Negeri Kabut


Judul: Negeri Kabut
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Cetakan: kedua, Juli 1999
Penerbit: Grasindo
Tebal: 122

Mengutip dari sinopsis, “Buku Negeri Kabut ini berisi tiga belas cerpen tentang perjuangan manusia dalam mencapai keinginannya. Terkadang, untuk mencapai semua itu, tanpa disadari sang tokoh harus bertindak di luar kemampuannya. Ada pula keinginan yang di luar kendalinya: sang tokoh terjebak dalam suatu konflik yang tak mungkin dapat dihindari lagi. …. Segala sesuatu terjadi begitu saja. Tanpa siasat, tanpa rencana.”

Cerita pertama yang sekaligus menjadi judul buku ini adalah Negeri Kabut. Negeri kabut berkisah tentang seorang laki-laki yang selama hidupnya terus berpetualang. Dalam Perjalanannya menuju Negeri Kabut, ia banyak bertemu dengan pengembara lainnya. Para pengembara itu menyampaikan berita-berita dari tempat mereka yang jauh; peperangan, wabah penyakit, pembunuhan, dan kisah sedih lainnya. Para pengembara selalu mengatakan kepada lelaki itu bahwa setiap orang harus peduli dengan keadaan dunia yang dihidupinya. Mereka bilang, orang yang mencari ilmu harus kembali pulang untuk menyelamatkan bangsanya. Lelaki itu terdiam. Ia merenung, bertanya-tanya apakah pengembaraannya selama ini untuk mencari ilmu? Lelaki itu ragu. Mungkin yang sebenarnya ia hanya melarikan diri dari segala persoalan, dari kenyataan, karena ia sebenarnya tak cukup tabah untuk menghadapi penderitaan.

Kedua belas cerpen lainnya sama menariknya dengan Negeri Kabut. Namun seperti yang banyak dikatakan orang, tulisan Seno di buku Negeri Kabut ini adalah sebuah karya sastra surealis. Setiap pembaca mempunyai interpretasi yang berbeda atas karya sastra yang dibacanya. Maka, pesan dan makna yang ingin disampaikan dalam setiap cerita di buku ini akan lebih mengena jika Anda membacanya langsung.

Saya sendiri paling suka kisah Negeri kabut. Menggambarkan bahwa sesuatu yang sempurna, nyaris tak memberikan tantangan di dalamnya. Kesempurnaan tidaklah selalu memberikan rasa nyaman, seperti yang kita kira. Kita, manusia membutuhkan ketegangan, kesulitan, serta tantangan dalam hidup untuk memahami arti perjuangan dan kehidupan itu sendiri.

Posted in Kumpulan Cerpen | 6 Comments

Dua Ibu


Judul: Dua Ibu
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 300

“Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat kebahagiaan anak orang lain, dengan rasa bahagia pula.”

Ada Solemah, Mujanah, Mamid, Ratsih, Herit, Jamil, Adam, Priyadi, dan Prihatin. Anak-anak yang tinggal dan diasuh oleh seorang perempuan yang mereka panggil Ibu. Ibu yang merawat semua anaknya dengan penuh kasih sayang. Ibu, yang kata orang, bukan ibu kandung untuk semua anak yang diasuhnya, kecuali Jamil. Ibu yang setiap kali ditanya mengenai asal usul anak-anaknya akan menjawab dengan pendek.
“Semua anak yang ada di sini adalah anak Ibu”

Solemah sudah menikah dan tinggal bersama suaminya seorang kopral Angkatan Laut di Surabaya. Kemudian Mujanah juga menikah. Pada waktu mereka menikah dahulu, Ibu menjual peninggalan Ayah dan harta benda yang dimilikinya untuk membiayai pesta pernikahan Solemah dan Mujanah. Ada Mamid, seorang anak laki-laki. Ibu kandungnya adalah tante Mirah, yang dulunya juga adalah anak yang pernah diasuh Ibu. Tante Mirah menikah dengan om Bong dan pindah ke Jakarta, menitipkan Mamid untuk diasuh Ibu. Dua belas tahun kemudian setelah berkali-kali tante Mirah meminta Mamid untuk pindah ke Jakarta bersamanya, Mamid memutuskan untuk ikut, demi saudara-saudaranya.

Kemudian Ratsih menikah dengan sersan kepala dan tinggal di Surabaya. Herit, ikut bersama Ratsih. Jamil, anak kandung Ibu mengembara ke Jakarta. Cita-citanya menjadi pelaut.

