Sang Penerjemah


Judul asli: The Translator
Penulis: Leila Aboulela
Alih Bahasa: Rahmani Astuti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272

“…betapa syariah dari Allah lebih pengertian dan lebih seimbang daripada aturan yang dibuat umat manusia untuk diri mereka sendiri.”

Sammar adalah seorang janda dari Sudan yang bekerja sebagai penerjemah bahasa Arab-Inggris di universitas Skotlandia. Kepergian suaminya yang mendadak dalam sebuah kecelakaan telah meluluhlantakkan kehidupan Sammar. Ia kemudian menghabiskan hari-harinya dalam ruang sepi dan kelabu yang dibangunnya sendiri di Aberdeen. Menitipkan putra semata wayangnya pada bibi yang menetap di Khartoum, Sudan.

Sammar menenggelamkan dirinya dalam lautan kesedihan yang panjang. Sampai suatu hari ia bertemu dengan Rae, seorang peneliti islam dari Skotlandia. Mereka kemudian bersahabat. Kehadiran Rae membangkitkan keinginan hidup Sammar yang telah lama diredamnya. Rae yang mengagumi keyakinan yang dianutnya. Rae yang tahu lebih banyak tentang islam daripada dirinya sendiri. Rae yang menyayangi Sammar.

Sammar berusaha membohongi hatinya. Ia terikat pada aturan-aturan yang dibuatnya sendiri. Namun perasaan sayang yang begitu kuat terjalin di antara mereka. Dan ia tahu, entah kapan, suatu saat perasaan itu akan mencuat keluar. Sammar tidak siap menghadapinya, ia tak ingin kehilangan Rae namun juga tak bisa melupakannya.

Mereka berdua menyadari bahwa mereka harus terlebih dahulu mengatasi perbedaan keyakinan yang ada. Kesempatan itu datang ketika keduanya harus berpisah untuk sementara waktu. Dalam sebuah tugas yang diberikan Rae, Sammar berkesempatan menengok kembali Khartoum, menemui bibi, keluarga dan putra yang ditinggalkannya. Di negara asalnya dimana matahari bersinar sepanjang waktu, Sammar merasakan hidup kembali. Kehangatan yang ditawarkan sekaligus memunculkan kepedihan dalam hati Sammar.

Kisah tentang keyakinan seorang wanita pada diri, cinta dan Tuhannya dikemas dengan indah dan puitis oleh si pengarang. Novel yang bagus. Penyampaiannya yang sederhana mengenai cinta dan keyakinan. Obrolan biasa sehari-hari tapi penuh makna lengkap dengan untaian kalimat yang sangat puisi. Lembut dan menyentuh.

Kisah-kisah Kucing


Judul asli: Cat Stories
Penulis: James Herriot
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 216 halaman

Buku ini berisi kumpulan cerita mengenai kucing dan para pemiliknya yang diceritakan oleh seorang dokter hewan di pedesaan Yorkshire yang bernama James Herriot.

Betulkah kucing adalah hewan yang sangat memikirkan dirinya sendiri dan tidak mampu merasakan cinta murni seperti para anjing? Nah, Herriot menyangkalnya. Ia pernah merasakan bagaimana kucing-kucing menggosokkan wajah mereka ke wajahnya serta menyentuh pipinya dengan cakar-cakar yang dengan hati-hati mereka sembunyikan. Itu semua adalah ekspresi cinta.

Perasaan cinta yang begitu kuat antara hewan peliharaan dengan pemiliknya kadang kala menularkan sifat dan perilaku yang identik, seperti ada di dalam kisah Alfred, si Kucing Toko Permen. Alfred adalah nama kucing di toko milik Geoffrey Hatfield, Penjual gula-gula. Ketika Mr. Hatfield meladeni pelanggan dengan sabar maka Alfred dengan setia duduk di ujung meja. Ia tidak pernah meninggalkan tempatnya. Duduk tegak dan tenang memandang majikan bernegosiasi dengan tamunya. Mereka begitu mirip dan saling menyayangi satu sama lain.

