Kisah Unik Ilmuwan Dunia

Cover-Ilmuwan-v02
Judul: Kisah Unik Ilmuwan Dunia
Penulis: Kuncoro Wastuwibowo
Penerbit: Qbaca
Tebal: 90 (versi digital dengan pengaturan huruf sangat besar)

Siapa penemu telefon? Sebelum menjawabnya dengan Alexander Graham Bell, yuk baca buku ini dulu πŸ™‚

Ilmuwan identik dengan rumus dan bahasan yang rumit. Bagaimana pribadi dan keseharian mereka ya? Apakah serumit dan seunik aper-paper ilmiah mereka? Yuk kita cari tahu sisi lain dari para ilmuwan dunia ini. Siapa saja mereka? Inilah diantaranya:

1. Michael Faraday
Ilmuwan eksperimental terbesar abad 19. Penulis buku ini memberi istilah eksperimental karena penemuan-penemuan Faraday tercipta dari berbagai eksperimen fisika dan kimia yang ia lakukan. Uniknya, Faraday bukanlah matematikawan dan ia tidak memahami kalkulus. Beberapa penemuan Faraday yang paling penting adalah konsep garis gaya, mengenalkan istilah medan dan sekaligus penemu generator dan motor listrik.

Formulasi Faraday kemudian disusun oleh Maxwell yang kemudian dikenal dengan Persamaan Maxwell. Di dalam persamaan itu Maxwell juga memasukkan formulasi dari Coulomb dan Ampere. Faraday yang selalu jujur mengucapkan terima kasih dan penghargaan serta kekagumannya kepada Maxwell, dengan menambahkan kalimat berikut: “Tapi di sisi lain, saya tidak dapat memahami persamaan Anda sedikitpun.”

Atas penemuannya, kerajaan memberikan gelar Sir dan mengangkat Faraday menjadi Presiden Royal Society. Namun Faraday yang bersahaja menolak keduanya. Keren ya? πŸ™‚

2. Stephen Hawking
Ketika mengetahui dirinya divonis penyakit ALS dan hidupnya tidak akan bertahan lama, musik Wagner menjadi teman yang tepat bagi Hawking. Menurut Hawking, musik Wagner, khususnya Die WalkΓΌre adalah musik yang paling gelap sekaligus paling megah.

Hawking mendalami fisika teoretis, khususnya kosmologi dan gravitasi kuantum. Salah satu kutipan yang menarik adalah:
“If we do discover a complete theory of the universe, it should in time be understandable in broad principle by everyone, not just a few scientists. Then we shall all – philosophers, scientists and just ordinary people – be able to take part in the discussion of why it is that we and the universe exist. If we find the answer to that, it would be the ultimate triumph of human reason. For then, we would know the mind of God.”

Dan yang paling menarik adalah jawaban Hawking ketika ia diwawancarai oleh Larry King.
King: What is that inner thing that keeps you going?
Hawking: Curiosity

3. Feynman
Ilmuwan satu ini paling jahil. Suatu masa ketika kemandegan melanda bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya, Feynman melakukan kegiatan untuk kesenangan pribadi, seperti: membaca 1001 malam, lempar-lemparan piring di kafetaria dan menghitung formulasi fisika. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah kecepatan putar logo Cornel di piring yang dilempar di udara, waktu itu piring bergelincir di udara. Feynman membuat perhitungan. Dari keisengan ini kemudian Feynman menmperoleh hadiah nobel Fisika, untuk formulasi elektrodinamika kuantum.

Ada banyak kisah ilmuwan lainnya yang menarik. Lucunya, atau tampaknya beberapa ilmuwan memiliki kesamaan yang serupa. Salah satunya adalah pelupa. Atau lebih tepatnya melupakan hal-hal yang tidak mereka anggap penting, karena mungkin terlalu banyak yang dipikirkan. Apa yang dipikirkan? Tak lain rumus-rumus itu tentu saja :).

Pribadi mereka yang canggung kerap kali menjadi masalah bagi pergaulan sosial di antara orang kebanyakan. Namun mungkin itulah kelebihan sekaligus keunikan para ilmuwan itu. Buku ini sangat tepat bagi mereka yang ingin mengetahui sisi lain dari para ilmuwan ternama beserta penemuan keren mereka. Barangkali kisah sederhana yang ditulis secara ringkas ini dapat memberi kita pengetahuan baru.

Oya, buku ini dapat diunduh secara gratis melalui aplikasi Qbaca. Tidak ada versi cetaknya. Untuk yang ingin mengetahui mengenai Qbaca, silakan lihat di sini.
Penulis buku dapat ditemui melalui blognya di sini.

A Street Cat Named Bob

bob cat FA.cdr
Judul: A Street Cat Named Bob
Penulis: James Bowen
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penerbit: Serambi
Tebal: 317

“Ketika melihatku bersama kucingku, orang-orang memandangku dengan lebih lembut, yang membuatku merasa dimanusiakan. Terutama karena aku selama ini merasa sudah tidak dianggap sebagai manusia. Entah bagaimana, keberadaan kucing itu membuatku mendapatkan kembali identitasku. Setelah kehilangan identitas sebagai seseorang, aku sekarang merasa di-manusia-kan kembali.” (halaman 104).

