Vader’s little princess

15852522
Judul: Vader’s little princess
Penulis: Jeffrey Brown
Penerbit: Chronicle Books, San Fransisco
Tebal: –
Jenis: novel grafis (komik)

Siapa tak kenal Star Wars? Seri film epik yang terkenal sepanjang masa ini memang mampu menyihir penontonnya. Berkisah tentang kehidupan peradaban di galaksi yang sangat jauh di masa depan. Menyandingkan tema filsafat dan agama serta kecanggihan teknologi masa depan menjadikan film ini fenomena.

Tokoh utama dalam Star Wars yaitu keluarga Anakin Skywalker dan Padme Amidala. Anakin adalah Ksatria Jedi yang dilatih oleh Obi-Wan Kenobi. Ia menjadi pahlawan dalam serial film ini. Namun karena terlalu khawatir akan istrinya, Anakin beralih ke ‘Dark Side’ karena terbujuk rayuan dari Palpatine, pemimpin kegelapan yang menjanjikan keselamatan istrinya jika Anakin mau bergabung.

Dalam sebuah pertempuran dengan Obi Wan, Anakin terjatuh ke dalam lava. Agar Anakin dapat bertahan hidup maka organ-organ tubuhnya yang rusak digantikan dengan mesin. Sejak itu Anakin berganti nama menjadi Darth Vader.

Anakin tidak pernah mengetahui bahwa anak dan istrinya selamat. Padma Amidala, istri Anakin melahirkan si kembar, Luke Skywalker dan Princess Leia.

Di atas adalah sekilas cerita sekuel Star Wars. Nah, komik ini mengajak pembaca berandai-andai ketika Darth Vader harus mengasuh putrinya dari gadis mungil yang manis menjadi gadis remaja pemberontak. Sosok Darth Vader yang seram dan sadis mendadak hilang setiap kali bersama putri dan putranya. Ia akan menjelma menjadi Ayah yang sabar dan meladeni keinginan si putri.

Gambar dalam komik ini lucu, sisi-sisi manusiawi Darth Vader terlukis sempurna.

Salah satu nya ini, cerita ketika Vader menatap foto putri kecilnya yang manis sementara layar komputer di depan menampilkan putri Leia remaja yang sedang menembak. Dan si Ayah tampak tercenung mengeluh.

Atau ketika, Vader memprotes pakaian yang dikenakan sang putri. Dari semua gambar yang paling mengharu biru adalah gambar terakhir, ketika si putri kecil memeluk sang Ayah. Romantis :).

Walaupun berkesan candaan, namun komik ini memberikan pesan transparan, di balik sisi jahat manusia selalu ada hal-hal yang bisa menyentuh hatinya.

Jeffrey Brown, dikenal sebagai komikus untuk cerita-cerita autobiografi dan novel grafis bertema humor. Selain tentu saja ia pun penggemar Star Wars πŸ™‚

Garis Batas

download
Judul: Garis Batas
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 510

Apa yang menarik dari sebuah perjalanan? Bertemu orang-orang baru, mempelajari kebudayaan dan tradisi yang berbeda, menyingkap sejarah sebuah peradaban dan masih banyak lainnya. Namun, puncak dari semua itu adalah perenungan bathin untuk mengenal diri sendiri dan memaknai kearifan hidup.

Agustinus Wibowo, pria kelahiran Lumajang ini mengisahkan perjalanannya ke negara-negara pecahan Uni Soviet di Asia Tengah. Negara-negara bekas republik Soviet ini merupakan sebutan bagi lima belas negara baru yang muncul akibat bubarnya rezim komunis di Uni Soviet. Kelima belas negara itu dibagi menjadi kelompok, yaitu: negara-negara Baltik, Eropa Timur, Kaukasus Selatan, Rusia, dan Asia Tengah. Rusia, induk semang dari semua negara bekas Uni Soviet itu masih menjadi negara terluas di muka bumi. Luas wilayah ke empat belas negara pecahan Uni Soviet lainnya masih kalah luas dibandingkan dengan Rusia, bahkan tak sampai setengahnya. Negara-negara bekas republik Uni Soviet di Asia Tengah ini adalah: Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Negara-negara_bekas_Uni_Soviet)

Dari semua negara berakhiran stan (stan menurut bahasa Persia artinya tanah, atau dapat juga dimaknai sebagai tanah bangsa), Tajikistan adalah negara paling kecil dan paling miskin. Walaupun miskin tidak ada penduduknya yang mengemis. Dan yang paling menakjubkan angka melek huruf hampir 100% di Tajikistan. Hal ini disebabkan pemimpin Uni Soviet pada masa itu sangat memperhatikan pendidikan.

