[Un]affair


Judul: [Un]affair
Penulis: Yudhi Herwibowo
Penerbit: bukuKatta
Tebal: 170

“Pertemuan itu sebenarnya mudah saja. kita yang membuatnya menjadi rumit.” (halaman 70)

Tokoh di buku ini bernama Bajja. Bajja adalah lelaki penyuka hujan. Selepas kuliah ia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota kecil. Kota Sendu sebutannya, kota di mana mendung, gerimis, dan hujan senantiasa hadir. Di sini Bajja bekerja sebagai desainer grafis di sebuah percetakan buku. Suatu hari di perhentian sebuah kereta ia bertemu dengan seorang perempuan yang menarik perhatiannya. Nama perempuan itu Arra, yang kelak menjadi pelanggannya.

Arra adalah sosok perempuan muram. Ia tak banyak bicara seperti juga kehadirannya yang seperti angin. Ada kalanya ia menghubungi dan menemui Bajja, untuk kemudian berhari-hari menghilang. Dan di saat Bajja lelah menunggu, Arra selalu datang kembali.
“tapi selalu saja, bila suasana hatiku tengah begitu buruk, aku sama sekali tak bisa menolak untuk kemari.” (halaman 84)

Bajja tidak pernah menolak kedatangan Arra. Walau ia juga tidak berani berharap lebih pada hubungan mereka, karena ia tahu Arra telah memiliki seorang kekasih. Sampai suatu ketika surat undangan diselipkan Arra di bawah pintu rumahnya.

Sementara itu, Canta, mantan pacar Bajja memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di kota Sendu. Kedatangan Canta di kota Bajja membangkitkan kembali kenangan pada cinta yang pernah hadir diantara mereka. Canta yang masih menyimpan rasa cinta. Dan Bajja yang masih belum bisa melupakan sosok Arra.

“udara ini dipenuhi oleh zat-zat untuk melupakan seseorang.”

“Rasanya ketika seseorang yang pernah sangat istimewa bagi kita berkata secara langsung bila ia berusaha melupakan kita, sepertinya kita tak akan sepenuhnya ikhlas mendengarnya.”(halaman 119)

Saya membeli novel ini karena tertarik membaca resensi salah seorang teman BBI. Ya, itu sudah pasti, teman-teman di BBI ini memang menuangkan racun berbisa :).

Yang saya suka dari novel ini adalah kalimat indah yang dirangkai dengan manis oleh penulisnya. Sederhana tapi puitis. Ceritanya sendiri sebenarnya sederhana, tapi dialog dan renungan dari para tokohnya mampu melarutkan perasaan kita sebagai pembaca. Tutur bahasanya juga rapi. Beberapa kalimatnya mampu membuat saya mengingat kenangan-kenangan masa muda dengan nuansa yang lebih dewasa.. halah..hehehe. Tidak menya-menye tapi oke 🙂

The Moneyless Man


Judul asli: The Moneyless Man, A Year Freeeconomic Living
Judul: The Moneyless Man, Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang
Penulis: Mark Boyle
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Tebal: 349

“jadilah perubahan yang ingin kau lihat di dunia”, tidak peduli apakah kau termasuk kelompok “minoritas yang hanya terdiri dari satu orang atau mayoritas jutaan orang”.

Kalimat Gandhi di atas mengiang di kepala Mark Boyle, terus menerus. Lelaki ini ingin menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya agar bisa memberi manfaat sosial yang positif bagi banyak orang. Namun ia sendiri tak tahu caranya. Sampai suatu saat sebuah gagasan yang cukup gila muncul di kepalanya. Pengalamannya sebagai manajer di perusahaan organik memberinya sebuah ide. Ide itu adalah setahun hidup tanpa uang.

Keputusan Mark untuk melakukan eksperimen setahun hidup tanpa uang dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap hal-hal berikut ini:
1. Hilangnya kerjasama dan sikap welas asih sesama warga. Dahulu, atau di tempat-tempat di mana uang dianggap tak penting, budaya kerjasama dan tolong menolong masih ada di beberapa bagian. Sifat-sifat ini memberikan rasa nyaman di antara mereka. Sebaliknya, di tempat di mana uang diperebutkan, maka pencarian uang dan keinginan manusia untuk memiliki uang yang tidak terpuaskan mendorong manusia untuk bersaing satu sama lain dalam usaha untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Sehingga, tidak ada lagi orang mau membantu tetangganya atau temannya atau bekerja tanpa dibayar. Inilah yang perlahan menyebabkan munculnya keterasingan sehingga mengakibatkan naiknya angka bunuh diri, penyakit mental, dan sikap anti sosial.
2. Masalah-masalah lingkungan seperti penipisan sumber daya alam dan krisis iklim.

Sebelum memulai eksperimennya, Mark telah mempersiapkan segalanya dengan matang. Ia mempersiapkan rumah hunian ramah lingkungan yang akan menjadi tempat tinggalnya. Makanan yang ia makan, yang ia peroleh dari menanam sendiri ataupun mendapatkan makanan sisa dari toko tanpa membeli. Dan transportasi sehari-hari yang ia gunakan. Apa yang dilakukan Mark tak lepas dari motivasi utamanya, yaitu ia merasa lelah menyaksikan kerusakan lingkungan yang terjadi setiap hari dan ia memainkan peranan di dalamnya.
“Aku menginginkan masyarakat, bukan konflik; Aku menginginkan persahabatan, bukan perkelahian. Aku ingin melihat orang-orang berdamai dengan planet ini, dengan diri kita sendiri, dan semua species lain yang menghuninya.” (halaman 35)

Maka, alih-alih membicarakannya sebagai sesuatu yang abstrak, Mark memilih untuk terjun mempraktikkan. “Aku percaya bahwa semakin sedikit perbedaan yang ada antara kepala, hati, dan tangan, semakin dekat kita pada kehidupan yang jujur. Bagiku rohani dan jasmani adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama.” (halaman 34)

