Perjalanan Ajaib Edward Tullen


Dokumentasi: dari sini

Judul buku: The Miraculous Journey of Edward Tulane.
Penulis: Kate Dicamilo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ini kisah seekor kelinci porselen yang bernama Edward Tulane. Ia dimiliki oleh seorang anak perempuan bernama Abilene. Abilene sangat menyayangi Edward dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Sebaliknya, Edward tidak mempedulikan Abilene. Edward terlalu bangga pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah sepatutnya dilimpahi kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Dan, suatu hari ia menghilang.

Dunia yang sesungguhnya harus dihadapi oleh kelinci porselen ini. Edward terlempar dari genggaman seorang anak dalam perjalanan menggunakan kapal laut. Tubuhnya tenggelam ke dasar laut yang gelap dan pekat. Keyakinan bahwa Abilene akan menjemputnya perlahan memudar. Edward memikirkan bintang-bintang. Apakah bintang-bintang itu tetap bersinar walaupun ia kini tak lagi bisa melihatnya.

Dan suatu hari badai yang besar terjadi. Badai itu berulangkali menghempaskan tubuhnya, membawanya naik kemudian menurunkannya kembali, berulang-ulang. Di tengah keputusasaan sebuah jaring nelayan menyambar tubuhnya. Seorang nelayan kemudian membawa Edward pulang. Untuk beberapa lama hidup Edward nyaman bersama nelayan yang menyayanginya. Wanita tua, istri nelayan itu sering mengajaknya berbicara. Dan untuk pertama kali Edward menyadari bahwa ia bisa mendengarkan orang lain berbicara kepadanya. Sebelumnya, ia tak pernah mempedulikan jika Abilene bercerita. Di malam hari, jika cuaca cerah, pasangan itu akan mengajak Edward berjalan-jalan. Laki-laki nelayan itu akan memberitahu nama-nama rasi bintang. Edward sangat menyukainya. Sampai suatu ketika hidup Edward berubah ketika anak perempuan pasangan itu datang. Anak perempuan itu membenci kehadiran Edward. Dilemparnya Edward ke tempat sampah. Dan untuk beberapa lama hidup Edward berada di gundukan sampah.

Suatu hari seekor anjing mengendus keberadaan Edward dan membawa kepada majikannya, seorang gelandangan. Hari-hari dilalui Edward bersama gelandangan dan anjingnya. Edward mulai merasa menyayangi anjing itu. Mereka bersahabat. Sampai kemudian suatu hari seorang kondektur menangkap basah mereka di dalam gerbong kereta api. Edward tidak dapat berbuat apa-apa ketika melihat kondektur itu menendang sahabatnya. Hatinya menjerit dan marah, tapi ia tak berdaya. Tak lama, ia pun dilempar keluar oleh kondektur itu. Dari jauh didengarnya suara lolongan sedih sahabatnya.

Edward mendarat dengan tertelentang. Ditatapnya langit malam. Ia mengingat semua nama pemiliknya terdahulu, ketika tiba-tiba sesuatu jauh di dalam hatinya terasa sakit. Rasanya ia ingin sekali bisa menangis.

Bagaimana perjalanan Edward selanjutnya? Setelah menjadi teman bagi seorang anak perempuan yang sakit keras, kemanakah Edward pergi? Mampukah Edward membuka dirinya kembali untuk disayangi setelah kehilangan untuk kesekian kalinya?

Kate selalu mampu mengharu biru perasaan pembacanya. Melalui tokoh Edward, saya seperti diingatkan bahwa berbagai kekecewaan, kesedihan dan keputusasaan yang kita alami seringkali membuat kita lebih mampu memahami perasaan orang lain.

Mengutip sinopsis di buku tersebut “Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu-bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.”

Ridha

Dokumentasi: dari sini

Judul: The Road to Allah.
Penulis: Jalaluddin Rahmat
Penerbit: Mizan

Seorang sufi akan menerima kebahagiaan dan kesedihan dengan sama baiknya.