Ini kisah tentang persahabatan seekor kucing dan pemuda pengamen di kota London. James, nama pria itu menemukan Bob, seekor kucing jantan di koridor pintu apartemennya. James menolong Bob, yang saat itu terluka. Setelah beberapa kali berusaha untuk melepaskan kucing itu agar pergi dan gagal, James kemudian memutuskan untuk mengadopsi Bob. Walau awalnya dipenuhi oleh keraguan karena James sendiri sedang dalam masa penyembuhan dari ketergantungan terhadap narkoba, kehadiran Bob ternyata mampu membuat James menata hidupnya kembali. Kehadiran Bob membuat James mulai memperhatikan dirinya. Ia bertekad untuk bersih dari pengaruh obat-obatan. Bob juga membuat James merasa bertanggung jawab. Maka, persahabatan diantara mereka pun terjalin erat sejak saat itu.

Bob dan James seperti layaknya saudara kembar, keduanya saling memahami dengan cara mereka masing-masing. Bagi James, Bob mengingatkan akan dirinya. Bob adalah kucing liar, yang mungkin menghabiskan hari-harinya di jalan. Sama halnya dengan Bob, James pun menghabiskan hari-harinya di jalanan. Dan hidup di jalanan tidak pernah pasti. Maka, keduanya selalu bersiap-siap menerima yang tak terduga. Pertikaian, perselisihan, pelecehan senantiasa menghampiri.

Perubahan besar yang dibawa oleh Bob adalah menyadarkan James bahwa ia mulai bisa memercayai dan meyakini orang lain. Kemurahan dan kebaikan hati yang diperlihatkan orang-orang kepada Bob membuat James menemukan kembali sisi baik manusia.

Kisah yang mengharukan. Buku ini mengajarkan kita bahwa anugerah bisa diperoleh dari mana saja. Hewan, tumbuhan, serta keindahan alam memunculkan sisi-sisi kemanusiaan pada diri kita yang kadang luput oleh lautan kesibukan.

Buku ini ditulis sendiri oleh James dan termasuk ke dalam deretan buku-buku best seller di negaranya.

Bukan Review

Sungguh kangen untuk bisa membaca dengan santai. Beberapa buku yang sudah separuh jalan dibaca pun tergeletak cukup lama, diantaranya adalah: A Street Cat Named Bob, Ali Sadikin, dan beberapa koleksi ebook.

Tuntas UTS murid-murid semoga saya mempunyai lebih banyak kesempatan untuk meneruskan membaca buku-buku di atas. Diterima mengajar di pertengahan semester itu memang bikin kerja terasa diburu-buru. Tapi tak apalah, dinikmati saja, belum tentu juga tahun ajaran depan kontrak masih berlanjut. Bukankah kurikulum berubah dan bidang studi ini tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib? Jadi, mumpung masih ada ya jalani saja, bukankah begitu? πŸ™‚

Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada

10794395
Judul: Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada
Penulis: Leo Tolstoy
Penerbit: Serambi
Tebal: 197

Ini adalah kumpulan lima cerita pendek dari sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy. Leo Tolstoy terkenal dengan dua novelnya yang terkenal di dunia yaitu War and Peace dan Anna Karenina.

Kisah pertama bercerita tentang seorang tukang sepatu bernama Martin yang kecewa kepada Tuhan karena putranya mati. Namun kemudian di masa tuanya ia terpanggil untuk kembali ke jalan yang lurus dan bercita-cita untuk bertemu Tuhan. Pada suatu malam Martin bermimpi Tuhan memanggil dan menjanjikan bahwa Ia akan datang esok hari. Keesokan paginya, Martin duduk di tepi jendela untuk bekerja. Setiap ada orang yang tak dikenalinya melintas Martin akan melongok keluar. Pertama, ia melihat seorang tua yang kelelahan bekerja membersihkan salju. Ia kemudian mengajak laki-laki itu masuk ke dalam rumah dan menjamunya. Tamu kedua adalah seorang perempuan miskin yang sedang menggendong seorang anak. Martin menjamu dan memberikan perempuan itu dan anaknya uang serta baju hangat. Dan yang terakhir adalah nenek tua penjaja apel dan seorang pemuda yang mencuri apel itu dari sang nenek. Martin menengahi pertikaian antara mereka. Awalnya si nenek tidak mau memaafkan. Martin kemudian menasihati keduanya. Ia juga menyuruh anak laki-laki itu meminta maaf kepada si nenek dan memberikan apel kepada si pemuda. Sikap lembut dan kebaikan hati Martin melunakkan sang nenek dan anak laki-laki itu. Malam itu Martin menyadari bahwa Tuhan telah menemuinya. Tuhan memerintahkannya agar berbuat baik kepada sesama jika ia ingin ‘bertemu Tuhan’.

Pada kisah Tiga Pertapa diceritakan tiga pertapa suci yang tinggal di sebuah pulau. Seorang uskup berniat mendatangi para pertapa untuk mengajari mereka berdoa dan membantu mereka ke jalan Tuhan. Bersama rombongan sang uskup berlayar menuju pulau tersebut untuk menemui para pertapa. Setelah berhasil melatih ketiga pertapa itu berdoa maka rombongan itu pulang. Namun alangkah kagetnya sang uskup ketika ia melihat para pertapa itu berlari di atas air seolah-olah sedang berada di daratan, mengejar rombongan mereka karena para pertapa itu lupa dengan doa yang diajarkan sang uskup. Kata sang uskup kemudian, “Doa kalian akan didengar Tuhan. Bukan aku yang harus mengajari kalian. Berdoalah untuk kami, para pendosa ini.” (halaman 57)

Kesemua cerita bertema cinta spiritual. Buku ini sangat tepat untuk dibaca dan direnungkan baik-baik.
“Apa gunanya menyeberang lautan untuk mencari Tuhan, bila selama itu aku kehilangan kebenaran yang ada di dalam diriku. Di sini, ya, di sinilah aku harus memperbaiki nasib orang-orang ini.” (halaman 171). Begitulah pertarungan hati Elisha pada saat memutuskan untuk melanjutkan kepergiannya ziarah untuk mencari Tuhan atau menolong manusia lain yang sedang menderita.

