Category Archives: Non Fiksi

Cerita Tentang Orchestra


Judul: Cerita Tentang Orkestra
Penulis: Robert Levine
Cetakan: pertama, 2010
Penerbit: BIP Kelompok Gramedia
Tebal: 95

Apa yang terbayang olehmu ketika mendengar kata orkestra?
“Musik yang besar dan rumit? Faktanya adalah di dalam musik orkestra seringkali ada 100 instrumen yang dimainkan, dan biasanya mereka dimainkan sama sekali berbeda antara satu dengan yang lain. Namun, mereka tetap bisa menciptakan musik yang begitu mengagumkan dan ajaib. Musik-musik seperti ini seringkali dimainkan pada layar lebar sebagai pelengkap dalam drama serta penamabah rasa seru pada acara televisi dan film, seperti di film Star Wars atau film kartun Bugs Bunny, dan lain-lain. Bukalah telingamu dan kamu akan mulai menyadari keberadaan komposisi klasik di banyak tempat.”

Buku Cerita Tentang Orkestra ini bercerita bagaimana musik klasik diciptakan dan mengapa musik itu memiliki kekuatan untuk membuat kita merasa senang, sedih, tegang, dan lega. Kita akan melihat bagaimana para komponis menciptakan rasa senang, sedih, marah, dan terkadang momen-momen yang mengganggu dengan menggunakan instrumen-instrumen yang berbeda, kecepatan yang berbeda, dan perubahan volume suara.

Mengasyikkannya lagi buku ini menyisipkan sebuah CD. CD ini dapat membantumu mempelajari dan mengenali jenis musik dari setiap era dan dari para komponisnya sendiri.

Sebagai lagu awal kamu akan dikenalkan dengan karya komponis Wagner yang berjudul Ride of the Valkyries. Musiknya sangat kuat, hidup dan menggairahkan dengan nuansa derap kuda yang terasa kental, menyuguhkan jalinan cerita tentang sembilan saudara perempuan, yang dalam masa itu mereka mengenakan helm-helm bertanduk yang sedang menunggang kuda.

Wagner adalah komponis jerman yang hidup di Era Romantik. Masa ini musik telah banyak dihiasi dengan not pada era Barok dan lebih sederhana di era klasik. Para komponis di era Romantik menerima pembelajaran dari kedua era sebelumnya sehingga menghasilkan sebuah musik yang benar-benar baru. Mereka menggunakan musik untuk membanjiri para pendengar mereka dengan emosi, menciptakan lagu sedih tentang cinta dan patah hati serta fantasi-fantasi magis tentang peri, penyihir, dan angsa.

The Four Season-Vivaldi, Era Barok

The Clock-Haydn, Era Klasik

Tentu saja, tidak hanya Wagner, di buku ini kamu bisa tahu ada banyak komponis hebat. Musik mereka yang indah abadi sepanjang zaman. Siapkan headshet dan buku ini, bersama si orkestra Bob kamu akan diajak menjelajahi dunia orkestra yang memesona dan menakjubkan.

Little Notes for Big Success


Judul: Little Notes for Big Success
Penulis: Ardian Syam
Cetakan: pertama, Agustus 2011
Penerbit: Grafindo Media Pratama
Tebal: 248

Manusia dan makhluk hidup lainnya mempunyai siklus hidup. Pun demikian dengan hidup yang kita jalani. Penulis buku “Little Notes for Big Success”, Ardian Syam membagi siklus hidup manusia ke dalam langkah-langkah berikut ini: impian, memperbanyak kawan, memelihara janji, berkomunikasi, memelihara rasa percaya, dan terus belajar.

Kesemua langkah itu kita perlukan untuk menjadikan diri kita bertambah baik setiap saat.

Ada sebuah pelajaran menarik dari sebuah pohon. Pohon yang rindang dan kuat memberikan kenyamanan bagi mereka yang berteduh di bawahnya. Namun tahukah Anda, pohon yang rindang itu harus berjuang keras untuk mendapatkan kebutuhannya dalam bertumbuh. Dalam fase pertumbuhannya tentu saja ia mengalami banyak peristiwa, yang tidak hanya hal-hal baik saja tapi juga hal-hal tidak menyenangkan. Kadang ia harus merelakan daun-daun atau bakal buahnya berguguran karena diterpa musim yang berat. Namun sisi baiknya adalah daun dan bakal buah yang jatuh itu kemudian menjadi pupuk organik yang sangat membantu pertumbuhan pohon.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari sana? Ardian Syam bilang “Bahwa ‘apakah hal-hal buruk bagi Anda dapat menjadi “pupuk” yang memacu pertumbuhan mental Anda?”

Hal-hal buruk dan tidak menyenangkan dalam hidup ada kalanya justru membantu mendewasakan diri kita.

Nah, buku ini adalah kumpulan catatan-catatan kecil untuk sebuah kesuksesan yang ingin Anda raih. Di sini kita juga diajak merenungi kembali hakikat hidup serta memberikan dorongan untuk membangun dan mewujudkan impian.