Adam dan kedua adik kandungnya, Priyadi dan Prihatin, anak kandung Pak De Wiro. Pak De Wiro mengemukakan keinginannya untuk membawa pulang kembali ketiga anaknya kepada Ibu. Pak De Wiro menitipkan ketiga anaknya kepada Ibu setelah kematian istrinya. Adam menolak. Ia bertekad untuk menemani Ibu selamanya. Ibu membujuknya karena khawatir disangka ingin memiliki mereka. Pak De Wiro pada akhirnya memang menuduh Ibu sengaja tidak melepaskan Adam.

“Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Sampai Ibu mati, saya akan tetap bersama Ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan mengubur Ibu.”

Ibu, Surat

“Hidup itu adakalanya gelap adakalanya terang. Jangan terlalu sedih kalau lagi gelap, jangan terlalu gembira kalau lagi terang. … Mintalah selalu kepada Tuhan. Tuhan-lah yang Maha Mengetahui. BagiNya selalu ada jalan bagi kita yang meminta.”

**
Beberapa nukilan yang bagus dari buku Dua Ibu.

“Jangan ikut-ikutan yang jelek. Kalau kau baik, mereka akan ikut-ikutan baik.”
“Tak ada yang lebih baik dari nasihat panjang-lebar selain contoh.”

Ini adalah kisah tentang kasih sayang dari perempuan yang dipanggil Ibu oleh anak-anaknya, tidak peduli apakah itu anak kandung atau anak orang lain. Ibu yang rela menanggung kepedihan dan kelaparan demi kenyamanan dan kenyang putra-putrinya. Ibu yang memendam semua kegetiran hidup untuk dirinya sendiri. Dan Ibu yang dengan kebesaran hati mengorbankan kebahagiaanya sendiri untuk kebahagiaan orang lain.

Arswendo menuliskan cerita ini dengan gayanya yang alami. Kita seperti melihat fragmen kehidupan sesungguhnya. Ada keharuan yang menyeruak sekaligus keluguan di dalamnya. Cerita yang sederhana namun hidup.

Posted in Novel | Leave a comment

Heidi

Judul: Heidi
Penulis: Johanna Spyri
Penerbit: Bentang
Tebal: 334

Heidi adalah gadis kecil yatim piatu yang tinggal bersama Nenek dan bibinya. Setelah kematian sang nenek, Bibi Heidi memutuskan menerima pekerjaan di lain kota. Namun ia tak bisa membawa Heidi dan memutuskan untuk menitipkan Heidi ke Paman Alm yang tinggal di gunung.

Paman Alm terkenal sebagai sosok yang menakutkan. Ia tak pernah mau bergaul dengan masyarakat setempat. Itulah sebabnya Paman Alm memilih menetap di puncak gunung. Sendirian. Paman Alm memelihara sekumpulan kambing. Kambing-kambing itu dipelihara oleh seorang anak laki-laki, Peter namanya. Setiap hari Peter datang dan menggembala kambing-kambing itu. Heidi ikut bersama Peter menggembalakan kambing-kambing.

Pegunungan Alpen ternyata sangat indah. Aroma dan warna-warni bunga-bunga, puncak gunung yang tertutup salju serta cara matahari mengucapkan selamat malam kepada gunung-gunung dengan api senja-nya memesona Heidi.

“Dia memancarkan sinarnya yang indah ke atas gunung-gunung itu supaya mereka tidak melupakannya sampai dia datang lagi keesokan paginya.”

Musim berlalu dan tiba saatnya Heidi untuk sekolah. Heidi telah terlambat satu tahun ajaran, dan itu menyebabkan kepala sekolah di desa Dorfli mengirim surat teguran untuk Paman. Namun Paman tak menggubris, pun ketika pastor mendatangi rumahnya. Sampai suatu ketika Bibi Heidi datang menjemput Heidi. Ia akan membawa Heidi ke Frankfurt atas permintaan seorang saudara majikannya yang kaya raya. Heidi akan menjadi teman bagi anak saudaranya itu. Paman Alm marah namun ia membiarkan Bibi membawa Heidi.

Klara, nama gadis yang lumpuh itu. Keceriaan Heidi memikat hati Klara. Gadis kecil itu membuat hari-hari Klara tidak lagi membosankan. Ada saja kejutan. Sikap Heidi yang lugu dan ramah juga menarik hati Sebastian, pelayan di rumah itu. Ayah dan nenek Klara pun menyayangi Heidi. Mereka memperlakukannya dengan baik. Namun Heidi tak mampu menyembunyikan kerinduan pada Paman Alm, nenek Peter, lembah, gunung-gunung, api senja, serta kambing-kambing milik Paman. Ia sering menangis diam-diam. Badannya semakin kurus. Heidi juga tanpa sadar berjalan dalam tidur. Dokter Klassen, sahabat baik Ayah Klara memutuskan untuk memulangkan Heidi ke rumahnya. Heidi akan sehat kembali jika ia diijinkan pulang. Maka, Ayah Klara memutuskan untuk mengirim Heidi pulang ke rumahnya di gunung.

