Cecilia dan Malaikat Ariel

Judul asli: Through a Glass, Darkly
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan Pustaka

Cecilia adalah seorang gadis kecil yang sedang sakit keras. Sepanjang hari Cecilia terbaring di tempat tidur. Cecilia marah kepada Tuhan dan mengganggap Dia tak adil.

Namun keajaiban terjadi di malam natal tahun itu, seorang malaikat – Ariel namanya- mengunjungi Cecilia. Mereka kemudian bersahabat. Malaikat meminta Cecilia memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia, dan malaikat Ariel akan memberitahukannya seperti apa surga itu.

“Ruh dan surga mempunyai jalan yang berdekatan. Ruh bersifat ilahiah. Meskipun manusia terbentuk dari atom-atom dan molekul-molekul, tetapi ruh manusia mungkin saja terpancar langsung dari pikiran Tuhan. Ruh manusia melompat-lompat di dalam sebuah otak yang dibentuk dari sejumlah partikel debu yang dahulu kala datang dari bintang-bintang di ruang angkasa. Pikiran dan perasaan manusia berputar terus menerus pada debu bintang yang tertata apik, yang di dalamnya semua ‘kabel’ syaraf dapat terhubung dengan cara-cara yang selalu baru.

Ariel, si malaikat Tuhan percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki miliaran mata sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Tuhan memberikan mata kepada ikan-ikan karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut. Manusia juga tidak bisa terbang, maka setiap waktu ada burung-burung melayang di angkasa dan mata mereka mengawasi dari atas. Dan kadang ada manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya, sehingga seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin, seperti langit dan laut. Langit becermin pada laut. Seperti itulah Tuhan bisa becermin pada sepasang mata manusia karena mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa becermin pada ruh.”

–Buku yang sangat menyentuh. Kita hanya bisa merasakan kedalamannya ketika membacanya sampai tuntas.

Misteri Soliter

Judul: Misteri Soliter
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Jalasutra

Siapakah Aku? Darimanakah Aku berasal? Dan kemanakah aku akan menuju?

Buku karangan Jostein Gaarder ini bercerita tentang perjalanan seorang anak laki-laki bernama Hans Thomas dengan ayahnya dalam upaya mencari ibunya. Hans adalah anak laki-laki berumur 12 tahun yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Ayah Hans adalah seorang yang jenius dan menyukai filsafat, walau sedikit pemabuk.

Di dalam perjalanan itu Ayah dan anak ini bercakap-cakap. Ayah Hans suka memancing Hans dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Serangkaian peristiwa aneh juga terjadi di dalam perjalanan itu. Dimulai dari lelaki kerdil yang memberi Hans kaca pembesar, kemudian tukang roti yang memberinya kue dan buku mungil yang berkisah tentang seorang pelaut yang terdampar di pulau terpencil. Dan di pulau itu dihuni oleh seperangkat kartu remi (baca: yang mewujud dalam sosok para kurcaci) yang di dalamnya membentuk sebuah permainan soliter.

Kartu remi ibarat sekumpulan manusia di bumi. Ada berbagai wajah manusia di bumi. Seperti juga halnya kartu remi: ada wajik, sekop, hati, dan keriting.Namun yang paling istimewa adalah Joker. Kehadirannya dalam setiap permainan selalu diperebutkan.

Seperti itu pulalah Joker digambarkan dalam buku Misteri Soliter. Seorang joker adalah orang yang jujur, pintar, cerdas, dan selalu banyak bertanya. Ia tidak keberatan untuk berbeda dengan orang lain. Baginya hidup adalah kebebasan untuk mendalami arti kehidupan itu sendiri. Joker adalah mewakili kehausan diri manusia yang ingin terus menerus lebih memahami arti dunia. Berbeda dengan kartu remi lainnya, bagi mereka hidup di dunia sudah begitu adanya.