Suatu hari Nabi Musa a.s, bermaksud menemui Tuhan di Bukit Sinai. Seorang yang sangat saleh mendatanginya dan menitip pesan, “Wahai Kalimullah, selama hidup saya telah berusaha untuk menjadi orang baik. Saya melakukan shalat, puasa, haji, dan kewajiban agama lainnya. Untuk itu, saya banyak sekali menderita. Tetapi tidak apa, saya hanya ingin tahu apa yang Tuhan persiapkan bagiku nanti. Tolong tanyakan kepada-Nya. “Baik,” kata Musa. Di tengah jalan dia bertemu seorang pemabuk. “Mau kemana? Tolong tanyakan kepada Tuhan nasibku. Aku peminum, pendosa. Aku tidak pernah shalat, puasa, atau amal saleh lainnya. Tanyakan pada Tuhan apa yang dipersiapkan-Nya untukku.” Musa menyanggupi permintaannya.

Ketika kembali dari Bukit Sinai, ia menyampaikan jawaban Tuhan kepada orang saleh. “Bagimu pahala besar, yang indah-indah.” Orang saleh itu berkata, “saya memang sudah menduganya.” Kepada si pemabuk, Musa berkata,” Tuhan telah mempersiapkan bagimu tempat yang paling buruk.”. Mendengar itu si pemabuk bangkit, dengan riang menari-nari. Musa heran. “Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorangpun yang mengenalku,” ucap pemabuk itu dengan kebahagiaan yang tulus.

Akhirnya, nasib keduanya di Lauh Mahfuz berubah. Mereka bertukar tempat. Orang saleh di neraka dan orang durhaka di surga.

Musa takjub. Ia bertanya kepada Tuhan. Inilah jawaban Tuhan.

“Orang yang pertama, dengan segala amal salehnya, tidak layak memperoleh anugerah-Ku, karena anugerah-Ku tidak dapat dibeli dengan amal saleh. Orang yang kedua membuat Aku senang, karena ia senang pada apa pun yang Aku berikan kepadanya. Kesenangannya kepada pemberian-ku menyebabkan Aku senang kepadanya.”

—ridha dengan diri sendiri, alangkah sulitnya, bukan?—

sumber: Road to Allah, Jalaluddin Rahmat

Gajah Sang Penyihir

Judul: Gajah Sang Penyihir
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sedang merasa tak produktif. Kata-kata entah hilang kemana. Mungkin secara fisik memang lelah. Atau mungkin kondisi sekeliling membuatku down. Apapun itu yang pasti aku cuma mencari-cari alasan. Baiklah, abaikan saja. Hidup terus berjalan, bukan?

Dan, kita cerita tentang Gajah Sang Penyihir karya Kate Dicamillo saja ya?

Buku ini dikenalkan oleh salah seorang kawan saya di facebook. Dan dia benar, buku ini sangat patut direkomendasikan. Buku ini ‘pas’ sekali untuk saya. Saya langsung jatuh cinta begitu membacanya. Segera saya memburu karya Kate yang lain. Sayangnya, saya kesulitan menemukan buku lain karya Kate. Akhirnya, saya hubungi pihak gramedia. Dan melalui gramediashop akhirnya saya beruntung mendapatkan 2 karya Kate, yaitu: Perjalanan ajaib Edward Tulane dan Kisah Despereaux.

Gajah Sang Penyihir dan Perjalanan Edward Tulane adalah favorit saya. Keduanya mampu membuat saya hanyut dalam kisah para tokohnya. Tidak itu saja, yang paling menarik adalah pilihan kata dan setiap rangkaian kata di dalamnya mampu melelehkan hati.

Kate sangat piawai menggambarkan sebuah situasi dengan bahasa yang indah dan sarat makna.

Inilah sedikit ulasan dari kisah Gajah Sang Penyihir.
Peter adalah seorang anak yang tinggal di apartemen kecil dengan seorang teman ayahnya, seorang mantan tentara. Ayahnya meninggal dalam peperangan dan Ibunya menyusul sang ayah usai melahirkan adik Peter. Peter dipisahkan dengan si adik. Hari-hari sepi dilalui Peter. Hati kecil Peter meyakini bahwa sang adik masih hidup walaupun teman ayahnya berulangkali mengatakan bahwa adiknya meninggal dunia.

Suatu hari, Peter memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang peramal. Peramal hanya memberikan kata kunci: Gajah. Ya, gajah itu akan membawa Peter menemui kembali adiknya. Apa yang terjadi selanjutnya?

Baca bukunya :). Karena petualangan menarik akan dijumpai Peter dalam pengembaraannya menjemput adik tersayangnya.

“Pernahkah kau, sejujurnya, melihat sesuatu yang begitu indah? Harus kita apakan dunia tempat bintang-bintang bersinar gemerlap di tengah kegelapan dan kemuraman yang begitu pekat ini?”

