Category Archives: Non Fiksi

Disruption


Judul: Disruption
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan kedua, April 2017
Tebal: 497

Sinopsis

Apa itu distuption? Disruption bisa dijabarkan sebagai sebuah inovasi, yang mengganggu atau mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan besar (incumbent). Apa contohnya?

Masih ingat kisah Nokia? Nokia pernah menjadi market leader di berbagai negara dengan produk telepon selulernya. Namun di tahun 2013 merupakan tahun kebangkrutan nokia. Pada tahun itu, perusahaan asal Finlandia ini menjual divisi telepon selulernya kepada Microsoft. Apa yang menjadi penyebab kegagalan nokia? Jawabnya adalah nokia dianggap tidak lagi inovatif. Mereka ‘lupa’ mengikuti perkembangan teknologi telepon seluler yang saat itu sangat dinamis. Selain Nokia, kisah yang sama terjadi pada Kodak, Sonny, Yahoo, dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan yang pernah mendominasi pasar ini pada akhirnya tenggelam karena tidak dapat mengikuti perkembangan zaman. 

Hampir semua industri tengah bertarung menghadapi lawan-lawan baru yang masuk tanpa mengikuti pola yang selama ini dikenal. Mereka tak terlihat, namun tiba-tiba muncul menjadi sedemikian besar. Mereka masuk langsung ke rumah-rumah konsumen, secara online, melalui smartphone. Kelemahan para incumbent adalah mereka tak bisa mendeteksi karena lawan-lawan berada di luar pantauan mereka. Mereka tak menyadari bahwa dunia berubah. Dan saat dunia berubah, maka industri lama pun terdisrupsi tanpa bisa terelakkan lagi. Keadaan yang parah terjadi pada perusahaan-perusahaan yang tak pernah menjembatani lintas-generasi. 

Lawan-lawan baru ini didirikan oleh anak-anak muda yang membangun startup. Startup adalah usaha rintisan atau usaha baru yang dilakukan dengan menggunakan teknologi, baik pada internet gelombang kedua maupun ketiga. Startup mempunyai ambisi untuk menjadi besar bahkan menjadi pemain global. Pembiayaan stratup bukan dari bank melainkan dari venture capital. Bisnis startup berdampak penciptaan lapangan kerja. 

Mari kita lihat contoh Gojek.  Kehadiran Gojek telah ‘mengacaukan’ keberadaan Bluebird, perusahaan taxi terbesar di Indonesia. Bluebird yang memiliki sekitar 27 ribu taxi reguler dan ribuan taxi eksekutif serta limosin dalam kajian Tech Crunch menyebutkan bahwa nilai valuasi Bluebird 9,8 triliun rupiah. Nilai ini sangat jauh dibandingkan dengan Gojek yang memiliki nilai valuasi sebesar 17 triliun rupiah, dan Grab dengan 20 triliun rupiah. Sementara kita semua tahu bahwa baik Gojek dan Grab sama sekali tak memiliki armada. Namun Gojek bermitra dengan 200 ribu pengemudi pemilik kendaraan di kota-kota besar. Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Gojek maupun Grab telah membantu menciptakan lapangan kerja baru.

Walau sempat beberapa kali menuai protes dan demo dari perusahaan incumbent, namun Gojek dan Grab tetap eksis sampai saat ini. Keberadaan jasa transportasi online ini dianggap mampu untuk memecahkan masalah sehari-hari masyarakat Indonesia akan kebutuhan jasa transportasi yang mudah, murah, dan cepat.  

Apa hal lainnya yang membuat Gojek atau Grab unggul dan mampu bersaing dengan perusahaan transportasi darat konvensional? Jawabnya adalah para pemain baru (pendiri startup) ini menawarkan inovasi model bisnis yang berbeda dengan pemain lama. Model bisnis para pemain baru ini memang memungkinkan mereka untuk tampil tak terlihat. Mereka membangun ekonomi berbagi (sharing economy) dan memanfaatkan teknologi serta internet dalam usahanya.

Menurut Rhenald, dunia telah berubah dari segala sisi.

Pertama, teknologi, khususnya informasi dan komunikasi telah mengubah dunia tempat kita berpijak. Teknologi telah membuat segala produk menjadi jasa, jasa yang serba digital, dan membentuk marketplace baru, platform baru, dengan masyarakat yang juga berbeda. 

Kedua, sejalan dengan itu muncullah generasi milenial, generasi baru yang menjadi pendukung utama gerakan ini. Mereka tumbuh sebagai kekuatan mayoritas dalam peradaban baru yang menentukan arah masa depan peradaban.  

Ketiga, kecepatan luar biasa yang lahir dari microprocessor dengan kapasitas ganda setiap 24 bulan menyebabkan teknologi bergerak lebih cepat dan menuntut manusia berpikir dan bertindak lebih cepat lagi. Manusia dituntu untuk merespon dengan cepat tanpa keterikatan pada waktu dan tempat.

Keempat, muncullah kesadaran penuh menciptakan perubahan dan kemajuan melalui cara-cara baru. Contohnya, para bupati dan gubernur yang dibesarkan dalam gelombang kedua internet mendorong semua aparatnya untuk masuk ke media sosial dan memberi layanan 24 jam sehari melalui smartphone. 

Kelima, bertumbuhnya teknologi juga mendorong cara mengeksplorasi kemenangan. Manusia-manusia baru mengembangkan model bisnis yang amat disruptive yang mengakibatkan barang dan jasa lebih terjangkau, lebih mudah terakses, lebih sederhana, dan lebih merakyat. Mereka memperkenalkan sharing economy, on demand economy, dan segala hal yang lebih real time.

Keenam, teknologi memasuki gelombang ketiga, yaitu internet of things. Artinya, media sosial dan komersial sudah mencapai titik puncaknya. Dunia memasuki gelombang smart device yang mendorong kita semua hidup dalam karya-karya yang kolaboratif. Smart home, smart city, smart shopping adalah contohnya. 

Ulasan:

Cepat, mengejutkan dan memindahkan adalah karakter perubahan pada abad ke-21. Dunia telah berubah dari segala sisi. Maka, kita pun harus mau dan berani beradaptasi menghadapi perubahan tersebut. Kemajuan teknologi, khususnya informasi dan komunikasi menciptakan banyak peluang, sekaligus dapat menjadi ancaman bagi mereka yang tak ingin berubah.  

Kita yang menyangkal kehadiran dunia digital akan tak mampu melihat pemain-pemain baru yang masuk secara tak terlihat. Akibatnya, kita akan terjebak dalam disruption, kalah oleh para pemain baru yang menggunakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menjalankan bisnis mereka. 

