Manajemen Alhamdulillah


Judul: Manajemen Alhamdulillah
Penulis: Indra Utoyo
Penerbit: Mizania
Tebal: 153

“Barang siapa menginginkan dunia, hendaklah dengan ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan dua-duanya, hendaklah dengan ilmu.” (Hadis Nabi Saw.)

Manajemen Alhamdulillah. Jika ditelisik dari judulnya kita bisa menebak bahwa buku ini berbicara tentang rasa syukur. Tidak salah. Penulis menekankan rasa “syukur sebagai bagian dari mendidik diri kita untuk menjadi lebih ikhlas dan optimis dalam mencapai cita-cita. Orang yang jarang atau tidak bersyukur, berarti ia tidak mengerti dan tidak pula menghargai potensi dirinya.” (halaman 135)

Ikhlas jangan diartikan sebagai sikap yang pasif. Sebaliknya, ikhlas adalah menerima dengan penuh kesadaran bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan memang telah ada dalam peta rencana Allah. Sesuatu itu ada yang dapat kita pahami maksudnya dan ada yang tidak dapat kita pahami maksudnya. Jalan terbaik untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup ialah kita terima apa adanya, baik kita pahami atau tidak kita pahami. Menyangkalnya, mempertanyakannya, atau menolaknya hanya akan mendatangkan kerugian  besar (halaman 21)

Bagaimana menerapkan rasa syukur di dalam kehidupan kita sehari-hari, baik untuk pribadi dan ketika kita bekerja. Pak Indra memberikan tiga unsur penting yang harus dimiliki untuk menjadi great people (orang-orang besar), yaitu: self-development, self-conciousness, dan self-contribution.

Siapa sih great people itu? Orang-orang besar adalah mereka yang bersedia berkorban dan menunda kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang banyak. Dengan kata lain, great people adalah:
1. mereka yang merasa berbahagia bila membuat orang lain sukses atau bahagia.
2. mereka yang bersedia berkorban demi kebahagiaan dan kesuksesan orang lain.
3. mereka yang mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan diri sendiri.
4. mereka yang mampu melahirkan pengganti yang lebih baik dari dirinya.
5. mereka yang memberikan manfaat dan energi positif di manapun dia berada.
6. mereka yang merupakan hasil dari proses perjalanan yang teguh dan konsisten, bukan sebuah gift.
Keenam hal yang ada dalam pemahaman tentang great people terasa benar kesamaannya dengan konsep al-insân al-kâmil (manusia sempurna) menurut terminologi tasawuf maupun konsep keutamaan manusia dalam Islam. (halaman 12)

Bersyukur akan membawa manusia pada pemaknaan religi dalam kehidupannya. Mereka yang menerapkan perilaku religi dalam bekerja akan mengembangkan pola pikir yang religius, memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya, taat pada etika profesional, memiliki integritas moral yang tinggi dan selalu berupaya melakukan inovasi.

Dengan kata lain, mereka yang bersyukur akan senantiasa mendayagunakan anugerah yang telah diberikan Tuhan-Nya. Seorang yang bersyukur akan mengoptimalkan segala pemberian-Nya, baik dalam soal waktu, pekerjaan, kecerdasan, dan hal-hal lainnya untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

Manajemen Alhamdulillah adalah buku Seri Penuntun Motivasi Islam. Ini kali pertama saya membaca buku motivasi islam sejenis yang mengena di hati. Dipaparkan secara sederhana tanpa bermaksud menggurui.

Buku ini sangat layak dibaca untuk semua orang dan para pemimpin negeri ini. Jika perilaku religi diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, dan tidak hanya mengumbar penampilan agamawi saja, alangkah indahnya. Korupsi dan segala kecurangan serta perilaku negatif lainnya yang menyengsarakan orang lain semoga dapat dikikis habis dari negeri tercinta ini, selamanya.

untuk yang tertarik dengan buku ini, silakan pesan melalui situs Mizan di sini atau ini: http://mizan.com/buku_full/manajemen-alhamdulillah.html. Atau jika kamu ingin membaca dalam versi digitalnya, buku ini dapat diunduh di Qbaca. Caranya, bisa lihat di sini atau ini: http://buku.enggar.net/2012/11/17/e-book-dari-qbaca/

Dan untuk mendapatkan kabar terbaru mengenai koleksi buku-buku dari Qbaca bisa kamu peroleh di sini atau di sana. Untuk mendaftar ke Qbaca silakan klik laman berikut ini.

Sekilas Tentang Penulis:

Indra Utoyo adalah praktisi telekomunikasi dan teknologi informasi di PT Telekomunikasi Indonesia. Beliau sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi ITB dan memperoleh gelar Master of Science in Communication and Signal Processing dari Imperial College, University of London, UK, pada 1994. Pak Indra juga aktif di berbagai aktivitas dan kepengurusan sosial, antara lain sebagai Ketua Umum Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), Ketua Bidang Infokom Persatuan Insinyur Indonesia (PII), dan Dewan Penasihat Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI)

An Affair to Forget


Judul: An Affair to Forget
Penulis: Armaya Junior
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 237

“Mencintai saja tak pernah cukup”

Apa yang akan dilakukan seorang istri ketika mengetahui suaminya berselingkuh? Marah besar? Mencerca wanita idaman suaminya? Atau…

Anna adalah wanita mandiri yang memiliki dua anak. Suaminya, Toni bekerja di sebuah Bank. Anna mengelola bisnis sendiri. Awalnya perkawinan Anna dan Toni baik-baik saja sampai suatu ketika Anna mencium keganjilan pada suaminya. Sebagai seorang istri, ia dapat merasakan bahwa suaminya mencintai wanita lain. Dengan bantuan sahabatnya, Anna kemudian mencari tahu identitas wanita itu… dan menjalin persahabatan dengannya.