Tuhan sesungguhnya tidaklah jauh, ia dekat, bahkan sangat dekat di hati setiap hamba yang mencintai dan mengasihi sesamanya.

Azab dan Sengsara

Screenshot_2013-01-02-21-36-15
Judul: Azab dan Sengsara
Penulis: Merari Siregar
Penerbit: Balai Pustaka
Tebal: 835 halaman (versi digital dengan pengaturan huruf sangat besar)

Banyak kita temui kisah roman klasik dengan tema adat dan perkawinan. Tengok saja Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Dian yang Tak Kunjung Padam, dan lain sebagainya. Demikian juga Azab dan Sengsara. Alkisah di sebuah kota Sipirok, di dekat Tapanuli (Tapanuli sebenarnya adalah Tapian na Uli yang artinya Tepian yang elok), tinggalah sebuah keluarga yang memiliki seorang anak gadis, Mariamin namanya. Mariamin atau Riam tinggal bersama Ibu dan adiknya. Ayah Mariamin, Sutan Baringin sesungguhnya adalah seorang bangsawan. Namun kekayaan keluarga itu ludes disebabkan oleh perilaku sang Ayah yang boros dan suka berhura-hura. Sejak kecil Mariamin bersahabat erat dengan seorang pemuda bernama Aminuddin. Seperti Riam, Aminuddin adalah anak dari keluarga terhormat dan bangsawan kaya. Ayah Aminuddin, Sutan Baginda di atas adalah kepala kampung di desanya. Sesungguhnya Mariamin dan Aminuddin mempunyai hubungan keluarga. Mereka saudara sepupu, karena Ayah Mariamin adalah kakak kandung Ibu Aminuddin.

Hubungan akrab antara keduanya berlangsung sampai mereka dewasa. Mereka pun berikrar untuk sehidup semati. Untuk itu Aminuddin pergi ke lain kota untuk mencari penghidupan dan berjanji membawa Mariamin kelak bersamanya. Setelah dirasa cukup bekal yang ia punya, Aminuddin mengirimkan surat kepada orang tuanya dan mengutarakan niat hatinya untuk menyunting dan membawa Riam ke Medan. Ibu Aminuddin bersuka cita mendengar berita tersebut. Dalam adat mereka, perkawinan antara anak muda yang serupa itu amat disukai orang tua kedua belah pihak.
“Tali perkauman bertambah kuat,” kata orang di kampung-kampung. (hal 121).
Tak lupa Aminuddin pun mengabarkan keinginan hatinya kepada Riam. Alangkah senang hati anak perawan itu. Demikian pula dengan sang Ibu, yang berharap kebahagiaan untuk putri tercinta.

Ayah Aminuddin rupanya tak suka dengan kabar itu. Ia kemudian bersekongkol dengan dukun dan mengajak istrinya untuk mendengar ramalan yang akan menimpa Aminuddin jika ia menikah dengan Mariamin. Demi mengetahui kesengsaraan yang kelak dihadapi Aminuddin maka sang Ibu tidak mampu menolak keputusan sang suami untuk menjodohkan Aminuddin dengan gadis lain dari golongan sederajat dengan keluarga mereka.

Surat mengenai kedatangan calon istri Aminuddin dikirimkan oleh orang tuanya. Aminuddin bahagia mendengar kabar kedatangan calon istrinya yang ia sangka adalah Mariamin. Namun alangkah getir hati Aminuddin ketika mengetahui bahwa gadis yang didatangkan Ayahnya bukanlah Riam. Ia pun tak mampu menolak keputusan orang tuanya untuk menikahi gadis pilihan mereka. Dengan berat hati Aminuddin memberitahukan Riam rencana tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan hati gadis perawan itu. Mariamin jatuh sakit.

Lama berselang Ibu Mariamin kemudian menjodohkan anak perempuannya kepada seorang lelaki. Ibu Riam sebenarnya tak mengetahui banyak asal usul lelaki itu. Pernikahan pun dilaksanakan. Ternyata baru diketahui lelaki itu telah beristri dan baru saja menceraikan istrinya ketika ia akan menikahi Riam. Riam yang tidak pernah mencintai suaminya semakin benci melihat perilaku lelaki itu yang kasar dan kejam. Suatu saat Aminuddin berkunjung dan melihat keadaan Mariamin. Riam yang tak tahan menerima siksaan dari suaminya memutuskan untuk melaporkan hal itu kepada polisi. Riam kemudian bercerai dari suaminya. Ia kembali ke Sipirok, kampung halamannya dan meninggal karena menanggung deraan dan kesedihan.

Tema pernikahan dan adat seringkali dipilih dalam banyak karya sastra klasik. Posisi perempuan yang lemah menjadi topik sentral dalam cerita ini.
“Mereka itu memandang perkawinan itu suatu kebiasaan, yakni kalau anaknya yang perempuan sudah genap umurnya harus dijodohkan. Demikian pula jadinya pada anak laki-laki. Haruslah ia lekas dikawinkan, karena keaibanlah di mata orang banyak, kalau orang tua terlambat memperistrikan anaknya.”

Mengutip kalimat di buku ini “Perkawinan memang suatu adat dan kebiasaan yang harus dilakukan tiap-tiap manusia, bila sudah sampai waktunya.” Namun perkawinan yang dilakukan dengan terpaksa dan tanpa rasa cinta akan meninggalkan kesedihan dan kekecewaan bagi yang menjalaninya. Tidak hanya untuk si perempuan namun juga anak-anak yang mereka tinggalkan. Lagi-lagi perempuan lah yang akan menanggung akibatnya.