Tajikistan terletak berdampingan dengan Afghanistan. Kedua negara itu hanya dibatasi oleh sebuah sungai yang lebarnya tidak lebih dari 20 meter. Sungai itu bernama Amu Darya. Bangsa Yunani menamai daerah ini Transoxiana, daerah lintas sungai oxus. Bangsa Arab menamai Mawarannahr, tanah seberang sungai. Sungai Amu Darya menjadi pembatas Afghanistan dan Tajikistan.
Aral_map
dokumentasi gambar dari sini.

Afghanistan adalah negara yang babak belur karena perang berkepanjangan, tetapi mereka tidak pernah rela dijajah dan selalu melawan dengan gigih. Bangsa Afghan memiliki sebuah pepatah bijak, β€œjangan menyumpahi gelap, tapi segera nyalakan lilin (hal 45).

Afghanistan dan Tajikistan dibatasi oleh sebuah garis batas, garis yang memisahkan manusia dalam zona dan dimensi berbeda. Manusia di kedua sisi sungai itu saling melihat dan melayangkan imajinasi mereka atas dunia lain di luar sana. Orang-orang Afghanistan memuji Tajikistan yang bebas dan modern. Sebaliknya orang Tajikistan mengagumi Afghanistan yang semakin kaya.

Dahulu, ketika pasukan Rusia datang ke bantaran sungai Amu Darya dan mengamankan batas kekuasaan mereka, tentara merah membanjiri Tajikistan dengan buku-buku merah lenisisme, marxisme dan stalinisme. Urusan Tajikistan menjadi urusan Moskow. Penduduk Tajik menjadi orang rusia, orang soviet. Semua dikendalikan oleh pusat. Pada masa itu, tidak ada rakyat yang menganggur dan kelaparan. Semua orang bekerja, semua orang tidak kelaparan walaupun mereka juga tidak memiliki uang banyak. Semuanya sama rata. Bubarnya Uni Soviet menyebabkan beberapa negara yang berada di bawah kepemimpinan Stalin limbung dan tak siap. Akibatnya negara-negara seperti Tajikistan dan Kirgizstan hidup di dalam kemiskinan.

Di negara-negara bekas republik Uni Soviet ini masih banyak ditemui orang-orang yang merindukan kejayaan masa lampau, ketika segalanya tercukupi. Barangkali karena kehidupan saat ini dirasa sulit bagi mereka. Namun kisah Dudkhoda berbeda, katanya:

“Memang hidup di zaman Uni Soviet jauh lebih mudah, semua orang punya pekerjaan. Semua orang tak kelaparan. Tetapi, saya lebih memilih bersama Tajikistan, karena dalam komunisme, semua orang sama, semua orang sejajar. Kamu bekerja atau tidak pun tetap diberi makan. Orang tak perlu berpikir untuk bertahan hidup, negara menjamin semuanya. Tetapi, otak jadi tumpul, orang jadi bodoh. Sekarang, zaman berganti. Tajikistan sudah bebas. Negara kami memang miskin, tetapi kami dipaksa untuk berjuang. Kami harus berpikir untuk bertahan hidup, otak kami bekerja kembali. Hidup memang berat, tetapi aku yakin, inilah yang terbaik untuk masa depan Pamir.” (halaman 102-103)

Barangkali masih banyak orang-orang yang memiliki sikap sama dengan Dudkhoda diantara mereka yang terperangkap dalam kenangan masa lalu.

Selepas Tajikistan dan Kirgizstan, negara berikutnya yang menjadi tujuan si penulis adalah Kazakhtan, Uzbekistan dan Turkmensitan. Perekonomian di negara Kazakhtan lebih baik dibandingkan kedua negara sebelumnya, oleh karena limpahan sumber daya minyak dan gas yang dimiliki negara tersebut. Kazakhtan memiliki luas wilayah yang sangat luas, bahkan jika seandainya luas wilayah ke empat negara stan lainnya dijadikan satu. Wilayah padang rumput yang dihuni oleh para gembala (penduduknya dinamai Almaty) ini telah bermetamorfosis menjadi negeri kaya dan modern. Harga-harga di kota ini pun sangat mahal. Kota kedua yang menyerupai Almaty adalah Atyrau. Walapun kalah modern dengan Almaty namun konon biaya hidup di kota ini lebih mahal. Berbanding terbalik dengan penduduk lokal, kehidupan para ekspatriat mancanegara dan eksekutif Kazakhtan bergelimang kekayaan, sementara penduduk setempat menganggur dan tetap miskin. Jurang kaya dan miskin yang sangat jauh menyebabkan kota ini rawan kejahatan.

Samarkand, dahulu kota ini pernah menjadi pusat peradaban di Asia Tengah. Kota ini terletak di Uzbekistan, salah satu negeri stan lainnya. Di kota ini lah dahulu para ilmuwan, filsuf dan pujangga dilahirkan. Kecemerlangan Samarkand bahkan membuat takjub dunia barat.