Kisah kedua adalah mengenai Oscar, si kucing sosialita. Oscar adalah kucing yang datang dalam kondisi terluka parah yang ditemukan oleh seorang gadis bernama Marjorie. Oscar kemudian dipelihara oleh Herriot dan Helen, istrinya. Namun ada sesuatu yang misterius pada Oscar, ia selalu menghilang pada jam-jam tertentu.

Herriot menuliskan kisah-kisah dalam buku ini dengan penuh kehangatan dan kasih sayang seperti ciri khas semua tulisannya. Ada juga kelucuan yang diam-diam membuat kita menahan senyum seperti di kisah Olly dan Ginny.

Olly dan Ginny adalah sepasang kucing liar. Mereka datang bersama induknya untuk mencari makan. Suatu hari induk kucing meninggalkan kedua anaknya di rumah kayu yang berjarak beberapa meter dengan rumah Herriot dan Helen, istrinya. Kedua kucing itu kemudian dipelihara oleh Helen dan Herriot. Helen perlahan berhasil mendekatkan dirinya pada hewan-hewan itu. Mereka memercayainya. Sebaliknya tidak dengan Herriot. Pengalaman kucing-kucing itu dengan Herriot lebih kepada suntikan, ketika keduanya sakit flu parah. Tampaknya kedua kucing itu mempunyai ingatan yang buruk terhadap Herriot sehingga mereka kompak menghindarinya dengan berlarian setiap kali melihatnya. Perlakuan ini menyayat hati Herriot yang sebenarnya penyayang kucing. Ia bertekad untuk memenangkan hati kedua kucing tersebut.

Indonesia Mengajar


Judul: Indonesia Mengajar
Penulis: Pengajar Muda
Penerbit: Bentang
Cetakan: Movember 2011

“Education is not filling a bucket, but lighting a fire.” – William Butler Yeats.

Buku ini berisi kumpulan kisah dari para pengajar muda yang rela meninggalkan kenyamanan kota dan jauh dari keluarga untuk mengabdi di pelosok negeri. Ada banyak kisah mengharukan, lucu, dan manis dari hasil interaksi para guru bersama siswa-siswa mereka. Dari tulisan-tulisan di buku ini pembaca (guru utamanya) dapat belajar mengenali berbagai pendekatan yang dilakukan oleh para pengajar muda untuk membimbing murid-murid mereka. Beberapa kisah diantaranya:

Asisten Guru – Intan, pengajar dari Bengkalis.
Syahrul seorang anak yang tidak bisa diam dan suka mengganggu kawan-kawannya. Perilakunya terkadang kasar. Tak ada seorangpun yang berani melawannya. Untuk menertibkan kelas dan mendisiplinkan Syahrul Ibu guru ini berinisiatif mengangkat Syahrul menjadi asisten guru. Syahrul ternyata menjalankan tugasnya dengan baik. Perlahan seluruh anak menjadi aktif dan tertib di kelas.

Kisah mengharukan ada di tulisan “Anak itu Bernama Rijin.” – Aisy.
Rijin adalah bocah berusia 6 tahun. Suatu hari ia datang ke rumah Ibu guru dan menunjukkan luka di sekujur tubuhnya. Orang tua Rijin memukuli anak itu dengan batang pohon lemon berduri, karena Rijin tidak mematuhi perkataan orang tuanya. Ibu guru ini membersihkan luka dan menemani Rijin. Ketika Rijin dijemput oleh neneknya, anak itu hanya menatap ibu gurunya dengan lama. Esok harinya dan hari-hari berikutnya Rijin selalu menunggu, menyapa, dan menggandeng tangan Ibu gurunya sebelum memasuki halaman sekolah.

