Dian Yang Tak Kunjung Padam

Judul: Dian Yang Tak Kunjung Padam
Penulis: S. Takdir Alisjahbana
Penerbit: Dian Rakyat

“… Bagi adinda tak ada jurang yang menceraikan kita berdua. Cinta yang suci seperti cinta kali ini, ialah pemberian Allah, dan sekalian perbuatan Allah tiada dapat dirusakkan oleh perbuatan manusia. Bukankah kebangsawanan itu perbuatan manusia belaka, manusia yang angkuh dan sombong?”

Di suatu malam, di tepian sungai Musi, Yasin menambatkan perahunya di dekat sebuah rumah yang besar dan tinggi. Di sanalah ia hendak menantikan hari siang untuk menjual para yang dibawanya dari kebun. Malam itu Yasin bersama Ibunya tidur di perahu.

Keesokan hari, Yasin bangun lebih pagi. Ketika ia sedang menikmati pemandangan disekelilingnya, tiba-tiba dari balik jendela rumah besar itu dilihatnya seorang gadis. Mata mereka bertemu. Itulah pertemuan pertama Yasin dengan Molek, anak perawan Raden Mahmud yang kaya raya. Pertemuan yang tak dapat dilupakan oleh keduanya.

Cinta yang bergejolak membuat Yasin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya melalui surat yang diselipkan melalui celah dinding tempat mandi Molek. Tempat ini akan menjadi saksi cinta dan kerinduan mereka yang ditumpahkan melalui surat-menyurat. Namun, hubungan cinta yang indah itu tidak mungkin dapat diwujudkan oleh karena perbedaan status sosial di antara mereka. Lamaran Yasin kepada keluarga Raden Mahmud ditolak.

Molek akhirnya dinikahkan oleh Sayid, saudagar kaya keturunan Arab. Molek menolak tapi keluarganya menerima pinangan lelaki kaya itu. Kehidupan perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan bagi Molek karena ia tidak mencintai Sayid. Suaminya pun sering bersikap kasar. Dalam surat-suratnya kepada Yasin, Molek menceritakan kesedihan dan kerinduannya kepada Yasin. Demi diketahuinya penderitaan Molek serta kerinduannya sendiri terhadap gadis itu, maka Yasin memberanikan diri untuk menemui Molek. Ternyata, itu adalah pertemuan terakhir Yasin dengan Molek. Karena setelah itu Molek meninggal dunia.

Mengutip sinopsis pada sampul buku:
“…Dalam kesetiaannya akan cinta, Yasin mengalami kebahagiaan abadi yang hanya untuk orang yang dapat melepaskan dirinya dari segala ikatan dan kong-kongan dunia. Meski secara fisik tak akan pernah bersatu, namun mereka percaya bahwa kelak cinta yang suci itu akan bertemu di alam lain.”

**
Karya sastra selalu menarik untuk disimak, selain memberikan pengetahuan dan latar belakang budaya, gaya bahasanya pun memikat hati. Bermanfaat sekali buat yang suka puisi, bisa menumbuhkan inspirasi 🙂

Kalatidha

Judul: Kalatidha
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kalatidha adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat.

Kalatidha, artinya adalah zaman gila atau zaman edan seperti ditulis oleh Rangga Warsita. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Kalatidha)

Bercerita tentang seorang pembobol bank yang masuk penjara. Di dalam sel ia  merekam kembali ingatan ke masa lalunya bersama kliping koran dari tahun 1965 milik kakaknya yang berhasil ia selundupkan.  Sebuah peristiwa sejarah G30S/PKI,  menjadi latar cerita dari novel Kalatidha ini.  Sejarah yang menyisakan luka bagi para korban dan keluarganya.

Adalah seorang gadis yang keluarganya dihabisi di depan kepalanya sendiri. Rumah mereka dibakar massa. Ia berhasil selamat walaupun menjadi gila. Gadis ini kemudian membalas dendam. Namun dalam kegilaannya masih saja ia diperlakukan kejam oleh orang-orang disekelilingnya.

Zaman edan,  sebutan yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang sakit. Di mana kebencian menghilangkan akal sehat, luka dan sakit hati meluapkan amarah dan dendam yang tak berperikemanusiaan.