Buku Disruption menurut Rhenald ditulis dengan tujuan untuk membuka mata kita dan melihatnya secara bersama-sama dengan kacamata baru, membaca proses, lingkungan, dampak regulasi, strategi, dan akibat dari disruption. Dalam buku ini dipaparkan berbagai kisah dari banyak perusahaan incumbent yang tumbang, dan yang berhasil bangkit dalam menghadapi ‘gangguan’ (disruption) dari para pemain-pemain baru. 

Saya ingat Bluebird yang sempat beberapa kali demo dengan keberadaan Gojek, akhirnya mengambil keputusan yang cukup bijak. Alih-alih memprotes tanpa memberikan solusi, Bluebird bekerjasama dengan Gojek melalui fitur Go Car dan Go Bluebird. 

Melihat hal tersebut saya jadi ingat saran yang ada dalam buku Disruption ini. Penasaran? Ah, baca saja bukunya ya :). 

Startup Business Model


Judul: Startup Business Model
Penulis: Hendry E. Ramdhan
Penerbit: Penebar Plus
Tahun terbit: 2016
Tebal: 342

Nokia, handphone yang pernah memperoleh gelar HP sejuta umat pada tahun 2013 mengumumkan kebangkrutannya. Tidak hanya Nokia, beberapa perusahaan yang dulunya pernah berjaya juga mengalami nasib serupa, terjun bebas dan raib. Beberapa diantaranya yaitu Kodak, Lehman Brothers, DEC, dan motorola. Apa yang salah? Tidak ada yang salah dengan mereka. Namun, perubahan terjadi terlalu cepat. Nokia, Kodak dan juga kawan-kawannya terlambat menyadari perubahan dan tiba-tiba kehilangan keunggulan kompetitifnya, sementara para pesaingnya mampu beradaptasi terhadap perubahan dengan cepat. Mereka gagal menyesuaikan model bisnis mereka terhadap perubahan prospek bisnis yang terjadi dengan cepat. Faktanya, keberhasilan di masa lampau tidak menjamin keberhasilan di masa mendatang. Jika hanya berpatokan pada profit yang berhasil dibukukan, tidak akan menjamin perusahaan akan bertahan. (halaman 15)

Tetapi kisah paling menyedihkan barangkali ada pada Kodak. Sejatinya, Kodak adalah penemu kamera digital pertama di dunia pada tahun 1975. Namun karena khawatir mengganggu bisnis kamera analog maka mereka menyimpan penemuan itu. Saat itu model bisnis mereka utamanya berfokus pada menjual film, bukan perangkat kameranya. Hingga akhirnya tahun 1999 teknologi baru kamera digital membanjiri pasar. Namun Kodak mengabaikan fakta itu dan meyakini pangsa pasar kamera digital hanya bisa meraih 5% dalam 10 tahun ke depan. Kodak salah besar, pangsa pasar kamera digital mencapai 95% dan kamera analog tinggal 5%. Malang bagi Kodak, karena pengembangan teknologi sudah sangat terlambat sementara kompetitor sudah lebih dulu melihat peluang kamera digital dan telah melakukan investasi pengembangan di dalamnya. Akhirnya pada tahun 2012 Kodak mengalami nasib yang sama dengan Nokia.
Apa yang dapat dipetik dari kisah kedua perusahaan besar di atas?
Keunggulan kompetitif yang berkelanjutan menjadi mutlak untuk dijaga dengan melakukan inovasi tiada henti. Inovasi apa yang bisa menjamin keunggulan kompetitif secara jangka panjang? Jawabnya adalah inovasi model bisnis.

Mengapa bukan inovasi produk? Karena inovasi produk, proses, atau teknologi dapat ditiru dengan cepat oleh kompetitor. Selain itu, studi BCG menunjukkan perusahaan inovator model bisnis dalam kurun waktu 5 tahun akan lebih profitable 6% dibanding perusahaan yang hanya melakukan inovasi produk dan proses. Studi BCG juga menunjukkan 14 dari 25 perusahaan paling inovatif di dunia adalah inovator model bisnis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inovasi model bisnis adalah kunci utama penggerak inovasi yang berkelanjutan. Artinya, keunggulan kompetitif di masa mendatang bukan berdasar pada inovasi produk atau proses, melainkan inovasi model bisnis. Bukan berarti inovasi produk atau proses tidak penting melainkan tidak akan menentukan gagal atau berhasilnya perusahaan secara jangka panjang.

Jadi, tak salah kalau dikatakan ilmu penting dalam mengelola bisnis startup adalah mengenal model bisnis. Apa sih model bisnis? Sederhananya, model bisnis adalah gambaran bagaimana pelaku bisnis menghasilkan keuntungan (profit). Banyak perusahaan besar yang mengalami kegagalan atau kebangkrutan bisnisnya dikarenakan model bisnis mereka yang sudah ketinggalan jaman sehingga tidak lagi memiliki keunggulan kompetitif.

Nah, sebelum memulai bisnis, ada baiknya kita mengenali beragam model bisnis yang telah terbukti berhasil di startup lokal dan mancanegara. Buku ini memaparkan 50 model bisnis serta 150 startup baik lokal dan mancanegara beserta model bisnisnya.

Oya, buku ini adalah seri ketiga (terakhir) buku tentang startupreneur. Review dari seri pertama dapat dibaca di sini. Seri kedua atau lanjutannya dapat dibaca di sana.

Startup GuideBook


Judul: Startup GuideBook
Penulis: Andika Drajat M & Dita Kartika S
Penerbit: Quadrant
Tahun terbit: 2017
Tebal: 193

Startup business saat ini menjadi pilihan profesi baru banyak anak muda. Mengapa? Faktanya banyak anak muda yang berhasil menjadi pengusaha sukses berawal dari membangun startup business. Bisnis berbasis teknologi ini memberikan penghasilan tak terbatas. Lihat saja Mark Zuckerberg, Jack Ma, dan lain-lain.

Tertarik menjadi seperti mereka? Buku ini memberikan panduan bagaimana membangun sebuah bisnis startup. Apa saja yang harus dipersiapakan, bagaimana pelaksanaannya sampai mengembangkan dan memperoleh gelar ‘unicorn’. Unicorn adalah gelar yang paling diidamkan dalam startup business.

Startup sendiri adalah istilah bagi perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan ini biasanya masih dalam proses pengembangan dan masih berusaha menemukan sasaran pasar yang tepat.