Banyak lagi cerita yang membuat dada kita kadang terasa sesak oleh rasa haru. Anak-anak, mereka tidak pernah mendendam dan mudah untuk beradaptasi. Seperti juga anak-anak lainnya di kota besar, mereka memiliki kegairahan belajar dan menyerap berbagai ilmu pengetahuan. Yang membedakan adalah kesempatan. Kesempatan untuk mendapatkan fasilitas yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik.

Pengajar muda hadir seperti oase bagi mereka. Tidak hanya siswa tapi juga guru dan lingkungan sekitar.

Membaca buku ini sekaligus memutar ulang suka duka bersama murid-murid saya sendiri dahulu. (hehe.. curcol). Pengalaman yang sangat berharga dan tidak ingin saya lupakan dalam hidup saya.

One Day


Judul Asli: One Day
Penulis: David Nicholls
Penerjemah: Bob Sabran dan Melody Violine
Cetakan: 2010
Penerbit: Esensi (Divisi dari Erlangga)
Tebal: 421

“Kalau aku bisa memberimu satu hadiah saja untuk sepanjang sisa hidupmu, hadiah itu adalah ini. Kepercayaan diri.”

Emma Morley dan Dexter Mayhew kuliah di tempat yang sama, tapi mereka baru saling bertegur sapa di malam kelulusan. Saat itu pula Dexter menginap di tempat kos Emma. Mereka menghabiskan malam dengan saling mengobrol. Dexter, pria tampan yang memesona dan seorang playboy dari keluarga yang cukup terpandang. Emma, wanita cerdas dan cantik yang tidak menyadari dirinya menarik, anti kemapanan serta kaku. Dua tipe yang bertolak belakang tapi berhasil menjalin sebuah persahabatan. Malam itu Emma mengajak Dexter bercakap tentang rencana mereka setelah lulus kuliah. Dexter bercita-cita keliling dunia untuk memenuhi hasrat berpetualangnya. Emma dengan cita-citanya yang sederhana, mengubah sesuatu, hal-hal kecil di sekitar hidupnya.

Semalam bersama Emma, yang awalnya sempat membuat Dexter ingin segera meninggalkannya, berubah menjadi hal menyenangkan ketika esok paginya mereka meluangkan waktu bersama. Mereka mendaki tebing Salisbury, tertawa dan mengobrol. Inilah awal persahabatan mereka dimulai.

Emma dan Dexter saling menyayangi dan membutuhkan satu sama lain. Namun mereka tak ingin mempertaruhkan jalinan persahabatan yang ada. Ikatan pertemanan mereka tak selamanya indah. Ada tahun-tahun ketika mereka tidak berhubungan satu sama lain. Tidak sepenuhnya menghilang, karena baik Dexter dan Emma menyimpan kerinduan yang sama. Mereka bertemu kembali di sebuah pesta pernikahan kawan lama. Berjanji untuk kembali berteman.

“Mereka sangat jarang membicarakan perasaan satu sama lain: kata-kata indah dan perhatian hangat mungkin tidak diperlukan antarsahabat yang hubungannya telah teruji dengan baik.” (hal 339)

Kisah diceritakan secara berurut, sampai terakhir kematian Emma. Kemudian alur cerita maju mundur. Novel ringan dengan pemikiran yang cukup mendalam dan mencerahkan. Konflik batin serta perenungan-perenungan yang dialami oleh setiap tokohnya sangat hidup.

Yang menarik dari novel One Day adalah adanya proses pendewasaan diri dari masa dewasa ke saat paruh baya melalui renungan dari tokoh Emma dan Dexter.

Namun ada beberapa kesalahan eja di dalam novel ini, seperti penulisan nama Dexter. Di awal di tulis Dexter Mayhem, kadang kala tertera Mayhew. Dan teksnya sangat imut serta rapat membuat saya tidak bisa melepas kacamata.. hehe. Namun cerita yang menarik membuat saya bertahan menyelesaikannya dalam dua hari :).