Novel Seno Gumira yang ini memang berbeda dari novel-novel dia sebelumnya. Agak rumit dan alurnya meloncat-loncat. Tapi saya suka cara Seno memaparkan cerita tentang kabut, hutan bambu, dan cahaya. Khas Seno, puitis dan penuh makna.

“Pada mulanya memang kabut, masih, dan akan selalu kabut dan sebaiknya memang tetap saja kabut, yang kekelabuannya tiada pernah dan tiada perlu memberikan sesuatu yang jelas. Apalagi yang menarik dari hidup ini jika segala sesuatu sudah begitu jelas dan begitu pasti? Aku adalah anak kabut,dilahirkan oleh kabut, hidup di dalam kabut, dan hanya bisa hidup dalam dunia berkabut, karena hanya di dalam kabut aku bisa menjadi pengembara di dalam dunia yang kuciptakan sendiri. Hanya kabut, demi kabut, dan atas nama kabut kupertaruhkan hidup dan matiku, pahit dan manisku, suka dan dukaku, kebahagiaan dan kepahitanku, kehidupan dan kematianku dalam segala kemungkinan yang telah diciptakan Tuhan untuk dijelajahi olehku. kabut adalah duniaku-Dalam kabut itulah aku mengembara dan menjelajahi seribusatu kemungkinanku.”

Almustafa

Judul asli: The Prophet
Penulis: Kahlil Gibran
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerjemah: Sapardi Djoko Damono

Saya pernah membaca buku ini yang ketika itu diterbitkan dengan judul Sang Nabi. Saya tertarik membelinya kembali karena nama penerjemah dibelakang buku Almustafa, yaitu Sapardi Djoko Damono. Siapa yang tak kenal Beliau? Seorang penyair ternama di Indonesia. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah Hujan Bulan Juni.

Buku ini berkisah tentang seorang tokoh yang bernama Almustafa. Mengutip sinopsis dari buku tersebut: cerita bermula ketika Almustafa bersiap naik ke kapal yang akan membawanya kembali pulang ke negeri asalnya setelah 12 tahun berada di negeri asing. Kapal itu dihentikan oleh penduduk setempat. Mereka meminta Almustafa bercerita tentang rahasia yang terbentang antara kehidupan dan kematian.

Karya-karya Gibran selalu enak dibaca, bahasanya yang puitis dan pemikirannya yang mendalam pada berbagai hal, sungguh sangat menarik untuk direnungkan kembali.

Seperti dalam cinta:
“Bahkan ketika cinta memasang mahkota di kepalamu, ia pun sekaligus menyalibmu. Bahkan meskipun ia menumbuhkanmu, ia pun sekaligus memangkasmu.

Itulah segala yang dilakukan cinta terhadapmu agar kau memahami rahasia hatimu, dan karenanya menjadi serpihan dari hati Kehidupan.

Atau pemahaman tentang perkawinan:
“Bernyanyi dan menarilah bersama dan bergembiralah, tetapi biarkan masing-masing tetap sendiri-sendiri, Bagaikan dawai-dawai sitar yang tetap terpisah-pisah akan bergetar bersama-sama ketika mencipakan alunan musik.

Serahkan hatimu, tetapi tidak untuk saling memilliki. Sebab hanya tangan Kehidupan yang bisa menampung hatimu. Dan berdirilah berjajar tetapi jangan terlalu dekat, sebab pilar-pilar rumah pun tegak terpisah-pisah, Dan pohon ara dan cemara tumbuh tidak saling membayangi.”

Persahabatan:
“Carilah ia selalu sepanjang waktu untuk hidup. Sebab dialah yang akan memenuhi kebutuhanmu, dan bukan kekosonganmu. Dan dalam keindahan persahabatan biarkan terdengar tawa, dan berbagi kegembiraan. Sebab dalam embun yang sepelelah hati menemukan paginya dan menjadi segar.”

Tentang pengajaran:
“…. Ahli perbintanga mungkin saja berbicara kepadamu tentang ruang angkasa, tetapi ia tidak bisa memberi kearifannya kepadamu. ……

Sebab pandangan seseorang tidak akan meminjamkan sayapnya kepada orang lain. Dan sebagaimana masing-masing kamu berdiri sendiri di dalam pengetahuan Tuhan, maka setiap kamu harus sendiri juga dalam pengetahuannya tentang Tuhan dan dalam pemahamannya tentang bumi ini.”