Adat lahir dari pemikiran manusia. Ada kalanya adat yang berlaku di suatu masyarakat membelengu manusia.
Barangkali, diperlukan kebebasan berpikir dengan sikap bijak untuk menyeimbangkan keselarasan dalam menjalani kehidupan.

catatan:
Jika kesulitan untuk mendapatkan buku-buku karya sastra lama, Anda dapat membelinya dalam versi digital melalui aplikasi Qbaca. Mengenai Qbaca dapat dilihat di sini.

Edward dan Tuhan – Kuniko

0a6ea984d6f23fcffed29814d2ecbabc
Judul: Edward & Tuhan
Penulis: Milan Kundera dkk
Penerbit: Banana Publisher
Tebal: 201
Edward dan Tuhan adalah buku kumpulan cerpen 4 penulis klasik. Mereka adalah Milan Kundera, Alice Munro, Gabriel Garcia Marquez, dan Naoya Shiga. Semua kisah dalam buku ini begitu menarik. Salah satu cerita yang ingin saya tulis di sini adalah karya penulis Jepang, Naoya Shiga dengan cerita pendeknya yang berjudul Kuniko.

Tokoh dalam cerita ini adalah seorang penulis drama yang menikahi seorang wanita bernama Kuniko. Pernikahan mereka berjalan tenang dan damai. Suatu ketika si dramawan dikirimi surat oleh istri kakaknya. Ia diminta untuk membantu menyelesaikan perselingkuhan yang terjadi antara sang kakak dengan seorang gadis pelayan. Menanggapi ini si dramawan merasa tak layak untuk menasihati si kakak. Melalui putri kesayangan mereka, si dramawan kemudian berhasil melakukan hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk keutuhan rumah tangga sang kakak. Selesai?

Tidak bagi si dramawan, karena permasalahan sang kakak akan menjadi pertanyaan bagi Kuniko. Ia tahu bahwa Kuniko akan bertanya apa yang terjadi. Dan itu berarti membuka luka lama, mengakui bahwa ia pun pernah melakukan hal yang sama.
“Walaupun tak ada kepentingan untuk menyembunyikan masalah ini, namun jika aku menyampaikan cerita ini, pada akhirnya aku pasti akan mengakui bahwa aku pernah melakukan hal yang sama. Hal itu menyakitkanku. Itu sudah masa lalu..(halaman 156)”

Kuniko memang terkejut mendengar kejujuran sang suami. Dalam obrolan mereka kemudian Kuniko meminta ketegasan sang suami untuk tidak lagi melakukan perbuatan itu. Walau sang suami mengakui bahwa apa yang ia lakukan bukanlah perbuatan yang terpuji dan tak termaafkan, namun suara hatinya menolak untuk berlebih menyalahkan dirinya.
“Tak ada keraguan bahwa hal itu buruk. Namun, nuraniku terlumpuhkan oleh kebiasaan itu.” (halaman 159)

Sang suami tidak bisa menyatakan janji yang diminta Kuniko.
Kuniko: “Jika kau tak mengatakannya, aku tak akan mendapatkan ketenangan.”
Suami: “Mungkin hal macam itu tak kan terjadi lagi. Aku berusaha sebaik mungkin untuk menghindar dari situasi macam itu.”

Pernyataan sang suami tidak menumbuhkan rasa percaya pada diri Kuniko. Walaupun sang suami bisa saja mengucapkan kalimat yang ingin didengar oleh Kuniko namun ia memutuskan untuk berkata jujur. Namun kejujuran itu melukai Kuniko.
“Tentu saja kebahagiaan itu sempurna karena dusta. Namun, hal itu adalah persoalan tentang sejauh mana seorang perempuan mampu menegakkan kebahagiannya di atas kebenaran…” (halaman 161).

Selanjutnya, Kuniko dibayang-bayangi oleh persoalan perselingkuhan yang pernah dilakukan suaminya. Sang suami yang merasa dicurigai terus menerus pun tak berdaya.
“Tapi, jika kau mencurigaiku seperti itu, aku tak dapat melakukan hal apa pun.” (halaman 164)

Si dramawan kehilangan hasrat menulis dan antusiasme nya terhadap profesi dan sekelilingnya perlahan memudar.

“..kapan saja aku berpikir untuk melakukan sedikit hal lebih dalam kehidupanku ini, kau tampaknya segera berpikir bahwa aku menuruti kata hatiku mengeluh dan bahwa aku ingin lebih menikmati diriku sendiri dengan bermacam kesenangan lainnya. Apa yang kau pikirkan, dan apa yang aku pikirkan sepenuhnya berbeda.”

“Kau menggantungkan kebahagiaan dan ketidakbahagiaanmu pada satu hal itu. Bagi seorang perempuan, hal itu cukup masuk akal, namun jika kau melihatnya dari sudut pandangku, bagaimanapun aku merasakan bahaya yang tak tertahankan.” (halaman 166)

“Kau seharusnya lebih santai dalam menghadapai permasalahan-permasalahan. Kau memiliki kendali atas itu.”

Setelah perdebatan yang panjang, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengakhirinya dan menjalani kehidupan dengan tenang. Namun sesungguhnya kedamaian yang hambar itu begitu membosankan. Bagi sang suami perasaan Kuniko terhadap dirinya menjadi penghalang besar. Dan Kuniko yang merasa kesepian kemudian memutuskan untuk bunuh diri oleh sebab ketidakmampuannya menanggung kepedihan.

