Dewi Kawi

Judul Buku: Dewi Kawi
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Tahun Penerbitan: 2008
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Eling adalah pengusaha kaya yang memulai hidupnya dari mengumpulkan sisa-sisa daun kol yang membusuk. Di masa silam ia pernah mencintai seorang wanita yang kemudian menjadi sumber inspirasinya. Kawi, nama wanita itu. Eling ingin membalas budi kebaikan wanita itu dengan memberi nama kehormatan Dewi Kawi untuk satu usaha bisnisnya. Ia berniat mencari Dewi Kawi.

Satu setengah tahun kenangan bersama Kawi merupakan peristiwa-peristiwa terpadat dalam hidup Eling. Namun ajaib ia tak lagi bisa mengingat dengan baik wanita yang pernah lekat dalam hidupnya. Untuk akhirnya Eling ragu, apakah wanita itu pernah benar-benar ada dalam kehidupannya? Apakah ia mencintainya? Atau apakah ini semua hanya khayalan yang berusaha ia ciptakan agar seolah-olah menjadi nyata? Bukankah untuk seorang pengusaha sukses seperti dirinya maka kisah hidupnya dianggap menjadi sebuah kebenaran?

Bagi Eling, kenyataan atau kebenaran ternyata bukan apa yang dialami, melainkan juga bisa diciptakan kembali, dibentuk kembali, dan kemudian dipercaya bersama orang lain.

Demikian juga kisah cintanya dengan Kawi, sungguhkah ia mencintai wanita itu? Atau ia yang menghidupkan, melebih-lebihkan dan membuat segala sesuatunya menjadi indah? Seperti halnya sebuah dusta. Manusia memerlukan dusta sebagaimana ia memerlukan bernapas. Dusta adalah upaya yang wajar untuk membuat sebuah perubahan dari peristiwa yang terjadi.

Arswendo mengibaratkan dusta sebagai berikut:
Dalam keadaan jatuh cinta, kita menangkap senyuman sebagai perhatian, kita menemukan realitas lain dari sebatang cokelat sebagai sesuatu yang istimewa. Mereka yang tengah jatuh cinta sebenarnya sedang mendustai dalam pengertian mengubah realitas yang ada.

Cinta adalah dramatisasi, rekonstruksi ulang segala kejadian yang dialami-atau tak dialami secara langsung. Ketika kita larut di dalamnya , dan tak mampu membedakan mana peristiwa yang sesungguhnya dan mana yang olahan, sempurnalah sudah libatan emosi itu.

Dan ukuran cinta tidak sekedar perhatian tapi juga ada ikatan emosional yang rutin di dalamnya. Maka,itulah sebabnya putus cinta bagai meneteskan air mata hangat, karena membekas. Masalahnya memang, hanya kenangan.

Tarian Bumi

Judul Buku: Tarian Bumi
Penulis: Oka Rusmini
Tahun Penerbitan: 2007
Cetakan Ke: Pertama
No ISBN: 978-979-22-2877-9/979-22-2877-2
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cerita tentang seorang anak perempuan bernama Telaga yang lahir dari seorang Ibu bernama Luh Sekar, perempuan sudra yang menikah dengan seorang Ida bagus (nama depan laki-laki dari kasta Brahmana, kasta tertinggi dari masyarakat bali). Sudra adalah kasta terendah dalam masyarakat bali.

Telaga atau lengkapnya Ida Ayu (nama depan anak perempuan kasta brahmana) Telaga Pidada menyandang gelar bangsawan. Sejarah hidup Telaga sendiri penuh luka. Karena cintanya pada seorang laki-laki dari kasta sudra ia bersedia menanggalkan kebangsawannya.

