Penguasa Lalat


Dokumentasi: dari sini 🙂

Judul asli: Lord of the flies
Penulis: William Golding
Penerbit: Ptaka Baca
Tebal: 312 halaman

Cerita berawal ketika sebuah pesawat dengan penumpang seluruhnya anak-anak terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Ralph adalah anak laki-laki berusia 12 tahun lewat beberapa bulan. Ia sudah bukan bocah lagi namun juga belum cukup disebut remaja tanggung. Piggy, kawan pertama yang dijumpai Ralph dan kelak menjadi sahabat untuk berdiskusi dan berdebat. Ada juga Jack di pemarah, pemimpin dari sebuah kelompok paduan suara.

Sekumpulan anak-anak itu kemudian memutuskan Ralph sebagai pemimpin karena ia mempunyai kerang di tangannya. Kerang itu akan mengeluarkan bunyi jika ditiup sebagai tanda berkumpul. Sambil berharap bala bantuan datang meyelamatkan mereka anak-anak itu memutuskan untuk bersenang-senang menikmati kebebasan mereka. Sampai kemudian perpecahan terjadi antara Jack dan Ralph. Ralph menginginkan api terus menyala untuk mendapatkan penyelamatan, sebaliknya Jack menginginkan perburuan. Jack melanggar peraturan dengan mengajak beberapa anak yang bertugas menjaga nyala api untuk berburu, sementara di saat yang sama sebuah kapal tampak di kejauhan namun asap yang dikeluarkan api memudar karena padam.

Jack memutuskan untuk keluar dan membentuk kelompok dengan mengimingi anak-anak lainnya dengan daging. Berburu kemudian memunculkan kegairahan liar dalam diri Jack. Sebaliknya Ralph bersikeras dengan memusatkan perhatiannya pada api. Api tidak saja melindungi mereka dari bahaya ketika malam hari namun juga kerasnya cuaca dan yang terutama penyelamatan. Perpecahan kelompok itu berbuntut dendam yang mendalam pada diri Jack.

Mengutip sinopsis yang ada di sampul belakang, buku ini “mengekspos dualitas sifat manusia -kesenjangan antara ketertiban dan kekacauan, kecerdasan dan naluri, struktur dan kebiadaban.”

Ralph adalah simbol dari sebuah keteraturan, kecerdasan sebaliknya Jack melambangkan sifat-sifat kekacauan, naluri, dan kebiadaban. Ralph menggunakan otaknya sementara Jack mengedepankan nafsu. Seperti dikutip dalam dialog di bawah ini.
“Mana yang lebih baik -memiliki aturan dan sepakat atau berburu dan membunuh?”
“Mana yang lebih baik, hukum dan penyelamatan, atau berburu dan merusak semuanya?” (halaman 269)

Saya ingat perbincangan kecil dengan partner. Dia bilang manusia adalah makhluk yang kompleks.

Apakah seperti dituliskan di catatan pada akhir cerita, bahwa dalam sisi manusia ada pertarungan, seperti dikisahkan dalam adegan ketika Simon berjuang dengan seluruh kekuasaan lemahnya melawan pesan ketua, melawan “pengenalan lama dan mutlak,” pengenalan kapasitas manusia untuk kejahatan dan sifat dasar dangkal sistem moral manusia.” Begitukah?

Saya terpaku. Betapa cerita ini memunculkan banyak pertanyaan yang memenuhi dada? Membaca buku ini begitu menguras energi. Mungkin pada akhirnya seperti Ralph, kita hanya bisa menangisi kegelapan hati manusia.

Tentang Penulis
William Golding, terlahir sebagai Cornwall, 1911. Ayahnya mengajar sains di Marlborough Grammar School. Ia dibesarkan untuk menjadi seorang ilmuwan, namun memberontak. Setelah dua tahun berada di Oxford, dia mengalihkan perhatiannya dari sains menjadi sastra inggris lalu menekuni Anglo-Saxon. Ia kemudian menerbitkan satu buku puisi. Ia bergabung ke dalam Angkatan Laut Kerajaan ketika pecah perang dunia kedua. Kemudian mengakhiri karir Angkatan Laut-nya sebagai letnan yang memimpin sebuah kapal roket. Sesudaha perang dia mengajar dan menulis buku, salah satunya adalah Lord of the flies. Lainnya adalah The Inheritors, Pincher Martin, dan lain-lain. Hobi Golding adalah berpikir, berlayar, dan arkeologi. Pujangga yang mempengaruhinya adalah Euripides dan pengarang tanpa nama Anglo-Saxon The Battle of Maldon.

Awal Berjumpa dengan BBI

Untuk meramaikan hari blogger nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober yang lalu, maka mas Hernadi Tanzil, suhunya Blogger Buku Indonesia atau yang disingkat BBI memunculkan ide untuk menuliskan kisah awal pertemuan para member BBI dengan Bebi, sebutan lain BBI di twitter :).

Sebelum bergabung dengan BBI, saya telah memiliki blog utama. Blog ini telah saya kelola sejak tahun 2007, berisi berbagai macam tulisan, salah satunya adalah resensi buku. Aneh juga saya nggak bosen ya? hehe. Ada juga yang pernah bertanya untuk apa saya menulis sedangkan semakin lama semakin langka orang yang memberikan komentar atas tulisan kita. Jangankan memberi komentar, membaca pun mungkin tidak. Hem, saya nggak tahu jawabnya. Sejujurnya saya senang membaca dan menulis. Saya tidak terlalu memusingkan apakah tulisan saya dikomentari atau tidak. Ada atau tidak adanya komentar tidak menyurutkan minat saya untuk terus menulis. Semoga :).