Bumi Manusia


Judul: Bumi Manusia
Penulis: Antoine De Saint-Exupery
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Cetakan: Desember, 2011
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 218

“Bumi mengajarkan kepada kita tentang diri kita jauh lebih banyak daripada semua buku di dunia ini, karena ia menantang kita. Manusia menemukan dirinya manakala ia harus mengukur kekuatannya sendiri ketika menghadapi suatu hambatan. Namun, untuk mencapainya ia memerlukan alat.”

Cerita berawal ketika Exupery, penulis cerita ini, masuk sebagai penerbang muda yang mengantarkan paket pos dari Perancis ke Afrika dan ke Amerika Selatan. Peraturan di perusahaan itu melarang para pilot untuk mengarungi lautan awan di atas zona yang bergunung-gunung. Pilot yang pesawatnya mogok bisa tersungkur ke dalam gumpalan awan-awan dan mungkin saja membentur puncak gunung.

Dalam perjalanan karirnya sebagai penerbang Exupery melihat dan merasakan kehilangan teman seprofesi ketika menjalankan tugas. Ia juga pernah terdampar di gurun pasir bersama kawan-kawannya.

Pengalaman Exupery dalam menjalani kehidupannya sebagai pilot memberikan renungan-renungan kecil yang sangat bermakna. Ia melukiskan pertemanan yang dijalinnya dengan kawan seprofesi seperti ini:

Para penerbang itu menyebar di seluruh dunia. Mereka tidak selalu bertemu. Ketika bertemu mereka akan bertegur sapa kemudian berpisah. Dan ketika bertemu kembali setelah beberapa tahun mereka akan melanjutkan cerita yang pernah terputus dahulu, saling mengikatkan diri kembali kepada kenangan lama. “Bumi terasa gersang sekaligus kaya. Kaya dengan taman rahasianya, tersembunyi, susah dicapai, tetapi profesi selalu mengantar kami kembali ke situ, hari ini atau nanti.”

Tetapi terkadang mereka kehilangan teman. “Tak akan pernah ada yang dapat menggantikan seorang teman yang hilang. Tak ada yang lebih berharga daripada begitu banyak kenangan yang dapat dibagi bersama, begitu banyak jam sulit yang dialami bersama, begitu banyak perselisihan, perdamaian dan perubahan emosi.”

Di tengah bahaya, mereka yang semula tertutup dalam kesendirian masing-masing menyadari bahwa mereka bagian dari sebuah komunitas yang sama, yang mendekatkan diri mereka satu sama lain.

Melalui pesawat terbangnya pula Exupery memperhatikan lekuk liku lapisan bumi, tempat kedudukan cadas, pasir, dan garam, tempat di mana kehidupan tumbuh dan berkembang. Begitulah ia membaca kembali sejarah manusia.

Maka, dalam artian yang lebih luas Exupery mempertanyakan untuk apa manusia membenci? “Kita semua bernasib sama, berada di planet yang sama, dan merupakan awak kapal yang sama. Dan jika ada baiknya kalau budaya-budaya bertentangan agar tercipta sintesis yang baru, sungguh mengerikan jika budaya-budaya itu saling mencaplok. Mengingat bahwa untuk membebaskan kita dari keadaan seperti itu, kita cukup saling membantu untuk menyadari sebuah tujuan yang akan mengikat kita satu sama lain.”

Buku ini sarat dengan renungan mengenai diri kita sebagai manusia, dengan pemikiran yang terkadang tampak sederhana sekaligus kompleks.

Seperti buku Exupery lainnya, Pangeran Kecil, buku ini sama bagus dan menariknya.

Sebagai Pengganti Dirimu


Judul: Sebagai Pengganti Dirimu
Penulis: Andrei Aksana
Cetakan: kedua, 2011
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Tebal: 320

“Biarkan cinta tumbuh mencari dirinya sendiri, dengan begitu kita bisa melihanya indah merekah.”