“Tiba-tiba kusadari banyak manusia yang hidup di bumi tanpa sadar akan banyak hal di sekitarnya, seperti halnya para kurcaci pemalas di Pulau Ajaib itu. Kehidupan kita adalah bagian dari petualangan yang unik. Sekalipun demikian, sebagian besar dari kita berpikir dunia ini “biasa-biasa saja” dan terus menerus mencari sesuatu yang tak biasa-seperti bidadari atau makhluk angkasa luar. Tetapi itu terjadi karena kita tak menyadari bahwa dunia adalah misteri.”

Tidakkah pertanyaan mengenai siapa diri kita, darimana kita berasal menjadi sebuah misteri? Dan bagaimanakah mungkin sesuatu bisa muncul begitu saja dari ketiadaan? Bukankah itu seperti mimpi yang menakjubkan?

The Story Of My Life

Judul asli: The Story Of My Life
Penulis: Helen Keller
Penerbit: Genta Pustaka, Jakarta

The Story of My Life adalah kisah nyata perempuan buta, bisu, dan tuli, yang bernama Helen Keller.

Ketika Helen berusia 19 bulan ia terserang penyakit misterius. Helen menderita demam berkepanjangan yang nyaris meruntuhkan harapan orang tuanya. Sampai suatu hari, demam itu pergi dan Helen kecil sadar. Seluruh keluarganya bergembira. Awalnya, tak satupun dari mereka pun dokternya mengetahui bahwa sejak saat itu Helen tidak bisa melihat dan mendengar lagi.

Ketidakmampuan Helen untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri membuat ia menjadi pemarah. Helen tampak seperti anak yang sangat nakal dan sulit dikendalikan. Kondisi ini menyadarkan orang tua Helen untuk memberikan Helen pendidikan.

“Lambat-laun aku mulai terbiasa dengan kesunyian dan kegelapan yang mengelilingiku. Aku lupa bahwa dulu segala sesuatunya begitu berbeda, sampai guruku datang membebaskan jiwaku yang muram.” Anne Sullivan adalah guru sang pembawa cahaya dalam kehidupan Helen selanjutnya.

Anne Sullivan datang ketika Helen berumur 6 tahun 9 bulan. Kehadiran Anne memberikan oase bagi hidup Helen yang sunyi dan gelap. Helen menggambarkannya dalam kalimat yang puitis sebagai berikut:

“Pernahkah kau berada di lautan dalam kepungan kabut tebal, dan sebuah kapal besar dengan tegang dan waswas berusaha merapat ke pelabuhan dengan jangkar dan pita pengukur, dan dengan hati berdebar kau menunggu apa yang akan terjadi? Aku merasa menjadi seperti kapal itu saat pendidikanku belum dimulai, hanya aku tak memiliki kompas dan pita pengukur, dan tidak mungkin mengetahui seberapa dekat jarak pelabuhan. “Cahaya! Beri aku cahaya!” adalah tangisan tak bersuara dari jiwaku, dan cahaya cinta menyinariku tepat pada saat itu.”

Helen belajar mengeja kata melalui permainan jari. Sang guru mengeja kata-kata ke tangannya. Dari kata kemudian menjadi kalimat. Helen merasakan kegairahan yang luar biasa untuk belajar . “Aku bahagia sepanjang hari karena pendidikan telah menghadirkan cahaya dan musik ke dalam jiwaku.”

Helen membuat dunia terpana oleh prestasinya yang luar biasa. Ia menulis cerita pertama pada usia 12 tahun. Ia penderita buta-tuli pertama yang meraih gelar sarjana. Dan ia seorang yang tak kenal lelah menjelajah dunia dan mengobarkan semangat perjuangan untuk melawan peperangan dan penindasan terhadap kaum perempuan.

Memiliki pengetahuan berarti mengerti tujuan yang benar dan salah, mengerti hal-hal yang mulia dan yang hina.” (Helen Keller).

Betapa Helen mengajarkan kita untuk menghargai setiap waktu yang kita miliki di dunia ini untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik dari diri kita untuk kemaslahatan umat.

