Author Archives: admin

The Great Shifting

Judul: The Great Shifting
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 523

Apa itu Shifting? Shifting bisa diterjemahkan sebagai perpindahan. The Great Shifting adalah buku kedua dari series Disruption yang ditulis oleh penulis yang sama. Saya pernah menuliskannya di sini. Masih ingat kisah Gojek dan Bluebird? Keputusan bijak yang dilakukan oleh Bluebird untuk bekerjasama dengan Gojek adalah salah satu contoh solusi dari adanya Shifting. Bluebird tidak membiarkan perusahaannya mati oleh kehadiran Gojek. Alih-alih memilih langkah destruktif, Bluebird memutuskan untuk memilih berkolaborasi dengan Gojek, dimana dalam hal ini Gojek selain sebagai penyedia jasa transportasi online juga perusahaan yang mengembangkan teknologi.

Shifting sendiri seperti dituliskan oleh penulisnya telah dilakukan manusia sejak lama. IBM contohnya. Sebelum menjadi perusahaan IT Solutions, IBM adalah produsen pengiris daging dan keju. Kemudian beralih menjadi produsen komputer mainframe. Demikian juga dengan Nokia. Nokia melakukan great shifting dari industri boots ke industri telepon seluler, sebelum akhirnya perusahaan ini undur diri dari bisnis ponsel usai diakuisisi oleh Microsoft. Pelajaran penting yang dapat diambil dari dua kisah di atas menurut Rhenald adalah, jangan mendefinisikan perusahaan dengan produk.

Nah, kalau kisah di atas tadi bercerita shifting dari produk ke produk, maka di era disrupsi teknologi bentuk shifting tidak lagi sama. Di era kemajuan teknologi seperti saat ini, maka peristiwa shifting dari produk ke platform tidak lagi dapat dinafikan. Ada banyak contoh, tutupnya toko-toko yang pernah besar di suatu masa, seperti matahari. Matahari tidak sepenuhnya tutup, counter mereka masih dapat ditemui di beberapa tempat, namun tidak banyak. Matahari memutuskan untuk melayani konsumennya melalui perdagangan online (e-commerce). Contoh lainnya adalah bank. Beberapa tahun belakangan ini tidak banyak lagi kita mendengar pembukaan kantor cabang bank baru. Untuk melayani nasabahnya, bank menggunakan aplikasi yang dapat diunduh oleh pelanggan. Kemudian, penjaga tol, yang keberadaannya sudah lama hilang digantikan oleh mesin otomatis.

“Shifting dalam era disruption yaitu munculnya plafrom baru yaitu teknologi digital. Teknologi digital menjadikan produk berada dalam track ‘platform’yang bukan hanya memindahkan pelanggan melainkan juga mengubah kehidupan. Satu hal berubah, yang lain mengikuti.” Jangan lupa, penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah membantu perbaikan hidup manusia. Dan perbaikan hidup akan membuat manusia shifting.

Pada akhirnya, dengan perkembangan teknologi yang ada maka perusahaan harus mempersiapkan dirinya untuk melakukan shifting platform. Perusahaan yang tidak mau beradaptasi terhadap perubahan dan masih melakukan kegiatannya dengan cara-cara lama perlahan akan tergusur. Oleh karena itu, apa yang harus dilakukan perusahaan incumbent agar keberadaan mereka tetap ada? Mengutip dari buku The Great Shifting, “Perusahaan-perusahaan incumbent harus melakukan shifting dengan cara, pertama melakukan digitalisasi pada bisnisnya dan melakukan kerjasama. Kedua, incumbents harus melakukan investasi dalam hal teknologi seperti telematika, IoT, dan AI.

Disruption telah mengakibatkan perusahaan-perusahaan incumbent kehilangan pelanggannya. Tidak hanya kehilangan pelanggan namun juga menimbulkan peristiwa-peristiwa shifting yang tidak kecil.Shifting tidak hanya terjadi pada dunia bisnis, melainkan juga ke banyak bidang, kesehatan, pendidikan, bahkan dalam ritual budaya. Menukil dari buku, “Shifting adalah keniscayaan yang akan masuk di setiap aspek kehidupan. Tugas kita adalah berbenah agar tetap relevan dengan perubahan zaman.”

Homo Deus

Judul: Homo Deus, Masa Depan Umat Manusia
Penulis: Yuval Noah Harari
Penerbit: PT Pustaka Alvabet
Tahun terbit: Cetakan 4, Februari 2019
Tebal: 527

“Kemana kita pergi dari sini? Takdir baru apa yang kita jalani? Bagaimana kita melindungi planet rapuh ini dan umat manusianya dari kekuatan destruktif kita sendiri?”

Ini adalah buku kedua dari trilogi Homo Sapiens karya Yval Noah Harari. Homo Sapiens bercerita dari mana kita berasal, maka buku kedua ini berandai-andai kemana kita akan pergi. Kalau buku pertama bercerita kehadiran kita adalah hasil evolusi, seleksi alam maka buku Homo Deus bercerita tentang teknologi baru setingkat dewa, yaitu kecerdasan buatan dan rekayasa genetika yang akan hadir di tengah-tengah keberadaan sapiens. Apakah kemunculan robot dan otomatisasi ini akan menggeser keberadaan manusia di planet bumi? Seperti dahulu ketika manusia bertarung dengan saudara-saudara spesies lainnya agar mampu bertahan di planet bernama bumi?