“Cobalah untuk tak terlalu peduli. Tak peduli. Jika kau merasa gembira dalam perasaanmu, maka aku dapat mencurahkan diriku dengan pikiran tenang pada pekerjaanku.” (halaman 197)

“Jangan ganggu aku lagi. Kau adalah kau. Lakukan apa pun yang kau inginkan. Aku adalah aku. Aku tak ingin bernegosiasi denganmu atas dasar perasaan macam itu.” (halaman 198)

“Bukankah baik jika aku adalah aku dan kau adalah kau? Wajarlah jika aku larut dalam pekerjaanku dan kau tak dapat bersamaku. Jika kau berperilaku sebagaimana biasanya, itu baik. Ketika kau menampakkan wajah yang depresi, aku akan marah yang sama besarnya dengan aku bersemangat.” (halaman 196).

Banyak kutipan yang menarik, tapi cukup dibatasi sampai di sini saja. Menulisnya cukup pegal :).

Cerita di atas bukan dimaksudkan untuk melegalkan perselingkuhan. Menurut aku mungkin penulis mengambil model perselingkuhan karena umumnya ini bukan kasus yang biasa, terutama untuk mereka yang terikat dalam pernikahan. Pesan dalam cerita ini bersifat universal untuk segala permasalahan yang ada.

Kisah ini menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh apa dan siapa. Seringkali kita berpikir bahwa kita akan bahagia jika memiliki pasangan atau suami seperti A, memiliki anak-anak yang pintar, tampan dan cantik, dan lain sebagainya. Dan ketika kita tidak mendapatkan ‘ukuran kebahagiaan’ yang kita bikin sendiri itu maka kesedihan menyelimuti. Tanpa sadar kita akan melampiaskan kekecewaan dan keputusasaan kepada mereka yang kita anggap tidak mampu memenuhi kebahagiaan kita. ‘Perasaan’ itu tidak hanya mengganggu diri kita namun juga mereka yang menjadi korban ketidakberdayaan diri kita sendiri.

Konon perkawinan adalah penyatuan dua jiwa. Namun sebagai individu mereka tetaplah sendiri-sendiri. Baik diri kita dan pasangan memiliki keinginan dan capaian yang berbeda. Sebuah hubungan yang sehat kata seorang pakar adalah ketika kita bisa saling mendukung dan memercayai satu sama lain. Menjadi ibu rumah tangga dan sepenuhnya merawat anak-anak tidaklah salah, lebih baik lagi jika di sela rutinitas itu pun kita dapat menyediakan waktu untuk sesuatu yang kita sukai. Entah berkebun, membaca buku, menjahit atau apa saja. Terlebih lagi jika bisa bergabung di dalam komunitas kegemaran kita tersebut. Hal-hal seperti ini mampu membangkitkan antusiasme dan bisa menghilangkan perasaan tak berdaya yang berujung pada ketidakpuasan terhadap kehidupan yang kita jalani.

Demikian juga dengan rutinitas yang kita lakukan. Dinamika hidup tidak semata pada pekerjaan. Masih banyak hal menarik yang bisa kita lakukan. Dan seperti kata kata Pak Cik Andrea Hirata, jika kita ingin merasakan sari pati kehidupan, maka hiduplah untuk hidup. Atau mengutip kata Pak Guru John Kaeting di Dead Poets Society, Seize the Day, Live your life to the fullest!

Edward dan Tuhan

9fe4791661d779a95b3b547bbf8c8f79
Judul: Edward & Tuhan
Penulis: Milan Kundera dkk
Penerbit: Banana Publisher
Tebal: 201

Buku ini berisi kumpulan cerpen dari para penulis klasik dunia. Kesemua cerita pendek ini berkisah tentang cinta ganjil. Cinta yang tak biasa, absurd namun ada. Edward dan Tuhan oleh Milan Kundera, Bagaimana Aku Bertemu Suamiku dari Alice Munro, Pertemuan Agustus karya Gabriel Garcia Marquez, dan Kuniko oleh Naoya Shiga.

Cerita pertama ditulis oleh penulis yang terkenal dengan karyanya, Unbearable Lightness of Being, Milan Kundera. Di sini Milan Kundera berkisah mengenai seorang pemuda komunis bernama Edward. Edward menyukai Alice, seorang wanita yang religius. Demi mendekati Alice, Edward yang atheis berpura-pura menjadi seorang yang percaya kepada Tuhan. Ketaatannya kepada Tuhan menimbulkan masalah di sekolah, tempat Edward mengajar, di mana mereka yang memiliki keyakinan akan adanya Tuhan disingkirkan dari lingkungannya. Demi mengetahui pengorbanan yang telah dilakukan Edward (dari orang lain) membuat Alice berbalik memuja Edward dan menyerahkan tubuhnya kepada Edward. Edward pada akhirnya memperoleh apa yang telah lama diinginkannya dari Alice. Namun ternyata penyerahan diri Alice membuat Edward sengsara. Edward marah karena betapa mudah Alice berubah haluan mengkhianati Tuhannya, Tuhan yang ia puja secara fanatik dulu, yang melarang perzinahan. Ia marah karena melihat sikap Alice yang datar saja dan tanpa perasaan bersalah menjalani semuanya.
“Mengapa penderitaan Edward karena kesetiaannya kepada keyakinannya harus berakibat ketidaksetiaan Alice kepada hukum Tuhan? Jika Edward tidak mengkhianati Tuhan di depan komisi pencari fakta, mengapa kini Alice harus mengkhianatinya di depan Edward?” (halaman 58)