Heidi kembali kepada gunung-gunung, serta pohon cemara yang meniupkan alunan musik merdu di padang rumput yang subur. Kedatangan Heidi kali ini memberikan keajaiban bagi Paman Alm.

Apakah keajaiaban itu? Dan bagaimana dengan Klara? Apakah Heidi melupakan Klara?

**
Johanna meracik cerita anak-anak ini dengan apik. Persahabatan, Tuhan, dan kebaikan hati menjadi tema yang dominan dalam cerita ini. Melalui Heidi, Johanna ingin mengungkapkan bahwa kebahagiaan dapat hadir dalam bentuk yang sederhana.

Posted in Cerita Anak | 2 Comments

Anak Bajang Menggiring Angin

Judul: Anak Bajang Menggiring Angin
Penulis: Sindhunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: kesembilan, Agustus 2010
Tebal: 467

Alkisah, di sebuah negeri Lokapala, seorang putra dari Begawan Wisrawa, Prabu Danareja jatuh cinta pada putri Sukesi. Putri dari sahabatnya, Sumali, seorang raksasa dari negeri Alengka. Sang Ayah yang sangat mencintai anaknya memutuskan untuk pergi menemui Sumali untuk melamar putri Sukesi. Sesampai di sana, Begawan Wisrawa mengutarakan niatnya. Sumali, sahabat yang dikasihinya itu menceritakan syarat yang diinginkan oleh Sukesi. Sukesi bersumpah hanya mau menerima lamaran dari orang yang bisa menerjemahkan arti mimpinya, yaitu menguraikan makna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Wisrawa memutuskan untuk menguakkan makna Sastra Jendra demi putranya.

Apakah Sukesi berhasil menguraikan Sastra Jendra? Apakah dengan memahami Sastra Jendra maka keduanya telah menjadi sempurna sebagai titah? Batara Guru memutuskan untuk turun ke dunia, ia akan mencobai kekuatan budi Wisrawa dan Sukesi.

Gagal menaklukkan kedua makhluk dunia yang berada di ambang kesempurnaan, Batara Guru kembali ke kahyangan. Sementara itu jagad raya bergemuruh. Bala tentara kejahatan menemui Batara Guru.
“Hai Raja para Dewa, keluarlah, dan dengarkanlah kami,”
“Lihatlah, berjuta-juta manusia yang mengiringi kami. Mereka ini belum lelah dengan dosa-dosanya. pandanglah tangis mereka. Kami ingin mereka tetap menangis, karena memang demikian kehendak mereka. Jangan sampai tangis mereka diubah menjadi kebahagiaan oleh kesucian Wisrawa dan Sukesi, yang kini sudah berada di ambang Sastra jendra.”

“Maka, hai Raja para Dewa, jangan kau mengira mereka telah berhasil memasuki alam ilahimu. Mereka masih milik kami. Percobaanmu terhadap mereka belum lengkap. Manusia itu adalah laki-laki dan wanita. manusia belum menjadi ilahi, bila hanya lelaki saja yang bisa memiliki cahaya ilahi. Dan manusia belum ilahi pula, bila hanya wanita saja yang bisa memiliki cahaya ilahi. Turunlah ke dunia dan cobailah mereka berdua bersama-sama. Nanti kau akan tahu bahwa keduanya adalah makhluk yang masih ingin berdosa. Wisrawa dan Sukesi tak mungkin menghindar dari kekuasaan kami. mereka sama dengan manusia-manusia yang mengiringi kami dengan tangisnya ini.”

Batara Guru kembali ke dunia bersama Dewi Uma. Keduanya menyusup ke dalam tubuh masing-masing pria dan wanita itu. Wisrawa dan Sukesi pada akhirnya gagal menghayati Sastra Jendra dalam kehidupannya meski mereka sudah memahami dalam pikirannya. Dalam penyesalannya mereka berdua mendengar suara ilahi.

“… “Hati manusia dalam badan jasmaninya itu demikian lemahnya. Budimu bisa membayangkan keluhuran apa saja, tapi serentak dengan itu hatimu bisa terjerumus ke dalam kenistaan tak terkira. Maka, anakku Sastra Jendra pada hakekatnya adalah kepasrahan hati pada ilahi, supaya yang ilahi menyucikannya. Kepasrahan hati itulah yang tak kau alami, ketika kau merasa memahami Sastra Jendra. Kau dihukum oleh kesombongan budimu sendiri, yang tidak mempedulikan jeritan hati dalam belenggu jasmaninya yang masih berdosa tapi ingin pasrah.”

Dan, Sukesi pun melahirkan kandungannya, seorang anak dengan sepuluh muka raksasa, yang kemudian dinamakan Rahwana. Kelak, Rahwana inilah yang menculik Dewi Sita dari suaminya, Rama. Sepuluh muka Rahwana melambangkan semua nafsu manusia dan kekacauan budinya.