Langkah yang cukup tidak lazim bagi seorang istri yang dikhianati. Apakah Anna tidak terluka oleh perlakuan suaminya? Alih-alih memaki Dini, wanita idaman lain suaminya, Anna menawarkan persahabatan yang tulus. Sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan, namun demi mengembalikan keutuhan rumah tangganya, Anna menyampingkan sakit hatinya.

Novel ini menceritakan akhir yang berbeda dari kisah perselingkuhan pada umumnya. Sebagai pembaca, Anda akan dibuat bertanya-tanya dengan rencana yang sedang dijalankan oleh Anna. Alur cerita di buku ini awalnya memang sedikit lambat, tapi itu tidak terlalu mengganggu. Mungkin kelihaian penulis menggambarkan sebuah tempat atau peristiwa dengan sangat detail menjadi nilai tambah. Dan tidak seperti novel genre sejenis, walaupun novel ini bercerita kesedihan seorang wanita, namun paparan kisahnya tidak disajikan secara cengeng. Terkesan lebih apa adanya, jujur dan terbuka. Bagi seorang wanita, kisah ini barangkali bisa menjadi renungan bahwa, -seperti kata tagline di sampul buku, “Mencintai saja tidak pernah cukup”,- di dalam cinta dibutuhkan keikhlasan dan pengorbanan untuk orang yang kita kasihi.

Novel ini diterbitkan pertama kali tahun 2008. Buku lama. Kalau saya bisa membaca dan kemudian meresensinya itu karena hasil merayu si penulis untuk meminjamkan novelnya kepada saya :). Terima kasih atas pinjaman bukunya, mas :).

Sekilas mengenai Penulis.
Armaya Junior adalah nama pena dari Ardian Syam. Beliau dikenal sebagai penulis buku-buku motivator. An Affair to Forget adalah karya novel pertama Beliau yang diterbitkan oleh Gagas Media. Lulusan magister Akuntansi ini sehari-harinya adalah karyawan di sebuah perusahaan BUMN.
Buku motivasi Beliau yang saya pernah resensi dapat dibaca di sini.

E-book dari Qbaca

Bagi pecinta buku telah hadir ekosistim buku digital Qbaca persembahan dari Telkom. Di sini berbagai koleksi ebook baik gratis dan berbayar tersedia. Cara pembayarannya dapat melalui ATM, Internet Banking, dan SMS Banking.

Mengutip dari situs mereka: “Qbaca memilih format EPUB3, sehingga buku-buku akan lebih nyaman dibaca, baik di layar smartphone yang kecil maupun di layar tablet yang lebih lebar; dengan fasilitas pengubahan ukuran dan jenis font, dan setting lain. Tapi format EPUB3 digunakan bukan hanya karena soal kenyamanan. Format ini juga memungkinkan konten-konten seperti gambar, animasi, video, dan konten interaktif untuk dimasukkan ke dalam kemasan e-Book. Jadi Qbaca akan dikembangkan sebagai platform dalam pengemasan dan pemasaran konten-konten digital berukuran kecil.”

Aplikasi Qbaca dapat diunduh dari Google Playstore untuk pengguna telepon genggam Android. Jangan lupa kata kuncinya “Qbaca”. Sementara untuk versi iOS dijadwalkan akan siap pada Desember tahun ini. Info lengkap mengenai Qbaca bisa dibaca di sini, atau alamat situs mereka di http://qbaca.com/

Nah, di sini saya ingin berbagi langkah mengunduh dan menggunakan e-book dari Qbaca. Semoga bisa membantu untuk rekan-rekan yang ingin mencoba aplikasi baru dari Telkom ini.
1. Unduh dan instal aplikasi Qbaca dari Google Playstore.
2. Sentuh ikon aplikasi qbaca di layar telepon genggam Anda. Jangan lupa daftarkan diri Anda.

3. Qbaca akan menampilkan daftar koleksi buku. Di sana tersedia pilihan buku gratis, bestseller dan buku sekolah.

4. Selanjutnya, Anda dapat mengunduh ebook tersebut. Untuk buku berbayar, Qbaca akan memberikan no pembayaran yang harus Anda transfer.
5. Lakukan pembayaran di ATM seperti membayar tagihan telkom (telepon, speedy, dan lain-lain). Berikutnya, Anda dapat langsung mengunduh buku tersebut.

6. Buku yang Anda unduh dapat dilihat di menu Shelf.

7. Sentuh layar di pilihan buku yang ingin Anda baca.
8. Ini tampilan buku Karen Amstrong yang saya coba beli kemarin, judulnya Masa Depan Tuhan.