Musim dingin dirasa Mark adalah masa-masa sulit untuk menjalani kehidupan tanpa uang. Dan musim panas adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Pada musim panas berbagai jenis tanaman dapat mudah ditemui. Ia bersepeda, berkemah, memulung makanan dari tempat sampah. Mengumpulkan barang-barang yang masih bisa digunakan dan kemudian membaginya kepada mereka yang membutuhkan. Oya, di Eropa, di supermarket, satu-satunya alasan makanan perlu dibuang adalah karena tanggal yang tertera di atas kemasan. Makanan itu sebenarnya masih layak dikonsumsi, tetapi perusahaan harus bekerja sesuai dengan hukum. Karena itulah barang-barang ini kemudian akan menjadi penghuni tong sampah. Makanan-makanan seperti inilah yang dipungut oleh Mark dan teman-temannya.

Membaca buku ini membuka kita pada petualangan yang sarat dengan pengetahuan. Diselipi oleh berbagai macam pengetahuan baru yang memesona, seperti: cara membuat kompor roket, membuat kertas dan tinta jamur, memilih makanan di alam, membuat obat untuk demam dari alang-alang great plantain, membuat tempat tinggal ramah lingkungan, cara membuat sari apel murni, mendapatkan informasi yang menawarkan barang dengan cuma-cuma, akomodasi gratis sampai bersenang-senang tanpa uang.

Buku yang pasti sangat memikat, tidak hanya bagi para pecinta lingkungan namun bagi kita semua. Melalui buku ini Mark mengajarkan makna menebar budi. “Menebar budi identik dengan memberi secara ikhlas. Alam bekerja berdasarkan prinsip ini: pohon apel memberikan buahnya secara sukarela, tanpa meminta uang tunai atau kartu kredit. Dia hanya memberi, dengan keyakinan bahwa orang yang mengambil manfaat darinya akan menebar benihnya ke ladang yang lebih luas lagi sehingga bisa memberi dunia lebih banyak apel lagi.”

Mark percaya, bahwa “Ketika Anda memberi dengan cuma-cuma, tanpa ada alasan lain kecuali kenyataan bahwa Anda dapat membuat hidup seseorang lebih menyenangkan, tindakan ini akan membangun ikatan, persahabatan, dan pada akhirnya membangun komunitas yang tangguh. Ketika sesuatu dilakukan hanya untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, ikatan seperti ini tidak tercipta.” Hubungan seperti inilah yang Mark lakukan melalui pendirian komunitas freeecononomy nya. Mark menginginkan persahabatan tumbuh di antara masyarakat setempat melalui tindakan sederhana seperti berbagi dan menyaksikan semangat kebaikan dan semangat memberi lebih dihargai daripada keserakahan.

Jangan salah buku ini tidak bermaksud mengajak Anda untuk membenci uang, Mark hanya menawarkan cara lain untuk bersenang-senang.

Percaya deh, buku ini bagus banget. Rugi kalau nggak baca… hehehe 🙂

An Affair to Forget


Judul: An Affair to Forget
Penulis: Armaya Junior
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 237

“Mencintai saja tak pernah cukup”

Apa yang akan dilakukan seorang istri ketika mengetahui suaminya berselingkuh? Marah besar? Mencerca wanita idaman suaminya? Atau…

Anna adalah wanita mandiri yang memiliki dua anak. Suaminya, Toni bekerja di sebuah Bank. Anna mengelola bisnis sendiri. Awalnya perkawinan Anna dan Toni baik-baik saja sampai suatu ketika Anna mencium keganjilan pada suaminya. Sebagai seorang istri, ia dapat merasakan bahwa suaminya mencintai wanita lain. Dengan bantuan sahabatnya, Anna kemudian mencari tahu identitas wanita itu… dan menjalin persahabatan dengannya.

Langkah yang cukup tidak lazim bagi seorang istri yang dikhianati. Apakah Anna tidak terluka oleh perlakuan suaminya? Alih-alih memaki Dini, wanita idaman lain suaminya, Anna menawarkan persahabatan yang tulus. Sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan, namun demi mengembalikan keutuhan rumah tangganya, Anna menyampingkan sakit hatinya.

Novel ini menceritakan akhir yang berbeda dari kisah perselingkuhan pada umumnya. Sebagai pembaca, Anda akan dibuat bertanya-tanya dengan rencana yang sedang dijalankan oleh Anna. Alur cerita di buku ini awalnya memang sedikit lambat, tapi itu tidak terlalu mengganggu. Mungkin kelihaian penulis menggambarkan sebuah tempat atau peristiwa dengan sangat detail menjadi nilai tambah. Dan tidak seperti novel genre sejenis, walaupun novel ini bercerita kesedihan seorang wanita, namun paparan kisahnya tidak disajikan secara cengeng. Terkesan lebih apa adanya, jujur dan terbuka. Bagi seorang wanita, kisah ini barangkali bisa menjadi renungan bahwa, -seperti kata tagline di sampul buku, “Mencintai saja tidak pernah cukup”,- di dalam cinta dibutuhkan keikhlasan dan pengorbanan untuk orang yang kita kasihi.

Novel ini diterbitkan pertama kali tahun 2008. Buku lama. Kalau saya bisa membaca dan kemudian meresensinya itu karena hasil merayu si penulis untuk meminjamkan novelnya kepada saya :). Terima kasih atas pinjaman bukunya, mas :).

Sekilas mengenai Penulis.
Armaya Junior adalah nama pena dari Ardian Syam. Beliau dikenal sebagai penulis buku-buku motivator. An Affair to Forget adalah karya novel pertama Beliau yang diterbitkan oleh Gagas Media. Lulusan magister Akuntansi ini sehari-harinya adalah karyawan di sebuah perusahaan BUMN.
Buku motivasi Beliau yang saya pernah resensi dapat dibaca di sini.