Pernikahan Telaga dan Wayan sejak semula tidak direstui oleh kedua belah pihak orang tua mereka. Ibu Telaga, yang kemudian berganti nama menjadi “Jero” (Jero adalah nama yang harus dipakai oleh seorang perempuan sudra yang menjadi anggota keluarga griya) Kenanga, dulunya seorang penari sudra yang sangat cantik. Kehidupan keluarganya yang miskin dan terhina membuat Kenanga sangat berambisi untuk menjadi kaya dan terhormat. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan keinginan itu adalah dengan menerima pinangan dari lelaki bangsawan yang tidak dicintainya. Bagi Kenanga, cinta tak penting, yang utama adalah kekayaan.

Laki-laki bangsawan yang dinikahi Kenanga kemudian ditemukan meninggal dalam dekapan pelacur. Ibu mertua Kenanga adalah wanita yang sangat keras. Sejak awal ia tidak menyukai anak laki-laki kesayangannya menikahi perempuan sudra. Ia menerapkan aturan yang sangat kaku. Bagi nenek Telaga, wibawa harus terus dijaga agar orang di luar griya mau menghargainya.

Dalam rumah besar dan mewah itu hanya teriakan nenek dan kata-kata kasar ayah yang sering keluar. Ibu Telaga jarang berbicara. Dan kakek hanya bisa diam. Setelah kematian ayah Telaga disusul kemudian nenek, Ibu mulai mengatur kehidupan Telaga. Kenanga tidak membiarkan Telaga berpikir untuk hidupnya sendiri. Keinginan-keinginan Kenanga adalah harga mati yang tak seorang pun bisa membelokkannya, pun demikian jodoh untuk Telaga, putri satu-satunya.

Sementara itu, Ibu Wayan, sangat keberatan niat putranya menyunting Telaga. Tak pantas laki-laki sudra meminang perempuan brahmana. Jika itu terjadi maka dikhawatirkan malapetaka akan menimpa keluarga mereka. Namun pernikahan tidak dapat dibatalkan karena Telaga telah mengandung calon benih Wayan. Telaga dan Wayan menikah untuk kemudian mereka tinggal bersama Ibu Wayan.

Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama. Wayan ditemukan meninggal di studio lukisnya. Dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa Wayan mengidap penyakit jantung bawaan sejak kecil. Kematian putra satu-satunya mendorong Ibu Wayan meminta Telaga untuk melakukan upacara Patiwangi. Ibu Wayan meyakini sebelum Telaga melakukan upacara itu, selamanya ia akan menjadi pembawa malapetaka.

Upacara patiwangi adalah semacam upacara pamitan kepada leluhur di griya (tempat tinggal kasta Brahmana), karena ia tidak lagi menjadi bagian dari keluarga griya. Bukan sebuah upacara yang mudah. Karena upacara ini akan menurunkan harga diri keluarga griya dan menjatuhkan nama baik mereka. Dengan upara pamit ini akan menimbulkan masalah, karena Telaga akan dijadikan contoh dan dapat menyebabkan banyak Ida Ayu yang kawin dengan laki-laki sudra. Dan ini adalah aib bagi leluhur griya.

**
Kisah yang menarik. Pembaca diajak mengenal dan mengetahui lebih dalam kehidupan para perempuan Bali. Di tengah dunia yang bergerak maju, masih ditemui bentuk ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Keterikatan pada adat dan budaya membuat mereka memasrahkan diri sekaligus mencoba memberontak.

Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu

Judul: Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu
Penulis: Tolstoy
Penerbit: Jalasutra

Setelah Pesta Dansa adalah salah satu kisah dari buku kumpulan cerpen Tolstoy yang berjudul Tuhan Maha Tahu, tapi Dia menunggu.

“Hidup ini tidak bisa ditebak.”