Diilhami dari kisah pewayangan Ramayana, Sindhunata mengemas karya sastra ini dengan sangat menarik, dan sarat dengan nilai-nilai filosofi.

Posted in Klasik dan Sastra | Leave a comment

Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman


dokumentasi: Gramediashop

Judul: Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman
Tim Penyunting: Arif Zulkifli, Bagja Hidayat, Dwidjo U. Maksum, Redaksi KPG
Penerbit: KPG
Cetakan: pertama, September 2010
Tebal: 172

“Dia yang berjuang dengan seluruh hidup dan ketajaman pena”

Kisah Hatta, satu dari empat buku seri pendiri pendiri Republik, yaitu: Sukarno, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir.

Bung Hatta lahir di Bukittinggi, kota yang membelah Ngarai Sianok, tepatnya di Desa Aur Tajungkang. Beliau lahir pada tanggal 12 Agustus 1902. Hatta lahir dari perpaduan dua keluarga terkemuka: pemuka agama dan saudagar. Latar belakang keluarga membentuk Hatta menjadi pribadi yang religius. Nurcholish Madjid menyebut Hatta sebagai sosok yang rendah hati, memiliki ketulus-ikhlasan, kesederhanaan, serta kedalaman pikiran. Hatta adalah pribadi yang sepenuhnya modern sekaligus pekat dengan perilaku keagamaan yang saleh.

Kesadaran politik Hatta mulai berkembang ketika ia belajar di MULO. Hatta sering hadir dan mengikuti ceramah yang diadakan oleh tokoh politik lokal. Persentuhannya dengan politik dimulai ketika ia melihat ketidakadilan yang ditebarkan oleh kolonial Belanda. Saat itu Hatta bersekolah di sekolah dasar Belanda (ELS) di Bukittinggi, ketika kerabat kakeknya, Rais, ditangkap oleh pemerintah karena mengkritik seorang pejabat Belanda yang melakukan perbuatan ‘tidak senonoh’ dalam surat kabar Utusan Melayu. Hatta terkesan dengan sikap kerabat kakeknya, yang melambaikan tangan dari jendela kereta api dengan tangan yang dirantai.

Ingatan itu kelak menjadi sumber kekuatannya, ketika berpuluh tahun kemudian ia dan beberapa pemimpin lainnya ditangkap. Langkahnya tak juga surut.

Apa arti tanah air bagi seorang Hatta? Bagi Hatta tanah air adalah sesuatu yang berkembang dengan kerja. Seperti diucapkannya di hadapan mahkamah di Den Haag ketika ia ditangkap karena aktivitas politiknya. “Hanya satu tanah air yang dapat disebut Tanah airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku.”

Hatta, tokoh sederhana dengan pemikiran yang cerdas dan ketajaman pena yang mumpuni, adalah satu dari tokoh pemimpin yang pernah dimiliki negeri ini. Tulisan-tulisan ilmiahnya tersebar di berbagai jurnal dalam dan luar negeri.

Krisis yang menghantui Indonesia saat ini persis sama seperti gambaran yang pernah dituliskan Hatta di tahun 1962.

“Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot. Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban, sehingga memicu pergolakan daerah. Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Sejarah adalah pengalaman yang berulang. Dan jika Indonesia terperosok ke lubang yang sama maka mungkin itu karena Indonesia tidak sungguh-sungguh belajar dari sejarah yang benar.

Membaca buku Hatta ini akan mengajak kita merenungkan dan memikirkan kembali pandangan-pandangannya yang jauh ke depan. Seperti cita-citanya yang sederhana, melihat Indonesia, tanah airnya di kemudian hari dapat lebih maju.

Posted in Biografi | 2 Comments

Rahasia Presentasi Steve Jobs

Judul Asli: The Presentation Secrets of Steve Jobs
Penulis: Carmine Gallo
Penerjemah: P.A. Letari, S.E.
Penerbit: Esensi (Erlangga Group)
Cetakan: satu, 2011
Tebal: 222

Ini adalah buku yang saya peroleh dari hadiah kuis yang diadakan oleh Penerbit Esensi melalui akun twitter mereka di @penerbitesensi. Kuis berupa tweet bagaimana Steve Jobs menginspirasimu. Untuk pertama kalinya saya berhasil memenangkan kuis berhadiah buku, dan tidak hanya satu tapi dua dari dua penerbit yang berbeda, Esensi dan Mizan. Alhamdulillah 🙂

Baiklah, mari kita mulai.

