The Boy Who Loved Math

content
Judul: The Boy Who Loved Math
Penulis: Deborah Heiligman
Penerbit: Roaring Book Press, New York
Tebal: 37

Paul Erdős adalah seorang anak laki-laki yang tinggal bersama ibunya di Budapest, Hungaria. Sang mama sangat menyayangi Paul. Ketika Paul berumur 3 tahun ibunya harus kembali bekerja sebagai Guru matematika. Maka, Paul kemudian dititipkan kepada Fräulein (pengasuh).

Fräulein mempunyai banyak peraturan, sebaliknya Paul benci pada peraturan. Satu-satunya hiburan yang paling menyenangkan Paul adalah menanti musim semi datang. Pada saat itu ibu Paul akan datang dan menghabiskan waktunya di rumah bersama Paul. Maka, Paul sibuk menghitung hari kapan saat itu tiba. Dan itu lah asal mula Paul menyukai angka.

Pada umur 4 tahun, Paul mengajukan pertanyaan tahun lahir dan jam kepada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Dan dengan perhitungan di luar kepala, Paul menyebutkan jumlah detik yang telah dilalui sang tamu. (Bayangkan, anak umur 4 tahun loh itu 🙂 ). Paul menyukai trik itu dan ia sering melakukannya.

Paul senang bermain dengan angka-angka. Dia menambah dan mengurang angka-angka tersebut. Suatu hari ia mengurangkan angka besar dengan angka kecil. Hasil yang diperoleh adalah lebih kecil dari 0. Ibu Paul menerangkan bahwa angka tersebut disebut dengan bilangan negatif. Paul merasakan keajaiban. Sejak saat itu ia bercita-cita untuk menjadi seorang matematikawan.

Paul kemudian menjadi seorang matematikawan yang berkelana dari satu universitas ke universitas untuk membagikan ilmunya. Ia berdiskusi dengan matematikawan lainnya dan terus menghasilkan karya. Kontribusinya di dunia matematika membuka jalan bagi generasi setelahnya untuk memahami bagaimana komputer dan mesin pencari bekerja. Dan yang tak kalah penting adalah pemrograman.

Dikutip dari Wikipedia di sini
“Sepertinya Paul Erdos tidak mencintai uang dan wanita seperti pria lainnya. Paul Erdos hanya mencintai angka dan matematika. Erdos pernah memenangi hadiah $50000 dari Wolf Prize, sebuah ajang paling bergengsi di bidang matematika. Namun, dari $50000 itu, Erdos hanya menyimpan $720 untuk dirinya, sisanya didonasikan ke sebuah yayasan di Israel. Uang $720 bersama satu koper berisi baju-bajunya menjadi bekal dirinya untuk berkelana menuju universitas-universitas di dunia ini. Paul Erdos menetap di tempat matematikawan di dunia ini, kemudian berdiskusi, kemudian menghasilkan karya. Setidaknya itu menjadi bukti bahwa Paul Erdos tidak mencari kesuksesan berupa uang, tapi Paul Erdos mencari sebuah kesempurnaan dalam hidupnya. Kesempurnaan itu yang mengantarkan dirinya menuju kesuksesan melalui karya-karyanya.”

**
Di satu cerita dikisahkan Paul sangat tertarik dengan bilangan prima. Ketertarikan Paul terhadap bilangan prima membangkitkan rasa ingin tahu saya. Iseng saya membayangkan flow chart untuk mencari rumus bilangan prima. Haha. Sungguh saya baru sadar ternyata kok nggak ketemu ya? Dan kalau sudah buntu sementara rasa penasaran nggak mau hilang bertanyalah saya kepada si mas.

Ini lah jawabannya:
Bilangan prima tidak bisa dikalkukasi, oleh sebab itu bilangan prima digunakan untuk enkripsi.

Wow, menarik ya? Pantas saja Paul Erdos menyukai bilangan prima, ternyata bilangan ini memang sangat unik 🙂

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*