Kata Harari, saat ini kita (manusia) meyakini bahwa kita telah mampu
mengatasi masalah-masalah besar seperti wabah, perang, dan kelaparan. Belum
sepenuhnya teratasi namun setidaknya persoalan tersebut saat ini dapat dipahami
dan dikendalikan menjadi tantangan-tantangan yang bisa dicarikan solusinya.
Manusia telah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencegah kelaparan,
wabah, dan perang dan berhasil melakukannya. Kegagalan tentu masih ada, tetapi
kini manusia tak lagi menyerah begitu saja dengan mengatasnamakan takdir.
Ketika perang, wabah, dan kelaparan melanda di luar kendali kita, kita tahu
bahwa seseorang atau sesuatu pasti sudah mengacau dan kita berusaha
mengatasinya dan bertindak lebih baik. Dan memang berhasil. Bencana-bencana itu
semakin jarang dan sedikit. Lalu, masalah apa yang akan menghadang kita di masa depan? Hal-hal apa yang dapat menuntut perhatian dan kemampuan kita? Sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan Harari, pembaca akan diajak melihat cerita-cerita masa lalu yang melatarbelakangi persoalan besar manusia seperti kelaparan, wabah, dan perang. 

Harari mengumpulkan banyak temuan di berbagai bidang ilmu dan kemudian menyatukan semuanya dengan sudut pandang yang tak terduga.  Dalam buku Homo Deus (Manusia Dewa), Harari menggambarkan  ramalan agenda baru manusia di masa depan dengan menjadi dewa buatan sendiri di bumi. Untuk mencapai tujuannya itu maka manusia memfokuskan dirinya pada ilmu pengetahuan dan teknologi informasi utamanya kecerdasan buatan. 

Harari dalam bukunya Homo Deus mengungkapkan kemungkinan masa depan yang akan dialami umat manusia. Walaupun terkesan kelam namun ada pesan yang sangat tegas yang ingin disampaikan oleh Harari, yaitu langkah apa yang kita semua harus lakukan agar jangan sampai umat manusia di masa depan mengalami kehancuran.  

Selaras dengan 3 isu penting yang selalu disampaikan Harari, yaitu teknologi nuklir, pemanasan global  dan kecerdasan buatan, buku ini membahas lanjutan untuk ketiga isu penting tersebut dalam kerangka humanisme, kekuatan data dan manusia super (kecerdasan buatan). 

Mengapa humanisme? Rasa kemanusiaan itu sangat penting, dan inilah yang mulai hilang di masyarakat. Di buku pertama, Harari mengungkapkan bahwa orang pintar yang tidak mengenal dirinya sendiri dapat membahayakan. “Perkembangan bioteknologi memungkinkan kita mengalahkan bakteri dan virus tetapi pada saat yang sama mengubah manusia sendiri menjadi ancaman yang tak ada presedennya. Alat sama yang memungkinkan para dokter dengan cepat mengidentifikasi dan mengobati penyakit-penyakit baru juga memungkinkan militer dan teroris merekayasa penyakit yang lebih mengerikan dan penyakit kiamat. Karena itu, sangat mungkin epedemi besar akan terus membahayakan manusia pada masa depan hanya jika umat manusia sendiri menciptakannya, demi kepentingan ideologi yang kejam. (Homo Deus, halaman 15).

Kekuatan data. Tidak bisa dinafikan di era digital data memegang peran yang besar. Semua orang ingin menjadi bagian dari aliran data. Walaupun untuk itu orang harus menyerahkan privasi, otonomi, dan individualitas mereka. 

Manusia super. Kecerdasan buatan. Mengutip sinopsis buku, Prof. Harari menunjukkan visi masa depan yang awalnya tak dpaat dipahami tapi kemudian tak terbantahkan: manusia akan kehilangan tak cuma dominasinya atas dunia, tapi juga semuanya. Manusia akan tergantikan oleh mesin; atas nama kebebasan dan individualisme, mitos humanis akan dibuang bak keset lama yang usang. Lalu, kemana kita akan pergi dari sini?

Sapiens

Judul: Sapiens, Riwayat Singkat Umat Manusia
Penulis: Yuval Noah Harari
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun terbit: Cetakan pertama, September 2017
Tebal: 521

Dahulu kala, bumi adalah rumah bagi beberapa spesies manusia sekaligus. Setidaknya ada enam spesies manusia berbeda, seperti yang kita ketahui dalam buku-buku sejarah masa sekolah, seperti homo neandhertal, homo erectus, homo soloensisi, dan lain sebagainya. Homo sapiens (kita) satu kerabat dengan mereka (homo neandhethal, ercetus, dll). Namun bukan berarti semua spesies ini tersusun dalam garis keturunan yang lurus. Kalau kata Harari, tidak ada satu tipe manusia yang menghuni bumi dalam suatu saat. Dan semua spesies terdahulu bukanlah model diri kita versi yang lama.

Namun, mengapa pada akhirnya hanya kita sendiri yang masih ada? Kemana saudara spesies kita lainnya? Mengapa mereka punah? Apa yang membuat manusia mampu bertahan? Menurut Harari, manusia lebih unggul dibandingkan spesies lainnya karena kita tidak hanya mampu mengenali objek secara riil (nyata) namun juga mampu menciptakan dan mempercayai khayalan (mitos) yang diyakini secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Kita juga bisa bekerjasama dalam kelompok besar.

Dalam sebuah video ceramahnya, Harari mengatakan bahwa semua spesies hewan di dunia berkomunikasi untuk menggambarkan suatu kondisi yang nyata. Misalnya, seekor monyet yang melihat pisang mengatakan, lihat ada pisang. Ayo kita ke sana. Manusia berbeda, mereka berkomunikasi tidak hanya untuk melukiskan suatu kondisi riil namun juga menciptakan mitos. Uang adalah contoh yang paling sederhana. Ketika seorang manusia mengatakan bahwa uang mempunyai nilai. Dan kemudian semua orang mengikuti dan memercayai nya maka kita semua dapat bekerjasama. Hanya manusia yang dapat melakukan ini. Manusia juga menciptakan mitos-mitos mengenai kepercayaan kepada dewa-dewa, hak asasi, kemerdekaan, kapitalisme, dan lain-lain. Mitos-mitos inilah yang mampu menyatukan beragam sapiens yang tidak saling kenal ke dalam ikatan perasaan kebersamaan sehingga mereka mampu bekerjasama.