Aku pernah begitu mencintai seorang perempuan. Ayah gadis ini adalah seorang bangsawan. Suatu hari diadakan pesta dansa di rumah ayah Varenka, nama gadis ini. Aku datang. Di pintu masuk aku disambut oleh Ayah dan Ibu Varenka. Mataku tak sengaja bersitatap dengannya. Saat itu aku merasa jatuh cinta. Mata kami saling menatap. Tak aku pedulikan orang-orang di sekitarku. Sepanjang malam itu perhatianku tak lepas dari dirinya. Varenka membalas perhatianku. Aku berdansa dengan Varenka. Menemaninya makan malam. Melihatnya berdansa dengan ayahnya. Kolonel Barishnykov, ayah Varenka adalah seorang pedansa ulung. Kemudian, aku diperkenalkan oleh ayahnya dan bercakap-cakap. Malam itu pikiranku penuh oleh bayangan dirinya, bahkan ketika aku sampai di rumah.

Aku gelisah, tak bisa tidur. Malam beranjak pagi dan akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, terjadilah suatu peristiwa yang kemudian mengubah perjalanan hidupku selanjutnya. Sayup-sayup kudengar bunyi tambur. Pelan tapi mengarah ke tempat aku berdiri. Iringan tambur terdengar semakin keras disertai derap langkah sepatu tentara. Bayangan itu semakin dekat dan aku melihat pasukan tentara mengawal seorang pemberontak. Bajunya sobek dan kumal. Langkah kakinya tampak berat karena kedua pergelangan tangannya dirantai. Tangannya pun ikut dibelenggu ikatan rantai yang berat. Sesekali pemberontak itu terlihat menggeliat dan berteriak. Teriakannya terdengar memilukan dan menyayat hati. Ia dipecut. Bunyi tali pecut itu terdengar jelas mengalahkan derap pasukan tentara. Aku hampir menutup telingaku, tak sanggup aku mendengar teriakannya.

Darah mengucur dari bekas luka pecutan. Si pemberontak terjatuh dan tentara di barisan depan memaksanya berdiri, namun si pemberontak terjatuh kembali. Sampai kemudian terdengar aba-aba berhenti dan komandan pasukan memberi perintah kepada si pemberontak untuk berdiri. namun perintah itu sia-sia. Komandan pasukan marah, mengambil tali pecut dan memecut pemberontak itu dengan bernafsu. Dari gerakannya aku dapat melihat ia puas telah menyakiti pemberontak itu. Teriakan pilu pemberontak tak dihiraukannya. Setelah puas komandan pasukan membalikkan badannya ke arahku. Aku tak percaya, ketika aku melihat wajahnya, ia adalah kolonel Barishnykov.

Sejak dini hari itu aku tak bisa melupakan wajah kesakitan si pemberontak, bunyi tambur dan derap pasukan tentara serta wajah haus darah dan sorot mata kejam kolonel Barishnykov. Aku masih beberapa kali menemui Varenka. Tapi setiap kali menatap mata Varenka aku melihat bayangan peristiwa dini hari itu. Kengerian itu menghantuiku. Akhirnya kuputuskan pergi dari kota itu dan meninggalkan Varenka.

**
Perilaku barbar manusia seperti di atas nyatanya masih tampak di abad 21. Kebencian dan aniaya menjadi jalan pintas untuk menyikapi sebuah perbedaan. Apakah selamanya manusia tak pernah belajar dari sejarah hidupnya sendiri?

Sang Pemberontak

Judul asli: The Outsider, Sang Pemberontak
Penulis: Albert Camus
Penerbit: Liris

Camus, si pengarang The Outsider adalah filsuf yang mengenalkan filsafat absurditas. Absurdisme sendiri adalah paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal (absurd). Kesadaran para pengikut aliran itu terhadap tata tertib sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Absurdisme)

Novel sastra ini bercerita tentang seorang laki-laki, Mersault yang rela mati demi kebenaran. Mersault dikenal sebagai orang yang pendiam, baik dan mengasihi orang yang membutuhkan pertolongan. Awal cerita bermula dari kematian ibunda Mersault yang dititipkan di panti wreda. Pada saat mengunjungi jenasah sebelum proses pemakaman, Mersault tidak menunjukkan ekspresi seorang anak yang kehilangan Ibu. Reaksi yang dimunculkan Mersault mengundang gugatan dan pertanyaan.

