Enzo

Judul: Enzo, The Art of Racing in the Rain
Penulis: Garth Stein
Penerjemah: Ary Nilandari
Tebal: 408 hlm
Terbit: Cetakan 1, April 2009
Penerbit: Serambi

“Hidup, seperti halnya balapan, tidaklah hanya soal melaju kencang. Dengan menggunakan teknik-teknik di arena balap, manusia dapat berhasil menjalani liku-liku kehidupan.”

Enzo adalah kisah seekor anjing yang berjiwa manusia. Menjelang ajal, ia mengenang kembali perjalanan hidupnya dengan Denny.

Ketika Enzo berusia 12 minggu, Denny, seorang pembalap membawanya pulang ke rumah. Sejak saat itu Enzo dan Denny menjalin persahabatan yang dalam. Mereka saling mengasihi dan mempercayai satu sama lain.

Denny gemar menonton acara balap mobil. Sambil menonton Denny akan mengajaknya berbicara berbagai teknik balap mobil. Dari balap mobil pula Enzo belajar bahwa teknik-teknik di arena balap mobil bisa membantu manusia menjalani kehidupan dengan baik. Enzo banyak belajar dari Denny. Selain acara balap mobil, Enzo juga menyukai National Geographic dan Discovery Channel. Enzo juga suka menonton film-film yang dimainkan oleh aktor favoritnya.

Pelajaran pertama Enzo dalam kehidupan Denny adalah kehadiran Eve. Enzo sempat merasa cemburu. Rasa ketakutan Enzo menghalangi ia untuk mendekati Eve. Untuk beberapa waktu hubungan Enzo dan Eve memang tak akrab. Namun Enzo ingin belajar untuk mencintai Eve sebagaimana Denny mencintai gadis itu. Dan kesadaran itu muncul ketika suatu hari Denny mengajak Enzo menonton balapan mobil.

“Apa yang kau wujudkan ada di depanmu, kitalah yang menciptakan nasib kita sendiri. Baik disengaja atau tidak, kesuksesan dan kegagalan disebabkan oleh kita sendiri, bukan orang lain.”

Enzo kemudian menyadari bahwa ia harus memberikan kesempatan kepada Eve untuk melihat dirinya dari sisi yang lain. Enzo juga yang pertama kali mengetahui ada sesuatu yang tak beres pada Eve. Sayangnya, Enzo tak bisa memberikan peringatan kepada Denny. Eve jatuh sakit dan meninggal. Kepergian Eve meninggalkan duka yang dalam untuk Denny dan Zoe.

Hidup Denny hancur, terutama setelah hak pengasuhan Zoe, putri satu-satunya jatuh kepada orang tua Eve. Dan Denny sama sekali tak mempunyai hak untuk mengunjungi. Selain masalah finansial yang membuat ia tak mampu menafkahi kebutuhan putrinya.

Di tengah cobaan berat yang menghampirinya, Enzo selalu menemani Denny. Enzo lah sahabat Denny, yang selalu siap mendengarkan dan memberinya cinta yang tulus.

**
Buku ini menjadi menarik karena Enzo berperan sebagai narator, kecuali di bagian akhir.

Enzo adalah anjing yang cerdas. Ia meyakini bahwa dirinya akan lahir kembali sebagai manusia, seperti yang selama ini diangankannya. Walau untuk itu ia harus melupakan Denny dan semua kenangan yang pernah mereka jalani bersama.

Apakah kemudian Enzo benar akan menjema menjadi manusia setelah kematiannya? Jawabannya ada di bagian akhir buku ini. Silakan membaca 🙂

Posted in Filsafat | 2 Comments

Gadis Jeruk


Judul : Gadis Jeruk
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : Yuliani Liputo
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan : Juli 2011 (Gold Edition)
Tebal : 252 hlm

“Bagaimana perasaan Anda jika mendapat surat dari Ayah Anda yang meninggal sebelas tahun yang lalu? Bingung, tentunya”.

Ini sebuah kisah tentang seorang anak laki-laki bernama Georg Roed, di usia-nya yang ke lima belas tahun ia mendapat surat warisan dari sang ayah, Jan Olav. Surat panjang itu berisi kenangan hari-hari yang dilalui Ayah bersama dirinya. Namun yang terutama adalah cerita Ayah tentang seorang gadis jeruk. Siapakah ia? Dan mengapa Ayah bertanya tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble? Apa hubungan gadis jeruk dengan Teleskop Ruang Angkasa Hubble?

