Seandainya Mereka Bisa Bicara

Judul asli: If Only They Could Talk
Penulis: James Herriot
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku lama yang masih sangat memikat hati. Dan berharap suatu saat Gramedia atau penerbit manapun mencetak ulang kembali 🙂

Herriot adalah dokter muda yang baru saja lulus. Ia mendapatkan jawaban dari Darrowby, sebuah praktik hewan besar di Yorkshire Dales. Siegfried Farnon, calon majikannya, meminta Herriot datang untuk diwawancarai. Jika kedua pihak setuju, maka Farnon akan mengangkat Herriot menjadi asistennya. Maka, berangkatlah Herriot menuju Yorkshire. Yorkshire dalam bayangan Herriot adalah sebuah kota yang kaku dan membosankan. Walau bagaimanapun Herriot patut bersyukur dengan panggilan pekerjaan ini, karena pada masa itu Inggris sedang berada dalam kondisi yang sulit, di mana semua orang berebut mencari pekerjaan.

Gambaran tentang sebuah kota yang membosankan sedikit demi sedikit lenyap dari bayangan Herriot ketika ia memasuki kota Yorkshire untuk pertama kalinya. Herriot melukiskannya seperti ini:

“Pegunungan yang tinggi dan tak berbentuk itu mulai terurai jadi bukit-bukit hijau dan lembah-lembah luas. Di dasar lembah tampak sungai yang berliku-liku di antara pepohonan. Rumah-rumah petani yang terbuat dari batu yang kokoh dan berwarna kelabu, tampak seperti pulau di tengah ladang yang diusahakan. Ladang itu terbentang ke atas seperti tanjung yang hijau cerah di lereng bukit.

“.. kota ini sesungguhnya indah. Tepi sungainya berbatu-batu kerikil. … Di mana-mana, di jalan-jalan, melalui jendela-jendela rumah, kita dapat melihat bukit itu melatarbelakangi deretan rumah. Bukit itu tampak besar dan megah. Udaranya bersih dan segar.”

Pemandangan Yorkshire yang indah seketika membuat Herriot jatuh cinta. Cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan karena sejak hari itu Herriot resmi memulai karirnya sebagai dokter hewan di pedesaan Yorkshire.

Buku ini mengisahkan pengalaman-pengalaman menarik Herriot selama bekerja menjadi dokter hewan serta pergaulannya dengan penduduk setempat. Berbagai cerita dituliskan dengan sangat menarik dan penuh humor, terkadang membuat kita tertawa tergelak-gelak, di lain waktu mampu membuat kita begitu terharu.

Buku yang sungguh menginspirasi, membangkitkan semangat sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral yang patut dijunjung tinggi, tanpa menggurui.

Firefly dan Pencarian Tupai Hitam

Judul asli: Firefly and the Quest of the Black Squirrel
Penulis: J.H. Sweet
Penerbit: KidClassic Publication

Bercerita tentang empat sekawan: Grace, Beth, Vinca dan Lenox. Mereka juga merupakan peri. Sebagai peri, mereka mempunyai tugas untuk melindungi alam dan menyelesaikan masalah-masalah serius terutama yang disebabkan oleh makhluk gaib lain.

Suatu hari sesosok goblin bernama Anathema Bane membuat sebuah kutukan yang sempurna. Kutukan sempurna adalah sebuah kutukan yang lengkap dan tak bisa dibalikkan. Mantra hitam itu akan membunuh semua tupai hitam dalam waktu satu bulan. Namun bagian terburuknya adalah bahwa ini kutukan berantai yang disertai penanggalan, dirancang untuk menyerang setiap spesies di setiap bulannya. Misalnya, bulan depan rusa yang mendapat giliran, bulan berikutnya beruang, sampai kemudian kutukan itu akan mencapai manusia. Kutukan tidak akan berhenti sebelum semua kehidupan di atas bumi punah.

Bunda buana meminta bantuan semua peri, baik yang lama dan baru untuk bekerjasama menghentikan kutukan. Sebagai langkah awal, mereka harus menemukan obat untuk menyembuhkan tupai hitam. Jika obat dapat ditemukan maka penyakit dapat dihentikan sebelum kutukan itu menyebar ke spesies lainnya. Obat itu adalah semanggi bulan biru. Semanggi bulan biru hanya tumbuh di Hutan Terlupakan dan semanggi bulan biru hanya dapat ditemukan oleh Rusa Jantan Hitam. Dan hanya seekor kurcaci yang tahu cara menemukan Rusa Jantan Hitam.

