Takhta dan Angkara

Judul: Bergelut dalam Takhta dan Angkara
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai

Inilah buku kedua dari 5 seri buku Gajah Mada: Bergelut dalan Takhta dan Angkara.

Seperti telah dikisahkan di buku pertama, bahwa Sri Prabu Jayanegara, raja Majapahit akhirnya meninggal karena diracun oleh Ra Tanca.  Sri Prabu Jayanegara adalah anak laki satu-satunya dari Raden Wijaya (raja Majapahit pertama) dengan istri kelimanya, Dara Petak. Kepergian Jayanegara yang tiba-tiba menimbulkan luka yang mendalam bagi seluruh rakyat Majapahit. Tidak itu saja mangkatnya Beliau menimbulkan kegoncangan di dalam istana. Para ratu, yaitu: Tribuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Gayatri dan Dara Petak, kalang kabut memutuskan penerus kerajaan Majapahit. Sri Jayanegara pada saat meninggal belum menikah.

Dua adik Sri Jayanegara lainnya adalah perempuan, yaitu: Sri Gitarja dan Dyah Wiyat. Keduanya anak dari Raden Wijaya dengan istri keempat, Gayatri. Ibu ratu Gayatri adalah seorang biksuni. Dengan mangkatnya sri Prabu maka penerus takhta kerajaan Majapahit akan diteruskan oleh salah satu dari dua putri sekar kedaton itu. Pada saat para ratu sedang berembug untuk memutuskan pilihan antara Sri Gitarja dengan Dyah Wiyat, terjadilah peristiwa genting seperti pembunuhan beruntun. Dari laporan Gajah Mada, dicurigai bahwa peristiwa di atas dilakukan oleh beberapa orang yang berniat melakukan makar.

Kecurigaan awal ditujukan kepada calon suami para sekar kedaton, Raden Cakradara (pasangan Sri Gitarja) dan Raden Kudamerta (pasangan Dyah Wiyat). Baik Cakradara dan Kudamerta mempunyai banyak pendukung yang juga berambisi untuk menduduki jabatan puncak di kerajaan. Maka dapatlah dibayangkan permainan apa yang sedang mereka lakonkan untuk memenuhi hasrat pribadi.

Jangan lupa juga dendam kesumat Ra Tanca pada Sri Jayanegara yang kemudian membuat dia tega meminumkan racun pada sri Prabu Jayanegara.  Dendam ini disebabkan oleh makar yang dilakukan oleh Ra Kuti dan kelompoknya (termasuk Ra Tanca) berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Hanya Ra Tanca yang menyerahkan diri dan kemudian kesalahannya diampuni. Namun sembilan tahun kemudian ternyata Ra Tanca masih menyimpan dendam kepada Sang Prabu. Ra Tanca berhasil membalas kematian teman-temannya dengan memberikan racun kepada Sri Jayanegara.

Apa hubungan Ra Tanca dengan pembunuhan beruntun? Bukankah Ra Tanca sudah mati ditebas pedang oleh Gajah Mada? Siapa dalang dibalik semua kekacauan? Silakan membaca buku seri ketiga dari rangkaian kisah Gajah Mada.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*