Lust For Life


Judul asli: Lust for Life
Penulis: Irving Stone
Penerbit: Serambi
Tebal: 574

“His efforts have not been in vain, but he will probably not live to see them come to fruition, for by the time people understand what he is saying in his paintings it will be too late. He is one of the most advanced painters and it is difficult to understand him, even for me who knows him so intimately. His ideas cover so much ground, examining what is humane and how one should look at the world, that one must first free oneself from anything remotely linked to convention to understand what he was trying to say, but I am sure he will be understood later on. It is just hard to say when.” ~ Teo Van Gogh, http://www.vggallery.com/

Lust for Life adalah novel biografis seorang pelukis termahal di dunia. Ia adalah Vincent Van Gogh. Sebelum memulai karir sebagai pelukis, Vincent pernah menekuni profesi sebagai pramuniaga lukisan di sebuah gallery. Seperti keluarga Van Gogh lainnya, mereka adalah keluarga pedagang lukisan terbesar di Eropa. Kemudian Vincent menjadi pengabar injil di Borinage sebelum akhirnya memutuskan melukis adalah jalan hidupnya.

Berbeda dengan adiknya, Teo Van Gogh yang bekerja di gallery seni, kehidupan Vincent sepenuhnya dilalui dengan kemiskinan dan kegagalan cinta. Selama hidupnya Vincent hanya berhasil menjual satu kali karya lukisnya yang berjudul Ladang Anggur yang merah. Lukisan itu dibuat Vincent di Arles, kota kecil yang dipilihnya untuk menekuni karirnya sebagai pelukis setelah ia sebelumnya sempat tinggal selama setahun bersama Teo, adik yang selalu mendukung Vincent.

Sejak ia memutuskan profesi sebagai pelukis, Teo seorang yang setia mendampingi Vincent. Teo menyokong hidupnya dengan mengirimkan tidak hanya uang untuk kebutuhan sehari-hari namun juga membelikan peralatan lukis yang dibutuhkan Vincent. Teo juga yang merawat ketika Vincent sakit dan kesepian.

Walaupun Vincent bekerja keras setiap hari untuk mematangkan teknik lukisannya ia belum juga mencapai kesuksesan sampai akhir hidupnya.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh seperti mencerap kemuraman dan kesedihan yang tak kunjung habis. Sepertinya kesedihan begitu lekat kepada dirinya, dan tampak pada lukisan-lukisan Van Gogh yang muram.

“Aku akan menjalani hidup dengan kenyataan dan penderitaan. Itu bukanlah jalan yang akan membuat seseorang mati.”

Van Gogh memilih untuk mengungkapkan kejujuran emosi yang ia rasakan dalam setiap karyanya. Vincent mengajarkan kepada kita untuk menangkap keindahan tersembunyi di tempat-tempat yang buruk.

Bagi Vincent, “…figur seorang pekerja, galur-galur di ladang yang sudah dibajak, sebutir pasir, laut dan langit adalah subjek-subjek yang serius, begitu sulit, tetapi dalam waktu yang bersamaan begitu indah, sehingga sangat layak kalau dia mempersembahkan hidupnya untuk mengekspresikan puisi di balik semua itu.” (halaman 260)

Vincent Van Gogh meninggal dunia dalam usia 37 tahun. Ia belum sempat menyaksikan karya-karyanya dihargai orang dan menjadi abadi.

Namun demikian Teo benar, kerja keras Vincent tidak pernah sia-sia. Mengutip kalimat pembuka tulisan ini ada sebuah lirik lagu Starry, Starry Night dari Don McLean untuk Vincent. Starry, Starry Night adalah judul salah satu karya lukisnya yang terkenal.
download (1)

Don McLean – Vincent (Starry, Starry Night)

Starry, starry night.
Paint your palette blue and grey,
Look out on a summer’s day,
With eyes that know the darkness in my soul.
Shadows on the hills,
Sketch the trees and the daffodils,
Catch the breeze and the winter chills,
In colors on the snowy linen land.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they’ll listen now.
Starry, starry night.
Flaming flowers that brightly blaze,
Swirling clouds in violet haze,
Reflect in Vincent’s eyes of china blue.
Colors changing hue, morning field of amber grain,
Weathered faces lined in pain,
Are soothed beneath the artist’s loving hand.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they’ll listen now.

For they could not love you,
But still your love was true.
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night,
You took your life, as lovers often do.
But I could have told you, Vincent,
This world was never meant for one
As beautiful as you.

Starry, starry night.
Portraits hung in empty halls,
Frameless head on nameless walls,
With eyes that watch the world and can’t forget.
Like the strangers that you’ve met,
The ragged men in the ragged clothes,
The silver thorn of bloody rose,
Lie crushed and broken on the virgin snow.