Gadis jeruk adalah sebutan Jan Olav untuk seorang gadis cantik bernama Veronika, yang mengenakan mantel kulit berwarna oranye. Gadis itu ditemuinya pertama kali ketika mereka berada di dalam trem. Gadis itu memeluk erat sebuah kantong yang berisi jeruk-jeruk. Namun yang teristimewa dari gadis itu adalah ada sesuatu yang magis dan memikat tapi tak terjelaskan.

Sejak itu Jan Olav tidak bisa melupakan si gadis jeruk. Jan Olav mengejar si gadis jeruk kemanapun. Gadis jeruk dan Jan Olav tahu mereka mempunyai peraturan yang harus mereka tepati bersama. Aturan yang mesti mereka lakukan atau hindari, tanpa perlu memahaminya atau bahkan tak perlu membicarakannya.

Kisah mereka adalah dongeng yang juga kita, manusia jalani dalam kehidupan di dunia.

“Bukankah dunia ini hanya sebuah dongeng panjang? Dongeng besar yang kita merupakan bagian-bagiannya, puzzle besar yang mana kamu dan aku hanya merupakan beberapa keping kecilnya. Dongeng itu pun punya hukum dan peraturan tertentu yang tidak bisa kita kita mengerti, yang bisa kita sukai atau benci, tapi mau tidak mau harus kita ikuti.”

Dan sebagai sebuah dongeng tentu mempunyai akhir.

“Dongeng hebat apakah yang sedang kita jalani dalam hidup ini, dan yang masing-masing dari kita hanya boleh mengalaminya untuk waktu yang sangat singkat? Mungkin teleskop ruang angkasa akan membantu kita untuk mengerti lebih banyak tentang hakikat dongeng ini suatu hari. Barangkali, di luar sana, di balik galaksi-galaksi, terdapat jawaban apa sebenarnya manusia itu.”

Teleskop Angkasa Hubble adalah teleskop luar angkasa yang berada di orbit bumi. Sebagian besar benda-benda angkasa yang dapat ditemukan dan berhasil diidentifikasi adalah berkat jasa teleskop Hubble ini. Termasuk di antaranya lubang hitam, galaksi, supernova, sampai tabrakan bintang. Teleskop ini telah mengambil gambar-gambar yang menakjubkan tentang masa lalu alam semesta. Bagaimana mungkin? Walau terdengar absurd inilah penjelasannya:

“Sesungguhnya melihat ke ruang angkasa itu sama dengan melihat ke masa lalu”

Jika kita melihat planet yang jaraknya 100 juta tahun cahaya itu sama artinya kita melihat masa kehidupan planet itu di 100 juta tahun yang silam.

Bukankah menakjubkan? Bahkan teleskop ruang angkasa Hubble nyaris bisa melihat langsung ke dentuman besar ketika ruang dan waktu tercipta.

Manusia akan terus mencari jawaban tentang hakikat dirinya, melalui bintang-bintang, planet, galaksi, dan seluruh kehidupan di alam semesta. Entah sampai kapan.

Dan seandainya, Anda diberikan pertanyaan seperti di bawah ini, apakah jawabannya?

“Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya punya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.” (hal 212)

Oya, Gadis Jeruk versi ebook bisa kamu unduh di Qbaca. Dan untuk mendapatkan kabar terbaru mengenai koleksi buku-buku dari Qbaca bisa kamu peroleh di sini atau di sana. Untuk mendaftar ke Qbaca silakan klik laman berikut ini.

Posted in Filsafat | 1 Comment

Madre

Judul: Madre
Penulis: Dee (Dewi Lestari)
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2011
Halaman: 160

“…, kata “Madre” itu ternyata berasal dari bahasa Spanyol, artinya “ibu”. Madre, Sang Adonan Biang, lahir sebelum ibu kandung saya. Dan dia bahkan sanggup hidup lebih panjang dari penciptanya.”

Madre adalah kumpulan cerita yang terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek.