Robinson Crusoe


Judul asli: Robinson Crusoe
Penulis: Daniel Defoe
Penerjemah: Peusy Sharmaya
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal: 505

Robinson Kreutznaer adalah nama asli Robinson Cruesoe. Dilahirkan dari keluarga yang cukup terpandang, Crusoe mendapatkan bekal pendidikan yang memadai. Ayahnya menginginkan Crusoe masuk sekolah hukum, namun Crusoe sendiri lebih berminat menjadi pelaut. Keinginan ini ditentang oleh Ayahnya. Dalam sebuah perbincangan Ayah Crusoe menyatakan bahwa ia akan selalu mendoakan Crusoe, namun jika ia bersikeras mengikuti kemauannya maka sang Ayah tidak bertanggung jawab jika terjadi hal buruk pada dirinya dan mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan memberkatinya.

Crusoe kemudian memutuskan pergi berlayar untuk pertama kalinya. Badai ganas yang dialaminya dalam perjalanan membuat Crusoe bersumpah bahwa jika ia selamat dari pelayaran maka ia akan langsung pulang ke rumah Ayahnya dan tidak membiarkan dirinya terjerumus dalam penderitaan itu. Akankah Crusoe menepati janjinya?

Walaupun berulang kali menentang bahaya, dan berkali-kali mengucapkan sumpah dan janji yang ia ucapkan dalam hati, namun tak pernah membuat Crusoe benar-benar melepaskan kesukaannya pergi berlayar. Sampai pada suatu ketika, ia tergoda untuk melakukan perjalanan yang kelak akan menyadarkan ia pada perenungan dan kata-kata Ayahnya. Kapal yang ia tumpangi terseret gelombang besar. Tak ada yang selamat. Hanya ia sendiri di pulau terpencil yang tak berpenghuni. Bagaimana ia bertahan hidup? Novel ini mengisahkan secara rinci bagaimana Crusoe dipaksa oleh keadaan untuk melindungi dirinya dengan memanfaatkan sumber alam yang ada. Bagian menarik ada pada kondisi psikologis yang dialami oleh Crusoe selama ia hidup sendirian. Melalui renungan dan penyesalan ia menemukan Tuhan, yang ia sadari ketika dirinya mengalami sakit. Dan sekalipun Crusoe ingin sekali diselamatkan dari pulau itu, perlahan ia mulai mengurangi doa agar dibebaskan dari kesendirian. Baginya semua belumlah apa-apa dibandingkan dosa-dosa masa lalu yang membebaninya.

Novel ini tidak hanya menceritakan petualangan bertahan hidup Crusoe dan renungan psikologis yang dialaminya. Bagian lain buku ini juga menyoroti sikap superioritas bangsa Inggris, yang dicerminkan dalam kisah pertemuan Crusoe dengan Friday. Walaupun pada dasarnya, hampir semua bangsa di dunia memiliki kecenderungan untuk menganggap dirinya lebih tinggi dari bangsa lainnya.

Sebagai novel petualangan, Robinson Crusoe memang memiliki keasyikan tersendiri. Walau saya terganggu dengan kemunculan bangsa kanibal. Namun mungkin juga itu sebuah pesan, bahwa dalam hidup senantiasa ada lonjakan-lonjakan kecil, naik dan turun. Itulah dinamika hidup. Dan setiap manusia secara naluri diberi kemampuan untuk mempertahankan hidupnya. Untuk itulah manusia harus berjuang.

Penguasa Lalat


Dokumentasi: dari sini 🙂

Judul asli: Lord of the flies
Penulis: William Golding
Penerbit: Ptaka Baca
Tebal: 312 halaman

Cerita berawal ketika sebuah pesawat dengan penumpang seluruhnya anak-anak terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Ralph adalah anak laki-laki berusia 12 tahun lewat beberapa bulan. Ia sudah bukan bocah lagi namun juga belum cukup disebut remaja tanggung. Piggy, kawan pertama yang dijumpai Ralph dan kelak menjadi sahabat untuk berdiskusi dan berdebat. Ada juga Jack di pemarah, pemimpin dari sebuah kelompok paduan suara.

Sekumpulan anak-anak itu kemudian memutuskan Ralph sebagai pemimpin karena ia mempunyai kerang di tangannya. Kerang itu akan mengeluarkan bunyi jika ditiup sebagai tanda berkumpul. Sambil berharap bala bantuan datang meyelamatkan mereka anak-anak itu memutuskan untuk bersenang-senang menikmati kebebasan mereka. Sampai kemudian perpecahan terjadi antara Jack dan Ralph. Ralph menginginkan api terus menyala untuk mendapatkan penyelamatan, sebaliknya Jack menginginkan perburuan. Jack melanggar peraturan dengan mengajak beberapa anak yang bertugas menjaga nyala api untuk berburu, sementara di saat yang sama sebuah kapal tampak di kejauhan namun asap yang dikeluarkan api memudar karena padam.

Jack memutuskan untuk keluar dan membentuk kelompok dengan mengimingi anak-anak lainnya dengan daging. Berburu kemudian memunculkan kegairahan liar dalam diri Jack. Sebaliknya Ralph bersikeras dengan memusatkan perhatiannya pada api. Api tidak saja melindungi mereka dari bahaya ketika malam hari namun juga kerasnya cuaca dan yang terutama penyelamatan. Perpecahan kelompok itu berbuntut dendam yang mendalam pada diri Jack.

Mengutip sinopsis yang ada di sampul belakang, buku ini “mengekspos dualitas sifat manusia -kesenjangan antara ketertiban dan kekacauan, kecerdasan dan naluri, struktur dan kebiadaban.”

