Sang Pemberontak, Albert Camus

Sambil membaca Catatan Pinggir 7-Goenawan Mohamad, diselingi dengan menuntaskan The Outsider (Sang Pemberontak), Albert Camus.

Camus, si pengarang The Outsider adalah filsuf yang mengenalkan filsafat absurditas. Absurdisme sendiri adalah paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal (absurd). Kesadaran para pengikut aliran itu terhadap tata tertib sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum.

Novel sastra ini bercerita tentang seorang laki-laki yang rela mati demi kebenaran. Tokoh kita ini dikenal sebagai orang yang pendiam, baik dan mengasihi orang yang membutuhkan pertolongan. Awal cerita bermula dari kematian ibu sang tokoh yang dititipkan di panti wreda. Pada saat mengunjungi jenasah sebelum proses pemakaman, si tokoh tidak menunjukkan ekspresi seorang anak yang kehilangan Ibu (Parameter yang berlaku di masyarakat umum). Reaksi yang dimunculkan si tokoh mengundang gugatan dan pertanyaan.

Sehari setelah kematian Ibu, laki-laki ini pergi berenang dan bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Dan mereka pergi nonton film komedi malam harinya.

Laki-laki ini juga berkenalan dengan tetangganya yang bernama Raymond. Raymond menghidupi dirinya dari para wanita. Raymond menyebutnya sebagai ‘Penjaga Gudang.’ Ada juga seorang tua dengan anjingnya.

Suatu saat Raymond bermasalah dengan seorang perempuan. Sang tokoh membantu Raymond. Raymond bebas namun kakak dan teman gadis ini tampaknya tak suka.

Pada suatu hari, Raymond mengajak tokoh dan kekasihnya berlibur ke pantai, di rumah sahabat Raymond. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para lelaki teman wanita Raymond. Mereka sampai di rumah sahabat Raymond. Ketika Raymond, tokoh dan sahabatnya ini tengah berjalan-jalan di pantai, para lelaki musuh Raymond muncul. Pertikaian pertama menyebabkan luka di wajah sahabat Raymond. Perkelahian usai.

Menit berikutnya sang tokoh sedang menyusuri pantai ketika ia melihat salah satu musuhnya berbaring di pantai. Sang tokoh meneruskan berjalan tapi kemudian sebuah benda tajam menyentuh pelipisnya. Rasa asin dan bau darah menerpa penciumannya. Dalam siraman cahaya matahari yang menyilaukan dan luka yang dialiri bulir-bulir air berwarna merah sehingga mengaburkan pandangannya, sang tokoh mengeluarkan senapan yang dipinjamkan sahabat Raymond. Dilepaskannya tembakan sebanyak empat kali.

Singkat cerita, sang tokoh menjadi tawanan dalam penjara. Ia kemudian di hukum mati.

Tokoh kita ini dalam perenungannya tak habis mengerti mengapa bukti bersalah yang memberatkan hukumannya adalah berkaitan dengan sifat-sifat dalam dirinya. Para hakim, jaksa menggugat perilakunya yang tidak menangisi kematian Ibunya. Mereka beranggapan sang tokoh adalah monster yang harus dibasmi.

Reaksi sang tokoh yang biasa saja menanggapi hukuman juga menjadi hal yang mengherankan. Ditampiknya pendeta yang ingin bertemu untuk melakukan ritual sebelum eksekusi dijalankan, seperti pengakuan dosa dan menerima penyesalan (tobat) korban. Pendeta mengira sang tokoh dalam keputusasaan sehingga berperilaku seperti itu. Dan laki-laki itu menjelaskan bahwa ia tak sedang putus asa. “Aku cuma takut yang menurutku wajar,” kata laki-laki itu.

Sifat keras kepala laki-laki ini yang tak mau mengakui dosanya membuat pendeta jengkel. Tampak pada cukilan kalimat berikut ini.

“Kujelaskan bahwa keadilan itulah yang memvonisku hukuman mati. Pendeta bilang, hukuman itu tak menghapuskan dosaku sama sekali. Kubilang aku tak tahu apa dosaku. Aku hanya diputuskan bersalah. Aku bersalah dan harus membayarnya. Jadi, tak ada lagi yang bisa diminta dariku.”