Dog Stories, Kisah-Kisah Anjing

Judul: Dog Stories Kisah-Kisah Anjing
Penulis: James Herriot’s
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku yang berisi kumpulan cerita tentang anjing-anjing dan pemilik mereka. Kisah nyata ini ditulis oleh James Herriot, dokter hewan yang bertugas di pedesaan Yorkshire yang indah.

Awalnya, Herriot bercita-cita menjadi dokter anjing. Sejak kecil ia terpesona oleh anjing. Bagi Herriot, anjing bukanlah makhluk yang biasa-biasa saja. Hewan ini mampu memperlihatkan kasih sayang dan kesetiaan yang tanpa batas.

Khayalan sebagai dokter anjing membawa Herriot pada pilihan profesi dokter ahli bedah hewan. Namun kemudian, situasi perekonomian menakdirkan Herriot untuk menempati kedudukan di Yorkshire Dales. Ini adalah praktik hewan besar yang berurusan dengan kuda pertanian, lembu, domba, dan babi. Tak ada anjing? Dan kemana impiannya, seorang dokter dengan jas praktek putih di bawah lampu operasi yang terang benderang dengan dikelilingi para perawat?

Namun, Herriot tidak punya waktu untuk menyesali semua itu. Seperti dituliskannya di bawah ini.

“Aku melewatkan waktu mengenakan kemeja biasa dan sepatu bot, melangkah susah payah mengarungi lumpur dan kotoran hewan, bergulat dengan hewan-hewan besar, ditendang, dirobohkan, dan diinjak-injak. Sebagai anak kota yang terlempar ke komunitas pedesaan terkecil yang hanya kubaca di buku, aku mirip perenang payah yang berusaha tetap mengambang di air dalam.”

Tapi, semua itu tidak sia-sia. Ada hal lain yang memesona Herriot di luar sana. Pemandangan Yorkshire yang indah. Seperti negeri ajaib. Dan ketika Herriot berada sendirian di lanskap itu, ia merasakan kesendirian, kedekatan dengan alam liar yang sangat menggugah semangat. Dan di desa ini, juga ada anjing-anjing yang harus ia tangani. Walaupun ia tak menjadi dokter anjing namun Herriot kerap menangani mereka juga.

Dan buku ini adalah kisah pengalaman Herriot dengan anjing-anjing itu. Ada Tricky, si anjing peking kesayangan Mrs. Pumphrey. Anjing betina Great Dane milik Harold, anjing betina yang tampak jinak namun sangat protektif sekaligus berbahaya saat melindungi anak-anaknya dan memberikan bekas luka gigitan di kulit paha Herriot. Tip, anjing pertanian yang tidur di bawah lapisan salju. Shep, anjing besar yang hobi menyalak dan berpura-pura ganas. Jake, anjing lurcher yang hidupnya berpindah-pindah bersama tuannya, Roddy Travers. Dan masih banyak cerita menarik lainnya.

Seperti Herriot bilang…
“Setiap anjing (dan pemiliknya) mempunyai kisah uniknya masing-masing…”

Dian Yang Tak Kunjung Padam

Judul: Dian Yang Tak Kunjung Padam
Penulis: S. Takdir Alisjahbana
Penerbit: Dian Rakyat

“… Bagi adinda tak ada jurang yang menceraikan kita berdua. Cinta yang suci seperti cinta kali ini, ialah pemberian Allah, dan sekalian perbuatan Allah tiada dapat dirusakkan oleh perbuatan manusia. Bukankah kebangsawanan itu perbuatan manusia belaka, manusia yang angkuh dan sombong?”

Di suatu malam, di tepian sungai Musi, Yasin menambatkan perahunya di dekat sebuah rumah yang besar dan tinggi. Di sanalah ia hendak menantikan hari siang untuk menjual para yang dibawanya dari kebun. Malam itu Yasin bersama Ibunya tidur di perahu.

