Category Archives: Cerita Anak

Heidi

Judul: Heidi
Penulis: Johanna Spyri
Penerbit: Bentang
Tebal: 334

Heidi adalah gadis kecil yatim piatu yang tinggal bersama Nenek dan bibinya. Setelah kematian sang nenek, Bibi Heidi memutuskan menerima pekerjaan di lain kota. Namun ia tak bisa membawa Heidi dan memutuskan untuk menitipkan Heidi ke Paman Alm yang tinggal di gunung.

Paman Alm terkenal sebagai sosok yang menakutkan. Ia tak pernah mau bergaul dengan masyarakat setempat. Itulah sebabnya Paman Alm memilih menetap di puncak gunung. Sendirian. Paman Alm memelihara sekumpulan kambing. Kambing-kambing itu dipelihara oleh seorang anak laki-laki, Peter namanya. Setiap hari Peter datang dan menggembala kambing-kambing itu. Heidi ikut bersama Peter menggembalakan kambing-kambing.

Pegunungan Alpen ternyata sangat indah. Aroma dan warna-warni bunga-bunga, puncak gunung yang tertutup salju serta cara matahari mengucapkan selamat malam kepada gunung-gunung dengan api senja-nya memesona Heidi.

“Dia memancarkan sinarnya yang indah ke atas gunung-gunung itu supaya mereka tidak melupakannya sampai dia datang lagi keesokan paginya.”

Musim berlalu dan tiba saatnya Heidi untuk sekolah. Heidi telah terlambat satu tahun ajaran, dan itu menyebabkan kepala sekolah di desa Dorfli mengirim surat teguran untuk Paman. Namun Paman tak menggubris, pun ketika pastor mendatangi rumahnya. Sampai suatu ketika Bibi Heidi datang menjemput Heidi. Ia akan membawa Heidi ke Frankfurt atas permintaan seorang saudara majikannya yang kaya raya. Heidi akan menjadi teman bagi anak saudaranya itu. Paman Alm marah namun ia membiarkan Bibi membawa Heidi.

Klara, nama gadis yang lumpuh itu. Keceriaan Heidi memikat hati Klara. Gadis kecil itu membuat hari-hari Klara tidak lagi membosankan. Ada saja kejutan. Sikap Heidi yang lugu dan ramah juga menarik hati Sebastian, pelayan di rumah itu. Ayah dan nenek Klara pun menyayangi Heidi. Mereka memperlakukannya dengan baik. Namun Heidi tak mampu menyembunyikan kerinduan pada Paman Alm, nenek Peter, lembah, gunung-gunung, api senja, serta kambing-kambing milik Paman. Ia sering menangis diam-diam. Badannya semakin kurus. Heidi juga tanpa sadar berjalan dalam tidur. Dokter Klassen, sahabat baik Ayah Klara memutuskan untuk memulangkan Heidi ke rumahnya. Heidi akan sehat kembali jika ia diijinkan pulang. Maka, Ayah Klara memutuskan untuk mengirim Heidi pulang ke rumahnya di gunung.

Heidi kembali kepada gunung-gunung, serta pohon cemara yang meniupkan alunan musik merdu di padang rumput yang subur. Kedatangan Heidi kali ini memberikan keajaiban bagi Paman Alm.

Apakah keajaiaban itu? Dan bagaimana dengan Klara? Apakah Heidi melupakan Klara?

**
Johanna meracik cerita anak-anak ini dengan apik. Persahabatan, Tuhan, dan kebaikan hati menjadi tema yang dominan dalam cerita ini. Melalui Heidi, Johanna ingin mengungkapkan bahwa kebahagiaan dapat hadir dalam bentuk yang sederhana.

Firefly dan Pencarian Tupai Hitam

Judul asli: Firefly and the Quest of the Black Squirrel
Penulis: J.H. Sweet
Penerbit: KidClassic Publication

Bercerita tentang empat sekawan: Grace, Beth, Vinca dan Lenox. Mereka juga merupakan peri. Sebagai peri, mereka mempunyai tugas untuk melindungi alam dan menyelesaikan masalah-masalah serius terutama yang disebabkan oleh makhluk gaib lain.