Kebetulan suatu hari saya bertemu mas Tanzil di twitter. Dalam sebuah statusnya Beliau mencantumkan daftar blog yang berisi resensi buku. Tentu donk yang seperti ini nggak saya lewatkan :). Saya bertanya langsung kepada Beliau apakah blog saya bisa dimasukkan ke dalam list BBI? Saya tuliskan juga URL blog utama saya. Tak berapa lama mas Tanzil menjawab, blog yang ada dalam daftar BBI khusus untuk blog resensi buku, tidak bercampur dengan tulisan lainnya. Singkat kata, Beliau menyarankan agar saya membuat blog baru agar tulisan resensi buku saya dapat dimasukkan ke dalam daftar BBI. Tanpa membuang waktu, saya segera membuat dan memilah tulisan-tulisan mengenai resensi buku yang ada di blog utama. Dan tentu saja tidak lupa melaporkan ke mas Tanzil alamat blog baru ini.

Kalau diingat saya semangat sekali saat itu. Dalam beberapa hari postingan baru selalu muncul ^-^. Sampai kalau enggak salah, salah seorang teman BBI menyatakan keheranannya karena kemampuan membaca saya yang cepat. Hehehe, bukan kemampuan membaca saya yang cepat tapi karena itu adalah postingan lama yang saya pindah dan edit kembali :).

Tentu menyenangkan bahwa pada akhirnya saya bertemu dengan teman-teman yang menyukai buku. Walaupun saya jarang meninggalkan jejak di blog rekan-rekan namun beberapa postingan resensi buku mereka menjadi andalan saya untuk mencari buku yang bagus.

Bergabung di BBI juga memberikan berkah tersendiri, yaitu dikasi buku-buku gratis dari penerbit untuk diresensi ;-). Berkenalan dengan editor, penerjemah, penerbit, dan teman-teman yang lucu dan baik. Hanya yang bikin nggak tahan, kenapa ya mereka suka banget mengiming-imingi buku? Oya, kayanya itu memang keahlian kami sih :). Selain itu tidak ketinggalan informasi seputar buku. Nah, mengasyikkan, bukan?

Saya tidak punya target berapa buku yang harus dibaca. Saya ingin menikmati bacaan seperti halnya saya suka menulis, semua mengalir saja. Ketika segala terasa hampa, saya tahu itulah saatnya saya harus membaca 🙂

Selamat hari blogger, kawan. Teruslah membaca dan menulis. Menginspirasi dunia melalui tulisan.

Ciuman di bawah Hujan


Judul: Ciuman di bawah Hujan
Penulis: Lan Fang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 359 halaman

Adakah hubungan politik dengan cinta? Ataukah politik itu sejatinya cinta?

Fung Lin bertemu Ari yang politisi itu di sebuah acara pertemuan dengan para TKW. Sedianya pertemuan itu akan dihadiri oleh pejabat, dan Fung Lin bertugas untuk mewawancarai pejabat yang bersangkutan. Waktu bergulir namun Fung Link belum juga menangkap kehadiran pejabat yang dimaksud. Untuk menumpahkan kejengkelannya Fung Lin tanpa sengaja menemukan teman bicara. Laki-laki itu adalah Ari.

Awal perkenalan Fung Lin dengan Ari kemudian membawa kedekatan Fung Lin dengan seorang laki-laki berkaki angin yang bernama Rafi. Rafi adalah teman politisi Ari, laki-laki bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Dan Fung Lin yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.

Ari dan Rafi adalah anggota dewan dengan visi yang sama. Keduanya mencintai dan memperhatikan Fung Lin dengan cara yang berbeda.

Dengan Ari, Fung Lin merasa bisa mengobrol dengan bebas. Seperti Ari yang juga membutuhkan Fung Lin untuk menyadarkan dirinya bahwa ia masih manusia selayaknya. Sebaliknya Rafi, sedikit kaku dan menjaga sikap. Rafi enggan berbicara tentang hal-hal yang dirasanya tak perlu. Seperti itu pula sikapnya dalam dunia kerja yang digelutinya.
“Menurutnya, mimpi tidak bisa diwujudkan hanya dengan bercakap-cakap. Walaupun bercakap-cakap di gedung ini adalah sebagian dari proses untuk mewujudkan mimpi. Tetapi mimpi di sini milik siapa? Mimpi orang-orang kecil atau mimpi para pemain politik?” (halaman 91)

Siapakah yang memenangkan hati Fung Lin? Ari atau Rafi?

Ini bukan kisah cinta biasa, ini adalah cerita mengenai dunia politik. Politik itu juga cinta. Dalam cinta ada strategi yang perlu dimainkan untuk merebut hati orang yang kita kasihi.

Alur cerita di buku ini maju mundur. Berbagai simbol juga banyak digunakan untuk menggambarkan dunia politik. Seperti penggambaran tikus besar dan kecil yang saling menindas satu sama lain dan meninggalkan luka gigitan di tubuh Fung Lin. Atau hadirnya hamster yang kemudian melahirkan 44 anak, namun kemudian keempat puluh anak hamster itu dimakan oleh induknya sendiri. Demi melihat peristiwa menjijikkan itu membuat Fung Lin memutuskan untuk mengumpankan kedua induk hamster itu ke kandang harimau.

