Vader’s little princess

15852522
Judul: Vader’s little princess
Penulis: Jeffrey Brown
Penerbit: Chronicle Books, San Fransisco
Tebal: –
Jenis: novel grafis (komik)

Siapa tak kenal Star Wars? Seri film epik yang terkenal sepanjang masa ini memang mampu menyihir penontonnya. Berkisah tentang kehidupan peradaban di galaksi yang sangat jauh di masa depan. Menyandingkan tema filsafat dan agama serta kecanggihan teknologi masa depan menjadikan film ini fenomena.

Tokoh utama dalam Star Wars yaitu keluarga Anakin Skywalker dan Padme Amidala. Anakin adalah Ksatria Jedi yang dilatih oleh Obi-Wan Kenobi. Ia menjadi pahlawan dalam serial film ini. Namun karena terlalu khawatir akan istrinya, Anakin beralih ke ‘Dark Side’ karena terbujuk rayuan dari Palpatine, pemimpin kegelapan yang menjanjikan keselamatan istrinya jika Anakin mau bergabung.

Dalam sebuah pertempuran dengan Obi Wan, Anakin terjatuh ke dalam lava. Agar Anakin dapat bertahan hidup maka organ-organ tubuhnya yang rusak digantikan dengan mesin. Sejak itu Anakin berganti nama menjadi Darth Vader.

Anakin tidak pernah mengetahui bahwa anak dan istrinya selamat. Padma Amidala, istri Anakin melahirkan si kembar, Luke Skywalker dan Princess Leia.

Di atas adalah sekilas cerita sekuel Star Wars. Nah, komik ini mengajak pembaca berandai-andai ketika Darth Vader harus mengasuh putrinya dari gadis mungil yang manis menjadi gadis remaja pemberontak. Sosok Darth Vader yang seram dan sadis mendadak hilang setiap kali bersama putri dan putranya. Ia akan menjelma menjadi Ayah yang sabar dan meladeni keinginan si putri.

Gambar dalam komik ini lucu, sisi-sisi manusiawi Darth Vader terlukis sempurna.

Salah satu nya ini, cerita ketika Vader menatap foto putri kecilnya yang manis sementara layar komputer di depan menampilkan putri Leia remaja yang sedang menembak. Dan si Ayah tampak tercenung mengeluh.

Atau ketika, Vader memprotes pakaian yang dikenakan sang putri. Dari semua gambar yang paling mengharu biru adalah gambar terakhir, ketika si putri kecil memeluk sang Ayah. Romantis :).

Walaupun berkesan candaan, namun komik ini memberikan pesan transparan, di balik sisi jahat manusia selalu ada hal-hal yang bisa menyentuh hatinya.

Jeffrey Brown, dikenal sebagai komikus untuk cerita-cerita autobiografi dan novel grafis bertema humor. Selain tentu saja ia pun penggemar Star Wars 🙂

Facebook

8786207
Judul: Facebook
Penulis: Tony Hendroyono
Penerbit: B First (PT Bentang Pustaka)
Tebal: 222 (versi ebook di smartphone) @qbaca

Siapa tak kenal Facebook? Situs jaringan pertemanan yang diakrabi oleh banyak orang dari beragam usia ini memang luar biasa. Walau bukan situs jaringan sosial pertama, sebelumnya telah ada Friendster, Myspace, dan Hi5, namun dalam waktu singkat kehadiran facebook mampu menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia.

Apa sih istimewanya Facebook? Siapa pendirinya? Nah, buku ini akan mengulas sedikit pertanyaan yang berkecamuk di benak Anda.

Mark Zuckerberg adalah nama pria di belakang pendirian Facebook. Pemuda pendiam ini juga mahasiswa di Harvard University, kampus favorit yang dikenal dengan anak-anak cerdas dan pintar. Mark yang kutu buku dan sulit bergaul lebih banyak menghabiskan waktunya di depan komputer. Ia menyukai pemrograman. Dari kamar mahasiswa pemalu ini Facebook tercipta dan mencapai kesuksesan. Konon, situs yang menduduki peringkat 6 paling banyak dikunjungi orang di seluruh dunia ini memiliki nilai perusahaan setara General Motors. Kesuksesan Facebook menjadikan Mark miliuner termuda di dunia menurut majalah Forbes, dengan nilai kekayaan sekitar 1.5 miliar dolar di AS.

Setiap hari hampir 70 juta pengguna login untuk menengok profil teman-teman mereka, memposting berbagai informasi, foto, dan lain-lain. Mark dan tim nya bekerja keras untuk membuat aplikasi yang membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah dan instan.