Dan maut:
“Dan apa pula makna berhenti bernapas kalau bukan membebaskan napas dari helaan dan embusan yang tak kunjung henti, agar bisa melambung dan meluas dan mencari Tuhan tanpa beban?

Kita pengembara, senantiasa mencari jalan yang lebih sunyi, bermula dari entah kapan saat kita mengakhiri di hari yang lain, dan tidak ada fajar yang menjumpai kita di tempat senjakala meninggalkan kita.

Bahkan ketika bumi tidur kita mengembara.

Kita adalah benih dari tumbuhan yang kukuh, dan ketika matang hati kita diserahkan kepada angin untuk diceraiberaikan.”

Kejutan

Judul: Kejutan (Antologi Prosa)

Penulis: Andi Gunawan

Penerbit: LiniKala Publishing

Membaca buku ini mengingatkan saya pada Kate Dicamillo. Karya mereka berdua menggambarkan kemuraman dan kegelapan sekaligus harapan. Bahasa yang puitis juga menjadi unsur kekuatan dari karya mereka.

Tidak berbohong bahwa saya menyukai semua tulisan di buku ini. Tulisan-tulisannya menceritakan realitas hidup, yang walaupun terkadang pekat tapi juga menyimpan keindahan-keindahan kecil yang tersembunyi di dalamnya. Dan Andi, mengajak kita untuk melihat keindahan sejati itu tanpa menggurui melalui prosa-prosanya yang lirih.

Seperti di Buat Ani, tampaknya ini surat yang ditujukan Andi untuk adik tersayangnya. Saya merasakan luapan cinta dan sayang dari yang dinamakan keluarga. Dari kakak terhadap adik, dan anak terhadap orang tua.

Ada sesuatu yang mistis pada tulisan di Lelaki Tua yang Kehujanan. Saya suka kisah ini. Dan juga Kejutan. Ada sesuatu yang menyentak. Hidup, seperti roda yang kadang berjalan lambat tapi sewaktu-waktu bergulir ke atas atau ke bawah dengan cepat.

Salah dan Meminang Malam juga memesona. Salah menggambarkan kita, manusia dengan segala kompleksitas-nya. Meminang malam adalah kerinduan pada malam yang dalam keheningannya selalu mendekatkan kita pada Sang Pencipta.

Dan inilah yang membuat saya tersadar, mengapa saya begitu terpaku membaca tulisan-tulisan dalam prosa ini. Saya adalah penggemar berat karya-karya Kate Dicamillo. Dan, saya juga akan menggemari karya-karyamu ‘Ndi :). Sukses untukmu ya.

Jodoh

Judul: Jodoh
Penulis: A.A. navis
Penerbit: Grasindo

Kumpulan cerpen karya A.A. Navis ini berisi 10 cerita pendek, yaitu: Jodoh (yang menjadi judul kumpulan cerpen), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin, Kisah seorang Pengantin, Maria, Nora, dan Ibu.

Dalam jodoh, dikisahkan seorang laki-laki bernama Badri. Oleh karena idealismenya yang berlebihan dalam lapangan sosial dan kebudayaan membuat ia belum berani untuk menikah, walaupun usianya sudah beranjak 30 tahun. Ada 3 halangan yang membuat Badri tidak mudah untuk mencari seorang istri. Pertama: Badri menginginkan gadis yang tinggi semampai untuk memperbaiki keturunannya, di mana hal itu tidak mudah ditemui dalam masyarakat yang berbakat pendek. Kedua: Badri berdarah campuran yang dianggap kurang bermutu oleh masyarakat Minangkabau yang lebih suka perkawinan di antara suku mereka. Ketiga: kalkulasi biaya hidup setelah menikah.