Keyakinan sang tokoh begitu besar dan tampak pada paragraf ini.
“Aku mungkin dungu tapi aku yakin atas diri sendiri, yakin akan semuanya, yakin atas hidupku dan kematian yang mendatangiku. Ya, itulah yang kumiliki. Tapi setidaknya itu kebenaran yang kupegang sebagaimana kebenaran itu memegangku. Aku telah hidup dengan cara tertentu, aku juga bisa hidup baik dengan cara lain. Telah kulakukan ini dan tak kulakukan itu. Aku tak melakukan satu hal, sebaliknya kulakukan yang lainnya. Lantas kenapa?”

“Tak ada, tak ada sama sekali yang berhak menangisinya. Aku juga merasa siap menjalani hidupku lagi. Seolah-olah ledakan besar kemarahan ini telah menyingkirkan semua sakitku, membunuh seluruh harapanku, kupandang ke atas ke gugusan tanda dan bintang di langit malam dan membiarkan diri terbuka untuk pertama kali terhadap pengabaian dunia yang ramah. Kutemukan sangat mirip diriku sendiri, faktanya begitu memiliki rasa persaudaraan, kusadari bahwa aku bahagia dan tetap bahagia.”

Bagi sang tokoh, hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup akan berharga jika ia mempunyai makna. Karena itu walaupun sang tokoh tahu bahwa kematian membayanginya, ia memilih untuk menghadapinya dengan tegar.

“Dari kedalaman masa depanku, sepanjang seluruh hidupku yang absurd yang kujalani, aku merasakan tiupan samar-samar berhembus ke arahku selama bertahun-tahun yang masih akan berhembus.”

Robohnya Surau Kami

Bernostalgia dengan buku-buku bacaan jaman SMP dahulu, dan inilah salah satu buku kumpulan cerpen dari AA Navis. Ada 10 cerita pendek di dalamnya, dan selain kisah ‘Robohnya Surau Kami’, saya suka dengan ‘Datangnya dan Perginya’ serta ‘Penolong’.

Robohnya Surau Kami
Bercerita tentang seorang kakek yang bersedih setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi. Cerita itu adalah tentang percakapan Tuhan dengan seorang manusia yang bernama Haji Saleh, di akhirat ketika Tuhan memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Haji Saleh meyakini bahwa dirinya akan dimasukkan ke surga. Namun ternyata Ia dikirim ke neraka. Haji Saleh kaget dan begitu tercengangnya Ia mendapati teman-temannya sedang merintih kesakitan di dalam sana. Dan ia tak mengerti karena semua orang yang dilihatnya adalah mereka yang tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk memprotes keputusan Tuhan. Dan inilah jawaban Tuhan:

“…kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”

Semua menjadi pucat pasi, dan bertanyalah haji Saleh pada malaikat yang menggiring mereka.

“Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.”

Navis seperti ingin mengingatkan kita yang seringkali berpuas diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita memaknai ibadah dengan rajin shalat, puasa, mengaji dan ritual keagamaan lainnya. Kita lupa bahwa belajar dan bekerja adalah juga ibadah. Bekerja dengan jujur dan tekun, mengolah kekayaan alam yang dilimpahkan Tuhan dengan baik. Kita mempunyai tangungjawab sosial terhadap masyarakat dan sekeliling kita.

Kita rajin shalat, puasa, mengaji dan melakukan ibadah ritual lainnya karena kita takut masuk neraka. Tapi kita tak merasa bersalah ketika mengambil hak orang lain, menyakiti perasaan sesama atau bahkan melakukan ketidakjujuran atau kemaksiatan di muka bumi.

Kita menginginkan pahala di akhirat dengan mengabaikan kebutuhan orang lain. Apa yang kita lakukan hanya untuk keselamatan diri sendiri di akhirat kelak. Kita tidak sepenuhnya ikhlas.

Jika demikian, maka kesalehan agama kita tak lebih superfisial saja sifatnya.

Candide

Candide adalah salah satu karya filsuf Perancis pada era pencerahan, dengan nama pena Voltaire. Nama aslinya adalah Francois Marie Arouet.