Seorang komunikator yang baik adalah mereka yang dapat memberi inspirasi. Mereka memperlakukan produk yang mereka ciptakan tidak sekedar barang, melainkan ‘sesuatu’ yang mempunyai makna. CEO Starbuck, Howard Schulz tidak menjual kopi, mereka menjual ‘tempat ketiga’ antara kantor dengan rumah. Demikian juga Steve Jobs. Jobs tidak menjual komputer. Ia menjual alat agar manusia bebas memaksimalkan potensinya.

Sejak muda Jobs jatuh cinta pada visi mengenai bagaimana komputer pribadi akan mengubah masyarakat, pendidikan, dan hiburan. Gairah ini menular dan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Gairah ini pula yang memancar ketika ia tampil melakukan presentasi. Ia termotivasi oleh keinginan untuk mengubah dunia, untuk ‘memberi warna di jagat raya’.

Steve Jobs adalah komunikator yang paling memukau di panggung dunia. Antusiasme dan energi yang dipancarkan oleh Steve memukau para audiensnya. Ia selalu melakukan kontak mata, isyarat tangan dan postur terbuka setiap kali berbicara dengan mereka.

Banyak orang yang menantikan presentasi Steve Jobs. Mereka rela antre untuk mendapatkan tempat duduk terbaik di pidatonya. Video presentasi Jobs di youtube pun banyak diakses oleh ribuan atau bahkan jutaan orang.

Apa saja rahasia presentasi Jobs?
1. Menciptakan Cerita
2. Menciptakan Pengalaman
3. Memoles dan Melatih diri

Jobs mengandaikan “setiap presentasi menceritakan sebuah kisah, dan setiap slide mengungkapkan sebuah skenario”. Maka ia membagi presentasinya ke dalam adegan tiga babak. Presentasi Jobs mirip dengan adegan dramatis dari sebuah drama di panggung-panggung theater.

Ingin mengetahui lebih lengkap Rahasia Presentasi Jobs? Silakan baca bukunya. Buku ini juga dapat menjadi pegangan Anda yang ingin belajar untuk menjadi komunikator yang handal.

Jangan membayangkan isi buku ini seperti buku teks yang rumit dan membosankan, sebaliknya Anda mungkin akan merasa memasuki dunia yang sedikit penuh petualangan dan mengasyikkan.

Posted in Non Fiksi | Leave a comment

Pangeran Kecil


dokumentasi: pribadi

Judul Asli: Le Petit Prince
Penulis: Antoine De Saint – Exupery
Penerjemah: Tresnawati, Ratti Affandi, Hennywati, Lolita Dewi, Wing Kardjo
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya
Cetakan: kedua, 1981
Tebal: 93

Dalam rangka #SavePustakaJaya, bulan November dari tanggal 1-15 BBI mengadakan program baca buku-buku Pustaka Jaya. Buku-buku karya penerbit Pustaka Jaya mengingatkan kita pada buku sastra bermutu. Kali ini saya memilih buku Pangeran Kecil karya pengarang Perancis, Antoine De Saint – Exupery. Pangeran Kecil pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1979, sebagai cetakan pertama. Buku ini sempat menghilang lama dari peredaran, sebelum akhirnya muncul dan diterbitkan ulang oleh PT. Gramedia Pustaka.

Suatu hari seorang pilot terdampar dan pesawat terbangnya mogok di gurun. Tempat itu jauh bermil-mil dari pemukiman orang. Di sinilah ia bertemu dengan seorang laki-laki kecil, yang kemudian disebutnya dengan pangeran kecil. Pangeran kecil ini berasal dari sebuah planet yang lain, Asteroide B-61, sebuah planet yang kecil, ukurannya tidak lebih besar dari sebuah rumah.

Pangeran kecil meminta sang pilot untuk menggambar seekor biri-biri. Sang pilot mengelak pada mulanya. Ia melepaskan bakatnya yang mungkin gemilang dalam lukis melukis ketika masih kecil. Itu adalah saat ketika ia menggambar seekor ular sanca yang sedang mencerna seekor gajah. Tapi orang-orang dewasa mengatakan itu adalah gambar sebuah topi. Bahkan ketika ia mencoba menjelaskan dengan menggambar bagian dalam ular sanca itu.

“Orang-orang dewasa tak pernah mampu mengerti sendiri dan sungguh sangat menjemukan bagi anak-anak untuk selalu dan selalu memberi penjelasan.” (hal 10)

Namun akhirnya pilot menggambarkan seekor biri-biri untuk pangeran kecil. Tapi berulang kali si pangeran menolak gambar biri-biri yang telah dibuat si pilot. Dengan kesal pilot menggambar sebuah kotak dengan tiga lubang di luar. “Ini kotak. Biri-biri yang kau inginkan ada di dalamnya.” dan jawab sang pangeran “Ini dia yang kuinginkan! Apakah biri-biri itu memerlukan rumput banyak?”