Madre berkisah tentang seorang laki-laki muda bernama Tansen yang diberi warisan sebuah adonan biang roti bernama Madre. Madre merupakan cikal bakal dari tumbuhnya toko roti Tan De Bakker, yang dimiliki oleh laki-laki bernama Tan. Tan muda bertemu Laksmi ketika mereka bersama-sama bekerja di toko roti. Demi melihat talenta laksmi, Tan mengajak Laksmi keluar dari toko roti dan kemudian menjual roti sendiri. Dari kecil-kecilan sampai kemudian Tan memiliki toko. Kedekatan mereka berubah dari sahabat menjadi saling jatuh cinta. Tan dan Laksmi menikah. Laksmi yang mewarisi darah India tidak diterima oleh keluarga Tan, begitupun sebaliknya. Akibatnya, mereka berdua diusir dari keluarga masing-masing. Malangnya, nenek Tansen tidak berumur panjang. Tak lama setelah Kartika lahir (Ibu Tansen), Laksmi meninggal. Hidup Tan kocar-kacir dan hampir bangkrut. Namun pertolongan datang dari keluarganya. Setelah Laksmi tiada, hubungan keluarga mereka akur kembali. Dan jadilah toko roti yang sekarang ditempati oleh Pak Hadi dan kondisinya mati suri.

Tanpa secuilpun pengetahuan mengenai roti, laki-laki yang menikmati hidupnya dalam ruang kecil yang ia beri nama kebebasan, tentu saja Tansen menolak untuk mengurusi toko roti yang telah lama tak beroperasi ini. Pertemuannya dengan Mei, menguatkan niat Tansen untuk menjual Madre kepada perempuan pengusaha roti itu. Namun obrolannya dengan Pak Hadi dan sejarah masa lalu neneknya membuat Tansen berubah pikiran. Madre bukan sekedar biang roti biasa, selain cita rasanya yang memang unik, ia juga menyimpan kenangan. Madre adalah adonan biang roti yang dikulturkan oleh neneknya, umurnya saudah tujuh puluh tahun. Biang roti itu bahkan sanggup bertahan hidup melebihi dari umur penciptanya.

Bersama dengan Pak Hadi dan rekan-rekan sejawatnya serta Mei, Tansen membangun kembali toko roti warisan kakek dan neneknya. Toko roti itu berganti nama menjadi Tansen De Bakker.

**
Selain prosa pendek ada dua cerita yang juga saya sukai. Pertama, Have You Ever dan Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan.

Have You Ever bercerita tentang seorang laki-laki di kehidupannya yang telah matang kemudian mendapat kejutan berupa surat dari seorang perempuan, yang baru dikenalnya sebulan yang lalu. Keduanya menyadari bahwa ada sesuatu yang tak terjelaskan di antara mereka. Sepertinya mereka saling terhubung satu sama lain. Sampai kemudian si perempuan memberinya sebuah surat. Surat berisi sebuah tanda yang bisa ditelusuri oleh lelaki itu untuk mencari pembuktian atas perjanjian abadi antara mereka berdua. Beranikah lelaki itu mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya?

“Hidup telah menunjukkan dengan caranya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu ke mana ini semua berakhir. Bagiku, itulah keajaiban yang kucari, yang dihidangkan semesta bagiku, dan kulahap abis… Jiwaku kenyang sudah”

Dan pada kisah kedua, Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan.
Apakah itu cinta?
Apa itu Tuhan?

Si pencerita meminta si pewawancara untuk mengupas kulit bawang merah dari semangkuk acar yang ada di hadapannya dengan kuku. Maka berdua mereka terus menguliti bawang sampai tak bersisa lagi.

“Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa.

Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau harus nelangsa, lagi aku berkata. “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan.”

**

Dee selalu menarik dengan kedalaman kata-katanya.

Dan, satu hal yang cukup mengusik hati saya, apakah ada restoran yang menggunakan kaldu biang yang dikulturkan bertahun-tahun lampau sebagai bumbu sup atau masakan lainnya?

Untuk roti, ya saya mengerti. Tapi, kaldu? Bagaimana caranya? 🙂

Posted in Kumpulan Cerpen | 2 Comments

Feynman, Genius Paling Cool Sedunia

Judul: Feynman Genius Paling Cool Sedunia
Judul asli: What Do You Care What Other People Think
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: 2006
Halaman: 292

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berisi masa kecil Feynman serta Feynman dengan istri pertamanya, Arlene. Kisah sedih dan mengharukan kedua pasangan ini adalah ketika Arlene sakit keras dan didiagnosis hidupnya tidak lama lagi. Kedua pasangan ini saling mencintai dan memperhatikan satu sama lain. Perhatian-perhatian kecil yang diberikan Arlene kadang membuat Feynman sedikit merasa jengah. Arlene bukannya tidak menyadari hal ini. “What Do You Care What Other People Think” adalah kalimat yang sering diucapkan Arlene jika Feynman memprotes perhatian yang berlebih itu, yang kemudian menjadi judul buku ini.