Sadira adalah anak bungsu dari pasangan pengusaha kaya, Pramudya dan Astari. Sejak kecil Sadira sudah kelimpahan kasih sayang dan materi dari orang tuanya. Ibu Sadira sangat otoriter, dan Ayahnya seorang yang lemah. Ia tidak pernah berani melawan Astari karena merasa berhutang budi. Astari muncul sebagai pahlawan untuk menghidupi keluarga mereka ketika bisnis Pram hancur. Perlahan usaha yang dijalankan Astari berkembang pesat dan Pram pun memulai bisnis baru kembali. Pada saat itulah Sadira hadir.

Sadira tumbuh menjadi perempuan yang berkepribadian rapuh. Ia sangat tergantung pada orang lain. Dan rasa haus akan perlindungan itu memperoleh tempatnya. Laki-laki ganteng, kaya, dan populer di seantero kampus itu bernama Glenn. Sadira yang cantik, cerdas, dan anak pengusaha sukses itu kemudian menjadi kekasih Glenn. Glenn yang kesepian karena hubungan rumah tangga orang tuanya yang dingin dan sibuk membutuhkan Sadira untuk mewarnai hidupnya yang sunyi. Sebaliknya, Sadira membutuhkan Glenn untuk melipur hatinya yang tertekan karena pengaruh Ibunya. Hubungan bebas mereka membuat Sadira mengandung benih Glenn. Ternyata, Glenn menolak untuk mengawini Sadira, karena ia trauma dengan pengalaman orang tuanya. Dan Sadira, yang awalnya berharap bahwa kehamilan dirinya dapat membuat ia keluar dari rumah dan kekangan Ibunya, kecewa dengan sikap Glenn.

Astari kemudian mengetahui kehamilan Sadira. Astari mencarikan calon suami untuk Sadira, laki-laki yang menjadi karyawan di perusahaan miliknya. Ia tak sudi bermenantukan Glenn. Namun di hari pernikahan, Sadira melarikan diri. Ia kabur diantar oleh sopir yang sedianya akan mengantar Sadira melakukan akad nikah.

Sopir itu bernama Feran. Feran ternyata adalah pengusaha muda yang cukup sukses. Ia ingin membantu Sadira mencari kebahagiaan dalam kesederhanaan. Untuk melengkapi misinya, Feran melakukan penyamaran. Feran banyak membantu Sadira melewatkan masa-masa sulit, mencarikan pekerjaan, menemani dan merawat Rava, anak perempuan Sadira ketika Sadira kembali meneruskan kuliah dan mencapai gelar sarjananya.

Karir Sadira melesat naik. Dan perjumpaan kembali dengan Glenn, ayah kandung Rava kembali dalam hidup Sadira membuat Sadira terombang-ambing. Siapakah yang akan dipilih Sadira menjadi pendamping hidupnya?

**
Alur cerita yang mudah ditebak. Dan ada banyak peristiwa kebetulan di dalamnya. Untuk Anda yang mungkin lelah seharian bekerja dan ingin menikmati bacaan yang ringan, buku ini bisa menjadi pilihan. Yang membedakan buku ini dengan kebanyakan kisah serupa adalah pengarangnya pandai memberi keunggulan untuk bukunya, yaitu sisipan CD berisi lagu-lagu yang dinyanyikan sendiri olehnya.

Dua Ibu


Judul: Dua Ibu
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 300

“Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat kebahagiaan anak orang lain, dengan rasa bahagia pula.”

Ada Solemah, Mujanah, Mamid, Ratsih, Herit, Jamil, Adam, Priyadi, dan Prihatin. Anak-anak yang tinggal dan diasuh oleh seorang perempuan yang mereka panggil Ibu. Ibu yang merawat semua anaknya dengan penuh kasih sayang. Ibu, yang kata orang, bukan ibu kandung untuk semua anak yang diasuhnya, kecuali Jamil. Ibu yang setiap kali ditanya mengenai asal usul anak-anaknya akan menjawab dengan pendek.
“Semua anak yang ada di sini adalah anak Ibu”