9. Di atas adalah contoh tampilan isi setelah diubah pengaturan ukuran hurufnya. Masih ingatkan bahwa format EPUB3 memberikan fasilitas pengubahan ukuran dan jenis font, dan setting lain? Untuk mengatur dapat dengan memilih menu Settings.

10. Berikutnya akan muncul tampilan seperti di bawah ini. Pilih saja fitur pengubahan yang Anda inginkan.

Nah, mudah, bukan? Yuk, kita coba aplikasi Qbaca yang keren ini. Kalau malas bawa buku yang berat-berat sekarang nggak punya alasan lain donk? Kan cukup bawa telepon genggam aja 🙂

update: Pembelian buku sekarang sudah dapat dipotong langsung dari pulsa Telkomsel. Lebih mudah, kan? 🙂

Robinson Crusoe


Judul asli: Robinson Crusoe
Penulis: Daniel Defoe
Penerjemah: Peusy Sharmaya
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal: 505

Robinson Kreutznaer adalah nama asli Robinson Cruesoe. Dilahirkan dari keluarga yang cukup terpandang, Crusoe mendapatkan bekal pendidikan yang memadai. Ayahnya menginginkan Crusoe masuk sekolah hukum, namun Crusoe sendiri lebih berminat menjadi pelaut. Keinginan ini ditentang oleh Ayahnya. Dalam sebuah perbincangan Ayah Crusoe menyatakan bahwa ia akan selalu mendoakan Crusoe, namun jika ia bersikeras mengikuti kemauannya maka sang Ayah tidak bertanggung jawab jika terjadi hal buruk pada dirinya dan mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan memberkatinya.

Crusoe kemudian memutuskan pergi berlayar untuk pertama kalinya. Badai ganas yang dialaminya dalam perjalanan membuat Crusoe bersumpah bahwa jika ia selamat dari pelayaran maka ia akan langsung pulang ke rumah Ayahnya dan tidak membiarkan dirinya terjerumus dalam penderitaan itu. Akankah Crusoe menepati janjinya?

Walaupun berulang kali menentang bahaya, dan berkali-kali mengucapkan sumpah dan janji yang ia ucapkan dalam hati, namun tak pernah membuat Crusoe benar-benar melepaskan kesukaannya pergi berlayar. Sampai pada suatu ketika, ia tergoda untuk melakukan perjalanan yang kelak akan menyadarkan ia pada perenungan dan kata-kata Ayahnya. Kapal yang ia tumpangi terseret gelombang besar. Tak ada yang selamat. Hanya ia sendiri di pulau terpencil yang tak berpenghuni. Bagaimana ia bertahan hidup? Novel ini mengisahkan secara rinci bagaimana Crusoe dipaksa oleh keadaan untuk melindungi dirinya dengan memanfaatkan sumber alam yang ada. Bagian menarik ada pada kondisi psikologis yang dialami oleh Crusoe selama ia hidup sendirian. Melalui renungan dan penyesalan ia menemukan Tuhan, yang ia sadari ketika dirinya mengalami sakit. Dan sekalipun Crusoe ingin sekali diselamatkan dari pulau itu, perlahan ia mulai mengurangi doa agar dibebaskan dari kesendirian. Baginya semua belumlah apa-apa dibandingkan dosa-dosa masa lalu yang membebaninya.

Novel ini tidak hanya menceritakan petualangan bertahan hidup Crusoe dan renungan psikologis yang dialaminya. Bagian lain buku ini juga menyoroti sikap superioritas bangsa Inggris, yang dicerminkan dalam kisah pertemuan Crusoe dengan Friday. Walaupun pada dasarnya, hampir semua bangsa di dunia memiliki kecenderungan untuk menganggap dirinya lebih tinggi dari bangsa lainnya.

Sebagai novel petualangan, Robinson Crusoe memang memiliki keasyikan tersendiri. Walau saya terganggu dengan kemunculan bangsa kanibal. Namun mungkin juga itu sebuah pesan, bahwa dalam hidup senantiasa ada lonjakan-lonjakan kecil, naik dan turun. Itulah dinamika hidup. Dan setiap manusia secara naluri diberi kemampuan untuk mempertahankan hidupnya. Untuk itulah manusia harus berjuang.

Penguasa Lalat


Dokumentasi: dari sini 🙂

Judul asli: Lord of the flies
Penulis: William Golding
Penerbit: Ptaka Baca
Tebal: 312 halaman

Cerita berawal ketika sebuah pesawat dengan penumpang seluruhnya anak-anak terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Ralph adalah anak laki-laki berusia 12 tahun lewat beberapa bulan. Ia sudah bukan bocah lagi namun juga belum cukup disebut remaja tanggung. Piggy, kawan pertama yang dijumpai Ralph dan kelak menjadi sahabat untuk berdiskusi dan berdebat. Ada juga Jack di pemarah, pemimpin dari sebuah kelompok paduan suara.

Sekumpulan anak-anak itu kemudian memutuskan Ralph sebagai pemimpin karena ia mempunyai kerang di tangannya. Kerang itu akan mengeluarkan bunyi jika ditiup sebagai tanda berkumpul. Sambil berharap bala bantuan datang meyelamatkan mereka anak-anak itu memutuskan untuk bersenang-senang menikmati kebebasan mereka. Sampai kemudian perpecahan terjadi antara Jack dan Ralph. Ralph menginginkan api terus menyala untuk mendapatkan penyelamatan, sebaliknya Jack menginginkan perburuan. Jack melanggar peraturan dengan mengajak beberapa anak yang bertugas menjaga nyala api untuk berburu, sementara di saat yang sama sebuah kapal tampak di kejauhan namun asap yang dikeluarkan api memudar karena padam.