Suatu hari sesosok goblin bernama Anathema Bane membuat sebuah kutukan yang sempurna. Kutukan sempurna adalah sebuah kutukan yang lengkap dan tak bisa dibalikkan. Mantra hitam itu akan membunuh semua tupai hitam dalam waktu satu bulan. Namun bagian terburuknya adalah bahwa ini kutukan berantai yang disertai penanggalan, dirancang untuk menyerang setiap spesies di setiap bulannya. Misalnya, bulan depan rusa yang mendapat giliran, bulan berikutnya beruang, sampai kemudian kutukan itu akan mencapai manusia. Kutukan tidak akan berhenti sebelum semua kehidupan di atas bumi punah.

Bunda buana meminta bantuan semua peri, baik yang lama dan baru untuk bekerjasama menghentikan kutukan. Sebagai langkah awal, mereka harus menemukan obat untuk menyembuhkan tupai hitam. Jika obat dapat ditemukan maka penyakit dapat dihentikan sebelum kutukan itu menyebar ke spesies lainnya. Obat itu adalah semanggi bulan biru. Semanggi bulan biru hanya tumbuh di Hutan Terlupakan dan semanggi bulan biru hanya dapat ditemukan oleh Rusa Jantan Hitam. Dan hanya seekor kurcaci yang tahu cara menemukan Rusa Jantan Hitam.

Bagaimanakah kelanjutannya? Berhasilkah Lenox, si peri kunang-kunang bersama teman-temannya menghentikan kutukan jahat itu?

Sang Harimau

Judul asli: The Tiger Rising
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Sang harimau bercerita tentang seorang anak laki-laki yang bernama Rob. Dunianya berubah setelah Ibu yang dikasihinya meninggal dunia. Kehilangan besar itu mengubah pribadinya menjadi seorang yang sangat tertutup. Rob menyimpan semua kesedihannya sendiri. Ia mengibaratkan dirinya sebuah koper, yang di dalam koper itu semua harapan, masalah dan kesedihannya tersimpan. Ia memasukkan semua perasaannya ke dalam koper itu dan menjejalkannya rapat-rapat dan menguncinya. Namun sekali waktu isi koper itu memaksa diri mereka keluar sehingga ia merasa perlu menduduki koper itu. Itu pun belum cukup sampai suatu hari ia melihat sang harimau. Harimau dengan bulunya yang berwarna kuning keemasan dan tatap mata yang tajam datang memberinya sebuah kekuatan yang baru. Rob tak sengaja melihat harimau ini, terkurung dalam kandang di sebuah hutan, dekat dengan motel yang menjadi tempat tinggalnya sekaligus merupakan tempat mata pencarian sang Ayah.

Kekuatan dari harimau itu membantunya untuk tetap tegar menghadapi kenakalan beberapa kawannya. Setiap kali mereka mengolok-olok serta menindasnya Rob tak pernah melawan. Ia juga tak menangis. Ia hanya perlu memikirkan hal-hal lain selama penyiksaan berlangsung. Dan bagi Rob, hal lain itu adalah seekor harimau. Setiap kali ia memikirkan harimau maka Rob merasakan kekuatannya bertambah besar.

Rob juga tahu jika ia tak melawan maka anak-anak itu lama kelamaan akan bosan dan meninggalkannya. Dan Rob tak pernah menangis walaupun rasa perih dan sakit dirasakannya akibat pukulan dan tendangan dari temannya itu.

Suatu hari, di sekolah tempat Rob belajar kedatangan murid baru, Sistine nama anak perempuan itu. Berbalikan dengan Rob, Sistine adalah seorang anak yang sangat pemarah. Sistine berani menantang siapapun yang mengejeknya. Perbedaan kepribadian yang saling bertolak belakang ini justru menjadikan mereka dua orang yang saling bersahabat.