Untuk sampai berada seperti saat ini, manusia mengalami pertarungan brutal tidak hanya dengan sepupu-sepupunya yang tak beradab namun juga iklim dan cuaca. Pada masa depan yang tidak lama lagi datang, mungkinkan manusia harus kembali berurusan dengan manusia-manusia non sapiens? Akankah kita kembali mampu bertahan atau kita yang punah?

Revolusi pertanian merupakan lompatan jauh ke depan bagi umat manusia. Pada masa ini kekuasaan dipegang oleh mereka yang memiliki tanah. Sesudahnya disusul oleh revolusi industri, dimana orang yang memiliki peralatan dan mesin-mesin memiliki kekuatan untuk menguasai ekonomi. Kini kita berada pada revolusi digital, ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin marak. Pengembangan kecerdasan buatan (AI) membuka jalan bagi peningkatan taraf hidup kesehatan manusia. Namun manusia juga tidak bisa menafikan bahwa robot-robot kecerdasan buatan mereka dapat mencoba menjadi manusia dan mungkin melebihi kemampuan manusia itu sendiri. Jika ini terjadi, apakah yang telah kita siapkan?

Belajar dari sejarah, manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Harari mengingatkan kita bahwa orang tidak cukup hanya dengan pintar. Namun yang utama adalah mereka harus menemukan dirinya kembali (mendefinisikan ulang tujuan-tujuan hidupnya). Orang yang pintar namun tidak mengenal dirinya sendiri dapat membahayakan.

Ini buku yang bagus banget. Tidak hanya berkisah tentang masa lalu namun juga memberi gambaran masa depan seperti apa yang kita (mungkin) hadapi. Membaca buku ini memberi renungan mendalam kepada diri bagaimana melihat asal usul dan keberadaan kita di planet bumi dan apa tujuan kita di dunia. Buku Sapiens merupakan trilogi dari Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons yang ditulis oleh Yuval Noah Harari.

Buku Bacaan Sepanjang Tahun 2019

Tahun 2019 akan segera berlalu. Berapa buku dan buku apa saja yang telah saya baca sepanjang tahun ini? Untuk jumlah buku yang dibaca entah berapa, tetapi sepanjang tahun 2018 dan 2019 buku bacaan saya memang lebih banyak menyasar buku-buku teks dan buku sains, bisnis seperti buku-buku berserinya Rhenald Kasali, lalu ada banyak buku mengenai coding (pemrograman). Untuk buku-buku pemrograman ini lebih banyak versi impor. Kenapa pilih buku impor? Karena sejujurnya saya lebih ingin memahami konsep pemrograman dibandingkan belajar membuat program itu sendiri. Sementara buku-buku pemrograman lokal lebih banyak berisi cara membuat program menggunakan bahasa pemrograman tertentu. Buku-buku teks impor pemahamannya memang lebih dalam, kaya materi dan penyajiannya sangat menarik. Seperti berbagai buku mengenai coding di bawah ini. Buku-buku ini sangat membantu saya ketika menulis dan juga mengaplikasikan pembelajaran di ruang kelas.

Untuk novel saya agak pemilih, apalagi kalau jadwal kesibukan cukup padat. Namun membaca novel tetap saya usahakan untuk menyeimbangkan rasa dan mengasah kepekaan. Saya juga suka novel-novel terjemahan. Belakangan saya agak kesulitan memilih novel yang bagus. Barangkali karena asupan bacaan saya lebih banyak ke buku teks dan kawan-kawannya itu ya? Hehe. Jadi kalau begitu, baiklah, mumpung libur sekolah, mari kita membaca novel.

Novel apa yang saya baca? Saya lagi suka membaca buku-buku karya Yuval Noah Harari. Eh. ini bukan novel ya? :). Entah ini masuk genre apa, buku sains, sejarah atau apa? Yang jelas buku ini bagus banget kawan. Membuka pikiran wawasan dan meransang pemikiran lebih lanjut untuk para pembacanya.

Oya, saya baru menyadari bahwa selama satu tahun ini tidak ada buku yang saya buat reviewnya. Wow, terlalu sibukkah daku? Atau terlalu malas? Entahlah apa itu. Semoga kelalaian ini tidak terulang di tahun berikutnya.

Orang-orang Biasa

Judul: Orang-orang Biasa
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Cetakan pertama, Februari 2019
Tebal: 262

“Mereka yang ingin belajar, tak bisa diusir.”

Orang-orang biasa bercerita tentang sekumpulan orang-orang “biasa” yang luar biasa.

Handai, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, Dinah, Nihe dan Junilah adalah orang-orang yang saling bersahabat karena nasib yang sama. Semasa sekolah sekawan ini terkumpul secara alamiah berdasarkan kecenderungan bodoh, aneh, dan gagal. Di sekolah itu juga ada kelompok pembuli, yaitu kelompok Bastardin dan Boron. Kedua kelompok ini suka membuli Salud. Kemudian ada Debut Awaludin, yang mengangkat dirinya sebagai ketua sekumpulan anak-anak yang dianggap aneh itu. Debut adalah satu-satunya anak yang berani menghadapi para pembuli. Debut akhirnya out dari sekolah mengikuti kegagalan sekumpulan kawannya. Ia sendiri out dari sekolah karena merasa tak ada lagi yang bisa diperjuangkan dan dibela. Ia memang seorang idealis sejak dari sekolah.