Jack memutuskan untuk keluar dan membentuk kelompok dengan mengimingi anak-anak lainnya dengan daging. Berburu kemudian memunculkan kegairahan liar dalam diri Jack. Sebaliknya Ralph bersikeras dengan memusatkan perhatiannya pada api. Api tidak saja melindungi mereka dari bahaya ketika malam hari namun juga kerasnya cuaca dan yang terutama penyelamatan. Perpecahan kelompok itu berbuntut dendam yang mendalam pada diri Jack.

Mengutip sinopsis yang ada di sampul belakang, buku ini “mengekspos dualitas sifat manusia -kesenjangan antara ketertiban dan kekacauan, kecerdasan dan naluri, struktur dan kebiadaban.”

Ralph adalah simbol dari sebuah keteraturan, kecerdasan sebaliknya Jack melambangkan sifat-sifat kekacauan, naluri, dan kebiadaban. Ralph menggunakan otaknya sementara Jack mengedepankan nafsu. Seperti dikutip dalam dialog di bawah ini.
“Mana yang lebih baik -memiliki aturan dan sepakat atau berburu dan membunuh?”
“Mana yang lebih baik, hukum dan penyelamatan, atau berburu dan merusak semuanya?” (halaman 269)

Saya ingat perbincangan kecil dengan partner. Dia bilang manusia adalah makhluk yang kompleks.

Apakah seperti dituliskan di catatan pada akhir cerita, bahwa dalam sisi manusia ada pertarungan, seperti dikisahkan dalam adegan ketika Simon berjuang dengan seluruh kekuasaan lemahnya melawan pesan ketua, melawan “pengenalan lama dan mutlak,” pengenalan kapasitas manusia untuk kejahatan dan sifat dasar dangkal sistem moral manusia.” Begitukah?

Saya terpaku. Betapa cerita ini memunculkan banyak pertanyaan yang memenuhi dada? Membaca buku ini begitu menguras energi. Mungkin pada akhirnya seperti Ralph, kita hanya bisa menangisi kegelapan hati manusia.

Tentang Penulis
William Golding, terlahir sebagai Cornwall, 1911. Ayahnya mengajar sains di Marlborough Grammar School. Ia dibesarkan untuk menjadi seorang ilmuwan, namun memberontak. Setelah dua tahun berada di Oxford, dia mengalihkan perhatiannya dari sains menjadi sastra inggris lalu menekuni Anglo-Saxon. Ia kemudian menerbitkan satu buku puisi. Ia bergabung ke dalam Angkatan Laut Kerajaan ketika pecah perang dunia kedua. Kemudian mengakhiri karir Angkatan Laut-nya sebagai letnan yang memimpin sebuah kapal roket. Sesudaha perang dia mengajar dan menulis buku, salah satunya adalah Lord of the flies. Lainnya adalah The Inheritors, Pincher Martin, dan lain-lain. Hobi Golding adalah berpikir, berlayar, dan arkeologi. Pujangga yang mempengaruhinya adalah Euripides dan pengarang tanpa nama Anglo-Saxon The Battle of Maldon.

Awal Berjumpa dengan BBI

Untuk meramaikan hari blogger nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober yang lalu, maka mas Hernadi Tanzil, suhunya Blogger Buku Indonesia atau yang disingkat BBI memunculkan ide untuk menuliskan kisah awal pertemuan para member BBI dengan Bebi, sebutan lain BBI di twitter :).

Sebelum bergabung dengan BBI, saya telah memiliki blog utama. Blog ini telah saya kelola sejak tahun 2007, berisi berbagai macam tulisan, salah satunya adalah resensi buku. Aneh juga saya nggak bosen ya? hehe. Ada juga yang pernah bertanya untuk apa saya menulis sedangkan semakin lama semakin langka orang yang memberikan komentar atas tulisan kita. Jangankan memberi komentar, membaca pun mungkin tidak. Hem, saya nggak tahu jawabnya. Sejujurnya saya senang membaca dan menulis. Saya tidak terlalu memusingkan apakah tulisan saya dikomentari atau tidak. Ada atau tidak adanya komentar tidak menyurutkan minat saya untuk terus menulis. Semoga :).

Kebetulan suatu hari saya bertemu mas Tanzil di twitter. Dalam sebuah statusnya Beliau mencantumkan daftar blog yang berisi resensi buku. Tentu donk yang seperti ini nggak saya lewatkan :). Saya bertanya langsung kepada Beliau apakah blog saya bisa dimasukkan ke dalam list BBI? Saya tuliskan juga URL blog utama saya. Tak berapa lama mas Tanzil menjawab, blog yang ada dalam daftar BBI khusus untuk blog resensi buku, tidak bercampur dengan tulisan lainnya. Singkat kata, Beliau menyarankan agar saya membuat blog baru agar tulisan resensi buku saya dapat dimasukkan ke dalam daftar BBI. Tanpa membuang waktu, saya segera membuat dan memilah tulisan-tulisan mengenai resensi buku yang ada di blog utama. Dan tentu saja tidak lupa melaporkan ke mas Tanzil alamat blog baru ini.

