A Beautiful Mind

Judul: A Beautiful Mind – Kisah Hidup Seorang Genius Penderita Sakit Jiwa yang Meraih Hadiah Nobel
Penulis: Sylvia Nasar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 625

Pernah ada yang mengatakan bahwa batas kejeniusan dan ketidakwarasan itu berbeda tipis. Nah, cerita dalam buku ini mungkin bisa mewakili kalimat di atas.  Kisah nyata seorang genius penerima nobel yang menderita sakit jiwa. Buku yang pernah difilmkan dengan judul yang sama ini bercerita tentang seorang genius matematika Amerika Serikat yang menemukan prinsip matematika, yang disebut dengan kesetimbangan Nash-yang sangat penting untuk teori permainan atau game theory.

Membaca lembar demi lembar tulisan di buku ini menimbulkan rasa iba dan takjub sekaligus.

Nash adalah seorang mahasiswa pasca sarjana yang cemerlang sekaligus eksentrik di Universitas Princeton. Di usia 20-an tahun Nash menemukan prinsip matematika yang menjadi dasar teori permainan. Namun karirnya yang cemerlang hancur ketika ia didiagnosis penyakit skizofrenia di usia 31 tahun. Kesehatan Nash semakin menurun di usianya yang ke 60 tahun. Ketika keberadaannya nyaris terlupakan sebuah keajaiban terjadi, yaitu:  kesembuhan yang tak disangka-sangka dan pada saat yang bersamaan panitia nobel memutuskan memberi penghargaan atas prestasi yang gemilang di masa lampau, sebuah penghargaan yang pernah diimpikan Nash semasa muda.

Membaca buku ini menghanyutkan kita, pembaca, pada perasaan kesepian dan keterasingan yang dirasakan sang tokoh.

Pada buku ini juga sedikit disinggung beberapa tokoh-tokoh genius lainnya yang mengalami sakit serupa.  Disebutkan bahwa kebanyakan mereka yang terkena skizofrenia adalah salah satunya, orang-orang yang mempunyai IQ tinggi. Membuat saya bertanya “Apakah mereka yang dilahirkan dengan otak cemerlang rentan terhadap penyakit kejiwaan?”

Kesan saya tentang buku ini: Bagus dan menarik. Mengingatkan pada kita bahwa dalam hidup perlu adanya keseimbangan. Serius dan bersenang-senang mempunyai porsinya sendiri-sendiri.

Takhta dan Angkara

Judul: Bergelut dalam Takhta dan Angkara
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai

Inilah buku kedua dari 5 seri buku Gajah Mada: Bergelut dalan Takhta dan Angkara.

Seperti telah dikisahkan di buku pertama, bahwa Sri Prabu Jayanegara, raja Majapahit akhirnya meninggal karena diracun oleh Ra Tanca.  Sri Prabu Jayanegara adalah anak laki satu-satunya dari Raden Wijaya (raja Majapahit pertama) dengan istri kelimanya, Dara Petak. Kepergian Jayanegara yang tiba-tiba menimbulkan luka yang mendalam bagi seluruh rakyat Majapahit. Tidak itu saja mangkatnya Beliau menimbulkan kegoncangan di dalam istana. Para ratu, yaitu: Tribuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Gayatri dan Dara Petak, kalang kabut memutuskan penerus kerajaan Majapahit. Sri Jayanegara pada saat meninggal belum menikah.

Dua adik Sri Jayanegara lainnya adalah perempuan, yaitu: Sri Gitarja dan Dyah Wiyat. Keduanya anak dari Raden Wijaya dengan istri keempat, Gayatri. Ibu ratu Gayatri adalah seorang biksuni. Dengan mangkatnya sri Prabu maka penerus takhta kerajaan Majapahit akan diteruskan oleh salah satu dari dua putri sekar kedaton itu. Pada saat para ratu sedang berembug untuk memutuskan pilihan antara Sri Gitarja dengan Dyah Wiyat, terjadilah peristiwa genting seperti pembunuhan beruntun. Dari laporan Gajah Mada, dicurigai bahwa peristiwa di atas dilakukan oleh beberapa orang yang berniat melakukan makar.