Dengan 510 halaman kisah perjalanan di dalam buku ini terasa padat dan bergizi. Pembaca diajak larut menyusuri setiap cerita dan pengalaman bathin setiap tokoh dan peristiwa. Bagi Gus Weng (nama panggilan Agustinus Wibowo), mengutip kata pengantar di buku ini garis batas tidaklah sekedar garis biasa, garis batas negara yang dibuat oleh manusia. Garis Batas juga melukiskan pergulatan panjang antara benturan diri, dan titik-titik batas yang semu. Garis yang tidak hanya mencerminkan kedinamisan manusia itu sendiri, tetapi juga melukiskan kondisi yang mengubah seluruh sendi kehidupan.

Sebagai catatan, saya terkesan dengan keyakinan penganut ismaili, yang menekankan pentingnya menyediakan tempat tinggal dan makanan bagi musafir sebagai pengganti ibadah haji mereka. Sementara kehidupan mereka sendiri sangat miskinnya. Dan menempatkan cinta kasih kepada sesama sebagai bagian tertinggi dari ibadah.

Seperti Gandhi, yang menempatkan kebaikan, cinta kasih, dan persaudaraan sebagai hakikat dari agama, maka esensi beragama sesungguhnya sesederhana itu, berbuat baik kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Catatan lainnya yang menarik adalah pendidikan. Di negara yang perekonomiannya tertatih-tatih, penduduknya masih memandang bahwa pendidikan merupakan bagian yang mengambil peran penting.

Buat saya, ini buku kisah perjalanan yang mempesona. Saya tak hanya sekedar mengunjungi tempat-tempat namun juga belajar sejarah dan budaya yang menyertainya. Keren pokoknya πŸ™‚

To Kill a Mockingbird

download (1)
Judul: To Kill a Mockingbird
Penulis: Harper Lee
Penerbit: Qanita
Tebal: 533

“Ada sesuatu di dunia kita yang membuat orang kehilangan akal-mereka tak bisa adil meskipun sudah berusaha.” (halaman 419)

Scout dan Jem adalah dua bersaudara yang tinggal bersama Ayah mereka dan seorang koki wanita keturunan negro di kota Maycomb. Calpurnia, nama koki itu telah tinggal bersama mereka semenjak Jem dilahirkan. Ibu kedua anak itu meninggal saat Scout, adik perempuan Jem berumur dua tahun.

Kehidupan mereka berubah ketika Atticus, sang Ayah ditugaskan oleh Hakim Taylor untuk menjadi pengacara pembela seorang kulit hitam. Kecaman pun datang dari seluruh masyarakat di kota itu. Jem dan Scout tak luput dari pertikaian dengan kawan-kawan mereka di sekolah serta orang-orang yang membenci tindakan Atticus. Bersyukur, Jem dan Scout memiliki Ayah yang bijak. Atticus tidak menutupi situasi sebenarnya, sebaliknya ia mengajak mereka berbicara dan belajar menghadapi permasalahan yang ada.

Kasus dakwaan perkosaan yang dituduhkan Mayella Ewell kepada Tom Robinson sesungguhnya bukanlah kasus yang sulit, namun terkadang kebencian membutakan kebenaran. Prasangka acapkali menjadi penghalang bagi kita untuk berpikir jernih.

“Satu-satunya tempat di mana seseorang semestinya mendapatkan keadilan adalah dalam ruang pengadilan, baik kulitnya berwarna apa pun dalam pelangi, tetapi kebencian biasanya terbawa ke dalam petak juri. Semakin kau dewasa, kau akan melihat orang kulit putih menipu orang kulit hitam setiap hari dalam hidupmu, tetapi kau akan kuberi tahu sesuatu dan jangan sampai kau melupakannya-kapanpun seorang kulit putih melakukan itu kepada orang kulit hitam, siapa pun dia, sekaya apa pun dia, atau sebaik apa pun keluarga asalnya, orang kulit putih itu sampah,” (halaman 420)

Di tengah terpaan permasalahan yang menimpa keluarganya ini, anak-anak Atticus belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Dan sejatinya keadilan hanya dapat dilahirkan dari mereka yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang tanpa membedakan latar belakang.

Kisah yang manis dan sarat pesan moral yang tidak menggurui. Dikisahkan dari sudut pandang seorang anak sehingga menjadikan buku ini enak dibaca.

Bidadari Kelab Malam

202219599_large
Judul: Bidadari Kelab Malam
Penulis: Kristasia Pangalila
Penerbit: Grasindo, PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal: 169

Mey, wanita berusia awal dua puluhan itu bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke. Anak perempuan pertama dari tiga bersaudara ini tidak meneruskan sekolah karena ia harus membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Pekerjaan Ayahnya sebagai kuli bangunan tidak mampu membiayai hidup mereka sekeluarga. Untuk menambah penghasilan keluarga, Ibu Mey juga membantu dengan membuat kue.