Kalau diingat saya semangat sekali saat itu. Dalam beberapa hari postingan baru selalu muncul ^-^. Sampai kalau enggak salah, salah seorang teman BBI menyatakan keheranannya karena kemampuan membaca saya yang cepat. Hehehe, bukan kemampuan membaca saya yang cepat tapi karena itu adalah postingan lama yang saya pindah dan edit kembali :).

Tentu menyenangkan bahwa pada akhirnya saya bertemu dengan teman-teman yang menyukai buku. Walaupun saya jarang meninggalkan jejak di blog rekan-rekan namun beberapa postingan resensi buku mereka menjadi andalan saya untuk mencari buku yang bagus.

Bergabung di BBI juga memberikan berkah tersendiri, yaitu dikasi buku-buku gratis dari penerbit untuk diresensi ;-). Berkenalan dengan editor, penerjemah, penerbit, dan teman-teman yang lucu dan baik. Hanya yang bikin nggak tahan, kenapa ya mereka suka banget mengiming-imingi buku? Oya, kayanya itu memang keahlian kami sih :). Selain itu tidak ketinggalan informasi seputar buku. Nah, mengasyikkan, bukan?

Saya tidak punya target berapa buku yang harus dibaca. Saya ingin menikmati bacaan seperti halnya saya suka menulis, semua mengalir saja. Ketika segala terasa hampa, saya tahu itulah saatnya saya harus membaca 🙂

Selamat hari blogger, kawan. Teruslah membaca dan menulis. Menginspirasi dunia melalui tulisan.

Ciuman di bawah Hujan


Judul: Ciuman di bawah Hujan
Penulis: Lan Fang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 359 halaman

Adakah hubungan politik dengan cinta? Ataukah politik itu sejatinya cinta?

Fung Lin bertemu Ari yang politisi itu di sebuah acara pertemuan dengan para TKW. Sedianya pertemuan itu akan dihadiri oleh pejabat, dan Fung Lin bertugas untuk mewawancarai pejabat yang bersangkutan. Waktu bergulir namun Fung Link belum juga menangkap kehadiran pejabat yang dimaksud. Untuk menumpahkan kejengkelannya Fung Lin tanpa sengaja menemukan teman bicara. Laki-laki itu adalah Ari.

Awal perkenalan Fung Lin dengan Ari kemudian membawa kedekatan Fung Lin dengan seorang laki-laki berkaki angin yang bernama Rafi. Rafi adalah teman politisi Ari, laki-laki bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Dan Fung Lin yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.

Ari dan Rafi adalah anggota dewan dengan visi yang sama. Keduanya mencintai dan memperhatikan Fung Lin dengan cara yang berbeda.

Dengan Ari, Fung Lin merasa bisa mengobrol dengan bebas. Seperti Ari yang juga membutuhkan Fung Lin untuk menyadarkan dirinya bahwa ia masih manusia selayaknya. Sebaliknya Rafi, sedikit kaku dan menjaga sikap. Rafi enggan berbicara tentang hal-hal yang dirasanya tak perlu. Seperti itu pula sikapnya dalam dunia kerja yang digelutinya.
“Menurutnya, mimpi tidak bisa diwujudkan hanya dengan bercakap-cakap. Walaupun bercakap-cakap di gedung ini adalah sebagian dari proses untuk mewujudkan mimpi. Tetapi mimpi di sini milik siapa? Mimpi orang-orang kecil atau mimpi para pemain politik?” (halaman 91)

Siapakah yang memenangkan hati Fung Lin? Ari atau Rafi?

Ini bukan kisah cinta biasa, ini adalah cerita mengenai dunia politik. Politik itu juga cinta. Dalam cinta ada strategi yang perlu dimainkan untuk merebut hati orang yang kita kasihi.

Alur cerita di buku ini maju mundur. Berbagai simbol juga banyak digunakan untuk menggambarkan dunia politik. Seperti penggambaran tikus besar dan kecil yang saling menindas satu sama lain dan meninggalkan luka gigitan di tubuh Fung Lin. Atau hadirnya hamster yang kemudian melahirkan 44 anak, namun kemudian keempat puluh anak hamster itu dimakan oleh induknya sendiri. Demi melihat peristiwa menjijikkan itu membuat Fung Lin memutuskan untuk mengumpankan kedua induk hamster itu ke kandang harimau.

