Tuhan dan Negara

Judul: Tuhan dan Negara

Penulis: Mikhail Bakunin

Penerbit: Parabel

Cetakan: 1 Juli 2017

Buku ini menuturkan secara rinci kisah hidup Mikhail Bakunin, seorang bangsawan Rusia yang kemudian mengabdikan hidupnya untuk melawan berbagai bentuk tirani dan penindasan. Tulisan-tulisannya diakui sebagai karya yang mengagumkan, penuh dengan wawasan yang dapat memberi pencerahan tentang berbagai persoalan sosial paling penting pada zamannya dan zaman kita sekarang ini. Namun sayangnya ia tak pernah menyelesaikan sebuah karya besar yang utuh. Karena itu, Tuhan dan Negara menjadi salah satu karya yang paling penting dan paling sering dibaca untuk memahami pemikirannya.

Buku Tuhan dan Negara merupakan karya Bakunin yang paling banyak dibaca dan sering dikutip oleh pembacanya. Gagasan utama dari buku ini adalah penolakan Bakunin terhadap segala bentuk otoritas dan pemaksaan terhadap manusia. Bakunin menyebut dua lembaga utama yang membatasi kebebasan manusia, yaitu agama dan negara. Negara sering menjadi alat bagi kelompok kecil yang berkuasa untuk mengendalikan dan memanfaatkan kekuasaaanya atas mayoritas rakyat. Sementara itu, agama kerap menjadi sekutu negara yang setia dalam menjaga kekuasaan dan membuat masyarakat tetap patuh.

Bakunin berpendapat bahwa sepanjang sejarah, banyak pemerintah menggunakan agama untuk membuat masyarakat menerima penderitaan dan ketidakadilan tanpa melakukan perlawanan. Karena itu, ia menyerukan perlawanan terhadap dominasi agama dan negara.

Menurut Bakunin, jika manusia ingin benar-benar bebas, mereka harus melepaskan diri dari penindasan yang berasal dari otoritas spiritual (agama) maupun otoritas politik (negara). Untuk mencapai kebebasan tersebut, manusia harus menggunakan kemampuan berpikir kritis dan keberanian untuk melawan ketidakadilan (hlm. 7).

Namun, kritik Bakunin tidak hanya ditujukan pada otoritas agama dan negara. Ia juga mengingatkan bahwa bentuk-bentuk kekuasaan baru dapat muncul melalui ilmu pengetahuan, yaitu ketika ilmu itu digunakan sebagai alat untuk mengendalikan manusia. Oleh sebab itu, kebebasan menuntut sikap kritis terhadap setiap otoritas, termasuk otoritas yang mengatasnamakan sains.

Bakunin memprotes agama dan sains ketika keduanya menjadi alat kekuasaan yang membatasi kebebasan manusia. Menurutnya, manusia pernah ditindas oleh berbagai doktrin agama seperti surga, neraka, dan dosa. Namun, dalam masyarakat modern, penindasan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda, yaitu melalui otoritas yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan, data, statistik, akreditasi, atau berbagai ukuran kinerja yang dianggap mutlak.

Bagi Bakunin, masalah utamanya bukan terletak pada agama atau ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan pada kecenderungan manusia untuk menjadikan keduanya sebagai alat untuk mengendalikan orang lain. Musuh kebebasan tidak hanya raja, negara, atau agama, tetapi juga setiap orang yang menggunakan pengetahuan dan kekuasaan untuk membuat orang lain tunduk. Dan untuk menghindari kesewenang-wenangan tersebut Bakunin memberikan jawaban dengan cara merebut dan mendemokratisasi pendidikan. Pendidikan tidak boleh menjadi hak istimewa kelompok tertentu atau alat untuk mempertahankan kekuasaan. Pendidikan harus dapat diakses oleh semua orang agar setiap individu mampu berpikir kritis, memahami dunia dengan akalnya sendiri, dan tidak mudah tunduk pada otoritas apa pun. Dengan pendidikan yang merata, pengetahuan tidak lagi dimonopoli oleh segelintir elite, melainkan menjadi sarana pembebasan. Masyarakat yang terdidik dapat mengelola dirinya sendiri, bekerja sama secara sukarela, dan mengawasi setiap bentuk kekuasaan yang berpotensi menindas. Karena itu, bagi Bakunin, pendidikan merupakan salah satu jalan penting menuju kebebasan manusia.

Melalui pemikirannya, Bakunin memperingatkan kita bahwa ilmu tanpa adab akan melahirkan pemimpin yang otoriter.

Akhirnya Kulihat Ramallah

Judul: I Saw Ramallah

Penulis: Maourid Barghouti

Penerbit: Pustaka Alvabet

Mourid Barghoutti adalah seorang penyair asal Palestina yang mengalami peristiwa Nakba pada tahun 1948. Sejak saat itu ia kehilangan tanah airnya atau yang disebut wilayah pendudukan. Barghoutti menjadi orang terbuang dari tanah airnya. Ia menempuh pendidikan tingginya di universitas Kairo. Penulis menceritakan berbagai peristiwa yang ia alami atau tepatnya yang dialami oleh orang-orang yang tinggal di wilayah pendudukan. Cerita dituliskan dalam alur maju mundur untuk mengingat kenangan masa lalu.

Akibat dari penjajahan Israel, orang-orang Palestina yang terusir tidak dapat kembali ke tanah airnya. Mereka yang tinggal di luar negeri pun tidak sepenuhnya ‘merdeka’. Diasingkan dan dibayangi oleh teror kematian senantiasa mengiringi langkah mereka setiap waktu. Penjajahan Israel juga menyebabkan penulis tercerai berai dari anggota keluarganya. Ibu dan adiknya yang paling muda, Alaa tinggal di Ramallah. Ayahnya tinggal di Amman. Adiknya, Majid kuliah di universitas Yordania, dan kakaknya Mounif bekerja di Qatar.

Pada saat kunjungannya kembali ke Palestina setelah pengasingannya, penulis melihat banyaknya pemukiman ilegal yang dibangun di tanah Palestina oleh orang Israel. Pendudukan Israel telah mengubah wajah kota tanah kelahirannya. Begitu banyak pembatasan yang dilakukan oleh pihak Israel terhadap warga Palestina. Komedi kematian, pemakaman adalah rangkaian perjuangan panjang yang berlangsung puluhan tahun dalam hidup warga Palestina yang meninggalkan bayang-bayang keberanian dan ketabahan.