Bekerja di kelab malam sebagai pemandu lagu tidak mudah bagi Mey, yang sesungguhnya tidak menyukai itu. Namun dengan ijasah SMP pekerjaan apalagi yang bisa ia harapkan? Berbeda dengan kawan-kawannya, dandanan Mey tidak mencolok dan cenderung tertutup dibandingkan kawan-kawannya. Namun kecantikan Mey mampu menutupi kekurangannya dalam berpenampilan. Lagipula Mey selalu melebihi jam target booking-annya, yang tentu saja menyenangkan bagi Bunda, panggilan untuk manajer kelab malam tersebut.

Pelanggan yang harus ditemani Mey ketika berkaraoke memang kebanyakan selalu mencoba untuk merayunya. Selama itu Mey selalu menolak untuk diajak keluar oleh pelanggannya. Mey juga sebisa mungkin menghindari bentuk kontak fisik yang berlebihan.

Di kelab malam itu juga hidup Mey berubah ketika ia bertemu dengan laki-laki paruh baya bernama Pram. Pram sudah berkeluarga. Kedekatan Mey dan Pram perlahan mulai menimbulkan riak-riak cinta di hati mereka berdua.
Sementara itu, Dodi, laki-laki yang menyimpan cinta untuk Mey sejak SMP, memutuskan untuk menyambung tali silaturahim diantara mereka berdua.

**
Saya tidak tahu apakah ini novel bergenre metropop juga atau tidak. Kisah cinta yang rumit namun Kristasia menyajikan ceritanya begitu penuh keceriaan khas anak muda. Buku yang ringan dengan ending yang manis. Namun saya temui beberapa kesalahan cetak, mungkin ya? Di awal cerita dikisahkan Mey lulusan SMP, namun di pertengahan cerita dikatakan Mey adalah lulusan SMA. Ada juga beberapa karakter yang hilang dalam sebuah kata.

Namun demikian terima kasih sekali lagi untuk mbak Yudith yang telah memberikan buntelan bukunya :). Ditunggu buntelan buku berikutnya mbak.. hehe.

Dramaturgi Dovima

Dramaturgi Dovima
Judul: Dramaturgi Dovima
Penulis: Faris Rachman-Hussain
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 230

Sebelumnya, terima kasih banyak ya mbak Yudith dari PT. Gramedia Pustaka untuk buntelan bukunya, juga mas Dion dari BBI :). Pada sampul belakang buku tertera label Metropop. Terus terang saya jarang atau bahkan bisa dibilang sekali dua membaca novel metro pop. Bahkan baru kali ini tahu ada genre metro pop. Wah, ketinggalan sekali ya? hehe. Baiklah, saya langsung buatkan reviewnya saja ya.

Dovima adalah putri tunggal wartawan senior Seruni di sebuah majalah terkemuka. Lahir sebagai putri yang tidak diinginkan kehadirannya oleh sang Ibu, Dovima tumbuh menjadi anak penyendiri dan keras hati. Sang Ibu, Seruni yang mencintai pekerjaannya lebih dari apapun saat itu tak mampu membantah keinginan suami yang dicintainya untuk memiliki anak. Walaupun kemudian pernikahan Seruni dengan Gandhi Wirasetja berakhir di tengah jalan.

Dovima menghabiskan masa kecilnya di New York bersama Ibu yang bekerja sebagai kolumnis Time Asia. Hari-hari bersama Ibu adalah kenangan yang menyesakkan dan tidak ingin diingatnya. Meninggalkan Ibunya, Dovima melanjutkan kuliah di Universitas Padjajaran Fakultas Komunikasi Jurusan Jurnalistik. Lulus dari sana Dovima diterima sebagai calon reporter di tempat Ibunya dahulu bekerja, Majalah Kala. Tak lama ia bekerja, Ibunya kembali ke Indonesia untuk mengabarkan bahwa dirinya menderita sakit alzheimer. Sejak saat itu sang Ibu memutuskan untuk menetap tinggal di Indonesia, di rumah mereka dahulu.

Dalam sebuah liputan konferensi pers Nagri PLC, Dovima yang bertugas sebagai reporter tanpa sengaja mengumbar informasi off the record dari majalahnya disebabkan kekesalannya menghadapi pengusaha muda, Kafka. Karena itu sebagai hukuman Dovima kemudian dipindahkan ke desk gaya hidup. Menjadi reporter desk gaya hidup adalah hal yang paling tidak disukainya. Ia menganggap reporter desk gaya hidup hanyalah pencinta kesenangan dengan orientasi dan pemujaan total terhadap kehidupan hedonis yang kosong (halaman 42).