Kesepuluh anak itu tumbuh dan membangun kehidupan mereka sendiri. Dinah menikah dan memiliki anak yang bernama Aini. Aini adalah tokoh utama dari cerita ini. Seperti Dinah, Aini pun adalah anak yang lambat menerima pelajaran. Dia sempat tak naik kelas. Namun kemudian Aini menunjukkan kebiasaan yang baru, membaca buku. Ketertarikan Aini untuk melahap bacaan dan kegigihannya belajar ditunjukkan sejak ayahnya sakit. Aini menyimpan cita-citanya untuk menjadi dokter. Keinginan itu semakin kuat ketika ia melihat sang adik menunjukkan gejala seperti dulu dialami mendiang ayahnya.

Aini akhirnya berhasil diterima di sebuah fakultas kedokteran. Namun kondisi keuangan keluarganya mengaburkan impian Aini. Dinah sang Ibu menceritakan masalah ini kepada Debut. Debut kemudian mengajak Dinah dan kawan-kawan lainnya untuk merampok bank demi memperoleh uang untuk biaya kuliah Aini. Akankah Aini berhasil meraih impiannya untuk kuliah di fakultas kedokteran? Apakah mereka, orang-orang yang dianggap gagal itu mengulangi kegagalan memaknai hidup mereka seperti ketika di bangku sekolah?

Buku ini memang dipersembahkan oleh Andrea untuk seorang anak miskin yang cerdas dan kegagalannya yang getir masuk Fakultas Kedokteran.

Ulasan

Andrea paling pintar menceritakan detil karakter setiap tokohnya. Kenaifan dan kepolosan dari para tokoh Orang-orang Biasa ini seringkali mengundang senyum sekaligus mengalirkan rasa pilu. Keharu-biruan yang mengajak kita sebagai pembaca untuk melihat segala sesuatu dari banyak sudut pandang. Sederhananya, kita bisa belajar untuk lebih bijak menilai sesuatu. Andrea mengajarkan hal itu kepada pembaca melalui karya-karyanya.

Orang-orang Biasa adalah sebuah cerita bagaimana kebanyakan kita menilai orang lain. Kita seringkali menilai orang lain dari apa yang tampak. Namun sesungguhnya seseorang tidaklah seperti tampaknya. Orang-orang Biasa adalah sebuah kisah yang barangkali terinspirasi dari sebuah pepatah dalam bahasa inggris yang berbunyi Don’t judge a book by its cover yang artinya kurang lebih adalah jangan menilai seseorang hanya dengan melihat penampilannya apalagi bila belum mengenalnya. Andrea memang penulis yang top 🙂

Disruption


Judul: Disruption
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan kedua, April 2017
Tebal: 497

Sinopsis

Apa itu distuption? Disruption bisa dijabarkan sebagai sebuah inovasi, yang mengganggu atau mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan besar (incumbent). Apa contohnya?

Masih ingat kisah Nokia? Nokia pernah menjadi market leader di berbagai negara dengan produk telepon selulernya. Namun di tahun 2013 merupakan tahun kebangkrutan nokia. Pada tahun itu, perusahaan asal Finlandia ini menjual divisi telepon selulernya kepada Microsoft. Apa yang menjadi penyebab kegagalan nokia? Jawabnya adalah nokia dianggap tidak lagi inovatif. Mereka ‘lupa’ mengikuti perkembangan teknologi telepon seluler yang saat itu sangat dinamis. Selain Nokia, kisah yang sama terjadi pada Kodak, Sonny, Yahoo, dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan yang pernah mendominasi pasar ini pada akhirnya tenggelam karena tidak dapat mengikuti perkembangan zaman. 

Hampir semua industri tengah bertarung menghadapi lawan-lawan baru yang masuk tanpa mengikuti pola yang selama ini dikenal. Mereka tak terlihat, namun tiba-tiba muncul menjadi sedemikian besar. Mereka masuk langsung ke rumah-rumah konsumen, secara online, melalui smartphone. Kelemahan para incumbent adalah mereka tak bisa mendeteksi karena lawan-lawan berada di luar pantauan mereka. Mereka tak menyadari bahwa dunia berubah. Dan saat dunia berubah, maka industri lama pun terdisrupsi tanpa bisa terelakkan lagi. Keadaan yang parah terjadi pada perusahaan-perusahaan yang tak pernah menjembatani lintas-generasi. 

Lawan-lawan baru ini didirikan oleh anak-anak muda yang membangun startup. Startup adalah usaha rintisan atau usaha baru yang dilakukan dengan menggunakan teknologi, baik pada internet gelombang kedua maupun ketiga. Startup mempunyai ambisi untuk menjadi besar bahkan menjadi pemain global. Pembiayaan stratup bukan dari bank melainkan dari venture capital. Bisnis startup berdampak penciptaan lapangan kerja. 

Mari kita lihat contoh Gojek.  Kehadiran Gojek telah ‘mengacaukan’ keberadaan Bluebird, perusahaan taxi terbesar di Indonesia. Bluebird yang memiliki sekitar 27 ribu taxi reguler dan ribuan taxi eksekutif serta limosin dalam kajian Tech Crunch menyebutkan bahwa nilai valuasi Bluebird 9,8 triliun rupiah. Nilai ini sangat jauh dibandingkan dengan Gojek yang memiliki nilai valuasi sebesar 17 triliun rupiah, dan Grab dengan 20 triliun rupiah. Sementara kita semua tahu bahwa baik Gojek dan Grab sama sekali tak memiliki armada. Namun Gojek bermitra dengan 200 ribu pengemudi pemilik kendaraan di kota-kota besar. Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Gojek maupun Grab telah membantu menciptakan lapangan kerja baru.

Walau sempat beberapa kali menuai protes dan demo dari perusahaan incumbent, namun Gojek dan Grab tetap eksis sampai saat ini. Keberadaan jasa transportasi online ini dianggap mampu untuk memecahkan masalah sehari-hari masyarakat Indonesia akan kebutuhan jasa transportasi yang mudah, murah, dan cepat.  