“Aku tidak mau ada orang yang memakanmu seperti itu. Aku juga tidak mau kau memakan orang lain. Karena politisi akan selalu saling memakan. Raf, aku tidak suka kau menjadi politisi….” (halaman 351)

Lan Fang melukiskan kisah dalam novel ini dengan diksi yang memikat disertai ungkapan tersembunyi sarat makna. Novel ini bisa menjadi renungan bagi kita untuk melihat dunia politik beserta kegelisahan yang ditimbulkannya, seperti yang diamini Rafi.
“Kalau saja ia memiliki keberanian untuk jujur, ia akan mengatakan bahwa sebenarnya ia juga memiliki ketakutan yang sama. Karena menjadi politisi tidak seindah yang tampak dari luar. Tetapi juga tidak mudah untuk keluar dari lingkarannya.” (halaman 351)

Tofi – Perburuan Bintang Sirius


Judul: Tofi Perburuan Bintan Sirius
Penulis: Prof. Yohanes Surya (bersama Ellen Conny & Sylvia Lim)
Penerbit: PT Kandel
Tebal: 831 halaman

Melihat nama penulis di novel ini mungkin akan membuat kita sedikit mengernyitkan dahi. Betulkah Prof. Yohanes Surya yang fisikawan itu? Jawabannya, tidak salah lagi :). Ketika mengetahui Beliau menulis novel berlatar sains dan akan memilih beberapa orang untuk menjadi first reader, maka saya tidak melewatkan kesempatan berharga ini. Saya langsung teringat novel sains anak-anak dari Stephen dan Lucy Hawking yang begitu memikat. Ketika itu saya pernah berharap ada novel seperti itu dibuat oleh ilmuwan Indonesia, dan harapan itu terwujud dengan adanya novel karya Prof. Yohanes Surya. Tidak berlebihan bukan, jika saya begitu antusias? 🙂

Baiklah, saya mulai saja review-nya.

Tofi adalah pemuda putra ilmuwan pemenang nobel. Pemuda ganteng dan jago basket ini juga ilmuwan muda yang sangat populer di Odyssa College. Namun ketenaran ayahnya yang pemenang nobel justru menjadikan pemuda cerdas ini menggalau. Saingan berat Tofi adalah Jupiter, putra tunggal walikota Pulau Kencana, pulau tempat dimana mereka semua tinggal. Ayah Jupiter adalah penyandang dana terbesar di Odyssa College.

Jupiter adalah pemuda jenius yang sangat terobsesi dengan kekuasaan. Ia seringkali mengganggu anak-anak yang lebih lemah dan teman-teman Tofi demi memancing keributan dengan Tofi. Pada sebuah acara di malam pameran sains, Jupiter menjebak Tofi dengan percobaan fisika bikinannya dan menyebabkan ledakan besar serta mencelakai orang lain. Ayah Tofi marah besar dan tidak memercayai alasan Tofi. Kesalahpahaman yang terjadi membuat Tofi berangan-angan untuk melepaskan minatnya pada fisika dan melepaskan bayang-bayang kepopuleran ayahnya.

“Newton bukan anak seorang ilmuwan. Tapi pernahkah ia peduli dengan label anak petani miskin? Padahal pada masa itu, status miskin sering disamakan dengan kebodohan? Tidak kan? Newton tahu ia punya identitas. Ia punya panggilan. Ia harus memberikan sesuatu bagi dunia selama ia hidup..” (halaman 31)

Persaingan di antara Tofi dan Jupiter semakin memuncak dengan munculnya Miranda, gadis cantik dan cerdas, yang kelak menggantikan posisi Jupiter sebagai pemimpin di klub Fosfor, klub ilmuwan remaja yang sangat populer di Odyssa College. Demi melepaskan ketergantungan klub Fosfor dari kekuasaan Jupiter, maka Tofi bersama beberapa kawannya mengikuti perlombaan Science to Generation (STG).

STG diikuti oleh banyak wakil sekolah dari seluruh Indonesia dan bertempat di Bandung. Di sini beberapa perwakilan daerah akan bersaing untuk merebut kemenangan. Di antara persaingan, kerja sama, perselisihan dan persahabatan, tak lupa dibumbui oleh cinta lokasi ternyata acara Science to Generation ini dilatarbelakangi oleh sebuah konspirasi misterius. Berawal dari gosip hantu, dan kutukan bintang serius, anak-anak ini terjebak dalam laboratorium horor dan berhadapan dengan dua virion terbaik dari Black Schole, sindikat paling berbahaya di dunia. Siapakah mereka? Dan Apa tujuan mereka datang? Dan apa hubungan itu semua dengan ayah Tofi? Berhasil kah mereka keluar dari laboratorium yang berbahaya tersebut?

**
Tofi, Perburuan Bintang Sirius ini adalah novel pertama karangan Prof.Yohanes Surya. Novel ini ditujukan untuk remaja atau mereka yang menyukai sains sekaligus petualangan. Beberapa tokoh dalam buku ini dinamai dengan istilah-istilah sains, seperti Metana Hidro, nama salah satu unsur kimia yang dapat menyebarkan bau. Sesuai namanya, Metana adalah teman sekelas Miranda yang menjadi sekretaris Klub Fosfor dan dijuluki oleh teman-temannya sebagai Ratu Gosip. Miranda sendiri adalah nama satelit planet Uranus, planet yang letaknya jauh dari matahari, dingin dan pekat. Menghadapi rayuan maut Jupiter, Miranda bisa berubah sedingin es. Seperti adegan yang ada di halaman 62, ketika Jupiter melancarkan rayuannya kepada Miranda.
“Kau tahu kan, Vol? Suhu satelit Miranda itu bisa mencapai minus 187 derajat,” ujar Metana sambil memilin rambut sebahunya.”