“Aku tidak mau ada orang yang memakanmu seperti itu. Aku juga tidak mau kau memakan orang lain. Karena politisi akan selalu saling memakan. Raf, aku tidak suka kau menjadi politisi….” (halaman 351)

Lan Fang melukiskan kisah dalam novel ini dengan diksi yang memikat disertai ungkapan tersembunyi sarat makna. Novel ini bisa menjadi renungan bagi kita untuk melihat dunia politik beserta kegelisahan yang ditimbulkannya, seperti yang diamini Rafi.
“Kalau saja ia memiliki keberanian untuk jujur, ia akan mengatakan bahwa sebenarnya ia juga memiliki ketakutan yang sama. Karena menjadi politisi tidak seindah yang tampak dari luar. Tetapi juga tidak mudah untuk keluar dari lingkarannya.” (halaman 351)

Tofi – Perburuan Bintang Sirius


Judul: Tofi Perburuan Bintan Sirius
Penulis: Prof. Yohanes Surya (bersama Ellen Conny & Sylvia Lim)
Penerbit: PT Kandel
Tebal: 831 halaman

Melihat nama penulis di novel ini mungkin akan membuat kita sedikit mengernyitkan dahi. Betulkah Prof. Yohanes Surya yang fisikawan itu? Jawabannya, tidak salah lagi :). Ketika mengetahui Beliau menulis novel berlatar sains dan akan memilih beberapa orang untuk menjadi first reader, maka saya tidak melewatkan kesempatan berharga ini. Saya langsung teringat novel sains anak-anak dari Stephen dan Lucy Hawking yang begitu memikat. Ketika itu saya pernah berharap ada novel seperti itu dibuat oleh ilmuwan Indonesia, dan harapan itu terwujud dengan adanya novel karya Prof. Yohanes Surya. Tidak berlebihan bukan, jika saya begitu antusias? 🙂

Baiklah, saya mulai saja review-nya.

Tofi adalah pemuda putra ilmuwan pemenang nobel. Pemuda ganteng dan jago basket ini juga ilmuwan muda yang sangat populer di Odyssa College. Namun ketenaran ayahnya yang pemenang nobel justru menjadikan pemuda cerdas ini menggalau. Saingan berat Tofi adalah Jupiter, putra tunggal walikota Pulau Kencana, pulau tempat dimana mereka semua tinggal. Ayah Jupiter adalah penyandang dana terbesar di Odyssa College.

Jupiter adalah pemuda jenius yang sangat terobsesi dengan kekuasaan. Ia seringkali mengganggu anak-anak yang lebih lemah dan teman-teman Tofi demi memancing keributan dengan Tofi. Pada sebuah acara di malam pameran sains, Jupiter menjebak Tofi dengan percobaan fisika bikinannya dan menyebabkan ledakan besar serta mencelakai orang lain. Ayah Tofi marah besar dan tidak memercayai alasan Tofi. Kesalahpahaman yang terjadi membuat Tofi berangan-angan untuk melepaskan minatnya pada fisika dan melepaskan bayang-bayang kepopuleran ayahnya.

“Newton bukan anak seorang ilmuwan. Tapi pernahkah ia peduli dengan label anak petani miskin? Padahal pada masa itu, status miskin sering disamakan dengan kebodohan? Tidak kan? Newton tahu ia punya identitas. Ia punya panggilan. Ia harus memberikan sesuatu bagi dunia selama ia hidup..” (halaman 31)

Persaingan di antara Tofi dan Jupiter semakin memuncak dengan munculnya Miranda, gadis cantik dan cerdas, yang kelak menggantikan posisi Jupiter sebagai pemimpin di klub Fosfor, klub ilmuwan remaja yang sangat populer di Odyssa College. Demi melepaskan ketergantungan klub Fosfor dari kekuasaan Jupiter, maka Tofi bersama beberapa kawannya mengikuti perlombaan Science to Generation (STG).

STG diikuti oleh banyak wakil sekolah dari seluruh Indonesia dan bertempat di Bandung. Di sini beberapa perwakilan daerah akan bersaing untuk merebut kemenangan. Di antara persaingan, kerja sama, perselisihan dan persahabatan, tak lupa dibumbui oleh cinta lokasi ternyata acara Science to Generation ini dilatarbelakangi oleh sebuah konspirasi misterius. Berawal dari gosip hantu, dan kutukan bintang serius, anak-anak ini terjebak dalam laboratorium horor dan berhadapan dengan dua virion terbaik dari Black Schole, sindikat paling berbahaya di dunia. Siapakah mereka? Dan Apa tujuan mereka datang? Dan apa hubungan itu semua dengan ayah Tofi? Berhasil kah mereka keluar dari laboratorium yang berbahaya tersebut?

**
Tofi, Perburuan Bintang Sirius ini adalah novel pertama karangan Prof.Yohanes Surya. Novel ini ditujukan untuk remaja atau mereka yang menyukai sains sekaligus petualangan. Beberapa tokoh dalam buku ini dinamai dengan istilah-istilah sains, seperti Metana Hidro, nama salah satu unsur kimia yang dapat menyebarkan bau. Sesuai namanya, Metana adalah teman sekelas Miranda yang menjadi sekretaris Klub Fosfor dan dijuluki oleh teman-temannya sebagai Ratu Gosip. Miranda sendiri adalah nama satelit planet Uranus, planet yang letaknya jauh dari matahari, dingin dan pekat. Menghadapi rayuan maut Jupiter, Miranda bisa berubah sedingin es. Seperti adegan yang ada di halaman 62, ketika Jupiter melancarkan rayuannya kepada Miranda.
“Kau tahu kan, Vol? Suhu satelit Miranda itu bisa mencapai minus 187 derajat,” ujar Metana sambil memilin rambut sebahunya.”

Candaan yang ada dalam buku ini cerdas dengan aroma sains-nya. Untuk kita yang awam, buku ini dapat memenuhi keingintahuan kita mengenai sains dengan cara yang sangat menyenangkan. Tidak hanya itu, melalui referensi yang banyak dari buku ini, rasa penasaran kita pun dengan mudah dibangkitkan. Seperti saya misalnya, ketika buku ini menyinggung tentang Voyager II maka saya akan membrowing dan mencari tahu mengenai pesawat antariksa tak berawak yang dikirim ke planet Uranus ini, dan banyak informasi berharga lainnya yang dikemas dengan menarik-, yang kemudian membuat saya jadi berlama-lama membacai artikel tersebut :).

