Atas Nama Malam


Judul: Atas Nama Malam
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Cetakan: Jakarta, 1999
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 157

Berisi kumpulan cerpen yang bercerita tentang kehidupan di malam hari. Ada 14 cerita dari tokoh yang sama dalam satu bab dan ada 10 kisah dari bab kedua.

Tokoh pertama adalah seorang peracik minuman di sebuah bar. Sebagai pekerja malam kehidupannya dimulai ketika senja datang sampai menjelang pagi. Kehidupan malam yang kelam dan hening menjadi hingar bingar dengan musik, lampu disko serta asap nikotin yang memenuhi ruangan. Orang-orang kesepian yang mencari kesenangan duniawi berkumpul dan menyatu dalam lingkaran kebahagiaan yang semu. Dibalik keriaan tersembunyi tangis, kebencian dan juga pertanyaan tentang makna hidup, seperti yang ada di dalam kisah Hidup Terasa Panjang.

“Hidup akhirnya memang jalan terus. Namun, mimpi juga jalan terus. Hidup ini seperti perjalanan yang panjang dan melelahkan.”

Pada sebuah kisah juga diceritakan seorang dokter yang ternyata sering datang ke bar tempat si tokoh bekerja. Tak bisa ia mengerti bagaimana seorang dokter yang tentunya suka membaca buku dan tidak rendah seleranya bisa sering mengunjungi bar. Bukankah bar tempat berkumpulnya orang-orang sakit yang tak tahu harus melakukan apa, selain minum dan memeluki perempuan-perempuan.

Pada akhir bab ini, si tokoh menutup kisahnya dengan Senja, Penutupan. Cinta.

“Hidup berlalu dan aku pun berlalu, kenyataan dan khayalan menyatu dalam waktu.”

Buku ini tidak hanya bercerita tentang cinta, dan kehidupan yang berlangsung di malam hari, tetapi juga sisi gelap dalam kehidupan manusia. Setiap kita, manusia, mempunyai sebuah rahasia dalam hidupnya.

Tulisan-tulisan Seno seperti biasa memaksa kita untuk merenung. Tapi itulah kelebihannya, dalam sebuah kisah yang biasa, yang terjadi di sekitar kita, begitu banyak pelajaran kehidupan yang bisa kita petik.

Posted in Kumpulan Cerpen | 3 Comments

Bumi Manusia


Judul: Bumi Manusia
Penulis: Antoine De Saint-Exupery
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Cetakan: Desember, 2011
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 218

“Bumi mengajarkan kepada kita tentang diri kita jauh lebih banyak daripada semua buku di dunia ini, karena ia menantang kita. Manusia menemukan dirinya manakala ia harus mengukur kekuatannya sendiri ketika menghadapi suatu hambatan. Namun, untuk mencapainya ia memerlukan alat.”

Cerita berawal ketika Exupery, penulis cerita ini, masuk sebagai penerbang muda yang mengantarkan paket pos dari Perancis ke Afrika dan ke Amerika Selatan. Peraturan di perusahaan itu melarang para pilot untuk mengarungi lautan awan di atas zona yang bergunung-gunung. Pilot yang pesawatnya mogok bisa tersungkur ke dalam gumpalan awan-awan dan mungkin saja membentur puncak gunung.

Dalam perjalanan karirnya sebagai penerbang Exupery melihat dan merasakan kehilangan teman seprofesi ketika menjalankan tugas. Ia juga pernah terdampar di gurun pasir bersama kawan-kawannya.

Pengalaman Exupery dalam menjalani kehidupannya sebagai pilot memberikan renungan-renungan kecil yang sangat bermakna. Ia melukiskan pertemanan yang dijalinnya dengan kawan seprofesi seperti ini:

Para penerbang itu menyebar di seluruh dunia. Mereka tidak selalu bertemu. Ketika bertemu mereka akan bertegur sapa kemudian berpisah. Dan ketika bertemu kembali setelah beberapa tahun mereka akan melanjutkan cerita yang pernah terputus dahulu, saling mengikatkan diri kembali kepada kenangan lama. “Bumi terasa gersang sekaligus kaya. Kaya dengan taman rahasianya, tersembunyi, susah dicapai, tetapi profesi selalu mengantar kami kembali ke situ, hari ini atau nanti.”