Now I think I know what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they’re not listening still.
Perhaps they never will…

[Un]affair


Judul: [Un]affair
Penulis: Yudhi Herwibowo
Penerbit: bukuKatta
Tebal: 170

“Pertemuan itu sebenarnya mudah saja. kita yang membuatnya menjadi rumit.” (halaman 70)

Tokoh di buku ini bernama Bajja. Bajja adalah lelaki penyuka hujan. Selepas kuliah ia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota kecil. Kota Sendu sebutannya, kota di mana mendung, gerimis, dan hujan senantiasa hadir. Di sini Bajja bekerja sebagai desainer grafis di sebuah percetakan buku. Suatu hari di perhentian sebuah kereta ia bertemu dengan seorang perempuan yang menarik perhatiannya. Nama perempuan itu Arra, yang kelak menjadi pelanggannya.

Arra adalah sosok perempuan muram. Ia tak banyak bicara seperti juga kehadirannya yang seperti angin. Ada kalanya ia menghubungi dan menemui Bajja, untuk kemudian berhari-hari menghilang. Dan di saat Bajja lelah menunggu, Arra selalu datang kembali.
“tapi selalu saja, bila suasana hatiku tengah begitu buruk, aku sama sekali tak bisa menolak untuk kemari.” (halaman 84)

Bajja tidak pernah menolak kedatangan Arra. Walau ia juga tidak berani berharap lebih pada hubungan mereka, karena ia tahu Arra telah memiliki seorang kekasih. Sampai suatu ketika surat undangan diselipkan Arra di bawah pintu rumahnya.

Sementara itu, Canta, mantan pacar Bajja memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di kota Sendu. Kedatangan Canta di kota Bajja membangkitkan kembali kenangan pada cinta yang pernah hadir diantara mereka. Canta yang masih menyimpan rasa cinta. Dan Bajja yang masih belum bisa melupakan sosok Arra.

“udara ini dipenuhi oleh zat-zat untuk melupakan seseorang.”

“Rasanya ketika seseorang yang pernah sangat istimewa bagi kita berkata secara langsung bila ia berusaha melupakan kita, sepertinya kita tak akan sepenuhnya ikhlas mendengarnya.”(halaman 119)

Saya membeli novel ini karena tertarik membaca resensi salah seorang teman BBI. Ya, itu sudah pasti, teman-teman di BBI ini memang menuangkan racun berbisa :).

Yang saya suka dari novel ini adalah kalimat indah yang dirangkai dengan manis oleh penulisnya. Sederhana tapi puitis. Ceritanya sendiri sebenarnya sederhana, tapi dialog dan renungan dari para tokohnya mampu melarutkan perasaan kita sebagai pembaca. Tutur bahasanya juga rapi. Beberapa kalimatnya mampu membuat saya mengingat kenangan-kenangan masa muda dengan nuansa yang lebih dewasa.. halah..hehehe. Tidak menya-menye tapi oke 🙂

The Moneyless Man


Judul asli: The Moneyless Man, A Year Freeeconomic Living
Judul: The Moneyless Man, Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang
Penulis: Mark Boyle
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Tebal: 349

“jadilah perubahan yang ingin kau lihat di dunia”, tidak peduli apakah kau termasuk kelompok “minoritas yang hanya terdiri dari satu orang atau mayoritas jutaan orang”.

Kalimat Gandhi di atas mengiang di kepala Mark Boyle, terus menerus. Lelaki ini ingin menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya agar bisa memberi manfaat sosial yang positif bagi banyak orang. Namun ia sendiri tak tahu caranya. Sampai suatu saat sebuah gagasan yang cukup gila muncul di kepalanya. Pengalamannya sebagai manajer di perusahaan organik memberinya sebuah ide. Ide itu adalah setahun hidup tanpa uang.

Keputusan Mark untuk melakukan eksperimen setahun hidup tanpa uang dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap hal-hal berikut ini:
1. Hilangnya kerjasama dan sikap welas asih sesama warga. Dahulu, atau di tempat-tempat di mana uang dianggap tak penting, budaya kerjasama dan tolong menolong masih ada di beberapa bagian. Sifat-sifat ini memberikan rasa nyaman di antara mereka. Sebaliknya, di tempat di mana uang diperebutkan, maka pencarian uang dan keinginan manusia untuk memiliki uang yang tidak terpuaskan mendorong manusia untuk bersaing satu sama lain dalam usaha untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Sehingga, tidak ada lagi orang mau membantu tetangganya atau temannya atau bekerja tanpa dibayar. Inilah yang perlahan menyebabkan munculnya keterasingan sehingga mengakibatkan naiknya angka bunuh diri, penyakit mental, dan sikap anti sosial.
2. Masalah-masalah lingkungan seperti penipisan sumber daya alam dan krisis iklim.