Sejak itu pangeran kecil dan sang pilot akhirnya berteman. Planet tempat pangeran kecil mempunyai tiga buah gunung berapi. Dan seperti planet lainnya di sana juga ada tanaman. Tanaman itu ada yang baik dan jelek. Pangeran kecil mempunyai bunga mawar yang sangat disayanginya walaupun bunga itu sangat sombong. Di planet pangeran ada benih tanaman yang sangat berbahaya, itulah pohon baobab. Pohon itu jika besar dapat membebani planet dan akarnya bisa melubangi tanah, Bila planet terlalu kecil dan baobabnya terlalu banyak, planet pun terbongkahlah. Karena itu pangeran mendisiplinkan dirinya untuk selalu mencabuti baobab.

“pekerjaan yang sangat membosankan, tetapi sesungguhnya sangat mudah”

“Menangguhkan pekerjaan kadang-kadang tidak menimbulkan kerugian. Tetapi kalau mengabaikan pohon baobab, berarti bencana.”

Suatu ketika, pangeran kecil bertanya apa gunanya duri pada bunga. Sang pilot yang sedang sibuk memperbaiki pesawat terbangnya, menjawab dengan seenaknya.

“Aku lagi sibuk dengan hal-hal yang sungguh-sungguh.”

Pangeran kecil tercengang. “Kamu ngomong seperti orang dewasa”

Katanya lagi “Aku mengenal suatu planet pada tempat seorang tuan berkulit merah tua. Ia tidak pernah mencium bunga. Ia tidak pernah memandang bintang. Ia tidak pernah mencintai seseorang. Ia tidak pernah mengerjakan apa-apa selain jumlah-menjumlah. Dan sepanjang hari ia seperti kamu, ia selalu berkata, “Aku orang yang bersungguh-sungguh. Aku orang yang bersungguh-sungguh.” Dan itu membuat dadanya busung karena congkak. Tapi ia bukan manusia, ia jamur!” (halaman 28)

Sebelum bertemu dengan sang pilot, pangeran kecil telah mengunjungi planet-planet lainnya. Di planet pertama ia bertemu dengan seorang raja. Raja itu tidak mempunyai pengikut.

“Pangeran kecil tidak tahu bahwa kita para raja dunia sangat sederhana. Semua adalah abdinya.”

Planet kedua berisi orang yang gila hormat.

“Senangkanlah hatiku. Walau begitu kagumilah aku!”
“Aku mengagumimu,” kata pangeran kecil sambil mengangkat bahu. “Tetapi apa untungnya bagimu?”

Planet ketiga diisi oleh peminum.

“Mengapa kau minum?” pangeran kecil bertanya.
“Untuk melupakan … bahwa aku merasa malu,” peminum mengaku sambil menundukkan kepala.
“malu karena apa?” desak pangeran kecil yang ingin menolongnya.
“Malu karena aku peminum,” jawab peminum. Kemudian ia bungkam dalam seribu bahasa.

Yang keempat berisi pengusaha. Si pengusaha selalu menghitung bintang-bintang. Ia orang yang serius dan bersungguh-sungguh. Ia meyakini diri memiliki bintang-bintang dengan cara menghitungnya.

“Aku mempunyai sekuntum bunga yang kusiram setiap hari. Aku mempunyai tiga buah gunung yang selalu kubersihkan setiap minggu, sebab aku membersihkan juga gunung-gunung yang sudah mati. Sebab siapa tahu! Dengan demikian pemilikan bermanfaat bagi bunga dan bermanfaat bagi gunungku. Tapi dengan memilikinya, kau tidak ada gunanya bagi bintang-bintangmu…,” ujar si pangeran kecil.

Planet kelima hanya cukup tempat untuk sebuah lentera dan seorang penyulut lentera. Bagi pangeran kecil, si penyulut lentera bisa menjadi sahabatnya dibanding yang lain.

“Barangkali karena ia sibuk dengan sesuatu yang lain daripada dirinya sendiri.”

Pangeran kecil terus mengunjungi planet-planet lainnya. Ia telah bertemu dengan banyak manusia dewasa.

“Manusia,” kata pangeran kecil, “mereka menjejalkan dirinya ke dalam kereta api kilat, tetapi mereka tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya mereka cari. Demikianlah, mereka tergesa-gesa, sibuk, dan berputar dalam lingkaran,”
Dan ia menambahkan, “Tidak ada gunanya…”

Jika menjadi dewasa hanya membuat kita sibuk dengan diri sendiri serta kehilangan antusiasme dan imajinasi,mungkin saatnya kita berpikir kembali untuk belajar menjadi kanak-kanak. Mereka juga akan mengajari kita pada cinta, seperti dialog indah yang dilakukan oleh seekor rubah dengan pangeran kecil.