Tetapi terkadang mereka kehilangan teman. “Tak akan pernah ada yang dapat menggantikan seorang teman yang hilang. Tak ada yang lebih berharga daripada begitu banyak kenangan yang dapat dibagi bersama, begitu banyak jam sulit yang dialami bersama, begitu banyak perselisihan, perdamaian dan perubahan emosi.”

Di tengah bahaya, mereka yang semula tertutup dalam kesendirian masing-masing menyadari bahwa mereka bagian dari sebuah komunitas yang sama, yang mendekatkan diri mereka satu sama lain.

Melalui pesawat terbangnya pula Exupery memperhatikan lekuk liku lapisan bumi, tempat kedudukan cadas, pasir, dan garam, tempat di mana kehidupan tumbuh dan berkembang. Begitulah ia membaca kembali sejarah manusia.

Maka, dalam artian yang lebih luas Exupery mempertanyakan untuk apa manusia membenci? “Kita semua bernasib sama, berada di planet yang sama, dan merupakan awak kapal yang sama. Dan jika ada baiknya kalau budaya-budaya bertentangan agar tercipta sintesis yang baru, sungguh mengerikan jika budaya-budaya itu saling mencaplok. Mengingat bahwa untuk membebaskan kita dari keadaan seperti itu, kita cukup saling membantu untuk menyadari sebuah tujuan yang akan mengikat kita satu sama lain.”

Buku ini sarat dengan renungan mengenai diri kita sebagai manusia, dengan pemikiran yang terkadang tampak sederhana sekaligus kompleks.

Seperti buku Exupery lainnya, Pangeran Kecil, buku ini sama bagus dan menariknya.

Posted in Novel | 4 Comments

Pintu Waktu


Judul: Pintu Waktu
Penulis: Pierdomenico Baccalario
Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari, S.Si.
Cetakan: 2006
Penerbit: Erlangga for Kids (Penerbit Erlangga)
Tebal: 222
Cover: Hard cover

“Jangan pernah berpikir kalau hantu tidak bersuara. Mereka dapat membuat berbagai macam kebisingan (langkah kaki, rantai yang berdencing, bel yang berdentang) dan sering kali dapat berbicara. Selain itu, mereka tidak selalu tanpa raga. Hantu biasanya menghantui rumah-rumah yang di dalamnya ada suatu masalah yang belum terselesaikan.”

Jason dan saudara perempuannya Julia, pindah ke sebuah rumah baru yang disewa oleh orang tua mereka di dekat teluk Kilmore Cove. Nama rumah itu Argo Manor. Argo Manor berada di atas sebuah tebing tinggi yang menghadap ke laut. Di bawah tebing ombak berdebur menghantam karang. Deretan pepohonan berdiri rapi di setiap sisi rumah, dengan bunga beraneka warna. Rumah tua yang besar ini menyimpan misteri bagi Jason. Ia bahkan sudah merasakannya sejak pertama kali meletakkan koper di halaman Argo Manor. Jason selalu merasakan hal-hal yang tidak dirasakan oleh orang lain, sejak dulu. Tubuhnya kadang bisa merasakan jika ada sesuatu yang tidak biasa.

Rumah itu dulunya dimiliki oleh seorang laki-laki tua yang bernama Ulysses Moore. Lelaki ini tidak pernah keluar rumah sepanjang hidupnya.

Suatu hari ketika Ayah dan Ibu mereka pergi ke London, kedua bersaudara: Jason dan Julia serta Rick -teman baru mereka di sekolah- mendapatkan kesempatan untuk menjelajah ruangan-ruangan yang ada di dalam rumah tua yang luas dan besar itu. Berawal dari kecelakaan kecil yang menimpa Jason, mereka menemukan sebuah surat misterius. Tulisan dalam surat itu berisi simbol-simbol dari sebuah peradaban kuno kerajaan Mesir. Dapatkah mereka memecahkan sandi tersebut?