Bagaimana Facebook tercipta?
Awal pendirian Facebook memiliki banyak kisah. Gagasan facebook muncul ketika Mark patah hati dan ia kemudian menciptakan situs bernama facemash.com. Ia masuk diam-diam ke direktori data milik Harvard, mengunduh foto-foto teman sekelasnya lalu menampilkannya berdampingan dengan foto kandang binatang supaya para murid dapat memilih siapa yang lebih diinginkan. Satu jam setelah mabuk ia terpaku pada halaman di layar komputernya. Facebook (buku tahunan siswa) asrama Kirkland terbuka. Beberapa orang di sana mempunyai foto yang sangat cantik. Mark berkeinginan untuk menyandingkan wajah-wajah ini dengan kandang binatang dan membiarkan orang-orang memilih siapa yang lebih menarik. Ternyata, ide membandingkan dua orang bersama-sama ini menjadi cikal bakal tumbuhnya Facebook. Selain itu, Mark meyakini bahwa, “Orang-orang ternyata jauh lebih punya bakat voyeuristik dari yang saya duga,” (halaman 35) katanya menarik kesimpulan akhir dari perbuatan kriminal yang ia lakukan di atas.

Zuckerberg bukanlah satu-satunya mahasiswa Harvard yang tertarik memikirkan sebuah alat yang dapat membuat hubungan pribadi terjadi secara online dan menyembunyikan diri mereka dari dunia nyata. Seorang mahasiswa Harvard lainnya, Divya Narendra, muncul dengan ide menciptakan jejaring sosial yang ditujukan untuk para mahasiswa kampus, 10 bulan sebelum Mark meluncurkan Facemash. Ia mengajak 2 rekan lainnya, si kembar Tyler dan Cameron Winklevoss. Trio ini bekerja keras membangun situs mereka. Suatu hari mereka mendengar kemunculan dan kandasnya Facemash yang didirikan oleh Zuckerberg. Mereka lalu mengontak Zuckerberg. Narendra mengemukakan ide situsnya yang berfokus pada dating dan connecting. Dalam situs ini, mahasiswa dapat memasang foto mereka, memasukkan informasi pribadi, dan mencari data anggota lain. Trio ini meminta Zuckerberg untuk melakukan kira-kira 10 jam pemrograman dan menawarkan sebagian dari nilai perusahaan. Zuckerberg setuju namun belakangan ia mengaku tidak percaya dengan kemampuan mitranya sehingga bermaksud membatalkan proyek.

Tidak hanya trio sekawan itu yang merasa Zuckerberg mencuri ide mereka, seorang pemuda bernama Aaron Greenspan, orang yang pertama kali menciptakan Facebook online di Harvard pun merasakan hal yang sama.

Keberhasilan facebook ternyata tidak berbanding lurus dengan hubungan pertemanan Mark, si CEO Facebook. Zuckerberg menuai musuh dimana-mana. Kara Swisher, seorang kolumnis yang menulis tentang Silicon Valley untuk The Wall Street Journal mengatakan, “Berapa orang yang telah ia korbankan, padahal ia baru 24 tahun? Bahkan sekalipun ia tidak bersalah, jumlah orang yang bermasalah dengannya dalam usia semuda itu cukup luar biasa dan semua itu terjadi dengan cara yang tidak baik.” (halaman 95).

Facebook masih fenomena, kisah perebutan hak antara Mark dengan trio sekawan pun belum sepenuhnya tuntas.

“Kadang-kadang, ide-ide besar memang terlihat di mana-mana sekaligus. Newton dan Leibniz mengembangkan pendekatan kalkulusnya sendiri-sendiri, menciptakan kontroversi terpanas di abad 18. Darwin dan Wallace mengeluarkan teori evolusi di kertas terpisah pada 1858.” (halaman 91).

Barangkali, kasus ilmuwan Meuci dan Alexander Graham Bell pun bisa ditambahkan ke dalam daftar di atas. Mau tahu kisah Meuci dan Bell? Silakan baca buku Kisah Unik Ilmuwan Dunia di sini.

Fakta bahwa mahasiswa lain mempunyai ide yang sama di saat yang sama tidak berarti dia adalah pencuri. Barangkali seperti pepatah bilang, tidak ada ide yang benar-benar murni. Ide-ide beterbangan, ia bisa datang dari pengalaman dan interaksi kita terhadap hal-hal lain.