Nah, bagaimana memulai bisnis startup serta apa saja yang diperlukan? Niat adalah langkah pertama yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin memulai sebuah usaha. Mempersiapkan mental wirausaha tentu saja tidak oleh diabaikan, karena sukses atau tidaknya suatu bisnis, dipengaruhi mental pelakunya. Selanjutnya menentukan ide bisnis. Untuk menggali ide bisnis kuncinya adalah fokus dengan keadaan sekitar. Ingat, startup yang berhasil berawal dari pemecahan masalah sehari-hari. Ide bisnis ini bisa dilakukan dengan menerapkan rumus 5W + 1 H; yaitu What is the problem? Why it’s happened? Where is the problem occurs? When is the problem occurs? Who is the target? How to prevent it?
Langkah berikutnya adalah membentuk tim. Tim merupakan bagian paling penting pada sebuah startup. Pilihlah orang-orang yang memiliki visi sama dengan kemampuan beragam sesuai bidang masing-masing. Memilih orang-orang yang tepat menjadi tim Anda adalah penting. Tim menjadi salah satu penilaian penting bagi venture capital ketika akan memberikan dananya pada sebuah startup.
Kemudian, membuat business plan. Business plan dapat menjembatani ide dan kenyataan serta memudahkan kita menjalankan bisnis. Business plan juga menjadi salah satu syarat untuk memperoleh investor.

Apa yang dipaparkan di atas adalah hanya sebagian dari isi buku Startup GuideBook ini. Untuk lebih detail dan jelasnya silakan Anda membacanya sendiri ya :). Yang jelas buku ini dapat menjadi panduan bagi mereka yang ingin mengenal dunia bisnis startup dan tentunya bagi Anda yang ingin memulai memasuki dunia bisnis startup. Dilengkapi juga dengan beberapa kisah inspiratif dari contoh-contoh startup sukses, seperti Uber, AirBNB, SnapChat, Gojek, Traveloka, Tokopedia dan masih banyak yang lainnya.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, cocok untuk remaja dan Anda yang tidak menyukai sesuatu yang textbook banget :). Walau isinya padat dengan materi tetapi Anda nggak bosan kok membacanya :). Selamat membaca.

Aku Bisa


Judul: Aku Bisa!
Penulis: Tim Noura Books dan Taman Gagasan Anak
Penerbit: Noura Books PT Mizan Publika
Tahun terbit: September, 2015
Tebal: 165

“Terkadang untuk mengatasi suatu masalah – sebesar apapun itu – kita hanya memerlukan dua hal: kepekaan dan kepedulian sebagai modal awal untuk menciptakan sebuah solusi.”

Kepekaan dan kepedulian akan segala hal yang terjadi disekeliling kita akan melahirkan kreativitas untuk menciptakan beragam solusi dari permasalahan yang ada. Sayangnya, kepekaan dan kepedulian masyarakat kita semakin tumpul. Pemandangan ketidakpedulian dan ketakacuhan dapat ditemui dimana-mana. Ketika kemampuan untuk peka dan peduli ini sudah tidak ada sejak dini, maka jangan heran ketika menjadi dewasa mereka akan sulit untuk berpikir kreatif karena tidak merasakan tantangan. Mereka menjadi kurang terhubung dengan dunia sekitar. Mereka kurang memiliki empati.

Pendidikan Indonesia yang cenderung melihat sisi lemah anak juga ditengarai sebagai penyebab terpenjaranya kreativitas anak. Anak-anak didikte, diawasi, lalu dihukum jika salah. Anak dianggap sebagai sosok tak berdaya. Akibatnya, anak menjadi takut salah dan merasa tidak bisa. Selain itu, materi yang diajarkan di sekolah kurang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan di masyarakat. Anak diberi pengetahuan (knowledge) hanya untuk menghadapi ujian. Anak kurang diberi kesempatan untuk menemukan solusi dan membuat keputusan. Padahal inilah yang sesungguhnya dibutuhkan tidak hanya oleh anak namun juga orang dewasa.

Gerakan Design for change yang digagas oleh Ibu Kiran Bir Sethi bertujuan agar anak dapat memupuk keberdayaannya, dan ini menjadi bekal dalam perjalanannya menjadi insan merdeka. Design for change terinspirasi dari pendekatan design thinking. Design thinking pada dasarnya adalah sebuah pola pikir yang membuat kita percaya bahwa kita dapat membuat suatu perubahan. Design thinking terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan solusi baru dan relevan sekaligus bisa menciptakan dampak positif. Design thiking juga memberikan kita keyakinan untuk melakukan proses kreativitas dan melalui tahapannya dapat mengubah tantangan yang sulit menjadi sebuah peluang.

Awalnya design thinking dirancang untuk memecahkan beragam masalah yang ada di dunia bisnis. Melalui design thinking, perusahaan dapat menciptakan produk ataupun jasa yang lebih inovatif dan tepat guna karena berawal dari proses komunikasi yang mendalam akan kebutuhan sang penggguna. Penggunaan metode design thinking tidak hanya diterapkan pada dunia usaha, namun sekarang ini sudah berkembang luas ke ranah sosial dan pendidikan. Design thinking disarankan untuk diterapkan di sekolah-sekolah untuk menyelesaikan beragam masalah, mulai dari mendesain ulang ruang siswa, membantu pendidik mengembangkan rencana pengajaran yang lebih kreatif sampai meningkatkan keterampilan siswa.

Kiran Bir Sethi kemudian mengadopsi metode design thinking yang disederhanakannya dan diturunkan menjadi sub metodologi Design for change (DFC). Tahapan design thinking direlokasi sehingga dapat dijalankan oleh anak-anak usia sekolah. Empat tahapan tersebut adalah: Feel (merasakan), Imagine (membayangkan), Do (melakukan), dan Share (membagikan) atau disingkat FIDS. Melalui keempat tahap ini anak berlatih untuk dapat memiliki kecakapan kerja, keterampilan abad 21, dan kecakapan sosial serta emosional yang dapat mempersiapkan para siswa untuk hidup bermasyarakat.

Salah satu aplikasi Design for Change berikut ini dilakukan oleh anak-anak berusia 5 tahun di Kamerun, Afrika.