Sehari setelah kematian Ibunya, laki-laki ini pergi berenang dan bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Dan mereka pergi nonton film komedi malam harinya.

Mersault kemudian juga berkenalan dengan tetangganya yang bernama Raymond. Raymond menghidupi dirinya dari para wanita. Raymond menyebutnya sebagai ‘Penjaga Gudang.’ Ada juga seorang tua dengan anjingnya.

Suatu saat Raymond bermasalah dengan seorang perempuan. Mersault membantu Raymond. Raymond bebas namun kakak dan teman gadis ini tampaknya tak suka.

Pada suatu hari, Raymond mengajak Mersault dan kekasihnya berlibur ke pantai, di rumah sahabat Raymond. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para lelaki teman wanita Raymond. Mereka sampai di rumah sahabat Raymond. Ketika Raymond, Mersault dan sahabatnya ini tengah berjalan-jalan di pantai, para lelaki musuh Raymond muncul. Pertikaian pertama menyebabkan luka di wajah sahabat Raymond. Perkelahian usai.

Menit berikutnya Mersault sedang menyusuri pantai ketika ia melihat salah satu musuhnya berbaring di pantai. Mersault meneruskan berjalan tapi kemudian sebuah benda tajam menyentuh pelipisnya. Rasa asin dan bau darah menerpa penciumannya. Dalam siraman cahaya matahari yang menyilaukan dan luka yang dialiri bulir-bulir air berwarna merah sehingga mengaburkan pandangannya, Mersault mengeluarkan senapan yang dipinjamkan sahabat Raymond. Dilepaskannya tembakan sebanyak empat kali.

Akibat tindakan itu Mersault menjadi tawanan dalam penjara. Ia kemudian di hukum mati. Namun Mersault dihukum bukan karena tindakan pembunuhan itu melainkan oleh karena alasan norma dan ketentuan moral etika dalam menanggapi kematian ibunya.

Mersault dalam perenungannya tak habis mengerti mengapa bukti bersalah yang memberatkan hukumannya adalah berkaitan dengan sifat-sifat dalam dirinya. Para hakim, jaksa mempertanyakan perilakunya yang tidak menangisi kematian Ibunya. Mereka beranggapan Mersault adalah monster yang harus dibasmi.

“Kujelaskan bahwa keadilan itulah yang memvonisku hukuman mati. Pendeta bilang, hukuman itu tak menghapuskan dosaku sama sekali. Kubilang aku tak tahu apa dosaku. Aku hanya diputuskan bersalah. Aku bersalah dan harus membayarnya. Jadi, tak ada lagi yang bisa diminta dariku.”

“Aku mungkin dungu tapi aku yakin atas diri sendiri, yakin akan semuanya, yakin atas hidupku dan kematian yang mendatangiku. Ya, itulah yang kumiliki. Tapi setidaknya itu kebenaran yang kupegang sebagaimana kebenaran itu memegangku. Aku telah hidup dengan cara tertentu, aku juga bisa hidup baik dengan cara lain. Telah kulakukan ini dan tak kulakukan itu. Aku tak melakukan satu hal, sebaliknya kulakukan yang lainnya. Lantas kenapa?”

Bagi Mersault, hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup akan berharga jika ia mempunyai makna. Karena itu walaupun Mersault tahu bahwa kematian membayanginya, ia memilih untuk menghadapinya dengan tegar.

Sebelas Patriot

Judul: Sebelas Patriot
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit : Bentang

Sebelas Patriot adalah novel karya Andrea Hirata yang bercerita tentang persepakbolaan. Sepertinya peluncuran buku ini memang tepat dengan momen Kemerdekaan RI yang dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia pada hari ini tanggal 17 Agustus 2011.