Edward merasa Alice tidak konsisten. Ia melihat Alice sebagai sosok manusia yang tidak utuh antara fisik dan pikirannya. “Keyakinan gadis itu dalam kenyataannya hanyalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan jalan hidup gadis itu, dan takdir Alice hanyalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan tubuhnya. Ia melihat gadis itu sebagai gabungan kebetulan dari tubuh, pikiran, dan tindakan; sebuah gabungan yang tidak organik, saling berselisih dan tidak stabil. Ia membayangkan Alice, dan ia melihat tubuh gadis itu berpisah dari pikirannya.” (halaman 61)

Ia mencintai Alice namun penyerahan total dirinya menyebarkan kebencian dan dendam yang memenuhi pikiran Edward.
“Dan seseorang yang sanggup mengkhianati Tuhan, sanggup dengan mudah mengkhianati manusia ratusan kali.” (halaman 66)

Dan mengenai Tuhan? Walau Edward tidak sepenuhnya memercayai adanya Tuhan, namun ia merasa bahagia akan hiburan nostalgis dengan gagasan adanya Tuhan (halaman 68).
“Tuhan adalah esensi itu sendiri, sementara Edward tidak pernah menjumpai (sejak insiden dengan kepala sekolah dan Alice, tahun-tahun telah berlalu) apa pun yang esensial dalam hubungan asmaranya, dalam mengajarnya, atau dalam pikirannya. Ia terlalu cemerlang untuk mengakui bahwa ia melihat yang esensial dalam ketidakesensialan, namun ia terlalu lemah untuk tidak diam-diam merindukan yang esensial. Itulah mengapa Edward merindukan Tuhan, karena Tuhan sendiri yang terbebas dari kewajiban pemunculan, dan semata-mata ada untuk mengganggu perhatian. Karena Ia menghadirkan (Ia sendiri, tak berteman, dan tak nyata) lawan yang esensial dari dunia yang tidak esensial (namun begitu banyak yang nyata). (halaman 69).

Kisah kedua bercerita tentang seorang wanita yang bertemu dengan seorang pilot, yang berjanji untuk mengiriminya surat. Si wanita setia menanti di depan kotak pos, menunggu kedatangan tukang pos mengantarkan surat yang tak pernah datang untuknya. Sampai pada akhirnya ia menerima kencan dari si tukang pos dan mereka pun menikah. Kepada anak-anaknya lelaki itu selalu berkata bahwa ibu mereka selalu duduk di dekat kotak pos setiap hari untuk menemuinya.

Kisah ketiga mengenai seorang istri yang berselingkuh dengan lelaki yang lebih muda. Sialnya, si lelaki kemudian meninggalkan ia dengan menyelipkan beberapa lembar uang untuknya. Ternyata lelaki yang dia kira mencintainya menganggapnya tak lebih dari seorang wanita penghibur.

Terakhir adalah kisah pasangan suami istri yang kehidupan perkawinannya tenang dan damai. Namun ternyata kedamaian yang ada tidak menjadi kebahagiaan bagi sang suami.

Lust For Life

Judul asli: Lust for Life
Penulis: Irving Stone
Penerbit: Serambi
Tebal: 574

“His efforts have not been in vain, but he will probably not live to see them come to fruition, for by the time people understand what he is saying in his paintings it will be too late. He is one of the most advanced painters and it is difficult to understand him, even for me who knows him so intimately. His ideas cover so much ground, examining what is humane and how one should look at the world, that one must first free oneself from anything remotely linked to convention to understand what he was trying to say, but I am sure he will be understood later on. It is just hard to say when.” ~ Teo Van Gogh, http://www.vggallery.com/

Lust for Life adalah novel biografis seorang pelukis termahal di dunia. Ia adalah Vincent Van Gogh. Sebelum memulai karir sebagai pelukis, Vincent pernah menekuni profesi sebagai pramuniaga lukisan di sebuah gallery. Seperti keluarga Van Gogh lainnya, mereka adalah keluarga pedagang lukisan terbesar di Eropa. Kemudian Vincent menjadi pengabar injil di Borinage sebelum akhirnya memutuskan melukis adalah jalan hidupnya.

Berbeda dengan adiknya, Teo Van Gogh yang bekerja di gallery seni, kehidupan Vincent sepenuhnya dilalui dengan kemiskinan dan kegagalan cinta. Selama hidupnya Vincent hanya berhasil menjual satu kali karya lukisnya yang berjudul Ladang Anggur yang merah. Lukisan itu dibuat Vincent di Arles, kota kecil yang dipilihnya untuk menekuni karirnya sebagai pelukis setelah ia sebelumnya sempat tinggal selama setahun bersama Teo, adik yang selalu mendukung Vincent.

Sejak ia memutuskan profesi sebagai pelukis, Teo seorang yang setia mendampingi Vincent. Teo menyokong hidupnya dengan mengirimkan tidak hanya uang untuk kebutuhan sehari-hari namun juga membelikan peralatan lukis yang dibutuhkan Vincent. Teo juga yang merawat ketika Vincent sakit dan kesepian.

Walaupun Vincent bekerja keras setiap hari untuk mematangkan teknik lukisannya ia belum juga mencapai kesuksesan sampai akhir hidupnya.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh seperti mencerap kemuraman dan kesedihan yang tak kunjung habis. Sepertinya kesedihan begitu lekat kepada dirinya, dan tampak pada lukisan-lukisan Van Gogh yang muram.

“Aku akan menjalani hidup dengan kenyataan dan penderitaan. Itu bukanlah jalan yang akan membuat seseorang mati.”