Garis Batas

download
Judul: Garis Batas
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 510

Apa yang menarik dari sebuah perjalanan? Bertemu orang-orang baru, mempelajari kebudayaan dan tradisi yang berbeda, menyingkap sejarah sebuah peradaban dan masih banyak lainnya. Namun, puncak dari semua itu adalah perenungan bathin untuk mengenal diri sendiri dan memaknai kearifan hidup.

Agustinus Wibowo, pria kelahiran Lumajang ini mengisahkan perjalanannya ke negara-negara pecahan Uni Soviet di Asia Tengah. Negara-negara bekas republik Soviet ini merupakan sebutan bagi lima belas negara baru yang muncul akibat bubarnya rezim komunis di Uni Soviet. Kelima belas negara itu dibagi menjadi kelompok, yaitu: negara-negara Baltik, Eropa Timur, Kaukasus Selatan, Rusia, dan Asia Tengah. Rusia, induk semang dari semua negara bekas Uni Soviet itu masih menjadi negara terluas di muka bumi. Luas wilayah ke empat belas negara pecahan Uni Soviet lainnya masih kalah luas dibandingkan dengan Rusia, bahkan tak sampai setengahnya. Negara-negara bekas republik Uni Soviet di Asia Tengah ini adalah: Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Negara-negara_bekas_Uni_Soviet)

Dari semua negara berakhiran stan (stan menurut bahasa Persia artinya tanah, atau dapat juga dimaknai sebagai tanah bangsa), Tajikistan adalah negara paling kecil dan paling miskin. Walaupun miskin tidak ada penduduknya yang mengemis. Dan yang paling menakjubkan angka melek huruf hampir 100% di Tajikistan. Hal ini disebabkan pemimpin Uni Soviet pada masa itu sangat memperhatikan pendidikan.

Tajikistan terletak berdampingan dengan Afghanistan. Kedua negara itu hanya dibatasi oleh sebuah sungai yang lebarnya tidak lebih dari 20 meter. Sungai itu bernama Amu Darya. Bangsa Yunani menamai daerah ini Transoxiana, daerah lintas sungai oxus. Bangsa Arab menamai Mawarannahr, tanah seberang sungai. Sungai Amu Darya menjadi pembatas Afghanistan dan Tajikistan.
Aral_map
dokumentasi gambar dari sini.

Afghanistan adalah negara yang babak belur karena perang berkepanjangan, tetapi mereka tidak pernah rela dijajah dan selalu melawan dengan gigih. Bangsa Afghan memiliki sebuah pepatah bijak, “jangan menyumpahi gelap, tapi segera nyalakan lilin (hal 45).

Afghanistan dan Tajikistan dibatasi oleh sebuah garis batas, garis yang memisahkan manusia dalam zona dan dimensi berbeda. Manusia di kedua sisi sungai itu saling melihat dan melayangkan imajinasi mereka atas dunia lain di luar sana. Orang-orang Afghanistan memuji Tajikistan yang bebas dan modern. Sebaliknya orang Tajikistan mengagumi Afghanistan yang semakin kaya.

Dahulu, ketika pasukan Rusia datang ke bantaran sungai Amu Darya dan mengamankan batas kekuasaan mereka, tentara merah membanjiri Tajikistan dengan buku-buku merah lenisisme, marxisme dan stalinisme. Urusan Tajikistan menjadi urusan Moskow. Penduduk Tajik menjadi orang rusia, orang soviet. Semua dikendalikan oleh pusat. Pada masa itu, tidak ada rakyat yang menganggur dan kelaparan. Semua orang bekerja, semua orang tidak kelaparan walaupun mereka juga tidak memiliki uang banyak. Semuanya sama rata. Bubarnya Uni Soviet menyebabkan beberapa negara yang berada di bawah kepemimpinan Stalin limbung dan tak siap. Akibatnya negara-negara seperti Tajikistan dan Kirgizstan hidup di dalam kemiskinan.

