Tuhan dan Negara

Judul: Tuhan dan Negara

Penulis: Mikhail Bakunin

Penerbit: Parabel

Cetakan: 1 Juli 2017

Buku ini menuturkan secara rinci kisah hidup Mikhail Bakunin, seorang bangsawan Rusia yang kemudian mengabdikan hidupnya untuk melawan berbagai bentuk tirani dan penindasan. Tulisan-tulisannya diakui sebagai karya yang mengagumkan, penuh dengan wawasan yang dapat memberi pencerahan tentang berbagai persoalan sosial paling penting pada zamannya dan zaman kita sekarang ini. Namun sayangnya ia tak pernah menyelesaikan sebuah karya besar yang utuh. Karena itu, Tuhan dan Negara menjadi salah satu karya yang paling penting dan paling sering dibaca untuk memahami pemikirannya.

Buku Tuhan dan Negara merupakan karya Bakunin yang paling banyak dibaca dan sering dikutip oleh pembacanya. Gagasan utama dari buku ini adalah penolakan Bakunin terhadap segala bentuk otoritas dan pemaksaan terhadap manusia. Bakunin menyebut dua lembaga utama yang membatasi kebebasan manusia, yaitu agama dan negara. Negara sering menjadi alat bagi kelompok kecil yang berkuasa untuk mengendalikan dan memanfaatkan kekuasaaanya atas mayoritas rakyat. Sementara itu, agama kerap menjadi sekutu negara yang setia dalam menjaga kekuasaan dan membuat masyarakat tetap patuh.

Bakunin berpendapat bahwa sepanjang sejarah, banyak pemerintah menggunakan agama untuk membuat masyarakat menerima penderitaan dan ketidakadilan tanpa melakukan perlawanan. Karena itu, ia menyerukan perlawanan terhadap dominasi agama dan negara.

Menurut Bakunin, jika manusia ingin benar-benar bebas, mereka harus melepaskan diri dari penindasan yang berasal dari otoritas spiritual (agama) maupun otoritas politik (negara). Untuk mencapai kebebasan tersebut, manusia harus menggunakan kemampuan berpikir kritis dan keberanian untuk melawan ketidakadilan (hlm. 7).

Namun, kritik Bakunin tidak hanya ditujukan pada otoritas agama dan negara. Ia juga mengingatkan bahwa bentuk-bentuk kekuasaan baru dapat muncul melalui ilmu pengetahuan, yaitu ketika ilmu itu digunakan sebagai alat untuk mengendalikan manusia. Oleh sebab itu, kebebasan menuntut sikap kritis terhadap setiap otoritas, termasuk otoritas yang mengatasnamakan sains.

Bakunin memprotes agama dan sains ketika keduanya menjadi alat kekuasaan yang membatasi kebebasan manusia. Menurutnya, manusia pernah ditindas oleh berbagai doktrin agama seperti surga, neraka, dan dosa. Namun, dalam masyarakat modern, penindasan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda, yaitu melalui otoritas yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan, data, statistik, akreditasi, atau berbagai ukuran kinerja yang dianggap mutlak.

Bagi Bakunin, masalah utamanya bukan terletak pada agama atau ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan pada kecenderungan manusia untuk menjadikan keduanya sebagai alat untuk mengendalikan orang lain. Musuh kebebasan tidak hanya raja, negara, atau agama, tetapi juga setiap orang yang menggunakan pengetahuan dan kekuasaan untuk membuat orang lain tunduk. Dan untuk menghindari kesewenang-wenangan tersebut Bakunin memberikan jawaban dengan cara merebut dan mendemokratisasi pendidikan. Pendidikan tidak boleh menjadi hak istimewa kelompok tertentu atau alat untuk mempertahankan kekuasaan. Pendidikan harus dapat diakses oleh semua orang agar setiap individu mampu berpikir kritis, memahami dunia dengan akalnya sendiri, dan tidak mudah tunduk pada otoritas apa pun. Dengan pendidikan yang merata, pengetahuan tidak lagi dimonopoli oleh segelintir elite, melainkan menjadi sarana pembebasan. Masyarakat yang terdidik dapat mengelola dirinya sendiri, bekerja sama secara sukarela, dan mengawasi setiap bentuk kekuasaan yang berpotensi menindas. Karena itu, bagi Bakunin, pendidikan merupakan salah satu jalan penting menuju kebebasan manusia.

Melalui pemikirannya, Bakunin memperingatkan kita bahwa ilmu tanpa adab akan melahirkan pemimpin yang otoriter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.