Suatu hari, beberapa anak di sekolah Afrika mendatangi Ibu Guru dan menyampaikan kekhawatiran mereka karena beberapa anak di sekolah itu bermain sepak bola dengan menendangi botol plastik bekas minuman. Mereka merasa bahwa permainan itu berbahaya karena botol plastik itu dapat mencederai mata anak. Setelah mendengar keluhan tersebut, Ibu Guru mengajak mendiskusikannya. Dalam diskusi, ada anak yang mengusulkan agar sekolah membuat larangan permainan sepak bola. Ada juga yang mengusulkan larangan membawa botol plastik. Setelah mendiskusikan berbagai usulan mereka sampai pada pemahaman bahwa percuma jika sekolah membuat larangan. Larangan tak menyelesaikan masalah, kata anak-anak itu. (FEEL)

Akhirnya, disepakati bahwa permasalahan ini perlu diselesaikan pada akar masalahnya, yaitu tidak tersedianya bola. Oleh karena itu mereka mengangankan dan berpikir untuk membuat bola. (IMAGINE)

Maka, mereka meminta Ibu Guru mendampingi untuk membuat bola, karena mereka tidak tahu caranya. Ibu Guru kemudian menyarankan agar anak-anak merancang penelitian tentang bahan apa yang cocok untuk emmbuat bola. Kemudian, mereka mencari beberapa bahan bekas untuk dicoba. Dalam penelitian, tiap bola dengan berbagai bahan berbeda diuji coba. Sampai akhirnya mereka menyimpulkan bahwa bola berbahan tas plastik bekas (kita di Indonesia menyebutnya dengan tas kresek 🙂 ) paling cocok, karena dapat memantul dengan baik. Dibantu oleh orang tua, anak-anak lalu mengumpulkan tas plastik bekas di rumah dan membawanya ke sekolah. Di sana, mereka belajar bersama gurunya membuat bola. (DO)
Sekarang, mereka senang, karena anak-anak tetap dapat bermain sepak bola tanpa khawatir lagi. Setelah itu, dengan bantuan Ibu Guru, anak-anak Kamerun ini membuat video tentang kisah keberhasilannya dan diunggah ke kanal Youtube. (SHARE)

Dari pengalaman di atas, anak-anak Kamerun telah menerapkan 4 langkah design of change. Mereka telah menggagas dunia dari lingkungannya. Di sini, anak merasakan sebagai manusia terhormat yang berhak menggagas dan bisa bernalar. Anak-anak di atas telah mengasah dan mempraktikkan keterampilan abad ke-21, seperti merumuskan masalah, berpikir kreatif dan kritis, dan berkomuniaksi. Perasaan percaya diri anak sekaligus keterampilannya bernalar ini mewabahkan virus keyakinan “Aku Bisa” ke berbagai pelosok dunia.

Dahsyat sekali pendekatan design of change ini ya? Kalau berbagai negara sudah menerapkan metode ini mengapa kita tidak? Saya yakin metode ini bisa diterapkan ke dalam berbagai mata pelajaran.
Design for change adalah salah satu metode yang dapat melatih empati anak-anak kita sejak dini. Sejalan dengan cita-cita Indonesia yaitu mencetak generasi emas, melahirkan generasi cemerlang yang mampu bersaing secara global. Jalan menuju ke sana adalah dengan menerapkan pendidikan karakter kepada generasi muda. Pendidikan karakter yang juga menjadi perhatian dalam kurikulum 2013 yang mengedepankan 4C (Creative, Critical Thinking, Collaboration, dan Communication) yang semuanya ada dalam pendekatan design for change.

Kepada generasi muda lah kelak kita berharap agar dapat menjadi perintis perubahan dalam membentuk kehidupan dan peradaban bangsa yang lebih baik, generasi yang bermodalkan kecerdasan komprehensif, yakni produktif, inovatif, interaksi sosial yang baik, dan berperadaban unggul.

Startup Lessons


Judul: Startup Lessons
Penulis: Hendry E. Ramdhan
Penerbit: Penebar Plus
Tahun terbit: cetakan 1, 2016
Tebal: 139

Ini adalah buku kedua dari seri bisnis startup yang ditulis oleh Hendry E. Ramdhan. Resensi buku pertamanya bisa Anda baca di sini. Jika buku pertama menceritakan persiapan apa saja yang diperlukan oleh para pendiri startup, maka buku ini mempertanyakan bagaimana menumbuhkan bisnis yang telah kita jalankan. Seorang pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu tumbuh atau mati. Tumbuh adalah harga mati bagi startup. Tumbuh adalah cara startup untuk bertahan hidup. Nah, tumbuh seperti apa yang ideal bagi startup? Bagaimana menumbuhkan startup? Dan bagaimana seorang pelaku bisnis mengetahui bahwa startup nya telah tumbuh cukup pesat? Buku ini akan memaparkan pertanyaan-pertanyaan tadi. Penasaran? Yuk, ikuti sedikit ulasannya di bawah ini.

Startup identik dengan style anak-anak muda. Mengapa? Karena secara umum, pendiri startup adalah anak-anak muda, yang digambarkan serius tapi santai, tidak formal dan penuh inovasi. Tidak jarang inovasi yang diluncurkan oleh para startup ini adalah inovasi yang mampu ‘mengacaukan’ industri yang sudah terbentuk, atau istilahnya disruptive innovation. Startup ingin bergerak lincah, gesit, dan cepat untuk melayani pelanggan mereka melalui inovasi-inovasi bisnis yang mereka buat. Mulai lah membuat startup dengan tujuan mulia, yaitu masalah apa yang ingin Anda pecahkan melalui kehadiran startup Anda. Dengan demikian, produk Anda tidak hanya berguna untuk diri Anda sendiri namun juga memberi manfaat bagi orang lain yang menggunakannya. Ingat lah sebuah produk yang baik adalah yang memenuhi 3 persyaratan, yaitu layak, dibutuhkan dan berkelanjutan.

Untuk tumbuh, sebuah bisnis memerlukan dana. Ada beberapa pilihan bagi startup untuk mendanai bisnis mereka, antara lain bootstrapping (mendanai dirinya sendiri atau dari dana internal perusahaan) dan mendapatkan dana eksternal melalui bantuan VC (venture capital). Ada kalanya beberapa startup memilih untuk mendanai dirinya sendiri dan tidak mencari investor dari luar dengan beberapa alasan. Salah satunya, dengan keterbatasan dana yang dimiliki maka mereka akan dipaksa untuk fokus pada produk yang benar-benar memenuhi ekspektasi pelanggan. Karena dari pelanggan lah Anda baru memperoleh uang. Dan pelanggan lah yang membuat startup Anda bisa bertahan dan berkembang. Dengan bisnis yang baik, nantinya investor akan datang sendiri.

Perusahaan harus tumbuh, karena jika stagnan atau cenderung menurun maka ia akan mati karena kalah bersaing. Tumbuh dapat dilihat dari 3 hal, yaitu tumbuh dalam jumlah pengguna, tumbuh dalam jumlah pendapatan, dan tumbuh dalam jumlah profit.

Ingin tahu lebih lanjut? Nah, silakan baca bukunya sendiri ya :). Mengutip sinopsis sampul belakang buku, “Inilah buku yang mengulas detail model bisnis, budaya dan organisasi, modal, pertumbuhan, angka dan keuangan, serta berbagai kontes dan konferensi startup, baik regional maupun internasional.”