Van Gogh memilih untuk mengungkapkan kejujuran emosi yang ia rasakan dalam setiap karyanya. Vincent mengajarkan kepada kita untuk menangkap keindahan tersembunyi di tempat-tempat yang buruk.

Bagi Vincent, “…figur seorang pekerja, galur-galur di ladang yang sudah dibajak, sebutir pasir, laut dan langit adalah subjek-subjek yang serius, begitu sulit, tetapi dalam waktu yang bersamaan begitu indah, sehingga sangat layak kalau dia mempersembahkan hidupnya untuk mengekspresikan puisi di balik semua itu.” (halaman 260)

Vincent Van Gogh meninggal dunia dalam usia 37 tahun. Ia belum sempat menyaksikan karya-karyanya dihargai orang dan menjadi abadi.

Namun demikian Teo benar, kerja keras Vincent tidak pernah sia-sia. Mengutip kalimat pembuka tulisan ini ada sebuah lirik lagu Starry, Starry Night dari Don McLean untuk Vincent. Starry, Starry Night adalah judul salah satu karya lukisnya yang terkenal.
download (1)

Don McLean – Vincent (Starry, Starry Night)

Starry, starry night.
Paint your palette blue and grey,
Look out on a summer’s day,
With eyes that know the darkness in my soul.
Shadows on the hills,
Sketch the trees and the daffodils,
Catch the breeze and the winter chills,
In colors on the snowy linen land.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they’ll listen now.
Starry, starry night.
Flaming flowers that brightly blaze,
Swirling clouds in violet haze,
Reflect in Vincent’s eyes of china blue.
Colors changing hue, morning field of amber grain,
Weathered faces lined in pain,
Are soothed beneath the artist’s loving hand.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they’ll listen now.

For they could not love you,
But still your love was true.
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night,
You took your life, as lovers often do.
But I could have told you, Vincent,
This world was never meant for one
As beautiful as you.

Starry, starry night.
Portraits hung in empty halls,
Frameless head on nameless walls,
With eyes that watch the world and can’t forget.
Like the strangers that you’ve met,
The ragged men in the ragged clothes,
The silver thorn of bloody rose,
Lie crushed and broken on the virgin snow.

Now I think I know what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they’re not listening still.
Perhaps they never will…

[Un]affair


Judul: [Un]affair
Penulis: Yudhi Herwibowo
Penerbit: bukuKatta
Tebal: 170

“Pertemuan itu sebenarnya mudah saja. kita yang membuatnya menjadi rumit.” (halaman 70)

Tokoh di buku ini bernama Bajja. Bajja adalah lelaki penyuka hujan. Selepas kuliah ia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota kecil. Kota Sendu sebutannya, kota di mana mendung, gerimis, dan hujan senantiasa hadir. Di sini Bajja bekerja sebagai desainer grafis di sebuah percetakan buku. Suatu hari di perhentian sebuah kereta ia bertemu dengan seorang perempuan yang menarik perhatiannya. Nama perempuan itu Arra, yang kelak menjadi pelanggannya.

Arra adalah sosok perempuan muram. Ia tak banyak bicara seperti juga kehadirannya yang seperti angin. Ada kalanya ia menghubungi dan menemui Bajja, untuk kemudian berhari-hari menghilang. Dan di saat Bajja lelah menunggu, Arra selalu datang kembali.
“tapi selalu saja, bila suasana hatiku tengah begitu buruk, aku sama sekali tak bisa menolak untuk kemari.” (halaman 84)

Bajja tidak pernah menolak kedatangan Arra. Walau ia juga tidak berani berharap lebih pada hubungan mereka, karena ia tahu Arra telah memiliki seorang kekasih. Sampai suatu ketika surat undangan diselipkan Arra di bawah pintu rumahnya.

Sementara itu, Canta, mantan pacar Bajja memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di kota Sendu. Kedatangan Canta di kota Bajja membangkitkan kembali kenangan pada cinta yang pernah hadir diantara mereka. Canta yang masih menyimpan rasa cinta. Dan Bajja yang masih belum bisa melupakan sosok Arra.

“udara ini dipenuhi oleh zat-zat untuk melupakan seseorang.”

“Rasanya ketika seseorang yang pernah sangat istimewa bagi kita berkata secara langsung bila ia berusaha melupakan kita, sepertinya kita tak akan sepenuhnya ikhlas mendengarnya.”(halaman 119)

Saya membeli novel ini karena tertarik membaca resensi salah seorang teman BBI. Ya, itu sudah pasti, teman-teman di BBI ini memang menuangkan racun berbisa :).

Yang saya suka dari novel ini adalah kalimat indah yang dirangkai dengan manis oleh penulisnya. Sederhana tapi puitis. Ceritanya sendiri sebenarnya sederhana, tapi dialog dan renungan dari para tokohnya mampu melarutkan perasaan kita sebagai pembaca. Tutur bahasanya juga rapi. Beberapa kalimatnya mampu membuat saya mengingat kenangan-kenangan masa muda dengan nuansa yang lebih dewasa.. halah..hehehe. Tidak menya-menye tapi oke πŸ™‚

The Moneyless Man


Judul asli: The Moneyless Man, A Year Freeeconomic Living
Judul: The Moneyless Man, Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang
Penulis: Mark Boyle
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Tebal: 349

“jadilah perubahan yang ingin kau lihat di dunia”, tidak peduli apakah kau termasuk kelompok “minoritas yang hanya terdiri dari satu orang atau mayoritas jutaan orang”.