Adalah tiga bersaudara yang sangat mencintai sepakbola. Salah satunya si bungsu adalah Ayah Ikal yang berperan sebagai pemain sayap kiri. Kepiawaian mereka di lapangan sepakbola dianggap Belanda, yang zaman itu menduduki Indonesia, sebagai ancaman yang tidak main-main.

Van Holden, sebagai utusan VOC di Indonesia, memahami bahwa keberadaannya di negeri ini berkaitan juga dengan politisi utusan ratu Belanda. Setiap aspek, termasuk sepak bola, adalah politik dan ia akan menggunakannya untuk satu tujuan yaitu melanggengkan pendudukan Belanda di Indonesia. Lagipula selama ini tak ada yang berani mengalahkan tim sepakbola gabungan Belanda. Maka, kepopuleran tiga bersaudara itu dapat mengancamnya dari dua sisi. Simpati pada tiga bersaudara itu dapat berkembang menjadi lambang pemberontakan sekaligus mengancam kejayaan tim sepakbola Belanda. Mau tidak mau mereka harus dibungkam.

Demi untuk memuluskan tujuannya, Van Holden melakukan berbagai cara. Dari melarang ketiga saudara itu tampil dalam kompetisi sepak bola sampai mengurung dan memberlakukan hukuman kerja rodi kepada pelatih dan tiga bersaudara itu. Sekembali dari pulau buangan, tiga saudara kembali bekerja di parit tambang. Tak lama kemudian ada kompetisi bola antara tim Belanda melawan para kuli parit tambang. Sebelas pemain, sebelas patriot, termasuk di dalamnya tiga bersaudara kembali bermain.

Pertandingan itu dimenangkan oleh tim parit tambang dengan skor 1-0. Gol satu-satunya yang dicetak oleh si bungsu. Ribuan penonton menyerbu lapangan dan si bungsu, Ayah Ikal, seperti kebiasaannya setiap bermain, meneriakkan Indonesia! Indonesia!. Kalimat itu disambut oleh teriakan ribuan penonton lainnya. Indonesia! Indonesia! Teriakan penuh semangat yang membahana dan tanpa henti. Belanda berang mendengarnya.

Usai pertandingan pelatih dan tiga bersaudara diangkut ke tangsi. Mereka dikurung selama seminggu. Ayah Ikal pulang dengan tempurung kaki kiri yang hancur. Sejak saat itu ia tidak bisa bermain sepak bola lagi.

Kecintaan Ayah pada sepak bola dan PSSI, kemudian membuat Ikal bertekad untuk menjadi pemain sepakbola dan bergabung dengan tim PSSI. Akankah Ikal dapat mewujudkan impiannya? Silakan dibaca sendiri ya.

**
Moral pesan dari buku ini adalah cinta. Cinta yang membuat kita dapat berdiri tegak. Cinta yang membuat kita sekuat tenaga meraih kemenangan. Dan itu adalah cinta yang kita persembahkan untuk negeri ini, tanah air Indonesia.

Mengutip tulisan Andrea:

“…. Indonesia, bangsaku, bagaimanapun keadaannya, adalah tanah mutiara di mana aku telah dilahirkan. Indonesia adalah tangis tawaku, putih tulangku, merah darahku, dan indung nasibku. Tak ada yang lebih layak kuberikan bagi bangsaku selain cinta, dan takkan kubiarkan lagi apapun menodai cinta itu, tidak juga karena ulah para koruptur yang merajalela, biarlah kalau tidur mereka didatangi kuntilanak sumpah pocong.”

Khas Andrea, di tengah keharuan selalu terselip candaan yang membuat kita ingin tertawa.

Dirgahayu Indonesia. Berdiri tegaklah merah putih. Selamanya, kami akan mencintaimu.

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Judul asli: Bibbi Bokkens magische Bibliothek
Penulis: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerbit: Mizan

Dalam keriangan musim panas ini,
Segelas coca cola kami nikmati,
Nills dan Berit, itulah kami,
Menghabiskan liburan kami di sini.
Sangat indah di atas sini,
Sampai kami tak ingin pergi.