Bagian kedua mengisahkan keterlibatan Feynman dalam komisi penyelidikan kecelakaan pesawat challenger. Feynman menceritakan pergulatan hatinya ketika pertama kali ia dimintai tolong oleh seorang mantan muridnya untuk bergabung dalam sebuah komisi penyelidikan kecelakaan pesawat challenger. Pesawat ulang alik yang membawa misi ke luar angkasa ini meledak dan menewaskan seluruh awaknya, pada tanggal 28 Januari 1986. Feynman hampir saja memutuskan untuk menolak permintaan tersebut. Ini dikarenakan ia tidak ingin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pemerintah (Adakah ini didasari oleh pengalamannya pada saat melakukan eksperimen dengan bom atom?). Namun akhirnya saran dari istri keduanya, Gwenneth, meyakinkan Feynman untuk menerima tawaran tersebut.

Lika-liku selama penyelidikan dikisahkan Feynman dalam buku ini secara gamblang. Posisinya sebagai tim penyelidik tidak menjadikan Feynman seorang yang otoriter ketika menjalankan tugasnya. Dia cerdas, itu jelas tidak diragukan. Dan terkadang ia pun jail, salah satunya ketika ia ingin mendapatkan sebuah informasi yang ia tahu tak seorangpun akan mengatakan hal yang sebenarnya jika ia menanyakan perihal itu secara langsung. Pendekatannya yang baik dan ramah terhadap siapapun membuat dia mudah diterima. Namun dia juga terlihat naif sekaligus keras kepala, ini tampak ketika ia menolak surat rekomendasi untuk NASA.

Tapi mungkin itu yang membuat Feynman menjadi sosok yang legendaris, cemerlang, jujur dan juga eksentrik.

Posted in Biografi | Leave a comment

Laika

Judul: Laika
Penulis: Nick Abadzis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 200

Manusia pertama yang ke luar angkasa ialah Yuri Gagarin. Ia adalah kosmonot pertama dari Uni Soviet (Rusia), yang berhasil menerbangkan pesawat antariksa pada bulan April 1961. Namun jauh sebelumnya, tepatnya tanggal 4 Oktober 1957, Uni Soviet mencengangkan dunia dengan peluncuran Sputnik I, satelit buatan pertama di dunia. Pencapaian prestasi ini menjadi bukti nyata atas keunggulan teknologi negeri tersebut, yang kala itu sedang berperang dingin dengan Amerika Serikat. Keberhasilan yang luar biasa membuat pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev, memutuskan untuk memberikan kejutan yang lebih besar untuk perayaan ulang tahun ke-40 Revolusi Oktober (Kira-kira, tenggat waktu satu bulan setelah peluncuran Sputnik I yang spektakuler). Waktu yang singkat bagi para ilmuwan untuk mengelola program antariksa Uni Soviet, dengan peluncuran Sputnik II yang berpenumpang.

Kelak, projek inilah yang menentukan nasib seekor anjing bernama Laika. Laika bernama asli Kurdyavka adalah seekor anjing yang dibuang, mengembara di jalanan dan berakhir di sebuah penampungan.

Laika kemudian dipilih untuk menjadi pelopor dalam peluncuran sputnik II. Laika akan menjalankan misi pesawat antariksa ini menjadi misi sekali jalan. Artinya, Laika sekaligus akan menjadi martir dalam peluncuran sputnik II.

Laika kemudian memang dikorbankan untuk memenuhi ego manusia. Laika mati. Tubuhnya hancur di orbit dan terbakar saat masuk ke atmosfir.

Alih-alih menjadikan program antariksa ini sebagai kelanjutan dari Sputnik I, penyesalan atas nasib Laika yang dikirim untuk mati di luar angkasa menuai protes dari berbagai kalangan. Seperti dikatakan Oleg Gazenko pada akhir buku itu sendiri. “Bahwa nilai ilmiah Sputnik II sangat kecil. Tidak banyak yang bisa disumbangkannya pada penerbangan antariksa pertama yang dipiloti manusia, yakni Yuri Gagarin pada bulan April 1961.” Penyesalan Oleg pun tertulis dalam kutipan berikut ini. “Bekerja bersama binatang-binatang merupakan sumber penderitaan bagi kami semua. Kami memperlakukan mereka seperti bayi-bayi yang tidak bisa bicara. Dengan berlalunya waktu, semakin besar penyesalanku. Tidak banyak yang kami pelajari dari misi itu untuk bisa membenarkan kematian anjing tersebut.”