Apa hubungan sandi itu dengan pintu misterius yang ada di dalam ruang batu? Rahasia apakah yang tersimpan di belakang pintu misterius itu?

Jason, Julia, dan Rick bertekad mencari tahu. Berhasilkah mereka?

“Terkadang yang tersisa hanyalah keberuntungan. Lelucon terakhir dari takdir.”

Berlatar sejarah peradaban kuno kerajaan Mesir menjadikan kisah dalam buku ini sebuah cerita petualangan yang tak biasa. Menarik dan mengusik rasa ingin tahumu sekaligus.

Oh ya, buku ini berseri. Dan ini adalah seri pertama dari serial Ulysses Moore.

Posted in Cerita Anak | 4 Comments

See Inside Sains


Judul asli: See Inside Sains
Penulis: Alex Frith & Colin King
Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari, S.Si
Cetakan: 2006
Penerbit: Erlangga for Kids
Tebal: 15 full colour
Cover: Hard cover

Pernahkah kamu bertanya-tanya dibuat dari apakah alam semesta? Dan apa sebenarnya rahasia besar dibalik semua itu?

Pada awalnya tidak ada apa-apa. Tidak ada ruang dan waktu, gelap dan terang. Hanya kehampaan. Kemudian, sesuatu yang misterius terjadi. Waktu bermula, dan materi serta energi muncul. Semuanya bergumpal menjadi satu di dalam sebuah bola kecil yang sangat panas. Kemudian suhu mendingin dan isi bola panas menyebar dan menjadi alam semesta. Para ilmuwan menyebutnya dengan Big Bang atau Dentuman Besar.

Lama kemudian manusia muncul. Mereka juga ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka menggunakan sains untuk mencari jawaban-jawaban tentang rahasia alam semesta dan isinya. Sains telah membantu manusia memberitahu berbagai hal, namun demikian masih banyak yang belum kita ketahui.

See Inside Sains adalah buku dengan lebih dari 50 lipatan di dalamnya. Di setiap lipatan misterius kamu akan temui rahasia-rahasia alam semesta yang menakjubkan, dari benda-benda luar angkasa, kehidupan yang kita kenal, benda-benda terkecil, rahasia di balik segala hal, macam-macam reaksi, merancang ini itu, menengok masa depan dan bermacam-macam istilah.

Penjelajahanmu menyelusuri alam semesta menjadi lebih menyenangkan bersama See Inside Sains. Selamat berpetualang.

Posted in Non Fiksi, Sains | Leave a comment

Si Jerapah dan si Pelly dan Aku


Judul asli: The Giraffe and The Pelly and Me
Penulis: Roald Dahl
Alih bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Cetakan: Jakarta, Agustus 2006
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Tebal: 79

Tak jauh dari tempat tinggal Billy ada sebuah rumah kayu kosong yang aneh berdiri sendirian di sisi jalan. Billy ingin sekali melihat ke dalam rumah. Namun ia hanya bisa mengintip dan yang dapat dilihatnya hanya debu dan kegelapan. Kata Ibu, rumah itu dahulu adalah toko permen. Suatu hari di jendela toko seseorang mengecatkan sebaris tulisan yang berbunyi Dijual. Dan lama kemudian, tulisan dijual telah berubah menjadi Kejual. Billy sangat berharap bahwa ia lah yang membeli rumah itu. Ia akan menyulap rumah itu menjadi toko permen seperti impiannya.

