Kitab Komik Sufi 3

download
Judul: Kitab Komik Sufi 3
Penulis: Ibod
Penerbit: Muara (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal:146

Sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. (sumber dari sini)

Sufisme merupakan konsep dalam Islam yang mengajarkan tentang cinta kepada Tuhan, Nabi, dan kepada sesama makhluk.

Kebijaksanaan sufi tidak hanya dapat ditemukan di cerita-cerita bijak, nasihat dan hikayat namun juga dalam cerita keseharian yang seringkali tampak sepele bahkan mengundang tawa.

Kisah kebijaksanaan sufi yang ada dalam cerita-cerita Nasruddin Hoja, misalnya menyimpan pesan yang memunculkan banyak persepsi. Nasruddin Hoja adalah salah satu tokoh legenda kaum sufi yang memiliki anugerah kebijaksanaan. Ia seringkali membuat ulah yang menarik perhatian bagi banyak orang. Namun dibalik tingkahnya yang tampak jenaka dan lugu, terdapat pelajaran berharga bagi kita untuk menempuh perjalanan hidup di dunia.

Di antara kisah Nasruddin Hoja adalah ketika suatu hari seorang kawan melihat Nasruddin shalat tergesa-gesa. Si kawan ini kemudian memerintahkan Nasruddin untuk mengulang shalatnya dengan perlahan. Usai menyelesaikan shalat, si kawan bertanya kepada Nasruddin, “Bagaimana menurutmu sekarang, mana yang lebih baik antara shalatmu yang pertama atau yang kedua,” Dan Nasruddin menjawab yang pertama. “Karena shalatku yang pertama walau bagaimanapun kulakukan karena Allah semata, sedangkan yang kedua kulakukan untuk penilaian Anda.” (hal 18)

Reaksi kita sebagai pembaca barangkali tersenyum pahit, karena boleh jadi kita sering melakukan sesuatu karena berharap penilaian orang lain dan bukan atas dasar keikhlasan dalam diri.

Nasruddin pun seringkali menyindir perilaku kita, manusia, dengan menempatkan dirinya sendiri sebagai tokoh yang tampak bodoh dan lugu.
Misal, dalam cerita lain dimana ia kedatangan tamu dari jauh. Ketika ia meminta tolong istrinya untuk menghidangkan makanan ternyata istrinya mengatakan bahwa Nasruddin lupa membeli beras. Dan Nasruddin pun kemudian menyajikan piring kosong di depan tamunya sambil berujar, “Kawan, seharusnya di piring ini ada nasi goreng, sayang aku lupa beli beras.” (hal 31)

Lainnya adalah ketika Nasruddin bertanya kepada seorang pemuda.
N: Engkau akan bekerja apa di kota nanti?
P: Aku belum tahu pasti, yang jelas aku akan bekerja dengan jujur
N: Kalau begitu engkau akan punya sedikit saingan

Pesan: Kejujuran adalah hal yang langka dan berharga. (hal 53)
(meskipun langka, tetap milikilah kejujuran. Karena nilai tertinggi manusia itu ada pada kejujurannya).

Beberapa kutipan bagus dari buku ini:
“Mengharap kebahagiaan abadi dengan menzalimi orang lain adalah sesuatu yang tidak mungkin”. (halaman 69)
“Hawa nafsu ibarat keledai tunggangan, kalau tidak dikendalikan akan menjadi liar sehingga bahkan si pemilik hawa nafsu tak punya kendali atasnya. (hal 78)

Buku Kitab Komik Sufi 3 ini tidak sekedar menyajikan cerita jenaka kosong tanpa arti sebaliknya sarat makna dan juga sindiran atas sikap perilaku kita. Cerita Nasruddin yang mengalir di dalam buku ini adalah juga cerita keseharian kehidupan manusia dengan berbagai permasalahannya.
Membaca buku ini diperlukan kelapangan hati untuk menerima atau bahkan mentertawai diri kita sendiri. Barangkali kita tersindir, tertohok apapun itu namanya. Bersyukurlah, itu tanda bahwa kita masih punya hati nurani.

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*