Sebelum memulai eksperimennya, Mark telah mempersiapkan segalanya dengan matang. Ia mempersiapkan rumah hunian ramah lingkungan yang akan menjadi tempat tinggalnya. Makanan yang ia makan, yang ia peroleh dari menanam sendiri ataupun mendapatkan makanan sisa dari toko tanpa membeli. Dan transportasi sehari-hari yang ia gunakan. Apa yang dilakukan Mark tak lepas dari motivasi utamanya, yaitu ia merasa lelah menyaksikan kerusakan lingkungan yang terjadi setiap hari dan ia memainkan peranan di dalamnya.
“Aku menginginkan masyarakat, bukan konflik; Aku menginginkan persahabatan, bukan perkelahian. Aku ingin melihat orang-orang berdamai dengan planet ini, dengan diri kita sendiri, dan semua species lain yang menghuninya.” (halaman 35)

Maka, alih-alih membicarakannya sebagai sesuatu yang abstrak, Mark memilih untuk terjun mempraktikkan. “Aku percaya bahwa semakin sedikit perbedaan yang ada antara kepala, hati, dan tangan, semakin dekat kita pada kehidupan yang jujur. Bagiku rohani dan jasmani adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama.” (halaman 34)

Musim dingin dirasa Mark adalah masa-masa sulit untuk menjalani kehidupan tanpa uang. Dan musim panas adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Pada musim panas berbagai jenis tanaman dapat mudah ditemui. Ia bersepeda, berkemah, memulung makanan dari tempat sampah. Mengumpulkan barang-barang yang masih bisa digunakan dan kemudian membaginya kepada mereka yang membutuhkan. Oya, di Eropa, di supermarket, satu-satunya alasan makanan perlu dibuang adalah karena tanggal yang tertera di atas kemasan. Makanan itu sebenarnya masih layak dikonsumsi, tetapi perusahaan harus bekerja sesuai dengan hukum. Karena itulah barang-barang ini kemudian akan menjadi penghuni tong sampah. Makanan-makanan seperti inilah yang dipungut oleh Mark dan teman-temannya.

Membaca buku ini membuka kita pada petualangan yang sarat dengan pengetahuan. Diselipi oleh berbagai macam pengetahuan baru yang memesona, seperti: cara membuat kompor roket, membuat kertas dan tinta jamur, memilih makanan di alam, membuat obat untuk demam dari alang-alang great plantain, membuat tempat tinggal ramah lingkungan, cara membuat sari apel murni, mendapatkan informasi yang menawarkan barang dengan cuma-cuma, akomodasi gratis sampai bersenang-senang tanpa uang.

Buku yang pasti sangat memikat, tidak hanya bagi para pecinta lingkungan namun bagi kita semua. Melalui buku ini Mark mengajarkan makna menebar budi. “Menebar budi identik dengan memberi secara ikhlas. Alam bekerja berdasarkan prinsip ini: pohon apel memberikan buahnya secara sukarela, tanpa meminta uang tunai atau kartu kredit. Dia hanya memberi, dengan keyakinan bahwa orang yang mengambil manfaat darinya akan menebar benihnya ke ladang yang lebih luas lagi sehingga bisa memberi dunia lebih banyak apel lagi.”

Mark percaya, bahwa “Ketika Anda memberi dengan cuma-cuma, tanpa ada alasan lain kecuali kenyataan bahwa Anda dapat membuat hidup seseorang lebih menyenangkan, tindakan ini akan membangun ikatan, persahabatan, dan pada akhirnya membangun komunitas yang tangguh. Ketika sesuatu dilakukan hanya untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, ikatan seperti ini tidak tercipta.” Hubungan seperti inilah yang Mark lakukan melalui pendirian komunitas freeecononomy nya. Mark menginginkan persahabatan tumbuh di antara masyarakat setempat melalui tindakan sederhana seperti berbagi dan menyaksikan semangat kebaikan dan semangat memberi lebih dihargai daripada keserakahan.

Jangan salah buku ini tidak bermaksud mengajak Anda untuk membenci uang, Mark hanya menawarkan cara lain untuk bersenang-senang.

Percaya deh, buku ini bagus banget. Rugi kalau nggak baca… hehehe 🙂

Manajemen Alhamdulillah


Judul: Manajemen Alhamdulillah
Penulis: Indra Utoyo
Penerbit: Mizania
Tebal: 153

“Barang siapa menginginkan dunia, hendaklah dengan ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan dua-duanya, hendaklah dengan ilmu.” (Hadis Nabi Saw.)

Manajemen Alhamdulillah. Jika ditelisik dari judulnya kita bisa menebak bahwa buku ini berbicara tentang rasa syukur. Tidak salah. Penulis menekankan rasa “syukur sebagai bagian dari mendidik diri kita untuk menjadi lebih ikhlas dan optimis dalam mencapai cita-cita. Orang yang jarang atau tidak bersyukur, berarti ia tidak mengerti dan tidak pula menghargai potensi dirinya.” (halaman 135)

Ikhlas jangan diartikan sebagai sikap yang pasif. Sebaliknya, ikhlas adalah menerima dengan penuh kesadaran bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan memang telah ada dalam peta rencana Allah. Sesuatu itu ada yang dapat kita pahami maksudnya dan ada yang tidak dapat kita pahami maksudnya. Jalan terbaik untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup ialah kita terima apa adanya, baik kita pahami atau tidak kita pahami. Menyangkalnya, mempertanyakannya, atau menolaknya hanya akan mendatangkan kerugian  besar (halaman 21)

Bagaimana menerapkan rasa syukur di dalam kehidupan kita sehari-hari, baik untuk pribadi dan ketika kita bekerja. Pak Indra memberikan tiga unsur penting yang harus dimiliki untuk menjadi great people (orang-orang besar), yaitu: self-development, self-conciousness, dan self-contribution.