Namun tanpa disangka, tugas singkatnya di sana justru menjadi perekat hubungannya dengan pengusaha muda, Kafka yang semula dibencinya. Di tempat lain, Madji, orang nomor dua di majalah itu, diam-diam menyukai Dovima, gadis cerdas, cantik sekaligus aneh. Lepas dari hukuman Dovima kembali bertugas di desk ekonomi. Tugas peliputan Dovima berikutnya mempertemukan ia dengan Ayah kandungnya. Bukan tanpa sebab ketika ia akhirnya memilih pergi dan mundur dari perkara korupsi yang melibatkan kekasihnya, Kafka serta Ayah kandungnya.

**
Novel ini berkisah tentang kaum urban dan kehidupan hedonis mereka. Tidak ringan tapi tidak berat juga. Penggambaran untuk kasus-kasus korupsi yang dikisahkan cukup detil dan menarik. Novel yang bisa dijadikan pilihan untuk menemani Anda yang ingin melepaskan kepenatan dari rutinitas kerja. Bisa dibaca di angkutan publik atau di jam istirahat kantor. Barangkali yang membuat buku ini berbeda dengan novel sejenisnya adalah pilihan kosa katanya lebih kaya.

Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

18000754
Judul: Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 236

“.. tentang air yang harus menjadi ricik dan cakrawala yang harus menebas jarak agar dapat mencintai…” (halaman 127)

Ia dan pria itu akhirnya sering bertemu. Di bawah tempias hujan dan sajak puisi Sapardi Djoko Damono yang dibacakan oleh sang pria, si tokoh utama dalam buku ini, seorang wanita paruh baya, menyadari bahwa dirinya mulai menyukai si lelaki seniman dihadapannya.

Novel ini berkisah tentang surat-surat panjang yang dikirimkan oleh si wanita untuk seorang sahabat istimewa di masa kecilnya, laki-laki yang ia pilih sejak pertama kali mereka bertemu. Surat-surat itu ditulisnya setelah ia menerima undangan pernikahan si lelaki. Si wanita pun dengan gamblang mengungkapkan perasaannya atas pernikahan sahabatnya itu.
“Berpuluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kau ketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu.” (halaman 19)

Untuk menenangkan hati, si wanita kemudian memutuskan untuk cuti dan menapak tilas masa kecilnya di Bali. Di kampung halaman Ayah yang dicintainya, ia melepaskan rindu pada segala kenangan getir masa kecil. Walau ia tak memercayai adanya kehidupan setelah kematian namun ia meyakini bahwa bekas-bekas kehidupan ayahnya telah menyatu dengan lautan. Ia dapat menemukan ayahnya di pantai manapun.

Kembali ke Jakarta ia kemudian dijodohkan oleh seorang kawannya. Laki-laki yang kemudian mengisi hari-harinya, laki-laki yang melafalkan puisi Sajak Kecil tentang Cinta karya Sapardi di bawah rintik hujan.

Walaupun sinopsis dan mungkin review di atas sedikit seperti sebuah kisah roman yang mendayu-dayu, sebenarnya isi novel ini jauh dari percintaan yang serupa itu. Sejujurnya saya membeli novel ini karena nama penulisnya. Saya memang tidak mengenal Dewi secara mendalam, tapi kami beberapa kali pernah saling berkomentar di sosial media facebook. Bagi saya Dewi adalah perempuan yang berbeda dari kebanyakan perempuan lain seusianya. Saya mengagumi pemikirannya. Dan iya, saya berharap banyak dari novel yang ia tulis. Seperti perkiraan saya, saya yakin ini bukan sekedar novel roman biasa. Tebakan saya tidak jauh meleset :).

Saya suka adegan di Surat ke-14. Bermain-main apakah hanya untuk anak-anak? Banyak orang dewasa salah mengartikan makna kedewasaan. Seperti Exupery bilang, orang dewasa seringkali membosankan. Mereka merasa harus selalu serius, dan keseriusan dimaknai oleh parameter yang mereka bikin sendiri. Ada kalanya dalam hidup kita tidak memerlukan penjelasan apa-apa, cukup merasakan dengan hati, dan itu digambarkan oleh Dewi dalam kekonyolan dan kegilaan yang dilakukan oleh kedua tokoh di atas.

Walau novel ini sedikit muram dan bahkan pedar, mengingat kesepian dan keterasingan yang dimiliki si tokoh. Namun saya memandang kesunyian itu sebagai akibat dari pemikiran si tokoh yang tidak bisa diam.

Secara keseluruhan saya betah membaca novel ini. Saya salut dengan cara Dewi mengumpulkan data dan mengolahnya dengan apik, detil sekali. Keren, Dew πŸ™‚

Ditunggu karya-karya selanjutnya πŸ˜‰

Jalan Menikung

images
Judul: Jalan Menikung
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: PT Pustaka Utama Gravity
Tebal: 184

“Merantau itu pergi jauh. Kadang-Kadang jauh, jauh sekali. Kadang-Kadang rasanya sewaktu-waktu akan dapat kembali. Rasanya. Padahal jalan yang telah dilalui dan akan ditempuh begitu banyak menikung. Kita akan terus merantau. Bagaimanapun, jalan akan terus menikung…”

Konon, Jalan Menikung ini adalah sambungan dari buku Para Priyayi yang bercerita tentang keluarga besar Sastrodarsono dari Wanagalih. Di buku ini kisah keluarga Sastrodarsono berlanjut dengan kehidupan Harimurti dan Sulistianingsih bersama putra tunggal mereka, Eko yang belajar di Sunnybrook College, Connecticut, Amerika Serikat.