Tokoh-tokoh ilmuwan dari penemuan dan biografi mereka pun menjadi topik perbincangan yang menarik, juga sejarah, astronomi, budaya, sampai fashion. Membaca buku ini membentangkan fantasi saya dari Carl Sagan dengan astronominya, Marrie Curie (ilmuwan wanita kesayangan saya. -Salaman dulu sama Cheryl :)- ) dengan radiumnya sampai Harry Potter dengan trik sihirnya. Tak lupa kisah petualangan ala detektif Conan dan Sherlock Holmes. Saya pun seringkali dibuat terpingkal-pingkal dengan gaya candaan para tokoh di buku ini.

Nyata bahwa penulisnya pastilah seorang yang sangat suka membaca berbagai genre buku. Tidak seperti bayangan orang pada umumnya yang menyangka seorang ilmuwan adalah mereka yang hanya berkutat pada bidang ilmunya, berkaca mata dan begitu membosankan. Percayalah, novel ini mementahkan itu semua.

Salut dengan Prof. Yohanes Surya yang berhasil meramu cerita ini dengan sangat menarik. Barangkali karena ini adalah versi draf masih banyak saya temui kesalahan ketik yang cukup mengganggu. Mudah-mudahan versi aslinya tidak ada lagi. Satu permintaan jika diperkenankan adegan pertarungannya mungkin bisa diperhalus sedikit penggambarannya.

Dan tentu saja, saya dengan senang hati menunggu kiriman lanjutan kisah Tofi, yang kabarnya dibuat menjadi 3 seri :).

Terima kasih untuk Prof. Yohanes Surya serta metode gasing yang telah memercayai saya untuk menjadi first reader novel mereka yang pertama dan sungguh sangat keren.

~ Apa yang harus dimiliki seorang ilmuwan? Heart and Trust! Milikilah hati dan kepercayaan. Tanpa hati, kau akan seperti lampu tanpa cahaya yang tak dapat menyentuh orang lain. Tanpa kepercayaan, kau akan berdiri sendirian dan kesepian. Bagaimana mungkin mengubah dunia tanpa kerja tim?” (halaman 179)

Akar Pule


Judul: Akar Pule
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Grasindo. Pt Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tebal: 145

“Pada akhirnya aku percaya, aku sendiri yang harus bertanggung jawab atas hidupku.”

Saring adalah seorang wanita yang meninggalkan kampung halamannya demi menghindari kesialan yang menimpa desa itu. Kisah Ayah dan Ibunya adalah legenda yang tiada habis dibicarakan. Setiap bencana dan musibah yang terjadi selalu dikaitkan warga dengan riwayat Kondra, Ayah Saring. Kepergian Saring dari desa diyakini sebagai sebuah keputusan terbaik, karena tidak akan ada lagi darah kesialan yang mengobrak-abrik desa itu.

Akar Pule adalah buku kumpulan cerita pendek yang berisi 10 kisah. Kesemuanya mengenai perempuan. Oka Rusmini, sastrawati Bali ini dikenal sebagai penulis yang karya-karyanya banyak mengupas mengenai keberadaan perempuan serta pendobrak kekakuan adat (dari sini).

Dalam kisah Pastu melalui tokoh Cenana, Oka menanyakan arti cinta dan kebahagiaan. Cok Ratih, sahabat yang disayanginya rela meninggalkan kebangsawanannya dan memutuskan hubungan baik dengan keluarga besarnya untuk menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Namun pengorbanan besar yang diberikan Cok Ratih atas nama cinta tidak mendapatkan balasan yang seimbang. Sahabatnya itu mati bunuh diri sementara suaminya entah di mana. Desa adat memberinya sanksi, mayatnya tak boleh diaben karena menurut konsep agama, Cok Ratih mati dengan cara yang salah, mati bunuh diri.
“Apakah Tuhan tahu? Apa alasannya sahabatku yang riang dan bersemangat itu menjerat leher dan mengiris nadinya? Apakah Tuhan mau mengerti dan menerima alasannya?”

“Katanya, kehidupan perempuan baru disebut sempurna jika sudah kawin. Perkawinan membuat perempuan sadar arti menjadi istri, juga arti menjadi Ibu. Tapi kalau nyatanya kawin malah bikin susah dan rumit, apakah perkawinan masih bisa dijadikan alasan bahwa pohon kebahagiaan itu hanya bisa ditemukan di dalam rumah perkawinan?” (halaman 93)

Dalam Sawa, penulis mengisahkan pertentangan bathin yang dialami oleh seorang wanita bernama Ni Luh Putu Pudakwangi. Di usianya yang ketiga puluh lima tahun dan di tengah kegamangan rumah perkawinannya ia bertemu dengan seorang lelaki yang mencintainya. Pudak berada di dalam kebimbangan, di antara perasaan bersalah dan keinginan untuk menyambut cinta yang ditawarkan lelaki itu.
“Salahkah cinta yang datang selarut ini?” (halaman 84)

“Mencintai itu bukan dosa. Sebuah pertemuan adalah hal biasa. Jadi tidak biasa ketika pertemuan itu meninggalkan luka.” (halaman 76)

Oka juga menggugat perlakuan masyarakat serta ketidakadilan hukum terhadap pemerkosa anak-anak, seperti ada dalam kisah Bunga.
Bunga, gadis kecil cantik berumur 7 tahun. Bunga suka menari. Ibu Bunga adalah pelacur dan Ayahnya tidak diketahui keberadaannya. Bunga berteman dengan tiga laki-laki, salah satunya Gus Putu yang berusia 10 tahun. Ibu Gus Putu tidak menyukai jika putranya bermain dengan Bunga. Suatu ketika Bunga ditemukan mati terapung di sungai. Vagina gadis kecil itu sobek dan terus mengeluarkan darah.