Suatu hari Billy berdiri di seberang jalan dekat rumah kayu, ketika tiba-tiba bunyi nyaring disertai benda-benda berat berjatuhan. Tampaknya ada orang yang memporakporandakan isi rumah tersebut. Billy menunggu tapi tak terdengar apa-apa lagi. Ia memutuskan pulang dan kembali keesokan harinya. Pagi hari ketika Billy kembali ia terkejut. Pintu rumah yang kotor telah berganti menjadi pintu baru yang fantastis. Pintu itu sangat tinggi. BIlly bertanya-tanya siapakah yang memerlukan pintu setinggi itu. Tak lama satu-satu jendela di rumah itu terbuka. Pertama, jerapah, disusul burung pelikan dan si kera. Mereka adalah si pembersih jendela. Mereka mengajak Billy masuk. Perkenalan itu kemudian mengantarkan Billy menjadi manajer bagi tim pembersih jendela tersebut.

Tim pembersih jendela yang terdiri dari Billy, si jerapah, pelikan dan kera ini kemudian mendapat tugas pertama untuk membersihkan jendela rumah Yang Mulia Duke of Hampshire. Rumah itu memiliki banyak jendela yang tinggi-tinggi. Duke ingin melihat cara mereka bekerja. Kera kemudian melompat turun dan membuka keran air di kebun. Si Pelikan menempatkan paruhnya yang besar untuk menampung air. Tak lama kera kembali melompat ke punggung si jerapah dan berlari naik ke leher si jerapah yang sangat panjang dan berdiri di kepala si jerapah. Burung pelikan kemudian terbang. Pekerjaan membersihkan jendela segera dimulai. Duke sangat puas melihat kecakapan tim pembersih jendela itu. Namun tak lama berselang, tim pembersih jendela terpaku. Dan selanjutnya, seorang laki-laki telah terperangkap di dalam paruh pelikan. Laki-laki itu adalah perampok yang telah mencuri berlian-berlian milik Duchess.

Duke sangat bersuka hati karena tim pembersih jendela telah menyelamatkan berlian-berlian yang sangat berharga itu. Sebagai imbalannya, Duke menghadiahkan perkebunan tinkle-tinkle sebagai makanan si jerapah. Ribuan pohon kacang walnut untuk kera, dan pelikan mendapat kebebasan untuk mengambil ikan salmon yang ada di sungai Hamp milik Duke. Mereka akan tinggal di sana selama hayat sambil membersihkan jendela-jendela rumah Duke of Hampshire. Bagaimana dengan Billy? Billy mendapatkan impiannya memiliki toko permen.

“Ada tetesan air mata
Saat berkata ‘sampai jumpa;,
Kami senang berada di sisimu
Maka sekali-sekali
Kunjungilah kami,
Si jerapah dan si Pelly dan aku.

Kami dapat kau jumpai
Di halaman buku ini
Karena di sinilah kami selalu.
Takkan berakhir cerita
Jika kawan-kawanmu ada
Si jerapah dan si Pelly dan aku.”

Roald Dahl menuliskan kisah ini dengan manis. Ide ceritanya dengan memasukkan tokoh-tokoh jerapah, pelikan dan kera sebagai tim pembersih jendela sungguh unik. Pesan yang ingin disampaikannya kepada kita mungkin singkat saja. Dalam pergaulan dan berhubungan dengan masyarakat kita memerlukan sikap bekerjasama dan saling menghargai.

Buku anak-anak yang bagus dengan pesan yang sederhana tanpa berkesan menggurui.

Posted in Cerita Anak | Leave a comment

Kunci Rahasia George ke Alam Semesta

Judul asli: George’s Secret Key To The Universe
Penulis: Lucy & Stephen Hawking
Alih bahasa: Andang H. Sutopo
Cetakan: Jakarta, Mei 2009
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Tebal: 326

“Ilmu pengetahuan membantu kita untuk mengerti dunia di sekeliling kita dan semua keajaiban-keajaibannya.”