Siapa sih great people itu? Orang-orang besar adalah mereka yang bersedia berkorban dan menunda kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang banyak. Dengan kata lain, great people adalah:
1. mereka yang merasa berbahagia bila membuat orang lain sukses atau bahagia.
2. mereka yang bersedia berkorban demi kebahagiaan dan kesuksesan orang lain.
3. mereka yang mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan diri sendiri.
4. mereka yang mampu melahirkan pengganti yang lebih baik dari dirinya.
5. mereka yang memberikan manfaat dan energi positif di manapun dia berada.
6. mereka yang merupakan hasil dari proses perjalanan yang teguh dan konsisten, bukan sebuah gift.
Keenam hal yang ada dalam pemahaman tentang great people terasa benar kesamaannya dengan konsep al-insân al-kâmil (manusia sempurna) menurut terminologi tasawuf maupun konsep keutamaan manusia dalam Islam. (halaman 12)

Bersyukur akan membawa manusia pada pemaknaan religi dalam kehidupannya. Mereka yang menerapkan perilaku religi dalam bekerja akan mengembangkan pola pikir yang religius, memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya, taat pada etika profesional, memiliki integritas moral yang tinggi dan selalu berupaya melakukan inovasi.

Dengan kata lain, mereka yang bersyukur akan senantiasa mendayagunakan anugerah yang telah diberikan Tuhan-Nya. Seorang yang bersyukur akan mengoptimalkan segala pemberian-Nya, baik dalam soal waktu, pekerjaan, kecerdasan, dan hal-hal lainnya untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

Manajemen Alhamdulillah adalah buku Seri Penuntun Motivasi Islam. Ini kali pertama saya membaca buku motivasi islam sejenis yang mengena di hati. Dipaparkan secara sederhana tanpa bermaksud menggurui.

Buku ini sangat layak dibaca untuk semua orang dan para pemimpin negeri ini. Jika perilaku religi diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, dan tidak hanya mengumbar penampilan agamawi saja, alangkah indahnya. Korupsi dan segala kecurangan serta perilaku negatif lainnya yang menyengsarakan orang lain semoga dapat dikikis habis dari negeri tercinta ini, selamanya.

untuk yang tertarik dengan buku ini, silakan pesan melalui situs Mizan di sini atau ini: http://mizan.com/buku_full/manajemen-alhamdulillah.html. Atau jika kamu ingin membaca dalam versi digitalnya, buku ini dapat diunduh di Qbaca. Caranya, bisa lihat di sini atau ini: http://buku.enggar.net/2012/11/17/e-book-dari-qbaca/

Dan untuk mendapatkan kabar terbaru mengenai koleksi buku-buku dari Qbaca bisa kamu peroleh di sini atau di sana. Untuk mendaftar ke Qbaca silakan klik laman berikut ini.

Sekilas Tentang Penulis:

Indra Utoyo adalah praktisi telekomunikasi dan teknologi informasi di PT Telekomunikasi Indonesia. Beliau sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi ITB dan memperoleh gelar Master of Science in Communication and Signal Processing dari Imperial College, University of London, UK, pada 1994. Pak Indra juga aktif di berbagai aktivitas dan kepengurusan sosial, antara lain sebagai Ketua Umum Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), Ketua Bidang Infokom Persatuan Insinyur Indonesia (PII), dan Dewan Penasihat Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI)

An Affair to Forget


Judul: An Affair to Forget
Penulis: Armaya Junior
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 237

“Mencintai saja tak pernah cukup”

Apa yang akan dilakukan seorang istri ketika mengetahui suaminya berselingkuh? Marah besar? Mencerca wanita idaman suaminya? Atau…

Anna adalah wanita mandiri yang memiliki dua anak. Suaminya, Toni bekerja di sebuah Bank. Anna mengelola bisnis sendiri. Awalnya perkawinan Anna dan Toni baik-baik saja sampai suatu ketika Anna mencium keganjilan pada suaminya. Sebagai seorang istri, ia dapat merasakan bahwa suaminya mencintai wanita lain. Dengan bantuan sahabatnya, Anna kemudian mencari tahu identitas wanita itu… dan menjalin persahabatan dengannya.

Langkah yang cukup tidak lazim bagi seorang istri yang dikhianati. Apakah Anna tidak terluka oleh perlakuan suaminya? Alih-alih memaki Dini, wanita idaman lain suaminya, Anna menawarkan persahabatan yang tulus. Sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan, namun demi mengembalikan keutuhan rumah tangganya, Anna menyampingkan sakit hatinya.