Itulah puisi yang dibuat oleh dua saudara sepupu, Nills dan Berit. Mereka tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan satu sama lain Berit dan Nills membuat sebuah buku surat yang mereka saling tulisi dan kirimkan.

Cerita bermula ketika Berit memungut sebuah surat yang jatuh dari tas tangan seorang wanita, yang bernama Bibbi Bokken. Surat itu kemudian dikirimkannya kepada Nills. Surat yang dikirim oleh seseorang bernama Siri ini membangkitkan jiwa petualangan pada diri Berit dan Nills. Surat itu juga menyebut tentang Perpustakaan Ajaib, Bibliografer dan incunabula.

Bibbi Bokken si bibliografer itu akan mengumpulkan semua buku yang pernah ditulis dari seluruh dunia, dan termasuk di dalamnya buku-buku yang baru akan diterbitkan tahun depan dan buku-buku yang sedang ditulis.

Namun, apa hubungannya itu semua dengan Berit dan Nills? Rencana apa yang sedang dirancang oleh Bibbi Bokken dan komplotannya dengan melibatkan Berit dan Nills dalam permainan mereka? Berit dan Nills tidak tinggal diam, mereka tertantang untuk mengungkapkan semua misteri ini.

Di tangan Nills dan Berit cerita berkembang. Dari Catatan Harian Anne Frank sampai Winnie The Pooh, dari Lima Sekawan sampai Astrid Lingdren, dari kisah detektif sampai fantasi. Ada juga pembahasan sistem klasifikasi Dewey, puisi, sastra, buku, perpustakaan dan penerbitan.

**
Sebuah buku yang menarik dan tidak biasa. Di buku ini kita dapat belajar salah satunya mengenai sistem klasifikasi perpustakaan. Jika kita perhatikan buku-buku di perpustakaan ditandai oleh nomor-nomor, seperti: 000, 100, 200, dstnya. Nomor-nomor itu disebut dengan Sistem Desimal Dewey. (sumber: dari sini )

Jostein, memang piawai meramu sebuah cerita dengan latar berbagai bidang ilmu. Selalu membangkitkan rasa ingin tahu dan memberikan wawasan baru kepada pembacanya.

“.. dan “ajaib” bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia dimuka bumi ini.”

Seandainya Mereka Bisa Bicara

Judul asli: If Only They Could Talk
Penulis: James Herriot
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku lama yang masih sangat memikat hati. Dan berharap suatu saat Gramedia atau penerbit manapun mencetak ulang kembali 🙂

Herriot adalah dokter muda yang baru saja lulus. Ia mendapatkan jawaban dari Darrowby, sebuah praktik hewan besar di Yorkshire Dales. Siegfried Farnon, calon majikannya, meminta Herriot datang untuk diwawancarai. Jika kedua pihak setuju, maka Farnon akan mengangkat Herriot menjadi asistennya. Maka, berangkatlah Herriot menuju Yorkshire. Yorkshire dalam bayangan Herriot adalah sebuah kota yang kaku dan membosankan. Walau bagaimanapun Herriot patut bersyukur dengan panggilan pekerjaan ini, karena pada masa itu Inggris sedang berada dalam kondisi yang sulit, di mana semua orang berebut mencari pekerjaan.

Gambaran tentang sebuah kota yang membosankan sedikit demi sedikit lenyap dari bayangan Herriot ketika ia memasuki kota Yorkshire untuk pertama kalinya. Herriot melukiskannya seperti ini:

“Pegunungan yang tinggi dan tak berbentuk itu mulai terurai jadi bukit-bukit hijau dan lembah-lembah luas. Di dasar lembah tampak sungai yang berliku-liku di antara pepohonan. Rumah-rumah petani yang terbuat dari batu yang kokoh dan berwarna kelabu, tampak seperti pulau di tengah ladang yang diusahakan. Ladang itu terbentang ke atas seperti tanjung yang hijau cerah di lereng bukit.