Solemah sudah menikah dan tinggal bersama suaminya seorang kopral Angkatan Laut di Surabaya. Kemudian Mujanah juga menikah. Pada waktu mereka menikah dahulu, Ibu menjual peninggalan Ayah dan harta benda yang dimilikinya untuk membiayai pesta pernikahan Solemah dan Mujanah. Ada Mamid, seorang anak laki-laki. Ibu kandungnya adalah tante Mirah, yang dulunya juga adalah anak yang pernah diasuh Ibu. Tante Mirah menikah dengan om Bong dan pindah ke Jakarta, menitipkan Mamid untuk diasuh Ibu. Dua belas tahun kemudian setelah berkali-kali tante Mirah meminta Mamid untuk pindah ke Jakarta bersamanya, Mamid memutuskan untuk ikut, demi saudara-saudaranya.

Kemudian Ratsih menikah dengan sersan kepala dan tinggal di Surabaya. Herit, ikut bersama Ratsih. Jamil, anak kandung Ibu mengembara ke Jakarta. Cita-citanya menjadi pelaut.

Adam dan kedua adik kandungnya, Priyadi dan Prihatin, anak kandung Pak De Wiro. Pak De Wiro mengemukakan keinginannya untuk membawa pulang kembali ketiga anaknya kepada Ibu. Pak De Wiro menitipkan ketiga anaknya kepada Ibu setelah kematian istrinya. Adam menolak. Ia bertekad untuk menemani Ibu selamanya. Ibu membujuknya karena khawatir disangka ingin memiliki mereka. Pak De Wiro pada akhirnya memang menuduh Ibu sengaja tidak melepaskan Adam.

“Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Sampai Ibu mati, saya akan tetap bersama Ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan mengubur Ibu.”

Ibu, Surat

“Hidup itu adakalanya gelap adakalanya terang. Jangan terlalu sedih kalau lagi gelap, jangan terlalu gembira kalau lagi terang. … Mintalah selalu kepada Tuhan. Tuhan-lah yang Maha Mengetahui. BagiNya selalu ada jalan bagi kita yang meminta.”

**
Beberapa nukilan yang bagus dari buku Dua Ibu.

“Jangan ikut-ikutan yang jelek. Kalau kau baik, mereka akan ikut-ikutan baik.”
“Tak ada yang lebih baik dari nasihat panjang-lebar selain contoh.”

Ini adalah kisah tentang kasih sayang dari perempuan yang dipanggil Ibu oleh anak-anaknya, tidak peduli apakah itu anak kandung atau anak orang lain. Ibu yang rela menanggung kepedihan dan kelaparan demi kenyamanan dan kenyang putra-putrinya. Ibu yang memendam semua kegetiran hidup untuk dirinya sendiri. Dan Ibu yang dengan kebesaran hati mengorbankan kebahagiaanya sendiri untuk kebahagiaan orang lain.

Arswendo menuliskan cerita ini dengan gayanya yang alami. Kita seperti melihat fragmen kehidupan sesungguhnya. Ada keharuan yang menyeruak sekaligus keluguan di dalamnya. Cerita yang sederhana namun hidup.

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis

Judul Asli: By The River Piedra I Sat Down and Wept
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 222

“Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.”

Berkisah tentang dua sahabat, pria dan wanita. Mereka tumbuh dan tinggal di sebuah kota kecil, Soria, di Spanyol. Si lelaki kemudian memutuskan untuk melihat dunia, sementara yang perempuan memilih Zaragosa sebagai tempatnya untuk meneruskan sekolah. Sesekali mereka kerap berkirim surat.

Suatu ketika, si pria mengundang Pilar -nama si wanita- untuk menghadiri pertemuan, di mana si lelaki akan memberikan ceramah. Sahabat masa kecilnya ini ternyata adalah seorang pemimpin spiritual. Dalam sebuah kesempatan, yang telah lama dinanti dan diangankan, si lelaki menyatakan perasaan cintanya kepada si perempuan. Cinta yang tumbuh sejak mereka kanak-kanak. Pilar bukannya tidak mengetahui, sesungguhnya ia pun mencintai lelaki ini.