Kisah ini dirangkum dengan indah oleh Nick Abadzis. Melalui riset yang teliti dan gabungan imajinasi antara manusia dan anjing, menjadikan cerita ini mempesona dan mengharukan. “Sebuah renungan yang dalam atas makna takdir serta betapa indah dan rapuhnya rasa percaya.” (Alexis Siegel, 2007).

Posted in Novel | Leave a comment

Robohnya Surau Kami

Judul: Robohnya Surau Kami
Penulis: A.A. Navis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 139

Ada sepuluh cerita pendek di dalam buku ini. Salah satunya yang cukup fenomenal yaitu “Robohnya Surau Kami”.

Bercerita tentang seorang kakek yang bersedih setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi. Cerita itu adalah tentang percakapan Tuhan dengan seorang manusia yang bernama Haji Saleh, di akhirat ketika Tuhan memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Haji Saleh meyakini bahwa dirinya akan dimasukkan ke surga. Namun ternyata Tuhan mengirimnya ke neraka. Haji Saleh kaget dan begitu tercengangnya ketika ia mendapati teman-temannya sedang merintih kesakitan di dalam sana. Ia tak mengerti karena semua orang yang dilihatnya adalah mereka yang tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk memprotes keputusan Tuhan. Dan inilah jawaban Tuhan:

“…kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”

Semua menjadi pucat pasi, dan bertanyalah haji Saleh pada malaikat yang menggiring mereka.

“Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.”

Navis seperti ingin mengingatkan kita yang seringkali berpuas diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita rajin sahalat, mengaji dan kegiatan ritual keagamaan lainnya karena kita takut masuk neraka. Kita menginginkan pahala dan keselamatan hanya untuk diri kita sendiri. Kita melupakan kebutuhan orang lain. Karenanya kita tidak merasa berdosa dan bersalah ketika mengambil hak orang lain, menyakiti perasaan sesama atau bahkan melakukan ketidakjujuran dan kemaksiatan di muka bumi.

Jika demikian, maka kesalehan agama yang kita miliki tak lebih superfisial saja sifatnya. Kita tidak sepenuhnya ikhlas.

Kita lupa bahwa belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh adalah juga ibadah. Berbuat baik terhadap sesama makhluk hidup juga ibadah. Dan bahwa kita mempunyai tangungjawab sosial terhadap masyarakat dan sekeliling kita.

Posted in Klasik dan Sastra | 6 Comments

Dewi Kawi

Judul Buku: Dewi Kawi
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Tahun Penerbitan: 2008
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Eling adalah pengusaha kaya yang memulai hidupnya dari mengumpulkan sisa-sisa daun kol yang membusuk. Di masa silam ia pernah mencintai seorang wanita yang kemudian menjadi sumber inspirasinya. Kawi, nama wanita itu. Eling ingin membalas budi kebaikan wanita itu dengan memberi nama kehormatan Dewi Kawi untuk satu usaha bisnisnya. Ia berniat mencari Dewi Kawi.

Satu setengah tahun kenangan bersama Kawi merupakan peristiwa-peristiwa terpadat dalam hidup Eling. Namun ajaib ia tak lagi bisa mengingat dengan baik wanita yang pernah lekat dalam hidupnya. Untuk akhirnya Eling ragu, apakah wanita itu pernah benar-benar ada dalam kehidupannya? Apakah ia mencintainya? Atau apakah ini semua hanya khayalan yang berusaha ia ciptakan agar seolah-olah menjadi nyata? Bukankah untuk seorang pengusaha sukses seperti dirinya maka kisah hidupnya dianggap menjadi sebuah kebenaran?

Bagi Eling, kenyataan atau kebenaran ternyata bukan apa yang dialami, melainkan juga bisa diciptakan kembali, dibentuk kembali, dan kemudian dipercaya bersama orang lain.

Demikian juga kisah cintanya dengan Kawi, sungguhkah ia mencintai wanita itu? Atau ia yang menghidupkan, melebih-lebihkan dan membuat segala sesuatunya menjadi indah? Seperti halnya sebuah dusta. Manusia memerlukan dusta sebagaimana ia memerlukan bernapas. Dusta adalah upaya yang wajar untuk membuat sebuah perubahan dari peristiwa yang terjadi.