George adalah anak laki-laki yang memelihara seekor babi yang ia beri nama Freddy. Suatu hari Freddy menghilang. Freddy menyelusup ke rumah tetangga. Rumah itu sangat misterius, sepi dan gelap. Tanaman di kebun belakang rumah pun tumbuh liar, seperti tidak pernah diurus bertahun-tahun. George mengintip ke dalam lubang hitam pagar yang membatasi rumahnya. Ia ingat cerita Ibunya tentang penghuni rumah yang sudah tua dan menghilang tiba-tiba serta bunyi-bunyi misterius dari rumah itu. Namun George tidak menyurutkan langkahnya. Ia harus menyusul dan membawa pulang babi miliknya.

Pencarian Freddy membawa George berkenalan dengan seorang anak perempuan dari rumah misterius itu. Ternyata mereka adalah tetangga baru, yang belum lama menempati rumah itu. Nama gadis kecil itu Annie. Annie tinggal bersama Ayah dan Ibunya. Ayah Annie, Eric adalah seorang ilmuwan. Pak Eric mempunyai komputer paling canggih di dunia, namanya Cosmos. Cosmos bisa mengantarkan George menyelusuri alam semesta. George bisa berpetualang melewati planet, komet, menembus badai asteroid, bimasakti, dan lainnya. Sebelum pulang, Pak Eric meminta George untuk tidak menceritakan mengenai Cosmos pada orang lain. Itu adalah rahasia di antara mereka.

Namun sayangnya George lupa pada janjinya. Ia terpaksa menceritakan coretan gambar yang dibuatnya ketika pelajaran Mr. Greeper. Ia menceritakan Cosmos di hadapan seluruh teman dan gurunya.

George tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menginginkan cosmos, dan akan membawa ia dan Pak Eric ke dalam bahaya besar. Bahaya itu adalah lubang hitam. Tidak ada yang lebih berbahaya di luar angkasa melebihi lubang hitam.

**
Lucy dan Stephen Hawking mengemas novel sains untuk anak-anak ini dengan sangat menarik. Tidak hanya anak-anak, kita, orang dewasa pun akan sangat menikmati novel dengan suguhan fakta-fakta ilmiah tentang alam semesta. Tak lupa diselipkan di dalamnya gagasan Hawking mengenai lubang hitam.

Lubang hitam mempunyai kekuatan untuk menelan benda-benda di sekitarnya. Oleh sebab gaya gravitasinya yang sangat besar memungkinkan lubang hitam menarik semua benda yang ada di dekatnya.

Dahulu orang percaya bahwa tak ada sesuatupun yang bisa keluar dari lubang hitam. Ternyata gambaran seperti itu tidak tepat. Dengan radiasi Hawking diketahui bahwa sesuatu bisa keluar dari sebuah lubang hitam. Penasaran? Coba saja membaca bukunya 🙂

Posted in Cerita Anak, Sains | 2 Comments

Sebagai Pengganti Dirimu


Judul: Sebagai Pengganti Dirimu
Penulis: Andrei Aksana
Cetakan: kedua, 2011
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Tebal: 320

“Biarkan cinta tumbuh mencari dirinya sendiri, dengan begitu kita bisa melihanya indah merekah.”

Sadira adalah anak bungsu dari pasangan pengusaha kaya, Pramudya dan Astari. Sejak kecil Sadira sudah kelimpahan kasih sayang dan materi dari orang tuanya. Ibu Sadira sangat otoriter, dan Ayahnya seorang yang lemah. Ia tidak pernah berani melawan Astari karena merasa berhutang budi. Astari muncul sebagai pahlawan untuk menghidupi keluarga mereka ketika bisnis Pram hancur. Perlahan usaha yang dijalankan Astari berkembang pesat dan Pram pun memulai bisnis baru kembali. Pada saat itulah Sadira hadir.