Secuil kisah dan renungan dari buku Candide.

Candide ini cerita seorang laki-laki yang berwatak lembut, tabah dan berkemauan keras. Ia meyakini bahwa ia tinggal di dunia yang terbaik dari semua kemungkinan yang ada. Ia sangat mempercayai ajaran gurunya yang menyatakan “semua yang terjadi di dunia ini selalu yang terbaik.”

Jadi, Candide ini menyukai Cunegonde, putri bangsawan seorang baroness. Suatu waktu sang baroness melihat Candide mencium putri kesayangannya, marahlah Ia dan Candide ditendang dari istana. Kemudian cerita berlanjut pada kisah Candide setelah keluar dari istana Baroness. Di luar istana ia menemui kenyataan yang bertolak belakang dengan ajaran gurunya.Ia menemui kejahatan, peperangan, bencana, musibah. Namun ia masih meyakini ajaran gurunya, bahwa semua diciptakan dalam bentuk terbaik dari semua dunia yang mungkin.

Sampai suatu ketika ia bertemu gurunya, Panglos yang terlunta-lunta dan menderita sakit. Kemudian gurunya bercerita bahwa istana baroness dihancurkan musuh, nona cunegonde dikabarkan meninggal. Selanjutnya, guru dan murid ini kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan mereka. Sampai kemudian Panglos dihukum gantung.

Candide setelah mengalami kenyataan-kenyataan pahit (gurunya Panglos dihukum gantung, kabar meninggal gadis pujaannya, tenggelamnya Anabaptis, pelindungnya, dll) menggugat dirinya dengan pertanyaan berikut “Seandainya ini adalah dunia terbaik dari yang paling mungkin, lalu bagaimana dengan kemungkinan dunia yang lainnya?”

Voltaire di sini sebenarnya ingin menyindir filosofis optimisme. Oya, ada dua macam optimisme. Saya kutip dari sini. Pertama, yang mudah, variasi puas diri optimisme yang mana selalu dengan bodoh percaya bahwa sesuatu yang dikehendaki baik yang akhirnya muncul dari kejahatan. Mereka yang berpegang teguh pada optimisme macam ini memandang pada kehidupan yang sering dikatakan bahwa apapun juga yang Tuhan kerjakan ia pasti mengerjakan untuk yang terbaik.

Yang kedua, adalah jenis optimisme yang beralasan, ditemukan pada pertimbangan dan kebijaksanaan. Pertimbangan fakta yang seksama dan kesimpulan seimbang mencapai pada akhirnya. Jenis optimisme yang kedua ditandai sebagai sikap orang yang bijaksana dalam kehidupannya.

Voltaire mungkin ingin menyindir filosofis optimisme yang pertama.

Apakah semua bencana dan musibah yang dibuat oleh manusia sendiri dapat dianggap sebagai kebaikan yang dibuat oleh Tuhan? Contoh, misalkan banjir yang terjadi saat ini. Apakah kita bisa mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa musibah yang terjadi saat ini adalah yang terbaik menurut Tuhan?

Banjir yang terjadi di negeri kita ini bukan untuk yang pertama. Sejak di sekolah dasar kita sudah belajar penyebab banjir, seperti: sampah yang dibuang di got, tidak ada tanaman hijau yang dapat menyerap air, dll. Tapi, dalam aplikasi kehidupan sehari-hari, kita tetap saja dengan santainya membuang sampah di selokan atau dimanapun, seakan-akan semua tempat adalah keranjang sampah. Kalau sudah demikian masih pantaskah kita mengatakan bahwa musibah banjir yang terjadi karena takdir?

Lalu, apa gunanya Tuhan memberikan manusia akal dan pikiran?

Sadarlah

Sadarlah adalah terjemahan dari karya Mitch Albom yang berjudul Have A Little Faith. Sadarlah adalah kisah nyata tentang perjalanan iman untuk menemukan tujuan hidup.

Ada dua tokoh yang menjadi inspirasi dari cerita ini, pertama adalah Albert Lewis, seorang rabi (pendeta untuk kaum yahudi) dan Henry Covington, seorang pendeta untuk kaum kristiani. Keduanya adalah orang-orang yang unik, yang bekerja berdasarkan keyakinan mereka demi keselamatan.