Di negara-negara bekas republik Uni Soviet ini masih banyak ditemui orang-orang yang merindukan kejayaan masa lampau, ketika segalanya tercukupi. Barangkali karena kehidupan saat ini dirasa sulit bagi mereka. Namun kisah Dudkhoda berbeda, katanya:

“Memang hidup di zaman Uni Soviet jauh lebih mudah, semua orang punya pekerjaan. Semua orang tak kelaparan. Tetapi, saya lebih memilih bersama Tajikistan, karena dalam komunisme, semua orang sama, semua orang sejajar. Kamu bekerja atau tidak pun tetap diberi makan. Orang tak perlu berpikir untuk bertahan hidup, negara menjamin semuanya. Tetapi, otak jadi tumpul, orang jadi bodoh. Sekarang, zaman berganti. Tajikistan sudah bebas. Negara kami memang miskin, tetapi kami dipaksa untuk berjuang. Kami harus berpikir untuk bertahan hidup, otak kami bekerja kembali. Hidup memang berat, tetapi aku yakin, inilah yang terbaik untuk masa depan Pamir.” (halaman 102-103)

Barangkali masih banyak orang-orang yang memiliki sikap sama dengan Dudkhoda diantara mereka yang terperangkap dalam kenangan masa lalu.

Selepas Tajikistan dan Kirgizstan, negara berikutnya yang menjadi tujuan si penulis adalah Kazakhtan, Uzbekistan dan Turkmensitan. Perekonomian di negara Kazakhtan lebih baik dibandingkan kedua negara sebelumnya, oleh karena limpahan sumber daya minyak dan gas yang dimiliki negara tersebut. Kazakhtan memiliki luas wilayah yang sangat luas, bahkan jika seandainya luas wilayah ke empat negara stan lainnya dijadikan satu. Wilayah padang rumput yang dihuni oleh para gembala (penduduknya dinamai Almaty) ini telah bermetamorfosis menjadi negeri kaya dan modern. Harga-harga di kota ini pun sangat mahal. Kota kedua yang menyerupai Almaty adalah Atyrau. Walapun kalah modern dengan Almaty namun konon biaya hidup di kota ini lebih mahal. Berbanding terbalik dengan penduduk lokal, kehidupan para ekspatriat mancanegara dan eksekutif Kazakhtan bergelimang kekayaan, sementara penduduk setempat menganggur dan tetap miskin. Jurang kaya dan miskin yang sangat jauh menyebabkan kota ini rawan kejahatan.

Samarkand, dahulu kota ini pernah menjadi pusat peradaban di Asia Tengah. Kota ini terletak di Uzbekistan, salah satu negeri stan lainnya. Di kota ini lah dahulu para ilmuwan, filsuf dan pujangga dilahirkan. Kecemerlangan Samarkand bahkan membuat takjub dunia barat.

Dengan 510 halaman kisah perjalanan di dalam buku ini terasa padat dan bergizi. Pembaca diajak larut menyusuri setiap cerita dan pengalaman bathin setiap tokoh dan peristiwa. Bagi Gus Weng (nama panggilan Agustinus Wibowo), mengutip kata pengantar di buku ini garis batas tidaklah sekedar garis biasa, garis batas negara yang dibuat oleh manusia. Garis Batas juga melukiskan pergulatan panjang antara benturan diri, dan titik-titik batas yang semu. Garis yang tidak hanya mencerminkan kedinamisan manusia itu sendiri, tetapi juga melukiskan kondisi yang mengubah seluruh sendi kehidupan.

Sebagai catatan, saya terkesan dengan keyakinan penganut ismaili, yang menekankan pentingnya menyediakan tempat tinggal dan makanan bagi musafir sebagai pengganti ibadah haji mereka. Sementara kehidupan mereka sendiri sangat miskinnya. Dan menempatkan cinta kasih kepada sesama sebagai bagian tertinggi dari ibadah.

Seperti Gandhi, yang menempatkan kebaikan, cinta kasih, dan persaudaraan sebagai hakikat dari agama, maka esensi beragama sesungguhnya sesederhana itu, berbuat baik kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Catatan lainnya yang menarik adalah pendidikan. Di negara yang perekonomiannya tertatih-tatih, penduduknya masih memandang bahwa pendidikan merupakan bagian yang mengambil peran penting.

Buat saya, ini buku kisah perjalanan yang mempesona. Saya tak hanya sekedar mengunjungi tempat-tempat namun juga belajar sejarah dan budaya yang menyertainya. Keren pokoknya 🙂

Senyum Karyamin

images
Judul: Senyum Karyamin
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 71

Senyum Karyamin adalah kisah pertama sekaligus judul yang dipilih Ahmad Tohari untuk kumpulan cerita pendek ini. Bercerita tentang seorang pemuda pengangkat batu kali yang bernama Karyamin. Karyamin dan kawan-kawannya setiap hari harus mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material. Kesewenang-wenangan para tengkulak mempermainkan harga batu membuat kehidupan Karyamin dan kawan-kawannya tak menjauh dari kemiskinan dan kelaparan. Para pengumpul batu itu senang mencari hiburan dengan menertawakan diri mereka sendiri. Itu adalah cara mereka untuk bertahan hidup. “Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan (halaman 3).”