“…Dia memang terkutuk. Makanya mati pun dia tetap terkutuk!” Perempuan itu menggeram penuh dendam.” (halaman 121)

Pelaku pemerkosa Bunga, sejumlah laki-laki dewasa dihukum hanya 5 tahun penjara. Bisa jadi pelaku pemerkosa itu hanya meringkuk 2 tahun atau 3 tahun jika ada potongan hukum penjara.

“Gus Putu meringsut, tak ada perempuan yang berdemo untuk membuat keputusan: hukum mati para pemerkosa anak-anak!”.

Oka, penulis yang begitu jujur menyuarakan hati perempuan. Membaca tulisan Oka terkadang menimbulkan getir dan ngilu, sekaligus kelembutan yang samar pada sisi kewanitaan kita sebagai makhluk bernama perempuan.

Matinya Seorang Buruh Kecil


Judul asli: Chekhov The Early Stories
Penulis: Anton Chekhov
Penerbit: Melibas
Tebal: 164

Mengutip catatan dari penerbit: “Tapi cerpen-cerpen Chekhov unik, selain meng-“KO” kan, ia juga bisa membuat pembacanya tersenyum simpul dan senang. Tanpa beban, tapi membuat penasaran, juga mengejutkan.”

Nukilan di atas ada benarnya. Ketiga belas cerita pendek dari Chekhov ini memiliki ending yang mengejutkan. Cerita-cerita Chekhov juga lekat pada realitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Ditulis dalam bahasa sederhana yang dipenuhi dengan unsur humor dan olok-olok, cerita-cerita dalam buku ini seperti menelanjangi sifat asli manusia.

Seperti kisah Di kota Ada Surga, yang menceritakan pengalaman kepala biara selama berada di luar tembok biara demi niat awalnya untuk membantu mereka yang tersesat. Ia menggambarkan semua rayuan iblis, cantik moleknya dosa, menggiurkannya tubuh perempuan dihadapan para rahib yang terpaku di tempatnya. Mereka menelan setiap kata yang diucapkan kepala biara dan hampir-hampir tak bisa bernapas karena keranjingan. Dan ketika esok harinya sang kepala biara keluar dari kamarnya, ia tak melihat seorang rahib pun tertinggal di biara. Mereka semua lari ke kota.

Atau cerita Peristiwa di Pengadilan, ketika seorang pengacara ternama harus membela terdakwa yang berdasarkan bukti dan fakta-fakta telah dinyatakan bersalah. Akhir ceritanya sungguh tak terkira. Satire. Sungguh membuktikan kata-kata si penulis di awal cerita yang menggambarkan bahwa sang tokoh, si pengacara, adalah orang yang penuh kharisma dan disegani oleh banyak orang.

Atau cerita Catatan Harian si Pemberang. Si tokoh kita ini yang sekilas tampak anti sosial, dan lebih menyukai mengamati gerhana matahari serta pemikir yang dalam, tetap berupaya meluangkan waktunya untuk tidak mengecewakan orang-orang di dalam lingkungan kecil hidupnya. Sekalipun sesungguhnya dalam hati ia menyesali dan membenci ketidakberdayaan dirinya sendiri. Di sini Chekhov begitu manis sekaligus menyayat menampilkan sisi manusiawi dari kita, manusia.

Semua cerita di buku ini memang layak difavoritkan. Kesemua kisahnya memiliki keunikan dan kedalaman pesan yang berbeda namun menyentuh. Tapi jika harus memilih satu cerita, sepertinya saya memilih Moronoff, Pak Inspektur Polisi. Gambaran dalam cerita ini adalah fenomena yang sampai detik ini masih banyak kita temukan. Mereka yang gagap dalam mengambil keputusan ketika harus berbenturan dengan ‘orang-orang (yang mereka anggap) penting’. Barangkali kita pun pernah mengalami situasi seperti yang digambarkan dalam cerita Moronoff itu dan pada saat itu kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, di mana hati nurani dan kepentingan lainnya saling bertarung.

Terima kasih buat Jamal Kutubi, yang salah satu review bukunya di sini juga membuat saya penasaran membaca bukunya Umberto Eco tentang Foucault’s Pendulum. Karena bulan biru aku bisa tahu ada buku sebagus ini :).

Sonata Musim Kelima


Judul: Sonata Musim Kelima
Penulis: Lan Fang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 151

“Kemudian seperti biasa kamu berlalu. Tetap terburu-buru. Aku tidak tahu apakah kamu sedang memburu atau sedang diburu hujan. Itu tidak penting lagi.
Tahukah kamu kalau aku ingin menyampaikan ada yang lebih penting?
Bila kamu memeluk hujan, itu aku. Bila kamu menyentuh dingin, itu aku. Bila kamu mencium angin, itu aku. Maka kamu adalah tanah yang begitu tabah menadah hujan.
Kurasa ini paling penting.” (halaman 151)

Kalimat di atas adalah kutipan dari salah satu kumpulan cerpen yang ada di buku Sonata Musim Kelima. Mengapa bagian ini yang saya kutip? Hem, entah. Mungkin karena kita, manusia, sering terjebak oleh rutinitas yang membuat kita tidak lagi bisa merasa?

Kelima belas cerpen yang ada di buku ini bercerita tentang cinta. Cinta yang tak bersatu dan perpisahan menjadi pilihan Lan Fang, yang kemudian mengemas cerita-ceritanya dalam bahasa yang puitis.

Kisah Mahabrata menjadi inspirasi bagi Lan Fang di cerpennya yang berjudul Sri Kresna. Ada juga kisah cinta dari legenda China, siluman ular putih.