Kisah dua orang di atas diceritakan oleh si penulis (Albom). Bersama mereka Albom mengeksplorasi masalah-masalah yang membelit manusia modern: bagaimana bertahan di tengah kesulitan, keraguan akan Tuhan, dan pentingnya iman.

Banyak dialog-dialog yang menarik dalam kisah ini. Seperti pertanyaan tentang Tuhan berikut ini.

Albom: Bagaimana kita tahu Tuhan ada?

Rabi: Buatlah kasus yang menunjukkan bahwa Dia tidak ada. Seberapa kecil kita berhasil menemukansesuatu dalam sains, selalu ada sesuatu yang tidak dapat mereka jelaskan, sesuatu yang menciptakan semuanya dan tidak peduli ilmuwan mencoba berbagai cara untuk memperpanjang kehidupan, pada suatu tahap, hidup tetap saja berakhir. Dan apa yang terjadi ketika kehidupan sudah berakhir? Bila kau sudah sampai di akhir, di situlah Tuhan memulai. Perjalanan menuju keyakinan kepada Tuhan tidak selalu lurus, mudah atau bahkan logis.

Atau soal perkawinan dan komitmen. Mengapa dalam dunia yang modern, perceraian sering terjadi.

Rabi: Di masa kini orang terlalu berharap dari perkawinan. Mereka mengharapkan kesempurnaan. Setiap saat harus jadi sumber kebahagiaan. Itu hanya ada di televisi atau film, tetapi bukan pengalaman manusia. Orang sekarang tidak ingin membelenggu dirinya, tidak mau berkomitmen. Seorang yang berkomitmen adalah orang yang setia dan andal, begitupun dengan keyakinan.

Kita tidak mau terikat untuk terus menerus beribadat dan mengikuti semua aturan. Kita tidak ingin memiliki komitmen dengan Tuhan. Kita mendatangi-Nya bila kita membutuhkan. Komitmen yang sesungguhnya membutuhkan kekuatan yang terus menerus-dalam keyakinan dan dalam perkawinan.

Albom dengan lugas ingin menyatakan bahwa ada satu kesatuan dari beragam keyakinan yang ada di bumi ini. Semuanya mengaju kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, ialah Tuhan.

Cecilia dan Malaikat Ariel

Karya lain dari penulis dunia Sophie, Jostein Gaarder. Buku aslinya berjudul Through a Glass, Darkly.

Malaikat melihat dengan mata hati.

Malaikat berbicara dengan saling mendengarkan pikiran.

Manusia melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Dan seluruh semesta adalah cermin dan seluruh jagat raya adalah misteri.

Cecilia adalah seorang gadis kecil yang sedang sakit keras. Cecilia marah kepada tuhan dan mengganggap Dia tak adil. Namun keajaiban terjadi di malam natal tahun itu, seorang malaikat – Ariel namanya- mengunjungi Cecilia. Mereka kemudian bersahabat dan membuat sebuah perjanjian. Malaikat meminta Cecilia memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia, dan malaikat Ariel akan memberitahukannya seperti apa surga itu.

Tuhan

Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi.

Ariel, si malaikat Tuhan percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki miliaran mata sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Tuhan memberikan mata kepada ikan-ikan karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut.  Manusia juga tidak bisa terbang, maka setiap waktu ada burung-burung melayang di angkasa dan mata mereka mengawasi dari atas. Dan kadang ada manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya, sehingga seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin, seperti langit dan laut. Langit becermin pada laut. Seperti itulah Tuhan bisa becermin pada sepasang mata manusia karena mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa becermin pada ruh manusia.

Surga

Ruh dan surga mempunyai jalan yang berdekatan. Ruh bersifat ilahiah. Meskipun manusia terbentuk dari atom-atom dan molekul-molekul, tetapi ruh manusia mungkin saja terpancar langsung dari pikiran Tuhan. Ruh manusia melompat-lompat di dalam sebuah otak yang dibentuk dari sejumlah partikel debu yang dahulu kala datang dari bintang-bintang di ruang angkasa (Hei, kita sudah pernah membahas, bahwa manusia berasal dari sebuah bintang, bukan?).  Pikiran dan perasaan manusia berputar terus menerus pada debu bintang yang tertata apik, yang di dalamnya semua ‘kabel’ syaraf dapat terhubung dengan cara-cara yang selalu baru.