Arswendo mengibaratkan dusta sebagai berikut:
Dalam keadaan jatuh cinta, kita menangkap senyuman sebagai perhatian, kita menemukan realitas lain dari sebatang cokelat sebagai sesuatu yang istimewa. Mereka yang tengah jatuh cinta sebenarnya sedang mendustai dalam pengertian mengubah realitas yang ada.

Cinta adalah dramatisasi, rekonstruksi ulang segala kejadian yang dialami-atau tak dialami secara langsung. Ketika kita larut di dalamnya , dan tak mampu membedakan mana peristiwa yang sesungguhnya dan mana yang olahan, sempurnalah sudah libatan emosi itu.

Dan ukuran cinta tidak sekedar perhatian tapi juga ada ikatan emosional yang rutin di dalamnya. Maka,itulah sebabnya putus cinta bagai meneteskan air mata hangat, karena membekas. Masalahnya memang, hanya kenangan.

Posted in Novel | 1 Comment

Tarian Bumi

Judul Buku: Tarian Bumi
Penulis: Oka Rusmini
Tahun Penerbitan: 2007
Cetakan Ke: Pertama
No ISBN: 978-979-22-2877-9/979-22-2877-2
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cerita tentang seorang anak perempuan bernama Telaga yang lahir dari seorang Ibu bernama Luh Sekar, perempuan sudra yang menikah dengan seorang Ida bagus (nama depan laki-laki dari kasta Brahmana, kasta tertinggi dari masyarakat bali). Sudra adalah kasta terendah dalam masyarakat bali.

Telaga atau lengkapnya Ida Ayu (nama depan anak perempuan kasta brahmana) Telaga Pidada menyandang gelar bangsawan. Sejarah hidup Telaga sendiri penuh luka. Karena cintanya pada seorang laki-laki dari kasta sudra ia bersedia menanggalkan kebangsawannya.

Pernikahan Telaga dan Wayan sejak semula tidak direstui oleh kedua belah pihak orang tua mereka. Ibu Telaga, yang kemudian berganti nama menjadi “Jero” (Jero adalah nama yang harus dipakai oleh seorang perempuan sudra yang menjadi anggota keluarga griya) Kenanga, dulunya seorang penari sudra yang sangat cantik. Kehidupan keluarganya yang miskin dan terhina membuat Kenanga sangat berambisi untuk menjadi kaya dan terhormat. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan keinginan itu adalah dengan menerima pinangan dari lelaki bangsawan yang tidak dicintainya. Bagi Kenanga, cinta tak penting, yang utama adalah kekayaan.

Laki-laki bangsawan yang dinikahi Kenanga kemudian ditemukan meninggal dalam dekapan pelacur. Ibu mertua Kenanga adalah wanita yang sangat keras. Sejak awal ia tidak menyukai anak laki-laki kesayangannya menikahi perempuan sudra. Ia menerapkan aturan yang sangat kaku. Bagi nenek Telaga, wibawa harus terus dijaga agar orang di luar griya mau menghargainya.

Dalam rumah besar dan mewah itu hanya teriakan nenek dan kata-kata kasar ayah yang sering keluar. Ibu Telaga jarang berbicara. Dan kakek hanya bisa diam. Setelah kematian ayah Telaga disusul kemudian nenek, Ibu mulai mengatur kehidupan Telaga. Kenanga tidak membiarkan Telaga berpikir untuk hidupnya sendiri. Keinginan-keinginan Kenanga adalah harga mati yang tak seorang pun bisa membelokkannya, pun demikian jodoh untuk Telaga, putri satu-satunya.

Sementara itu, Ibu Wayan, sangat keberatan niat putranya menyunting Telaga. Tak pantas laki-laki sudra meminang perempuan brahmana. Jika itu terjadi maka dikhawatirkan malapetaka akan menimpa keluarga mereka. Namun pernikahan tidak dapat dibatalkan karena Telaga telah mengandung calon benih Wayan. Telaga dan Wayan menikah untuk kemudian mereka tinggal bersama Ibu Wayan.

Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama. Wayan ditemukan meninggal di studio lukisnya. Dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa Wayan mengidap penyakit jantung bawaan sejak kecil. Kematian putra satu-satunya mendorong Ibu Wayan meminta Telaga untuk melakukan upacara Patiwangi. Ibu Wayan meyakini sebelum Telaga melakukan upacara itu, selamanya ia akan menjadi pembawa malapetaka.