Kecurigaan awal ditujukan kepada calon suami para sekar kedaton, Raden Cakradara (pasangan Sri Gitarja) dan Raden Kudamerta (pasangan Dyah Wiyat). Baik Cakradara dan Kudamerta mempunyai banyak pendukung yang juga berambisi untuk menduduki jabatan puncak di kerajaan. Maka dapatlah dibayangkan permainan apa yang sedang mereka lakonkan untuk memenuhi hasrat pribadi.

Jangan lupa juga dendam kesumat Ra Tanca pada Sri Jayanegara yang kemudian membuat dia tega meminumkan racun pada sri Prabu Jayanegara.  Dendam ini disebabkan oleh makar yang dilakukan oleh Ra Kuti dan kelompoknya (termasuk Ra Tanca) berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Hanya Ra Tanca yang menyerahkan diri dan kemudian kesalahannya diampuni. Namun sembilan tahun kemudian ternyata Ra Tanca masih menyimpan dendam kepada Sang Prabu. Ra Tanca berhasil membalas kematian teman-temannya dengan memberikan racun kepada Sri Jayanegara.

Apa hubungan Ra Tanca dengan pembunuhan beruntun? Bukankah Ra Tanca sudah mati ditebas pedang oleh Gajah Mada? Siapa dalang dibalik semua kekacauan? Silakan membaca buku seri ketiga dari rangkaian kisah Gajah Mada.

Gajah Mada

Judul: Gajah Mada
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai

Dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Jayanegara, kerajaan Majapahit banyak mengalami pemberontakan, salah satunya makar yang dilakukan oleh Ra Kuti. Pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti berhasil menguasai istana sehingga memaksa Prabu Sri Jayanegara bersama keluarganya mengungsi. Dalam pengungsiannya Jayanegara dikawal oleh pasukan Bhayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada. Masa penyelamatan Jayanegara ini merupakan bagian paling menegangkan dari isi cerita. Adanya telik sandi (mata-mata) dari pihak Ra Kuti ke dalam pasukan Bhayangkara sempat membuat pasukan Bhayangkara dan Gajah Mada sendiri kewalahan. Sehingga diputuskan Gajah Mada sendiri yang mengawal raja.

Pada akhirnya kemenangan berada di pihak Jayanegara. Pasukan Bhayangkara berhasil merebut istana serta mengembalikan Sri Prabu Jayanegara menjadi raja Majapahit. Namun kemudian Jayanegara sakit. Untuk menyembuhkan sakitnya maka didatangkan seorang tabib yang bernama Ra Tanca. Ra Tanca ini sesungguhnya adalah orang yang masih menyimpan dendam dan sakit hati pada Jayanegara. Dengan kepandaiannya meracik obat dia mengakali Gajah Mada. Ra Tanca membuat racun yang seolah-olah obat untuk diminumkan kepada Jayanegara. Saat itu juga raja meninggal. Mengetahui rajanya terbunuh, Gajah Mada segera menghukum mati Ra Tanca.

Bagaimana kelanjutannya? Silakan baca buku kedua dari 5 seri buku Gajah Mada ini.

Kisah Gajah Mada dibuat 5 seri, yaitu: Gajah Mada, Bergelut dalam kemelut takhta dan angkara, Hamukti Palapa, Perang Bubat, dan Madakaripura Hamukti Moksa.

Nama Gajah Mada tidak lepas dari Majapahit. Dari seorang bekel, ia kemudian menjadi orang besar yang menghantar Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Langit Kresna Hariadi, penulis buku ini mampu menuliskan cerita dengan sangat menarik. Pembaca seakan dibawa hanyut ke dalam sebuah petualangan yang seru dan mendebarkan.