Sadira tumbuh menjadi perempuan yang berkepribadian rapuh. Ia sangat tergantung pada orang lain. Dan rasa haus akan perlindungan itu memperoleh tempatnya. Laki-laki ganteng, kaya, dan populer di seantero kampus itu bernama Glenn. Sadira yang cantik, cerdas, dan anak pengusaha sukses itu kemudian menjadi kekasih Glenn. Glenn yang kesepian karena hubungan rumah tangga orang tuanya yang dingin dan sibuk membutuhkan Sadira untuk mewarnai hidupnya yang sunyi. Sebaliknya, Sadira membutuhkan Glenn untuk melipur hatinya yang tertekan karena pengaruh Ibunya. Hubungan bebas mereka membuat Sadira mengandung benih Glenn. Ternyata, Glenn menolak untuk mengawini Sadira, karena ia trauma dengan pengalaman orang tuanya. Dan Sadira, yang awalnya berharap bahwa kehamilan dirinya dapat membuat ia keluar dari rumah dan kekangan Ibunya, kecewa dengan sikap Glenn.

Astari kemudian mengetahui kehamilan Sadira. Astari mencarikan calon suami untuk Sadira, laki-laki yang menjadi karyawan di perusahaan miliknya. Ia tak sudi bermenantukan Glenn. Namun di hari pernikahan, Sadira melarikan diri. Ia kabur diantar oleh sopir yang sedianya akan mengantar Sadira melakukan akad nikah.

Sopir itu bernama Feran. Feran ternyata adalah pengusaha muda yang cukup sukses. Ia ingin membantu Sadira mencari kebahagiaan dalam kesederhanaan. Untuk melengkapi misinya, Feran melakukan penyamaran. Feran banyak membantu Sadira melewatkan masa-masa sulit, mencarikan pekerjaan, menemani dan merawat Rava, anak perempuan Sadira ketika Sadira kembali meneruskan kuliah dan mencapai gelar sarjananya.

Karir Sadira melesat naik. Dan perjumpaan kembali dengan Glenn, ayah kandung Rava kembali dalam hidup Sadira membuat Sadira terombang-ambing. Siapakah yang akan dipilih Sadira menjadi pendamping hidupnya?

**
Alur cerita yang mudah ditebak. Dan ada banyak peristiwa kebetulan di dalamnya. Untuk Anda yang mungkin lelah seharian bekerja dan ingin menikmati bacaan yang ringan, buku ini bisa menjadi pilihan. Yang membedakan buku ini dengan kebanyakan kisah serupa adalah pengarangnya pandai memberi keunggulan untuk bukunya, yaitu sisipan CD berisi lagu-lagu yang dinyanyikan sendiri olehnya.

Posted in Novel | 2 Comments

Cerita Tentang Orchestra


Judul: Cerita Tentang Orkestra
Penulis: Robert Levine
Cetakan: pertama, 2010
Penerbit: BIP Kelompok Gramedia
Tebal: 95

Apa yang terbayang olehmu ketika mendengar kata orkestra?
“Musik yang besar dan rumit? Faktanya adalah di dalam musik orkestra seringkali ada 100 instrumen yang dimainkan, dan biasanya mereka dimainkan sama sekali berbeda antara satu dengan yang lain. Namun, mereka tetap bisa menciptakan musik yang begitu mengagumkan dan ajaib. Musik-musik seperti ini seringkali dimainkan pada layar lebar sebagai pelengkap dalam drama serta penamabah rasa seru pada acara televisi dan film, seperti di film Star Wars atau film kartun Bugs Bunny, dan lain-lain. Bukalah telingamu dan kamu akan mulai menyadari keberadaan komposisi klasik di banyak tempat.”

Buku Cerita Tentang Orkestra ini bercerita bagaimana musik klasik diciptakan dan mengapa musik itu memiliki kekuatan untuk membuat kita merasa senang, sedih, tegang, dan lega. Kita akan melihat bagaimana para komponis menciptakan rasa senang, sedih, marah, dan terkadang momen-momen yang mengganggu dengan menggunakan instrumen-instrumen yang berbeda, kecepatan yang berbeda, dan perubahan volume suara.

Mengasyikkannya lagi buku ini menyisipkan sebuah CD. CD ini dapat membantumu mempelajari dan mengenali jenis musik dari setiap era dan dari para komponisnya sendiri.