Keesokan hari, Yasin bangun lebih pagi. Ketika ia sedang menikmati pemandangan disekelilingnya, tiba-tiba dari balik jendela rumah besar itu dilihatnya seorang gadis. Mata mereka bertemu. Itulah pertemuan pertama Yasin dengan Molek, anak perawan Raden Mahmud yang kaya raya. Pertemuan yang tak dapat dilupakan oleh keduanya.

Cinta yang bergejolak membuat Yasin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya melalui surat yang diselipkan melalui celah dinding tempat mandi Molek. Tempat ini akan menjadi saksi cinta dan kerinduan mereka yang ditumpahkan melalui surat-menyurat. Namun, hubungan cinta yang indah itu tidak mungkin dapat diwujudkan oleh karena perbedaan status sosial di antara mereka. Lamaran Yasin kepada keluarga Raden Mahmud ditolak.

Molek akhirnya dinikahkan oleh Sayid, saudagar kaya keturunan Arab. Molek menolak tapi keluarganya menerima pinangan lelaki kaya itu. Kehidupan perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan bagi Molek karena ia tidak mencintai Sayid. Suaminya pun sering bersikap kasar. Dalam surat-suratnya kepada Yasin, Molek menceritakan kesedihan dan kerinduannya kepada Yasin. Demi diketahuinya penderitaan Molek serta kerinduannya sendiri terhadap gadis itu, maka Yasin memberanikan diri untuk menemui Molek. Ternyata, itu adalah pertemuan terakhir Yasin dengan Molek. Karena setelah itu Molek meninggal dunia.

Mengutip sinopsis pada sampul buku:
“…Dalam kesetiaannya akan cinta, Yasin mengalami kebahagiaan abadi yang hanya untuk orang yang dapat melepaskan dirinya dari segala ikatan dan kong-kongan dunia. Meski secara fisik tak akan pernah bersatu, namun mereka percaya bahwa kelak cinta yang suci itu akan bertemu di alam lain.”

**
Karya sastra selalu menarik untuk disimak, selain memberikan pengetahuan dan latar belakang budaya, gaya bahasanya pun memikat hati. Bermanfaat sekali buat yang suka puisi, bisa menumbuhkan inspirasi 🙂

Kalatidha

Judul: Kalatidha
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kalatidha adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat.

Kalatidha, artinya adalah zaman gila atau zaman edan seperti ditulis oleh Rangga Warsita. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Kalatidha)

Bercerita tentang seorang pembobol bank yang masuk penjara. Di dalam sel ia  merekam kembali ingatan ke masa lalunya bersama kliping koran dari tahun 1965 milik kakaknya yang berhasil ia selundupkan.  Sebuah peristiwa sejarah G30S/PKI,  menjadi latar cerita dari novel Kalatidha ini.  Sejarah yang menyisakan luka bagi para korban dan keluarganya.

Adalah seorang gadis yang keluarganya dihabisi di depan kepalanya sendiri. Rumah mereka dibakar massa. Ia berhasil selamat walaupun menjadi gila. Gadis ini kemudian membalas dendam. Namun dalam kegilaannya masih saja ia diperlakukan kejam oleh orang-orang disekelilingnya.

Zaman edan,  sebutan yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang sakit. Di mana kebencian menghilangkan akal sehat, luka dan sakit hati meluapkan amarah dan dendam yang tak berperikemanusiaan.

Novel Seno Gumira yang ini memang berbeda dari novel-novel dia sebelumnya. Agak rumit dan alurnya meloncat-loncat. Tapi saya suka cara Seno memaparkan cerita tentang kabut, hutan bambu, dan cahaya. Khas Seno, puitis dan penuh makna.

“Pada mulanya memang kabut, masih, dan akan selalu kabut dan sebaiknya memang tetap saja kabut, yang kekelabuannya tiada pernah dan tiada perlu memberikan sesuatu yang jelas. Apalagi yang menarik dari hidup ini jika segala sesuatu sudah begitu jelas dan begitu pasti? Aku adalah anak kabut,dilahirkan oleh kabut, hidup di dalam kabut, dan hanya bisa hidup dalam dunia berkabut, karena hanya di dalam kabut aku bisa menjadi pengembara di dalam dunia yang kuciptakan sendiri. Hanya kabut, demi kabut, dan atas nama kabut kupertaruhkan hidup dan matiku, pahit dan manisku, suka dan dukaku, kebahagiaan dan kepahitanku, kehidupan dan kematianku dalam segala kemungkinan yang telah diciptakan Tuhan untuk dijelajahi olehku. kabut adalah duniaku-Dalam kabut itulah aku mengembara dan menjelajahi seribusatu kemungkinanku.”