Bagaimanakah kelanjutannya? Berhasilkah Lenox, si peri kunang-kunang bersama teman-temannya menghentikan kutukan jahat itu?

Leaving Microsoft to Change the World

Judul: Leaving Microsot to Change the World
Penulis: John Wood
Penerbit: Bentang Pustaka

John Wood adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan besar, Microsoft. Berawal dari kunjungan John ke sebuah desa terpencil, di dataran tinggi Nepal, yang dihuni oleh orang-orang buta huruf dan kebanyakan anak-anak putus sekolah, kemudian membuat John melepaskan karir bagusnya di Microsoft. John memilih untuk mendirikan lembaga nirlaba yang menyediakan dana untuk pendidikan anak-anak di negara berkembang.

Menyadari bahwa kesempatan yang dia miliki sekarang adalah berkah dari sebuah pendidikan yang baik, maka John ingin memberikan peluang yang sama kepada anak-anak yang kurang beruntung. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah memberikan bantuan banyak buku ke sekolah yang membutuhkan di Nepal. Mengirimkan dana untuk membangun sekolah, lab komputer dan lab bahasa. Lembaga ini diberi nama Room to read. Pada proyek sosial pertamanya John menggunakan kas pribadi. Berikutnya, dibantu donasi dari para donatur. Lembaga ini kemudian melebarkan bantuannya ke negara-negara berkembang lain, seperti vietnam, kamboja, india. Serta memberikan beasiswa kepada anak-anak perempuan yang diberi nama room to grow.

Mengutip kalimat bijak dari seorang rekan John ‘Ketika Anda mendidik seorang anak laki-laki, Anda mendidik hanya seorang anak laki-laki. Tetapi ketika Anda mendidik seorang anak perempuan, Anda mendidik seluruh keluarga, dan generasi berikutnya’.

John dan timnya meyakini untuk menciptakan perubahan sosial yang abadi di negara-negara berkembang adalah memasukkan anak-anak perempuan sejak dini ke sekolah dan menjaga agar mereka tidak putus sekolah setidaknya sampai akhir sekolah lanjutan. Kelak mereka akan lebih percaya diri dan terberdayakan serta mandiri secara finansial.

Yang terutama, pendidikan akan menghantarkan kita kepada nilai-nilai moral kehidupan serta pilihan dan kesempatan hidup yang lebih baik.

Marya, Wanita Luar Biasa

Judul: Marya, Wanita Luar Biasa
Penulis: Hendrasmara
Penerbit: Navila

“Aku tak akan runtuh oleh situasi maupun oleh orang atau orang-orang”. (Marie Curie)

Marya Sklodovoska lahir tanggal 7 November 1867. Ia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Marya (Marie) sekeluarga tinggal di Polandia, yang masa itu dijajah oleh bangsa Rusia. Sebagai negara jajahan, warga Polandia diharuskan mempelajari bahasa Rusia. Tidak ketinggalan di sekolah tempat Marie belajar. Namun guru kelas Marie seringkali mencuri-curi waktu menggunakan bahasa Polandia ketika mengajar. Tentu saja bila ketauan bisa celaka.

Ayah Marie, dipecat dari pekerjaannya disebabkan loyalitasnya terhadap tanah air. Marie dan saudara-saudaranya hidup dalam keprihatinan. Beruntung Marie berada dalam lingkungan yang saling mengasihi satu sama lain. Ketika Marie berusia 11 tahun, ibu yang dicintai kembali kepada Sang Pencipta, karena sakit TBC yang dideritanya. Sebelumnya, kakak Marie juga meninggal karena sakit. Demi pengorbanan sang ibu dan kakak terkasih, serta ayah yang telah bekerja keras untuk keluarga serta kesetiaan terhadap tanah air, Marie dan saudara-saudaranya bertekad untuk belajar tekun dan bekerja keras agar dapat menyelesaikan studi dengan gemilang.

Semua rintangan yang ada tidak menyurutkan langkah Marie untuk mewujudkan cita-cita.