Startupreneur


Judul: Startupreneur. Menjadi Entrepreneur Startup
Penulis: Hendry E. Ramdhan
Penerbit: Penebar Plus
Tahun terbit: cetakan keempat, 2018
Tebal: 203

Sejarah digital di Indonesia sudah dimulai di era 1990-an. Pada masa itu istilah startup terdengar kembali. Startup yaitu kewirausahaan rintisan yang berbasis inovasi digital. Startup yang lahir pada masa itu seperti Kaskus dan Detik sukses mempertahankan jaringan usahanya sampai sekarang. Kewirausahaan berbasis digital ini marak kembali pada tahun 2008-2009. Ratusan startup dilahirkan bersamaan dengan tumbuhnya kaum muda yang memiliki budaya yang melekat pada internet. Akhir 2014, Tokopedia, salah satu startup yang didirikan oleh William Tanuwijaya memperoleh kucuran dana dari perusahaan pemodal ventura yang disegani di dunia dengan angka yang fantastis dan terbesar dalam sejarah startup di Indonesia, yaitu 100 juta dollar. Tidak hanya Tokopedia, beberapa startup lainnya kemudian menyusul kesuksesan Tokopedia. Para startup ini diminati oleh para pemodal ventura asing. Mereka tak segan memberikan pemodalan bagi perusahaan-perusahaan yang baru berdiri, bahkan tak jarang yang masih sekadar konsep atau bibit yang bahkan belum teruji di pasar dengan baik.

Nah, bagaimana meyakinkan para ventura memberikan permodalan pada perusahaan-perusahaan yang baru berdiri? Pelajari apa saja yang harus dipersiapkan oleh perusahaan rintisan (startup) untuk mengelola startupnya dengan mengadopsi pengajaran dari para profesor dari Stanford.

Pada buku ini, sang penulis, Hendry E. Ramdhan ingin membagikan pengalamannya yang berhasil mewakili Indonesia dalam program Stanford Go-to-Market yang diadakan oleh sekolah bisnis terkemuka di dunia, Stanford graduate School of Business (GSB) yang berlokasi dekat dengan kawasan Silicon Valley. Stanford terkenal karena banyak lulusannya yang melahirkan startup fenomenal seperti Google, Yahoo, eBay, Linkedin, dan netflix.

Ingin seperti Larry Page dan Sergey Bin (pendiri Google) atau Pierre Omidyar (pendiri eBay) dan kawan-kawannya yang sukses membesarkan startup mereka? Yuk, kita belajar apa saja yang perlu disiapkan oleh para pendiri startup agar startupnya bisa dikelola seperti startup di kawasan Silicon Valley, Apa saja perangkat yang digunakan untuk memulai, menjalankan, dan mengembangkan startup? Apa yang membuat mereka berbeda dan meraih kesuksesan?

Buku ini membahas detail bisnis startup, seperti design thinking untuk menemukan ide bisnis startup, strategi dan model bisnis, proposisi nilai pelanggan, membangun tim yang solid, belajar manajemen entrepreneurship dari Silicon Valley, mengelola manajemen keuangan startup, presentasi pitching ke investor dan pemodal ventura, strategi penentuan harga, dan riset pasar.

Panduan Memilih Sekolah


Judul: Panduan Memilih Sekolah
Penulis: Bukik Setiawan-Andrie Firdaus-Imelda Hutapea
Penerbit: Buah Hati
Tahun terbit: 2018
Tebal: 153

“Cara belajar menumbuhkan memberi kemungkinan lebih besar pada anak untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang lebih luas, bukan sekedar capaian akademis.” (halaman 45)

Tak lama lagi tahun ajaran baru akan dimulai, sudah tentu inilah saat bagi para orang tua berburu memilih sekolah bagi putra-putrinya. Semua orang tua pasti menginginkan sekolah terbaik bagi putra-putri tercinta. Namun seperti apakah sekolah yang baik itu? Sekolah favorit? Sekolah dengan akreditasi A? Sekolah para bintangnya olimpiade? Nah, sebelum menjatuhkan pilihan pada sekolah yang diinginkan ada baiknya membaca buku panduan memilih sekolah yang satu ini.

Memilih sekolah untuk putra-putri kita, itu artinya sebagai orang tua kita harus memahami ciri anak zaman now, mereka yang hidup di era digital, zaman yang tentu saja berbeda dengan kita para orang tuanya. Karena itu, kita tidak bisa menyamakan keinginan kita dengan mereka. Sebagai orang tua kita harus belajar memahami tantangan yang akan dihadapi anak-anak kita di masa depan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan tersebut.

Perkembangan teknologi informasi tidak hanya mengubah cara manusia mengakses informasi, tetapi juga pola pikir dan cara hidup. Saat ini telah muncul banyak pekerjaan-pekerjaan baru, seperti youtuber, selebgram, buzzer, manajer media sosial dan banyak lagi. Pekerjaan yang bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, bukan? Bagi generasi lama barangkali memilih pekerjaan sebagai dokter atau insinyur menjadi pilihan yang aman. Namun tidak demikian bagi anak zaman now. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda tentang pekerjaan dan karir yang ingin mereka jalani. Jika generasi lama menuntut kepatuhan, kedisiplinan dan keseragaman, sebaliknya anak zaman now menuntut keterlibatan, otonomi, dan kreativitas.

Dengan melihat gambaran dunia kerja yang kelak dihadapi anak zaman now, maka orang tua mulai dapat memperkirakan harapan apa yang ingin diperoleh dari sekolah untuk putra-putri mereka serta bekal keterampilan apa yang harus dimiliki anak-anak abad 21 ini.

Lahirnya kurikulum 2013 kemudian memunculkan kerangka belajar abad 21 yang mengedepankan pada keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity atau 4C). Inilah keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak zaman now untuk berkompetisi kelak.

Maka, cara belajar anak-anak abad 21 tentu saja berbeda dengan generasi sebelumnya. Menghapal dan mengerjakan soal semustinya mulai dikurangi dan digantikan dengan cara belajar baru yang memberikan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar. Untuk memahami sesuatu anak dapat diajarkan untuk mengalami, menalar, dan menyimpulkan dari pengalamannya. Cara belajar di atas adalah cara belajar menumbuhkan.

Nah, setelah Anda tahu cara belajar anak zaman now, masalah berikutnya adalah bagaimana memahami sekolah untuk anak zaman now?
Buku ini membahas elemen-elemen penting yang harus dimiliki sekolah agar dapat mengimplementasikan sebagai sekolah anak zaman now. Apa saja? Pertama, artefak. Artefak adalah tulisan visi misi yang dipajang di dinding sekolah, ornamen yang dipasang di sekolah dan segala hal yang kasat mata dan bisa diamati oleh pihak internal maupun eksternal sekolah. Kedua adalah praktik, yaitu perilaku anggota sekolah yang kasat mata tetapi kesehariannya bisa diamati oleh pihak internal dan eksternal sekolah pada momen tertentu. Ketiga, prinsip nilai. Elemen ketiga ini tidak dapat diamati dan cukup sulit namun bisa disimpulkan dengan mengamati dua elemen sebelumnya.