Pemimpin Israel saat itu, Yitzak Rabin sangat paham bagaimana merekayasa bahwa dunia mesti menghormati darah orang Israel. Dia tahu bagaimana menunjukkan bahwa dunia mesti menghormati air mata orang Israel dan mampu memposisikan Israel sebagai korban dari tindak kriminal yang dilakukan oleh warga Palestina. Dia mengubah narasi kejadian dan mengetengahkan bahwa orang Palestina adalah pencetus kekerasan di Timur Tengah. Israel sudah sejak lama memainkan kebohongan, mengaburkan kebenaran dengan muslihat bahasa sederhana. Taktik penghancuran rumah-rumah warga Palestina menggunakan buldozer, senapan dan pengeboman dengan pesawat jet tempur di saat jam tenggelam matahari dan penculikan adalah strategi yang sampai saat ini masih dijalankan oleh pihak Israel sebagai pemakluman dari pertahanan diri. Pertahanan diri yang bahkan Israel tak membutuhkannya karena mereka dilengkapi dengan teknologi dan alat perang yang canggih. Pertahanan diri menjadi kalimat senjata dari rencana sesungguhnya Israel yaitu merampok tanah orang lain dengan dukungan para sekutunya untuk mempertahankan kekuasaan dan ketamakan mereka.

Humankind

Judul asli: Humankind
Penulis: Rutger Bergman
Alih bahasa: Zia Anshor
Cetakan: 2020
Penerbit: PT Gramedia
Tebal: 443

Benarkah leluhur kita suka berperang? Seperti yang dipercaya filsuf Inggris Thomas Hobbes bahwa hakikat manusia itu jahat. Atau sebaliknya, bahwa manusia secara alami baik seperti yang diyakini Rousseau? Jika manusia secara alami baik, maka bagaimanakah menjelaskan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh manusia? Dan mengapa manusia melakukan kejahatan?

Rutger, dalam bukunya Humankind, menawarkan gagasan radikal yang sejak lama ditentang oleh berbagai ideologi. Gagasan itu adalah bahwa sebagian besar orang, pada dasarnya itu baik. Buku ini membuktikan banyak penelitian dan hasil riset para ilmuwan dari berbagai bidang yang mendukung gagasan radikal Rutger.

Seorang ahli anatomi Raymond Dart (1924) mempelajari tengkorak dan kerangka leluhur serta menyimpulkan bahwa manusia purba saling bunuh. Ia kemudian menjadi saintis pertama yang menganggap manusia sebagai kanibal dari sananya. Setelah Dart muncul para peneliti-peneliti lain. Elizabeth Marshall Thomas (1959), ahli antropologi yang mengamati suku Kung yang masih hidup di Gurun Kalahari. Menurut Thomas, siapapun yang ingin tahu bagaimana kita hidup pada masa lalu, hanya perlu mengamati suku pengelana yang masih ada sekarang. Penelitian Thomas dkk terhadap suku Kung menunjukkan bahwa perang antarsuku hanya berupa saling ejek. kadang ada yang memanah dan perang berhenti sendiri ketika ada yang cedera. Penelitian lebih lanjut suku Kung kemudian ditemukan bahwa suku ini cukup haus darah dan berhenti ketika wilayah Kung dikendalikan negara pada tahun 1960-an.

Selanjutnya, ahli sejarah dan seorang kolonel, Samuel Marshall, dikutip dari buku, mengungkapkan bahwa “rata-rata individu normal dan sehat […] punya penolakan dalam diri untuk membunuh sesama manusia, sehingga tidak akan membunuh karena kehendak sendiri.”(halaman 83). Analisis Marshall berlaku untuk semua serdadu sepanjang sejarah yang ia tuliskan dalam bukunya Men Against Fire. Temuannya sempat diragukan. Namun sejumlah pakar telah mendukung kesimpulan kolonel Marshall, salah satunya ahli sosiologi Randall Collins yang menganalisis ratusan foto serdadu yang bertempur dan seperti ditemukan Marshall, menghitung hanya sekitar 13 sampai 18 persen yang menembakkan senjata. (halaman 86).

Lalu, bagaimana menjelaskan kekejaman serdadu Nazi? Mengapa manusia bisa sangat kejam? Banyak penelitian dan riset dilakukan untuk menguak sisi gelap manusia. Riset oleh ahli psikologi Don Mixon yang mengulang percobaan Milgram menyimpulkan bahwa orang akan berusaha keras menanggung kesusahan untuk berbuat baik. Orang keasyikan berbuat baik. Artinya, kejahatan harus disamarkan menjadi kebaikan. Sehingga jika orang didorong cukup keras, terus menerus, dengan memancing dan memanipulasi, maka banyak diantara kita yang memang mampu berbuat jahat. Jadi, manusia bisa berbuat jahat karena dia percaya dia sedang berbuat baik.

Sebaliknya, Arendt seorang filsuf yang memiliki pandangan berbeda. Arendt percaya bahwa sebagian besar orang pada dasarnya baik. Menurut Arendt kebutuhan manusia akan cinta dan persahabatan kita lebih manusiawi dibandingkan kecenderungan kita pada kebencian dan kekerasan. Dan ketika kita benar-benar memilih jalur kejahatan, kita merasa terdorong untuk bersembunyi di balik kebohongan dan klise yang memberi kita kesan kebaikan.

Jadi, Arendt percaya bahwa manusia bisa menolak untuk berbuat kejahatan, bahkan jika segalanya tampak tanpa harapan.

Apa lagi yang membuat manusia bisa berbuat jahat? Empati. Empati yang membutakan bisa berujung kepada kejahatan. Itulah yang terjadi pada serdadu Nazi. Tentara Jerman yang bertempur lebih gigih daripada prajurit Amerika dan Britania berjuang bukan demi ideologi atau cinta tanah air, melainkan demi persahabatan, demi tak ingin mengecewakan kawan-kawan. Empati terhadap kelompok sendiri membuat mereka mengabaikan penderitaan kelompok lain.

Fenomena ini juga bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misal kita melihat anjing mengejar kucing. Kita kasihan sama kucingnya, bukan? Terus kalau seseorang melempar sesuatu ke anjing itu salah nggak? Menurut kita salah, karena kasihan anjingnya. Tapi kalau anjingnya dibiarkan mengejar kucing, kasihan kucingnya. Empati bisa berpindah-pindah tergantung kepada siapa perhatian kita tertuju.

Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa baik dan jahat sering kali tidak sesederhana yang kita bayangkan. Apa yang tampak baik dari satu sudut pandang dapat terlihat buruk dari sudut pandang yang lain. Nalar manusia memiliki keterbatasan, begitu pula kemampuan kita menilai suatu tindakan secara mutlak.