Pekat tidak selamanya gelap. Pendar-pendar cahaya itu tidak lindap, jika kita percaya.

Dialog Tanpa Kata

“Kata adalah … inspirasi
ia bisa melahirkan banyak energi
untuk menebar rahmah di muka bumi

Kata adalah … abadi
meski waktu bisa mengubur diri
tapi gaungnya tidak akan pernah mati”

Prosa di atas saya kutip dari buku Dunia Tanpa Kata, yang ditulis oleh kawan maya saya Doni Riadi dan muridnya Fina Af’idatussofa. Penggalan prosa di atas mengingatkan saya pada nukilan kalimat berikut ini. “Scripta manent verba volant. Yang tertulis akan tetap tinggal, yang diucapkan lenyap bersama angin.”

Itulah kekuatan sebuah tulisan. Tulisan juga bisa mengubah dunia. Tulisan yang baik, dan mencerahkan pembacanya bisa menjadi rahmat bagi semesta pun sebaliknya.

Rangkaian kata berbentuk puisi atau prosa selalu menyenangkan untuk disimak. Ada pesan-pesan tersembunyi dalam setiap untaian kata. Pun ungkapan hati penulisnya. Kadang kata-kata itu begitu melekat dan menyatu dengan kehidupan kita sendiri.

Kumpulan prosa dan puisi ini banyak bercerita sebuah rasa. Cinta. Cinta kepada Sang Khalik. Cinta kepada sahabat, sesama dan alam semesta.

Puisi semacam pesona. Setiap rangkaian kata indahnya mencerminkan jiwa kita sendiri.

“bukan pada maya atau nyata

sebab maya bisa begitu nyata

dan nyata bisa menghilang maya

yang utama adalah

kita bisa menjadi sahabat

sejatinya

selamanya

pada maya

pada nyata” (Maya dan Nyata)

Teruntuk kawan maya saya, Pak Doni, selamat atas terbitnya buku Antologi Puisi ini. Semoga seperti harapan Anda, buku ini dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Dan sukses untuk buku-buku berikutnya.

Madilog-Tan Malaka

Madilog adalah buku yang menjadi puncak pemikiran terbaik Tan Malaka.

Madilog singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika, adalah panduan berpikir yang realistis, pragmatis, dan flexibal. Dalam bukunya ini Tan mengatakan pentingnya ilmu pengetahuan untuk membangun masyarakat Indonesia.

Mengapa Tan sangat menekankan pentingnya pengetahuan? Hal ini erat kaitannya dengan kondisi rakyat Indonesia sendiri yang masih menganut paham feodalisme, bermental budak, dan mengkultuskan tahyul.

Namun Tan juga tidak menyalahkan keadaan itu, karena bangsa Indonesia menurut Tan tidak mempunyai riwayat kesejarahan sendiri selain perbudakan. Karenanya tak mengherankan bila budaya bangsa ini berubah menjadi pasif dan menolak sama sekali penggunaan asas eksplorasi logika sains.

Untuk mengikis nilai-nilai negatif di atas tadi maka Tan memberikan solusinya melalui Madilog. Madilog lahir melalui perpaduan pertentangan pemikiran di antara dua kubu aliran filsafat, yaitu Hegel dengan Marx-Engels. Tan kemudian memadukan kedua pertentangan itu untuk mengubah mental budaya pasif menjadi kelas sosial baru berlandaslan sains, bebas dari alam pikiran mistis. Melalui sains, cara pandang masyarakat Indonesia harus diubah. Logika dikedepankan, pikiran kreatif dieskplorasi.

Hmm… tulisan di buku Tan Malaka, terbitan KPG ini sangat mengesankan bagi saya. Terutama, sebagiannya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tersimpan.

Mungkin Tan benar, kita semestinya bercermin terlebih dahulu ke diri sendiri sebelum bertindak. Bagaimana bisa membuat negeri ini maju jika di dalamnya masyarakat kita tidak bisa terbuka pada ilmu pengetahuan dan masih berkutat pada hal-hal yang dogmatis sifatnya? Kita tidak akan pernah kemana-mana selama kita tidak berani melihat keluar.

Madilog adalah simbol kebebasan berpikir. Seperti Tuhan yang menganugerahkan manusia akal, maka gunakanlah akal itu seoptimal mungkin. Bebaskan.

Tan Malaka dan Pendidikan


dokumentasi dari sini.