Upacara patiwangi adalah semacam upacara pamitan kepada leluhur di griya (tempat tinggal kasta Brahmana), karena ia tidak lagi menjadi bagian dari keluarga griya. Bukan sebuah upacara yang mudah. Karena upacara ini akan menurunkan harga diri keluarga griya dan menjatuhkan nama baik mereka. Dengan upara pamit ini akan menimbulkan masalah, karena Telaga akan dijadikan contoh dan dapat menyebabkan banyak Ida Ayu yang kawin dengan laki-laki sudra. Dan ini adalah aib bagi leluhur griya.

**
Kisah yang menarik. Pembaca diajak mengenal dan mengetahui lebih dalam kehidupan para perempuan Bali. Di tengah dunia yang bergerak maju, masih ditemui bentuk ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Keterikatan pada adat dan budaya membuat mereka memasrahkan diri sekaligus mencoba memberontak.

Posted in Klasik dan Sastra | 3 Comments

Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu

Judul: Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu
Penulis: Tolstoy
Penerbit: Jalasutra

Setelah Pesta Dansa adalah salah satu kisah dari buku kumpulan cerpen Tolstoy yang berjudul Tuhan Maha Tahu, tapi Dia menunggu.

“Hidup ini tidak bisa ditebak.”

Aku pernah begitu mencintai seorang perempuan. Ayah gadis ini adalah seorang bangsawan. Suatu hari diadakan pesta dansa di rumah ayah Varenka, nama gadis ini. Aku datang. Di pintu masuk aku disambut oleh Ayah dan Ibu Varenka. Mataku tak sengaja bersitatap dengannya. Saat itu aku merasa jatuh cinta. Mata kami saling menatap. Tak aku pedulikan orang-orang di sekitarku. Sepanjang malam itu perhatianku tak lepas dari dirinya. Varenka membalas perhatianku. Aku berdansa dengan Varenka. Menemaninya makan malam. Melihatnya berdansa dengan ayahnya. Kolonel Barishnykov, ayah Varenka adalah seorang pedansa ulung. Kemudian, aku diperkenalkan oleh ayahnya dan bercakap-cakap. Malam itu pikiranku penuh oleh bayangan dirinya, bahkan ketika aku sampai di rumah.

Aku gelisah, tak bisa tidur. Malam beranjak pagi dan akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, terjadilah suatu peristiwa yang kemudian mengubah perjalanan hidupku selanjutnya. Sayup-sayup kudengar bunyi tambur. Pelan tapi mengarah ke tempat aku berdiri. Iringan tambur terdengar semakin keras disertai derap langkah sepatu tentara. Bayangan itu semakin dekat dan aku melihat pasukan tentara mengawal seorang pemberontak. Bajunya sobek dan kumal. Langkah kakinya tampak berat karena kedua pergelangan tangannya dirantai. Tangannya pun ikut dibelenggu ikatan rantai yang berat. Sesekali pemberontak itu terlihat menggeliat dan berteriak. Teriakannya terdengar memilukan dan menyayat hati. Ia dipecut. Bunyi tali pecut itu terdengar jelas mengalahkan derap pasukan tentara. Aku hampir menutup telingaku, tak sanggup aku mendengar teriakannya.

Darah mengucur dari bekas luka pecutan. Si pemberontak terjatuh dan tentara di barisan depan memaksanya berdiri, namun si pemberontak terjatuh kembali. Sampai kemudian terdengar aba-aba berhenti dan komandan pasukan memberi perintah kepada si pemberontak untuk berdiri. namun perintah itu sia-sia. Komandan pasukan marah, mengambil tali pecut dan memecut pemberontak itu dengan bernafsu. Dari gerakannya aku dapat melihat ia puas telah menyakiti pemberontak itu. Teriakan pilu pemberontak tak dihiraukannya. Setelah puas komandan pasukan membalikkan badannya ke arahku. Aku tak percaya, ketika aku melihat wajahnya, ia adalah kolonel Barishnykov.

Sejak dini hari itu aku tak bisa melupakan wajah kesakitan si pemberontak, bunyi tambur dan derap pasukan tentara serta wajah haus darah dan sorot mata kejam kolonel Barishnykov. Aku masih beberapa kali menemui Varenka. Tapi setiap kali menatap mata Varenka aku melihat bayangan peristiwa dini hari itu. Kengerian itu menghantuiku. Akhirnya kuputuskan pergi dari kota itu dan meninggalkan Varenka.

**
Perilaku barbar manusia seperti di atas nyatanya masih tampak di abad 21. Kebencian dan aniaya menjadi jalan pintas untuk menyikapi sebuah perbedaan. Apakah selamanya manusia tak pernah belajar dari sejarah hidupnya sendiri?