Apakah itu artinya kita tidak bisa memilih? Menurut Rutger, manusia tetap memiliki kemampuan untuk memilih. Di sinilah pentingnya kendali diri. Empati saja tidak cukup; tanpa kendali diri dan pertimbangan moral yang matang, empati bisa berubah menjadi keberpihakan yang membutakan. Kendali diri memungkinkan manusia menahan dorongan kelompok, mempertimbangkan akibat tindakannya, dan memilih jalan yang lebih baik.

Barangkali persoalan baik dan jahat bukanlah soal apalah manusia terlahir sebagai malaikat atau monster. Persoalannya adalah bagaimana manusia menggunakan kemampuan berpikir, berempati, dan mengendalikan dirinya. Menurut Rutger, di situlah kebaikan memiliki peluang untuk mengalahkan kejahatan.

Our Iceberg is Melting

Judul asli: Our Iceberg is Melting
Penulis: John Kotter and Holger Rathgeber
Alih bahasa: Maria Rini
Cetakan: kedua, Januari 2008
Penerbit: PT Gramedia
Tebal: 165

Pada suatu masa hiduplah satu koloni penguin di gunung es Antartika, tepatnya di Cape Washington. Gunung es itu dikelilingi lautan yang kaya makanan. Penguin-penguin itu telah lama hidup di sana, bertahun-tahun. Gunung es itu menjadi rumah mereka. Tembok-tembok besar berupa salju abadi di permukaan gunung es akan melindungi para penguin dari badai musim dingin yang mengerikan. Mereka tahu untuk dapat bertahan hidup maka mereka harus bahu membahu. Mereka menjadi satu keluarga besar yang saling bergantung satu sama lain.

Diantara koloni penguin ada seekor penguin penyendiri, Fred namanya. Fred seekor penguin yang memiliki rasa ingin tahu dan suka mengamati. Fred suka mempelajari gunung es dan laut. Suatu hari Fred menemukan masalah bahwa gunung es tempat mereka tinggal akan runtuh berkeping-keping. Fed menyadari bahwa ia harus melakukan sesuatu. Ia kemudian menemui Alice, salah satu dari Kelompok Sepuluh (Dewan Pimpinan). Fred merasa Alice tidak akan langsung menolak ceritanya dibandingkan penguin senior lain. Alice mendengarkan cerita Fred, walaupun pada awalnya ia meragukan. Singkat cerita, Alice berhasil meyakinkan pemimpin penguin, Louis untuk mendengarkan penjelasan Fred. Namun tentu saja, tidak semua penguin dalam Dewan Pimpinan menyetujui pemikiran Fred. Ada yang senang berdebat selama berjam-jam, ada yang tidur selama presentasi Fred, ada yang dengan jelas menunjukkan mereka tidak suka DIBERI TAHU. Menurut mereka, justru merekalah yang bertugas MEMBERI TAHU, salah satu penguin ini adalah NoNo. NoNo dan beberapa temannya tampak ada dimana-mana menebarkan ketakutan dan kekhawatiran.

Berhasilkah misi Fred untuk mengajak teman-temannya melakukan sesuatu untuk tujuan menyelamatkan koloni mereka?

Ulasan

Ini adalah sebuah misi bisnis yang disampaikan melalui story telling. Tokoh-tokoh dalam cerita ini, Fred, Alice, Louis, Buddy, Professor dan NoNo adalah seperti orang-orang yang kita kenal-bahkan mungkin seperti diri kita sendiri. Permasalahan yang ditemui dalam dunia yang terus berubah. Serta bagaimana melakukan sesuatu dengan benar untuk menghadapi perubahan tersebut.

Penghalang-penghalang yang tampaknya sulit di atasi pasti ada di setiap perubahan, sebaliknya juga pasti ada pahlawan-pahlawan yang bermunculan dengan aksi gagah berani dan taktik paling cerdik yang dilakukan untuk menghadapi perubahan.

Dari kisah penguin di atas, kita dapat belajar melalui pemahaman atas apa yang terjadi di sekitar kita. Ajukan pertanyaan kepada diri sendiri yang diinspirasi langsung oleh cerita penguin tadi. Hidup dimanakah kita? Di gunung es yang mencair atau di gunung es yang dapat mencair? Gunung es itu adalah analogi dari berbagai masalah, seperti produk yang menua, sekolah yang akhirnya menjadi tidak relevan, pelayanan yang kualitasnya menurun, strategi bisnis yang hanya menghasilkan sedikit peningkatan, dan lain-lain. Siapa NoNo di sekeliling kita? Siapa Alice dan Fred di sekeliling kita? Siapa Saya?

Bagaimana melakukannya? Metode atau pendekatan apa yang bisa diterapkan agar sukses menghadapi perubahan? Silakan lanjut baca bukunya ya gaess 🙂

Pesan moral:

Kesuksesan sebuah organisasi adalah jika mereka dapat menghadapi tantangan perubahan dengan baik. Apakah itu bisnis, sistem sekolah, ataupun negara. Jika sebuah organisasi tidak dapat menangani tantangan perubahan dengan baik, maka bukan hanya diri kita namun juga orang lain akan menghadapi situasi yang membahayakan.

Panduan Lengkap Pengembangan SoftSkill

Judul: Panduan Lengkap Pengembangan SoftSkill
Penulis: Feri Sulianta
Cetakan: April 2018
Penerbit: C.V Andi Offset (Penerbit Andi)
Tebal: 203

Keterampilan apa yang harus dimiliki anak-anak kita untuk dapat survive di abad 21? Telah lama kita memercayai bahwa keahlian teknikal adalah bekal kesuksesan seseorang. Namun, di abad 21 penilaian ini berubah. Parameter kesuksesan dan kelayakan kerja yang dimiliki seseorang adalah mereka yang memiliki keterampilan soft skill. Dikutip dari buku, sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard University mengatakan bahwa 80% prestasi karier seseorang ditentukan oleh soft skill, sementara hard skill memiliki kontribusi sebesar 20%. Tidak hanya itu, studi yang dilakukan oleh McDonald’s di Inggris memperkirakan lebih dari setengah juta orang mengalami hambatan karier di tahun 2020 karena kurangnya soft skill.

Kesulitan untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan teman kerja dan bekerja sama dalam tim dapat menjadi masalah tersendiri yang tidak hanya berakibat buruk pada lingkungan sosial seseorang namun juga pada terhambatnya peluang karier. Oleh karena itu manusia perlu melatih dan mengembangkan kemampuan interpersonalnya. Buku ini mengulas banyak hal perihal interpersonal skill yang akan melengkapi kemampuan teknis (hardskill) yang dimiliki oleh setiap individu.

Yuk, kita mulai. Apa sih soft skill itu? Apakah memiliki keterampilan teknis saja tidak cukup untuk dapat bersaing di abad 21? Apakah ada keterampilan lain yang harus kita miliki selain hard skill dan soft skill? Dan, bagaimana kita dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut?