Almustafa

Judul asli: The Prophet
Penulis: Kahlil Gibran
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerjemah: Sapardi Djoko Damono

Saya pernah membaca buku ini yang ketika itu diterbitkan dengan judul Sang Nabi. Saya tertarik membelinya kembali karena nama penerjemah dibelakang buku Almustafa, yaitu Sapardi Djoko Damono. Siapa yang tak kenal Beliau? Seorang penyair ternama di Indonesia. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah Hujan Bulan Juni.

Buku ini berkisah tentang seorang tokoh yang bernama Almustafa. Mengutip sinopsis dari buku tersebut: cerita bermula ketika Almustafa bersiap naik ke kapal yang akan membawanya kembali pulang ke negeri asalnya setelah 12 tahun berada di negeri asing. Kapal itu dihentikan oleh penduduk setempat. Mereka meminta Almustafa bercerita tentang rahasia yang terbentang antara kehidupan dan kematian.

Karya-karya Gibran selalu enak dibaca, bahasanya yang puitis dan pemikirannya yang mendalam pada berbagai hal, sungguh sangat menarik untuk direnungkan kembali.

Seperti dalam cinta:
“Bahkan ketika cinta memasang mahkota di kepalamu, ia pun sekaligus menyalibmu. Bahkan meskipun ia menumbuhkanmu, ia pun sekaligus memangkasmu.

Itulah segala yang dilakukan cinta terhadapmu agar kau memahami rahasia hatimu, dan karenanya menjadi serpihan dari hati Kehidupan.

Atau pemahaman tentang perkawinan:
“Bernyanyi dan menarilah bersama dan bergembiralah, tetapi biarkan masing-masing tetap sendiri-sendiri, Bagaikan dawai-dawai sitar yang tetap terpisah-pisah akan bergetar bersama-sama ketika mencipakan alunan musik.

Serahkan hatimu, tetapi tidak untuk saling memilliki. Sebab hanya tangan Kehidupan yang bisa menampung hatimu. Dan berdirilah berjajar tetapi jangan terlalu dekat, sebab pilar-pilar rumah pun tegak terpisah-pisah, Dan pohon ara dan cemara tumbuh tidak saling membayangi.”

Persahabatan:
“Carilah ia selalu sepanjang waktu untuk hidup. Sebab dialah yang akan memenuhi kebutuhanmu, dan bukan kekosonganmu. Dan dalam keindahan persahabatan biarkan terdengar tawa, dan berbagi kegembiraan. Sebab dalam embun yang sepelelah hati menemukan paginya dan menjadi segar.”

Tentang pengajaran:
“…. Ahli perbintanga mungkin saja berbicara kepadamu tentang ruang angkasa, tetapi ia tidak bisa memberi kearifannya kepadamu. ……

Sebab pandangan seseorang tidak akan meminjamkan sayapnya kepada orang lain. Dan sebagaimana masing-masing kamu berdiri sendiri di dalam pengetahuan Tuhan, maka setiap kamu harus sendiri juga dalam pengetahuannya tentang Tuhan dan dalam pemahamannya tentang bumi ini.”

Dan maut:
“Dan apa pula makna berhenti bernapas kalau bukan membebaskan napas dari helaan dan embusan yang tak kunjung henti, agar bisa melambung dan meluas dan mencari Tuhan tanpa beban?

Kita pengembara, senantiasa mencari jalan yang lebih sunyi, bermula dari entah kapan saat kita mengakhiri di hari yang lain, dan tidak ada fajar yang menjumpai kita di tempat senjakala meninggalkan kita.