Pagi itu seperti biasa Karyamin mengangkut batu bersama kawan-kawannya. Namun beberapa kali ia tergelincir. Ia merasakan matanya berkunang-kunang dan perutnya melilit. Setiap kali tubuh Karyamin meluncur dan jatuh terduduk, beberapa kawannya terbahak bersama. Ketika bibir Karyamin nyaris membiru dan pening di kepalanya semakin menghebat menahan rasa lapar yang menggigit, Karyamin memutuskan untuk pulang walaupun ia tahu tak ada apapun untuk mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Kegetiran Karyamin semakin menjadi ketika sesampainya di rumah Pak Pamong menagih sumbangan dana Afrika untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana.

Ironis, begitu barangkali membaca kisah Karyamin. Serupa dengan kedua belas cerita pendek lainnya di dalam buku ini, Ahmad Tohari mendekatkan pembacanya melalui cerita kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Melalui tokoh-tokoh sentral ceritanya yang berasal dari kalangan wong cilik itu Tohari seolah ingin menyampaikan pesan sebuah tanggung jawab kemanusiaan. Dan mengutip kalimat di Prakata, “Inilah pesan persaudaraan yang berwawasan lintas budaya dan lintas derajat antar makhluk.”

To Kill a Mockingbird

download (1)
Judul: To Kill a Mockingbird
Penulis: Harper Lee
Penerbit: Qanita
Tebal: 533

“Ada sesuatu di dunia kita yang membuat orang kehilangan akal-mereka tak bisa adil meskipun sudah berusaha.” (halaman 419)

Scout dan Jem adalah dua bersaudara yang tinggal bersama Ayah mereka dan seorang koki wanita keturunan negro di kota Maycomb. Calpurnia, nama koki itu telah tinggal bersama mereka semenjak Jem dilahirkan. Ibu kedua anak itu meninggal saat Scout, adik perempuan Jem berumur dua tahun.

Kehidupan mereka berubah ketika Atticus, sang Ayah ditugaskan oleh Hakim Taylor untuk menjadi pengacara pembela seorang kulit hitam. Kecaman pun datang dari seluruh masyarakat di kota itu. Jem dan Scout tak luput dari pertikaian dengan kawan-kawan mereka di sekolah serta orang-orang yang membenci tindakan Atticus. Bersyukur, Jem dan Scout memiliki Ayah yang bijak. Atticus tidak menutupi situasi sebenarnya, sebaliknya ia mengajak mereka berbicara dan belajar menghadapi permasalahan yang ada.

Kasus dakwaan perkosaan yang dituduhkan Mayella Ewell kepada Tom Robinson sesungguhnya bukanlah kasus yang sulit, namun terkadang kebencian membutakan kebenaran. Prasangka acapkali menjadi penghalang bagi kita untuk berpikir jernih.

“Satu-satunya tempat di mana seseorang semestinya mendapatkan keadilan adalah dalam ruang pengadilan, baik kulitnya berwarna apa pun dalam pelangi, tetapi kebencian biasanya terbawa ke dalam petak juri. Semakin kau dewasa, kau akan melihat orang kulit putih menipu orang kulit hitam setiap hari dalam hidupmu, tetapi kau akan kuberi tahu sesuatu dan jangan sampai kau melupakannya-kapanpun seorang kulit putih melakukan itu kepada orang kulit hitam, siapa pun dia, sekaya apa pun dia, atau sebaik apa pun keluarga asalnya, orang kulit putih itu sampah,” (halaman 420)

Di tengah terpaan permasalahan yang menimpa keluarganya ini, anak-anak Atticus belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Dan sejatinya keadilan hanya dapat dilahirkan dari mereka yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang tanpa membedakan latar belakang.

Kisah yang manis dan sarat pesan moral yang tidak menggurui. Dikisahkan dari sudut pandang seorang anak sehingga menjadikan buku ini enak dibaca.

Startup, Indonesia

1426446
Judul: Startup, Indonesia!
Penulis: Restituta Ajeng Arjanti & Reney Lendy Mosal
Penerbit: Kompas
Tebal: 305

“The Internet is becoming the town square for the global village of tomorrow.” ~ Bill Gates

Dewasa ini kita seringkali mendengar berita mengenai bermunculannya startup-startup berbasis digital yang dirintis oleh anak-anak muda. Apakah itu startup?