Ralph adalah simbol dari sebuah keteraturan, kecerdasan sebaliknya Jack melambangkan sifat-sifat kekacauan, naluri, dan kebiadaban. Ralph menggunakan otaknya sementara Jack mengedepankan nafsu. Seperti dikutip dalam dialog di bawah ini.
“Mana yang lebih baik -memiliki aturan dan sepakat atau berburu dan membunuh?”
“Mana yang lebih baik, hukum dan penyelamatan, atau berburu dan merusak semuanya?” (halaman 269)

Saya ingat perbincangan kecil dengan partner. Dia bilang manusia adalah makhluk yang kompleks.

Apakah seperti dituliskan di catatan pada akhir cerita, bahwa dalam sisi manusia ada pertarungan, seperti dikisahkan dalam adegan ketika Simon berjuang dengan seluruh kekuasaan lemahnya melawan pesan ketua, melawan “pengenalan lama dan mutlak,” pengenalan kapasitas manusia untuk kejahatan dan sifat dasar dangkal sistem moral manusia.” Begitukah?

Saya terpaku. Betapa cerita ini memunculkan banyak pertanyaan yang memenuhi dada? Membaca buku ini begitu menguras energi. Mungkin pada akhirnya seperti Ralph, kita hanya bisa menangisi kegelapan hati manusia.

Tentang Penulis
William Golding, terlahir sebagai Cornwall, 1911. Ayahnya mengajar sains di Marlborough Grammar School. Ia dibesarkan untuk menjadi seorang ilmuwan, namun memberontak. Setelah dua tahun berada di Oxford, dia mengalihkan perhatiannya dari sains menjadi sastra inggris lalu menekuni Anglo-Saxon. Ia kemudian menerbitkan satu buku puisi. Ia bergabung ke dalam Angkatan Laut Kerajaan ketika pecah perang dunia kedua. Kemudian mengakhiri karir Angkatan Laut-nya sebagai letnan yang memimpin sebuah kapal roket. Sesudaha perang dia mengajar dan menulis buku, salah satunya adalah Lord of the flies. Lainnya adalah The Inheritors, Pincher Martin, dan lain-lain. Hobi Golding adalah berpikir, berlayar, dan arkeologi. Pujangga yang mempengaruhinya adalah Euripides dan pengarang tanpa nama Anglo-Saxon The Battle of Maldon.

Ciuman di bawah Hujan


Judul: Ciuman di bawah Hujan
Penulis: Lan Fang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 359 halaman

Adakah hubungan politik dengan cinta? Ataukah politik itu sejatinya cinta?

Fung Lin bertemu Ari yang politisi itu di sebuah acara pertemuan dengan para TKW. Sedianya pertemuan itu akan dihadiri oleh pejabat, dan Fung Lin bertugas untuk mewawancarai pejabat yang bersangkutan. Waktu bergulir namun Fung Link belum juga menangkap kehadiran pejabat yang dimaksud. Untuk menumpahkan kejengkelannya Fung Lin tanpa sengaja menemukan teman bicara. Laki-laki itu adalah Ari.

Awal perkenalan Fung Lin dengan Ari kemudian membawa kedekatan Fung Lin dengan seorang laki-laki berkaki angin yang bernama Rafi. Rafi adalah teman politisi Ari, laki-laki bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Dan Fung Lin yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.

Ari dan Rafi adalah anggota dewan dengan visi yang sama. Keduanya mencintai dan memperhatikan Fung Lin dengan cara yang berbeda.

Dengan Ari, Fung Lin merasa bisa mengobrol dengan bebas. Seperti Ari yang juga membutuhkan Fung Lin untuk menyadarkan dirinya bahwa ia masih manusia selayaknya. Sebaliknya Rafi, sedikit kaku dan menjaga sikap. Rafi enggan berbicara tentang hal-hal yang dirasanya tak perlu. Seperti itu pula sikapnya dalam dunia kerja yang digelutinya.
“Menurutnya, mimpi tidak bisa diwujudkan hanya dengan bercakap-cakap. Walaupun bercakap-cakap di gedung ini adalah sebagian dari proses untuk mewujudkan mimpi. Tetapi mimpi di sini milik siapa? Mimpi orang-orang kecil atau mimpi para pemain politik?” (halaman 91)

Siapakah yang memenangkan hati Fung Lin? Ari atau Rafi?

Ini bukan kisah cinta biasa, ini adalah cerita mengenai dunia politik. Politik itu juga cinta. Dalam cinta ada strategi yang perlu dimainkan untuk merebut hati orang yang kita kasihi.

Alur cerita di buku ini maju mundur. Berbagai simbol juga banyak digunakan untuk menggambarkan dunia politik. Seperti penggambaran tikus besar dan kecil yang saling menindas satu sama lain dan meninggalkan luka gigitan di tubuh Fung Lin. Atau hadirnya hamster yang kemudian melahirkan 44 anak, namun kemudian keempat puluh anak hamster itu dimakan oleh induknya sendiri. Demi melihat peristiwa menjijikkan itu membuat Fung Lin memutuskan untuk mengumpankan kedua induk hamster itu ke kandang harimau.

“Aku tidak mau ada orang yang memakanmu seperti itu. Aku juga tidak mau kau memakan orang lain. Karena politisi akan selalu saling memakan. Raf, aku tidak suka kau menjadi politisi….” (halaman 351)

Lan Fang melukiskan kisah dalam novel ini dengan diksi yang memikat disertai ungkapan tersembunyi sarat makna. Novel ini bisa menjadi renungan bagi kita untuk melihat dunia politik beserta kegelisahan yang ditimbulkannya, seperti yang diamini Rafi.
“Kalau saja ia memiliki keberanian untuk jujur, ia akan mengatakan bahwa sebenarnya ia juga memiliki ketakutan yang sama. Karena menjadi politisi tidak seindah yang tampak dari luar. Tetapi juga tidak mudah untuk keluar dari lingkarannya.” (halaman 351)

Tofi – Perburuan Bintang Sirius


Judul: Tofi Perburuan Bintan Sirius
Penulis: Prof. Yohanes Surya (bersama Ellen Conny & Sylvia Lim)
Penerbit: PT Kandel
Tebal: 831 halaman

Melihat nama penulis di novel ini mungkin akan membuat kita sedikit mengernyitkan dahi. Betulkah Prof. Yohanes Surya yang fisikawan itu? Jawabannya, tidak salah lagi :). Ketika mengetahui Beliau menulis novel berlatar sains dan akan memilih beberapa orang untuk menjadi first reader, maka saya tidak melewatkan kesempatan berharga ini. Saya langsung teringat novel sains anak-anak dari Stephen dan Lucy Hawking yang begitu memikat. Ketika itu saya pernah berharap ada novel seperti itu dibuat oleh ilmuwan Indonesia, dan harapan itu terwujud dengan adanya novel karya Prof. Yohanes Surya. Tidak berlebihan bukan, jika saya begitu antusias? 🙂

Baiklah, saya mulai saja review-nya.