Mengutip sinopsisi dari buku ini “Seiring mereka belajar saling memercayai dan bersahabat, bersama-sama mereka mendapati bahwa kenangan dan luka hati-serta harimau tidak bisa dikurung selamanya.

**
Ada banyak bagian menarik dari buku ini. Salah satunya saya suka bagian ketika Rob merasakan kebahagiaan akan hadirnya seorang teman dalam hidupnya, sesuatu yang tak pernah berani diharapkannya lagi. Kate menuliskannya dengan sangat manis, seperti ini:

“….. Mereka berlari bersama, dan Rob merasakan jantungnya berdentam di dalam–. ……Rasanya jiwanya seolah mengembang dan mendorong semuanya naik di dalam tubuhnya. Anehnya, ia mengenali perasaan itu, namun ia tidak dapat mengingat apa nama perasaan tersebut. ……. Lalu Rob ingat nama perasaan yang mendorong ke atas dalam dirinya, memenuhi dirinya seperti akan meluap. Namanya kebahagiaan. Itulah namanya.”

Bagaimana Kate melukiskan ketegaran Rob yang sebenarnya rapuh itu juga sungguh mengharu biru perasaan. Bagaimana setiap kali Rob membisikkan kata “jangan menangis. jangan menangis” kepada dirinya itu sungguh indah sekaligus mengiris hati.

Pesan indah dari novel ini adalah:
Ketika kamu tersakiti, bayangkanlah sesuatu yang membuatmu bahagia. Entah menyanyi, menggambar, menulis, membaca atau apa saja yang bisa memberimu kekuatan. Jika kamu ingin menangis, menangis lah. Tapi, yakinlah bahwa dirimu berharga dan layak untuk dicintai.

Manis, lembut, dan indah adalah pujian yang pantas diberikan untuk karya-karya Kate.

Gajah Sang Penyihir

Judul: Gajah Sang Penyihir
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Peter adalah seorang anak yang tinggal di apartemen kecil dengan seorang teman ayahnya, seorang mantan tentara. Ayahnya meninggal dalam peperangan dan Ibunya menyusul sang ayah usai melahirkan adik Peter. Peter dipisahkan dengan si adik. Hari-hari sepi dilalui Peter. Hati kecil Peter meyakini bahwa sang adik masih hidup walaupun teman ayahnya berulangkali mengatakan bahwa adiknya meninggal dunia.

Suatu hari, Peter memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang peramal. Peramal hanya memberikan kata kunci: Gajah. Ya, gajah itu akan membawa Peter menemui kembali adiknya. Sejak saat itu dimulailah petualangan menarik Peter dalam pengembaraannya menjemput adik tersayangnya.

Buku ini sangat menarik, memberi pesan bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang meyakininya.

“Pernahkah kau, sejujurnya, melihat sesuatu yang begitu indah? Harus kita apakan dunia tempat bintang-bintang bersinar gemerlap di tengah kegelapan dan kemuraman yang begitu pekat ini?”

Pekat tidak selamanya gelap. Pendar-pendar cahaya itu tidak lindap, jika kita percaya.

Kerutan dalam Waktu

Judul asli: A Wrinkle in Time
Penulis: Madeleine L’Engle
Penerbit: Atria
Hal: 267
Genre: Fiksi-sains

Meg adalah seorang gadis yang pintar. Namun di sekolahnya ia sering mendapat masalah. Adiknya, Charles adalah orang yang mengetahui kapan Meg merasa sedih. Kedua orang tua mereka adalah ilmuwan. Namun sudah lama ayah mereka pergi tak ada kabarnya. Mulanya selalu ada surat namun kemudian surat-surat itu lenyap tanpa berita. Menghilangnya ayah mereka menimbulkan desas-desus yang tak menyenangkan. Walau seperti Ibu bilang, Ayah pergi demi sebuah tugas rahasia.