Namun Pilar mencoba mengelak. Dunia lelaki ini berbeda dengan dirinya. Pilar adalah perempuan yang takut menghadapi hal-hal tak terduga. Ia menginginkan kehidupan yang aman dan biasa.

“Kau harus mengambil resiko, ia berkata. Kita hanya dapat memahami keajaiban hidup sepenuhnya jika kita mengizinkan hal-hal tak terduga untuk terjadi.”

Cinta yang tumbuh perlahan mengubah pandangan Pilar atas pilihan hidup. Namun ketakutan itu masih membayanginya.

“Namun cinta itu mirip bendungan: jika kau membiarkan satu celah kecil yang hanya bisa dirembesi sepercik air, percikan itu akan segera meruntuhkan seluruh bendenungan, dan tak lama kemudian tak seorang pun bisa mengendalikan kekuatan arusnya. Setelah bendungan itu runtuh, cinta pun mengambil kendali, dan apa yang mungkin ataupun tidak, tak lagi berarti; bahkan bukan masalah apakah orang yang kita cintai itu tetap di sisi kita atau tidak. mencintai berarti kehilangan kendali.”

Pilar berkeras tak membiarkan celah itu ada. Pertarungan antara logika dengan kekuatan cinta menjadi renungan yang menarik, yang disajikan dalam buku ini. Tidak hanya Pilar, si lelaki pun sebenarnya menghadapi dilema yang sama. Memilih hidup normal dengan wanita yang ia cintai atau kehidupan religius-nya.

Di tepi sungai Piedra, keduanya akan memutuskan jalan hidup mereka selanjutnya.

**

Cinta tidak pernah membuat kita menderita, karena seperti Coelho bilang “..dalam setiap cinta ada benih pertumbuhan diri. Semakin kita mencinta, semakin kita dekat pada pengalaman spiritual.”

“… pengalaman spiritual sesungguhnya adalah pengalaman praktis dari cinta. Dan cinta tidak mengenal peraturan.”

“Cinta sejati adalah penyerahan diri seutuhnya. Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya.”

Laika

Judul: Laika
Penulis: Nick Abadzis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 200

Manusia pertama yang ke luar angkasa ialah Yuri Gagarin. Ia adalah kosmonot pertama dari Uni Soviet (Rusia), yang berhasil menerbangkan pesawat antariksa pada bulan April 1961. Namun jauh sebelumnya, tepatnya tanggal 4 Oktober 1957, Uni Soviet mencengangkan dunia dengan peluncuran Sputnik I, satelit buatan pertama di dunia. Pencapaian prestasi ini menjadi bukti nyata atas keunggulan teknologi negeri tersebut, yang kala itu sedang berperang dingin dengan Amerika Serikat. Keberhasilan yang luar biasa membuat pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev, memutuskan untuk memberikan kejutan yang lebih besar untuk perayaan ulang tahun ke-40 Revolusi Oktober (Kira-kira, tenggat waktu satu bulan setelah peluncuran Sputnik I yang spektakuler). Waktu yang singkat bagi para ilmuwan untuk mengelola program antariksa Uni Soviet, dengan peluncuran Sputnik II yang berpenumpang.

Kelak, projek inilah yang menentukan nasib seekor anjing bernama Laika. Laika bernama asli Kurdyavka adalah seekor anjing yang dibuang, mengembara di jalanan dan berakhir di sebuah penampungan.

Laika kemudian dipilih untuk menjadi pelopor dalam peluncuran sputnik II. Laika akan menjalankan misi pesawat antariksa ini menjadi misi sekali jalan. Artinya, Laika sekaligus akan menjadi martir dalam peluncuran sputnik II.

Laika kemudian memang dikorbankan untuk memenuhi ego manusia. Laika mati. Tubuhnya hancur di orbit dan terbakar saat masuk ke atmosfir.

