adalah tidak benar. Ternyata, Zinar adalah sahabat pamannya. Dan jika selama ini A Ling tidak bisa menemani Ikal oleh karena ia sibuk membantu Zinar membuka toko dan mempersiapkan perkawinan sahabat pamannya itu.

Cerita Padang Bulan ditutup dengan kegembiraan, tidak saja karena Ikal mendapatkan A ling nya kembali tapi juga karena Ikal menyadari pertikaian antara ia dan ayahnya telah berakhir dengan damai.

Bagian yang saya suka dari buku pertama Dwilogi Padang Bulan ini adalah kisah Enong dengan ketiga kata ajaibnya. Dan, kutipan kalimat berikut ini:

“Sering aku disiksa oleh pertanyaan: mengapa A Ling bisa begitu? Apa salahku sehingga ia begitu? Apa yang ada di dalam kepala seorang perempuan? ……. Sungguh aku tak mengerti. Namun, perlukah aku mengerti? Kurasa tidak. Yang kuperlukan hanyalah menghormati keputusannya, dan karena Tuhan telah menciptakan manusia dengan hati dan pikiran yang boleh punya jalan masing-masing, penghormatan seharusnya tidak memerlukan pengertian“. Hal 237, Rukun Islam

Untuk semua pertanyaan yang menari di kepala, memang tidak ada yang perlu dimengerti. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghormati setiap keputusan yang diambil oleh orang lain, walaupun itu mungkin sangat menyakitkan.

Jawablah Aku

Judul asli: Rispondimi
Penulis: Susanna Tamaro
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Halaman: 219

Buku ini terdiri dari 3 kumpulan cerita yang terpisah tapi mempunyai dilema yang sama, cinta, kebencian, dendam, perjuangan untuk hidup dan Tuhan.

Kisah pertama bercerita seorang anak yatim piatu bernama Rosa. Ibu Rosa adalah seorang pelacur yang meninggal karena kecelakaan ketika sedang menjajakan dirinya di kelokan sebuah jalan. Rosa kecil kemudian tinggal bersama paman dan bibinya. Namun bukan kasih sayang yang ia peroleh melainkan kebencian dalam hidupnya.

“Apakah cinta itu benar-benar ada? Dan dalam bentuk apakah cinta menyatakan diri?”
“Sewaktu kanak-kanak aku percaya pada cinta, sama seperti aku percaya pada peri. Namun pada suatu hari aku mencari di celah-celah kayu dan di balik tudung-tudung jamur. Dan aku tidak menemukan peri atau makhluk-makhluk gaib, hanya lumut, jamur, tanah, dan serangga. Serangga itu bukannya berciuman, melainkan saling memangsa.”

Ketika usianya beranjak remaja Rosa meninggalkan paman dan bibinya. Ia mendapat kesempatan untuk menjadi pengasuh di sebuah keluarga muda. Di sana kehidupan Rosa berubah. Sejenak ia menemukan keluarga yang tepat. Sampai suatu ketika Rosa terlibat cinta dengan pria majikannya. Sayangnya, laki-laki ini ternyata hanya ingin memanfaatkan kepolosan Rosa. “Cinta berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang lain, tanpa berpikir untuk menyembunyikan apapun.” Dan dengan cinta itu pula Rosa akhirnya harus menanggung resiko yang lebih besar.

“Apakah seseorang mendampingi kita, ataukah kita hanya sendirian?
“Jawablah aku.”

Kisah kedua bercerita tentang seorang wanita yang tidak mampu menghadapi kekejaman suaminya sehingga menyebabkan ia kehilangan putra tercintanya. Cinta yang ia miliki pupus bersama kebencian yang terus menghinggapi dirinya dan berubah menjadi dendam.

Kisah ketiga bercerita tentang sebuah cinta yang posesif. Rasa takut kehilangan dapat membawa kita pada munculnya prasangka dan sifat jahat.

Jadi, apakah cinta itu?
Entah. Mungkin cinta bisa melukaimu, memberimu dendam dan kebencian. Tapi cinta juga memberimu kebahagiaan dan kebijaksanaan.