Apa hal lainnya yang membuat Gojek atau Grab unggul dan mampu bersaing dengan perusahaan transportasi darat konvensional? Jawabnya adalah para pemain baru (pendiri startup) ini menawarkan inovasi model bisnis yang berbeda dengan pemain lama. Model bisnis para pemain baru ini memang memungkinkan mereka untuk tampil tak terlihat. Mereka membangun ekonomi berbagi (sharing economy) dan memanfaatkan teknologi serta internet dalam usahanya.

Menurut Rhenald, dunia telah berubah dari segala sisi.

Pertama, teknologi, khususnya informasi dan komunikasi telah mengubah dunia tempat kita berpijak. Teknologi telah membuat segala produk menjadi jasa, jasa yang serba digital, dan membentuk marketplace baru, platform baru, dengan masyarakat yang juga berbeda. 

Kedua, sejalan dengan itu muncullah generasi milenial, generasi baru yang menjadi pendukung utama gerakan ini. Mereka tumbuh sebagai kekuatan mayoritas dalam peradaban baru yang menentukan arah masa depan peradaban.  

Ketiga, kecepatan luar biasa yang lahir dari microprocessor dengan kapasitas ganda setiap 24 bulan menyebabkan teknologi bergerak lebih cepat dan menuntut manusia berpikir dan bertindak lebih cepat lagi. Manusia dituntu untuk merespon dengan cepat tanpa keterikatan pada waktu dan tempat.

Keempat, muncullah kesadaran penuh menciptakan perubahan dan kemajuan melalui cara-cara baru. Contohnya, para bupati dan gubernur yang dibesarkan dalam gelombang kedua internet mendorong semua aparatnya untuk masuk ke media sosial dan memberi layanan 24 jam sehari melalui smartphone. 

Kelima, bertumbuhnya teknologi juga mendorong cara mengeksplorasi kemenangan. Manusia-manusia baru mengembangkan model bisnis yang amat disruptive yang mengakibatkan barang dan jasa lebih terjangkau, lebih mudah terakses, lebih sederhana, dan lebih merakyat. Mereka memperkenalkan sharing economy, on demand economy, dan segala hal yang lebih real time.

Keenam, teknologi memasuki gelombang ketiga, yaitu internet of things. Artinya, media sosial dan komersial sudah mencapai titik puncaknya. Dunia memasuki gelombang smart device yang mendorong kita semua hidup dalam karya-karya yang kolaboratif. Smart home, smart city, smart shopping adalah contohnya. 

Ulasan:

Cepat, mengejutkan dan memindahkan adalah karakter perubahan pada abad ke-21. Dunia telah berubah dari segala sisi. Maka, kita pun harus mau dan berani beradaptasi menghadapi perubahan tersebut. Kemajuan teknologi, khususnya informasi dan komunikasi menciptakan banyak peluang, sekaligus dapat menjadi ancaman bagi mereka yang tak ingin berubah.  

Kita yang menyangkal kehadiran dunia digital akan tak mampu melihat pemain-pemain baru yang masuk secara tak terlihat. Akibatnya, kita akan terjebak dalam disruption, kalah oleh para pemain baru yang menggunakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menjalankan bisnis mereka. 

Buku Disruption menurut Rhenald ditulis dengan tujuan untuk membuka mata kita dan melihatnya secara bersama-sama dengan kacamata baru, membaca proses, lingkungan, dampak regulasi, strategi, dan akibat dari disruption. Dalam buku ini dipaparkan berbagai kisah dari banyak perusahaan incumbent yang tumbang, dan yang berhasil bangkit dalam menghadapi ‘gangguan’ (disruption) dari para pemain-pemain baru. 

Saya ingat Bluebird yang sempat beberapa kali demo dengan keberadaan Gojek, akhirnya mengambil keputusan yang cukup bijak. Alih-alih memprotes tanpa memberikan solusi, Bluebird bekerjasama dengan Gojek melalui fitur Go Car dan Go Bluebird. 

Melihat hal tersebut saya jadi ingat saran yang ada dalam buku Disruption ini. Penasaran? Ah, baca saja bukunya ya :). 

Startup Business Model


Judul: Startup Business Model
Penulis: Hendry E. Ramdhan
Penerbit: Penebar Plus
Tahun terbit: 2016
Tebal: 342

Nokia, handphone yang pernah memperoleh gelar HP sejuta umat pada tahun 2013 mengumumkan kebangkrutannya. Tidak hanya Nokia, beberapa perusahaan yang dulunya pernah berjaya juga mengalami nasib serupa, terjun bebas dan raib. Beberapa diantaranya yaitu Kodak, Lehman Brothers, DEC, dan motorola. Apa yang salah? Tidak ada yang salah dengan mereka. Namun, perubahan terjadi terlalu cepat. Nokia, Kodak dan juga kawan-kawannya terlambat menyadari perubahan dan tiba-tiba kehilangan keunggulan kompetitifnya, sementara para pesaingnya mampu beradaptasi terhadap perubahan dengan cepat. Mereka gagal menyesuaikan model bisnis mereka terhadap perubahan prospek bisnis yang terjadi dengan cepat. Faktanya, keberhasilan di masa lampau tidak menjamin keberhasilan di masa mendatang. Jika hanya berpatokan pada profit yang berhasil dibukukan, tidak akan menjamin perusahaan akan bertahan. (halaman 15)