Karya Marie yang mengesankan adalah penemuan dan pemisahan elemen kimia radium. Sebelumnya, ia sudah menemukan elemen radioaktif lain yang dijulukinya “polonium,” diambil dari nama negeri asalnya, Polandia.

Bersama suaminya, Piere Curie, Marie menerima nobel untuk bidang fisika. Dan nobel kedua kalinya diterima Marie untuk bidang kimia.

Marie Curie meninggal dunia tahun 1934. Diduga akibat berulang kali berhadapan dengan benda-benda yang mengandung radioaktif.

Kedisiplinan, kegigihan, ketekunan, dan perjuangan hidupnya sungguh patut disimak. Pengorbanan yang tiada tara dan penyerahan diri secara total untuk mengabdikan diri demi ilmu pengetahuan, kemanusiaan, serta bangsa dan tanah air yang dicintai sungguh mengharu biru perasaan.

Cecilia dan Malaikat Ariel

Judul asli: Through a Glass, Darkly
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan Pustaka

Cecilia adalah seorang gadis kecil yang sedang sakit keras. Sepanjang hari Cecilia terbaring di tempat tidur. Cecilia marah kepada Tuhan dan mengganggap Dia tak adil.

Namun keajaiban terjadi di malam natal tahun itu, seorang malaikat – Ariel namanya- mengunjungi Cecilia. Mereka kemudian bersahabat. Malaikat meminta Cecilia memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia, dan malaikat Ariel akan memberitahukannya seperti apa surga itu.

“Ruh dan surga mempunyai jalan yang berdekatan. Ruh bersifat ilahiah. Meskipun manusia terbentuk dari atom-atom dan molekul-molekul, tetapi ruh manusia mungkin saja terpancar langsung dari pikiran Tuhan. Ruh manusia melompat-lompat di dalam sebuah otak yang dibentuk dari sejumlah partikel debu yang dahulu kala datang dari bintang-bintang di ruang angkasa. Pikiran dan perasaan manusia berputar terus menerus pada debu bintang yang tertata apik, yang di dalamnya semua ‘kabel’ syaraf dapat terhubung dengan cara-cara yang selalu baru.

Ariel, si malaikat Tuhan percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki miliaran mata sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Tuhan memberikan mata kepada ikan-ikan karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut. Manusia juga tidak bisa terbang, maka setiap waktu ada burung-burung melayang di angkasa dan mata mereka mengawasi dari atas. Dan kadang ada manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya, sehingga seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin, seperti langit dan laut. Langit becermin pada laut. Seperti itulah Tuhan bisa becermin pada sepasang mata manusia karena mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa becermin pada ruh.”

–Buku yang sangat menyentuh. Kita hanya bisa merasakan kedalamannya ketika membacanya sampai tuntas.

Misteri Soliter

Judul: Misteri Soliter
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Jalasutra

Siapakah Aku? Darimanakah Aku berasal? Dan kemanakah aku akan menuju?

Buku karangan Jostein Gaarder ini bercerita tentang perjalanan seorang anak laki-laki bernama Hans Thomas dengan ayahnya dalam upaya mencari ibunya. Hans adalah anak laki-laki berumur 12 tahun yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Ayah Hans adalah seorang yang jenius dan menyukai filsafat, walau sedikit pemabuk.

Di dalam perjalanan itu Ayah dan anak ini bercakap-cakap. Ayah Hans suka memancing Hans dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Serangkaian peristiwa aneh juga terjadi di dalam perjalanan itu. Dimulai dari lelaki kerdil yang memberi Hans kaca pembesar, kemudian tukang roti yang memberinya kue dan buku mungil yang berkisah tentang seorang pelaut yang terdampar di pulau terpencil. Dan di pulau itu dihuni oleh seperangkat kartu remi (baca: yang mewujud dalam sosok para kurcaci) yang di dalamnya membentuk sebuah permainan soliter.

Kartu remi ibarat sekumpulan manusia di bumi. Ada berbagai wajah manusia di bumi. Seperti juga halnya kartu remi: ada wajik, sekop, hati, dan keriting.Namun yang paling istimewa adalah Joker. Kehadirannya dalam setiap permainan selalu diperebutkan.