Sebagai buku fiksi bernuansa sejarah, buku ini sedikitnya mampu membuat saya kembali tertarik menapak tilasi sejarah dari sebuah kejayaan besar yang ada di bumi nusantara.

Kisah Despereaux

Judul Asli: The Tale of Despereaux
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Dokumentasi: dari sini

Ini cerita tentang seekor tikus kastil yang jatuh cinta pada seorang putri, Pea, namanya. Tikus kastil ini bernama Despereaux. Berbeda dengan tikus lainnya, Despereaux adalah seekor tikus yang tertarik pada musik, dan cerita yang ada dalam buku. Keganjilan yang ada padanya menyebabkan Despereaux kemudian dihukum dan dimasukkan ke dalam ruang tahanan bawah tanah. Kehidupan yang sepenuhnya gelap dan pekat. Serta menakutkan. Di sanalah tinggal bangsa pemangsa, para tikus got yang kejam dan licik. Mereka tak pernah mengenal kasih sayang. Mereka hanya tahu balas dendam dan kebencian. Tak sepercikpun cahaya mereka biarkan masuk. Seluruhnya kelabu. Tapi, ada satu tikus got yang berbeda. Ia lah Roscuro. Tikus got yang merindukan cahaya.

Dan ada seorang pelayan yang bernama Miggeri Sow. Perempuan yang sejak kecil belajar bahwa tak ada seorangpun yang peduli pada keinginannya. Namun Miggeri menyimpan satu harapan yang sederhana tapi mustahil.

Bersama Roscuro, Miggeri berkomplot. Masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Roscuro ingin membalas dendam dan sakit hatinya pada Putri Pea dan Miggeri dengan lamunannya, menggantikan kedudukan putri Pea sebagai putri raja.

Akankah misi kejahatan itu dapat digagalkan oleh cinta dari seekor tikus? Silakan baca bukunya 🙂

Yang menarik adalah pesan dari Kate, bahwa hidup tidak selamanya manis dan menyenangkan. Namun sepahit apapun kehidupan, selalu ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai itu ibarat cahaya, yang bersinar, membimbing dan menuntun kita agar lebih baik setiap harinya sambil tak lupa selalu bersyukur.

Perjalanan Ajaib Edward Tullen


Dokumentasi: dari sini

Judul buku: The Miraculous Journey of Edward Tulane.
Penulis: Kate Dicamilo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ini kisah seekor kelinci porselen yang bernama Edward Tulane. Ia dimiliki oleh seorang anak perempuan bernama Abilene. Abilene sangat menyayangi Edward dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Sebaliknya, Edward tidak mempedulikan Abilene. Edward terlalu bangga pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah sepatutnya dilimpahi kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Dan, suatu hari ia menghilang.

Dunia yang sesungguhnya harus dihadapi oleh kelinci porselen ini. Edward terlempar dari genggaman seorang anak dalam perjalanan menggunakan kapal laut. Tubuhnya tenggelam ke dasar laut yang gelap dan pekat. Keyakinan bahwa Abilene akan menjemputnya perlahan memudar. Edward memikirkan bintang-bintang. Apakah bintang-bintang itu tetap bersinar walaupun ia kini tak lagi bisa melihatnya.

Dan suatu hari badai yang besar terjadi. Badai itu berulangkali menghempaskan tubuhnya, membawanya naik kemudian menurunkannya kembali, berulang-ulang. Di tengah keputusasaan sebuah jaring nelayan menyambar tubuhnya. Seorang nelayan kemudian membawa Edward pulang. Untuk beberapa lama hidup Edward nyaman bersama nelayan yang menyayanginya. Wanita tua, istri nelayan itu sering mengajaknya berbicara. Dan untuk pertama kali Edward menyadari bahwa ia bisa mendengarkan orang lain berbicara kepadanya. Sebelumnya, ia tak pernah mempedulikan jika Abilene bercerita. Di malam hari, jika cuaca cerah, pasangan itu akan mengajak Edward berjalan-jalan. Laki-laki nelayan itu akan memberitahu nama-nama rasi bintang. Edward sangat menyukainya. Sampai suatu ketika hidup Edward berubah ketika anak perempuan pasangan itu datang. Anak perempuan itu membenci kehadiran Edward. Dilemparnya Edward ke tempat sampah. Dan untuk beberapa lama hidup Edward berada di gundukan sampah.