Novel ini menceritakan akhir yang berbeda dari kisah perselingkuhan pada umumnya. Sebagai pembaca, Anda akan dibuat bertanya-tanya dengan rencana yang sedang dijalankan oleh Anna. Alur cerita di buku ini awalnya memang sedikit lambat, tapi itu tidak terlalu mengganggu. Mungkin kelihaian penulis menggambarkan sebuah tempat atau peristiwa dengan sangat detail menjadi nilai tambah. Dan tidak seperti novel genre sejenis, walaupun novel ini bercerita kesedihan seorang wanita, namun paparan kisahnya tidak disajikan secara cengeng. Terkesan lebih apa adanya, jujur dan terbuka. Bagi seorang wanita, kisah ini barangkali bisa menjadi renungan bahwa, -seperti kata tagline di sampul buku, “Mencintai saja tidak pernah cukup”,- di dalam cinta dibutuhkan keikhlasan dan pengorbanan untuk orang yang kita kasihi.

Novel ini diterbitkan pertama kali tahun 2008. Buku lama. Kalau saya bisa membaca dan kemudian meresensinya itu karena hasil merayu si penulis untuk meminjamkan novelnya kepada saya :). Terima kasih atas pinjaman bukunya, mas :).

Sekilas mengenai Penulis.
Armaya Junior adalah nama pena dari Ardian Syam. Beliau dikenal sebagai penulis buku-buku motivator. An Affair to Forget adalah karya novel pertama Beliau yang diterbitkan oleh Gagas Media. Lulusan magister Akuntansi ini sehari-harinya adalah karyawan di sebuah perusahaan BUMN.
Buku motivasi Beliau yang saya pernah resensi dapat dibaca di sini.

E-book dari Qbaca

Bagi pecinta buku telah hadir ekosistim buku digital Qbaca persembahan dari Telkom. Di sini berbagai koleksi ebook baik gratis dan berbayar tersedia. Cara pembayarannya dapat melalui ATM, Internet Banking, dan SMS Banking.

Mengutip dari situs mereka: “Qbaca memilih format EPUB3, sehingga buku-buku akan lebih nyaman dibaca, baik di layar smartphone yang kecil maupun di layar tablet yang lebih lebar; dengan fasilitas pengubahan ukuran dan jenis font, dan setting lain. Tapi format EPUB3 digunakan bukan hanya karena soal kenyamanan. Format ini juga memungkinkan konten-konten seperti gambar, animasi, video, dan konten interaktif untuk dimasukkan ke dalam kemasan e-Book. Jadi Qbaca akan dikembangkan sebagai platform dalam pengemasan dan pemasaran konten-konten digital berukuran kecil.”

Aplikasi Qbaca dapat diunduh dari Google Playstore untuk pengguna telepon genggam Android. Jangan lupa kata kuncinya “Qbaca”. Sementara untuk versi iOS dijadwalkan akan siap pada Desember tahun ini. Info lengkap mengenai Qbaca bisa dibaca di sini, atau alamat situs mereka di http://qbaca.com/

Nah, di sini saya ingin berbagi langkah mengunduh dan menggunakan e-book dari Qbaca. Semoga bisa membantu untuk rekan-rekan yang ingin mencoba aplikasi baru dari Telkom ini.
1. Unduh dan instal aplikasi Qbaca dari Google Playstore.
2. Sentuh ikon aplikasi qbaca di layar telepon genggam Anda. Jangan lupa daftarkan diri Anda.

3. Qbaca akan menampilkan daftar koleksi buku. Di sana tersedia pilihan buku gratis, bestseller dan buku sekolah.

4. Selanjutnya, Anda dapat mengunduh ebook tersebut. Untuk buku berbayar, Qbaca akan memberikan no pembayaran yang harus Anda transfer.
5. Lakukan pembayaran di ATM seperti membayar tagihan telkom (telepon, speedy, dan lain-lain). Berikutnya, Anda dapat langsung mengunduh buku tersebut.

6. Buku yang Anda unduh dapat dilihat di menu Shelf.

7. Sentuh layar di pilihan buku yang ingin Anda baca.
8. Ini tampilan buku Karen Amstrong yang saya coba beli kemarin, judulnya Masa Depan Tuhan.

9. Di atas adalah contoh tampilan isi setelah diubah pengaturan ukuran hurufnya. Masih ingatkan bahwa format EPUB3 memberikan fasilitas pengubahan ukuran dan jenis font, dan setting lain? Untuk mengatur dapat dengan memilih menu Settings.