Maysitoh

Judul: Maysitoh
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : Pustaka Jaya

Kisah Masyitoh adalah cerita yang terdapat dalam al-Hadist. Kisah seorang sahaya Fir’aun, yang bertugas menyisiri rambut putri sang Raja. Suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut tuan putri, tiba-tiba sisir terjatuh dari tangannya. Maysitoh terkejut dan langsung mengucapkan beberapa kalimat yang menyentak hati tuan putri. Singkat cerita, sang putri mengadukan percakapan yang telah terjadi antara dirinya dan Maysitoh kepada baginda raja Fir’aun. Fir’aun yang murka segera menimpakan hukuman kepada Maysitoh dan keluarganya, yaitu digodog dalam timah mendidih.

Dalam buku ini dilukiskan pengorbanan Maysitoh bukanlah pengorbanan sekedar mengharapkan surga dan takut masuk neraka. Pengorbanan Maysitoh dilandasi oleh keikhlasan untuk menegakkan hak Allah dan martabat manusia serta menjalani hidup dengan sebaiknya seperti yang diamanahkan oleh-Nya.

Takhta dan Angkara

Judul: Bergelut dalam Takhta dan Angkara
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai

Inilah buku kedua dari 5 seri buku Gajah Mada: Bergelut dalan Takhta dan Angkara.

Seperti telah dikisahkan di buku pertama, bahwa Sri Prabu Jayanegara, raja Majapahit akhirnya meninggal karena diracun oleh Ra Tanca.  Sri Prabu Jayanegara adalah anak laki satu-satunya dari Raden Wijaya (raja Majapahit pertama) dengan istri kelimanya, Dara Petak. Kepergian Jayanegara yang tiba-tiba menimbulkan luka yang mendalam bagi seluruh rakyat Majapahit. Tidak itu saja mangkatnya Beliau menimbulkan kegoncangan di dalam istana. Para ratu, yaitu: Tribuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Gayatri dan Dara Petak, kalang kabut memutuskan penerus kerajaan Majapahit. Sri Jayanegara pada saat meninggal belum menikah.

Dua adik Sri Jayanegara lainnya adalah perempuan, yaitu: Sri Gitarja dan Dyah Wiyat. Keduanya anak dari Raden Wijaya dengan istri keempat, Gayatri. Ibu ratu Gayatri adalah seorang biksuni. Dengan mangkatnya sri Prabu maka penerus takhta kerajaan Majapahit akan diteruskan oleh salah satu dari dua putri sekar kedaton itu. Pada saat para ratu sedang berembug untuk memutuskan pilihan antara Sri Gitarja dengan Dyah Wiyat, terjadilah peristiwa genting seperti pembunuhan beruntun. Dari laporan Gajah Mada, dicurigai bahwa peristiwa di atas dilakukan oleh beberapa orang yang berniat melakukan makar.

Kecurigaan awal ditujukan kepada calon suami para sekar kedaton, Raden Cakradara (pasangan Sri Gitarja) dan Raden Kudamerta (pasangan Dyah Wiyat). Baik Cakradara dan Kudamerta mempunyai banyak pendukung yang juga berambisi untuk menduduki jabatan puncak di kerajaan. Maka dapatlah dibayangkan permainan apa yang sedang mereka lakonkan untuk memenuhi hasrat pribadi.

Jangan lupa juga dendam kesumat Ra Tanca pada Sri Jayanegara yang kemudian membuat dia tega meminumkan racun pada sri Prabu Jayanegara.  Dendam ini disebabkan oleh makar yang dilakukan oleh Ra Kuti dan kelompoknya (termasuk Ra Tanca) berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Hanya Ra Tanca yang menyerahkan diri dan kemudian kesalahannya diampuni. Namun sembilan tahun kemudian ternyata Ra Tanca masih menyimpan dendam kepada Sang Prabu. Ra Tanca berhasil membalas kematian teman-temannya dengan memberikan racun kepada Sri Jayanegara.

Apa hubungan Ra Tanca dengan pembunuhan beruntun? Bukankah Ra Tanca sudah mati ditebas pedang oleh Gajah Mada? Siapa dalang dibalik semua kekacauan? Silakan membaca buku seri ketiga dari rangkaian kisah Gajah Mada.