Sebagai lagu awal kamu akan dikenalkan dengan karya komponis Wagner yang berjudul Ride of the Valkyries. Musiknya sangat kuat, hidup dan menggairahkan dengan nuansa derap kuda yang terasa kental, menyuguhkan jalinan cerita tentang sembilan saudara perempuan, yang dalam masa itu mereka mengenakan helm-helm bertanduk yang sedang menunggang kuda.

Wagner adalah komponis jerman yang hidup di Era Romantik. Masa ini musik telah banyak dihiasi dengan not pada era Barok dan lebih sederhana di era klasik. Para komponis di era Romantik menerima pembelajaran dari kedua era sebelumnya sehingga menghasilkan sebuah musik yang benar-benar baru. Mereka menggunakan musik untuk membanjiri para pendengar mereka dengan emosi, menciptakan lagu sedih tentang cinta dan patah hati serta fantasi-fantasi magis tentang peri, penyihir, dan angsa.

The Four Season-Vivaldi, Era Barok

The Clock-Haydn, Era Klasik

Tentu saja, tidak hanya Wagner, di buku ini kamu bisa tahu ada banyak komponis hebat. Musik mereka yang indah abadi sepanjang zaman. Siapkan headshet dan buku ini, bersama si orkestra Bob kamu akan diajak menjelajahi dunia orkestra yang memesona dan menakjubkan.

Posted in Non Fiksi | 4 Comments

Ibu, Pergi ke Surga


Judul: Ibu, Pergi ke Surga
Penulis: Sitor Situmorang
Cetakan: pertama, Januari 2011
Penerbit: Komunitas Bambu
Tebal: 218

Buku berisi kumpulan cerita Sitor, dengan “Ibu, Pergi ke Surga” sebagai judul pilihan. Ibu, yang menderita sakit paru-paru sejak lama, tinggal berdua dengan Bapak di kampung. Dua anaknya merantau. Pada hari menjelang kematiannya, ia mengirim telegram meminta anaknya datang. Si tokoh datang sendiri, tanpa istri dan anaknya. Si kakek belum pernah sekalipun melihat cucunya. Anak satunya tak lagi diketahui rimbanya.

Bapak adalah seorang yang percaya pada takhyul, sebaliknya Ibu adalah penganut kristen yang taat. Ketika itu natal sudah dekat, pendeta mengusulkan agar jemaat merayakan natal di rumah Ibu. Si tokoh sedikit keberatan untuk sebuah alasan yang tak dapat ia katakan, namun ia tak dapat menolak. Sebelum itu, sudah beberapa kali orang berhari Minggu di rumah mereka. Si tokoh merasa seolah-olah itu adalah upacara kematian. Pendeta bertanya kepadanya tentang mengapa ia tak ke gereja beberapa bulan lalu ketika ia datang berkunjung ke desa itu. Si tokoh mengalihkan pertanyaan tersebut, pun ketika pendeta memintanya untuk membaca injil di malam natal nanti. Si tokoh tak setuju tapi ia diam. Pendeta menganggap itu sebagai tanda setuju.

Di malam natal, sebelum tamu-tamu berdatangan, si tokoh masih mendengar suara batuk Ibu. Kemudian untuk beberapa lama suasana sunyi. Si tokoh menengok, memperhatikan Ibu yang sedang terbaring. Diperhatikannya wajah Ibu yang tirus, dan dada yang tak lagi bergerak. Ibu telah meninggal. Si tokoh merasakan perasaan syukur yang ganjil, yang tak memberi kesempatan pada haru yang menyumbat kerongkongannya. Tak ada orang yang tahu, pun Bapak yang ada di dekatnya. Tak ada yang menyadari kematian Ibu, pun ketika tamu-tamu berdatangan dan upacara dimulai. Pendeta dan semua orang mengira Ibu tertidur, mereka tak ada yang ingin mengganggunya. Ketika tamu pulang barulah si tokoh memberitahu Bapak.