Manusia mempunyai ingatan-ingatan yang berlompatan, yang terkadang terlupakan tapi kemudian sewaktu-waktu muncul kembali. Ada ‘sesuatu’ yang memunculkan kembali, entah apa. Pikiran yang tak dikehendaki seperti itu diarahkan oleh sesuatu yang bukan kesadaran manusia. Kesadaran pastilah mirip dengan sebuah teater. Dan kita sama sekali tak tahu lakon apa yang akan dimainkan pada pementasan berikutnya.

Ruh seperti sebuah teater dan aktor-aktor di atas panggung adalah berbagai pikiran yang terus menerus muncul dan memainkan beragam peran. Dan banyak ruang di teater kesadaran dengan banyak pula panggung di sana.

Dalam pikiran, manusia dapat melakukan semua hal yang bisa dilakukan malaikat dengan tubuh mereka. Seperti ketika manusia bermimpi. Manusia bisa terbang, bisa menembus pintu dan apapun yang kita mau. Dan saat manusia bermimpi, tak ada yang bisa menyakiti mereka. Manusia akan sama amannya dengan malaikat di surga. Semua yang dialami hanyalah kesadaran dan tak menggunakan pancaindra. Bukankah itu keabadian? Artinya ruh manusia juga abadi seabadi malaikat-malaikat di surga.

Takdir

Manusia yang hidup di bumi seperti memainkan peran sandiwara tanpa akhir. manusia datang dan pergi, sampai mantra KELUAR terucap.

Apakah manusia bisa menolak takdir untuk dirinya sendiri? Aku ingin mengutip kalimat dari Ariel ketika Cecilia memberikannya sebuah pertanyaan.

Cecilia: “Kalau kau, mana yang kau pilih: hidup beberapa tahun sebagai manusia atau hidup selamanya sebagai malaikat?”

Malaikat Ariel: “Baik aku maupun kamu tak bisa memilih, jadi tak ada gunanya membicarakannya. Lagipula, pastilah lebih baik mendapat satu kesempatan menyaksikan alam semesta ini ketimbang tak mengalami apa pun. Segala sesuatu yang belum diciptakan tak punya hak menuntut untuk diciptakan.”

Kita semua tak bisa melepaskan diri dari takdir yang mengikat. Kita sekedar menjalankan apa yang harus kita jalani dalam hidup. Terima dan jalani dengan keceriaan. Seperti malaikat Ariel membantu cecilia untuk belajar  menerima takdirnya.

Hidup

Manusia melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan manusia bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan melihat lebih banyak lagi. Tapi saat itu, kita tak bisa lagi melihat diri kita sendiri.

–Buku yang sangat menyentuh. Kita hanya bisa merasakan kedalamannya ketika membacanya sampai tuntas.

(sumber: Cecilia dan malaikat Ariel, Jostein Gaarder)

Aku, kita manusia mungkin tanpa sadar lebih sering membiarkan diri kita dikendalikan oleh perasaan dibanding kita yang mengendalikan perasaan. Mungkin itu juga yang terjadi pada cecilia. Dan malaikat Ariel membantunya agar cecilia mau belajar berdamai dengan dirinya sendiri, yaitu ketika ia belajar menerima takdirnya.

Feynman, Genius Paling Cool Sedunia

Buku terjemahan dari buku aslinya yang berjudul “What Do You Care What Other People Think’ ini diterbitkan pertama kali oleh Mizan tahun 2006.  Buku yang mengisahkan masa kecil Feynman, kisah Feynman dengan istrinya dan keterlibatan Feynman dalam komisi penyelidikan kecelakaan pesawat challenger.