Startup adalah perusahaan baru atau rintisan. Mengapa disebut berbasis digital? Karena para pengusaha muda itu menggunakan internet sebagai platform usaha yang mereka dirikan.

Masih ingat kisah sukses Mark Zuckenberg si pendiri facebook? Atau mungkin kepopuleran Google sebagai mesin pencari paling handal yang digawangi oleh Larry Page dan Sergei Bin? Mereka adalah beberapa anak muda yang mengawali bisnis atau usaha mereka yang berorientasi teknologi.

Jika dua contoh di atas diambil dari negara belahan utara, bagaimana dengan di Indonesia?
Pernah mendengar Koprol? Koprol adalah jejaring sosial berbasis lokasi buatan anak negeri yang digagas oleh Satya Witoelar bersama tiga orang rekannya, yaitu Leo Laksmana dan Fajar Budiprasetyo serta Daniel Armanto. Fitur yang ada di dalam koprol ini menarik perhatian Yahoo, yang kemudian mengakuisisi Koprol. Keberhasilan Koprol diakuisisi perusahaan internet Yahoo membuka peluang bagi kebangkitan startup-startup yang ada di Indonesia. Walaupun pada April 2012 Yahoo membubarkan Koprol. Namun demikian kisah Koprol menjadi kisah sukses dan inspiratif dalam sejarah digital di Indonesia, di mana startup asli Indonesia dibeli oleh raksasa internet sekelas Yahoo.

Perusahaan baru atau startup ini umumnya masih membutuhkan proses R&D untuk mencari ceruk pasar dan target konsumennya dikarenakan perusahaan ini masih berusia muda. Perusahaan startup juga memiliki biaya produksi yang rendah, potensi bisnis yang menarik walapun memiliki risiko yang tinggi.

Dan bagaimana startup bisa berkembang dan sukses mengembangkan bisnisnya? Inilah beberapa tips yang diberikan langsung oleh para tokoh startup yang sudah malang melintang menjajal bisnis ini, antara lain: pilih bidang sesuai passion, mulailah dari value bukan profit, miliki visi, mau bekerja keras, pantang menyerah, konsisten, kerja tim, fokus pada konsumen dan lakukan pemasaran yang efektif, rajin menganalisis pasar serta jangan abaikan kompetitor.

Kisah Koprol hanyalah sebagian kecil cerita sukses startup di Indonesia. Masih banyak startup asli Indonesia yang didirikan oleh anak-anak muda yang kreatif dan jeli melihat peluang yang ada dan berkembang serta sukses. Siapa sajakah mereka? Ingin tahu? Nah, buku ini tidak hanya mengisahkan profil para startup lokal itu, namun juga sejarah dan perkembangan para technopreneurship; technopreneurship di tanah air dan membahas kiat-kiat untuk menjadi technopreneurship yang sukses, langsung dari para tokohnya.

Bumi Manusia

BM
Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 535

Minke adalah tokoh dalam cerita ini, laki-laki jawa ningrat yang mendapatkan pendidikan di H.B.S, sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak Eropa dan pribumi yang bergelar bangsawan. Pendidikan ala Eropa yang diperolehnya menumbuhkan keinginan Minke untuk menjadi manusia bebas dan merdeka. Pemuda priyayi ini semampu mungkin berusaha keluar dari kepompong kebudayaan jawa yang membuatnya selalu merasa di bawah.

“Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orang tuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang antusiasme para guruku dalam menyambut hari esok yang cerah bagi umat manusia. Dan entah berapa kali aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah-pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.” (halaman 182)

*
Suatu hari seorang kawan menantang Minke untuk mendekati seorang gadis. Maka, bertamulah mereka ke rumah kawan Robert yang memiliki seorang adik perempuan. Annelies, nama anak perempuan itu dan kakaknya bernama Robert Mellema (Rob) adalah anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan antara ayah Eropa dan Ibu pribumi.

Ibu Anna dan Rob adalah perempuan yang dijual oleh Ayah kandungnya sendiri kepada tuan Mellema demi mendapatkan posisi sebagai kasir. Karena dendam dan sakit hati kepada orang tuanya, Sanikem (kemudian kelak dikenal dengan panggilan Nyai Ontosoroh) bertekad untuk membuktikan kepada orang tuanya bahwa apapun yang telah mereka lakukan terhadap dirinya maka ia harus lebih berharga daripada mereka. Kalau pun ia harus menjadi budak belian maka ia harus menjadi budak belian (Nyai) yang sebaik-baiknya. Ia pelajari semua keinginan tuannya. Tuan mellema adalah guru yang baik. Ia mengajari Sanikem membaca, menulis, berhitung, dan sebagainya. Sikap tuan mellema menghadirkan rasa sayang kepada diri Sanikem apalagi dengan kehadiran dua buah hati mereka, Ann dan Rob.