Buku ini memberikan paparan yang sangat detil dan lengkap mengenai panduan memilih sekolah dilengkapi dengan lembar observasi dan pertanyaan yang dapat direnungkan dan dikerjakan oleh Anda sebagai orang tua untuk memberi gambaran jelas sekolah yang tepat untuk putra-putri Anda. Ada juga panduan observasi dan wawancara yang memudahkan orang tua menilai dan memilih sekolah untuk anak zaman now. Sebagai bonus diberikan juga panduan memilih pendidikan anak usia dini.

Nah, bagi para orang tua yang masih kebingungan memilih sekolah untuk putra-putrinya, silakan merapat dan tidak ada salahnya membaca buku ini terlebih dahulu untuk membantu Anda memperoleh wawasan tentang ragam cara belajar dan sekolah serta memahami karakteristik dan tantangan yang akan dihadapi anak zaman now.

Selamat memilih sekolah, dan jangan sampai salah pilih ya 🙂

Ulasan pribadi 🙂
Sebagai pendidik, saya setuju sekali bahwa kegemaran untuk belajar dan cinta kepada ilmu pengetahuan itu harus ditumbuhkan. Dengan demikian anak tidak lagi merasakan belajar sebagai sesuatu yang berat dan membosankan. Melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang mengasyikkan dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bereksplorasi, dan berkreasi maka keterampilan-keterampilan abad 21 yang dibutuhkan anak-anak ini akan tumbuh dengan sendirinya.

Oya, untuk Pak Bukik terima kasih atas kesempatannya untuk saya me-review buku ini. Maaf sangat kalau saya agak lama menulis review ini. Semoga bermanfaat.

Teach Like Finland


Judul: Teach Like Finland
Penulis: Timothy D. Walker
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2017
Tebal: 197

Siapa yang tak kenal Finlandia? Negeri ini menjadi rujukan bagi sebuah sistim pendidikan terbaik di dunia. Pada tahun 2001 Finlandia mengejutkan dunia dengan pencapaian siswanya yang berhasil mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan pertama PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2001. Sejak itu banyak negara berkiblat kepada sistem pendidikan di negeri Nordik ini. Tak terkecuali Indonesia. Walau tentu saja jalan panjang masih harus ditempuh oleh bangsa yang budaya literasinya masih sangat rendah ini.

Nah, penasaran seperti apa sih sistem pendidikan di Finlandia? Buku ditulis oleh Timothy D. Walker, seorang guru berkebangsaan Amerika yang tinggal di Finlandia. Walker sebelumnya adalah guru Amerika. Berbekal pengalamannya menjadi guru di Amerika, ia menerapkan cara mengajar Amerika nya di awal tahun ia mengajar di Finlandia. Ternyata, Walker mengalami banyak kejutan yang tak ia bayangkan di sekolah Finlandia nya. Proses belajar dan interaksi Walker bersama guru dan murid-murid kecilnya (setingkat sekolah dasar) memberikan banyak pengalaman berharga, yang membuat ia mencatat rahasia-rahasia di balik kesuksesan sekolah-sekolah Finlandia. Tulisan dan artikel Walker mengenai rahasia-rahasia ini dan cara mengimplementasikan model pembelajaran sekolah-sekolah di Finlandia kemudian menuai tanggapan antusias dari para pembacanya di Atlantic.

Ada 33 strategi sederhana yang dapat dipraktikkan di ruang kelas. Umumnya strategi yang ada di buku ini memang diterapkan di usia sekolah dasar. Namun beberapa dapat juga diaplikasikan untuk siswa sekolah menengah dengan beberapa modifikasi dan perkembangan. Agar anak-anak tetap fokus misalnya, sekolah-sekolah Finlandia menerapkan istirahat berkali-kali yang bertujuan untuk menyegarkan otak mereka. Mengistirahatkan otak ini bisa dilakukan dengan beragam cara sederhana, yaitu Guru memberikan blok waktu pilihan dalam satu hari, yang di dalamnya ada berbagai alternatif istirahat yang dapat mereka pilih seperti membaca bebas selama 10 menit, menulis bebas, atau permainan matematika yang menyenangkan. Lainnya adalah belajar sambil bergerak. Alih-alih duduk manis maka anak-anak di sekolah Finlandia boleh menyelesaikan tugas sambil berdiri atau mengganti kursi konvensional dengan bola senam sehingga murid dapat belajar dan bergerak dalam waktu yang bersamaan. Tentu masih banyak strategi menarik lainnya. Silakan dibaca sendiri ya 🙂

Buku ini memuat strategi dan anjuran yang sangat mudah dipraktikkan dari sistem pendidikan kelas dunia, sangat tepat dibaca oleh para pengajar dan praktisi pendidikan.

Ulasan
Satu hal yang saya pelajari dari keseluruhan buku ini adalah adanya kolaborasi antara Guru, siswa, orang tua, dan masyarakat dari berbagai bidang keilmuan. Guru yang bagus tidak bisa bekerja sendiri tanpa peran serta keaktifan siswa-siswa mereka. Sebagai pengajar saya melihat ada banyak rekan-rekan Guru yang memiliki ide-ide menarik dan menyenangkan di dalam proses KBM mereka bersama siswa. Untuk membuat sebuah perubahan yang positif maka diperlukan kesungguhan dari Guru dan siswa untuk bersama-sama belajar dan mengubah diri menjadi lebih baik. Ketika berdialog bersama murid sering saya perhatikan siswa-siswa saya membanding-bandingkan sistim pendidikan di Indonesia dengan di luar, yang seperti ini, seperti itu, gurunya begini dan seterusnya. Biasanya saya akan diam dan mendengarkan, sebelum bagian saya berbicara :).

Singkatnya, mengadopsi sebuah sistem pendidikan dari suatu tempat tidak semudah seperti yang tertuang dalam banyak tulisan. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, budaya, kebiasaan, dan lain-lain. Berdasarkan hasil survei dari studi Most Littered Nation In the World 2016, minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara. Miris memang. Menurut saya pribadi sih, kurangnya minat baca ini lah yang harus diperbaiki dahulu, bukan hanya dari sekolah akan tetapi yang lebih utama dari rumah. Orang tua yang gemar membaca akan menularkan kegemarannya kepada anak. Anak yang gemar membaca sejak kecil biasanya juga mencintai ilmu pengetahuan. Sulitnya, tidak banyak orang tua di Indonesia yang suka membaca. Bagaimana bisa mengajak anak mencintai buku kalau orang tuanya sendiri tidak suka membaca? Nah, itu PR untuk kita semua jika ingin sistem pendidikan negeri ini menjadi baik.