Seperti itu pulalah Joker digambarkan dalam buku Misteri Soliter. Seorang joker adalah orang yang jujur, pintar, cerdas, dan selalu banyak bertanya. Ia tidak keberatan untuk berbeda dengan orang lain. Baginya hidup adalah kebebasan untuk mendalami arti kehidupan itu sendiri. Joker adalah mewakili kehausan diri manusia yang ingin terus menerus lebih memahami arti dunia. Berbeda dengan kartu remi lainnya, bagi mereka hidup di dunia sudah begitu adanya.

“Tiba-tiba kusadari banyak manusia yang hidup di bumi tanpa sadar akan banyak hal di sekitarnya, seperti halnya para kurcaci pemalas di Pulau Ajaib itu. Kehidupan kita adalah bagian dari petualangan yang unik. Sekalipun demikian, sebagian besar dari kita berpikir dunia ini “biasa-biasa saja” dan terus menerus mencari sesuatu yang tak biasa-seperti bidadari atau makhluk angkasa luar. Tetapi itu terjadi karena kita tak menyadari bahwa dunia adalah misteri.”

Tidakkah pertanyaan mengenai siapa diri kita, darimana kita berasal menjadi sebuah misteri? Dan bagaimanakah mungkin sesuatu bisa muncul begitu saja dari ketiadaan? Bukankah itu seperti mimpi yang menakjubkan?

The Story Of My Life

Judul asli: The Story Of My Life
Penulis: Helen Keller
Penerbit: Genta Pustaka, Jakarta

The Story of My Life adalah kisah nyata perempuan buta, bisu, dan tuli, yang bernama Helen Keller.

Ketika Helen berusia 19 bulan ia terserang penyakit misterius. Helen menderita demam berkepanjangan yang nyaris meruntuhkan harapan orang tuanya. Sampai suatu hari, demam itu pergi dan Helen kecil sadar. Seluruh keluarganya bergembira. Awalnya, tak satupun dari mereka pun dokternya mengetahui bahwa sejak saat itu Helen tidak bisa melihat dan mendengar lagi.

Ketidakmampuan Helen untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri membuat ia menjadi pemarah. Helen tampak seperti anak yang sangat nakal dan sulit dikendalikan. Kondisi ini menyadarkan orang tua Helen untuk memberikan Helen pendidikan.

“Lambat-laun aku mulai terbiasa dengan kesunyian dan kegelapan yang mengelilingiku. Aku lupa bahwa dulu segala sesuatunya begitu berbeda, sampai guruku datang membebaskan jiwaku yang muram.” Anne Sullivan adalah guru sang pembawa cahaya dalam kehidupan Helen selanjutnya.

Anne Sullivan datang ketika Helen berumur 6 tahun 9 bulan. Kehadiran Anne memberikan oase bagi hidup Helen yang sunyi dan gelap. Helen menggambarkannya dalam kalimat yang puitis sebagai berikut:

“Pernahkah kau berada di lautan dalam kepungan kabut tebal, dan sebuah kapal besar dengan tegang dan waswas berusaha merapat ke pelabuhan dengan jangkar dan pita pengukur, dan dengan hati berdebar kau menunggu apa yang akan terjadi? Aku merasa menjadi seperti kapal itu saat pendidikanku belum dimulai, hanya aku tak memiliki kompas dan pita pengukur, dan tidak mungkin mengetahui seberapa dekat jarak pelabuhan. “Cahaya! Beri aku cahaya!” adalah tangisan tak bersuara dari jiwaku, dan cahaya cinta menyinariku tepat pada saat itu.”

Helen belajar mengeja kata melalui permainan jari. Sang guru mengeja kata-kata ke tangannya. Dari kata kemudian menjadi kalimat. Helen merasakan kegairahan yang luar biasa untuk belajar . “Aku bahagia sepanjang hari karena pendidikan telah menghadirkan cahaya dan musik ke dalam jiwaku.”

Helen membuat dunia terpana oleh prestasinya yang luar biasa. Ia menulis cerita pertama pada usia 12 tahun. Ia penderita buta-tuli pertama yang meraih gelar sarjana. Dan ia seorang yang tak kenal lelah menjelajah dunia dan mengobarkan semangat perjuangan untuk melawan peperangan dan penindasan terhadap kaum perempuan.

Memiliki pengetahuan berarti mengerti tujuan yang benar dan salah, mengerti hal-hal yang mulia dan yang hina.” (Helen Keller).

Betapa Helen mengajarkan kita untuk menghargai setiap waktu yang kita miliki di dunia ini untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik dari diri kita untuk kemaslahatan umat.