“.. kota ini sesungguhnya indah. Tepi sungainya berbatu-batu kerikil. … Di mana-mana, di jalan-jalan, melalui jendela-jendela rumah, kita dapat melihat bukit itu melatarbelakangi deretan rumah. Bukit itu tampak besar dan megah. Udaranya bersih dan segar.”

Pemandangan Yorkshire yang indah seketika membuat Herriot jatuh cinta. Cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan karena sejak hari itu Herriot resmi memulai karirnya sebagai dokter hewan di pedesaan Yorkshire.

Buku ini mengisahkan pengalaman-pengalaman menarik Herriot selama bekerja menjadi dokter hewan serta pergaulannya dengan penduduk setempat. Berbagai cerita dituliskan dengan sangat menarik dan penuh humor, terkadang membuat kita tertawa tergelak-gelak, di lain waktu mampu membuat kita begitu terharu.

Buku yang sungguh menginspirasi, membangkitkan semangat sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral yang patut dijunjung tinggi, tanpa menggurui.

Firefly dan Pencarian Tupai Hitam

Judul asli: Firefly and the Quest of the Black Squirrel
Penulis: J.H. Sweet
Penerbit: KidClassic Publication

Bercerita tentang empat sekawan: Grace, Beth, Vinca dan Lenox. Mereka juga merupakan peri. Sebagai peri, mereka mempunyai tugas untuk melindungi alam dan menyelesaikan masalah-masalah serius terutama yang disebabkan oleh makhluk gaib lain.

Suatu hari sesosok goblin bernama Anathema Bane membuat sebuah kutukan yang sempurna. Kutukan sempurna adalah sebuah kutukan yang lengkap dan tak bisa dibalikkan. Mantra hitam itu akan membunuh semua tupai hitam dalam waktu satu bulan. Namun bagian terburuknya adalah bahwa ini kutukan berantai yang disertai penanggalan, dirancang untuk menyerang setiap spesies di setiap bulannya. Misalnya, bulan depan rusa yang mendapat giliran, bulan berikutnya beruang, sampai kemudian kutukan itu akan mencapai manusia. Kutukan tidak akan berhenti sebelum semua kehidupan di atas bumi punah.

Bunda buana meminta bantuan semua peri, baik yang lama dan baru untuk bekerjasama menghentikan kutukan. Sebagai langkah awal, mereka harus menemukan obat untuk menyembuhkan tupai hitam. Jika obat dapat ditemukan maka penyakit dapat dihentikan sebelum kutukan itu menyebar ke spesies lainnya. Obat itu adalah semanggi bulan biru. Semanggi bulan biru hanya tumbuh di Hutan Terlupakan dan semanggi bulan biru hanya dapat ditemukan oleh Rusa Jantan Hitam. Dan hanya seekor kurcaci yang tahu cara menemukan Rusa Jantan Hitam.

Bagaimanakah kelanjutannya? Berhasilkah Lenox, si peri kunang-kunang bersama teman-temannya menghentikan kutukan jahat itu?

Leaving Microsoft to Change the World

Judul: Leaving Microsot to Change the World
Penulis: John Wood
Penerbit: Bentang Pustaka

John Wood adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan besar, Microsoft. Berawal dari kunjungan John ke sebuah desa terpencil, di dataran tinggi Nepal, yang dihuni oleh orang-orang buta huruf dan kebanyakan anak-anak putus sekolah, kemudian membuat John melepaskan karir bagusnya di Microsoft. John memilih untuk mendirikan lembaga nirlaba yang menyediakan dana untuk pendidikan anak-anak di negara berkembang.