Interpersonal skill (soft skill) adalah kombinasi antara keterampilan orang, keterampilan sosial, kemampuan berorganisasi, karakter, sikap, atribut karier, kecerdasan sosial, dan emotional intelligence quotient (EQ) yang memungkinkan orang mengamati berbagai hal yang ada pada lingkungannya, memudahkannya dalam bekerja dengan orang lain, dan berkinerja baik (halaman 3). Softskill dipercaya menjadi pendorong yang dapat mempengaruhi seseorang untuk giat bekerja. Secara singkat, interpersonal skill adalah keterampilan seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain. Dalam dunia kerja, seseorang dengan interpersonal skill yang baik dapat mengomunikasikan ide, sudut pandang serta solusi yang ada dalam benaknya secara sederhana dan runtut sehingga orang lain memahami. Tidak hanya itu, buku ini mencantumkan softskill yang sebaiknya dimiliki oleh seseorang yang berada di level eksekutif dan di dalam dunia pekerjaan. Oya, integritas dan etika memegang peran penting dalam softskill ini. Tentu saja ya, karena komunikasi bukan sekedar bagaimana sebuah pesan tersampaikan dengan tepat tetapi juga kesan yang didapat oleh lawan bicara kita.

Selain softskill dan hardskill (keterampilan teknis), kemampuan intrapersonal pun memiliki peranan besar untuk membentuk manusia yang berkualitas. Kemampuan intrapersonal adalah kemampuan setiap individu untuk mengenal dirinya. Mengapa perlu untuk mengenali diri sendiri? Hmm, begini, apakah kamu pernah mendengar seseorang yang merasa salah memilih jurusan kuliah? Atau merasa tidak cocok bekerja di suatu bidang pekerjaan? Nah, sebagian masalah tadi bisa bersumber dari ketidakmampuan seseorang untuk mengenali dirinya sendiri. Tentunya akan menjadi hal yang tidak baik jika masalah tersebut dibiarkan dan berlarut-larut, karena akan berdampak terhadap kualitas hidup orang yang bersangkutan.

Seseorang yang ‘tahu’ akan dirinya adalah mereka yang tidak mudah dipengaruhi orang lain karena mereka mengetahui apa yang menjadi tujuan hidupnya. Dengan mengenali diri sendiri maka seseorang dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Mengenali diri sendiri adalah juga salah satu jalan mendekat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu salah satu cara untuk mengenali diri sendiri adalah dengan merenung, bermeditasi atau melakukan instrospeksi diri. Intrapersonal skill adalah kemampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan rohaninya, selain kebutuhan jasmani.

Kalau tadi kita sudah membahas tentang soft skill dan intrapersonal skill, lalu bagaimana dengan hard skill? Masihkah diperlukan? Tentu saja masih. Namun demikian keterampilan teknis sifatnya dipengaruhi oleh tren dan perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi akan membuka keterampilan baru dan sebaliknya menghilangkan yang lama. Contohnya, keterampilan penjaga tol akan digantikan oleh mesin-mesin otomatis. Oleh karena itu, perlu untuk kita selalu belajar dan mau beradaptasi terhadap perubahan.

Nah, dari paparan di atas, tentu kita bisa melihat bahwa tidak cukup hanya memiliki satu keterampilan tanpa dukungan keterampilan lainnya. Kesemuanya saling berkaitan. Apakah keterampilan-keterampilan tersebut perlu dilatih? Jawabannya tentu saja. Kemampuan-kemampuan tersebut tentunya tidak ujug-ujug ada. Tetapi melalui pembiasaan dan latihan maka kemampuan-kemampuan tadi dapat berkembang.

Untuk dapat mendalami pengetahuan perihal interpersonal dan intrapersonal ini ternyata penting loh bagi kita untuk memahami peran dan posisi kita terlebih dahulu di masyarakat, baik sebagai individu atau pun kelompok. Nah, buku ini mengulasnya dalam bab 2 yang berisi formasi masyarakat dan jati diri. Bab lainnya berisi karakteristik individu dan faktor-faktor yang juga berperan dalam pengembangan interpersonal skill dan intrapersonal skill. Materi ini disajikan pada bab 3 s.d 12. Sementara Bab 13 berisi peran coaching yang dapat memperkaya keterampilan soft skill. Coaching menurut ICF (halaman 164), adalah hubungan kemitraan dengan individu melalui proses kreatif yang ditujukan guna memaksimalkan potensi personal dan profesional seseorang. Siapapun Anda, guru atau orang tua, kawan atau kerabat, pemimpin di sebuah perusahaan, Anda dapat berperan menjadi coaching untuk membantu klien Anda (siswa, putra-putri, rekan atau saudara, dan karyawan) untuk mendapatkan kejelasan sehingga mereka yakin untuk membuat serangkaian tindakan yang sesuai dengan pemikiran dan hatinya dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Di bab ini ada latihan-latihan yang bisa diterapkan oleh coach (si pemberi coach) kepada coachee nya, yaitu orang yang di-coach atau bisa juga disebut sebagai klien. Dan sebagai penutup, bab 14, berisi pembahasan lebih dalam mengenai kemampuan intrapersonal. Pada bab ini pembaca diberi tahu perihal cara berdialog dengan diri sendiri, serta memperoleh kejelasan dalam tujuan dan kedamaian dalam diri sehingga dapat menjadi manusia yang tangguh, bertumbuh serta berkualitas dan menghargai kehidupan.

Ingin tahu bagaimana langkah detail latihan-latihan untuk mengembangkan kemampuan interpersonal dan intrapersonal? Silakan baca buku panduan ini ya. Buku ini recommended banget untuk pendidik, orang tua, bahkan umum yang berminat untuk mengembangkan secara optimal keterampilan yang dibutuhkan sebagai bekal kecakapan menghadapi kehidupan di abad 21.

Bukunya bisa diperoleh, seperti biasa di toko buku tentunya. Namun karena kita masih masih PKPM di masa pandemi ini maka teman-teman bisa memesannya di situs penerbitnya langsung di sini ya.

Origin

Judul asli: Origin
Penulis: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani, Reinitha A, Dyah A
Cetakan: ketujuh, Agustus 2108
Penerbit: Mizan Media Utama
Tebal: 511

Profesor Robert Langdon diundang menghadiri acara pengungkapan penemuan Edmond Kirsch di museum Guggenheim. Edmond dikenal sebagai tokoh kontroversial, seorang ateis dan miliarder sekaligus ilmuwan komputer. Temuan terbaru Edmond mengenai penciptaan dan takdir manusia akan ditayangkan secara langsung melalui internet dan disiarkan ke seluruh dunia. Namun mengingat efek samping yang akan ditimbulkan dari penemuannya maka Edmond memutuskan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke para wakil pemimpin ajaran spiritual agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yudaisme. Sang uskup, mewakili dua rekannya mendesak agar Edmond mempertimbangkan kembali keputusannya untuk mengumumkan informasi tersebut. Alih-alih menunda, Edmon justru mempercepat publikasi temuannya.