Saya suka cerita tukang dongeng dan tukang mimpi. Suatu saat tukang mimpi kehilangan pangeran negeri mimpinya, pangeran bermata bintang. Nama pangeran itu Bisma, yang dicintai oleh Amba setengah mati. Namun Bisma memendam gairahnya sendiri walau hatinya sepenuhnya hanya untuk Amba, wanita yang ia cintai.

“Aku ingin memeluknya, menciumnya dan menghirupnya. Hanya aku dan dia.
Tetapi kenapa kau diam saja?
Karena cinta semakin terdengar di dalam kediamannya.” (halaman 146)

Atau ini, cerita tentang si pianis buta dan penulis tuli. Si penulis tuli tidak dapat mendengarkan denting piano indah dari si pianis dan sang pianis tidak dapat membaca tulisan si penulis. Kedalaman arti cinta begitu terasa pada larik berikut ini.
“Bukankah di dalam cinta, kebungkaman lebih berarti daripada percakapan?” (halaman 104)

Ini adalah kali pertama saya membaca novel Lan Fang. Saya terpesona dengan setiap rangkaian kalimat yang ditulisnya, bertabur puisi dan memiliki makna yang dalam. Sesekali Lan Fang juga menyisipkan sajak dari penyair Sapardi Djoko Damono, salah satu penyair kesukaan saya.

Walau kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini bernuansa kelabu namun pencarian arti cinta sejati terasa lebih menggugah. Dalam.

Kontak


Judul asli: Contact
Penulis: Carl Sagan
Alih bahasa: Andang H Sutopo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 591

Apakah sebenarnya kita hidup sendiri di ruang angkasa yang hingar bingar ini? Benar-benar sendiri?

Sejak lama manusia bertanya-tanya dan mencari tahu mengenai keberadaan makhluk hidup lain di luar bumi. Kita begitu rindu ingin bertemu mereka. Khayalan mengenai kehidupan makhluk-makhluk asing di luar tata surya kita menjadi kisah yang menarik untuk dibukukan atau dijadikan film. Salah satunya ini: Kontak.

Setelah menamatkan gelar doktornya, Ellie mendapatkan pekerjaan sebagai peneliti pendamping di observatorium Arecibo, sebuah mangkuk raksasa bergaris tengah 350 meter di lembah di kaki bukit bagian barat laut Puerto Rico, teleskop radio terbesar di planet bumi. Di sini Ellie memperoleh kesempatan untuk melakukan observasi sebanyak mungkin meneliti benda-benda langit, planet-planet di dalam tata surya, bintang-bintang, pusat galaksi, pulsar dan quasar.

Minat Ellie yang besar pada ilmu pengetahuan menjadi kendala bagi kehidupan cintanya. Demikiam juga hubungan dengan rekan-rekan sekerjanya yang tidak selalu mulus disebabkan Ellie adalah ilmuwan astronom wanita diantara kebanyakan kaum lelaki.

Sejak kecil Ellie terpesona pada bintang-bintang. Ia menyukai matematika, fisika, dan teknik. Kelak ia menyibukkan diri dalam sebuah projek mencari peradaban di luar bumi.

Dalam satu temuan yang diprasangkai sebagai pesan dari planet lain, Ellie terpaksa harus berurusan dengan seorang rohaniawan, Mr. Rankin, yang mengejar keyakinannya terhadap Tuhan.

“Apa pun yang tak kau mengerti, Mr. Rankin, kaukaitkan dengan Tuhan. Tuhan bagimu adalah tempat kau menyapu semua misteri dunia, semua tantangan terhadap kecerdasanmu. Kaukunci pikiranmu, dan dengan mudah kau katakan bahwa Tuhan yang melakukannya.” (halaman 231).

Melalui tokoh Ellie, Sagan menyikapi keyakinan-keyakinan terhadap agama yang merugikan ilmu pengetahuan.

Saya ingat ketika percobaan LHC (Large Hadron Collider) berhasil menemukan partikel yang dicari. Pencarian partikel high boson sempat mengundang banyak komentar negatif. Apakah kemudian berhasil ditemukannya partikel ini menandakan berakhirnya pencarian kita akan keberadaan Tuhan? Karena rahasia alam semesta telah berakhir?

Penemuan baru apapun itu semustinya disikapi secara bijak. Tidak ada ciptaan-Nya yang sia-sia. Setiap penemuan baru akan melahirkan penemuan baru lainnya. Dan sungguh rahasia alam semesta sangatlah luas. Untuk itulah Tuhan ingin kita terus belajar, bertanya dan tidak menutup diri terhadap berbagai pengetahuan. Tuhan memperlihatkan sedikit rahasia-Nya yang ingin Ia bagi dengan kita. Namun Ia juga menyimpan bagian lain yang tetap menjadi rahasia-Nya.

Dan pada suatu waktu, kesadaran spiritual manusia pun bisa tumbuh melalui pencarian ilmu pengetahuan.

“Di dalam struktur ruang dan di dalam sifat-sifat benda, seperti di dalam hasil karya seni agung, tertulis kecil-kecil tanda tangan sang artis. Berdiri di atas manusia, dewa, iblis dan makhluk-makhluk lain, termasuk para Penjaga galaksi dan para pembuat terowongan, Dia telah ada lebih dahulu sebelum terciptanya alam semesta.” (halaman 588)

Maka, apakah sia-sia jika pencarian kita akan ‘saudara’ di luar bumi tidak mendatangkan hasil seperti yang kita harapkan? Inilah jawabannya.

“Kalau kita tidak menemukan apa-apa, setidaknya kita menemukan bahwa kehidupan di Bumi ini sesuatu yang unik, yang tidak ada duanya di seluruh alam semesta, sehingga merupakan sesuatu yang sangat tak ternilai. Dan pengetahuan akan kenyataan itu pun merupakan sesuatu yang tak ternilai.” (halaman 87)

Sekilas mengenai Carl Sagan (dikutip dari sini, dengan sedikit penambahan).