Semangat dan kemajuan belajar Nyai membuat tuan mellema mulai memercayakan Nyai untuk membantu mengolah usahanya. Perusahaan itu kemudian berkembang dan menjadi besar dibawah kerja keras Nyai. Sayang, kedatangan anak tiri tuan Mellema dari istri syah mengoyak kenyamanan keluarga kecil mereka. Dan sejak saat itu hilanglah rasa penghormatan Nyai kepada suaminya.

Sebagai seorang Nyai, keluasan wawasan serta pemikirannya jauh melebihi dari pribumi kebanyakan. Ia pandai berbahasa Belanda dengan sempurna. Ia pun suka membaca. Ia mengadopsi nilai-nilai Eropa untuk pendidikan anak-anaknya. Nyai Ontosoroh bukanlah seorang nyai biasa. Ia belajar dan bekerja keras agar tak dipandang sebelah mata dan dihinakan semua orang. Semua ini menimbulkan decak kagum pada diri Minke.

Pertautan Minke dengan keluarga Nyai semakin erat. Problema keluarga Nyai menjadi bahan pengamatan bagi Minke. Di saat itu pula ia menyadari bentuk ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia pun mencoba melawan melalui tulisan-tulisannya yang populer dan disukai banyak orang.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

**
Novel ini bercerita mengenai kehidupan bangsa Indonesia, yang pada saat itu begitu mendewakan peradaban Eropa, karena dipandang sebagai simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban. Sementara itu bangsa pribumi adalah bangsa yang hina dan bisa ditindas kapanpun.

Melalui tokoh Minke dan Nyai, keduanya membuktikan bahwa pribumi mampu berdiri tegak di atas tanah airnya sendiri. Keduanya juga bahu membahu menentang ketidakadilan. Walaupun pada akhirnya mereka harus menyerah kalah. Namun kalah bukan berarti kesia-siaan.

Bidadari Kelab Malam

202219599_large
Judul: Bidadari Kelab Malam
Penulis: Kristasia Pangalila
Penerbit: Grasindo, PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal: 169

Mey, wanita berusia awal dua puluhan itu bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke. Anak perempuan pertama dari tiga bersaudara ini tidak meneruskan sekolah karena ia harus membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Pekerjaan Ayahnya sebagai kuli bangunan tidak mampu membiayai hidup mereka sekeluarga. Untuk menambah penghasilan keluarga, Ibu Mey juga membantu dengan membuat kue.

Bekerja di kelab malam sebagai pemandu lagu tidak mudah bagi Mey, yang sesungguhnya tidak menyukai itu. Namun dengan ijasah SMP pekerjaan apalagi yang bisa ia harapkan? Berbeda dengan kawan-kawannya, dandanan Mey tidak mencolok dan cenderung tertutup dibandingkan kawan-kawannya. Namun kecantikan Mey mampu menutupi kekurangannya dalam berpenampilan. Lagipula Mey selalu melebihi jam target booking-annya, yang tentu saja menyenangkan bagi Bunda, panggilan untuk manajer kelab malam tersebut.

Pelanggan yang harus ditemani Mey ketika berkaraoke memang kebanyakan selalu mencoba untuk merayunya. Selama itu Mey selalu menolak untuk diajak keluar oleh pelanggannya. Mey juga sebisa mungkin menghindari bentuk kontak fisik yang berlebihan.

Di kelab malam itu juga hidup Mey berubah ketika ia bertemu dengan laki-laki paruh baya bernama Pram. Pram sudah berkeluarga. Kedekatan Mey dan Pram perlahan mulai menimbulkan riak-riak cinta di hati mereka berdua.
Sementara itu, Dodi, laki-laki yang menyimpan cinta untuk Mey sejak SMP, memutuskan untuk menyambung tali silaturahim diantara mereka berdua.

**
Saya tidak tahu apakah ini novel bergenre metropop juga atau tidak. Kisah cinta yang rumit namun Kristasia menyajikan ceritanya begitu penuh keceriaan khas anak muda. Buku yang ringan dengan ending yang manis. Namun saya temui beberapa kesalahan cetak, mungkin ya? Di awal cerita dikisahkan Mey lulusan SMP, namun di pertengahan cerita dikatakan Mey adalah lulusan SMA. Ada juga beberapa karakter yang hilang dalam sebuah kata.