Suatu saat Harimurti mendapat undangan makan siang dari bos-nya. Mesipun terasa aneh, toh Harimurti datang memenuhi ajakan itu. Seperti telah diduga, ternyata pemimpin perusahaan tempat nya bekerja meminta kesukarelaan Harimurti untuk keluar dari pekerjaannya. Alasannya, ia tidak bersih diri alias pernah terlibat G30S/PKI. Harimurti tak mengerti mengapa kasusnya bertahun-tahun lampau masih dipermasalahkan. Padahal telah bertahun-tahun lamanya ia dibebaskan dari penjara.

“Begitu lengketkah praduga manusia sampai sekian lama?” (halaman 110)
“… tapi rupanya manusia hidup terus menggendong sentimennya.” (halaman 110)

Harimurti teringat putra nya, Eko, yang sebentar lagi selesai kuliahnya dan bercita-cita untuk pulang dan mengabdi untuk negerinya. Cita-cita luhur. Namun peristiwa yang menimpa diri nya membuat ia harus menghalangi niat Eko untuk pulang ke tanah air. Eko kemudian bekerja dan bahkan menikahi wanita Amerika berkebangsaan Yahudi.

Harimurti dan Sulistianingsih digambarkan sebagai pasangan sederhana dan masih menggenggam budaya leluhur. Namun demikian mereka adalah sosok yang bisa menerima perbedaan. Sebaliknya dengan Tommy dan Jeannete, saudara ipar Harimurti. Penampilan mereka yang mewah dan kekinian tidak diimbangi dengan cara berpikir yang terbuka. Perbedaan ras menjadi salah satu penolakan Tommy menikahkan putrinya dengan Boy, putra Cina dari mitra bisnisnya.

Kisah di buku ini sedikit banyak ingin menyentil bagaimana terkadang kita sendiri masih berpikiran rasis. Dan diskriminasi di belahan dunia mana pun masih saja ada.

Moskow-Petersburg-Vladivostok

mpv upload
Judul: Moskow-Petersburg-Vladivostok (MPV)
Penulis: M. Aji Surya
Penerbit: Jaring Pena
Tebal: 299

Buku setebal 299 halaman ini berkisah tentang pengalaman penulis selama bertugas di negara Beruang Putih (dahulunya dikenal dengan negara Beruang Merah). Rusia, negara pecahan Uni Soviet ini mengalami banyak perubahan unik selepas dari kekuasaan komunis. Melalui kacamata penulis kita akan disuguhi Rusia dengan wajah baru, Rusia yang terbuka, dinamis, ceria, dan manusiawi. Di dalam buku, penulis, yang juga seorang diplomat dan mantan wartawan ini menuliskan berbagai kisah yang ia amati, alami, lihat, dan dengar selama masa kedinasannya.

Setiap kisah di buku ini mengandung pesan yang berharga. Salah satu diantaranya, Mengaca Kejujuran Pada Spion Angkot.

“Uh… sebutir kejujuran. Seperti barang yang sangat mahal dan mewah. Dimanapun. Kapanpun.”

Di Rusia ada angkot untuk jarak pendek, biasanya ke dan dari stasiun metro. Di angkot hanya ada sopir. Para penumpang saling bekerjasama untuk memudahkan kerja sopir. Penumpang yang masuk pertama akan langsung duduk persis di belakang sopir. Ia menerima uang dari penumpang sebelumnya untuk kemudian diserahkan kepada Pak sopir sambil mengucapkan jumlah orangnya. Begitu seterusnya. Sopir tidak menghitung kembali uang yang ia terima. Semua dijalankan dengan prinsip kerjasama (kebersamaan) dan kejujuran.

“Dua konsep kehidupan manusia yang selalu diajarkan oleh leluhur kita, oleh agama apapun dan dalam budaya manapun. Sesuatu yang universal dan dapat dipastikan manfaatnya. Tanpa kebersamaan, apalah artinya sebuah keluarga. Apalah jua artinya sebuah bangsa. Tanpa kejujuran, yang ada pasti saling tipu dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Akhirnya hancurlah peradaban manusia akibat exploitation de l’homme par l’homme atau istilah kita teman makan teman.” (halaman 52)

Ada yang menarik di kisah yang masih sama ini. M. Aji menceritakan ketika suatu hari ia memarahi anak tetangganya kelas 4 SD yang disebut-sebut sebagai anak cerdas dan pandai. Begini kejadiannya, ia menegur anak itu karena menyeberang jalan raya tidak di zebra cross. Tak tahunya anak itu malah melotot sambil mengucap, “Om, aturan itu untuk dilanggar. Kalau gak ada yang melanggar, nanti polisi kerjanya apa donk!”.