Dan petualangan yang menakjubkan dimulai di suatu malam. Meg bersama adiknya, Charles dan teman sekolahnya Calvin melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu, bahkan memasuki dimensi kelima. Bersama mereka akan menyelamatkan Ayah sekaligus memerangi kejahatan yang sebenarnya.

Di sebuah planet, di kegelapan yang misterius, di sanalah Ayah Meg terperangkap dalam pilar yang beku dan dingin serta pekat. Sanggupkah anak-anak ini menyelamatkan Ayah mereka?

Kekuatan apakah yang dapat mengalahkan kejahatan dan kebencian? Cinta. Ya, itulah jawabnya. Cinta lah yang kemudian menyelamatkan Meg dan adiknya, Charles.

Membaca buku ini seperti menghadirkan bayangan-bayangan makhluk asing (alien) yang tinggal di sebuah planet. Apakah sebenarnya kita hidup sendiri? Apakah kita berevolusi sendirian di ruang angkasa yang hingar bingar ini? Benar-benar sendiri? Tak terjamah oleh makhluk lain di luar tata surya kita?

Seperti juga dituliskan dalam buku ini bahwa kehidupan kita di bumi ibarat sebuah soneta.

“Sebuah bentuk yang ketat, tapi ada kebebasan di dalamnya.”
“Kita diberi sebuah bentuk, tapi kita harus menuliskan soneta kita sendiri. Yang akan kau ungkapkan benar-benar terserah padamu sendiri.”

Kisah Despereaux

Judul Asli: The Tale of Despereaux
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ini cerita tentang seekor tikus kastil yang jatuh cinta pada seorang putri, Pea, namanya. Tikus kastil ini bernama Despereaux. Berbeda dengan tikus lainnya, Despereaux adalah seekor tikus yang tertarik pada musik, dan cerita yang ada dalam buku. Keganjilan yang ada padanya menyebabkan Despereaux kemudian dihukum dan dimasukkan ke dalam ruang tahanan bawah tanah. Kehidupan yang sepenuhnya gelap dan pekat. Serta menakutkan. Di sanalah tinggal bangsa pemangsa, para tikus got yang kejam dan licik. Mereka tak pernah mengenal kasih sayang. Mereka hanya tahu balas dendam dan kebencian. Tak sepercikpun cahaya mereka biarkan masuk. Seluruhnya kelabu. Tapi, ada satu tikus got yang berbeda. Ia lah Roscuro. Tikus got yang merindukan cahaya.

Dan ada seorang pelayan yang bernama Miggeri Sow. Perempuan yang sejak kecil belajar bahwa tak ada seorangpun yang peduli pada keinginannya. Namun Miggeri menyimpan satu harapan yang sederhana tapi mustahil.

Bersama Roscuro, Miggeri berkomplot. Masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Roscuro ingin membalas dendam dan sakit hatinya pada Putri Pea dan Miggeri dengan lamunannya, menggantikan kedudukan putri Pea sebagai putri raja.

Akankah misi kejahatan itu dapat digagalkan oleh cinta dari seekor tikus? Silakan baca bukunya 🙂

Yang menarik adalah pesan dari Kate, bahwa hidup tidak selamanya manis dan menyenangkan. Namun sepahit apapun kehidupan, selalu ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai itu ibarat cahaya, yang bersinar, membimbing dan menuntun kita agar lebih baik setiap harinya sambil tak lupa selalu bersyukur.

Perjalanan Ajaib Edward Tulane

Judul buku: The Miraculous Journey of Edward Tulane.
Penulis: Kate Dicamilo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ini kisah seekor kelinci porselen yang bernama Edward Tulane. Ia dimiliki oleh seorang anak perempuan bernama Abilene. Abilene sangat menyayangi Edward dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Sebaliknya, Edward tidak mempedulikan Abilene. Edward terlalu bangga pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah sepatutnya dilimpahi kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Dan, suatu hari ia menghilang.