10. Berikutnya akan muncul tampilan seperti di bawah ini. Pilih saja fitur pengubahan yang Anda inginkan.

Nah, mudah, bukan? Yuk, kita coba aplikasi Qbaca yang keren ini. Kalau malas bawa buku yang berat-berat sekarang nggak punya alasan lain donk? Kan cukup bawa telepon genggam aja 🙂

update: Pembelian buku sekarang sudah dapat dipotong langsung dari pulsa Telkomsel. Lebih mudah, kan? 🙂

Robinson Crusoe


Judul asli: Robinson Crusoe
Penulis: Daniel Defoe
Penerjemah: Peusy Sharmaya
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal: 505

Robinson Kreutznaer adalah nama asli Robinson Cruesoe. Dilahirkan dari keluarga yang cukup terpandang, Crusoe mendapatkan bekal pendidikan yang memadai. Ayahnya menginginkan Crusoe masuk sekolah hukum, namun Crusoe sendiri lebih berminat menjadi pelaut. Keinginan ini ditentang oleh Ayahnya. Dalam sebuah perbincangan Ayah Crusoe menyatakan bahwa ia akan selalu mendoakan Crusoe, namun jika ia bersikeras mengikuti kemauannya maka sang Ayah tidak bertanggung jawab jika terjadi hal buruk pada dirinya dan mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan memberkatinya.

Crusoe kemudian memutuskan pergi berlayar untuk pertama kalinya. Badai ganas yang dialaminya dalam perjalanan membuat Crusoe bersumpah bahwa jika ia selamat dari pelayaran maka ia akan langsung pulang ke rumah Ayahnya dan tidak membiarkan dirinya terjerumus dalam penderitaan itu. Akankah Crusoe menepati janjinya?

Walaupun berulang kali menentang bahaya, dan berkali-kali mengucapkan sumpah dan janji yang ia ucapkan dalam hati, namun tak pernah membuat Crusoe benar-benar melepaskan kesukaannya pergi berlayar. Sampai pada suatu ketika, ia tergoda untuk melakukan perjalanan yang kelak akan menyadarkan ia pada perenungan dan kata-kata Ayahnya. Kapal yang ia tumpangi terseret gelombang besar. Tak ada yang selamat. Hanya ia sendiri di pulau terpencil yang tak berpenghuni. Bagaimana ia bertahan hidup? Novel ini mengisahkan secara rinci bagaimana Crusoe dipaksa oleh keadaan untuk melindungi dirinya dengan memanfaatkan sumber alam yang ada. Bagian menarik ada pada kondisi psikologis yang dialami oleh Crusoe selama ia hidup sendirian. Melalui renungan dan penyesalan ia menemukan Tuhan, yang ia sadari ketika dirinya mengalami sakit. Dan sekalipun Crusoe ingin sekali diselamatkan dari pulau itu, perlahan ia mulai mengurangi doa agar dibebaskan dari kesendirian. Baginya semua belumlah apa-apa dibandingkan dosa-dosa masa lalu yang membebaninya.

Novel ini tidak hanya menceritakan petualangan bertahan hidup Crusoe dan renungan psikologis yang dialaminya. Bagian lain buku ini juga menyoroti sikap superioritas bangsa Inggris, yang dicerminkan dalam kisah pertemuan Crusoe dengan Friday. Walaupun pada dasarnya, hampir semua bangsa di dunia memiliki kecenderungan untuk menganggap dirinya lebih tinggi dari bangsa lainnya.

Sebagai novel petualangan, Robinson Crusoe memang memiliki keasyikan tersendiri. Walau saya terganggu dengan kemunculan bangsa kanibal. Namun mungkin juga itu sebuah pesan, bahwa dalam hidup senantiasa ada lonjakan-lonjakan kecil, naik dan turun. Itulah dinamika hidup. Dan setiap manusia secara naluri diberi kemampuan untuk mempertahankan hidupnya. Untuk itulah manusia harus berjuang.

Penguasa Lalat


Dokumentasi: dari sini 🙂

Judul asli: Lord of the flies
Penulis: William Golding
Penerbit: Ptaka Baca
Tebal: 312 halaman

Cerita berawal ketika sebuah pesawat dengan penumpang seluruhnya anak-anak terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Ralph adalah anak laki-laki berusia 12 tahun lewat beberapa bulan. Ia sudah bukan bocah lagi namun juga belum cukup disebut remaja tanggung. Piggy, kawan pertama yang dijumpai Ralph dan kelak menjadi sahabat untuk berdiskusi dan berdebat. Ada juga Jack di pemarah, pemimpin dari sebuah kelompok paduan suara.

Sekumpulan anak-anak itu kemudian memutuskan Ralph sebagai pemimpin karena ia mempunyai kerang di tangannya. Kerang itu akan mengeluarkan bunyi jika ditiup sebagai tanda berkumpul. Sambil berharap bala bantuan datang meyelamatkan mereka anak-anak itu memutuskan untuk bersenang-senang menikmati kebebasan mereka. Sampai kemudian perpecahan terjadi antara Jack dan Ralph. Ralph menginginkan api terus menyala untuk mendapatkan penyelamatan, sebaliknya Jack menginginkan perburuan. Jack melanggar peraturan dengan mengajak beberapa anak yang bertugas menjaga nyala api untuk berburu, sementara di saat yang sama sebuah kapal tampak di kejauhan namun asap yang dikeluarkan api memudar karena padam.