Alih-alih menjadikan program antariksa ini sebagai kelanjutan dari Sputnik I, penyesalan atas nasib Laika yang dikirim untuk mati di luar angkasa menuai protes dari berbagai kalangan. Seperti dikatakan Oleg Gazenko pada akhir buku itu sendiri. “Bahwa nilai ilmiah Sputnik II sangat kecil. Tidak banyak yang bisa disumbangkannya pada penerbangan antariksa pertama yang dipiloti manusia, yakni Yuri Gagarin pada bulan April 1961.” Penyesalan Oleg pun tertulis dalam kutipan berikut ini. “Bekerja bersama binatang-binatang merupakan sumber penderitaan bagi kami semua. Kami memperlakukan mereka seperti bayi-bayi yang tidak bisa bicara. Dengan berlalunya waktu, semakin besar penyesalanku. Tidak banyak yang kami pelajari dari misi itu untuk bisa membenarkan kematian anjing tersebut.”

Kisah ini dirangkum dengan indah oleh Nick Abadzis. Melalui riset yang teliti dan gabungan imajinasi antara manusia dan anjing, menjadikan cerita ini mempesona dan mengharukan. “Sebuah renungan yang dalam atas makna takdir serta betapa indah dan rapuhnya rasa percaya.” (Alexis Siegel, 2007).

Dewi Kawi

Judul Buku: Dewi Kawi
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Tahun Penerbitan: 2008
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Eling adalah pengusaha kaya yang memulai hidupnya dari mengumpulkan sisa-sisa daun kol yang membusuk. Di masa silam ia pernah mencintai seorang wanita yang kemudian menjadi sumber inspirasinya. Kawi, nama wanita itu. Eling ingin membalas budi kebaikan wanita itu dengan memberi nama kehormatan Dewi Kawi untuk satu usaha bisnisnya. Ia berniat mencari Dewi Kawi.

Satu setengah tahun kenangan bersama Kawi merupakan peristiwa-peristiwa terpadat dalam hidup Eling. Namun ajaib ia tak lagi bisa mengingat dengan baik wanita yang pernah lekat dalam hidupnya. Untuk akhirnya Eling ragu, apakah wanita itu pernah benar-benar ada dalam kehidupannya? Apakah ia mencintainya? Atau apakah ini semua hanya khayalan yang berusaha ia ciptakan agar seolah-olah menjadi nyata? Bukankah untuk seorang pengusaha sukses seperti dirinya maka kisah hidupnya dianggap menjadi sebuah kebenaran?

Bagi Eling, kenyataan atau kebenaran ternyata bukan apa yang dialami, melainkan juga bisa diciptakan kembali, dibentuk kembali, dan kemudian dipercaya bersama orang lain.

Demikian juga kisah cintanya dengan Kawi, sungguhkah ia mencintai wanita itu? Atau ia yang menghidupkan, melebih-lebihkan dan membuat segala sesuatunya menjadi indah? Seperti halnya sebuah dusta. Manusia memerlukan dusta sebagaimana ia memerlukan bernapas. Dusta adalah upaya yang wajar untuk membuat sebuah perubahan dari peristiwa yang terjadi.

Arswendo mengibaratkan dusta sebagai berikut:
Dalam keadaan jatuh cinta, kita menangkap senyuman sebagai perhatian, kita menemukan realitas lain dari sebatang cokelat sebagai sesuatu yang istimewa. Mereka yang tengah jatuh cinta sebenarnya sedang mendustai dalam pengertian mengubah realitas yang ada.

Cinta adalah dramatisasi, rekonstruksi ulang segala kejadian yang dialami-atau tak dialami secara langsung. Ketika kita larut di dalamnya , dan tak mampu membedakan mana peristiwa yang sesungguhnya dan mana yang olahan, sempurnalah sudah libatan emosi itu.

Dan ukuran cinta tidak sekedar perhatian tapi juga ada ikatan emosional yang rutin di dalamnya. Maka,itulah sebabnya putus cinta bagai meneteskan air mata hangat, karena membekas. Masalahnya memang, hanya kenangan.