“Pergilah lihat kembali bunga-bunga mawar itu. Kamu akan mengerti bahwa mawarmu betul-betul tunggal adanya di dunia. ”

Pangeran kecil pun pergilah melihat kembali mawar-mawar.

“Kalian sama sekali tidak serupa dengan mawarku, kalian belum apa-apa bagiku,” katanya kepada mereka. “Tidak ada seorang pun yang menjinakkan kalian dan kalian tidak menjinakkan siapa pun.”

“Kalian cantik, tetapi kalian hampa,” katanya lagi pada mereka. “Tidak ada yang sanggup mati bagi kalian. Tentu saja bagi orang yang lalu, mawarku dikiranya mirip dengan kalian, mawar biasa, tapi ia, walaupun setangkai, lebih penting dari kalian semua, karena hanya dialah yang kusirami. Karena dialah yang kuletakkan di bawah sungkup. Karena dialah yang kulindungi dengan penahan angin. Untuk kepentingannya kubunuh ulat-ulat kecuali dua atau tiga untuk kupu-kupu. Karena dialah yang kudengarkan keluhnya, bualannya, ataupun kadang-kadang kebisuannya. Karena ia mawarku.”

Posted in Klasik dan Sastra | 3 Comments

Linguae

Judul: Linguae
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 128

Berisi 14 kumpulan cerpen. Satu di antaranya menjadi judul buku ini, yaitu: Linguae. Linguae, dalam bahasa latin artinya lidah. Linguae berkisah tentang pasangan yang saling mencinta dan bagaimana lidah begitu berperan untuk menyatakan perasaan cinta melebihi kata-kata.

“…kupersembahkan cintaku dalam percakapan tanpa kata karena lidah kami menyatakan segalanya dengan lebih nyata daripada kata-kata dalam tata bahasa sempurna manapun di dunia.”

Di “Cintaku Jauh di Komodo” bercerita tentang pasangan yang saling mencintai seiring wujud mereka yang terus be-reinkarnasi, bahkan ketika salah satunya berubah wujud menjadi komodo. Atau kisah tentang seorang perempuan yang baru saja diceraikan suaminya dan memesan “rembulan dalam cappucino” di sebuah kafe. Sendu sekaligus menggelitik. Ada juga kisah manusia yang bersayap dalam lakon “Joko Swiwi”.

“Senja di Pulau Tanpa Nama” bercerita tentang sebuah senja dan bagaimana pesona senja menghadirkan perasaan cinta. Atau “Perahu Nelayan Melintas Cakrawala” yang berkisah tentang sebuah gambar di dalam kartu pos. Gambar perahu nelayan dengan layar dan cadiknya dan sebuah kenangan.

“Perjumpaan dan perpisahan. Upacara kehidupan. Apakah aku masih akan berjumpa lagi denganmu, suatu ketika entah kapan dan entah di mana?”

“Aku sendirian saja di pantai ini, terbekukan menjadi gambar. Pada kartu pos, perahu nelayan itu masih saja melintas cakrawala dalam senja yang terus merayap dan akan menjadi malam-bersama dirimu…”

Seno sangat piawai memainkan kata-kata. Puitis dan penuh imajinasi. Kisah-kisah di dalam buku ini begitu sederhana, namun Seno melukiskannya dengan sangat indah dan imajinatif.

Posted in Kumpulan Cerpen | 3 Comments

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis

Judul Asli: By The River Piedra I Sat Down and Wept
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 222

“Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.”

Berkisah tentang dua sahabat, pria dan wanita. Mereka tumbuh dan tinggal di sebuah kota kecil, Soria, di Spanyol. Si lelaki kemudian memutuskan untuk melihat dunia, sementara yang perempuan memilih Zaragosa sebagai tempatnya untuk meneruskan sekolah. Sesekali mereka kerap berkirim surat.

Suatu ketika, si pria mengundang Pilar -nama si wanita- untuk menghadiri pertemuan, di mana si lelaki akan memberikan ceramah. Sahabat masa kecilnya ini ternyata adalah seorang pemimpin spiritual. Dalam sebuah kesempatan, yang telah lama dinanti dan diangankan, si lelaki menyatakan perasaan cintanya kepada si perempuan. Cinta yang tumbuh sejak mereka kanak-kanak. Pilar bukannya tidak mengetahui, sesungguhnya ia pun mencintai lelaki ini.

Namun Pilar mencoba mengelak. Dunia lelaki ini berbeda dengan dirinya. Pilar adalah perempuan yang takut menghadapi hal-hal tak terduga. Ia menginginkan kehidupan yang aman dan biasa.

“Kau harus mengambil resiko, ia berkata. Kita hanya dapat memahami keajaiban hidup sepenuhnya jika kita mengizinkan hal-hal tak terduga untuk terjadi.”

