The Warrior Of The Light, A Manual

“.. ia mampu melihat hal-hal indah karena ia membawa keindahan dalam dirinya, karena dunia adalah sebuah cermin dan memantulkan bayangan wajah sang manusia itu sendiri. Sang ksatria tahu kesalahan-kesalahan dan keterbatasannya, tapi ia berbuat semampu dirinya untuk mempertahankan keriangan pada saat-saat krisis. Lebih-lebih dunia ini berbuat yang terbaik untuk membantunya, walaupun segala sesuatu yang ada di sekitarnya kelihatan berlawanan. (Ksatria Cahaya dan Pertempuran).”

Rangkaian kalimat di atas adalah nukilan dari buku The Warrior The Light A Manual (Kitab Suci Ksatria Cahaya), Paulo Coelho. Penulis satu ini memang sangat piawai mengajarkan nilai-nilai kehidupan dalam setiap tulisannya. Seperti pesan dalam buku ini “Setiap orang mampu menjadi seorang ksatria. Dan walaupun tak ada seorangpun yang mengira diri mereka sebagai seorang ksatria, tapi sebenarnya mereka adalah para ksatria.”

Belajar Tiada Henti

“Belajarlah sebanyak-banyaknya. Get all the education you can! Sesudah itu, lakukanlah sesuatu. Bagi bangsa Indonesia!” (Cacuk Sudarijanto)

image001.jpg Bagi Cacuk, hidup adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Untuk itulah buku ini ada, berkisah tentang berbagai hal yang telah Beliau pelajari dari orang-orang dan lingkungan selama hidupnya.

Mantan petinggi dari perusahaan telekomunikasi, dahulu dikenal Perumtel, ini memulai awal karirnya sebagai direktur utama di PT Telkom. Membaca sepak terjang Beliau untuk membangunkan perusahaan besar yang sedang tertidur ini sungguh mengagumkan. Dengan 40 ribu karyawan dan jumlah sarjana hanya 2% , Perumtel pada saat itu sungguh-sungguh berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Belum lagi citra yang menempel pada Perumtel saat itu, citra kekumuhan tidak saja dalam artian fisik tetapi juga mental. Mungkin tidak seperti sekarang, kala itu karyawan Perumtel tidak mempunyai kebanggaan institusional pada diri mereka. Telkom sangat beruntung pernah memiliki seorang pemimpin dengan visi besar.

Apa yang saya pelajari dari buku ini? Semangat, dedikasi dan loyalitas. Beliau meyakini bahwa ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya harus dikembalikan untuk membangun negeri ini. Seperti lagu kesukaan Beliau, Bagimu Negeri. Dulu, saya pernah bertanya-tanya mengapa Telkom selalu menyiarkan lagu ini pada saat-saat tertentu. Sekarang, saya tahu jawabannya :).

Do Not Covet Your Ideas

Give away everything you know and more will come back to you. Kalimat serupa pernah diucapkan Ibu saya ketika pertama kali saya memutuskan untuk menjadi guru. Tepatnya, seperti ini ‘yang perlu kamu ingat ketika memutuskan untuk menjadi guru, jangan pelit dengan ilmu yang kamu punya. Jangan takut ilmu mu habis karena tuhan pasti akan memberinya lebih banyak lagi’.

Kalimat awal saya kutip dari bukunya Paul Arden, yang berjudul ‘It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be. Saya ambil salah satu isi dari bab Do Not Covet Your Ideas.

Kita tentu ingat ketika murid-murid di sekolah menutupi jawaban soal mereka dengan menelungkupkan lengan mengelilingi kertas untuk menghindari contekan teman. Situasi yang sama terjadi di tempat kerja. Orang akan merahasiakan ide-ide mereka. Buku ini menyatakan jika kita menyimpan ilmu hanya untuk diri sendiri maka kita hidup dengan ilmu itu saja (baca: puas dan tidak berkembang alias macet). Sebaliknya, dengan memberikan ilmu yang kita punya kepada orang lain maka diri kita akan selalu mencari pengetahuan lain untuk menggantikan ilmu yang telah kita berikan. Mengutip kembali tulisan dari bab ini ‘Somehow the more you give away the more comes back to you’.

Ide atau gagasan adalah pengetahuan yang terbuka. Jangan pernah mengakuinya sebagai milikmu sendiri. Gagasan itu bukanlah kepunyaanmu. Mereka milik orang lain. Ide-ide itu bertebaran dimana-mana. Diri kita hanyalah mengambil satu bagian daripadanya.

Totto-Chan

images
Judul: Totto Chan Gadis Jilik di Jendela
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 271

Totto-Chan adalah cerita seorang gadis cilik yang dianggap ‘nakal’ oleh gurunya. Karena kewalahan oleh kebandelan Totto-Chan maka sang guru meminta ibu gadis cilik ini untuk memindahkannya ke sekolah lain. Sekolah baru Totto-Chan bernama Tomoe Gakuen. Ruang kelas sekolah ini berada di dalam gerbong kereta. Tidak seperti sekolah lainnya, para murid bebas memilih urutan pelajaran yang mereka sukai. Setiap pagi Bapak dan Ibu guru menuliskan soal-soal dan pertanyaan yang akan diajarkan hari itu. Murid bebas memilih pelajaran yang akan mereka kerjakan terlebih dahulu. Metode pengajaran ini membantu guru dapat mengamati bakat dan minat pada setiap anak didik.