Carl Edward Sagan (lahir di Brooklyn, New York,Amerika Serikat, 9 November 1934 – meninggal di Seattle, Washington, AS, 20 Desember 1996 pada umur 62 tahun) adalah seorang astronom Amerika Serikat dan dikenal sebagai orang yang gigih memopulerkan sains. Ia memelopori disiplin ilmu eksobiologi dan penggagas upaya pencarian makhluk cerdas dari luar angkasa (Search for ExtraTerrestrial Intelligence/SETI). Ia dikenal di seluruh dunia karena buku-buku best-seller dengan tema sains populer yang ia tulis. Salah satu bukunya yang populer adalah Kosmos.

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran


Judul asli: The Curious Incident of the Dog in the Night-time
Penulis: Mark Haddon
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal: 311

Christopher Boone adalah seorang bocah laki-laki berusia lima belas tahun dan penyandang sindrom Asperger. Asperger adalah sejenis autisme. Christopher menyukai matematika dan komputer tapi canggung berhubungan dengan orang lain. Ia anak yang pintar. Tapi, mungkin Christopher akan menyangkal jika ada yang menyebutnya pintar. Menurutnya, ia hanya suka memperhatikan keadaan sekeliling. Dengan demikian ia lebih jeli dibanding orang lain pada umumnya. Christopher juga senang segala sesuatu berlangsung teratur sehingga ia merasa nyaman. Satu-satunya cara agar hal-hal berlangsung teratur adalah berpikir logis, terutama jika hal-hal itu berhubungan atau menyangkut angka-angka dan argumen. Itulah sebabnya Christopher sangat pandai dalam berhitung.

Suatu hari Christopher mendapati anjing tetangganya mati. Kematian misterius anjing itu kemudian membawa Christopher menempuh perjalanan menakutkan yang akan menjungkirbalikkan seluruh dunianya.

Tepat kiranya kalau buku ini ada dalam daftar “1001 Books You Must Read Before You Die”, yang link-nya ada di sini. Kisah dalam buku ini sungguh mengharu biru perasaan. Anak-anak penderita asperger seperti Christopher tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan emosi. Mereka tidak suka disentuh dan tidak mau bertatapan ketika berkomunikasi. Mereka menyibukkan diri dengan hitungan dan bilangan-bilangan rumit untuk menenangkan diri ketika mereka merasa cemas dan ketakutan. Melalui tokoh Christopher, kita diajak untuk memahami bagaimana mereka berpikir, melihat dan memandang sesuatu dari dunia mereka yang tampak hening.

Mengutip kata-kata penerjemah buku ini, Hendarto Setiadi “Insiden anjing..bukan buku biasa..gaya bahasanya sederhana, bahkan berkesan bersahaja…Namun kesan pertama itu menyesatkan. Di balik kalimat-kalimat bersahaja itu tersimpan kisah yang luar biasa, kisah yang jenaka tetapi sekaligus getir dan mengharukan.”

Banyak kalimat-kalimat bersahaja yang pantas dikutip dalam buku ini. Salah satu yang saya suka adalah ini.

“Dan kalau kau memandang langit kau tahu bahwa apa yang kau lihat adalah bintang-bintang yang berjarak ratusan dan ribuan tahun cahaya darimu. Dan beberapa bintang bahkan sudah tidak ada sebab cahaya bintang-bintang itu sudah mati, atau sudah meledak dan berubah menjadi bintang kerdil merah. Dan itu semua membuat kau merasa begitu kecil, dan kalau kau mempunyai kesulitan dalam hidupmu maka ada baiknya kalau masalah itu dianggap sepele atau begitu tak berarti sehingga tidak perlu dipersoalkan ketika kau memperhitungkan sesuatu.” (halaman 179)

Pengantin Surga


Judul asli: The Story of Layla and Majnun
Penulis: Nizami Ganjavi
Penerjemah: Ali Nur Zaman
Penyunting: Salahuddien Gz
Penerbit: Dolphin
Tebal: 250

“Roh agung yang berbicara tentang perhelatan termanis dari cinta yang terdalam, itulah Nizami.” ~ Goethe

“Karya Nizami adalah selubung yang menirai kebenaran hakiki dan pengetahuan ilahi.” ~ Abdurrahman Jami

Pengantin Surga, yang naskah aslinya berjudul Layli o Majnun adalah cinta klasik turun temurun yang dikisahkan di tanah Arab sejak masa dinasti Umayyah berkuasa.

Alkisah adalah seorang penguasa Badui bernama Syed Omri yang berkuasa atas Bani Amir. Ia memiliki seorang putra yang telah lama dinantinya. Anak itu bernama Qays. Qays tumbuh menjadi anak yang rupawan dan menjadi salah satu murid terbaik di sekolahnya. Qays pun cepat menguasai seni baca tulis. Apapun yang keluar dari mulutnya bak mutiara. Indah didengar.

Suatu hari sekolah itu kedatangan murid baru, seorang perempuan yang jelita. Kecantikannya memabukkan bagi siapapun yang melihatnya, tak terkecuali Qays.

Qays dan Layla-nama anak perempuan itu-kemudian saling tertarik. Kedekatan mereka kemudian diketahui oleh guru, teman dan orang tua Layla. Orang tua Layla membawa gadis itu pulang ke rumah dan mengurungnya. Sejak itu Qays tidak dapat lagi bertemu dan melihat Layla. Qays menjadi gila oleh karena kerinduan dan cintanya pada Layla. Sementara Layla hanya memendam kesedihannya sendiri.

Hidup Qays menjadi tidak karu-karuan. Ia larut dalam pemujaannya terhadap kekasih hatinya. Ia melantunkan syair-syair cinta dan kerinduan untuk Layla. Syair-syair indah itu membuat siapapun yang mendengarnya begitu tersentuh. Mereka mencerap dalam-dalam dan mendendangkannya kembali. Tak jarang dari mereka kemudian menjadi pecinta.