Strawberry Generation


Judul: Strawberry Generation
Penulis: Prof. Rhenald kasali, Ph.D.
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 2017
Tebal: 279

Strawberry adalah buah mungil yang indah dan menawan. Namun begitu terkena sedikit benturan maka strawberry mudah terkoyak dan hancur. Begitulah gambaran generasi muda saat ini, mereka yang lahir dari tangan orang tua yang jauh lebih sejahtera dari generasi sebelumnya. Rhenald mengatakan, generasi ini adalah mereka yang dimanja oleh fasilitas dan pelayanan orangtua, dimana orangtua turut campur dalam berbagai hal. Oleh karenanya, anak-anak ini kemudian tumbuh menjadi generasi yang mudah menyerah, tidak berani menghadapi tantangan dan mudah sakit hati. Anak-anak seperti ini hidupnya galau bahkan untuk hal sepele. Orang-orang seperti ini memiliki cara berpikir yang digolongkan ke dalam kategori fixed mindset. Fixed mindset yaitu orang-orang yang walau tingkat kecerdasannya tinggi namun statis. Mereka ingin tampak hebat tetapi sebenarnya mudah menyerah dalam menghadapi tantangan baru. Mereka tidak memiliki upaya untuk belajar dan sangat peka terhadap kritik. Keberhasilan orang lain akan dilihat sebagai ancaman.

Berbeda dengan fixed mindset, growth mindset adalah kelompok orang-orang yang cepat beradaptasi ketika menerima hal-hal baru. Meski saat sekolah mereka tidak pintar namun kecerdasan mereka dapat dikembangkan dan dilatih karena mereka terbuka terhadap masukan dan kritik. Tantangan bagi mereka merupakan kesempatan bagus untuk membuat diri menjadi lebih unggul dan kegagalan adalah peluang untuk belajar. Mereka siap belajar hal-hal baru.

Yang perlu orangtua perhatikan adalah anak-anak yang berhasil menemukan potensinya bukanlah anak-anak yang IQ-nya atau IP nya tinggi melainkan anak-anak yang pikirannya terbuka atau tertutup, mengembang atau menguncup, demikian menurut Rhenald. Karena itu, tugas orangtua dan pendidik untuk merombak cara berpikir agar anak tumbuh.

Rhenald, penulis buku ini adalah seorang profesor di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Terinspirasi oleh kutipan bagus ini, “Those who do not travel read only one chapter (mereka yang tidak melakukan perjalanan, -alias cuma belajar di kelas dan mengurung diri- dapat diibaratkan hanya membaca satu bab), Rhenald kemudian mengirim mahasiswanya pergi ke luar negeri. Syaratnya, harus sendiri dan ke negara yang berbeda. Tanpa orangtua, saudara, kenalan, atau jemputan. Pokoknya pergi ke tempat yang jauh dan cari uang sendiri. Rhenald sendiri sempat diprotes oleh orangtua yang khawatir secara berlebihan terhadap anak-anak mereka. Menurut Rhenald rasa khawatir berlebihan ini lah yang merusak anak-anak kita yang sesungguhnya hebat. Didera khawatir anak-anak mereka akan menderita maka orangtua memberikan segala yang dibutuhkan anak-anak itu. Takut berlebihan orangtua ini yang bisa membuat anak-anak ‘lumpuh’ dan akhirnya bermental penumpang. Yang harus dilakukan orangtua adalah memberi ruang dan kepercayaan pada anak-anaknya. Biarkan anak mengalami kegagalan, atau barangkali tersasar ketika ia berada di negara asing. Karena melalui itu semua seseorang memperbaiki cara berpikirnya sekaligus mengembangkan potensi diri yang dimilikinya.

Ingat, kan, kalimat Columbus ketika ia ditertawakan oleh rekan-rekannya karena tersasar? Begini,
“Kalau tidak pernah berani tersasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru.”

Jadi, ringkasnya, kalau ingin anak hebat, maka orangtua harus berubah. Orangtua harus rela melepas anak-anaknya belajar dari alam. Ya, belajar itu berarti menghadapi realitas, bertemu dengan aneka kesulitan, mengambil keputusan, dan berhitung soal hidup, bukan matematika imajiner. Belajar itu bukan cuma memindahkan isi buku ke kertas, melainkan menguji kebenaran dan menghadapi aneka ketidakpastian. (halaman 63)

Memercayai kehebatan anak merupakan awal kehebatan itu sendiri. Nah, siapkah Anda orangtua berubah?
Melatih anak-anak berpikir dan mengambil keputusan sedari muda amatlah penting. Sepenting membangun pertahanan dan keamanan negara, kita butuh penerus yang cerdas dalam menghadapi kesulitan dan ketidakpastian. Sebab, itulah situasi yang dihadapi anak kita kelak pada abad ke-21 ini. (Hal 64)

Manusia yang hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai mata pelajaran tinggi, melainkan manusia yang memiliki karakter yang kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka, mau belajar dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik.

Tentang Penulis
Rhenald Kasali, Ph.D., Guru Besar FEUI, praktisi manajemen dan penulis serangkaian buku-buku perubahan dan manajemen. Saat buku ini ditulis, Rhenald Kasali tengah memimpin sebuah Social Enterprise: Rumah Perubahan dan komisaris pada bebrapa perusahaan. Ia mempunyai relasi yang kuat pada dunia usaha dan sektor pemerintah.

Setelah menyelesaikan program doktornya dari University of Illinois at Urbana & Champaign-USA, ia banyak terlibat dalam berbagai program dengan Harvard Busniness School dan Yale School of Management. Ia juga banyak diminta nasihatnya oleh dunia usaha untuk mendampingi proses transformasi dan melatih para top executive. Training center-nya di kawasan seluas 5 hektare di tengah-tengah perkampungan yang asri di Desa Jati Murni Bekasi- setiap hari ramai didatangi para eksekutif dan tokoh-tokoh perubahan. Di sana, Rhenald Kasali menebarkan gelombang perubahan.

Saat ini, bukunya yang berjudul Self Driving telah menginspirasi banyak orang. Disusul dengan buku-buku lainnya yang juga menjadi national bestseller, yaitu Reinventing, Change Leadership, dan Curse to Blessing.