Dog Stories, Kisah-Kisah Anjing

Judul: Dog Stories Kisah-Kisah Anjing
Penulis: James Herriot’s
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku yang berisi kumpulan cerita tentang anjing-anjing dan pemilik mereka. Kisah nyata ini ditulis oleh James Herriot, dokter hewan yang bertugas di pedesaan Yorkshire yang indah.

Awalnya, Herriot bercita-cita menjadi dokter anjing. Sejak kecil ia terpesona oleh anjing. Bagi Herriot, anjing bukanlah makhluk yang biasa-biasa saja. Hewan ini mampu memperlihatkan kasih sayang dan kesetiaan yang tanpa batas.

Khayalan sebagai dokter anjing membawa Herriot pada pilihan profesi dokter ahli bedah hewan. Namun kemudian, situasi perekonomian menakdirkan Herriot untuk menempati kedudukan di Yorkshire Dales. Ini adalah praktik hewan besar yang berurusan dengan kuda pertanian, lembu, domba, dan babi. Tak ada anjing? Dan kemana impiannya, seorang dokter dengan jas praktek putih di bawah lampu operasi yang terang benderang dengan dikelilingi para perawat?

Namun, Herriot tidak punya waktu untuk menyesali semua itu. Seperti dituliskannya di bawah ini.

“Aku melewatkan waktu mengenakan kemeja biasa dan sepatu bot, melangkah susah payah mengarungi lumpur dan kotoran hewan, bergulat dengan hewan-hewan besar, ditendang, dirobohkan, dan diinjak-injak. Sebagai anak kota yang terlempar ke komunitas pedesaan terkecil yang hanya kubaca di buku, aku mirip perenang payah yang berusaha tetap mengambang di air dalam.”

Tapi, semua itu tidak sia-sia. Ada hal lain yang memesona Herriot di luar sana. Pemandangan Yorkshire yang indah. Seperti negeri ajaib. Dan ketika Herriot berada sendirian di lanskap itu, ia merasakan kesendirian, kedekatan dengan alam liar yang sangat menggugah semangat. Dan di desa ini, juga ada anjing-anjing yang harus ia tangani. Walaupun ia tak menjadi dokter anjing namun Herriot kerap menangani mereka juga.

Dan buku ini adalah kisah pengalaman Herriot dengan anjing-anjing itu. Ada Tricky, si anjing peking kesayangan Mrs. Pumphrey. Anjing betina Great Dane milik Harold, anjing betina yang tampak jinak namun sangat protektif sekaligus berbahaya saat melindungi anak-anaknya dan memberikan bekas luka gigitan di kulit paha Herriot. Tip, anjing pertanian yang tidur di bawah lapisan salju. Shep, anjing besar yang hobi menyalak dan berpura-pura ganas. Jake, anjing lurcher yang hidupnya berpindah-pindah bersama tuannya, Roddy Travers. Dan masih banyak cerita menarik lainnya.

Seperti Herriot bilang…
“Setiap anjing (dan pemiliknya) mempunyai kisah uniknya masing-masing…”

Dian Yang Tak Kunjung Padam

Judul: Dian Yang Tak Kunjung Padam
Penulis: S. Takdir Alisjahbana
Penerbit: Dian Rakyat

“… Bagi adinda tak ada jurang yang menceraikan kita berdua. Cinta yang suci seperti cinta kali ini, ialah pemberian Allah, dan sekalian perbuatan Allah tiada dapat dirusakkan oleh perbuatan manusia. Bukankah kebangsawanan itu perbuatan manusia belaka, manusia yang angkuh dan sombong?”

Di suatu malam, di tepian sungai Musi, Yasin menambatkan perahunya di dekat sebuah rumah yang besar dan tinggi. Di sanalah ia hendak menantikan hari siang untuk menjual para yang dibawanya dari kebun. Malam itu Yasin bersama Ibunya tidur di perahu.

Keesokan hari, Yasin bangun lebih pagi. Ketika ia sedang menikmati pemandangan disekelilingnya, tiba-tiba dari balik jendela rumah besar itu dilihatnya seorang gadis. Mata mereka bertemu. Itulah pertemuan pertama Yasin dengan Molek, anak perawan Raden Mahmud yang kaya raya. Pertemuan yang tak dapat dilupakan oleh keduanya.