Diliputi oleh berbagai pertimbangan membuat Badri sangat berhati-hati menentukan calon istrinya. Badri kemudian menghubungi rubrik kontak jodoh. Dari sana ia terpikat oleh seorang wanita dan mereka berjanji untuk bertemu. Alangkah kagetnya Badri ketika mengetahui wanita itu adalah Lena, gadis manis yang pernah dikencaninya. Singkat cerita mereka menikah dan Badri tinggal di rumah mertuanya. Ketika anak keduanya lahir, Badri menganjurkan istrinya untuk berhenti menjadi guru. Ternyata, kekhawatirannya dahulu tidak beralasan. Navis menyatakannya seperti ini:

“Pola hidup matrilini yang tidak disukai Badri ketika masa perjakanya, ternyata demikian indah dalam kenyataannya. …..Karena seni hidup ternyata bukanlah perhitungan yang eksak, melainkan dengan upaya penyesuaian diri pada iklim yang membentuk masyarakat. Dan idealisme masa perjaka ternyata suatu utopia semata, yaitu idealisme yang membius orang-orang yang tidak punya beban hidup keluarga. Idealisme seorang laki-laki yang telah menjadi suami dan menjadi seorang ayah, ialah idealisme yang abadi, yakni bagaimana caranya membahagiakan istri dan anak-anak.”

**
Cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Jodoh ini banyak berkisah tentang perjodohan, kecuali cerpen “Ibu”. Navis juga menyoroti kawin paksa yang masih banyak terjadi di masyarakat, tidak saja pada wanita tapi juga pada pria. Seperti tampak pada cerpen “Kisah Seorang Pengantin” dan “Kawin”, di mana laki-laki menjadi korban kawin paksa yang dikuasai oleh Ibu. Mencukil kata pengantar dari buku tersebut:

“Idealisme manusia modern yang betapapun kentalnya, masih lumat oleh tuntunan sosial budaya tradisional yang dikuasai Ibu. Demikian juga halnya dengan tema cerpen “Jodoh” yang mengisahkan seorang idealis yang berpikir rasional pun lumat oleh kondisi tradisional.”

Cinta di Dalam Gelas

Judul: Cinta di Dalam Gelas
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka

Cinta di Dalam Gelas adalah buku kedua Dwilogi Padang Bulan. Di buku ini Andrea banyak berkisah tentang permainan catur dan kopi. Lelaki Melayu dikenal dengan 3 hal, yaitu: kopi, sisa kebanggaan, dan catur. Setiap pagi, sore, dan malam hari para lelaki melayu pergi ke pasar demi segelas kopi. Di warung kopi itulah para pria berkumpul, menceritakan nasib, membanggakan jabatan terakhir sebelum maskapai timah gulung tikar dan mempertaruhkan martabat di atas papan catur.

Bagi lidah orang melayu kopi adalah minuman ajaib karena rasanya yang dapat berubah berdasarkan tempat. Bagi mereka kopi buatan rumah berbeda dengan kopi di warung-warung kopi yang tersedia. Diceritakan di salah satu kisah, seorang istri yang diam-diam membeli kopi di warung kopi langganan suaminya, kemudian ia menyajikan kopi itu. Setelah meminumnya sehirup, si suami segera berkemas. Sang istri bertanya, dan dijawab oleh suami bahwa ia mau ke warung kopi karena kopi di rumah tak seenak di warung kopi. Tak lama melayanglah panci ke kepala si lelaki.

Dikisahkan pula perjalanan panjang Enong demi mencapai keinginannya untuk bertanding catur melawan Matarom, lelaki pemenang kejuaraan catur berturut-turut. Suatu hal yang mustahil tercapai karena Enong tak pernah bermain catur. Tapi, jangan salah, kalau kita tidak lupa, Enong adalah perempuan yang sangat keras hati dan mempunyai kemauan belajar yang tinggi. Selain itu, sebenarnya ada dendam masa kecil yang tersimpan di hati Enong terhadap lelaki yang bernama Matarom itu.

Apakah impian Enong untuk mengalahkan Matarom terwujud?

**
Ada bagian menarik, yaitu ketika lampu lalu lintas masuk ke desa mereka. Lampu lalu lintas sedikit menandakan bahwa desa mereka siap untuk menjadi modern. Namun lihatlah kisah berikut:

“Jika kawan naik sepeda motor dan berhenti saat lampu merah, seseorang akan berteriak dari warung kopi di dekat lampu itu. “Lampu itu acih, Bang, lanjutlah.”