Jack memutuskan untuk keluar dan membentuk kelompok dengan mengimingi anak-anak lainnya dengan daging. Berburu kemudian memunculkan kegairahan liar dalam diri Jack. Sebaliknya Ralph bersikeras dengan memusatkan perhatiannya pada api. Api tidak saja melindungi mereka dari bahaya ketika malam hari namun juga kerasnya cuaca dan yang terutama penyelamatan. Perpecahan kelompok itu berbuntut dendam yang mendalam pada diri Jack.

Mengutip sinopsis yang ada di sampul belakang, buku ini “mengekspos dualitas sifat manusia -kesenjangan antara ketertiban dan kekacauan, kecerdasan dan naluri, struktur dan kebiadaban.”

Ralph adalah simbol dari sebuah keteraturan, kecerdasan sebaliknya Jack melambangkan sifat-sifat kekacauan, naluri, dan kebiadaban. Ralph menggunakan otaknya sementara Jack mengedepankan nafsu. Seperti dikutip dalam dialog di bawah ini.
“Mana yang lebih baik -memiliki aturan dan sepakat atau berburu dan membunuh?”
“Mana yang lebih baik, hukum dan penyelamatan, atau berburu dan merusak semuanya?” (halaman 269)

Saya ingat perbincangan kecil dengan partner. Dia bilang manusia adalah makhluk yang kompleks.

Apakah seperti dituliskan di catatan pada akhir cerita, bahwa dalam sisi manusia ada pertarungan, seperti dikisahkan dalam adegan ketika Simon berjuang dengan seluruh kekuasaan lemahnya melawan pesan ketua, melawan “pengenalan lama dan mutlak,” pengenalan kapasitas manusia untuk kejahatan dan sifat dasar dangkal sistem moral manusia.” Begitukah?

Saya terpaku. Betapa cerita ini memunculkan banyak pertanyaan yang memenuhi dada? Membaca buku ini begitu menguras energi. Mungkin pada akhirnya seperti Ralph, kita hanya bisa menangisi kegelapan hati manusia.

Tentang Penulis
William Golding, terlahir sebagai Cornwall, 1911. Ayahnya mengajar sains di Marlborough Grammar School. Ia dibesarkan untuk menjadi seorang ilmuwan, namun memberontak. Setelah dua tahun berada di Oxford, dia mengalihkan perhatiannya dari sains menjadi sastra inggris lalu menekuni Anglo-Saxon. Ia kemudian menerbitkan satu buku puisi. Ia bergabung ke dalam Angkatan Laut Kerajaan ketika pecah perang dunia kedua. Kemudian mengakhiri karir Angkatan Laut-nya sebagai letnan yang memimpin sebuah kapal roket. Sesudaha perang dia mengajar dan menulis buku, salah satunya adalah Lord of the flies. Lainnya adalah The Inheritors, Pincher Martin, dan lain-lain. Hobi Golding adalah berpikir, berlayar, dan arkeologi. Pujangga yang mempengaruhinya adalah Euripides dan pengarang tanpa nama Anglo-Saxon The Battle of Maldon.

Awal Berjumpa dengan BBI

Untuk meramaikan hari blogger nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober yang lalu, maka mas Hernadi Tanzil, suhunya Blogger Buku Indonesia atau yang disingkat BBI memunculkan ide untuk menuliskan kisah awal pertemuan para member BBI dengan Bebi, sebutan lain BBI di twitter :).

Sebelum bergabung dengan BBI, saya telah memiliki blog utama. Blog ini telah saya kelola sejak tahun 2007, berisi berbagai macam tulisan, salah satunya adalah resensi buku. Aneh juga saya nggak bosen ya? hehe. Ada juga yang pernah bertanya untuk apa saya menulis sedangkan semakin lama semakin langka orang yang memberikan komentar atas tulisan kita. Jangankan memberi komentar, membaca pun mungkin tidak. Hem, saya nggak tahu jawabnya. Sejujurnya saya senang membaca dan menulis. Saya tidak terlalu memusingkan apakah tulisan saya dikomentari atau tidak. Ada atau tidak adanya komentar tidak menyurutkan minat saya untuk terus menulis. Semoga :).

Kebetulan suatu hari saya bertemu mas Tanzil di twitter. Dalam sebuah statusnya Beliau mencantumkan daftar blog yang berisi resensi buku. Tentu donk yang seperti ini nggak saya lewatkan :). Saya bertanya langsung kepada Beliau apakah blog saya bisa dimasukkan ke dalam list BBI? Saya tuliskan juga URL blog utama saya. Tak berapa lama mas Tanzil menjawab, blog yang ada dalam daftar BBI khusus untuk blog resensi buku, tidak bercampur dengan tulisan lainnya. Singkat kata, Beliau menyarankan agar saya membuat blog baru agar tulisan resensi buku saya dapat dimasukkan ke dalam daftar BBI. Tanpa membuang waktu, saya segera membuat dan memilah tulisan-tulisan mengenai resensi buku yang ada di blog utama. Dan tentu saja tidak lupa melaporkan ke mas Tanzil alamat blog baru ini.