“Apa jadinya bila konsep-konsep tentang etika mulia atau akhlakul karimah tidak dipahami dan dipraktikkan sejak dini. Itu kan sama saja bilang,”Buang aja sampah di sembarang tempat, sebab kalau tidak begitu nanti tukang sapu nganggur.” Suatu cara pikir yang ngawur dan menghambat kemajuan kehidupan.”

Ada juga cerita mengenai kerukunan antar umat beragama, dimana antara umat ortodoks dan Islam saling menjaga diri dan berhubungan dengan baik dan akrab. Bahkan para pemimpin pemerintah yang beragama ortodoks juga mengucapkan selamat Idul Fitri kepada umat islam manakala mereka merayakannya. Pemerintah pun turut membantu pendirian mesjid baru baik secara moril dan material. Pemerintah juga menegaskan bahwa mereka yang beragama islam adalah bagian dari sebuah bangsa besar dan negara yang bernama Rusia.

“Membangun kebersamaan dan keharmonisan jauh lebih bermakna bagi kehidupan bernegara dibanding memantik persoalan primordialisme yang mendorong perpecahan”, begitu kata sang penulis.

Ada banyak sekali kisah menarik yang bisa kita petik dari kumpulan tulisan di buku ini. Kita bisa belajar banyak kearifan yang dimiliki oleh bangsa yang pantang menyerah ini, seperti dilukiskan oleh Alexei Tolstoy yang ada di halaman pembuka buku.

“Yes, that’s the Russian character!
A man may seem ordinary enough,
but when trouble comes,
he is endowed with might strength
the beauty of the human heart.”

“Ya, inilah kepribadian orang Rusia!
Seorang yang kelihatan biasa-biasa saja,
tetapi manakala kesulitan menyapa,
ia tiba-tiba memiliki kekuatan dahsyat
sebuah keindahan hati seorang anak manusia.”

A Street Cat Named Bob

bob cat FA.cdr
Judul: A Street Cat Named Bob
Penulis: James Bowen
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penerbit: Serambi
Tebal: 317

“Ketika melihatku bersama kucingku, orang-orang memandangku dengan lebih lembut, yang membuatku merasa dimanusiakan. Terutama karena aku selama ini merasa sudah tidak dianggap sebagai manusia. Entah bagaimana, keberadaan kucing itu membuatku mendapatkan kembali identitasku. Setelah kehilangan identitas sebagai seseorang, aku sekarang merasa di-manusia-kan kembali.” (halaman 104).

Ini kisah tentang persahabatan seekor kucing dan pemuda pengamen di kota London. James, nama pria itu menemukan Bob, seekor kucing jantan di koridor pintu apartemennya. James menolong Bob, yang saat itu terluka. Setelah beberapa kali berusaha untuk melepaskan kucing itu agar pergi dan gagal, James kemudian memutuskan untuk mengadopsi Bob. Walau awalnya dipenuhi oleh keraguan karena James sendiri sedang dalam masa penyembuhan dari ketergantungan terhadap narkoba, kehadiran Bob ternyata mampu membuat James menata hidupnya kembali. Kehadiran Bob membuat James mulai memperhatikan dirinya. Ia bertekad untuk bersih dari pengaruh obat-obatan. Bob juga membuat James merasa bertanggung jawab. Maka, persahabatan diantara mereka pun terjalin erat sejak saat itu.

Bob dan James seperti layaknya saudara kembar, keduanya saling memahami dengan cara mereka masing-masing. Bagi James, Bob mengingatkan akan dirinya. Bob adalah kucing liar, yang mungkin menghabiskan hari-harinya di jalan. Sama halnya dengan Bob, James pun menghabiskan hari-harinya di jalanan. Dan hidup di jalanan tidak pernah pasti. Maka, keduanya selalu bersiap-siap menerima yang tak terduga. Pertikaian, perselisihan, pelecehan senantiasa menghampiri.

Perubahan besar yang dibawa oleh Bob adalah menyadarkan James bahwa ia mulai bisa memercayai dan meyakini orang lain. Kemurahan dan kebaikan hati yang diperlihatkan orang-orang kepada Bob membuat James menemukan kembali sisi baik manusia.

Kisah yang mengharukan. Buku ini mengajarkan kita bahwa anugerah bisa diperoleh dari mana saja. Hewan, tumbuhan, serta keindahan alam memunculkan sisi-sisi kemanusiaan pada diri kita yang kadang luput oleh lautan kesibukan.

Buku ini ditulis sendiri oleh James dan termasuk ke dalam deretan buku-buku best seller di negaranya.