Andrea menuliskan pendapatnya: “Untuk menjadi modern, memang diperlukan persiapan yang tidak kecil.”

Kalimat di atas sederhana tapi mengandung pesan yang cukup bermakna :).

Sang Harimau

Judul asli: The Tiger Rising
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Sang harimau bercerita tentang seorang anak laki-laki yang bernama Rob. Dunianya berubah setelah Ibu yang dikasihinya meninggal dunia. Kehilangan besar itu mengubah pribadinya menjadi seorang yang sangat tertutup. Rob menyimpan semua kesedihannya sendiri. Ia mengibaratkan dirinya sebuah koper, yang di dalam koper itu semua harapan, masalah dan kesedihannya tersimpan. Ia memasukkan semua perasaannya ke dalam koper itu dan menjejalkannya rapat-rapat dan menguncinya. Namun sekali waktu isi koper itu memaksa diri mereka keluar sehingga ia merasa perlu menduduki koper itu. Itu pun belum cukup sampai suatu hari ia melihat sang harimau. Harimau dengan bulunya yang berwarna kuning keemasan dan tatap mata yang tajam datang memberinya sebuah kekuatan yang baru. Rob tak sengaja melihat harimau ini, terkurung dalam kandang di sebuah hutan, dekat dengan motel yang menjadi tempat tinggalnya sekaligus merupakan tempat mata pencarian sang Ayah.

Kekuatan dari harimau itu membantunya untuk tetap tegar menghadapi kenakalan beberapa kawannya. Setiap kali mereka mengolok-olok serta menindasnya Rob tak pernah melawan. Ia juga tak menangis. Ia hanya perlu memikirkan hal-hal lain selama penyiksaan berlangsung. Dan bagi Rob, hal lain itu adalah seekor harimau. Setiap kali ia memikirkan harimau maka Rob merasakan kekuatannya bertambah besar.

Rob juga tahu jika ia tak melawan maka anak-anak itu lama kelamaan akan bosan dan meninggalkannya. Dan Rob tak pernah menangis walaupun rasa perih dan sakit dirasakannya akibat pukulan dan tendangan dari temannya itu.

Suatu hari, di sekolah tempat Rob belajar kedatangan murid baru, Sistine nama anak perempuan itu. Berbalikan dengan Rob, Sistine adalah seorang anak yang sangat pemarah. Sistine berani menantang siapapun yang mengejeknya. Perbedaan kepribadian yang saling bertolak belakang ini justru menjadikan mereka dua orang yang saling bersahabat.

Mengutip sinopsisi dari buku ini “Seiring mereka belajar saling memercayai dan bersahabat, bersama-sama mereka mendapati bahwa kenangan dan luka hati-serta harimau tidak bisa dikurung selamanya.

**
Ada banyak bagian menarik dari buku ini. Salah satunya saya suka bagian ketika Rob merasakan kebahagiaan akan hadirnya seorang teman dalam hidupnya, sesuatu yang tak pernah berani diharapkannya lagi. Kate menuliskannya dengan sangat manis, seperti ini:

“….. Mereka berlari bersama, dan Rob merasakan jantungnya berdentam di dalam–. ……Rasanya jiwanya seolah mengembang dan mendorong semuanya naik di dalam tubuhnya. Anehnya, ia mengenali perasaan itu, namun ia tidak dapat mengingat apa nama perasaan tersebut. ……. Lalu Rob ingat nama perasaan yang mendorong ke atas dalam dirinya, memenuhi dirinya seperti akan meluap. Namanya kebahagiaan. Itulah namanya.”

Bagaimana Kate melukiskan ketegaran Rob yang sebenarnya rapuh itu juga sungguh mengharu biru perasaan. Bagaimana setiap kali Rob membisikkan kata “jangan menangis. jangan menangis” kepada dirinya itu sungguh indah sekaligus mengiris hati.

Pesan indah dari novel ini adalah:
Ketika kamu tersakiti, bayangkanlah sesuatu yang membuatmu bahagia. Entah menyanyi, menggambar, menulis, membaca atau apa saja yang bisa memberimu kekuatan. Jika kamu ingin menangis, menangis lah. Tapi, yakinlah bahwa dirimu berharga dan layak untuk dicintai.