Cinta yang bergejolak membuat Yasin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya melalui surat yang diselipkan melalui celah dinding tempat mandi Molek. Tempat ini akan menjadi saksi cinta dan kerinduan mereka yang ditumpahkan melalui surat-menyurat. Namun, hubungan cinta yang indah itu tidak mungkin dapat diwujudkan oleh karena perbedaan status sosial di antara mereka. Lamaran Yasin kepada keluarga Raden Mahmud ditolak.

Molek akhirnya dinikahkan oleh Sayid, saudagar kaya keturunan Arab. Molek menolak tapi keluarganya menerima pinangan lelaki kaya itu. Kehidupan perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan bagi Molek karena ia tidak mencintai Sayid. Suaminya pun sering bersikap kasar. Dalam surat-suratnya kepada Yasin, Molek menceritakan kesedihan dan kerinduannya kepada Yasin. Demi diketahuinya penderitaan Molek serta kerinduannya sendiri terhadap gadis itu, maka Yasin memberanikan diri untuk menemui Molek. Ternyata, itu adalah pertemuan terakhir Yasin dengan Molek. Karena setelah itu Molek meninggal dunia.

Mengutip sinopsis pada sampul buku:
“…Dalam kesetiaannya akan cinta, Yasin mengalami kebahagiaan abadi yang hanya untuk orang yang dapat melepaskan dirinya dari segala ikatan dan kong-kongan dunia. Meski secara fisik tak akan pernah bersatu, namun mereka percaya bahwa kelak cinta yang suci itu akan bertemu di alam lain.”

**
Karya sastra selalu menarik untuk disimak, selain memberikan pengetahuan dan latar belakang budaya, gaya bahasanya pun memikat hati. Bermanfaat sekali buat yang suka puisi, bisa menumbuhkan inspirasi 🙂

Kalatidha

Judul: Kalatidha
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kalatidha adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat.

Kalatidha, artinya adalah zaman gila atau zaman edan seperti ditulis oleh Rangga Warsita. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Kalatidha)

Bercerita tentang seorang pembobol bank yang masuk penjara. Di dalam sel ia  merekam kembali ingatan ke masa lalunya bersama kliping koran dari tahun 1965 milik kakaknya yang berhasil ia selundupkan.  Sebuah peristiwa sejarah G30S/PKI,  menjadi latar cerita dari novel Kalatidha ini.  Sejarah yang menyisakan luka bagi para korban dan keluarganya.

Adalah seorang gadis yang keluarganya dihabisi di depan kepalanya sendiri. Rumah mereka dibakar massa. Ia berhasil selamat walaupun menjadi gila. Gadis ini kemudian membalas dendam. Namun dalam kegilaannya masih saja ia diperlakukan kejam oleh orang-orang disekelilingnya.

Zaman edan,  sebutan yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang sakit. Di mana kebencian menghilangkan akal sehat, luka dan sakit hati meluapkan amarah dan dendam yang tak berperikemanusiaan.

Novel Seno Gumira yang ini memang berbeda dari novel-novel dia sebelumnya. Agak rumit dan alurnya meloncat-loncat. Tapi saya suka cara Seno memaparkan cerita tentang kabut, hutan bambu, dan cahaya. Khas Seno, puitis dan penuh makna.

“Pada mulanya memang kabut, masih, dan akan selalu kabut dan sebaiknya memang tetap saja kabut, yang kekelabuannya tiada pernah dan tiada perlu memberikan sesuatu yang jelas. Apalagi yang menarik dari hidup ini jika segala sesuatu sudah begitu jelas dan begitu pasti? Aku adalah anak kabut,dilahirkan oleh kabut, hidup di dalam kabut, dan hanya bisa hidup dalam dunia berkabut, karena hanya di dalam kabut aku bisa menjadi pengembara di dalam dunia yang kuciptakan sendiri. Hanya kabut, demi kabut, dan atas nama kabut kupertaruhkan hidup dan matiku, pahit dan manisku, suka dan dukaku, kebahagiaan dan kepahitanku, kehidupan dan kematianku dalam segala kemungkinan yang telah diciptakan Tuhan untuk dijelajahi olehku. kabut adalah duniaku-Dalam kabut itulah aku mengembara dan menjelajahi seribusatu kemungkinanku.”