Tetapi kisah paling menyedihkan barangkali ada pada Kodak. Sejatinya, Kodak adalah penemu kamera digital pertama di dunia pada tahun 1975. Namun karena khawatir mengganggu bisnis kamera analog maka mereka menyimpan penemuan itu. Saat itu model bisnis mereka utamanya berfokus pada menjual film, bukan perangkat kameranya. Hingga akhirnya tahun 1999 teknologi baru kamera digital membanjiri pasar. Namun Kodak mengabaikan fakta itu dan meyakini pangsa pasar kamera digital hanya bisa meraih 5% dalam 10 tahun ke depan. Kodak salah besar, pangsa pasar kamera digital mencapai 95% dan kamera analog tinggal 5%. Malang bagi Kodak, karena pengembangan teknologi sudah sangat terlambat sementara kompetitor sudah lebih dulu melihat peluang kamera digital dan telah melakukan investasi pengembangan di dalamnya. Akhirnya pada tahun 2012 Kodak mengalami nasib yang sama dengan Nokia.
Apa yang dapat dipetik dari kisah kedua perusahaan besar di atas?
Keunggulan kompetitif yang berkelanjutan menjadi mutlak untuk dijaga dengan melakukan inovasi tiada henti. Inovasi apa yang bisa menjamin keunggulan kompetitif secara jangka panjang? Jawabnya adalah inovasi model bisnis.

Mengapa bukan inovasi produk? Karena inovasi produk, proses, atau teknologi dapat ditiru dengan cepat oleh kompetitor. Selain itu, studi BCG menunjukkan perusahaan inovator model bisnis dalam kurun waktu 5 tahun akan lebih profitable 6% dibanding perusahaan yang hanya melakukan inovasi produk dan proses. Studi BCG juga menunjukkan 14 dari 25 perusahaan paling inovatif di dunia adalah inovator model bisnis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inovasi model bisnis adalah kunci utama penggerak inovasi yang berkelanjutan. Artinya, keunggulan kompetitif di masa mendatang bukan berdasar pada inovasi produk atau proses, melainkan inovasi model bisnis. Bukan berarti inovasi produk atau proses tidak penting melainkan tidak akan menentukan gagal atau berhasilnya perusahaan secara jangka panjang.

Jadi, tak salah kalau dikatakan ilmu penting dalam mengelola bisnis startup adalah mengenal model bisnis. Apa sih model bisnis? Sederhananya, model bisnis adalah gambaran bagaimana pelaku bisnis menghasilkan keuntungan (profit). Banyak perusahaan besar yang mengalami kegagalan atau kebangkrutan bisnisnya dikarenakan model bisnis mereka yang sudah ketinggalan jaman sehingga tidak lagi memiliki keunggulan kompetitif.

Nah, sebelum memulai bisnis, ada baiknya kita mengenali beragam model bisnis yang telah terbukti berhasil di startup lokal dan mancanegara. Buku ini memaparkan 50 model bisnis serta 150 startup baik lokal dan mancanegara beserta model bisnisnya.

Oya, buku ini adalah seri ketiga (terakhir) buku tentang startupreneur. Review dari seri pertama dapat dibaca di sini. Seri kedua atau lanjutannya dapat dibaca di sana.

Startup GuideBook


Judul: Startup GuideBook
Penulis: Andika Drajat M & Dita Kartika S
Penerbit: Quadrant
Tahun terbit: 2017
Tebal: 193

Startup business saat ini menjadi pilihan profesi baru banyak anak muda. Mengapa? Faktanya banyak anak muda yang berhasil menjadi pengusaha sukses berawal dari membangun startup business. Bisnis berbasis teknologi ini memberikan penghasilan tak terbatas. Lihat saja Mark Zuckerberg, Jack Ma, dan lain-lain.

Tertarik menjadi seperti mereka? Buku ini memberikan panduan bagaimana membangun sebuah bisnis startup. Apa saja yang harus dipersiapakan, bagaimana pelaksanaannya sampai mengembangkan dan memperoleh gelar ‘unicorn’. Unicorn adalah gelar yang paling diidamkan dalam startup business.

Startup sendiri adalah istilah bagi perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan ini biasanya masih dalam proses pengembangan dan masih berusaha menemukan sasaran pasar yang tepat.

Nah, bagaimana memulai bisnis startup serta apa saja yang diperlukan? Niat adalah langkah pertama yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin memulai sebuah usaha. Mempersiapkan mental wirausaha tentu saja tidak oleh diabaikan, karena sukses atau tidaknya suatu bisnis, dipengaruhi mental pelakunya. Selanjutnya menentukan ide bisnis. Untuk menggali ide bisnis kuncinya adalah fokus dengan keadaan sekitar. Ingat, startup yang berhasil berawal dari pemecahan masalah sehari-hari. Ide bisnis ini bisa dilakukan dengan menerapkan rumus 5W + 1 H; yaitu What is the problem? Why it’s happened? Where is the problem occurs? When is the problem occurs? Who is the target? How to prevent it?
Langkah berikutnya adalah membentuk tim. Tim merupakan bagian paling penting pada sebuah startup. Pilihlah orang-orang yang memiliki visi sama dengan kemampuan beragam sesuai bidang masing-masing. Memilih orang-orang yang tepat menjadi tim Anda adalah penting. Tim menjadi salah satu penilaian penting bagi venture capital ketika akan memberikan dananya pada sebuah startup.
Kemudian, membuat business plan. Business plan dapat menjembatani ide dan kenyataan serta memudahkan kita menjalankan bisnis. Business plan juga menjadi salah satu syarat untuk memperoleh investor.

Apa yang dipaparkan di atas adalah hanya sebagian dari isi buku Startup GuideBook ini. Untuk lebih detail dan jelasnya silakan Anda membacanya sendiri ya :). Yang jelas buku ini dapat menjadi panduan bagi mereka yang ingin mengenal dunia bisnis startup dan tentunya bagi Anda yang ingin memulai memasuki dunia bisnis startup. Dilengkapi juga dengan beberapa kisah inspiratif dari contoh-contoh startup sukses, seperti Uber, AirBNB, SnapChat, Gojek, Traveloka, Tokopedia dan masih banyak yang lainnya.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, cocok untuk remaja dan Anda yang tidak menyukai sesuatu yang textbook banget :). Walau isinya padat dengan materi tetapi Anda nggak bosan kok membacanya :). Selamat membaca.