Di lain tempat dua rekan sang uskup tewas secara misterius. Hanya tinggal uskup Valdespino, yang kebetulan memiliki hubungan erat dengan sang raja Spanyol yang sedang sakit parah. Di lingkungan kerajaan, sang uskup memiliki peran besar karena menjadi orang kepercayaan raja.

Sementara itu, di Guggenheim para undangan telah datang. Termasuk profesor Langdon dan seorang perempuan cantik, Vidal Ambra, direktur museum yang juga tunangan calon putra raja. Selama beberapa bulan Ambra dan Edmond bekerja sama merencanakan untuk kesuksesan acara tersebut. Tak ada yang menduga, di tengah presentasinya, Edmond tewas terbunuh di atas podium sebelum jawaban atas penemuannya terungkap. Kekacauan ini ditambah dengan tuduhan bahwa Langdon terlibat dalam pembunuhan dan menculik Vidal Ambra.

Bagaimana sang profesor membuktikan dirinya tak bersalah dan mengungkapkan temuan Edmond yang membuat ia harus kehilangan nyawa? Sementara itu, Langdon juga harus menghindari musuh-musuhnya yang tampaknya tahu segala dan mendapat dukungan dari istana Kerajaan Spanyol.

Ulasan

“Darimana asal kita? Kemana kita akan pergi?

Pertanyaan fundamental di atas tentu tak asing lagi. Manusia menyimpan pertanyaan itu sejak dirinya pertama kali memiliki kesadaran diri. Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa kehidupan berasal dari ledakan besar (big bang). Ledakan besar ini menyebarkan energi yang memunculkan kehidupan. Fakta ini memberi gagasan bahwa kehidupan muncul secara spontan berdasarkan hukum fisika. Apakah benar kehidupan muncul secara spontan? Ada tulisan bagus di buku ini, “Jika hukum fisika begitu hebat sehingga dapat menciptakan kehidupan … siapa yang menciptakan hukum-hukum fisika tersebut?!” (halaman 469). Kutipan ini bisa menjadi renungan para pembacanya. Setiap orang bisa melihat dari berbagai sudut pandang. Kadangkala banyak orang meragukan spiritualitas para ilmuwan, sebaliknya pencarian ilmu pengetahuan adalah cara mereka mengenal Sang Pencipta. Salah satu ilmuwan yang paling menarik pandangannya tentang Tuhan adalah Einstein. Pengejaran ilmu pengetahuan yang ia lakukan mengarah pada perasaan religius atau spiritualitas yang istimewa. Baca sendiri biografi Einstein kalau penasaran ya :).

Einstein ini mirip dengan karakter Edmond di buku. Nah, dalam pencariannya kepada Sang Pencipta, Edmond menciptakan superkomputer yang membuat komputer ini dapat belajar dengan sangat cepat. Perangkat ini akan memajukan teknologi dan membantu kemajuan dalam kecerdasan artificial. Namun walaupun komputer memiliki kecerdasan yang setara atau bahkan melebihi manusia, komputer tetap bukanlah manusia. Maka buku ini memberi pesan bahwa kemajuan teknologi di masa depan yang sangat mengagumkan juga memiliki sisi buruk dari penggunaan teknologi tersebut.

Membaca novel Origin ini mengingatkan saya pada kekhawatiran Harari mengenai dunia di masa depan yang riuh oleh kemunculan komputer-komputer dengan kecerdasan buatan. Tak heran jika Harari mengingatkan pentingnya menanamkan compassion pada anak-anak kita, yang akan menjadi calon generasi selanjutnya. Karena, apalah artinya cerdas jika tidak mempunyai ‘rasa’.

#MO Series on Disruption

Judul: M#O Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: Cetakan ke-1, Agustus 2019
Tebal: 422

MO merupakan singkatan dari Mobilisasi dan Orkestrasi. Hm, buku apa ini? Politik? Musik? Hehe, ini adalah buku bisnis. #MO adalah pendekatan baru dalam industri berbasis revolusi industri 4.0 dengan kekuatan enam pilarnya yaitu AI (artificial intelligence), Super Apps, IoT (Internet of Things), Cloud, Broadband Network, dan Big Data. Kehadiran revolusi industri 4.0 menempatkan kita pada era baru, connected society atau bahkan hyperconnected society, yang mengubah banyak hal. Tidak hanya perilaku konsumsi yang berubah, namun juga marketing, komunikasi kehumasan, proses bisnis, sampai ke model bisnis dan leadership.

Dalam era hyperconnected, tidak lagi diperlukan kehebatan luar biasa, namun cukup keterampilan mobilisasi (Anatomi, Bauran Mobilisasi Online, SHARE, 5 elemen penggerak jari dan pemahaman yang cukup untuk melakukan mobilisasi). Sementara untuk melakukan orkestrasi dibutuhkan leadership dengan cara-cara baru. Mobilisasi sendiri akan menggantikan cara marketing yang kita kenal. Dan orkestrasi adalah cara-cara menggerakkan usaha baru.

Secara ringkasnya, buku ini menceritakan perubahan yang sedang terjadi oleh adanya kemajuan digitalisasi dan bagaimana kita merespon perubahan dan fenomena-fenomena baru yang muncul tersebut. Digitalisasi mengubah kebiasaan konsumen dan sudah seharusnya mengubah cara kita menghasilkan produk, memasarkan, dan mengatur pekerjaan.

Saat ini kita menyaksikan gelombang mobilisasi, dimana bisnis tak lagi harus menguasai dan memiliki semuanya. Cukup melakukan orkestrasi.

Contoh orkestrasi, Youtube. Youtube memiliki kemampuan mengorkestrasi resources, yakni para content creator. Youtube tidak memproduksi sendiri konten seperti televisi. Youtube hanya cukup menyediakan panggung bagi para content creator dari seluruh dunia untuk menampilkan hasil kreasi mereka. Youtube tidak membeli atau memproduksi sendiri konten tersebut. Dengan demikian ia tidak harus menanggung beban fixed cost. Dengan skema crowd sourching, Youtube membangun ekosistem digital dalam skala global yang di dalamnya terdapat content creator, YouTubber, audiens/konsumen, dan para pemasang iklan.