Suatu hari seekor anjing mengendus keberadaan Edward dan membawa kepada majikannya, seorang gelandangan. Hari-hari dilalui Edward bersama gelandangan dan anjingnya. Edward mulai merasa menyayangi anjing itu. Mereka bersahabat. Sampai kemudian suatu hari seorang kondektur menangkap basah mereka di dalam gerbong kereta api. Edward tidak dapat berbuat apa-apa ketika melihat kondektur itu menendang sahabatnya. Hatinya menjerit dan marah, tapi ia tak berdaya. Tak lama, ia pun dilempar keluar oleh kondektur itu. Dari jauh didengarnya suara lolongan sedih sahabatnya.

Edward mendarat dengan tertelentang. Ditatapnya langit malam. Ia mengingat semua nama pemiliknya terdahulu, ketika tiba-tiba sesuatu jauh di dalam hatinya terasa sakit. Rasanya ia ingin sekali bisa menangis.

Bagaimana perjalanan Edward selanjutnya? Setelah menjadi teman bagi seorang anak perempuan yang sakit keras, kemanakah Edward pergi? Mampukah Edward membuka dirinya kembali untuk disayangi setelah kehilangan untuk kesekian kalinya?

Kate selalu mampu mengharu biru perasaan pembacanya. Melalui tokoh Edward, saya seperti diingatkan bahwa berbagai kekecewaan, kesedihan dan keputusasaan yang kita alami seringkali membuat kita lebih mampu memahami perasaan orang lain.

Mengutip sinopsis di buku tersebut “Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu-bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.”

Ridha

Dokumentasi: dari sini

Judul: The Road to Allah.
Penulis: Jalaluddin Rahmat
Penerbit: Mizan

Seorang sufi akan menerima kebahagiaan dan kesedihan dengan sama baiknya.

Suatu hari Nabi Musa a.s, bermaksud menemui Tuhan di Bukit Sinai. Seorang yang sangat saleh mendatanginya dan menitip pesan, “Wahai Kalimullah, selama hidup saya telah berusaha untuk menjadi orang baik. Saya melakukan shalat, puasa, haji, dan kewajiban agama lainnya. Untuk itu, saya banyak sekali menderita. Tetapi tidak apa, saya hanya ingin tahu apa yang Tuhan persiapkan bagiku nanti. Tolong tanyakan kepada-Nya. “Baik,” kata Musa. Di tengah jalan dia bertemu seorang pemabuk. “Mau kemana? Tolong tanyakan kepada Tuhan nasibku. Aku peminum, pendosa. Aku tidak pernah shalat, puasa, atau amal saleh lainnya. Tanyakan pada Tuhan apa yang dipersiapkan-Nya untukku.” Musa menyanggupi permintaannya.

Ketika kembali dari Bukit Sinai, ia menyampaikan jawaban Tuhan kepada orang saleh. “Bagimu pahala besar, yang indah-indah.” Orang saleh itu berkata, “saya memang sudah menduganya.” Kepada si pemabuk, Musa berkata,” Tuhan telah mempersiapkan bagimu tempat yang paling buruk.”. Mendengar itu si pemabuk bangkit, dengan riang menari-nari. Musa heran. “Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorangpun yang mengenalku,” ucap pemabuk itu dengan kebahagiaan yang tulus.

Akhirnya, nasib keduanya di Lauh Mahfuz berubah. Mereka bertukar tempat. Orang saleh di neraka dan orang durhaka di surga.