Aku Bisa


Judul: Aku Bisa!
Penulis: Tim Noura Books dan Taman Gagasan Anak
Penerbit: Noura Books PT Mizan Publika
Tahun terbit: September, 2015
Tebal: 165

“Terkadang untuk mengatasi suatu masalah – sebesar apapun itu – kita hanya memerlukan dua hal: kepekaan dan kepedulian sebagai modal awal untuk menciptakan sebuah solusi.”

Kepekaan dan kepedulian akan segala hal yang terjadi disekeliling kita akan melahirkan kreativitas untuk menciptakan beragam solusi dari permasalahan yang ada. Sayangnya, kepekaan dan kepedulian masyarakat kita semakin tumpul. Pemandangan ketidakpedulian dan ketakacuhan dapat ditemui dimana-mana. Ketika kemampuan untuk peka dan peduli ini sudah tidak ada sejak dini, maka jangan heran ketika menjadi dewasa mereka akan sulit untuk berpikir kreatif karena tidak merasakan tantangan. Mereka menjadi kurang terhubung dengan dunia sekitar. Mereka kurang memiliki empati.

Pendidikan Indonesia yang cenderung melihat sisi lemah anak juga ditengarai sebagai penyebab terpenjaranya kreativitas anak. Anak-anak didikte, diawasi, lalu dihukum jika salah. Anak dianggap sebagai sosok tak berdaya. Akibatnya, anak menjadi takut salah dan merasa tidak bisa. Selain itu, materi yang diajarkan di sekolah kurang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan di masyarakat. Anak diberi pengetahuan (knowledge) hanya untuk menghadapi ujian. Anak kurang diberi kesempatan untuk menemukan solusi dan membuat keputusan. Padahal inilah yang sesungguhnya dibutuhkan tidak hanya oleh anak namun juga orang dewasa.

Gerakan Design for change yang digagas oleh Ibu Kiran Bir Sethi bertujuan agar anak dapat memupuk keberdayaannya, dan ini menjadi bekal dalam perjalanannya menjadi insan merdeka. Design for change terinspirasi dari pendekatan design thinking. Design thinking pada dasarnya adalah sebuah pola pikir yang membuat kita percaya bahwa kita dapat membuat suatu perubahan. Design thinking terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan solusi baru dan relevan sekaligus bisa menciptakan dampak positif. Design thiking juga memberikan kita keyakinan untuk melakukan proses kreativitas dan melalui tahapannya dapat mengubah tantangan yang sulit menjadi sebuah peluang.

Awalnya design thinking dirancang untuk memecahkan beragam masalah yang ada di dunia bisnis. Melalui design thinking, perusahaan dapat menciptakan produk ataupun jasa yang lebih inovatif dan tepat guna karena berawal dari proses komunikasi yang mendalam akan kebutuhan sang penggguna. Penggunaan metode design thinking tidak hanya diterapkan pada dunia usaha, namun sekarang ini sudah berkembang luas ke ranah sosial dan pendidikan. Design thinking disarankan untuk diterapkan di sekolah-sekolah untuk menyelesaikan beragam masalah, mulai dari mendesain ulang ruang siswa, membantu pendidik mengembangkan rencana pengajaran yang lebih kreatif sampai meningkatkan keterampilan siswa.

Kiran Bir Sethi kemudian mengadopsi metode design thinking yang disederhanakannya dan diturunkan menjadi sub metodologi Design for change (DFC). Tahapan design thinking direlokasi sehingga dapat dijalankan oleh anak-anak usia sekolah. Empat tahapan tersebut adalah: Feel (merasakan), Imagine (membayangkan), Do (melakukan), dan Share (membagikan) atau disingkat FIDS. Melalui keempat tahap ini anak berlatih untuk dapat memiliki kecakapan kerja, keterampilan abad 21, dan kecakapan sosial serta emosional yang dapat mempersiapkan para siswa untuk hidup bermasyarakat.

Salah satu aplikasi Design for Change berikut ini dilakukan oleh anak-anak berusia 5 tahun di Kamerun, Afrika.

Suatu hari, beberapa anak di sekolah Afrika mendatangi Ibu Guru dan menyampaikan kekhawatiran mereka karena beberapa anak di sekolah itu bermain sepak bola dengan menendangi botol plastik bekas minuman. Mereka merasa bahwa permainan itu berbahaya karena botol plastik itu dapat mencederai mata anak. Setelah mendengar keluhan tersebut, Ibu Guru mengajak mendiskusikannya. Dalam diskusi, ada anak yang mengusulkan agar sekolah membuat larangan permainan sepak bola. Ada juga yang mengusulkan larangan membawa botol plastik. Setelah mendiskusikan berbagai usulan mereka sampai pada pemahaman bahwa percuma jika sekolah membuat larangan. Larangan tak menyelesaikan masalah, kata anak-anak itu. (FEEL)

Akhirnya, disepakati bahwa permasalahan ini perlu diselesaikan pada akar masalahnya, yaitu tidak tersedianya bola. Oleh karena itu mereka mengangankan dan berpikir untuk membuat bola. (IMAGINE)

Maka, mereka meminta Ibu Guru mendampingi untuk membuat bola, karena mereka tidak tahu caranya. Ibu Guru kemudian menyarankan agar anak-anak merancang penelitian tentang bahan apa yang cocok untuk emmbuat bola. Kemudian, mereka mencari beberapa bahan bekas untuk dicoba. Dalam penelitian, tiap bola dengan berbagai bahan berbeda diuji coba. Sampai akhirnya mereka menyimpulkan bahwa bola berbahan tas plastik bekas (kita di Indonesia menyebutnya dengan tas kresek 🙂 ) paling cocok, karena dapat memantul dengan baik. Dibantu oleh orang tua, anak-anak lalu mengumpulkan tas plastik bekas di rumah dan membawanya ke sekolah. Di sana, mereka belajar bersama gurunya membuat bola. (DO)
Sekarang, mereka senang, karena anak-anak tetap dapat bermain sepak bola tanpa khawatir lagi. Setelah itu, dengan bantuan Ibu Guru, anak-anak Kamerun ini membuat video tentang kisah keberhasilannya dan diunggah ke kanal Youtube. (SHARE)