Contoh lain, Gojek. Gojek adalah platform penyedia transportasi online yang memobilisasi jasa pengantaran makanan (Go-Food). Atau Kitabisa.com yang memobilisasi donasi sosial. Kedua contoh perusahaan ini memanfaatkan teknologi untuk mengorkestrasi permintaan dan penawaran melalui platform yang mereka ciptakan.

Mobilisasi adalah upaya memperluas pasar dengan menghadang kekuatan lawan, atau menggerakkan opini untuk memperoleh dukungan. Pemahaman mobilisasi juga penting untuk memasarkan produk atau gagasan baru. Contoh: Singles’ Day-Alibaba. Menurut majalah Fortune (Banett, Nov 10, 2018) orang-orang Tiongkok sudah mengorder belanja di platform Alibaba sebesar USD1 miliar dalam dua menit pertama sejak sales itu dibuka. Ini tentu saja mengagetkan Amazon sebagai pesaing Alibaba.

Apa yang membuat semua itu bisa terjadi? Partisipasi konsumen. Dunia online memungkinkan konsumen menjadi partisipan aktif. Mereka aktif membuat dan menyebarkan konten dari apa yang mereka alami bersama produk yang mereka beli. Melalui berbagai platform seperti facebook, instagram, serta melalui metode sharing (menyebarkan apa yang dikonsumsi) – shaping (menggiring opini para pengikutnya di dunia maya) yang dibuat oleh konsumen secara sukarela.

Kehadiran perusahaan-perusahaan teknologi baru dengan aset minimalis mampu memperoleh nilai valuasi yang besar tentu saja ‘mengganggu’ keberadaan perusahaan-perusahaan konvensional yang heavy asset. Daftar top perusahaan-perusahaan besar yang dulu didominasi oleh perusahaan tradisional pun beralih tergantikan oleh perusahaan-perusahaan berbentuk semi platform atau platform sepenuhnya. Perusahaan-perusahaan apa saja kah itu? Sebut saja Google, Amazon, Facebook, Intel.

Platform berbeda dengan korporasi biasa dimana korporasi biasa model bisnisnya adalah mengakumulasi aset dan mengendalikannya. Sebaliknya, platform hanya mengorkestrasi, platform tidak menguasai atau memiliki. Platform sangat bergantung dengan ekosistemnya. Sebagai contoh: Gojek. Gojek adalah platform transportasi online, yang juga menyediakan layanan antarmakanan online serta melakukan payment dengan Gopay. Banyaknya bisnis yang dimasuki Gojek memungkinkan user mendapat berbagai layanan yang dibutuhkan meskipun menggunakan satu platform. Contoh lainnya adalah Tencent (perusahaan layanan pesan instan, WeChat). Tencent kemudian masuk ke sector payment (digital wallet), e-commerce (JD.com), game, music online, dll.

Akibatnya, core bisnis memang menjadi kabur. Kita tidak bisa mendefinisikan Gojek sebagai hanya perusahaan jasa transportasi online saja misalnya. Perusahaan bisa masuk ke dalam berbagai sektor, atau menggandeng perusahaan lain, seperti Tokopedia yang bekerjasama dengan perusahaan fintech Ovo. Kesemuanya itu bertujuan untuk memanjakan para user. Semakin betah users berada dalam lingkungan digital yang tercipta, semakin besar bisnis yang bisa dikembangkan oleh platform tersebut. Semua yang dibangun itu merupakan komunitas-komunitas yang melakukan transaksi-transaksi dan berhubungan. Ada ekosistem yang menjalankan peran pembayaran, kredit, produksi, produk-produk pelengkap, pengiriman, komunitas hobi, komunitas Kesehatan, komunitas ahli, dll. Dengan demikian ekosistem digital akan terdiri dari beragam pemain yang menyediakan solusi multi-industry yang dapat saling diakses secara digital.

Begitulah ekosistem bekerja. Antarbagian saling menghidupi, saling berinteraksi memberikan dukungan, sehingga perputaran bisnis bisa berlangsung sustainable dan bahkan bisa berkembang lebih besar.

Mengutip kata-kata bijak dari navjot Singh Sidu, You can’t play a symphony alone, it takes an orchestra to play it.

Pesan moral: Gunakan cara-cara baru supaya tetap relevan dengan kondisi yang ada. Terbuka dengan perubahan, berkolaborasi, terus belajar dan berani beradaptasi.

Dari Jokowi ke Harari

Judul: Dari Jokowi ke Harari
Penulis: Rizal Mallarangeng
Penerbit: KPG
Tahun terbit: Januari 2020
Tebal: 284

Seperti judulnya, buku ini memang berisi berbagai permasalahan dari ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan, sejarah yang dilihat dari sudut pandang tokoh dunia dan penulis sendiri. Penulis juga memberikan argumentasi sekaligus renungan untuk para pembacanya.

Saya bukan penyuka segala kabar tentang dunia politik. Namun, tidak bisa dinafikan segala ilmu sesungguhnya saling terkait. Bicara segala isu mengenai politik juga akan berdampak pada ekonomi. Seperti anggapan bahwa ekonomi Indonesia didominasi asing, misalnya. Menurut Rizal, paham ini adalah polesan dari paham usang yang diikuti oleh kaum nasionalis dan kaum sosialis pada tahun 1950-an. Paham ini sudah banyak ditinggalkan oleh banyak negara berkembang. Di Indonesia sendiri, paham ini mulai ditinggalkan pada era deregulasi 1980-an. Pandangan ini juga dianggap terlalu sempit dalam melihat kenyataan ekonomi modern serta keliru dalam mencari solusi bagi kemajuan Indonesia. Beberapa negara yang menganut paham ini secara ekstrem juga terbukti tumbang seperti Kuba, Korea Utara, dan Myanmar.

Jangan lupa pemikiran ekonomi terus berkembang. Saya jadi ingat tulisan Rhenald Kasali dalam buku MO, saat ini seorang pemimpin bukan lagi bicara tentang bagaimana cara menaklukkan atau mengalahkan. Melainkan bagaimana menciptakan sinergi dan kolaborasi dengan banyak pihak. Nah, saya jadi ingat lagi materi kuliah beberapa minggu lalu mengenai trend yang berkembang dalam manajemen operasi. Hahaha, kok sampai ke situ? Itulah menariknya sebuah ilmu. Btw, kalau direnungkan segala aspek kehidupan sesungguhnya meniru bagaimana alam bekerja.

Kembali ke paragraf kedua, apakah benar ekonomi Indonesia didominasi asing? Apakah kita dipaksa untuk bergantung kepada mereka, sehingga kita tak kunjung maju? Rizal Mallarangeng menunjukkan bahwa gross capital formation di Indonesia angka untuk modal atau perusahaan asing adalah sekitar 5%. Angka ini jauh di bawah berbagai negeri lainnya seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Artinya, ini adalah bukti terbaik untuk mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tidak didominasi kekuatan asing.