Mengutip tulisan di buku ini:
“Tumbuh adalah menjadi lebih bijak, lebih sabar, terus belajar”

Rahasia Presentasi Steve Jobs

Judul Asli: The Presentation Secrets of Steve Jobs
Penulis: Carmine Gallo
Penerjemah: P.A. Letari, S.E.
Penerbit: Esensi (Erlangga Group)
Cetakan: satu, 2011
Tebal: 222

Ini adalah buku yang saya peroleh dari hadiah kuis yang diadakan oleh Penerbit Esensi melalui akun twitter mereka di @penerbitesensi. Kuis berupa tweet bagaimana Steve Jobs menginspirasimu. Untuk pertama kalinya saya berhasil memenangkan kuis berhadiah buku, dan tidak hanya satu tapi dua dari dua penerbit yang berbeda, Esensi dan Mizan. Alhamdulillah 🙂

Baiklah, mari kita mulai.

Seorang komunikator yang baik adalah mereka yang dapat memberi inspirasi. Mereka memperlakukan produk yang mereka ciptakan tidak sekedar barang, melainkan ‘sesuatu’ yang mempunyai makna. CEO Starbuck, Howard Schulz tidak menjual kopi, mereka menjual ‘tempat ketiga’ antara kantor dengan rumah. Demikian juga Steve Jobs. Jobs tidak menjual komputer. Ia menjual alat agar manusia bebas memaksimalkan potensinya.

Sejak muda Jobs jatuh cinta pada visi mengenai bagaimana komputer pribadi akan mengubah masyarakat, pendidikan, dan hiburan. Gairah ini menular dan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Gairah ini pula yang memancar ketika ia tampil melakukan presentasi. Ia termotivasi oleh keinginan untuk mengubah dunia, untuk ‘memberi warna di jagat raya’.

Steve Jobs adalah komunikator yang paling memukau di panggung dunia. Antusiasme dan energi yang dipancarkan oleh Steve memukau para audiensnya. Ia selalu melakukan kontak mata, isyarat tangan dan postur terbuka setiap kali berbicara dengan mereka.

Banyak orang yang menantikan presentasi Steve Jobs. Mereka rela antre untuk mendapatkan tempat duduk terbaik di pidatonya. Video presentasi Jobs di youtube pun banyak diakses oleh ribuan atau bahkan jutaan orang.

Apa saja rahasia presentasi Jobs?
1. Menciptakan Cerita
2. Menciptakan Pengalaman
3. Memoles dan Melatih diri

Jobs mengandaikan “setiap presentasi menceritakan sebuah kisah, dan setiap slide mengungkapkan sebuah skenario”. Maka ia membagi presentasinya ke dalam adegan tiga babak. Presentasi Jobs mirip dengan adegan dramatis dari sebuah drama di panggung-panggung theater.

Ingin mengetahui lebih lengkap Rahasia Presentasi Jobs? Silakan baca bukunya. Buku ini juga dapat menjadi pegangan Anda yang ingin belajar untuk menjadi komunikator yang handal.

Jangan membayangkan isi buku ini seperti buku teks yang rumit dan membosankan, sebaliknya Anda mungkin akan merasa memasuki dunia yang sedikit penuh petualangan dan mengasyikkan.

Do Not Covet Your Ideas

Give away everything you know and more will come back to you. Kalimat serupa pernah diucapkan Ibu saya ketika pertama kali saya memutuskan untuk menjadi guru. Tepatnya, seperti ini ‘yang perlu kamu ingat ketika memutuskan untuk menjadi guru, jangan pelit dengan ilmu yang kamu punya. Jangan takut ilmu mu habis karena tuhan pasti akan memberinya lebih banyak lagi’.

Kalimat awal saya kutip dari bukunya Paul Arden, yang berjudul ‘It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be. Saya ambil salah satu isi dari bab Do Not Covet Your Ideas.

Kita tentu ingat ketika murid-murid di sekolah menutupi jawaban soal mereka dengan menelungkupkan lengan mengelilingi kertas untuk menghindari contekan teman. Situasi yang sama terjadi di tempat kerja. Orang akan merahasiakan ide-ide mereka. Buku ini menyatakan jika kita menyimpan ilmu hanya untuk diri sendiri maka kita hidup dengan ilmu itu saja (baca: puas dan tidak berkembang alias macet). Sebaliknya, dengan memberikan ilmu yang kita punya kepada orang lain maka diri kita akan selalu mencari pengetahuan lain untuk menggantikan ilmu yang telah kita berikan. Mengutip kembali tulisan dari bab ini ‘Somehow the more you give away the more comes back to you’.

Ide atau gagasan adalah pengetahuan yang terbuka. Jangan pernah mengakuinya sebagai milikmu sendiri. Gagasan itu bukanlah kepunyaanmu. Mereka milik orang lain. Ide-ide itu bertebaran dimana-mana. Diri kita hanyalah mengambil satu bagian daripadanya.