Pendeta datang, katanya “Kudengar Tuan besok pergi. Mudah-mudahan selamat saja di perjalanan!”
“…. saya tahu Tuan juga percaya, walaupun orang terpelajar tidak lagi suka datang ke gereja. Saya selalu yakin Tuan berpegang pada kristus,” kata pendeta seperti pada dirinya sendiri. …. Mana bisa manusia tak ber-Tuhan! Mana mungkin tak ada surga!” katanya dengan pandang seakan-akan kambing menghadap batu.
Si tokoh pergi menuju pohon natal yang sudah kering terbengkalai di pekarangan. Dengan api sebuah korek, dibakarnya pohon itu sehingga menjadi unggun.

Dalam cerita Ibu, Pergi ke Surga, Sitor memberikan penghayatan kepada pembacanya perasaan terharu bahagia. Kisah ini tidak sekedar tentang kematian Ibu, tapi mengutip sinopsis buku, yaitu: “Membacanya memperoleh nilai tambah pengetahuan latar belakang konflik yang tumbuh dalam keluarga Batak antara kekristenan dan penganutan adat yang sebaiknya dilenyapkan. Meminjam ungkapan Hary Aveling, dalam cerita ini terdapat suatu jalinan kompleks tentang sikap moral di sekitar tema kematian, sikap positif mereka yang tinggal di sebuah kampung di pegunungan, dan sikap nihilistik “aku”.”

Cerita-cerita dalam karya Sitor sarat dengan pengetahuan latar belakang kebudayaan, terutama Batak, ajaran eksistensialisme seperti tampak pada Ibu, Pergi ke Surga serta filsafat.

Selain bahasanya yang puitis, kisah-kisah dalam buku ini dapat menambah kekayaan bathin pembacanya melalui pengalaman para tokoh-tokohnya.

Posted in Klasik dan Sastra | Leave a comment

Little Notes for Big Success


Judul: Little Notes for Big Success
Penulis: Ardian Syam
Cetakan: pertama, Agustus 2011
Penerbit: Grafindo Media Pratama
Tebal: 248

Manusia dan makhluk hidup lainnya mempunyai siklus hidup. Pun demikian dengan hidup yang kita jalani. Penulis buku “Little Notes for Big Success”, Ardian Syam membagi siklus hidup manusia ke dalam langkah-langkah berikut ini: impian, memperbanyak kawan, memelihara janji, berkomunikasi, memelihara rasa percaya, dan terus belajar.

Kesemua langkah itu kita perlukan untuk menjadikan diri kita bertambah baik setiap saat.

Ada sebuah pelajaran menarik dari sebuah pohon. Pohon yang rindang dan kuat memberikan kenyamanan bagi mereka yang berteduh di bawahnya. Namun tahukah Anda, pohon yang rindang itu harus berjuang keras untuk mendapatkan kebutuhannya dalam bertumbuh. Dalam fase pertumbuhannya tentu saja ia mengalami banyak peristiwa, yang tidak hanya hal-hal baik saja tapi juga hal-hal tidak menyenangkan. Kadang ia harus merelakan daun-daun atau bakal buahnya berguguran karena diterpa musim yang berat. Namun sisi baiknya adalah daun dan bakal buah yang jatuh itu kemudian menjadi pupuk organik yang sangat membantu pertumbuhan pohon.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari sana? Ardian Syam bilang “Bahwa ‘apakah hal-hal buruk bagi Anda dapat menjadi “pupuk” yang memacu pertumbuhan mental Anda?”

Hal-hal buruk dan tidak menyenangkan dalam hidup ada kalanya justru membantu mendewasakan diri kita.

Nah, buku ini adalah kumpulan catatan-catatan kecil untuk sebuah kesuksesan yang ingin Anda raih. Di sini kita juga diajak merenungi kembali hakikat hidup serta memberikan dorongan untuk membangun dan mewujudkan impian.

Mengutip tulisan di buku ini:
“Tumbuh adalah menjadi lebih bijak, lebih sabar, terus belajar”

Posted in Non Fiksi | 3 Comments