Dari pengalaman di atas, anak-anak Kamerun telah menerapkan 4 langkah design of change. Mereka telah menggagas dunia dari lingkungannya. Di sini, anak merasakan sebagai manusia terhormat yang berhak menggagas dan bisa bernalar. Anak-anak di atas telah mengasah dan mempraktikkan keterampilan abad ke-21, seperti merumuskan masalah, berpikir kreatif dan kritis, dan berkomuniaksi. Perasaan percaya diri anak sekaligus keterampilannya bernalar ini mewabahkan virus keyakinan “Aku Bisa” ke berbagai pelosok dunia.

Dahsyat sekali pendekatan design of change ini ya? Kalau berbagai negara sudah menerapkan metode ini mengapa kita tidak? Saya yakin metode ini bisa diterapkan ke dalam berbagai mata pelajaran.
Design for change adalah salah satu metode yang dapat melatih empati anak-anak kita sejak dini. Sejalan dengan cita-cita Indonesia yaitu mencetak generasi emas, melahirkan generasi cemerlang yang mampu bersaing secara global. Jalan menuju ke sana adalah dengan menerapkan pendidikan karakter kepada generasi muda. Pendidikan karakter yang juga menjadi perhatian dalam kurikulum 2013 yang mengedepankan 4C (Creative, Critical Thinking, Collaboration, dan Communication) yang semuanya ada dalam pendekatan design for change.

Kepada generasi muda lah kelak kita berharap agar dapat menjadi perintis perubahan dalam membentuk kehidupan dan peradaban bangsa yang lebih baik, generasi yang bermodalkan kecerdasan komprehensif, yakni produktif, inovatif, interaksi sosial yang baik, dan berperadaban unggul.

Startup Lessons


Judul: Startup Lessons
Penulis: Hendry E. Ramdhan
Penerbit: Penebar Plus
Tahun terbit: cetakan 1, 2016
Tebal: 139

Ini adalah buku kedua dari seri bisnis startup yang ditulis oleh Hendry E. Ramdhan. Resensi buku pertamanya bisa Anda baca di sini. Jika buku pertama menceritakan persiapan apa saja yang diperlukan oleh para pendiri startup, maka buku ini mempertanyakan bagaimana menumbuhkan bisnis yang telah kita jalankan. Seorang pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu tumbuh atau mati. Tumbuh adalah harga mati bagi startup. Tumbuh adalah cara startup untuk bertahan hidup. Nah, tumbuh seperti apa yang ideal bagi startup? Bagaimana menumbuhkan startup? Dan bagaimana seorang pelaku bisnis mengetahui bahwa startup nya telah tumbuh cukup pesat? Buku ini akan memaparkan pertanyaan-pertanyaan tadi. Penasaran? Yuk, ikuti sedikit ulasannya di bawah ini.

Startup identik dengan style anak-anak muda. Mengapa? Karena secara umum, pendiri startup adalah anak-anak muda, yang digambarkan serius tapi santai, tidak formal dan penuh inovasi. Tidak jarang inovasi yang diluncurkan oleh para startup ini adalah inovasi yang mampu ‘mengacaukan’ industri yang sudah terbentuk, atau istilahnya disruptive innovation. Startup ingin bergerak lincah, gesit, dan cepat untuk melayani pelanggan mereka melalui inovasi-inovasi bisnis yang mereka buat. Mulai lah membuat startup dengan tujuan mulia, yaitu masalah apa yang ingin Anda pecahkan melalui kehadiran startup Anda. Dengan demikian, produk Anda tidak hanya berguna untuk diri Anda sendiri namun juga memberi manfaat bagi orang lain yang menggunakannya. Ingat lah sebuah produk yang baik adalah yang memenuhi 3 persyaratan, yaitu layak, dibutuhkan dan berkelanjutan.

Untuk tumbuh, sebuah bisnis memerlukan dana. Ada beberapa pilihan bagi startup untuk mendanai bisnis mereka, antara lain bootstrapping (mendanai dirinya sendiri atau dari dana internal perusahaan) dan mendapatkan dana eksternal melalui bantuan VC (venture capital). Ada kalanya beberapa startup memilih untuk mendanai dirinya sendiri dan tidak mencari investor dari luar dengan beberapa alasan. Salah satunya, dengan keterbatasan dana yang dimiliki maka mereka akan dipaksa untuk fokus pada produk yang benar-benar memenuhi ekspektasi pelanggan. Karena dari pelanggan lah Anda baru memperoleh uang. Dan pelanggan lah yang membuat startup Anda bisa bertahan dan berkembang. Dengan bisnis yang baik, nantinya investor akan datang sendiri.

Perusahaan harus tumbuh, karena jika stagnan atau cenderung menurun maka ia akan mati karena kalah bersaing. Tumbuh dapat dilihat dari 3 hal, yaitu tumbuh dalam jumlah pengguna, tumbuh dalam jumlah pendapatan, dan tumbuh dalam jumlah profit.

Ingin tahu lebih lanjut? Nah, silakan baca bukunya sendiri ya :). Mengutip sinopsis sampul belakang buku, “Inilah buku yang mengulas detail model bisnis, budaya dan organisasi, modal, pertumbuhan, angka dan keuangan, serta berbagai kontes dan konferensi startup, baik regional maupun internasional.”