Tofi adalah pemuda putra ilmuwan pemenang nobel. Pemuda ganteng dan jago basket ini juga ilmuwan muda yang sangat populer di Odyssa College. Namun ketenaran ayahnya yang pemenang nobel justru menjadikan pemuda cerdas ini menggalau. Saingan berat Tofi adalah Jupiter, putra tunggal walikota Pulau Kencana, pulau tempat dimana mereka semua tinggal. Ayah Jupiter adalah penyandang dana terbesar di Odyssa College.

Jupiter adalah pemuda jenius yang sangat terobsesi dengan kekuasaan. Ia seringkali mengganggu anak-anak yang lebih lemah dan teman-teman Tofi demi memancing keributan dengan Tofi. Pada sebuah acara di malam pameran sains, Jupiter menjebak Tofi dengan percobaan fisika bikinannya dan menyebabkan ledakan besar serta mencelakai orang lain. Ayah Tofi marah besar dan tidak memercayai alasan Tofi. Kesalahpahaman yang terjadi membuat Tofi berangan-angan untuk melepaskan minatnya pada fisika dan melepaskan bayang-bayang kepopuleran ayahnya.

“Newton bukan anak seorang ilmuwan. Tapi pernahkah ia peduli dengan label anak petani miskin? Padahal pada masa itu, status miskin sering disamakan dengan kebodohan? Tidak kan? Newton tahu ia punya identitas. Ia punya panggilan. Ia harus memberikan sesuatu bagi dunia selama ia hidup..” (halaman 31)

Persaingan di antara Tofi dan Jupiter semakin memuncak dengan munculnya Miranda, gadis cantik dan cerdas, yang kelak menggantikan posisi Jupiter sebagai pemimpin di klub Fosfor, klub ilmuwan remaja yang sangat populer di Odyssa College. Demi melepaskan ketergantungan klub Fosfor dari kekuasaan Jupiter, maka Tofi bersama beberapa kawannya mengikuti perlombaan Science to Generation (STG).

STG diikuti oleh banyak wakil sekolah dari seluruh Indonesia dan bertempat di Bandung. Di sini beberapa perwakilan daerah akan bersaing untuk merebut kemenangan. Di antara persaingan, kerja sama, perselisihan dan persahabatan, tak lupa dibumbui oleh cinta lokasi ternyata acara Science to Generation ini dilatarbelakangi oleh sebuah konspirasi misterius. Berawal dari gosip hantu, dan kutukan bintang serius, anak-anak ini terjebak dalam laboratorium horor dan berhadapan dengan dua virion terbaik dari Black Schole, sindikat paling berbahaya di dunia. Siapakah mereka? Dan Apa tujuan mereka datang? Dan apa hubungan itu semua dengan ayah Tofi? Berhasil kah mereka keluar dari laboratorium yang berbahaya tersebut?

**
Tofi, Perburuan Bintang Sirius ini adalah novel pertama karangan Prof.Yohanes Surya. Novel ini ditujukan untuk remaja atau mereka yang menyukai sains sekaligus petualangan. Beberapa tokoh dalam buku ini dinamai dengan istilah-istilah sains, seperti Metana Hidro, nama salah satu unsur kimia yang dapat menyebarkan bau. Sesuai namanya, Metana adalah teman sekelas Miranda yang menjadi sekretaris Klub Fosfor dan dijuluki oleh teman-temannya sebagai Ratu Gosip. Miranda sendiri adalah nama satelit planet Uranus, planet yang letaknya jauh dari matahari, dingin dan pekat. Menghadapi rayuan maut Jupiter, Miranda bisa berubah sedingin es. Seperti adegan yang ada di halaman 62, ketika Jupiter melancarkan rayuannya kepada Miranda.
“Kau tahu kan, Vol? Suhu satelit Miranda itu bisa mencapai minus 187 derajat,” ujar Metana sambil memilin rambut sebahunya.”

Candaan yang ada dalam buku ini cerdas dengan aroma sains-nya. Untuk kita yang awam, buku ini dapat memenuhi keingintahuan kita mengenai sains dengan cara yang sangat menyenangkan. Tidak hanya itu, melalui referensi yang banyak dari buku ini, rasa penasaran kita pun dengan mudah dibangkitkan. Seperti saya misalnya, ketika buku ini menyinggung tentang Voyager II maka saya akan membrowing dan mencari tahu mengenai pesawat antariksa tak berawak yang dikirim ke planet Uranus ini, dan banyak informasi berharga lainnya yang dikemas dengan menarik-, yang kemudian membuat saya jadi berlama-lama membacai artikel tersebut :).

Tokoh-tokoh ilmuwan dari penemuan dan biografi mereka pun menjadi topik perbincangan yang menarik, juga sejarah, astronomi, budaya, sampai fashion. Membaca buku ini membentangkan fantasi saya dari Carl Sagan dengan astronominya, Marrie Curie (ilmuwan wanita kesayangan saya. -Salaman dulu sama Cheryl :)- ) dengan radiumnya sampai Harry Potter dengan trik sihirnya. Tak lupa kisah petualangan ala detektif Conan dan Sherlock Holmes. Saya pun seringkali dibuat terpingkal-pingkal dengan gaya candaan para tokoh di buku ini.