Dunia yang sesungguhnya harus dihadapi oleh kelinci porselen ini. Edward terlempar dari genggaman seorang anak dalam perjalanan menggunakan kapal laut. Tubuhnya tenggelam ke dasar laut yang gelap dan pekat. Keyakinan bahwa Abilene akan menjemputnya perlahan memudar. Edward memikirkan bintang-bintang. Apakah bintang-bintang itu tetap bersinar walaupun ia kini tak lagi bisa melihatnya.

Dan suatu hari badai yang besar terjadi. Badai itu berulangkali menghempaskan tubuhnya, membawanya naik kemudian menurunkannya kembali, berulang-ulang. Di tengah keputusasaan sebuah jaring nelayan menyambar tubuhnya. Seorang nelayan kemudian membawa Edward pulang. Untuk beberapa lama hidup Edward nyaman bersama nelayan yang menyayanginya. Wanita tua, istri nelayan itu sering mengajaknya berbicara. Dan untuk pertama kali Edward menyadari bahwa ia bisa mendengarkan orang lain berbicara kepadanya. Sebelumnya, ia tak pernah mempedulikan jika Abilene bercerita. Di malam hari, jika cuaca cerah, pasangan itu akan mengajak Edward berjalan-jalan. Laki-laki nelayan itu akan memberitahu nama-nama rasi bintang. Edward sangat menyukainya. Sampai suatu ketika hidup Edward berubah ketika anak perempuan pasangan itu datang. Anak perempuan itu membenci kehadiran Edward. Dilemparnya Edward ke tempat sampah. Dan untuk beberapa lama hidup Edward berada di gundukan sampah.

Suatu hari seekor anjing mengendus keberadaan Edward dan membawa kepada majikannya, seorang gelandangan. Hari-hari dilalui Edward bersama gelandangan dan anjingnya. Edward mulai merasa menyayangi anjing itu. Mereka bersahabat. Sampai kemudian suatu hari seorang kondektur menangkap basah mereka di dalam gerbong kereta api. Edward tidak dapat berbuat apa-apa ketika melihat kondektur itu menendang sahabatnya. Hatinya menjerit dan marah, tapi ia tak berdaya. Tak lama, ia pun dilempar keluar oleh kondektur itu. Dari jauh didengarnya suara lolongan sedih sahabatnya.

Edward mendarat dengan tertelentang. Ditatapnya langit malam. Ia mengingat semua nama pemiliknya terdahulu, ketika tiba-tiba sesuatu jauh di dalam hatinya terasa sakit. Rasanya ia ingin sekali bisa menangis.

Bagaimana perjalanan Edward selanjutnya? Setelah menjadi teman bagi seorang anak perempuan yang sakit keras, kemanakah Edward pergi? Mampukah Edward membuka dirinya kembali untuk disayangi setelah kehilangan untuk kesekian kalinya?

Kate selalu mampu mengharu biru perasaan pembacanya. Melalui tokoh Edward, saya seperti diingatkan bahwa berbagai kekecewaan, kesedihan dan keputusasaan yang kita alami seringkali membuat kita lebih mampu memahami perasaan orang lain.

Mengutip sinopsis di buku tersebut “Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu-bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.”

Kisah Despereaux

Judul Asli: The Tale of Despereaux
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Dokumentasi: dari sini

Ini cerita tentang seekor tikus kastil yang jatuh cinta pada seorang putri, Pea, namanya. Tikus kastil ini bernama Despereaux. Berbeda dengan tikus lainnya, Despereaux adalah seekor tikus yang tertarik pada musik, dan cerita yang ada dalam buku. Keganjilan yang ada padanya menyebabkan Despereaux kemudian dihukum dan dimasukkan ke dalam ruang tahanan bawah tanah. Kehidupan yang sepenuhnya gelap dan pekat. Serta menakutkan. Di sanalah tinggal bangsa pemangsa, para tikus got yang kejam dan licik. Mereka tak pernah mengenal kasih sayang. Mereka hanya tahu balas dendam dan kebencian. Tak sepercikpun cahaya mereka biarkan masuk. Seluruhnya kelabu. Tapi, ada satu tikus got yang berbeda. Ia lah Roscuro. Tikus got yang merindukan cahaya.