Mengutip kalimat penulis, “Kita kembali pada konsep dasar, yaitu akal sehat. Dalam pengertian praktis, konsep ini mengandaikan pertimbangan yang saksama dengan mengandalkan akal budi (reason) serta penghargaan fakta-fakta dalam mencari kebenaran. Saya tetiba diingatkan bagaimana kita semustinya menghargai ilmu.

Sejujurnya, yang membuat saya tertarik membeli buku ini adalah karena ada nama Harari. Hehe. Jadi, apa yang Rizal tuliskan mengenai tokoh sejahrawan yang buku-bukunya direkomendasi banyak orang ini?

Mengulang kembali, menurut Harari otak dan kemampuan kognisi manusia terus berkembang tanpa batas. Algoritma yang beroperasi dalam sistem kognitif kita ketika kita berpikir atau memecahkan masalah sehari-hari sama dengan algoritma yang digunakan oleh Google dan Amazon. Bedanya hanya pada kompleksitas. Namun ketika ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju maka kedua kekuatan ini akan saling mempersempit perbedaan yang ada. Lalu, bagaimana selanjutnya? Seperti kita ketahui, algoritma komputer mengolah data yang luar biasa. Dengan data yang terakumulasi terus menerus maka akan membuat algoritma komputer semakin canggih. Lalu, apa yang terjadi dengan mini komputer yang ada pada homo sapiens? Jawaban Harari sederhana saja, maka keduanya akan bergabung. Saat itulah maka homo sapiens akan mengubah dirinya menjadi homo deus. Penulis mengingatkan bahwa Harari berulang kali menyatakan di bukunya bahwa Homo Deus bukanlah sebuah buku untuk menyampaikan kepastian atau ramalan melainkan kemungkinan. Probabilitas yang diutarakan Harari memang cenderung kelam. Rizal menambahkan bahwa beberapa penulis dengan pendekatan yang sama seperti Harari cenderung mengakhiri tulisannya dengan muram dan kelam. Namun Rizal menilai, barangkali bentuk kemuraman itu adalah bagian dari sebentuk kearifan untuk menghindari malapetaka di masa depan.

Nah, kalau tadi Harari melihat gerak sejarah dan kemudian menyimpulkannya dengan kemuraman, Rizal memberi sudut pandang lain dari penulis Steven Pinker dalam bukunya Enlightenment Now: The Case for Reason, Science, Humanism, and Progress. Menurut Steven kemajuan sudah terjadi dan manusia tidak akan berhenti mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya, baik saat ini maupun masa depan. Menurut Steven, transformasi yang terjadi terus menerus, baik material (listrik, mesin cuci, iphone dan lain-lain) dan non material (demokrasi, kebebasan, waktu luang) telah memberikan kemungkinan lebih besar bagi manusia untuk mengurangi tekanan hidupnya dan sebagai akibatnya manusia dapat lebih mudah melakukan berbagai hal untuk menjalani hidup yang lebih bermakna.

Apa itu hidup yang bermakna (berarti)?, menurut Steven konsep “berarti” mengandaikan kehidupan yang memiliki narasi tentang masa lampau dan tujuan masa depan. Terkadang dalam mengejar tujuan masa depan, seseorang akan mengalami tekanan atau kecemasan, dan untuk sementara hidupnya akan terasa tidak bahagia, tetapi justru dalam proses jatuh bangun inilah kehidupan akan menemukan maknanya yang lebih mendalam.”(halaman 116).

Saya jadi pengin membaca bukunya Steven Pinker ini :). Beberapa ulasan lainnya mengenai politik silakan dibaca sendiri ya. Saya baru pertama membaca tulisan Rizal Mallarangeng, dan sepertinya saya tertarik untuk membaca tulisan-tulisan Beliau juga nih.

The Great Shifting

Judul: The Great Shifting
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 523

Apa itu Shifting? Shifting bisa diterjemahkan sebagai perpindahan. The Great Shifting adalah buku kedua dari series Disruption yang ditulis oleh penulis yang sama. Saya pernah menuliskannya di sini. Masih ingat kisah Gojek dan Bluebird? Keputusan bijak yang dilakukan oleh Bluebird untuk bekerjasama dengan Gojek adalah salah satu contoh solusi dari adanya Shifting. Bluebird tidak membiarkan perusahaannya mati oleh kehadiran Gojek. Alih-alih memilih langkah destruktif, Bluebird memutuskan untuk memilih berkolaborasi dengan Gojek, dimana dalam hal ini Gojek selain sebagai penyedia jasa transportasi online juga perusahaan yang mengembangkan teknologi.

Shifting sendiri seperti dituliskan oleh penulisnya telah dilakukan manusia sejak lama. IBM contohnya. Sebelum menjadi perusahaan IT Solutions, IBM adalah produsen pengiris daging dan keju. Kemudian beralih menjadi produsen komputer mainframe. Demikian juga dengan Nokia. Nokia melakukan great shifting dari industri boots ke industri telepon seluler, sebelum akhirnya perusahaan ini undur diri dari bisnis ponsel usai diakuisisi oleh Microsoft. Pelajaran penting yang dapat diambil dari dua kisah di atas menurut Rhenald adalah, jangan mendefinisikan perusahaan dengan produk.

Nah, kalau kisah di atas tadi bercerita shifting dari produk ke produk, maka di era disrupsi teknologi bentuk shifting tidak lagi sama. Di era kemajuan teknologi seperti saat ini, maka peristiwa shifting dari produk ke platform tidak lagi dapat dinafikan. Ada banyak contoh, tutupnya toko-toko yang pernah besar di suatu masa, seperti matahari. Matahari tidak sepenuhnya tutup, counter mereka masih dapat ditemui di beberapa tempat, namun tidak banyak. Matahari memutuskan untuk melayani konsumennya melalui perdagangan online (e-commerce). Contoh lainnya adalah bank. Beberapa tahun belakangan ini tidak banyak lagi kita mendengar pembukaan kantor cabang bank baru. Untuk melayani nasabahnya, bank menggunakan aplikasi yang dapat diunduh oleh pelanggan. Kemudian, penjaga tol, yang keberadaannya sudah lama hilang digantikan oleh mesin otomatis.

“Shifting dalam era disruption yaitu munculnya plafrom baru yaitu teknologi digital. Teknologi digital menjadikan produk berada dalam track ‘platform’yang bukan hanya memindahkan pelanggan melainkan juga mengubah kehidupan. Satu hal berubah, yang lain mengikuti.” Jangan lupa, penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah membantu perbaikan hidup manusia. Dan perbaikan hidup akan membuat manusia shifting.