Cinta yang tumbuh perlahan mengubah pandangan Pilar atas pilihan hidup. Namun ketakutan itu masih membayanginya.

“Namun cinta itu mirip bendungan: jika kau membiarkan satu celah kecil yang hanya bisa dirembesi sepercik air, percikan itu akan segera meruntuhkan seluruh bendenungan, dan tak lama kemudian tak seorang pun bisa mengendalikan kekuatan arusnya. Setelah bendungan itu runtuh, cinta pun mengambil kendali, dan apa yang mungkin ataupun tidak, tak lagi berarti; bahkan bukan masalah apakah orang yang kita cintai itu tetap di sisi kita atau tidak. mencintai berarti kehilangan kendali.”

Pilar berkeras tak membiarkan celah itu ada. Pertarungan antara logika dengan kekuatan cinta menjadi renungan yang menarik, yang disajikan dalam buku ini. Tidak hanya Pilar, si lelaki pun sebenarnya menghadapi dilema yang sama. Memilih hidup normal dengan wanita yang ia cintai atau kehidupan religius-nya.

Di tepi sungai Piedra, keduanya akan memutuskan jalan hidup mereka selanjutnya.

**

Cinta tidak pernah membuat kita menderita, karena seperti Coelho bilang “..dalam setiap cinta ada benih pertumbuhan diri. Semakin kita mencinta, semakin kita dekat pada pengalaman spiritual.”

“… pengalaman spiritual sesungguhnya adalah pengalaman praktis dari cinta. Dan cinta tidak mengenal peraturan.”

“Cinta sejati adalah penyerahan diri seutuhnya. Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya.”

Posted in Novel | 2 Comments

Maya, Misteri Dunia dan Cinta

Judul: Maya, Misteri Dunia dan Cinta
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Winny Prasetyowati
Penerbit: Mizan
Halaman: 458

“Kita adalah teka-teki yang tak teterka siapapun”

Di sebuah kepulauan Fiji, tepatnya pulau Taveuni beberapa turis tanpa sengaja bertemu. Mereka ada di sana dalam rangka menyaksikan pergantian milenium. Ada John Spooke, seorang penulis Inggris yang masih berduka akan kematian istrinya. Frank Andersen, seorang ahli biologi evolusioner dari Norwegia, yang telah kehilangan seorang anak dalam sebuah kecelakaan tragis dan berpisah dari istrinya, Vera serta Ana dan Jose, pasangan penuh teka-teki dari spanyol.

Frank adalah narator dari kisah ini. Ia menuliskan surat untuk Vera, istrinya. Cerita bermula ketika Frank melakukan ekspedisi di sebuah pulau Fiji untuk tugas menyelidiki bagaimana spesies-spesies tanaman dan hewan yang didatangkan dari luar daerah telah memengaruhi keseimbangan ekologi. Pulau Taveuni merupakan rangkaian tahap akhir dari ekspedisi panjang Frank di Pasifik. Sebelum kembali ke negaranya, Frank memutuskan untuk berlibur beberapa hari di Taveuni sekaligus merayakan datangnya abad milenium di pulau yang disebut menjadi tempat berpenduduk pertama di dunia yang akan melihat milenium ketiga.

Di sebuah resor ini lah Frank bertemu dan berkenalan dengan beberapa turis lainnya. Mereka adalah: Laura, Bill, John, Jose dan Ana-pasangan penuh teka-teki dari spanyol. Beberapa kali kesempatan, disengaja maupun tidak, Frank, Jose dan Ana seringkali bertemu. Kesenangan Jose dan Ana mengutip kalimat-kalimat ganjil tentang alam semesta dan joker menarik perhatian Frank. Rasanya sejak pertama kali John melihat Ana, ia meyakini bahwa dirinya pernah melihat wajah Ana, entah di mana. Ada sesuatu yang begitu misterius pada diri perempuan itu. Dan pada saat yang sama, Frank pun memiliki perasaan yang tidak menyenangkan bahwa pada suatu waktu telah terjadi sesuatu pada Ana.

Rasa ingin tahu Frank yang tinggi terhadap pesan-pesan Jose dan Ana memenuhi sebagian besar isi surat Frank kepada Vera. Belum lagi percakapan imajiner Frank dengan seekor tokek di kamar hotelnya. Siapakah Ana? Siapakah joker? Dan apa hubungan Ana dengan Maya, si model lukisan Maja dari karya Goya yang terkenal itu?

Jostein memberikan renungan kepada kita bahwa keberadaan alam semesta dan seluruh isinya memiliki makna, pun hidup kita sendiri.

“Kita adalah bagian dari sesuatu yang sangat besar.” (halaman 366)

Posted in Filsafat | 1 Comment