“Tan, merancangkan Republik sebelum kemerdekaannya tercapai.”

Kalimat di atas adalah kutipan dari buku Tan Malaka, Bapak republik yang Dilupakan. Diterbitkan oleh KPG dan merupakan satu dari 4 seri buku Tempo: Bapak Bangsa, yang terdiri dari: Sukarno, Hatta, dan Sjahrir.

Buku ini bercerita tentang sosok seorang Tan Malaka. Seorang yang radikal, seorang marxis tapi sekaligus Nasionalis. Tan hanya mempunyai satu cita-cita dalam perjuangannya yaitu menutup buku kolonialisme selamanya dari bumi Indonesia.

Ada sebuah kisah tentang pengalaman Tan ketika menjadi juru tulis di Bayah. Suatu saat Tan diminta untuk mengurusi data pekerja romusha. Tan mencatat bahwa 400-500 romusha meninggal setiap bulannya. Selain ancaman penyakit, para pekerja juga tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak. Tan kemudian mengajak para pemuda untuk memperbaiki nasib romusha. Dia mendirikan dapur umum untuk menyediakan makanan bagi romusha, membangun rumah sakit dan membuka kebun sayur dan buah.

Tan dikenal baik dan murah hati oleh para romusha. Dalam bukunya yang berjudul Madilog, Tan juga bercerita tentang kesengsaraan para penduduk di bawah militerisme jepang.

Keberpihakan Tan pada proletariat juga tampak pada saat ia menjadi asisten pengawas sekolah di Deli. Pada saat rapat besar tuan besar perkebunan Tan memaparkan gagasan mengenai pentingnya pendidikan bagi para anak kuli. Menurut Tan, tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkokoh kemauan, serta memperhalus perasaan. Walaupun menurut para tuan besar, sekolah bagi anak kuli itu hanya membuang-buang uang. Mereka beranggapan, sekolah bakal membuat anak kuli itu lebih brutal dari perilaku ayah mereka. Namun Tan membela dengan mengatakan ‘Anak kuli adalah anak manusia juga.’

Pengalaman Tan kemudian bergaul dengan kaum proletar memantapkan dirinya untuk bergerak di sektor pendidikan. Tan melihat bahwa para kuli itu sering terjerat berbagai peraturan kontrak yang tak mereka pahami oleh karena mereka buta huruf. Mereka terkungkung oleh kebodohan, kegelapan, kekolotan pemikiran sekaligus tergelincir dalam nafsu permainan judi.

Tan melihat perlunya pendidikan kerakyatan untuk menghadapi kekuasaan para pemilik modal yang berdiri atas pendidikan yang berdasarkan kemodalan. Menurut Tan “kemerdekaan rakyat hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan.”
Maka kemudian Tan mendirikan sekolah yang basis kurikulumnya berdasar pada:
1. Perlunya pendidikan ketrampilan dan ilmu pengetahuan, sebagai bekal untuk menghadapi kaum pemilik modal.
2. Pendidikan bergaul atau berorganisasi dan berdemokrasi. Ini dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri. harga diri, dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Menurut Tan, sekolah yang ia dirikan bukan ditujukan untuk mencetak juru tulis seperti tujuan sekolah pemerintah. Selain dapat menafkahi dirinya sendiri diharapkan sekolah ini juga dapat membantu rakyat dalam pergerakannya.

Ide sekolah rakyat ini berasal dari Belanda dan Rusia. Tan Malaka terinspirasi ketika membaca tulisan warga Rusia mengenai kurikulum sekolah komunis. Namun Tan menyesuaikan pengetahuan yang ia dapat dengan kondisi di Indonesia.

Perjuangannya yang tak kenal lelah untuk mewujudkan kemerdekaan begitu menggebu-gebu. Seperti diungkapkannya dalam seruan kepada kaum terpelajar Indonesia.
“Kepada kamu intelek kita seruhkan…Tak terdengarkah olehmu, teriakan massa Indonesia untuk kemerdekaan yang senantiasa menjadi semakin keras?”

Sumber: Tan Malaka, KPG

Hatta, jejak yang melampaui zaman

Lebaran, memang enaknya dihabiskan dengan membaca buku 🙂


dokumentasi: Gramediashop

Kisah Hatta, satu dari empat buku seri pendiri pendiri Republik, yaitu: Sukarno, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir.