Bahkan ketika bumi tidur kita mengembara.

Kita adalah benih dari tumbuhan yang kukuh, dan ketika matang hati kita diserahkan kepada angin untuk diceraiberaikan.”

Kejutan

Judul: Kejutan (Antologi Prosa)

Penulis: Andi Gunawan

Penerbit: LiniKala Publishing

Membaca buku ini mengingatkan saya pada Kate Dicamillo. Karya mereka berdua menggambarkan kemuraman dan kegelapan sekaligus harapan. Bahasa yang puitis juga menjadi unsur kekuatan dari karya mereka.

Tidak berbohong bahwa saya menyukai semua tulisan di buku ini. Tulisan-tulisannya menceritakan realitas hidup, yang walaupun terkadang pekat tapi juga menyimpan keindahan-keindahan kecil yang tersembunyi di dalamnya. Dan Andi, mengajak kita untuk melihat keindahan sejati itu tanpa menggurui melalui prosa-prosanya yang lirih.

Seperti di Buat Ani, tampaknya ini surat yang ditujukan Andi untuk adik tersayangnya. Saya merasakan luapan cinta dan sayang dari yang dinamakan keluarga. Dari kakak terhadap adik, dan anak terhadap orang tua.

Ada sesuatu yang mistis pada tulisan di Lelaki Tua yang Kehujanan. Saya suka kisah ini. Dan juga Kejutan. Ada sesuatu yang menyentak. Hidup, seperti roda yang kadang berjalan lambat tapi sewaktu-waktu bergulir ke atas atau ke bawah dengan cepat.

Salah dan Meminang Malam juga memesona. Salah menggambarkan kita, manusia dengan segala kompleksitas-nya. Meminang malam adalah kerinduan pada malam yang dalam keheningannya selalu mendekatkan kita pada Sang Pencipta.

Dan inilah yang membuat saya tersadar, mengapa saya begitu terpaku membaca tulisan-tulisan dalam prosa ini. Saya adalah penggemar berat karya-karya Kate Dicamillo. Dan, saya juga akan menggemari karya-karyamu ‘Ndi :). Sukses untukmu ya.

Jodoh

Judul: Jodoh
Penulis: A.A. navis
Penerbit: Grasindo

Kumpulan cerpen karya A.A. Navis ini berisi 10 cerita pendek, yaitu: Jodoh (yang menjadi judul kumpulan cerpen), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin, Kisah seorang Pengantin, Maria, Nora, dan Ibu.

Dalam jodoh, dikisahkan seorang laki-laki bernama Badri. Oleh karena idealismenya yang berlebihan dalam lapangan sosial dan kebudayaan membuat ia belum berani untuk menikah, walaupun usianya sudah beranjak 30 tahun. Ada 3 halangan yang membuat Badri tidak mudah untuk mencari seorang istri. Pertama: Badri menginginkan gadis yang tinggi semampai untuk memperbaiki keturunannya, di mana hal itu tidak mudah ditemui dalam masyarakat yang berbakat pendek. Kedua: Badri berdarah campuran yang dianggap kurang bermutu oleh masyarakat Minangkabau yang lebih suka perkawinan di antara suku mereka. Ketiga: kalkulasi biaya hidup setelah menikah.

Diliputi oleh berbagai pertimbangan membuat Badri sangat berhati-hati menentukan calon istrinya. Badri kemudian menghubungi rubrik kontak jodoh. Dari sana ia terpikat oleh seorang wanita dan mereka berjanji untuk bertemu. Alangkah kagetnya Badri ketika mengetahui wanita itu adalah Lena, gadis manis yang pernah dikencaninya. Singkat cerita mereka menikah dan Badri tinggal di rumah mertuanya. Ketika anak keduanya lahir, Badri menganjurkan istrinya untuk berhenti menjadi guru. Ternyata, kekhawatirannya dahulu tidak beralasan. Navis menyatakannya seperti ini:

“Pola hidup matrilini yang tidak disukai Badri ketika masa perjakanya, ternyata demikian indah dalam kenyataannya. …..Karena seni hidup ternyata bukanlah perhitungan yang eksak, melainkan dengan upaya penyesuaian diri pada iklim yang membentuk masyarakat. Dan idealisme masa perjaka ternyata suatu utopia semata, yaitu idealisme yang membius orang-orang yang tidak punya beban hidup keluarga. Idealisme seorang laki-laki yang telah menjadi suami dan menjadi seorang ayah, ialah idealisme yang abadi, yakni bagaimana caranya membahagiakan istri dan anak-anak.”

**
Cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Jodoh ini banyak berkisah tentang perjodohan, kecuali cerpen “Ibu”. Navis juga menyoroti kawin paksa yang masih banyak terjadi di masyarakat, tidak saja pada wanita tapi juga pada pria. Seperti tampak pada cerpen “Kisah Seorang Pengantin” dan “Kawin”, di mana laki-laki menjadi korban kawin paksa yang dikuasai oleh Ibu. Mencukil kata pengantar dari buku tersebut:

“Idealisme manusia modern yang betapapun kentalnya, masih lumat oleh tuntunan sosial budaya tradisional yang dikuasai Ibu. Demikian juga halnya dengan tema cerpen “Jodoh” yang mengisahkan seorang idealis yang berpikir rasional pun lumat oleh kondisi tradisional.”

Cinta di Dalam Gelas

Judul: Cinta di Dalam Gelas
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka

Cinta di Dalam Gelas adalah buku kedua Dwilogi Padang Bulan. Di buku ini Andrea banyak berkisah tentang permainan catur dan kopi. Lelaki Melayu dikenal dengan 3 hal, yaitu: kopi, sisa kebanggaan, dan catur. Setiap pagi, sore, dan malam hari para lelaki melayu pergi ke pasar demi segelas kopi. Di warung kopi itulah para pria berkumpul, menceritakan nasib, membanggakan jabatan terakhir sebelum maskapai timah gulung tikar dan mempertaruhkan martabat di atas papan catur.

Bagi lidah orang melayu kopi adalah minuman ajaib karena rasanya yang dapat berubah berdasarkan tempat. Bagi mereka kopi buatan rumah berbeda dengan kopi di warung-warung kopi yang tersedia. Diceritakan di salah satu kisah, seorang istri yang diam-diam membeli kopi di warung kopi langganan suaminya, kemudian ia menyajikan kopi itu. Setelah meminumnya sehirup, si suami segera berkemas. Sang istri bertanya, dan dijawab oleh suami bahwa ia mau ke warung kopi karena kopi di rumah tak seenak di warung kopi. Tak lama melayanglah panci ke kepala si lelaki.

Dikisahkan pula perjalanan panjang Enong demi mencapai keinginannya untuk bertanding catur melawan Matarom, lelaki pemenang kejuaraan catur berturut-turut. Suatu hal yang mustahil tercapai karena Enong tak pernah bermain catur. Tapi, jangan salah, kalau kita tidak lupa, Enong adalah perempuan yang sangat keras hati dan mempunyai kemauan belajar yang tinggi. Selain itu, sebenarnya ada dendam masa kecil yang tersimpan di hati Enong terhadap lelaki yang bernama Matarom itu.

Apakah impian Enong untuk mengalahkan Matarom terwujud?

**
Ada bagian menarik, yaitu ketika lampu lalu lintas masuk ke desa mereka. Lampu lalu lintas sedikit menandakan bahwa desa mereka siap untuk menjadi modern. Namun lihatlah kisah berikut:

“Jika kawan naik sepeda motor dan berhenti saat lampu merah, seseorang akan berteriak dari warung kopi di dekat lampu itu. “Lampu itu acih, Bang, lanjutlah.”

Andrea menuliskan pendapatnya: “Untuk menjadi modern, memang diperlukan persiapan yang tidak kecil.”

Kalimat di atas sederhana tapi mengandung pesan yang cukup bermakna :).