Nyata bahwa penulisnya pastilah seorang yang sangat suka membaca berbagai genre buku. Tidak seperti bayangan orang pada umumnya yang menyangka seorang ilmuwan adalah mereka yang hanya berkutat pada bidang ilmunya, berkaca mata dan begitu membosankan. Percayalah, novel ini mementahkan itu semua.

Salut dengan Prof. Yohanes Surya yang berhasil meramu cerita ini dengan sangat menarik. Barangkali karena ini adalah versi draf masih banyak saya temui kesalahan ketik yang cukup mengganggu. Mudah-mudahan versi aslinya tidak ada lagi. Satu permintaan jika diperkenankan adegan pertarungannya mungkin bisa diperhalus sedikit penggambarannya.

Dan tentu saja, saya dengan senang hati menunggu kiriman lanjutan kisah Tofi, yang kabarnya dibuat menjadi 3 seri :).

Terima kasih untuk Prof. Yohanes Surya serta metode gasing yang telah memercayai saya untuk menjadi first reader novel mereka yang pertama dan sungguh sangat keren.

~ Apa yang harus dimiliki seorang ilmuwan? Heart and Trust! Milikilah hati dan kepercayaan. Tanpa hati, kau akan seperti lampu tanpa cahaya yang tak dapat menyentuh orang lain. Tanpa kepercayaan, kau akan berdiri sendirian dan kesepian. Bagaimana mungkin mengubah dunia tanpa kerja tim?” (halaman 179)

Kontak


Judul asli: Contact
Penulis: Carl Sagan
Alih bahasa: Andang H Sutopo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 591

Apakah sebenarnya kita hidup sendiri di ruang angkasa yang hingar bingar ini? Benar-benar sendiri?

Sejak lama manusia bertanya-tanya dan mencari tahu mengenai keberadaan makhluk hidup lain di luar bumi. Kita begitu rindu ingin bertemu mereka. Khayalan mengenai kehidupan makhluk-makhluk asing di luar tata surya kita menjadi kisah yang menarik untuk dibukukan atau dijadikan film. Salah satunya ini: Kontak.

Setelah menamatkan gelar doktornya, Ellie mendapatkan pekerjaan sebagai peneliti pendamping di observatorium Arecibo, sebuah mangkuk raksasa bergaris tengah 350 meter di lembah di kaki bukit bagian barat laut Puerto Rico, teleskop radio terbesar di planet bumi. Di sini Ellie memperoleh kesempatan untuk melakukan observasi sebanyak mungkin meneliti benda-benda langit, planet-planet di dalam tata surya, bintang-bintang, pusat galaksi, pulsar dan quasar.

Minat Ellie yang besar pada ilmu pengetahuan menjadi kendala bagi kehidupan cintanya. Demikiam juga hubungan dengan rekan-rekan sekerjanya yang tidak selalu mulus disebabkan Ellie adalah ilmuwan astronom wanita diantara kebanyakan kaum lelaki.

Sejak kecil Ellie terpesona pada bintang-bintang. Ia menyukai matematika, fisika, dan teknik. Kelak ia menyibukkan diri dalam sebuah projek mencari peradaban di luar bumi.

Dalam satu temuan yang diprasangkai sebagai pesan dari planet lain, Ellie terpaksa harus berurusan dengan seorang rohaniawan, Mr. Rankin, yang mengejar keyakinannya terhadap Tuhan.

“Apa pun yang tak kau mengerti, Mr. Rankin, kaukaitkan dengan Tuhan. Tuhan bagimu adalah tempat kau menyapu semua misteri dunia, semua tantangan terhadap kecerdasanmu. Kaukunci pikiranmu, dan dengan mudah kau katakan bahwa Tuhan yang melakukannya.” (halaman 231).

Melalui tokoh Ellie, Sagan menyikapi keyakinan-keyakinan terhadap agama yang merugikan ilmu pengetahuan.

Saya ingat ketika percobaan LHC (Large Hadron Collider) berhasil menemukan partikel yang dicari. Pencarian partikel high boson sempat mengundang banyak komentar negatif. Apakah kemudian berhasil ditemukannya partikel ini menandakan berakhirnya pencarian kita akan keberadaan Tuhan? Karena rahasia alam semesta telah berakhir?

Penemuan baru apapun itu semustinya disikapi secara bijak. Tidak ada ciptaan-Nya yang sia-sia. Setiap penemuan baru akan melahirkan penemuan baru lainnya. Dan sungguh rahasia alam semesta sangatlah luas. Untuk itulah Tuhan ingin kita terus belajar, bertanya dan tidak menutup diri terhadap berbagai pengetahuan. Tuhan memperlihatkan sedikit rahasia-Nya yang ingin Ia bagi dengan kita. Namun Ia juga menyimpan bagian lain yang tetap menjadi rahasia-Nya.

Dan pada suatu waktu, kesadaran spiritual manusia pun bisa tumbuh melalui pencarian ilmu pengetahuan.

“Di dalam struktur ruang dan di dalam sifat-sifat benda, seperti di dalam hasil karya seni agung, tertulis kecil-kecil tanda tangan sang artis. Berdiri di atas manusia, dewa, iblis dan makhluk-makhluk lain, termasuk para Penjaga galaksi dan para pembuat terowongan, Dia telah ada lebih dahulu sebelum terciptanya alam semesta.” (halaman 588)

Maka, apakah sia-sia jika pencarian kita akan ‘saudara’ di luar bumi tidak mendatangkan hasil seperti yang kita harapkan? Inilah jawabannya.