Manis, lembut, dan indah adalah pujian yang pantas diberikan untuk karya-karya Kate.

Dwilogi Padang Bulan

Judul: Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal terbit: Juni – 2010

Di novel pertama, Padang Bulan, Andrea lebih banyak bercerita tentang Enong, si guru kesedihan serta bagaimana cinta membuat Ikal -tokoh cerita kita ini- bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.

Enong adalah gadis kecil dengan semangat belajar yang tinggi. Namun sayang, sebuah peristiwa di suatu siang membuat Enong menanggalkan mimpinya untuk terus sekolah. Ayah yang dicintai dan merupakan tulang punggung keluarga meninggal tertimbun tanah ketika sedang menambang timah. Sejak saat itu Enong beralih tugas menggantikan peran sang Ayah. Ia harus membantu Ibu dan adik-adiknya untuk menyambung hidup. Enong keluar dari sekolah dan mulai mencari pekerjaan. Namun, tentu saja tidak mudah bagi anak seusia Enong untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah beberapa kali tak berhasil mendapatkan pekerjaan, Enong mencoba menjadi penambang timah. Kelak, ia menjadi perempuan penambang timah pertama di desanya.

Ketika Enong merasa lelah bekerja, ia akan membuka Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata yang dibelikan ayahnya dahulu. Kamus itu selalu menemani Enong. Ia sering menandai kata yang sangat asing baginya, seperti: sacrifice, honesty, dan freedom. Enong sangat terpukau dengan kata-kata itu, terdengar hebat.

Andrea, si penulis, melukiskan ketiga kata itu dengan kalimat yang menarik.

“Arti yang mewakili jeritan hatinya. Ia siap berkorban untuk keluarganya, ia ingin menjadi orang yang jujur, dan ia ingin memerdekakan dirinya dari kesedihan.”

Kisah Enong adalah bagian yang mengharu biru sekaligus memancarkan semangat dan kekuatan yang luar biasa.

Dan, kegilaan cinta macam apa yang dilakukan si Ikal untuk merebut kembali A Ling?

Kekonyolan Ikal dalam upayanya merebut kembali A Ling adalah bagian yang akan membuat kita menertawakan diri sendiri. Sebab apa? Ya, kawan, cinta itu memang absurd, bukan? Sanggup membuat pelakunya melakukan ketidakwarasan dalam berpikir dan bertindak.

Ikal, yang mendapat kabar dari detektif M.Nur bahwa A Ling dijodohkan oleh keluarganya dengan Zinar, lelaki yang tampan dan pandai dalam bidang olahraga serta mempunyai rasa seni yang tinggi. Kecemburuan Ikal yang disertai oleh rasa tak ingin mengalah membuat ia melakukan hal-hal yang seringkali mempermalukan dirinya sendiri.

Kegilaan oleh sebab cinta itu pada akhirnya mereda. Itulah saat Ikal menyadari bahwa cinta Zinar dan A Ling tak dapat ia lawan. Namun di kemudian hari diketahui bahwa kabar tentang perjodohan A Ling dan Zinar itu adalah tidak benar. Ternyata, Zinar adalah sahabat pamannya. Dan jika selama ini A Ling tidak bisa menemani Ikal oleh karena ia sibuk membantu Zinar membuka toko dan mempersiapkan perkawinan sahabat pamannya itu.

Cerita Padang Bulan ditutup dengan kegembiraan, tidak saja karena Ikal mendapatkan A ling nya kembali tapi juga karena Ikal menyadari pertikaian antara ia dan ayahnya telah berakhir dengan damai.

Bagian yang saya suka dari buku pertama Dwilogi Padang Bulan ini adalah kisah Enong dengan ketiga kata ajaibnya. Dan, kutipan kalimat berikut ini:

“Sering aku disiksa oleh pertanyaan: mengapa A Ling bisa begitu? Apa salahku sehingga ia begitu? Apa yang ada di dalam kepala seorang perempuan? ……. Sungguh aku tak mengerti. Namun, perlukah aku mengerti? Kurasa tidak. Yang kuperlukan hanyalah menghormati keputusannya, dan karena Tuhan telah menciptakan manusia dengan hati dan pikiran yang boleh punya jalan masing-masing, penghormatan seharusnya tidak memerlukan pengertian“. Hal 237, Rukun Islam

Untuk semua pertanyaan yang menari di kepala, memang tidak ada yang perlu dimengerti. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghormati setiap keputusan yang diambil oleh orang lain, walaupun itu mungkin sangat menyakitkan.