Musa takjub. Ia bertanya kepada Tuhan. Inilah jawaban Tuhan.

“Orang yang pertama, dengan segala amal salehnya, tidak layak memperoleh anugerah-Ku, karena anugerah-Ku tidak dapat dibeli dengan amal saleh. Orang yang kedua membuat Aku senang, karena ia senang pada apa pun yang Aku berikan kepadanya. Kesenangannya kepada pemberian-ku menyebabkan Aku senang kepadanya.”

—ridha dengan diri sendiri, alangkah sulitnya, bukan?—

sumber: Road to Allah, Jalaluddin Rahmat

Gajah Sang Penyihir

Judul: Gajah Sang Penyihir
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sedang merasa tak produktif. Kata-kata entah hilang kemana. Mungkin secara fisik memang lelah. Atau mungkin kondisi sekeliling membuatku down. Apapun itu yang pasti aku cuma mencari-cari alasan. Baiklah, abaikan saja. Hidup terus berjalan, bukan?

Dan, kita cerita tentang Gajah Sang Penyihir karya Kate Dicamillo saja ya?

Buku ini dikenalkan oleh salah seorang kawan saya di facebook. Dan dia benar, buku ini sangat patut direkomendasikan. Buku ini ‘pas’ sekali untuk saya. Saya langsung jatuh cinta begitu membacanya. Segera saya memburu karya Kate yang lain. Sayangnya, saya kesulitan menemukan buku lain karya Kate. Akhirnya, saya hubungi pihak gramedia. Dan melalui gramediashop akhirnya saya beruntung mendapatkan 2 karya Kate, yaitu: Perjalanan ajaib Edward Tulane dan Kisah Despereaux.

Gajah Sang Penyihir dan Perjalanan Edward Tulane adalah favorit saya. Keduanya mampu membuat saya hanyut dalam kisah para tokohnya. Tidak itu saja, yang paling menarik adalah pilihan kata dan setiap rangkaian kata di dalamnya mampu melelehkan hati.

Kate sangat piawai menggambarkan sebuah situasi dengan bahasa yang indah dan sarat makna.

Inilah sedikit ulasan dari kisah Gajah Sang Penyihir.
Peter adalah seorang anak yang tinggal di apartemen kecil dengan seorang teman ayahnya, seorang mantan tentara. Ayahnya meninggal dalam peperangan dan Ibunya menyusul sang ayah usai melahirkan adik Peter. Peter dipisahkan dengan si adik. Hari-hari sepi dilalui Peter. Hati kecil Peter meyakini bahwa sang adik masih hidup walaupun teman ayahnya berulangkali mengatakan bahwa adiknya meninggal dunia.

Suatu hari, Peter memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang peramal. Peramal hanya memberikan kata kunci: Gajah. Ya, gajah itu akan membawa Peter menemui kembali adiknya. Apa yang terjadi selanjutnya?

Baca bukunya :). Karena petualangan menarik akan dijumpai Peter dalam pengembaraannya menjemput adik tersayangnya.

“Pernahkah kau, sejujurnya, melihat sesuatu yang begitu indah? Harus kita apakan dunia tempat bintang-bintang bersinar gemerlap di tengah kegelapan dan kemuraman yang begitu pekat ini?”

Pekat tidak selamanya gelap. Pendar-pendar cahaya itu tidak lindap, jika kita percaya.

Dialog Tanpa Kata

“Kata adalah … inspirasi
ia bisa melahirkan banyak energi
untuk menebar rahmah di muka bumi

Kata adalah … abadi
meski waktu bisa mengubur diri
tapi gaungnya tidak akan pernah mati”

Prosa di atas saya kutip dari buku Dunia Tanpa Kata, yang ditulis oleh kawan maya saya Doni Riadi dan muridnya Fina Af’idatussofa. Penggalan prosa di atas mengingatkan saya pada nukilan kalimat berikut ini. “Scripta manent verba volant. Yang tertulis akan tetap tinggal, yang diucapkan lenyap bersama angin.”

