Do Not Covet Your Ideas

Give away everything you know and more will come back to you. Kalimat serupa pernah diucapkan Ibu saya ketika pertama kali saya memutuskan untuk menjadi guru. Tepatnya, seperti ini ‘yang perlu kamu ingat ketika memutuskan untuk menjadi guru, jangan pelit dengan ilmu yang kamu punya. Jangan takut ilmu mu habis karena tuhan pasti akan memberinya lebih banyak lagi’.

Kalimat awal saya kutip dari bukunya Paul Arden, yang berjudul ‘It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be. Saya ambil salah satu isi dari bab Do Not Covet Your Ideas.

Kita tentu ingat ketika murid-murid di sekolah menutupi jawaban soal mereka dengan menelungkupkan lengan mengelilingi kertas untuk menghindari contekan teman. Situasi yang sama terjadi di tempat kerja. Orang akan merahasiakan ide-ide mereka. Buku ini menyatakan jika kita menyimpan ilmu hanya untuk diri sendiri maka kita hidup dengan ilmu itu saja (baca: puas dan tidak berkembang alias macet). Sebaliknya, dengan memberikan ilmu yang kita punya kepada orang lain maka diri kita akan selalu mencari pengetahuan lain untuk menggantikan ilmu yang telah kita berikan. Mengutip kembali tulisan dari bab ini ‘Somehow the more you give away the more comes back to you’.

Ide atau gagasan adalah pengetahuan yang terbuka. Jangan pernah mengakuinya sebagai milikmu sendiri. Gagasan itu bukanlah kepunyaanmu. Mereka milik orang lain. Ide-ide itu bertebaran dimana-mana. Diri kita hanyalah mengambil satu bagian daripadanya.

This entry was posted in Non Fiksi. Bookmark the permalink.

12 Responses to Do Not Covet Your Ideas

  1. bayuhebat says:

    Yups. sama kaya sedekah harta pasti beganti hartanya. kalo sedekah ilmu mungkin lebih maknyus

  2. Aki Herry says:

    Amat sangat mencerahkan Mba’. Hatur- nuhun sekali

  3. wisnu says:

    kalo ga punya ide… apa yang mo dibagi mbak??

    πŸ˜› hehehe tapi bener itu πŸ™‚ boleh pinjem bukunya? keknya bagus tuh bukunya

  4. Enggar says:

    Aki:
    Sami-sami, Aki.
    Wisnu:
    Duh, tidak merasa ilmu open source-nya segudang? Belum yang lain-lainnya. Bagi-bagi donk ke aku :). Pinjem buku? Iya, boleh.

  5. Dian says:

    “Kita tentu ingat ketika murid-murid di sekolah menutupi jawaban soal mereka dengan menelungkupkan lengan mengelilingi kertas untuk menghindari contekan teman.”
    Untuk kasus ini gimana, Mbak? Perlu kita bag juga ide-nya? πŸ™‚

  6. Enggar says:

    Iya ya, enaknya gimana ‘Dian? πŸ™‚

  7. lainsiji says:

    kadang masalahnya tidak sekedar pelit membagi ide

    tapi juga perasaan bahwa ide itu adalah murni dari nya.
    padahal adalah kenyataan… sekarang ini tidak ada lagi ide yang benar-benar murni, apa yang kita pikirkan adalah hasil bentukan dari banyak pemikir pemikir lain sebelum kita.

    πŸ™‚

  8. Enggar says:

    Yup. Karena ide itu tidak ada yang benar-benar murni :).

  9. Kukuh TW says:

    β€œKita tentu ingat ketika murid-murid di sekolah menutupi jawaban soal mereka dengan menelungkupkan lengan mengelilingi kertas untuk menghindari contekan teman.”

    masa sudah capai2 belajar, pas ujian, jawabannya kita sharing ke temen yang males belajar ?

  10. Enggar says:

    Kiasan itu mah. Dan jangan langsung ditafsirkan. Biar lebih lengkap dan jelas, baca bukunya, ok? :).

  11. Gunawan TW says:

    to Kukuh,
    Elo kayak yang rajin belajar saja di sekolah. Padahal elo kan kerjanya nyontek melulu! πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.