
Judul asli: Humankind
Penulis: Rutger Bergman
Alih bahasa: Zia Anshor
Cetakan: 2020
Penerbit: PT Gramedia
Tebal: 443
Benarkah leluhur kita suka berperang? Seperti yang dipercaya filsuf Inggris Thomas Hobbes bahwa hakikat manusia itu jahat. Atau sebaliknya, bahwa manusia secara alami baik seperti yang diyakini Rousseau? Jika manusia secara alami baik, maka bagaimanakah menjelaskan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh manusia? Dan mengapa manusia melakukan kejahatan?
Rutger, dalam bukunya Humankind, menawarkan gagasan radikal yang sejak lama ditentang oleh berbagai ideologi. Gagasan itu adalah bahwa sebagian besar orang, pada dasarnya itu baik. Buku ini membuktikan banyak penelitian dan hasil riset para ilmuwan dari berbagai bidang yang mendukung gagasan radikal Rutger.
Seorang ahli anatomi Raymond Dart (1924) mempelajari tengkorak dan kerangka leluhur serta menyimpulkan bahwa manusia purba saling bunuh. Ia kemudian menjadi saintis pertama yang menganggap manusia sebagai kanibal dari sananya. Setelah Dart muncul para peneliti-peneliti lain. Elizabeth Marshall Thomas (1959), ahli antropologi yang mengamati suku Kung yang masih hidup di Gurun Kalahari. Menurut Thomas, siapapun yang ingin tahu bagaimana kita hidup pada masa lalu, hanya perlu mengamati suku pengelana yang masih ada sekarang. Penelitian Thomas dkk terhadap suku Kung menunjukkan bahwa perang antarsuku hanya berupa saling ejek. kadang ada yang memanah dan perang berhenti sendiri ketika ada yang cedera. Penelitian lebih lanjut suku Kung kemudian ditemukan bahwa suku ini cukup haus darah dan berhenti ketika wilayah Kung dikendalikan negara pada tahun 1960-an.
Selanjutnya, ahli sejarah dan seorang kolonel, Samuel Marshall, dikutip dari buku, mengungkapkan bahwa “rata-rata individu normal dan sehat […] punya penolakan dalam diri untuk membunuh sesama manusia, sehingga tidak akan membunuh karena kehendak sendiri.”(halaman 83). Analisis Marshall berlaku untuk semua serdadu sepanjang sejarah yang ia tuliskan dalam bukunya Men Against Fire. Temuannya sempat diragukan. Namun sejumlah pakar telah mendukung kesimpulan kolonel Marshall, salah satunya ahli sosiologi Randall Collins yang menganalisis ratusan foto serdadu yang bertempur dan seperti ditemukan Marshall, menghitung hanya sekitar 13 sampai 18 persen yang menembakkan senjata. (halaman 86).
Lalu, bagaimana menjelaskan kekejaman serdadu Nazi? Mengapa manusia bisa sangat kejam? Banyak penelitian dan riset dilakukan untuk menguak sisi gelap manusia. Riset oleh ahli psikologi Don Mixon yang mengulang percobaan Milgram menyimpulkan bahwa orang akan berusaha keras menanggung kesusahan untuk berbuat baik. Orang keasyikan berbuat baik. Artinya, kejahatan harus disamarkan menjadi kebaikan. Sehingga jika orang didorong cukup keras, terus menerus, dengan memancing dan memanipulasi, maka banyak diantara kita yang memang mampu berbuat jahat. Jadi, manusia bisa berbuat jahat karena dia percaya dia sedang berbuat baik.
Sebaliknya, Arendt seorang filsuf yang memiliki pandangan berbeda. Arendt percaya bahwa sebagian besar orang pada dasarnya baik. Menurut Arendt kebutuhan manusia akan cinta dan persahabatan kita lebih manusiawi dibandingkan kecenderungan kita pada kebencian dan kekerasan. Dan ketika kita benar-benar memilih jalur kejahatan, kita merasa terdorong untuk bersembunyi di balik kebohongan dan klise yang memberi kita kesan kebaikan.
Jadi, Arendt percaya bahwa manusia bisa menolak untuk berbuat kejahatan, bahkan jika segalanya tampak tanpa harapan.
Apa lagi yang membuat manusia bisa berbuat jahat? Empati. Empati yang membutakan bisa berujung kepada kejahatan. Itulah yang terjadi pada serdadu Nazi. Tentara Jerman yang bertempur lebih gigih daripada prajurit Amerika dan Britania berjuang bukan demi ideologi atau cinta tanah air, melainkan demi persahabatan, demi tak ingin mengecewakan kawan-kawan. Empati terhadap kelompok sendiri membuat mereka mengabaikan penderitaan kelompok lain.
Fenomena ini juga bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misal kita melihat anjing mengejar kucing. Kita kasihan sama kucingnya, bukan? Terus kalau seseorang melempar sesuatu ke anjing itu salah nggak? Menurut kita salah, karena kasihan anjingnya. Tapi kalau anjingnya dibiarkan mengejar kucing, kasihan kucingnya. Empati bisa berpindah-pindah tergantung kepada siapa perhatian kita tertuju.
Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa baik dan jahat sering kali tidak sesederhana yang kita bayangkan. Apa yang tampak baik dari satu sudut pandang dapat terlihat buruk dari sudut pandang yang lain. Nalar manusia memiliki keterbatasan, begitu pula kemampuan kita menilai suatu tindakan secara mutlak.
Apakah itu artinya kita tidak bisa memilih? Menurut Rutger, manusia tetap memiliki kemampuan untuk memilih. Di sinilah pentingnya kendali diri. Empati saja tidak cukup; tanpa kendali diri dan pertimbangan moral yang matang, empati bisa berubah menjadi keberpihakan yang membutakan. Kendali diri memungkinkan manusia menahan dorongan kelompok, mempertimbangkan akibat tindakannya, dan memilih jalan yang lebih baik.
Barangkali persoalan baik dan jahat bukanlah soal apalah manusia terlahir sebagai malaikat atau monster. Persoalannya adalah bagaimana manusia menggunakan kemampuan berpikir, berempati, dan mengendalikan dirinya. Menurut Rutger, di situlah kebaikan memiliki peluang untuk mengalahkan kejahatan.