Apa arti tanah air bagi seorang Hatta? Bagi Hatta tanah air adalah sesuatu yang berkembang dengan kerja. Seperti diucapkannya di hadapan mahkamah di Den Haag ketika ia ditangkap karena aktivitas politiknya. “Hanya satu tanah air yang dapat disebut Tanah airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku.”

Hatta, tokoh sederhana dengan pemikiran yang cerdas dan ketajaman pena yang mumpuni, adalah satu dari tokoh pemimpin yang pernah dimiliki negeri ini. Ia percaya pada Demokrasi. Menurut Hatta, demokrasi dapat berjalan baik, jika ada rasa tanggung jawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik. Ia meyakini bahwa yang menjadi dasar perjuangan bukanlah seorang tokoh atau pemimpin melainkan massa (orang ramai).

Hatta adalah seorang penganut Nasionalis. Tapi, Nasionalisme versi Hatta berbeda seperti umumnya. Nasionalisme Hatta adalah nasionalisme yang bersuara solidaritas. Pandangan dan pemikiran politiknya bergerak lebih maju dari jamannya. Hatta disebut-sebut sebagai orang (pemimpin) yang tepat dalam usaha mencari bentuk demokrasi yang paling sesuai bagi negara nasional modern yang multietnis dan multisejarah.

Krisis yang menghantui Indonesia saat ini persis sama seperti gambaran yang pernah dituliskan Hatta di tahun 1962.

“Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot. Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban, sehingga memicu pergolakan daerah. Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Sejarah adalah pengalaman yang berulang. Dan jika Indonesia terperosok ke lubang yang sama maka mungkin itu karena Indonesia tidak sungguh-sungguh belajar dari sejarah yang benar.

Membaca buku Hatta ini akan mengajak kita merenungkan dan memikirkan kembali pandangan-pandangannya yang jauh ke depan. Seperti cita-citanya yang sederhana, melihat Indonesia, tanah airnya di kemudian hari dapat lebih maju.

The Story of My Life

The Story of My Life adalah kisah nyata perempuan buta, bisu, dan tuli, yang bernama Helen Keller.

Kisah Helen Keller sudah saya kenal sejak kanak-kanak. Kemunculan buku ini seperti memuaskan kerinduan akan buku bacaan masa kecil dahulu. Baiklah, lansung saja, buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis oleh Helen Keller sendiri tentang kisah hidupnya.

Ketika Helen berusia 19 bulan ia terserang penyakit misterius. Demam berkepanjangan yang diderita Helen nyaris meruntuhkan harapan orang tuanya. Sampai suatu ketika, demam itu pergi dan Helen kecil sadar. Seluruh keluarganya bergembira. Namun awalnya tak satupun dari mereka pun dokternya mengetahui bahwa sejak saat itu Helen tidak bisa melihat dan mendengar lagi.

“Lambat-laun aku mulai terbiasa dengan kesunyian dan kegelapan yang mengelilingiku. Aku lupa bahwa dulu segala sesuatunya begitu berbeda, sampai guruku datang membebaskan jiwaku yang muram.” Anne Sullivan adalah guru sang pembawa cahaya dalam kehidupan Helen selanjutnya.

Anne Sullivan datang ketika Helen berumur 6 tahun 9 bulan. Kehadiran Anne memberikan oase bagi hidup Helen yang sunyi dan gelap. Helen menggambarkannya dalam kalimat yang puitis sebagai berikut:

“Pernahkah kau berada di lautan dalam kepungan kabut tebal, dan sebuah kapal besar dengan tegang dan waswas berusaha merapat ke pelabuhan dengan jangkar dan pita pengukur, dan dengan hati berdebar kau menunggu apa yang akan terjadi? Aku merasa menjadi seperti kapal itu saat pendidikanku belum dimulai, hanya aku tak memiliki kompas dan pita pengukur, dan tidak mungkin mengetahui seberapa dekat jarak pelabuhan. “Cahaya! Beri aku cahaya!” adalah tangisan tak bersuara dari jiwaku, dan cahaya cinta menyinariku tepat pada saat itu.”

Helen belajar mengeja kata melalui permainan jari. Sang guru mengeja kata-kata ke tangannya. Dari kata kemudian menjadi kalimat. Helen merasakan kegairahan yang luar biasa untuk belajar . “Aku bahagia sepanjang hari karena pendidikan telah menghadirkan cahaya dan musik ke dalam jiwaku.”