Itulah kekuatan sebuah tulisan. Tulisan juga bisa mengubah dunia. Tulisan yang baik, dan mencerahkan pembacanya bisa menjadi rahmat bagi semesta pun sebaliknya.

Rangkaian kata berbentuk puisi atau prosa selalu menyenangkan untuk disimak. Ada pesan-pesan tersembunyi dalam setiap untaian kata. Pun ungkapan hati penulisnya. Kadang kata-kata itu begitu melekat dan menyatu dengan kehidupan kita sendiri.

Kumpulan prosa dan puisi ini banyak bercerita sebuah rasa. Cinta. Cinta kepada Sang Khalik. Cinta kepada sahabat, sesama dan alam semesta.

Puisi semacam pesona. Setiap rangkaian kata indahnya mencerminkan jiwa kita sendiri.

“bukan pada maya atau nyata

sebab maya bisa begitu nyata

dan nyata bisa menghilang maya

yang utama adalah

kita bisa menjadi sahabat

sejatinya

selamanya

pada maya

pada nyata” (Maya dan Nyata)

Teruntuk kawan maya saya, Pak Doni, selamat atas terbitnya buku Antologi Puisi ini. Semoga seperti harapan Anda, buku ini dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Dan sukses untuk buku-buku berikutnya.

Madilog-Tan Malaka

Madilog adalah buku yang menjadi puncak pemikiran terbaik Tan Malaka.

Madilog singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika, adalah panduan berpikir yang realistis, pragmatis, dan flexibal. Dalam bukunya ini Tan mengatakan pentingnya ilmu pengetahuan untuk membangun masyarakat Indonesia.

Mengapa Tan sangat menekankan pentingnya pengetahuan? Hal ini erat kaitannya dengan kondisi rakyat Indonesia sendiri yang masih menganut paham feodalisme, bermental budak, dan mengkultuskan tahyul.

Namun Tan juga tidak menyalahkan keadaan itu, karena bangsa Indonesia menurut Tan tidak mempunyai riwayat kesejarahan sendiri selain perbudakan. Karenanya tak mengherankan bila budaya bangsa ini berubah menjadi pasif dan menolak sama sekali penggunaan asas eksplorasi logika sains.

Untuk mengikis nilai-nilai negatif di atas tadi maka Tan memberikan solusinya melalui Madilog. Madilog lahir melalui perpaduan pertentangan pemikiran di antara dua kubu aliran filsafat, yaitu Hegel dengan Marx-Engels. Tan kemudian memadukan kedua pertentangan itu untuk mengubah mental budaya pasif menjadi kelas sosial baru berlandaslan sains, bebas dari alam pikiran mistis. Melalui sains, cara pandang masyarakat Indonesia harus diubah. Logika dikedepankan, pikiran kreatif dieskplorasi.

Hmm… tulisan di buku Tan Malaka, terbitan KPG ini sangat mengesankan bagi saya. Terutama, sebagiannya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tersimpan.

Mungkin Tan benar, kita semestinya bercermin terlebih dahulu ke diri sendiri sebelum bertindak. Bagaimana bisa membuat negeri ini maju jika di dalamnya masyarakat kita tidak bisa terbuka pada ilmu pengetahuan dan masih berkutat pada hal-hal yang dogmatis sifatnya? Kita tidak akan pernah kemana-mana selama kita tidak berani melihat keluar.

Madilog adalah simbol kebebasan berpikir. Seperti Tuhan yang menganugerahkan manusia akal, maka gunakanlah akal itu seoptimal mungkin. Bebaskan.

Tan Malaka dan Pendidikan


dokumentasi dari sini.

“Tan, merancangkan Republik sebelum kemerdekaannya tercapai.”