Menyadari bahwa kesempatan yang dia miliki sekarang adalah berkah dari sebuah pendidikan yang baik, maka John ingin memberikan peluang yang sama kepada anak-anak yang kurang beruntung. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah memberikan bantuan banyak buku ke sekolah yang membutuhkan di Nepal. Mengirimkan dana untuk membangun sekolah, lab komputer dan lab bahasa. Lembaga ini diberi nama Room to read. Pada proyek sosial pertamanya John menggunakan kas pribadi. Berikutnya, dibantu donasi dari para donatur. Lembaga ini kemudian melebarkan bantuannya ke negara-negara berkembang lain, seperti vietnam, kamboja, india. Serta memberikan beasiswa kepada anak-anak perempuan yang diberi nama room to grow.

Mengutip kalimat bijak dari seorang rekan John ‘Ketika Anda mendidik seorang anak laki-laki, Anda mendidik hanya seorang anak laki-laki. Tetapi ketika Anda mendidik seorang anak perempuan, Anda mendidik seluruh keluarga, dan generasi berikutnya’.

John dan timnya meyakini untuk menciptakan perubahan sosial yang abadi di negara-negara berkembang adalah memasukkan anak-anak perempuan sejak dini ke sekolah dan menjaga agar mereka tidak putus sekolah setidaknya sampai akhir sekolah lanjutan. Kelak mereka akan lebih percaya diri dan terberdayakan serta mandiri secara finansial.

Yang terutama, pendidikan akan menghantarkan kita kepada nilai-nilai moral kehidupan serta pilihan dan kesempatan hidup yang lebih baik.

Marya, Wanita Luar Biasa

Judul: Marya, Wanita Luar Biasa
Penulis: Hendrasmara
Penerbit: Navila

“Aku tak akan runtuh oleh situasi maupun oleh orang atau orang-orang”. (Marie Curie)

Marya Sklodovoska lahir tanggal 7 November 1867. Ia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Marya (Marie) sekeluarga tinggal di Polandia, yang masa itu dijajah oleh bangsa Rusia. Sebagai negara jajahan, warga Polandia diharuskan mempelajari bahasa Rusia. Tidak ketinggalan di sekolah tempat Marie belajar. Namun guru kelas Marie seringkali mencuri-curi waktu menggunakan bahasa Polandia ketika mengajar. Tentu saja bila ketauan bisa celaka.

Ayah Marie, dipecat dari pekerjaannya disebabkan loyalitasnya terhadap tanah air. Marie dan saudara-saudaranya hidup dalam keprihatinan. Beruntung Marie berada dalam lingkungan yang saling mengasihi satu sama lain. Ketika Marie berusia 11 tahun, ibu yang dicintai kembali kepada Sang Pencipta, karena sakit TBC yang dideritanya. Sebelumnya, kakak Marie juga meninggal karena sakit. Demi pengorbanan sang ibu dan kakak terkasih, serta ayah yang telah bekerja keras untuk keluarga serta kesetiaan terhadap tanah air, Marie dan saudara-saudaranya bertekad untuk belajar tekun dan bekerja keras agar dapat menyelesaikan studi dengan gemilang.

Semua rintangan yang ada tidak menyurutkan langkah Marie untuk mewujudkan cita-cita.

Karya Marie yang mengesankan adalah penemuan dan pemisahan elemen kimia radium. Sebelumnya, ia sudah menemukan elemen radioaktif lain yang dijulukinya “polonium,” diambil dari nama negeri asalnya, Polandia.

Bersama suaminya, Piere Curie, Marie menerima nobel untuk bidang fisika. Dan nobel kedua kalinya diterima Marie untuk bidang kimia.

Marie Curie meninggal dunia tahun 1934. Diduga akibat berulang kali berhadapan dengan benda-benda yang mengandung radioaktif.

Kedisiplinan, kegigihan, ketekunan, dan perjuangan hidupnya sungguh patut disimak. Pengorbanan yang tiada tara dan penyerahan diri secara total untuk mengabdikan diri demi ilmu pengetahuan, kemanusiaan, serta bangsa dan tanah air yang dicintai sungguh mengharu biru perasaan.