Candaan yang ada dalam buku ini cerdas dengan aroma sains-nya. Untuk kita yang awam, buku ini dapat memenuhi keingintahuan kita mengenai sains dengan cara yang sangat menyenangkan. Tidak hanya itu, melalui referensi yang banyak dari buku ini, rasa penasaran kita pun dengan mudah dibangkitkan. Seperti saya misalnya, ketika buku ini menyinggung tentang Voyager II maka saya akan membrowing dan mencari tahu mengenai pesawat antariksa tak berawak yang dikirim ke planet Uranus ini, dan banyak informasi berharga lainnya yang dikemas dengan menarik-, yang kemudian membuat saya jadi berlama-lama membacai artikel tersebut :).

Tokoh-tokoh ilmuwan dari penemuan dan biografi mereka pun menjadi topik perbincangan yang menarik, juga sejarah, astronomi, budaya, sampai fashion. Membaca buku ini membentangkan fantasi saya dari Carl Sagan dengan astronominya, Marrie Curie (ilmuwan wanita kesayangan saya. -Salaman dulu sama Cheryl :)- ) dengan radiumnya sampai Harry Potter dengan trik sihirnya. Tak lupa kisah petualangan ala detektif Conan dan Sherlock Holmes. Saya pun seringkali dibuat terpingkal-pingkal dengan gaya candaan para tokoh di buku ini.

Nyata bahwa penulisnya pastilah seorang yang sangat suka membaca berbagai genre buku. Tidak seperti bayangan orang pada umumnya yang menyangka seorang ilmuwan adalah mereka yang hanya berkutat pada bidang ilmunya, berkaca mata dan begitu membosankan. Percayalah, novel ini mementahkan itu semua.

Salut dengan Prof. Yohanes Surya yang berhasil meramu cerita ini dengan sangat menarik. Barangkali karena ini adalah versi draf masih banyak saya temui kesalahan ketik yang cukup mengganggu. Mudah-mudahan versi aslinya tidak ada lagi. Satu permintaan jika diperkenankan adegan pertarungannya mungkin bisa diperhalus sedikit penggambarannya.

Dan tentu saja, saya dengan senang hati menunggu kiriman lanjutan kisah Tofi, yang kabarnya dibuat menjadi 3 seri :).

Terima kasih untuk Prof. Yohanes Surya serta metode gasing yang telah memercayai saya untuk menjadi first reader novel mereka yang pertama dan sungguh sangat keren.

~ Apa yang harus dimiliki seorang ilmuwan? Heart and Trust! Milikilah hati dan kepercayaan. Tanpa hati, kau akan seperti lampu tanpa cahaya yang tak dapat menyentuh orang lain. Tanpa kepercayaan, kau akan berdiri sendirian dan kesepian. Bagaimana mungkin mengubah dunia tanpa kerja tim?” (halaman 179)

Akar Pule


Judul: Akar Pule
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Grasindo. Pt Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tebal: 145

“Pada akhirnya aku percaya, aku sendiri yang harus bertanggung jawab atas hidupku.”

Saring adalah seorang wanita yang meninggalkan kampung halamannya demi menghindari kesialan yang menimpa desa itu. Kisah Ayah dan Ibunya adalah legenda yang tiada habis dibicarakan. Setiap bencana dan musibah yang terjadi selalu dikaitkan warga dengan riwayat Kondra, Ayah Saring. Kepergian Saring dari desa diyakini sebagai sebuah keputusan terbaik, karena tidak akan ada lagi darah kesialan yang mengobrak-abrik desa itu.

Akar Pule adalah buku kumpulan cerita pendek yang berisi 10 kisah. Kesemuanya mengenai perempuan. Oka Rusmini, sastrawati Bali ini dikenal sebagai penulis yang karya-karyanya banyak mengupas mengenai keberadaan perempuan serta pendobrak kekakuan adat (dari sini).

Dalam kisah Pastu melalui tokoh Cenana, Oka menanyakan arti cinta dan kebahagiaan. Cok Ratih, sahabat yang disayanginya rela meninggalkan kebangsawanannya dan memutuskan hubungan baik dengan keluarga besarnya untuk menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Namun pengorbanan besar yang diberikan Cok Ratih atas nama cinta tidak mendapatkan balasan yang seimbang. Sahabatnya itu mati bunuh diri sementara suaminya entah di mana. Desa adat memberinya sanksi, mayatnya tak boleh diaben karena menurut konsep agama, Cok Ratih mati dengan cara yang salah, mati bunuh diri.
“Apakah Tuhan tahu? Apa alasannya sahabatku yang riang dan bersemangat itu menjerat leher dan mengiris nadinya? Apakah Tuhan mau mengerti dan menerima alasannya?”