“Kalau kita tidak menemukan apa-apa, setidaknya kita menemukan bahwa kehidupan di Bumi ini sesuatu yang unik, yang tidak ada duanya di seluruh alam semesta, sehingga merupakan sesuatu yang sangat tak ternilai. Dan pengetahuan akan kenyataan itu pun merupakan sesuatu yang tak ternilai.” (halaman 87)

Sekilas mengenai Carl Sagan (dikutip dari sini, dengan sedikit penambahan).

Carl Edward Sagan (lahir di Brooklyn, New York,Amerika Serikat, 9 November 1934 – meninggal di Seattle, Washington, AS, 20 Desember 1996 pada umur 62 tahun) adalah seorang astronom Amerika Serikat dan dikenal sebagai orang yang gigih memopulerkan sains. Ia memelopori disiplin ilmu eksobiologi dan penggagas upaya pencarian makhluk cerdas dari luar angkasa (Search for ExtraTerrestrial Intelligence/SETI). Ia dikenal di seluruh dunia karena buku-buku best-seller dengan tema sains populer yang ia tulis. Salah satu bukunya yang populer adalah Kosmos.

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran


Judul asli: The Curious Incident of the Dog in the Night-time
Penulis: Mark Haddon
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal: 311

Christopher Boone adalah seorang bocah laki-laki berusia lima belas tahun dan penyandang sindrom Asperger. Asperger adalah sejenis autisme. Christopher menyukai matematika dan komputer tapi canggung berhubungan dengan orang lain. Ia anak yang pintar. Tapi, mungkin Christopher akan menyangkal jika ada yang menyebutnya pintar. Menurutnya, ia hanya suka memperhatikan keadaan sekeliling. Dengan demikian ia lebih jeli dibanding orang lain pada umumnya. Christopher juga senang segala sesuatu berlangsung teratur sehingga ia merasa nyaman. Satu-satunya cara agar hal-hal berlangsung teratur adalah berpikir logis, terutama jika hal-hal itu berhubungan atau menyangkut angka-angka dan argumen. Itulah sebabnya Christopher sangat pandai dalam berhitung.

Suatu hari Christopher mendapati anjing tetangganya mati. Kematian misterius anjing itu kemudian membawa Christopher menempuh perjalanan menakutkan yang akan menjungkirbalikkan seluruh dunianya.

Tepat kiranya kalau buku ini ada dalam daftar “1001 Books You Must Read Before You Die”, yang link-nya ada di sini. Kisah dalam buku ini sungguh mengharu biru perasaan. Anak-anak penderita asperger seperti Christopher tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan emosi. Mereka tidak suka disentuh dan tidak mau bertatapan ketika berkomunikasi. Mereka menyibukkan diri dengan hitungan dan bilangan-bilangan rumit untuk menenangkan diri ketika mereka merasa cemas dan ketakutan. Melalui tokoh Christopher, kita diajak untuk memahami bagaimana mereka berpikir, melihat dan memandang sesuatu dari dunia mereka yang tampak hening.

Mengutip kata-kata penerjemah buku ini, Hendarto Setiadi “Insiden anjing..bukan buku biasa..gaya bahasanya sederhana, bahkan berkesan bersahaja…Namun kesan pertama itu menyesatkan. Di balik kalimat-kalimat bersahaja itu tersimpan kisah yang luar biasa, kisah yang jenaka tetapi sekaligus getir dan mengharukan.”

Banyak kalimat-kalimat bersahaja yang pantas dikutip dalam buku ini. Salah satu yang saya suka adalah ini.

“Dan kalau kau memandang langit kau tahu bahwa apa yang kau lihat adalah bintang-bintang yang berjarak ratusan dan ribuan tahun cahaya darimu. Dan beberapa bintang bahkan sudah tidak ada sebab cahaya bintang-bintang itu sudah mati, atau sudah meledak dan berubah menjadi bintang kerdil merah. Dan itu semua membuat kau merasa begitu kecil, dan kalau kau mempunyai kesulitan dalam hidupmu maka ada baiknya kalau masalah itu dianggap sepele atau begitu tak berarti sehingga tidak perlu dipersoalkan ketika kau memperhitungkan sesuatu.” (halaman 179)

Pengantin Surga


Judul asli: The Story of Layla and Majnun
Penulis: Nizami Ganjavi
Penerjemah: Ali Nur Zaman
Penyunting: Salahuddien Gz
Penerbit: Dolphin
Tebal: 250

“Roh agung yang berbicara tentang perhelatan termanis dari cinta yang terdalam, itulah Nizami.” ~ Goethe

“Karya Nizami adalah selubung yang menirai kebenaran hakiki dan pengetahuan ilahi.” ~ Abdurrahman Jami

Pengantin Surga, yang naskah aslinya berjudul Layli o Majnun adalah cinta klasik turun temurun yang dikisahkan di tanah Arab sejak masa dinasti Umayyah berkuasa.

Alkisah adalah seorang penguasa Badui bernama Syed Omri yang berkuasa atas Bani Amir. Ia memiliki seorang putra yang telah lama dinantinya. Anak itu bernama Qays. Qays tumbuh menjadi anak yang rupawan dan menjadi salah satu murid terbaik di sekolahnya. Qays pun cepat menguasai seni baca tulis. Apapun yang keluar dari mulutnya bak mutiara. Indah didengar.

Suatu hari sekolah itu kedatangan murid baru, seorang perempuan yang jelita. Kecantikannya memabukkan bagi siapapun yang melihatnya, tak terkecuali Qays.

Qays dan Layla-nama anak perempuan itu-kemudian saling tertarik. Kedekatan mereka kemudian diketahui oleh guru, teman dan orang tua Layla. Orang tua Layla membawa gadis itu pulang ke rumah dan mengurungnya. Sejak itu Qays tidak dapat lagi bertemu dan melihat Layla. Qays menjadi gila oleh karena kerinduan dan cintanya pada Layla. Sementara Layla hanya memendam kesedihannya sendiri.