Pada akhirnya, dengan perkembangan teknologi yang ada maka perusahaan harus mempersiapkan dirinya untuk melakukan shifting platform. Perusahaan yang tidak mau beradaptasi terhadap perubahan dan masih melakukan kegiatannya dengan cara-cara lama perlahan akan tergusur. Oleh karena itu, apa yang harus dilakukan perusahaan incumbent agar keberadaan mereka tetap ada? Mengutip dari buku The Great Shifting, “Perusahaan-perusahaan incumbent harus melakukan shifting dengan cara, pertama melakukan digitalisasi pada bisnisnya dan melakukan kerjasama. Kedua, incumbents harus melakukan investasi dalam hal teknologi seperti telematika, IoT, dan AI.

Disruption telah mengakibatkan perusahaan-perusahaan incumbent kehilangan pelanggannya. Tidak hanya kehilangan pelanggan namun juga menimbulkan peristiwa-peristiwa shifting yang tidak kecil.Shifting tidak hanya terjadi pada dunia bisnis, melainkan juga ke banyak bidang, kesehatan, pendidikan, bahkan dalam ritual budaya. Menukil dari buku, “Shifting adalah keniscayaan yang akan masuk di setiap aspek kehidupan. Tugas kita adalah berbenah agar tetap relevan dengan perubahan zaman.”

Homo Deus

Judul: Homo Deus, Masa Depan Umat Manusia
Penulis: Yuval Noah Harari
Penerbit: PT Pustaka Alvabet
Tahun terbit: Cetakan 4, Februari 2019
Tebal: 527

“Kemana kita pergi dari sini? Takdir baru apa yang kita jalani? Bagaimana kita melindungi planet rapuh ini dan umat manusianya dari kekuatan destruktif kita sendiri?”

Ini adalah buku kedua dari trilogi Homo Sapiens karya Yval Noah Harari. Homo Sapiens bercerita dari mana kita berasal, maka buku kedua ini berandai-andai kemana kita akan pergi. Kalau buku pertama bercerita kehadiran kita adalah hasil evolusi, seleksi alam maka buku Homo Deus bercerita tentang teknologi baru setingkat dewa, yaitu kecerdasan buatan dan rekayasa genetika yang akan hadir di tengah-tengah keberadaan sapiens. Apakah kemunculan robot dan otomatisasi ini akan menggeser keberadaan manusia di planet bumi? Seperti dahulu ketika manusia bertarung dengan saudara-saudara spesies lainnya agar mampu bertahan di planet bernama bumi?

Kata Harari, saat ini kita (manusia) meyakini bahwa kita telah mampu
mengatasi masalah-masalah besar seperti wabah, perang, dan kelaparan. Belum
sepenuhnya teratasi namun setidaknya persoalan tersebut saat ini dapat dipahami
dan dikendalikan menjadi tantangan-tantangan yang bisa dicarikan solusinya.
Manusia telah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencegah kelaparan,
wabah, dan perang dan berhasil melakukannya. Kegagalan tentu masih ada, tetapi
kini manusia tak lagi menyerah begitu saja dengan mengatasnamakan takdir.
Ketika perang, wabah, dan kelaparan melanda di luar kendali kita, kita tahu
bahwa seseorang atau sesuatu pasti sudah mengacau dan kita berusaha
mengatasinya dan bertindak lebih baik. Dan memang berhasil. Bencana-bencana itu
semakin jarang dan sedikit. Lalu, masalah apa yang akan menghadang kita di masa depan? Hal-hal apa yang dapat menuntut perhatian dan kemampuan kita? Sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan Harari, pembaca akan diajak melihat cerita-cerita masa lalu yang melatarbelakangi persoalan besar manusia seperti kelaparan, wabah, dan perang. 

Harari mengumpulkan banyak temuan di berbagai bidang ilmu dan kemudian menyatukan semuanya dengan sudut pandang yang tak terduga.  Dalam buku Homo Deus (Manusia Dewa), Harari menggambarkan  ramalan agenda baru manusia di masa depan dengan menjadi dewa buatan sendiri di bumi. Untuk mencapai tujuannya itu maka manusia memfokuskan dirinya pada ilmu pengetahuan dan teknologi informasi utamanya kecerdasan buatan. 

Harari dalam bukunya Homo Deus mengungkapkan kemungkinan masa depan yang akan dialami umat manusia. Walaupun terkesan kelam namun ada pesan yang sangat tegas yang ingin disampaikan oleh Harari, yaitu langkah apa yang kita semua harus lakukan agar jangan sampai umat manusia di masa depan mengalami kehancuran.  

Selaras dengan 3 isu penting yang selalu disampaikan Harari, yaitu teknologi nuklir, pemanasan global  dan kecerdasan buatan, buku ini membahas lanjutan untuk ketiga isu penting tersebut dalam kerangka humanisme, kekuatan data dan manusia super (kecerdasan buatan). 

Mengapa humanisme? Rasa kemanusiaan itu sangat penting, dan inilah yang mulai hilang di masyarakat. Di buku pertama, Harari mengungkapkan bahwa orang pintar yang tidak mengenal dirinya sendiri dapat membahayakan. “Perkembangan bioteknologi memungkinkan kita mengalahkan bakteri dan virus tetapi pada saat yang sama mengubah manusia sendiri menjadi ancaman yang tak ada presedennya. Alat sama yang memungkinkan para dokter dengan cepat mengidentifikasi dan mengobati penyakit-penyakit baru juga memungkinkan militer dan teroris merekayasa penyakit yang lebih mengerikan dan penyakit kiamat. Karena itu, sangat mungkin epedemi besar akan terus membahayakan manusia pada masa depan hanya jika umat manusia sendiri menciptakannya, demi kepentingan ideologi yang kejam. (Homo Deus, halaman 15).

Kekuatan data. Tidak bisa dinafikan di era digital data memegang peran yang besar. Semua orang ingin menjadi bagian dari aliran data. Walaupun untuk itu orang harus menyerahkan privasi, otonomi, dan individualitas mereka. 

Manusia super. Kecerdasan buatan. Mengutip sinopsis buku, Prof. Harari menunjukkan visi masa depan yang awalnya tak dpaat dipahami tapi kemudian tak terbantahkan: manusia akan kehilangan tak cuma dominasinya atas dunia, tapi juga semuanya. Manusia akan tergantikan oleh mesin; atas nama kebebasan dan individualisme, mitos humanis akan dibuang bak keset lama yang usang. Lalu, kemana kita akan pergi dari sini?