Helen membuat dunia terpana oleh prestasinya yang luar biasa. Ia menulis cerita pertama pada usia 12 tahun. Ia penderita buta-tuli pertama yang meraih gelar sarjana. Dan ia seorang yang tak kenal lelah menjelajah dunia dan mengobarkan semangat perjuangan untuk melawan peperangan dan penindasan terhadap kaum perempuan.

“Memiliki pengetahuan berarti mengerti tujuan yang benar dan salah, mengerti hal-hal yang mulia dan yang hina.” (Helen Keller).

Betapa Helen mengajarkan kita untuk menghargai setiap waktu yang kita miliki di dunia ini untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik dari diri kita untuk kemaslahatan umat.

Sang Pemberontak, Albert Camus

Sambil membaca Catatan Pinggir 7-Goenawan Mohamad, diselingi dengan menuntaskan The Outsider (Sang Pemberontak), Albert Camus.

Camus, si pengarang The Outsider adalah filsuf yang mengenalkan filsafat absurditas. Absurdisme sendiri adalah paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal (absurd). Kesadaran para pengikut aliran itu terhadap tata tertib sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum.

Novel sastra ini bercerita tentang seorang laki-laki yang rela mati demi kebenaran. Tokoh kita ini dikenal sebagai orang yang pendiam, baik dan mengasihi orang yang membutuhkan pertolongan. Awal cerita bermula dari kematian ibu sang tokoh yang dititipkan di panti wreda. Pada saat mengunjungi jenasah sebelum proses pemakaman, si tokoh tidak menunjukkan ekspresi seorang anak yang kehilangan Ibu (Parameter yang berlaku di masyarakat umum). Reaksi yang dimunculkan si tokoh mengundang gugatan dan pertanyaan.

Sehari setelah kematian Ibu, laki-laki ini pergi berenang dan bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Dan mereka pergi nonton film komedi malam harinya.

Laki-laki ini juga berkenalan dengan tetangganya yang bernama Raymond. Raymond menghidupi dirinya dari para wanita. Raymond menyebutnya sebagai ‘Penjaga Gudang.’ Ada juga seorang tua dengan anjingnya.

Suatu saat Raymond bermasalah dengan seorang perempuan. Sang tokoh membantu Raymond. Raymond bebas namun kakak dan teman gadis ini tampaknya tak suka.

Pada suatu hari, Raymond mengajak tokoh dan kekasihnya berlibur ke pantai, di rumah sahabat Raymond. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para lelaki teman wanita Raymond. Mereka sampai di rumah sahabat Raymond. Ketika Raymond, tokoh dan sahabatnya ini tengah berjalan-jalan di pantai, para lelaki musuh Raymond muncul. Pertikaian pertama menyebabkan luka di wajah sahabat Raymond. Perkelahian usai.

Menit berikutnya sang tokoh sedang menyusuri pantai ketika ia melihat salah satu musuhnya berbaring di pantai. Sang tokoh meneruskan berjalan tapi kemudian sebuah benda tajam menyentuh pelipisnya. Rasa asin dan bau darah menerpa penciumannya. Dalam siraman cahaya matahari yang menyilaukan dan luka yang dialiri bulir-bulir air berwarna merah sehingga mengaburkan pandangannya, sang tokoh mengeluarkan senapan yang dipinjamkan sahabat Raymond. Dilepaskannya tembakan sebanyak empat kali.

Singkat cerita, sang tokoh menjadi tawanan dalam penjara. Ia kemudian di hukum mati.

Tokoh kita ini dalam perenungannya tak habis mengerti mengapa bukti bersalah yang memberatkan hukumannya adalah berkaitan dengan sifat-sifat dalam dirinya. Para hakim, jaksa menggugat perilakunya yang tidak menangisi kematian Ibunya. Mereka beranggapan sang tokoh adalah monster yang harus dibasmi.

Reaksi sang tokoh yang biasa saja menanggapi hukuman juga menjadi hal yang mengherankan. Ditampiknya pendeta yang ingin bertemu untuk melakukan ritual sebelum eksekusi dijalankan, seperti pengakuan dosa dan menerima penyesalan (tobat) korban. Pendeta mengira sang tokoh dalam keputusasaan sehingga berperilaku seperti itu. Dan laki-laki itu menjelaskan bahwa ia tak sedang putus asa. “Aku cuma takut yang menurutku wajar,” kata laki-laki itu.