Kalimat di atas adalah kutipan dari buku Tan Malaka, Bapak republik yang Dilupakan. Diterbitkan oleh KPG dan merupakan satu dari 4 seri buku Tempo: Bapak Bangsa, yang terdiri dari: Sukarno, Hatta, dan Sjahrir.

Buku ini bercerita tentang sosok seorang Tan Malaka. Seorang yang radikal, seorang marxis tapi sekaligus Nasionalis. Tan hanya mempunyai satu cita-cita dalam perjuangannya yaitu menutup buku kolonialisme selamanya dari bumi Indonesia.

Ada sebuah kisah tentang pengalaman Tan ketika menjadi juru tulis di Bayah. Suatu saat Tan diminta untuk mengurusi data pekerja romusha. Tan mencatat bahwa 400-500 romusha meninggal setiap bulannya. Selain ancaman penyakit, para pekerja juga tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak. Tan kemudian mengajak para pemuda untuk memperbaiki nasib romusha. Dia mendirikan dapur umum untuk menyediakan makanan bagi romusha, membangun rumah sakit dan membuka kebun sayur dan buah.

Tan dikenal baik dan murah hati oleh para romusha. Dalam bukunya yang berjudul Madilog, Tan juga bercerita tentang kesengsaraan para penduduk di bawah militerisme jepang.

Keberpihakan Tan pada proletariat juga tampak pada saat ia menjadi asisten pengawas sekolah di Deli. Pada saat rapat besar tuan besar perkebunan Tan memaparkan gagasan mengenai pentingnya pendidikan bagi para anak kuli. Menurut Tan, tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkokoh kemauan, serta memperhalus perasaan. Walaupun menurut para tuan besar, sekolah bagi anak kuli itu hanya membuang-buang uang. Mereka beranggapan, sekolah bakal membuat anak kuli itu lebih brutal dari perilaku ayah mereka. Namun Tan membela dengan mengatakan ‘Anak kuli adalah anak manusia juga.’

Pengalaman Tan kemudian bergaul dengan kaum proletar memantapkan dirinya untuk bergerak di sektor pendidikan. Tan melihat bahwa para kuli itu sering terjerat berbagai peraturan kontrak yang tak mereka pahami oleh karena mereka buta huruf. Mereka terkungkung oleh kebodohan, kegelapan, kekolotan pemikiran sekaligus tergelincir dalam nafsu permainan judi.

Tan melihat perlunya pendidikan kerakyatan untuk menghadapi kekuasaan para pemilik modal yang berdiri atas pendidikan yang berdasarkan kemodalan. Menurut Tan “kemerdekaan rakyat hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan.”
Maka kemudian Tan mendirikan sekolah yang basis kurikulumnya berdasar pada:
1. Perlunya pendidikan ketrampilan dan ilmu pengetahuan, sebagai bekal untuk menghadapi kaum pemilik modal.
2. Pendidikan bergaul atau berorganisasi dan berdemokrasi. Ini dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri. harga diri, dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Menurut Tan, sekolah yang ia dirikan bukan ditujukan untuk mencetak juru tulis seperti tujuan sekolah pemerintah. Selain dapat menafkahi dirinya sendiri diharapkan sekolah ini juga dapat membantu rakyat dalam pergerakannya.

Ide sekolah rakyat ini berasal dari Belanda dan Rusia. Tan Malaka terinspirasi ketika membaca tulisan warga Rusia mengenai kurikulum sekolah komunis. Namun Tan menyesuaikan pengetahuan yang ia dapat dengan kondisi di Indonesia.

Perjuangannya yang tak kenal lelah untuk mewujudkan kemerdekaan begitu menggebu-gebu. Seperti diungkapkannya dalam seruan kepada kaum terpelajar Indonesia.
“Kepada kamu intelek kita seruhkan…Tak terdengarkah olehmu, teriakan massa Indonesia untuk kemerdekaan yang senantiasa menjadi semakin keras?”

Sumber: Tan Malaka, KPG