Lust For Life

Judul asli: Lust for Life
Penulis: Irving Stone
Penerbit: Serambi
Tebal: 574

“His efforts have not been in vain, but he will probably not live to see them come to fruition, for by the time people understand what he is saying in his paintings it will be too late. He is one of the most advanced painters and it is difficult to understand him, even for me who knows him so intimately. His ideas cover so much ground, examining what is humane and how one should look at the world, that one must first free oneself from anything remotely linked to convention to understand what he was trying to say, but I am sure he will be understood later on. It is just hard to say when.” ~ Teo Van Gogh, http://www.vggallery.com/

Lust for Life adalah novel biografis seorang pelukis termahal di dunia. Ia adalah Vincent Van Gogh. Sebelum memulai karir sebagai pelukis, Vincent pernah menekuni profesi sebagai pramuniaga lukisan di sebuah gallery. Seperti keluarga Van Gogh lainnya, mereka adalah keluarga pedagang lukisan terbesar di Eropa. Kemudian Vincent menjadi pengabar injil di Borinage sebelum akhirnya memutuskan melukis adalah jalan hidupnya.

Berbeda dengan adiknya, Teo Van Gogh yang bekerja di gallery seni, kehidupan Vincent sepenuhnya dilalui dengan kemiskinan dan kegagalan cinta. Selama hidupnya Vincent hanya berhasil menjual satu kali karya lukisnya yang berjudul Ladang Anggur yang merah. Lukisan itu dibuat Vincent di Arles, kota kecil yang dipilihnya untuk menekuni karirnya sebagai pelukis setelah ia sebelumnya sempat tinggal selama setahun bersama Teo, adik yang selalu mendukung Vincent.

Sejak ia memutuskan profesi sebagai pelukis, Teo seorang yang setia mendampingi Vincent. Teo menyokong hidupnya dengan mengirimkan tidak hanya uang untuk kebutuhan sehari-hari namun juga membelikan peralatan lukis yang dibutuhkan Vincent. Teo juga yang merawat ketika Vincent sakit dan kesepian.

Walaupun Vincent bekerja keras setiap hari untuk mematangkan teknik lukisannya ia belum juga mencapai kesuksesan sampai akhir hidupnya.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh seperti mencerap kemuraman dan kesedihan yang tak kunjung habis. Sepertinya kesedihan begitu lekat kepada dirinya, dan tampak pada lukisan-lukisan Van Gogh yang muram.

“Aku akan menjalani hidup dengan kenyataan dan penderitaan. Itu bukanlah jalan yang akan membuat seseorang mati.”

Van Gogh memilih untuk mengungkapkan kejujuran emosi yang ia rasakan dalam setiap karyanya. Vincent mengajarkan kepada kita untuk menangkap keindahan tersembunyi di tempat-tempat yang buruk.

Bagi Vincent, “…figur seorang pekerja, galur-galur di ladang yang sudah dibajak, sebutir pasir, laut dan langit adalah subjek-subjek yang serius, begitu sulit, tetapi dalam waktu yang bersamaan begitu indah, sehingga sangat layak kalau dia mempersembahkan hidupnya untuk mengekspresikan puisi di balik semua itu.” (halaman 260)

Vincent Van Gogh meninggal dunia dalam usia 37 tahun. Ia belum sempat menyaksikan karya-karyanya dihargai orang dan menjadi abadi.

Namun demikian Teo benar, kerja keras Vincent tidak pernah sia-sia. Mengutip kalimat pembuka tulisan ini ada sebuah lirik lagu Starry, Starry Night dari Don McLean untuk Vincent. Starry, Starry Night adalah judul salah satu karya lukisnya yang terkenal.
download (1)

Don McLean – Vincent (Starry, Starry Night)

Starry, starry night.
Paint your palette blue and grey,
Look out on a summer’s day,
With eyes that know the darkness in my soul.
Shadows on the hills,
Sketch the trees and the daffodils,
Catch the breeze and the winter chills,
In colors on the snowy linen land.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they’ll listen now.
Starry, starry night.
Flaming flowers that brightly blaze,
Swirling clouds in violet haze,
Reflect in Vincent’s eyes of china blue.
Colors changing hue, morning field of amber grain,
Weathered faces lined in pain,
Are soothed beneath the artist’s loving hand.

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they’ll listen now.

For they could not love you,
But still your love was true.
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night,
You took your life, as lovers often do.
But I could have told you, Vincent,
This world was never meant for one
As beautiful as you.

Starry, starry night.
Portraits hung in empty halls,
Frameless head on nameless walls,
With eyes that watch the world and can’t forget.
Like the strangers that you’ve met,
The ragged men in the ragged clothes,
The silver thorn of bloody rose,
Lie crushed and broken on the virgin snow.

Now I think I know what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they’re not listening still.
Perhaps they never will…