Kisah Feynman masa kecil dan perkawinannya dengan Arlene (istri pertama) sudah pernah saya baca di buku Feynman yang berjudul “Surely, You’re Joking Mr Feynman. ” Ada kisah sedih dan mengharukan seputar perkawinannya dengan Arlene, yaitu ketika Arlene sakit keras dan didiagnosis hidupnya tidak lama lagi. Kedua pasangan ini saling mencintai dan memperhatikan satu sama lain. Perhatian-perhatian kecil yang diberikan Arlene kadang membuat Feynman sedikit merasa jengah.  Arlene bukannya tidak menyadari hal ini.  Sampai suatu kali Arlene menggoda Feynman. Mau tahu kalimat apa yang dilontarkan Arlene untuk mengusili Feynman ketika dia merasa malu dengan perhatian Arlene? Inilah kalimat yang kelak dijadikan judul buku oleh Feynman, “What Do You Care What Other People Think. ”

Di buku ini selain menceritakan beberapa kisah masa kecil serta kisah Feynman dengan istrinya, Feynman menceritakan pergulatan hatinya ketika pertama kali ia dimintai tolong oleh seorang mantan muridnya untuk bergabung dalam sebuah komisi penyelidikan kecelakaan pesawat challenger.  Pesawat ulang alik yang membawa misi ke luar angkasa ini meledak dan menewaskan seluruh awaknya, pada tanggal 28 Januari 1986. Feynman hampir saja memutuskan untuk menolak permintaan tersebut. Ini dikarenakan ia tidak ingin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pemerintah (Adakah ini didasari oleh pengalamannya pada saat melakukan eksperimen dengan bom atom?). Namun akhirnya saran dari istri keduanya, Gwenneth, meyakinkan Feynman untuk menerima tawaran tersebut.

Lika-liku selama penyelidikan dikisahkan Feynman dalam buku ini secara gamblang.  Posisinya sebagai tim penyelidik tidak menjadikan Feynman seorang yang otoriter ketika menjalankan tugasnya. Dia cerdas, itu jelas tidak diragukan. Dan dia terkadang jail, salah satunya ketika dia ingin mendapatkan sebuah informasi yang dia tahu tak seorangpun akan mengatakan hal yang sebenarnya jika dia menanyakan perihal itu secara langsung. Pendekatannya yang baik dan ramah terhadap siapapun membuat dia mudah diterima.  Namun dia juga terlihat naif sekaligus keras kepala (terlihat ketika dia menolak surat rekomendasi untuk NASA). Tapi mungkin itu yang membuat Feynman menjadi sosok yang legendaris, cemerlang, jujur dan juga eksentrik.

Takhta dan Angkara

Bergelut dalam kemelut Takhta dan Angkara adalah buku Gajah Mada jilid 2. Seperti telah dikisahkan sebelumnya bahwa Sri Prabu Jayanegara, raja Majapahit ini meninggal karena diracun oleh Ra Tanca. Sri Jayanegara adalah anak laki satu-satunya dari Raden Wijaya (raja Majapahit pertama) dengan istri ke-5 nya, Dara Petak. Kepergian Jayanegara yang tiba-tiba menimbulkan luka yang mendalam bagi seluruh rakyat Majapahit. Tidak itu saja mangkatnya Beliau menimbulkan kegoncangan di dalam istana. Para ratu, yaitu: Tribuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Gayatri dan Dara Petak, kalang kabut memutuskan penerus kerajaan Majapahit. Sri Jayanegara pada saat meninggal belum menikah.

Dua adik Sri Jayanegara lainnya adalah perempuan, yaitu: Sri Gitarja dan Dyah Wiyat. Keduanya anak dari Raden Wijaya dengan istri ke-4, Gayatri. Ibu ratu Gayatri adalah seorang biksuni. Dengan mangkatnya sri Prabu maka penerus takhta kerajaan Majapahit akan diteruskan oleh salah satu dari dua putri sekar kedaton itu. Pada saat para ratu sedang berembug untuk memutuskan pilihan antara Sri Gitarja dengan Dyah Wiyat, terjadilah peristiwa genting seperti pembunuhan beruntun. Dari laporan Gajah Mada, dicurigai bahwa peristiwa di atas dilakukan oleh beberapa orang yang berkehendak melakukan makar.