Namun demikian terima kasih sekali lagi untuk mbak Yudith yang telah memberikan buntelan bukunya :). Ditunggu buntelan buku berikutnya mbak.. hehe.

Dramaturgi Dovima

Dramaturgi Dovima
Judul: Dramaturgi Dovima
Penulis: Faris Rachman-Hussain
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 230

Sebelumnya, terima kasih banyak ya mbak Yudith dari PT. Gramedia Pustaka untuk buntelan bukunya, juga mas Dion dari BBI :). Pada sampul belakang buku tertera label Metropop. Terus terang saya jarang atau bahkan bisa dibilang sekali dua membaca novel metro pop. Bahkan baru kali ini tahu ada genre metro pop. Wah, ketinggalan sekali ya? hehe. Baiklah, saya langsung buatkan reviewnya saja ya.

Dovima adalah putri tunggal wartawan senior Seruni di sebuah majalah terkemuka. Lahir sebagai putri yang tidak diinginkan kehadirannya oleh sang Ibu, Dovima tumbuh menjadi anak penyendiri dan keras hati. Sang Ibu, Seruni yang mencintai pekerjaannya lebih dari apapun saat itu tak mampu membantah keinginan suami yang dicintainya untuk memiliki anak. Walaupun kemudian pernikahan Seruni dengan Gandhi Wirasetja berakhir di tengah jalan.

Dovima menghabiskan masa kecilnya di New York bersama Ibu yang bekerja sebagai kolumnis Time Asia. Hari-hari bersama Ibu adalah kenangan yang menyesakkan dan tidak ingin diingatnya. Meninggalkan Ibunya, Dovima melanjutkan kuliah di Universitas Padjajaran Fakultas Komunikasi Jurusan Jurnalistik. Lulus dari sana Dovima diterima sebagai calon reporter di tempat Ibunya dahulu bekerja, Majalah Kala. Tak lama ia bekerja, Ibunya kembali ke Indonesia untuk mengabarkan bahwa dirinya menderita sakit alzheimer. Sejak saat itu sang Ibu memutuskan untuk menetap tinggal di Indonesia, di rumah mereka dahulu.

Dalam sebuah liputan konferensi pers Nagri PLC, Dovima yang bertugas sebagai reporter tanpa sengaja mengumbar informasi off the record dari majalahnya disebabkan kekesalannya menghadapi pengusaha muda, Kafka. Karena itu sebagai hukuman Dovima kemudian dipindahkan ke desk gaya hidup. Menjadi reporter desk gaya hidup adalah hal yang paling tidak disukainya. Ia menganggap reporter desk gaya hidup hanyalah pencinta kesenangan dengan orientasi dan pemujaan total terhadap kehidupan hedonis yang kosong (halaman 42).

Namun tanpa disangka, tugas singkatnya di sana justru menjadi perekat hubungannya dengan pengusaha muda, Kafka yang semula dibencinya. Di tempat lain, Madji, orang nomor dua di majalah itu, diam-diam menyukai Dovima, gadis cerdas, cantik sekaligus aneh. Lepas dari hukuman Dovima kembali bertugas di desk ekonomi. Tugas peliputan Dovima berikutnya mempertemukan ia dengan Ayah kandungnya. Bukan tanpa sebab ketika ia akhirnya memilih pergi dan mundur dari perkara korupsi yang melibatkan kekasihnya, Kafka serta Ayah kandungnya.

**
Novel ini berkisah tentang kaum urban dan kehidupan hedonis mereka. Tidak ringan tapi tidak berat juga. Penggambaran untuk kasus-kasus korupsi yang dikisahkan cukup detil dan menarik. Novel yang bisa dijadikan pilihan untuk menemani Anda yang ingin melepaskan kepenatan dari rutinitas kerja. Bisa dibaca di angkutan publik atau di jam istirahat kantor. Barangkali yang membuat buku ini berbeda dengan novel sejenisnya adalah pilihan kosa katanya lebih kaya.

Pramoedya Ananta Toer

Kutipan-kutipan Pramoedya yang saya suka. Sebagian besar dikutip dari buku Bumi Manusia.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

“Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya.”

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”

“Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini.”

“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya

“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas.”

“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.”

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” ~ Bumi Manusia, halaman 59