Sifat keras kepala laki-laki ini yang tak mau mengakui dosanya membuat pendeta jengkel. Tampak pada cukilan kalimat berikut ini.

“Kujelaskan bahwa keadilan itulah yang memvonisku hukuman mati. Pendeta bilang, hukuman itu tak menghapuskan dosaku sama sekali. Kubilang aku tak tahu apa dosaku. Aku hanya diputuskan bersalah. Aku bersalah dan harus membayarnya. Jadi, tak ada lagi yang bisa diminta dariku.”

Keyakinan sang tokoh begitu besar dan tampak pada paragraf ini.
“Aku mungkin dungu tapi aku yakin atas diri sendiri, yakin akan semuanya, yakin atas hidupku dan kematian yang mendatangiku. Ya, itulah yang kumiliki. Tapi setidaknya itu kebenaran yang kupegang sebagaimana kebenaran itu memegangku. Aku telah hidup dengan cara tertentu, aku juga bisa hidup baik dengan cara lain. Telah kulakukan ini dan tak kulakukan itu. Aku tak melakukan satu hal, sebaliknya kulakukan yang lainnya. Lantas kenapa?”

“Tak ada, tak ada sama sekali yang berhak menangisinya. Aku juga merasa siap menjalani hidupku lagi. Seolah-olah ledakan besar kemarahan ini telah menyingkirkan semua sakitku, membunuh seluruh harapanku, kupandang ke atas ke gugusan tanda dan bintang di langit malam dan membiarkan diri terbuka untuk pertama kali terhadap pengabaian dunia yang ramah. Kutemukan sangat mirip diriku sendiri, faktanya begitu memiliki rasa persaudaraan, kusadari bahwa aku bahagia dan tetap bahagia.”

Bagi sang tokoh, hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup akan berharga jika ia mempunyai makna. Karena itu walaupun sang tokoh tahu bahwa kematian membayanginya, ia memilih untuk menghadapinya dengan tegar.

“Dari kedalaman masa depanku, sepanjang seluruh hidupku yang absurd yang kujalani, aku merasakan tiupan samar-samar berhembus ke arahku selama bertahun-tahun yang masih akan berhembus.”

Robohnya Surau Kami

Bernostalgia dengan buku-buku bacaan jaman SMP dahulu, dan inilah salah satu buku kumpulan cerpen dari AA Navis. Ada 10 cerita pendek di dalamnya, dan selain kisah ‘Robohnya Surau Kami’, saya suka dengan ‘Datangnya dan Perginya’ serta ‘Penolong’.

Robohnya Surau Kami
Bercerita tentang seorang kakek yang bersedih setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi. Cerita itu adalah tentang percakapan Tuhan dengan seorang manusia yang bernama Haji Saleh, di akhirat ketika Tuhan memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Haji Saleh meyakini bahwa dirinya akan dimasukkan ke surga. Namun ternyata Ia dikirim ke neraka. Haji Saleh kaget dan begitu tercengangnya Ia mendapati teman-temannya sedang merintih kesakitan di dalam sana. Dan ia tak mengerti karena semua orang yang dilihatnya adalah mereka yang tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk memprotes keputusan Tuhan. Dan inilah jawaban Tuhan:

“…kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”

Semua menjadi pucat pasi, dan bertanyalah haji Saleh pada malaikat yang menggiring mereka.

“Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.”

Navis seperti ingin mengingatkan kita yang seringkali berpuas diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita memaknai ibadah dengan rajin shalat, puasa, mengaji dan ritual keagamaan lainnya. Kita lupa bahwa belajar dan bekerja adalah juga ibadah. Bekerja dengan jujur dan tekun, mengolah kekayaan alam yang dilimpahkan Tuhan dengan baik. Kita mempunyai tangungjawab sosial terhadap masyarakat dan sekeliling kita.

Kita rajin shalat, puasa, mengaji dan melakukan ibadah ritual lainnya karena kita takut masuk neraka. Tapi kita tak merasa bersalah ketika mengambil hak orang lain, menyakiti perasaan sesama atau bahkan melakukan ketidakjujuran atau kemaksiatan di muka bumi.

Kita menginginkan pahala di akhirat dengan mengabaikan kebutuhan orang lain. Apa yang kita lakukan hanya untuk keselamatan diri sendiri di akhirat kelak. Kita tidak sepenuhnya ikhlas.

Jika demikian, maka kesalehan agama kita tak lebih superfisial saja sifatnya.