Dan ada seorang pelayan yang bernama Miggeri Sow. Perempuan yang sejak kecil belajar bahwa tak ada seorangpun yang peduli pada keinginannya. Namun Miggeri menyimpan satu harapan yang sederhana tapi mustahil.

Bersama Roscuro, Miggeri berkomplot. Masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Roscuro ingin membalas dendam dan sakit hatinya pada Putri Pea dan Miggeri dengan lamunannya, menggantikan kedudukan putri Pea sebagai putri raja.

Akankah misi kejahatan itu dapat digagalkan oleh cinta dari seekor tikus? Silakan baca bukunya 🙂

Yang menarik adalah pesan dari Kate, bahwa hidup tidak selamanya manis dan menyenangkan. Namun sepahit apapun kehidupan, selalu ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai itu ibarat cahaya, yang bersinar, membimbing dan menuntun kita agar lebih baik setiap harinya sambil tak lupa selalu bersyukur.

Perjalanan Ajaib Edward Tullen


Dokumentasi: dari sini

Judul buku: The Miraculous Journey of Edward Tulane.
Penulis: Kate Dicamilo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ini kisah seekor kelinci porselen yang bernama Edward Tulane. Ia dimiliki oleh seorang anak perempuan bernama Abilene. Abilene sangat menyayangi Edward dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Sebaliknya, Edward tidak mempedulikan Abilene. Edward terlalu bangga pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah sepatutnya dilimpahi kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Dan, suatu hari ia menghilang.

Dunia yang sesungguhnya harus dihadapi oleh kelinci porselen ini. Edward terlempar dari genggaman seorang anak dalam perjalanan menggunakan kapal laut. Tubuhnya tenggelam ke dasar laut yang gelap dan pekat. Keyakinan bahwa Abilene akan menjemputnya perlahan memudar. Edward memikirkan bintang-bintang. Apakah bintang-bintang itu tetap bersinar walaupun ia kini tak lagi bisa melihatnya.

Dan suatu hari badai yang besar terjadi. Badai itu berulangkali menghempaskan tubuhnya, membawanya naik kemudian menurunkannya kembali, berulang-ulang. Di tengah keputusasaan sebuah jaring nelayan menyambar tubuhnya. Seorang nelayan kemudian membawa Edward pulang. Untuk beberapa lama hidup Edward nyaman bersama nelayan yang menyayanginya. Wanita tua, istri nelayan itu sering mengajaknya berbicara. Dan untuk pertama kali Edward menyadari bahwa ia bisa mendengarkan orang lain berbicara kepadanya. Sebelumnya, ia tak pernah mempedulikan jika Abilene bercerita. Di malam hari, jika cuaca cerah, pasangan itu akan mengajak Edward berjalan-jalan. Laki-laki nelayan itu akan memberitahu nama-nama rasi bintang. Edward sangat menyukainya. Sampai suatu ketika hidup Edward berubah ketika anak perempuan pasangan itu datang. Anak perempuan itu membenci kehadiran Edward. Dilemparnya Edward ke tempat sampah. Dan untuk beberapa lama hidup Edward berada di gundukan sampah.

Suatu hari seekor anjing mengendus keberadaan Edward dan membawa kepada majikannya, seorang gelandangan. Hari-hari dilalui Edward bersama gelandangan dan anjingnya. Edward mulai merasa menyayangi anjing itu. Mereka bersahabat. Sampai kemudian suatu hari seorang kondektur menangkap basah mereka di dalam gerbong kereta api. Edward tidak dapat berbuat apa-apa ketika melihat kondektur itu menendang sahabatnya. Hatinya menjerit dan marah, tapi ia tak berdaya. Tak lama, ia pun dilempar keluar oleh kondektur itu. Dari jauh didengarnya suara lolongan sedih sahabatnya.