Setiap anak juga membawa bekal ke sekolah. Untuk ‘memaksa’ anak menyantap makanan yang bergizi, kepala sekolah meminta siswa untuk melengkapi bekal makanan mereka dengan ‘sesuatu dari pegunungan’ dan ‘sesuatu dari laut’. ‘Paksaan’ tersebut tidak dirasakan oleh anak, karena mereka lebih tertarik untuk menebak-nebak dan sebisa mungkin melengkapi bekal mereka dengan ‘sesuatu dari pegunungan’ (makanan dari daratan) dan ‘sesuatu dari laut’ (makanan dari laut). Sebelum mulai acara makan, kepala sekolah akan berkeliling dan memeriksa bekal setiap anak. Kadang Beliau mengajukan pertanyaan dan menjelaskan menu makanan tertentu.

Setelah seharian belajar, siswa dibolehkan memilih acara bebas. Biasanya mereka memilih untuk berjalan-jalan. Ditemani dengan Bapak atau Ibu guru mereka berjalan-jalan dengan riang, sesekali mereka bertanya tentang apa saja yang mereka lihat atau temui. Anak-anak tidak pernah menyadari, bahwa dalam acara bebas ini mereka sesungguhnya belajar banyak tentang sains, biologi, dan sejarah. Banyak sekali pengalaman menarik yang diperoleh dari siswa-siswi di sekolah Tomoe Gakuen ini. Mereka bermain dan belajar sekaligus.

Buku yang dapat memberikan inspirasi dan membuka wawasan terutama untuk dunia pendidikan.

Marya, Wanita Luar Biasa

Waktu kecil, aku punya banyak koleksi buku. Salah satunya, seri tokoh dan penemu. Lord Baden Powel , Nightingale, dan Marie Curie, beberapa diantara yang membekas cukup dalam pada ingatanku. Dan tiba-tiba aja, my partner, beli buku yang judulnya ‘Marya, Wanita Luar Biasa’. Melihat cover nya, aku langsung bisa mengenali tokoh wanita itu. Pasti Marie Curie, si penemu radium (Aku masih ingat nama suami Marie lho). Tapi kok ‘Marya’? *Halah* katanya inget tapi nama asli Marie lupa.. hehehe. Ini sedikit kisah dari buku ‘Marya, Wanita Luar Biasa’, penulis Hendrasmara, penerbit Navila.

“Aku tak akan runtuh oleh situasi maupun oleh orang atau orang-orang”. (Marie Curie)

Marya Sklodovska adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, lahir 7 Nov 1867. Marya sekeluarga tinggal di Polandia, yang masa itu dijajah oleh bangsa Rusia. Sebagai negara jajahan, warga Polandia diharuskan mempelajari bahasa Rusia. Tidak ketinggalan di sekolah tempat Marya belajar. Namun guru kelas Marya seringkali mencuri-curi waktu menggunakan bahasa Polandia ketika mengajar. Tentu saja bila ketauan bisa cilaka. Marya yang pintar pasti lah menjadi korban jika ada pengawas sekolah datang. Karena beliau akan mengajukan berbagai pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang murid. Dan Marya tahu, bahwa ia lah yang akan dipanggil oleh guru nya.  Marya yang pintar dan fasih berbahasa Rusia akan tampil sebagai penyelamat bagi seluruh anak di kelas tersebut. Sebaliknya, Marya, tidak merasa senang. Ia sedih karena harus bersandiwara.

Ayah Marya, karena menunjukkan loyalitas terhadap tanah air, dipecat dari pekerjaannya. Marya dan saudara-saudaranya hidup dalam keprihatinan. Beruntung Marya berada dalam lingkungan yang saling mengasihi satu sama lain. Ketika Marya berusia 11 tahun, ibu yang dicintai kembali kepada Sang Pencipta, karena sakit TBC yang dideritanya. Sebelumnya, kakak Marya juga meninggal karena sakit. Demi pengorbanan sang ibu dan kakak terkasih, serta ayah yang telah bekerja keras untuk keluarga serta kesetian terhadap tanah air, Marya dan saudara-saudara nya bertekad untuk belajar tekun dan bekerja keras agar dapat menyelesaikan studi dengan gemilang.

Semua rintangan yang ada tidak menyurutkan langkah Marya untuk mewujudkan cita-cita.

Kedisiplinan, kegigihan, ketekunan, dan perjuangan hidupnya sungguh patut disimak. Pengorbanan yang tiada tara dan penyerahan diri secara total untuk mengabdikan diri demi ilmu pengetahuan, kemanusiaan, serta bangsa dan tanah air yang dicintai sungguh mengharu biru  perasaan.