Posted in Klasik dan Sastra | Leave a comment

Sang Pemberontak

Judul asli: The Outsider, Sang Pemberontak
Penulis: Albert Camus
Penerbit: Liris

Camus, si pengarang The Outsider adalah filsuf yang mengenalkan filsafat absurditas. Absurdisme sendiri adalah paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal (absurd). Kesadaran para pengikut aliran itu terhadap tata tertib sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Absurdisme)

Novel sastra ini bercerita tentang seorang laki-laki, Mersault yang rela mati demi kebenaran. Mersault dikenal sebagai orang yang pendiam, baik dan mengasihi orang yang membutuhkan pertolongan. Awal cerita bermula dari kematian ibunda Mersault yang dititipkan di panti wreda. Pada saat mengunjungi jenasah sebelum proses pemakaman, Mersault tidak menunjukkan ekspresi seorang anak yang kehilangan Ibu. Reaksi yang dimunculkan Mersault mengundang gugatan dan pertanyaan.

Sehari setelah kematian Ibunya, laki-laki ini pergi berenang dan bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Dan mereka pergi nonton film komedi malam harinya.

Mersault kemudian juga berkenalan dengan tetangganya yang bernama Raymond. Raymond menghidupi dirinya dari para wanita. Raymond menyebutnya sebagai ‘Penjaga Gudang.’ Ada juga seorang tua dengan anjingnya.

Suatu saat Raymond bermasalah dengan seorang perempuan. Mersault membantu Raymond. Raymond bebas namun kakak dan teman gadis ini tampaknya tak suka.

Pada suatu hari, Raymond mengajak Mersault dan kekasihnya berlibur ke pantai, di rumah sahabat Raymond. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para lelaki teman wanita Raymond. Mereka sampai di rumah sahabat Raymond. Ketika Raymond, Mersault dan sahabatnya ini tengah berjalan-jalan di pantai, para lelaki musuh Raymond muncul. Pertikaian pertama menyebabkan luka di wajah sahabat Raymond. Perkelahian usai.

Menit berikutnya Mersault sedang menyusuri pantai ketika ia melihat salah satu musuhnya berbaring di pantai. Mersault meneruskan berjalan tapi kemudian sebuah benda tajam menyentuh pelipisnya. Rasa asin dan bau darah menerpa penciumannya. Dalam siraman cahaya matahari yang menyilaukan dan luka yang dialiri bulir-bulir air berwarna merah sehingga mengaburkan pandangannya, Mersault mengeluarkan senapan yang dipinjamkan sahabat Raymond. Dilepaskannya tembakan sebanyak empat kali.

Akibat tindakan itu Mersault menjadi tawanan dalam penjara. Ia kemudian di hukum mati. Namun Mersault dihukum bukan karena tindakan pembunuhan itu melainkan oleh karena alasan norma dan ketentuan moral etika dalam menanggapi kematian ibunya.

Mersault dalam perenungannya tak habis mengerti mengapa bukti bersalah yang memberatkan hukumannya adalah berkaitan dengan sifat-sifat dalam dirinya. Para hakim, jaksa mempertanyakan perilakunya yang tidak menangisi kematian Ibunya. Mereka beranggapan Mersault adalah monster yang harus dibasmi.

“Kujelaskan bahwa keadilan itulah yang memvonisku hukuman mati. Pendeta bilang, hukuman itu tak menghapuskan dosaku sama sekali. Kubilang aku tak tahu apa dosaku. Aku hanya diputuskan bersalah. Aku bersalah dan harus membayarnya. Jadi, tak ada lagi yang bisa diminta dariku.”

“Aku mungkin dungu tapi aku yakin atas diri sendiri, yakin akan semuanya, yakin atas hidupku dan kematian yang mendatangiku. Ya, itulah yang kumiliki. Tapi setidaknya itu kebenaran yang kupegang sebagaimana kebenaran itu memegangku. Aku telah hidup dengan cara tertentu, aku juga bisa hidup baik dengan cara lain. Telah kulakukan ini dan tak kulakukan itu. Aku tak melakukan satu hal, sebaliknya kulakukan yang lainnya. Lantas kenapa?”

Bagi Mersault, hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup akan berharga jika ia mempunyai makna. Karena itu walaupun Mersault tahu bahwa kematian membayanginya, ia memilih untuk menghadapinya dengan tegar.

Posted in Filsafat | 2 Comments