Kecurigaan awal ditujukan kepada calon suami para sekar kedaton, Raden Cakradara (pasangan Sri Gitarja) dan Raden Kudamerta (pasangan Dyah Wiyat). Baik Cakradara dan Kudamerta mempunyai banyak pendukung yang juga berambisi untuk menduduki jabatan puncak di kerajaan. Maka dapatlah dibayangkan permainan apa yang sedang mereka lakonkan untuk memenuhi hasrat pribadi.

Jangan lupa juga dendam kesumat Ra Tanca pada Sri Jayanegara yang kemudian membuat dia tega meminumkan racun pada sri Prabu. Masih ingat kisah di Gajah Mada jilid 1, makar yang dilakukan oleh Ra Kuti dan kelompoknya (termasuk Ra Tanca) berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Hanya Ra Tanca yang menyerahkan diri dan kemudian kesalahannya diampuni. Namun sembilan tahun kemudian ternyata Ra Tanca masih menyimpan dendam kepada Sang Prabu. Ra Tanca berhasil membalas kematian teman-temannya dengan memberikan racun kepada Sri Jayanegara.

Apa hubungan Ra Tanca dengan pembunuhan beruntun? Bukankah Ra Tanca sudah mati ditebas pedang oleh Gajah Mada? Siapa dalang dibalik semua kekacauan? Penasaran kan? Baca saja bukunya ya? 🙂

Kurcaci dan Pulau Ajaib

Ini dongeng tentang kurcaci dan pulau ajaib, dari buku Misteri Soliter. Soliter sendiri adalah nama salah satu permainan kartu remi, yang dapat dimainkan sendiri.

Jadi, begini ceritanya: Alkisah ada seorang pelaut terdampar di sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Dalam kesendiriannya ia sering melamunkan bercakap-cakap dengan teman-teman khayalan. Mereka adalah sekumpulan kartu remi dalam wujud kurcaci. Si pelaut sangat intens berkomunikasi dengan teman-teman khayalannya, seolah-seolah mereka betul-betul ada. Hingga suatu hari, dia bertemu dengan mereka dalam kehidupan nyata. Para kurcaci itu hadir karena khayalan si pelaut. Mereka membentuk koloni dan bertindak seperti titah sang pelaut dalam dongeng yang dihidupkannya sendiri.

Setelah 52 tahun berselang (jumlah satu pak kartu remi), seorang pelaut lain terdampar di pulau ajaib itu. Suatu hari dia bertemu dengan para kurcaci dan menanyakan siapa raja di pulau itu. Para kurcaci menjawab bahwa mereka punya banyak raja. Sang pelaut merasa kebingungan. Sampai ketika akhirnya dia bertemu dengan pelaut tua yang lebih dahulu terdampar di pulau ajaib ini. Dia lah, sang pelaut tua, penguasa pulau ajaib.

Pada permainan kartu remi, dikenal 4 simbol raja yang berbeda satu sama lain, yaitu sekop, keriting, wajik, dan hati. Menurut cerita, 4 simbol raja pada kartu remi, ternyata melambangkan 4 raja yang terkenal di jaman masing-masing, yaitu: Sekop (David/Raja Daud), Keriting (Alexander the Great/Iskandar Agung), Hati (Charlemagne/Raja Prancis), Wajik(Julius Caesar). Oya, ada juga dua buah kartu joker, merah dan hitam sebagai kartu tambahan. Joker adalah kartu yang ikut menentukan kemenangan dan kekalahan dalam setiap permainan remi. Kartu remi adalah contoh bagaimana sebuah keteraturan bekerja.

Demikian juga kehidupan di pulau ajaib. Mereka punya banyak raja. Dan ada juga tokoh joker. Joker adalah tokoh yang pintar dan tak berhenti bertanya.  Kehadirannya seringkali menimbulkan kekacauan pada sistem nilai yang telah lama dianut. Namun demikian ia adalah seorang yang netral. Joker tidak masuk ke dalam kelompok manapun tapi ia bisa masuk ke kelompok mana saja. Ia lah chaos di antara keteraturan.

Apakah akhirnya para kurcaci itu mengetahui asal usul mereka? Atau akankah selamanya dunia dan kehidupan mereka di pulau ajaib menjadi misteri selamanya? Seperti juga, manusia?