Kalau diingat saya semangat sekali saat itu. Dalam beberapa hari postingan baru selalu muncul ^-^. Sampai kalau enggak salah, salah seorang teman BBI menyatakan keheranannya karena kemampuan membaca saya yang cepat. Hehehe, bukan kemampuan membaca saya yang cepat tapi karena itu adalah postingan lama yang saya pindah dan edit kembali :).

Tentu menyenangkan bahwa pada akhirnya saya bertemu dengan teman-teman yang menyukai buku. Walaupun saya jarang meninggalkan jejak di blog rekan-rekan namun beberapa postingan resensi buku mereka menjadi andalan saya untuk mencari buku yang bagus.

Bergabung di BBI juga memberikan berkah tersendiri, yaitu dikasi buku-buku gratis dari penerbit untuk diresensi ;-). Berkenalan dengan editor, penerjemah, penerbit, dan teman-teman yang lucu dan baik. Hanya yang bikin nggak tahan, kenapa ya mereka suka banget mengiming-imingi buku? Oya, kayanya itu memang keahlian kami sih :). Selain itu tidak ketinggalan informasi seputar buku. Nah, mengasyikkan, bukan?

Saya tidak punya target berapa buku yang harus dibaca. Saya ingin menikmati bacaan seperti halnya saya suka menulis, semua mengalir saja. Ketika segala terasa hampa, saya tahu itulah saatnya saya harus membaca 🙂

Selamat hari blogger, kawan. Teruslah membaca dan menulis. Menginspirasi dunia melalui tulisan.

Ciuman di bawah Hujan


Judul: Ciuman di bawah Hujan
Penulis: Lan Fang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 359 halaman

Adakah hubungan politik dengan cinta? Ataukah politik itu sejatinya cinta?

Fung Lin bertemu Ari yang politisi itu di sebuah acara pertemuan dengan para TKW. Sedianya pertemuan itu akan dihadiri oleh pejabat, dan Fung Lin bertugas untuk mewawancarai pejabat yang bersangkutan. Waktu bergulir namun Fung Link belum juga menangkap kehadiran pejabat yang dimaksud. Untuk menumpahkan kejengkelannya Fung Lin tanpa sengaja menemukan teman bicara. Laki-laki itu adalah Ari.

Awal perkenalan Fung Lin dengan Ari kemudian membawa kedekatan Fung Lin dengan seorang laki-laki berkaki angin yang bernama Rafi. Rafi adalah teman politisi Ari, laki-laki bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Dan Fung Lin yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.

Ari dan Rafi adalah anggota dewan dengan visi yang sama. Keduanya mencintai dan memperhatikan Fung Lin dengan cara yang berbeda.

Dengan Ari, Fung Lin merasa bisa mengobrol dengan bebas. Seperti Ari yang juga membutuhkan Fung Lin untuk menyadarkan dirinya bahwa ia masih manusia selayaknya. Sebaliknya Rafi, sedikit kaku dan menjaga sikap. Rafi enggan berbicara tentang hal-hal yang dirasanya tak perlu. Seperti itu pula sikapnya dalam dunia kerja yang digelutinya.
“Menurutnya, mimpi tidak bisa diwujudkan hanya dengan bercakap-cakap. Walaupun bercakap-cakap di gedung ini adalah sebagian dari proses untuk mewujudkan mimpi. Tetapi mimpi di sini milik siapa? Mimpi orang-orang kecil atau mimpi para pemain politik?” (halaman 91)

Siapakah yang memenangkan hati Fung Lin? Ari atau Rafi?

Ini bukan kisah cinta biasa, ini adalah cerita mengenai dunia politik. Politik itu juga cinta. Dalam cinta ada strategi yang perlu dimainkan untuk merebut hati orang yang kita kasihi.

Alur cerita di buku ini maju mundur. Berbagai simbol juga banyak digunakan untuk menggambarkan dunia politik. Seperti penggambaran tikus besar dan kecil yang saling menindas satu sama lain dan meninggalkan luka gigitan di tubuh Fung Lin. Atau hadirnya hamster yang kemudian melahirkan 44 anak, namun kemudian keempat puluh anak hamster itu dimakan oleh induknya sendiri. Demi melihat peristiwa menjijikkan itu membuat Fung Lin memutuskan untuk mengumpankan kedua induk hamster itu ke kandang harimau.

“Aku tidak mau ada orang yang memakanmu seperti itu. Aku juga tidak mau kau memakan orang lain. Karena politisi akan selalu saling memakan. Raf, aku tidak suka kau menjadi politisi….” (halaman 351)

Lan Fang melukiskan kisah dalam novel ini dengan diksi yang memikat disertai ungkapan tersembunyi sarat makna. Novel ini bisa menjadi renungan bagi kita untuk melihat dunia politik beserta kegelisahan yang ditimbulkannya, seperti yang diamini Rafi.
“Kalau saja ia memiliki keberanian untuk jujur, ia akan mengatakan bahwa sebenarnya ia juga memiliki ketakutan yang sama. Karena menjadi politisi tidak seindah yang tampak dari luar. Tetapi juga tidak mudah untuk keluar dari lingkarannya.” (halaman 351)