Kudeta Mekkah


Judul: Kudeta Mekkah (Sejarah yang Tak Terkuak)
Penulis: Yaroslav Trofimov
Penerbit: Alvabet
Tahun terbit: 2017
Tebal: 336

20 November 1979, awal bulan Muharram 1400 H, saat musim haji telah berakhir namun Mekkah masih disesaki oleh banyaknya kaum muslimin yang tinggal untuk berdoa memohonkan ampunan atas segala dosa yang hanya dapat dicapai di tempat suci, Mekkah. Pada hari itu pula, umat muslim merayakan tahun baru islam. Sesuai tradisi, orang-orang Mekkah melakukan ziarah dari kampung mereka masing-masing ke Masjid al-Haram.

Sekitar 100.000 jamaah datang dari pelbagai penjuru dunia berbaur dengan penduduk lokal. Diantara lautan manusia itulah terdapat ratusan pemberontak yang dipimpin oleh Juhaiman al-Utaibi. Sekelompok orang itu adalah orang Arab Badui yang akan mengambil alih secara paksa tempat tersuci umat islam, Masjid al-Haram. Juhaiman, seorang pria dari kaum Muhajir-Sajir dan mantan kopral pasukan Garda Nasional Arab Saudi, menganggap kekuasaan Arab Saudi saat itu tidak sah dan melenceng dari nilai-nilai islam.

Di waktu luangnya, Juhaiman menghadiri banyak diskusi dan kuliah keagamaan. Juhaiman adalah salah satu murid terbaik dari Ibn Baz, seorang ulama yang beraliran wahhabi dan pendiri gerakan Dakwah Salafiyah al-Muhtasiba yang tersohor sampai ke seluruh penjuru Arab Saudi. Melalui serangkaian tulisannya, Juhaiman merangkum ide-idenya mengenai terbentuknya masyarakat islam yang ideal. Ia dengan tegas menulis bahwa pemerintahan raja Arab Saudi saat itu haram. Selain itu ia juga menyinggung bahwa akan muncul Imam Mahdi, sang juru selamat yang akan menyelamatkan kaum muslim. Buku kecil biru dan hijau setebal 170 halaman karya Juhaiman segera menyebar di kampus-kampus di Mekkah, Madinah, Iran, Irak, dan Mesir dengan cara diselundupkan. Sejak itu dukungan dan simpat mengalir. Pemikiran-pemikiran Juhaiman tumbuh subur terutama di kalangan muda. Banyak kaum muda kemudian bergabung dengan gerakan yang dibentuk Juhaiman.

Tumbuh dalam tradisi Wahhabi, Juhaiman dididik untuk mencari semua jawaban mengenai kejayaan Islam masa lalu. Oleh karena itu Juhaiman merenungkan langkah-langkah selanjutnya dari gerakannya. Ia kemudian menemukan jawabannya dari sekumpulan jilid besar kitab hadits yang sudah berdebu, yang menerangkan konsep yang kokoh bagi teologi Islam yang terlihat begitu benar dalam masa yang kacau seperti saat itu, Mahdi. Ide tentang Mahdi sendiri tidak disebut dalam Al-Quran, Tetapi Nabi Muhammad, menurut beberapa perawi, meramalkan bahwa Allah akan mengirimkan seorang juru selamat untuk memerintah dunia Islam dan mendirikan masyarakat Ideal, setelah terjadinya peperangan dengan kekuatan jahat.

Juhaiman dan para pengikutnya mulai menyiapkan langkah selanjutnya, yaitu melindungi Imam mahdi dan akan membaiatnya di tanah suci: dekat Ka’bah di Mekkah. Muhammad bin Abd Allah Al-Qahtani, adalah sosok yang diyakini oleh Juhaiman sebagai Imam Mahdi. Maka, disusunlah rencana pemberontakan yang menjadi babak suram bagi pemerintahan kerajaan Arab Saudi saat itu.

Peristiwa berdarah itu dimulai tepat setelah Imam Masjid al-Haram menutup doa dan menyambut pergantian tahun. Masjidil Haram dikuasai dalam waktu yang singkat oleh pengikut Juhaiman. Diiringi tembakan Juhaiman mengatakan bahwa Imam Mahdi telah datang dan sekarang menduduki Al-Haram sambil menunjuk saudara iparnya tersebut. Para pengikutnya kemudian menyebarkan buku Tujuh Risalah, kumpulan tulisan Juhaiman ke kerumunan jamaah yang disandera.

Perebutan itu berlangsung selama 2 minggu. Juhaiman berhasil ditangkap dan Muhammad Abdullah al-Qahtani tewas tertembak. Juhaiman dihukum pancung di Mekkah. Pemberontak lainnya dihukum pancung yang tersebar di delapan kota. Akibat kudeta ini, beberapa bagian Masjid al-Haram rusak parah meski tak merusaki Ka’bah secuil pun.

Ulasan:
Sejujurnya, saya baru tahu bahwa pernah terjadi kudeta di Mekkah. Barangkali juga, banyak kaum muslim lainnya yang seperti saya. Mereka mungkin pernah mendengar tetapi tak paham apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat itu. Dikutip dari sinosis buku, “Para pengamat politik dan sejarawan menganggap kejadian itu sebagai insiden lokal semata, dan karena itu tak bersangkut-paut dengan peristiwa internasional yang belakangan merebak: terorisme. Tetapi penulis buku ini, Yaroslav Trofimov, berpendapat sebaliknya. Menurutnya, peristiwa itu merupakan akar sejarah gerakan terorisme global, terutama yang dimotori Al-Qaeda.”

Pemerintah Arab Saudi barangkali telah membersihkan orang-orang yang terlibat di dalam gerakan Juhaiman namun mengabaikan ideologi yang berada dibelakangnya, dan membiarkan ajaran itu tumbuh subur dan menyebar.

Penulis:
Untuk menyibak detail peristiwa ini, Trofimov memburu sumber-sumber penting dan tepercaya, perpustakaan British, satu-satunya tempat di Eropa yang menyimpan pelbagai surat kabar Saudi tahun 1979, arsip Pemerintah AS dan Inggris yang berisi laporan rahasia dari para Diplomat dan mata-mata; serta CIA dan British Foreign Office.

Kesan:
Ini buku yang paling bikin nderedeg untuk dibikin review. Dan sukses membuat saya nekad sampai menjelang pagi menuntaskan membacanya sampai akhirnya nggak berani ke toilet sendiri malam itu. Buku bagus sekaligus seram.
Tetapi dibalik keseraman buku ini, ada satu pernyataan Juhaiman yang menyatakan penyesalannya, dinukil dari halaman 248, “Ketika Juhaiman dibawa pergi, salah satu perwira bertanya lagi kepadanya, mengapa dia memperlakukan tempat suci seperti itu. Kenyataan kekalahan mendalam mulai dirasakan, “Jika aku tahu akan berakhir dengan cara seperti ini, aku tidak akan melakukannya,” Juhaiman menjawab dengan nada mengeluh.”