Hidup Qays menjadi tidak karu-karuan. Ia larut dalam pemujaannya terhadap kekasih hatinya. Ia melantunkan syair-syair cinta dan kerinduan untuk Layla. Syair-syair indah itu membuat siapapun yang mendengarnya begitu tersentuh. Mereka mencerap dalam-dalam dan mendendangkannya kembali. Tak jarang dari mereka kemudian menjadi pecinta.

Qays tak lagi peduli pada sekitarnya. Segenap jiwa dan hatinya hanya dipenuhi oleh Layla seorang. Karena itu kemudian orang-orang memanggilnya dengan majnun (dalam bahasa arab artinya gila). Segala upaya Ayah, keluarga, dan teman-temannya agar Qays melupakan Layla tidak berhasil. Sebaliknya, cintanya semakin kuat. Ia bahkan tidak menghiraukan kesedihan dirinya sendiri.

“Seorang manusia yang dilanda cinta tak akan mencemaskan hidupnya. Manusia yang mencari kekasihnya tak akan jeri dengan dunia sama sekali. Di manakah pedang itu? Biarlah pedang itu melukaiku sebagaimana awan menelan rembulanku. Jiwaku telah jatuh ke dalam pelukan api. Sekalipun harus sakit terbakar di dalamnya, aku tidaklah memedulikannya.” (hal 55).

Kedua sejoli itu bercakap dengan alam. Syair-syair Qays untuk Layla didendangkan oleh banyak orang. Layla mendengar syair-syair itu dan mengirimkan balasan melalui carik-carik kertas yang ia tulis dan membiarkan angin menyampaikannya untuk Qays.

“Aku tetap milikmu, betapapun jauh dirimu!
Deritamu, bila kau bersedih, juga akan menyedihkanku.
Tiada tiupan angin yang tak menghantarkan bau tubuhmu.
Semua burung seperti memanggil-manggil namamu.
Setiap kenangan yang meninggalkan jejaknya bersamaku,
Bertahan selamanya, seakan menjadi bagian dari diriku.” (hal 102).

Waktu berlalu dan Layla kemudian dinikahkan dengan Ibnu Salam. Namun sampai akhir hayatnya, Layla tetap setia kepada Qays. Sementara itu Qays kehilangan unsur kemanusiaan dalam dirinya. Ia berkawan dengan binatang-binatang. Mereka pun menjaga dan melindunginya. Jiwa Qays sepenuhnya lebur ke dalam bayang-bayang kekasihnya.

“Bila kau tahu hakikat seorang pecinta, kau akan menyadari bahwa ketunggalan harus meniadakan dirinya, untuk musnah ke dalam pelukan kekasihnya.” (hal 146)

**
Kisah Layla dan Majnun ini oleh beberapa orang diyakini bersumber dari kisah nyata pemuda arab bernama Qays. Ada banyak versi. Namun semuanya memiliki kemiripan, yaitu Qays menjadi gila oleh karena cintanya pada Layla.

Cinta dan kerinduan pada Layla melarutkan Qays pada kesedihan. Namun sesungguhnya kesedihan itu memberi Qays jalan menuju kebebasan, membebaskannya dari belengu keakuan, yaitu ketika ia lebur dalam bayang kekasihnya.

Kisah Layla dan Majnun ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tidak sekedar kisah cinta antara sepasang manusia, namun juga tingkatan cinta yang lebih tinggi, yaitu cinta kepada Sang Pencipta. Bagi sufi, tokoh Majnun mewakili gambaran seorang pecinta. Seorang hamba yang mencari Tuhan-Nya.

Dalam kaitannya dengan sufisme, saya teringat pada sebuah buku “Indahnya Menjadi Sufi”, yang memaparkan tentang ekstatik. Ekstatik adalah model penyatuan dengan mensyaratkan sebuah kunjungan khusus yang mengangkat jiwa keluar dari badan-dan membawanya menuju yang lebih tinggi, yakni sebuah tingkat kesadaran yang berbeda. Pengalaman ini bisa berlangsung begitu hebat, sangat emosional sehingga mengirimkan badan menuju ledakan-ledakan. Mereka mengistilahkan dengan sebutan ‘pemabuk spiritual’, sebab mabuk ketuhanan memisahkan mereka dari dunia normal. (Seperti yang terjadi pada tokoh Majnun dalam cerita di atas).

Majnun adalah representasi dari kelas sufi yang paling besar, yaitu cinta, ketika tokoh Qays menarik apa yang barangkali menjadi emosi yang paling kuat dalam hati manusia meskipun banyak manusia yang menahannya.

Kisah yang indah dan menggugah, meniupkan letupan-letupan menuju cinta yang hakiki, Tuhan Sang Pencipta.

Sekilas mengenai penulis (dikutip dari buku Pengantin Surga).

dokumentasi: dari sini.
Nizami Ganjavi (1141-1209) adalah pujangga terbesar dalam khazanah sastra Persia, dianggap sebagai penulis yang membawa gaya tutur realistis ke dalam kisah epik di Persia. Lahir di Ganja, salah satu kota besar di Azerbaijan, bagian Kesultanan Seljuk, ia menghabiskan seluruh masa hidupnya di sana. Karya-karyanya tak hanya dipengaruhi oleh sastra Arab dan Persia, baik tradisi lisan maupun tulisan, melainkan juga oleh matematika, astrologi, kimia, farmasi, ilmu tafsir, teori dan hukum Islam, sejarah, filsafat, mistisisme, musik, dan seni visual. Jejak-jejak Nizami sangat terasa dalam kesusastraan Islam. Karya tulisnya mempengaruhi perkembangan sastra Persia, Arab, Turki, Kurdi, Urdu, juga Nusantara.

Pengantin Surga (yang judul aslinya Layli o Majnun) adalah karyanya yang paling tersohor. Karyanya yang lain adalah Makhzan Al-Asrar (Gudang Rahasia), Haft Peykar (Tujuh Bidadari), dan Eskandarnameh (Kitab Iskandar).