Enzo

“Hidup, seperti halnya balapan, tidaklah hanya soal melaju kencang. Dengan menggunakan teknik-teknik di arena balap, manusia dapat berhasil menjalani liku-liku kehidupan.”

imagesEnzo adalah kisah seekor anjing yang berjiwa manusiawi. Kebersamaan yang dilaluinya bersama Denny, sang majikan, dan keluarganya mengajarkan Enzo untuk memahami kehidupan manusia.

Pelajaran pertama Enzo dalam kehidupan (keluarga) Denny adalah kedatangan Eve, istri Denny. Enzo merasakan ketakutan walaupun dia sendiri ingin belajar mencintai Eve, sebagaimana Denny mencintainya. Dan bagaimana Enzo kemudian memperbaiki hubungan dengan Eve, adalah sebuah pelajaran menarik yang diberikan Denny, ketika suatu hari mereka berkumpul menonton rekaman balap mobil. ….. “Apa yang kau wujudkan ada di depanmu; kitalah yang menciptakan nasib kita sendiri. Baik disengaja atau tidak, kesuksesan dan kegagalan disebabkan oleh kita sendiri, bukan orang lain.” Dengan demikian Enzo bersikukuh untuk memberi kesempatan kepada Eve untuk melihat dirinya dari sudut yang berbeda.

Dan bagaimana kemudian Enzo berusaha menghilangkan sisi manusiawinya ketika menghadapi kenyataan bahwa Eve pergi selamanya, setelah menderita sakit parah dan meninggalkan duka yang dalam untuk Denny dan Zo, putri tunggal mereka.

Bagaimana kelanjutannya? Baca sendiri ya :). Nilai-nilai yang diajarkan dalam buku ini tidak cukup sekadar dibuat reviewnya saja.

Akeelah and The Bee

Mencuri waktu untuk bisa membaca buku adalah hal yang sangat teristimewa saat ini. Tapi, saya berhasil menyelesaikan satu buku bagus di tengah rutinitas yang padat. Ya, walaupun hingar bingar film dan novel ini sudah jauh berlalu, namun pesan dan kesan yang disampaikan tidak pernah lekang oleh waktu, bukan?

Kita mulai saja. Akeelah berkisah tentang seorang gadis kecil keturunan Afrika-Amerika. Berasal dari sebuah lingkungan di mana kebanyakan orang kulit hitam di Los Angeles Selatan tinggal. Daerah yang berbahaya, di mana kekerasan dan narkoba menjadi bagian yang tak terlepaskan. Belajar di sebuah sekolah, yang seadanya, merupakan siksaan bagi Akeelah, yang sesungguhnya cerdas dan gemar belajar. Teman-teman yang memusuhi karena dia pintar membuat gadis kecil ini mati-matian menutupi kecerdasannya. Jangan menonjol karena pintar adalah sebuah simbol yang melekat pada sebagian besar anak-anak dalam lingkungan sekolah tersebut.

Namun kesukaannya pada kata, membawa perubahan yang besar tidak saja pada gadis ini tapi juga pada lingkungan sekitarnya. Buku ini mengisahkan perjalanan Akeelah meraih mimpinya. Perjuangan berat yang dilalui Akeelah, gadis kecil dari sebuah keluarga dan lingkungan miskin untuk mengikuti dan menjuarai sebuah lomba yang sangat bergengsi. Bersaing dengan para peserta yang tidak saja bersekolah di tempat yang bagus juga mayoritas berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan.

Pada akhirnya, Akeelah membuktikan, walaupun berasal dari keluarga yang pas-pasan dengan lingkungan sosial yang penuh bahaya dan bersekolah di tempat yang tidak termasuk kategori baik, dengan dukungan dan kasih sayang orang-orang sekitarnya mampu memperlihatkan kemampuan luar biasa yang tak terduga.

Pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini adalah bahwasanya pendidikan sangat penting. Pendidikan akan membawa kita ke dalam kehidupan yang lebih baik. Tidak saja secara materi namun yang utama adalah cara memandang dan mengatasi berbagai persoalan kehidupan yang tidak akan pernah selesai selama manusia hidup.