Gajah Sang Penyihir

Judul: Gajah Sang Penyihir
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Peter adalah seorang anak yang tinggal di apartemen kecil dengan seorang teman ayahnya, seorang mantan tentara. Ayahnya meninggal dalam peperangan dan Ibunya menyusul sang ayah usai melahirkan adik Peter. Peter dipisahkan dengan si adik. Hari-hari sepi dilalui Peter. Hati kecil Peter meyakini bahwa sang adik masih hidup walaupun teman ayahnya berulangkali mengatakan bahwa adiknya meninggal dunia.

Suatu hari, Peter memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang peramal. Peramal hanya memberikan kata kunci: Gajah. Ya, gajah itu akan membawa Peter menemui kembali adiknya. Sejak saat itu dimulailah petualangan menarik Peter dalam pengembaraannya menjemput adik tersayangnya.

Buku ini sangat menarik, memberi pesan bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang meyakininya.

“Pernahkah kau, sejujurnya, melihat sesuatu yang begitu indah? Harus kita apakan dunia tempat bintang-bintang bersinar gemerlap di tengah kegelapan dan kemuraman yang begitu pekat ini?”

Pekat tidak selamanya gelap. Pendar-pendar cahaya itu tidak lindap, jika kita percaya.

Jawablah Aku

Judul asli: Rispondimi
Penulis: Susanna Tamaro
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Halaman: 219

Buku ini terdiri dari 3 kumpulan cerita yang terpisah tapi mempunyai dilema yang sama, cinta, kebencian, dendam, perjuangan untuk hidup dan Tuhan.

Kisah pertama bercerita seorang anak yatim piatu bernama Rosa. Ibu Rosa adalah seorang pelacur yang meninggal karena kecelakaan ketika sedang menjajakan dirinya di kelokan sebuah jalan. Rosa kecil kemudian tinggal bersama paman dan bibinya. Namun bukan kasih sayang yang ia peroleh melainkan kebencian dalam hidupnya.

“Apakah cinta itu benar-benar ada? Dan dalam bentuk apakah cinta menyatakan diri?”
“Sewaktu kanak-kanak aku percaya pada cinta, sama seperti aku percaya pada peri. Namun pada suatu hari aku mencari di celah-celah kayu dan di balik tudung-tudung jamur. Dan aku tidak menemukan peri atau makhluk-makhluk gaib, hanya lumut, jamur, tanah, dan serangga. Serangga itu bukannya berciuman, melainkan saling memangsa.”

Ketika usianya beranjak remaja Rosa meninggalkan paman dan bibinya. Ia mendapat kesempatan untuk menjadi pengasuh di sebuah keluarga muda. Di sana kehidupan Rosa berubah. Sejenak ia menemukan keluarga yang tepat. Sampai suatu ketika Rosa terlibat cinta dengan pria majikannya. Sayangnya, laki-laki ini ternyata hanya ingin memanfaatkan kepolosan Rosa. “Cinta berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang lain, tanpa berpikir untuk menyembunyikan apapun.” Dan dengan cinta itu pula Rosa akhirnya harus menanggung resiko yang lebih besar.

“Apakah seseorang mendampingi kita, ataukah kita hanya sendirian?
“Jawablah aku.”

Kisah kedua bercerita tentang seorang wanita yang tidak mampu menghadapi kekejaman suaminya sehingga menyebabkan ia kehilangan putra tercintanya. Cinta yang ia miliki pupus bersama kebencian yang terus menghinggapi dirinya dan berubah menjadi dendam.

Kisah ketiga bercerita tentang sebuah cinta yang posesif. Rasa takut kehilangan dapat membawa kita pada munculnya prasangka dan sifat jahat.

Jadi, apakah cinta itu?
Entah. Mungkin cinta bisa melukaimu, memberimu dendam dan kebencian. Tapi cinta juga memberimu kebahagiaan dan kebijaksanaan.