Qays tak lagi peduli pada sekitarnya. Segenap jiwa dan hatinya hanya dipenuhi oleh Layla seorang. Karena itu kemudian orang-orang memanggilnya dengan majnun (dalam bahasa arab artinya gila). Segala upaya Ayah, keluarga, dan teman-temannya agar Qays melupakan Layla tidak berhasil. Sebaliknya, cintanya semakin kuat. Ia bahkan tidak menghiraukan kesedihan dirinya sendiri.

“Seorang manusia yang dilanda cinta tak akan mencemaskan hidupnya. Manusia yang mencari kekasihnya tak akan jeri dengan dunia sama sekali. Di manakah pedang itu? Biarlah pedang itu melukaiku sebagaimana awan menelan rembulanku. Jiwaku telah jatuh ke dalam pelukan api. Sekalipun harus sakit terbakar di dalamnya, aku tidaklah memedulikannya.” (hal 55).

Kedua sejoli itu bercakap dengan alam. Syair-syair Qays untuk Layla didendangkan oleh banyak orang. Layla mendengar syair-syair itu dan mengirimkan balasan melalui carik-carik kertas yang ia tulis dan membiarkan angin menyampaikannya untuk Qays.

“Aku tetap milikmu, betapapun jauh dirimu!
Deritamu, bila kau bersedih, juga akan menyedihkanku.
Tiada tiupan angin yang tak menghantarkan bau tubuhmu.
Semua burung seperti memanggil-manggil namamu.
Setiap kenangan yang meninggalkan jejaknya bersamaku,
Bertahan selamanya, seakan menjadi bagian dari diriku.” (hal 102).

Waktu berlalu dan Layla kemudian dinikahkan dengan Ibnu Salam. Namun sampai akhir hayatnya, Layla tetap setia kepada Qays. Sementara itu Qays kehilangan unsur kemanusiaan dalam dirinya. Ia berkawan dengan binatang-binatang. Mereka pun menjaga dan melindunginya. Jiwa Qays sepenuhnya lebur ke dalam bayang-bayang kekasihnya.

“Bila kau tahu hakikat seorang pecinta, kau akan menyadari bahwa ketunggalan harus meniadakan dirinya, untuk musnah ke dalam pelukan kekasihnya.” (hal 146)

**
Kisah Layla dan Majnun ini oleh beberapa orang diyakini bersumber dari kisah nyata pemuda arab bernama Qays. Ada banyak versi. Namun semuanya memiliki kemiripan, yaitu Qays menjadi gila oleh karena cintanya pada Layla.

Cinta dan kerinduan pada Layla melarutkan Qays pada kesedihan. Namun sesungguhnya kesedihan itu memberi Qays jalan menuju kebebasan, membebaskannya dari belengu keakuan, yaitu ketika ia lebur dalam bayang kekasihnya.

Kisah Layla dan Majnun ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tidak sekedar kisah cinta antara sepasang manusia, namun juga tingkatan cinta yang lebih tinggi, yaitu cinta kepada Sang Pencipta. Bagi sufi, tokoh Majnun mewakili gambaran seorang pecinta. Seorang hamba yang mencari Tuhan-Nya.

Dalam kaitannya dengan sufisme, saya teringat pada sebuah buku “Indahnya Menjadi Sufi”, yang memaparkan tentang ekstatik. Ekstatik adalah model penyatuan dengan mensyaratkan sebuah kunjungan khusus yang mengangkat jiwa keluar dari badan-dan membawanya menuju yang lebih tinggi, yakni sebuah tingkat kesadaran yang berbeda. Pengalaman ini bisa berlangsung begitu hebat, sangat emosional sehingga mengirimkan badan menuju ledakan-ledakan. Mereka mengistilahkan dengan sebutan ‘pemabuk spiritual’, sebab mabuk ketuhanan memisahkan mereka dari dunia normal. (Seperti yang terjadi pada tokoh Majnun dalam cerita di atas).

Majnun adalah representasi dari kelas sufi yang paling besar, yaitu cinta, ketika tokoh Qays menarik apa yang barangkali menjadi emosi yang paling kuat dalam hati manusia meskipun banyak manusia yang menahannya.

Kisah yang indah dan menggugah, meniupkan letupan-letupan menuju cinta yang hakiki, Tuhan Sang Pencipta.

Sekilas mengenai penulis (dikutip dari buku Pengantin Surga).

dokumentasi: dari sini.
Nizami Ganjavi (1141-1209) adalah pujangga terbesar dalam khazanah sastra Persia, dianggap sebagai penulis yang membawa gaya tutur realistis ke dalam kisah epik di Persia. Lahir di Ganja, salah satu kota besar di Azerbaijan, bagian Kesultanan Seljuk, ia menghabiskan seluruh masa hidupnya di sana. Karya-karyanya tak hanya dipengaruhi oleh sastra Arab dan Persia, baik tradisi lisan maupun tulisan, melainkan juga oleh matematika, astrologi, kimia, farmasi, ilmu tafsir, teori dan hukum Islam, sejarah, filsafat, mistisisme, musik, dan seni visual. Jejak-jejak Nizami sangat terasa dalam kesusastraan Islam. Karya tulisnya mempengaruhi perkembangan sastra Persia, Arab, Turki, Kurdi, Urdu, juga Nusantara.

Pengantin Surga (yang judul aslinya Layli o Majnun) adalah karyanya yang paling tersohor. Karyanya yang lain adalah Makhzan Al-Asrar (Gudang Rahasia), Haft Peykar (Tujuh Bidadari), dan Eskandarnameh (Kitab Iskandar).