“Katanya, kehidupan perempuan baru disebut sempurna jika sudah kawin. Perkawinan membuat perempuan sadar arti menjadi istri, juga arti menjadi Ibu. Tapi kalau nyatanya kawin malah bikin susah dan rumit, apakah perkawinan masih bisa dijadikan alasan bahwa pohon kebahagiaan itu hanya bisa ditemukan di dalam rumah perkawinan?” (halaman 93)

Dalam Sawa, penulis mengisahkan pertentangan bathin yang dialami oleh seorang wanita bernama Ni Luh Putu Pudakwangi. Di usianya yang ketiga puluh lima tahun dan di tengah kegamangan rumah perkawinannya ia bertemu dengan seorang lelaki yang mencintainya. Pudak berada di dalam kebimbangan, di antara perasaan bersalah dan keinginan untuk menyambut cinta yang ditawarkan lelaki itu.
“Salahkah cinta yang datang selarut ini?” (halaman 84)

“Mencintai itu bukan dosa. Sebuah pertemuan adalah hal biasa. Jadi tidak biasa ketika pertemuan itu meninggalkan luka.” (halaman 76)

Oka juga menggugat perlakuan masyarakat serta ketidakadilan hukum terhadap pemerkosa anak-anak, seperti ada dalam kisah Bunga.
Bunga, gadis kecil cantik berumur 7 tahun. Bunga suka menari. Ibu Bunga adalah pelacur dan Ayahnya tidak diketahui keberadaannya. Bunga berteman dengan tiga laki-laki, salah satunya Gus Putu yang berusia 10 tahun. Ibu Gus Putu tidak menyukai jika putranya bermain dengan Bunga. Suatu ketika Bunga ditemukan mati terapung di sungai. Vagina gadis kecil itu sobek dan terus mengeluarkan darah.

“…Dia memang terkutuk. Makanya mati pun dia tetap terkutuk!” Perempuan itu menggeram penuh dendam.” (halaman 121)

Pelaku pemerkosa Bunga, sejumlah laki-laki dewasa dihukum hanya 5 tahun penjara. Bisa jadi pelaku pemerkosa itu hanya meringkuk 2 tahun atau 3 tahun jika ada potongan hukum penjara.

“Gus Putu meringsut, tak ada perempuan yang berdemo untuk membuat keputusan: hukum mati para pemerkosa anak-anak!”.

Oka, penulis yang begitu jujur menyuarakan hati perempuan. Membaca tulisan Oka terkadang menimbulkan getir dan ngilu, sekaligus kelembutan yang samar pada sisi kewanitaan kita sebagai makhluk bernama perempuan.

Matinya Seorang Buruh Kecil


Judul asli: Chekhov The Early Stories
Penulis: Anton Chekhov
Penerbit: Melibas
Tebal: 164

Mengutip catatan dari penerbit: “Tapi cerpen-cerpen Chekhov unik, selain meng-“KO” kan, ia juga bisa membuat pembacanya tersenyum simpul dan senang. Tanpa beban, tapi membuat penasaran, juga mengejutkan.”

Nukilan di atas ada benarnya. Ketiga belas cerita pendek dari Chekhov ini memiliki ending yang mengejutkan. Cerita-cerita Chekhov juga lekat pada realitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Ditulis dalam bahasa sederhana yang dipenuhi dengan unsur humor dan olok-olok, cerita-cerita dalam buku ini seperti menelanjangi sifat asli manusia.

Seperti kisah Di kota Ada Surga, yang menceritakan pengalaman kepala biara selama berada di luar tembok biara demi niat awalnya untuk membantu mereka yang tersesat. Ia menggambarkan semua rayuan iblis, cantik moleknya dosa, menggiurkannya tubuh perempuan dihadapan para rahib yang terpaku di tempatnya. Mereka menelan setiap kata yang diucapkan kepala biara dan hampir-hampir tak bisa bernapas karena keranjingan. Dan ketika esok harinya sang kepala biara keluar dari kamarnya, ia tak melihat seorang rahib pun tertinggal di biara. Mereka semua lari ke kota.

Atau cerita Peristiwa di Pengadilan, ketika seorang pengacara ternama harus membela terdakwa yang berdasarkan bukti dan fakta-fakta telah dinyatakan bersalah. Akhir ceritanya sungguh tak terkira. Satire. Sungguh membuktikan kata-kata si penulis di awal cerita yang menggambarkan bahwa sang tokoh, si pengacara, adalah orang yang penuh kharisma dan disegani oleh banyak orang.

Atau cerita Catatan Harian si Pemberang. Si tokoh kita ini yang sekilas tampak anti sosial, dan lebih menyukai mengamati gerhana matahari serta pemikir yang dalam, tetap berupaya meluangkan waktunya untuk tidak mengecewakan orang-orang di dalam lingkungan kecil hidupnya. Sekalipun sesungguhnya dalam hati ia menyesali dan membenci ketidakberdayaan dirinya sendiri. Di sini Chekhov begitu manis sekaligus menyayat menampilkan sisi manusiawi dari kita, manusia.

Semua cerita di buku ini memang layak difavoritkan. Kesemua kisahnya memiliki keunikan dan kedalaman pesan yang berbeda namun menyentuh. Tapi jika harus memilih satu cerita, sepertinya saya memilih Moronoff, Pak Inspektur Polisi. Gambaran dalam cerita ini adalah fenomena yang sampai detik ini masih banyak kita temukan. Mereka yang gagap dalam mengambil keputusan ketika harus berbenturan dengan ‘orang-orang (yang mereka anggap) penting’. Barangkali kita pun pernah mengalami situasi seperti yang digambarkan dalam cerita Moronoff itu dan pada saat itu kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, di mana hati nurani dan kepentingan lainnya saling bertarung.

Terima kasih buat Jamal Kutubi, yang salah satu review bukunya di sini juga membuat saya penasaran membaca bukunya Umberto Eco tentang Foucault’s Pendulum. Karena bulan biru aku bisa tahu ada buku sebagus ini :).