Kalimat Gandhi di atas mengiang di kepala Mark Boyle, terus menerus. Lelaki ini ingin menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya agar bisa memberi manfaat sosial yang positif bagi banyak orang. Namun ia sendiri tak tahu caranya. Sampai suatu saat sebuah gagasan yang cukup gila muncul di kepalanya. Pengalamannya sebagai manajer di perusahaan organik memberinya sebuah ide. Ide itu adalah setahun hidup tanpa uang.

Keputusan Mark untuk melakukan eksperimen setahun hidup tanpa uang dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap hal-hal berikut ini:
1. Hilangnya kerjasama dan sikap welas asih sesama warga. Dahulu, atau di tempat-tempat di mana uang dianggap tak penting, budaya kerjasama dan tolong menolong masih ada di beberapa bagian. Sifat-sifat ini memberikan rasa nyaman di antara mereka. Sebaliknya, di tempat di mana uang diperebutkan, maka pencarian uang dan keinginan manusia untuk memiliki uang yang tidak terpuaskan mendorong manusia untuk bersaing satu sama lain dalam usaha untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Sehingga, tidak ada lagi orang mau membantu tetangganya atau temannya atau bekerja tanpa dibayar. Inilah yang perlahan menyebabkan munculnya keterasingan sehingga mengakibatkan naiknya angka bunuh diri, penyakit mental, dan sikap anti sosial.
2. Masalah-masalah lingkungan seperti penipisan sumber daya alam dan krisis iklim.

Sebelum memulai eksperimennya, Mark telah mempersiapkan segalanya dengan matang. Ia mempersiapkan rumah hunian ramah lingkungan yang akan menjadi tempat tinggalnya. Makanan yang ia makan, yang ia peroleh dari menanam sendiri ataupun mendapatkan makanan sisa dari toko tanpa membeli. Dan transportasi sehari-hari yang ia gunakan. Apa yang dilakukan Mark tak lepas dari motivasi utamanya, yaitu ia merasa lelah menyaksikan kerusakan lingkungan yang terjadi setiap hari dan ia memainkan peranan di dalamnya.
“Aku menginginkan masyarakat, bukan konflik; Aku menginginkan persahabatan, bukan perkelahian. Aku ingin melihat orang-orang berdamai dengan planet ini, dengan diri kita sendiri, dan semua species lain yang menghuninya.” (halaman 35)

Maka, alih-alih membicarakannya sebagai sesuatu yang abstrak, Mark memilih untuk terjun mempraktikkan. “Aku percaya bahwa semakin sedikit perbedaan yang ada antara kepala, hati, dan tangan, semakin dekat kita pada kehidupan yang jujur. Bagiku rohani dan jasmani adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama.” (halaman 34)

Musim dingin dirasa Mark adalah masa-masa sulit untuk menjalani kehidupan tanpa uang. Dan musim panas adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Pada musim panas berbagai jenis tanaman dapat mudah ditemui. Ia bersepeda, berkemah, memulung makanan dari tempat sampah. Mengumpulkan barang-barang yang masih bisa digunakan dan kemudian membaginya kepada mereka yang membutuhkan. Oya, di Eropa, di supermarket, satu-satunya alasan makanan perlu dibuang adalah karena tanggal yang tertera di atas kemasan. Makanan itu sebenarnya masih layak dikonsumsi, tetapi perusahaan harus bekerja sesuai dengan hukum. Karena itulah barang-barang ini kemudian akan menjadi penghuni tong sampah. Makanan-makanan seperti inilah yang dipungut oleh Mark dan teman-temannya.

Membaca buku ini membuka kita pada petualangan yang sarat dengan pengetahuan. Diselipi oleh berbagai macam pengetahuan baru yang memesona, seperti: cara membuat kompor roket, membuat kertas dan tinta jamur, memilih makanan di alam, membuat obat untuk demam dari alang-alang great plantain, membuat tempat tinggal ramah lingkungan, cara membuat sari apel murni, mendapatkan informasi yang menawarkan barang dengan cuma-cuma, akomodasi gratis sampai bersenang-senang tanpa uang.

Buku yang pasti sangat memikat, tidak hanya bagi para pecinta lingkungan namun bagi kita semua. Melalui buku ini Mark mengajarkan makna menebar budi. “Menebar budi identik dengan memberi secara ikhlas. Alam bekerja berdasarkan prinsip ini: pohon apel memberikan buahnya secara sukarela, tanpa meminta uang tunai atau kartu kredit. Dia hanya memberi, dengan keyakinan bahwa orang yang mengambil manfaat darinya akan menebar benihnya ke ladang yang lebih luas lagi sehingga bisa memberi dunia lebih banyak apel lagi.”

Mark percaya, bahwa “Ketika Anda memberi dengan cuma-cuma, tanpa ada alasan lain kecuali kenyataan bahwa Anda dapat membuat hidup seseorang lebih menyenangkan, tindakan ini akan membangun ikatan, persahabatan, dan pada akhirnya membangun komunitas yang tangguh. Ketika sesuatu dilakukan hanya untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, ikatan seperti ini tidak tercipta.” Hubungan seperti inilah yang Mark lakukan melalui pendirian komunitas freeecononomy nya. Mark menginginkan persahabatan tumbuh di antara masyarakat setempat melalui tindakan sederhana seperti berbagi dan menyaksikan semangat kebaikan dan semangat memberi lebih dihargai daripada keserakahan.

Jangan salah buku ini tidak bermaksud mengajak Anda untuk membenci uang, Mark hanya menawarkan cara lain untuk bersenang-senang.

Percaya deh, buku ini bagus banget. Rugi kalau nggak baca… hehehe πŸ™‚