Edward mendarat dengan tertelentang. Ditatapnya langit malam. Ia mengingat semua nama pemiliknya terdahulu, ketika tiba-tiba sesuatu jauh di dalam hatinya terasa sakit. Rasanya ia ingin sekali bisa menangis.

Bagaimana perjalanan Edward selanjutnya? Setelah menjadi teman bagi seorang anak perempuan yang sakit keras, kemanakah Edward pergi? Mampukah Edward membuka dirinya kembali untuk disayangi setelah kehilangan untuk kesekian kalinya?

Kate selalu mampu mengharu biru perasaan pembacanya. Melalui tokoh Edward, saya seperti diingatkan bahwa berbagai kekecewaan, kesedihan dan keputusasaan yang kita alami seringkali membuat kita lebih mampu memahami perasaan orang lain.

Mengutip sinopsis di buku tersebut “Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu-bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.”

Gajah Sang Penyihir

Judul: Gajah Sang Penyihir
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sedang merasa tak produktif. Kata-kata entah hilang kemana. Mungkin secara fisik memang lelah. Atau mungkin kondisi sekeliling membuatku down. Apapun itu yang pasti aku cuma mencari-cari alasan. Baiklah, abaikan saja. Hidup terus berjalan, bukan?

Dan, kita cerita tentang Gajah Sang Penyihir karya Kate Dicamillo saja ya?

Buku ini dikenalkan oleh salah seorang kawan saya di facebook. Dan dia benar, buku ini sangat patut direkomendasikan. Buku ini ‘pas’ sekali untuk saya. Saya langsung jatuh cinta begitu membacanya. Segera saya memburu karya Kate yang lain. Sayangnya, saya kesulitan menemukan buku lain karya Kate. Akhirnya, saya hubungi pihak gramedia. Dan melalui gramediashop akhirnya saya beruntung mendapatkan 2 karya Kate, yaitu: Perjalanan ajaib Edward Tulane dan Kisah Despereaux.

Gajah Sang Penyihir dan Perjalanan Edward Tulane adalah favorit saya. Keduanya mampu membuat saya hanyut dalam kisah para tokohnya. Tidak itu saja, yang paling menarik adalah pilihan kata dan setiap rangkaian kata di dalamnya mampu melelehkan hati.

Kate sangat piawai menggambarkan sebuah situasi dengan bahasa yang indah dan sarat makna.

Inilah sedikit ulasan dari kisah Gajah Sang Penyihir.
Peter adalah seorang anak yang tinggal di apartemen kecil dengan seorang teman ayahnya, seorang mantan tentara. Ayahnya meninggal dalam peperangan dan Ibunya menyusul sang ayah usai melahirkan adik Peter. Peter dipisahkan dengan si adik. Hari-hari sepi dilalui Peter. Hati kecil Peter meyakini bahwa sang adik masih hidup walaupun teman ayahnya berulangkali mengatakan bahwa adiknya meninggal dunia.

Suatu hari, Peter memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang peramal. Peramal hanya memberikan kata kunci: Gajah. Ya, gajah itu akan membawa Peter menemui kembali adiknya. Apa yang terjadi selanjutnya?

Baca bukunya :). Karena petualangan menarik akan dijumpai Peter dalam pengembaraannya menjemput adik tersayangnya.

“Pernahkah kau, sejujurnya, melihat sesuatu yang begitu indah? Harus kita apakan dunia tempat bintang-bintang bersinar gemerlap di tengah kegelapan dan kemuraman yang begitu pekat ini?”

Pekat tidak selamanya gelap. Pendar-pendar cahaya itu tidak lindap, jika kita percaya.