Bakat Bukan Takdir

IMG_20160329_214407
Judul: Bakat Bukan Takdir
Penulis: Bukik Setiawan & Andrie Firdaus
Penerbit: Buah Hati
Tahun terbit: 2016
Tebal: 250

Menuntaskan buku ini di tengah-tengah ‘paksaan’ istirahat di RS. Bahkan Ibu dokternya pun berkomentar, suka baca ya mbak?, begitu melihat sampul buku ini menyembul dari balik bantal ;).

Membaca tulisan di awal buku Pak Bukik ini mengingatkan saya kepada pertanyaan serupa yang pernah saya tanyakan kepada Ibu, apa perlunya saya belajar banyak hal? Jawaban Ibu saya sederhana saja, nggak pp kamu belajar banyak (pengetahuan), karena kamu akan menemukan kesukaanmu (minat). Dan dari sana kamu bisa mengembangkan potensi yang kamu miliki.

Saya kira Ibu saya benar :). Dan serupa dengan yang dituliskan Pak Bukik, ketika seorang anak bertanya apa perlunya mereka belajar banyak hal, pada titik itu lah peran orangtua menjadi sangat penting. Karena orangtualah yang dapat membantu anak merajut semua pengetahuan menjadi kearifan yang mengarah pada tujuan hidup anak. Karena orangtualah yang dapat memfasilitasi anak untuk menerapkan pengetahuan menjadi keterampilan dan kebiasaan hidup. (halaman 6).

Lalu, bagaimana cara orang tua atau pendidik mengarahkan putra-putri mereka untuk kelak dapat meniti karir sesuai minat dan bakat mereka? Nah, buku ini tidak sekedar berteori namun juga memberikan latihan praktis bagi orang tua untuk menyiapkan anak-anak mereka berkarier cemerlang di zaman kreatif.

Zaman kreatif? Yup, itu lah zaman yang akan dihadapi anak-anak kita. Zaman dimana teknologi berkembang pesat, semakin terbatasnya sumber daya namun semakin beragamnya pilihan. Jika zaman orang tua mereka profesi yang mungkin diminati adalah menjadi dokter, guru, atau pilot. Nah, di zaman kreatif akan muncul berbagai pilihan karir baru yang memberi peluang kepada bakat dan minat seorang anak. Semisal anak yang berbakat di bidang seni, dengan segala kemajuan teknologi maka potensi yang ia miliki mempunyai banyak wadah untuk ditumbuhkembangkan. Menukil kalimat di sampul belakang buku, “Kemampuan anak untuk berkreasi sesuai bakatnya akan semakin menentukan perannya di zaman kreatif.”

Apa sih bakat itu? Bukankah bakat adalah takdir? Kalau takdirnya nggak bisa nulis ya nggak bisa jadi penulis, begitu? ๐Ÿ™‚
Nah, kalau Anda memiliki anggapan seperti itu, buku ini layak dibaca.

Buku Bakat Bukan Takdir menolak anggapan klasik yang menyatakan bahwa bakat adalah bawaan lahir. Bahwa bakat adalah takdir.

Bakat bukanlah potensi melainkan suatu tindakan nyata. Bakat bukan sekadar sesuatu yang dibawa sejak lahir, tapi pengembangan potensi anak hingga menjadi tindakan nyata atau suatu karya yang bermanfaat.
Kecerdasan aksara adalah potensi. Menulis buku adalah bakat. Menulis skenario film adalah bakat.
Kecerdasan sosial adalah potensi. Menjual barang adalah bakat. Meyakinkan orang adalah bakat. (halaman 21)

Jadi, bakat adalah hasil belajar yang berkelanjutan pada suatu bidang tertentu. Tanpa proses belajar, bakat tidak akan berkembang.

Hm, menarik, bukan? Saya sangat setuju sekali dengan kesimpulan di atas. Kenapa? Hehe, karena itu terjadi pada diri saya. Tanpa bimbingan dan kepercayaan orang tua terhadap saya, barangkali impian saya menerbitkan buku hanya sekedar di awang-awang :).

Oke, kembali ke topik semula. Apa itu kecerdasan aksara, kecerdasan sosial? Apa ada kecerdasan lainnya? Tentu, jangan khawatir, masih banyak. Dan setiap orang, percaya atau tidak, bisa memiliki banyak bakat loh, nggak hanya satu seperti yang diyakini orang selama ini. Seperti yang telah dipaparkan di atas, bakat adalah hasil belajar, maka pada dasarnya setiap orang bisa punya lebih dari satu bakat, tergantung kesesuaian potensi diri dan kesempatan di masyarakat.

Adalah seorang tokoh pendidikan bernama Howard Gardner, pencetus pemikiran mengenai kecerdasan majemuk. Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu produk yang bernilai dalam suatu budaya. Gardner membagi kecerdasan menjadi delapan bagian, yaitu: kecerdasan aksara (Bahasa), kecerdasan logika (Matematika), kecerdasan musik (Musikal), kecerdasan kinestetik (tubuh), kecerdasan alam (Naturalis), kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan interpesonal dan kecerdasan intrapersonal. Atau dalam buku ini masing-masing kecerdasan di atas diberikan penamaan sebagai berikut: Katanya (kecerdasan aksara), Anka (kecerdasan logika), Rada (kecerdasan musik), Geradi (kecerdasan kinestetik), Alata (kecerdasan alam), Akso (kecerdasan relasi atau interpersonal), Sivisi (kecerdasan visual dan spasial) serta Krevi (kecerdasan diri atau intrapersonal).

Gardner menyatakan bahwa setiap anak memiliki semua komponen kecerdasan. Yang mana yang dominan barangkali kembali kepada pemahaman di atas bahwa sekali lagi, bakat adalah proses belajar berkelanjutan.

Lalu, bagaimana menumbuhkan potensi ini? Sejak dahulu kita percaya bahwa pendidikan menanamkan adalah solusi terbaik untuk mencetak anak-anak yang cemerlang. Eh, begitu? ๐Ÿ™‚
Pendidikan menanamkan bahkan dikritik oleh Bapak Pendidikan kita, KI Hajar Dewantara. Menurut Beliau, agar anak-anak dapat menghadapi tantangan di masa depan maka sebaiknya pendidikan menanamkan ditinggalkan dan beralih lah kepada pendidikan menumbuhkan.

Loh, apa itu pendidikan menanamkan dan apa pula menumbuhkan?
Bagi pendidikan menanamkan, anak diibaratkan kertas kosong. Maka orang dewasa merasa berhak memberi lukisan di atas kertas kosong tersebut. Anak menjadi objek dan orang dewasa sebagai subjek. Berbeda dengan pendidikan menumbuhkan. Pendidikan menumbuhkan percaya bahwa anak bukanlah kertas kosong. Mereka memiliki pikirannya sendiri. Anak pun dapat bertanggungjawab terhadap dirinya. Bagaimana? Pertanyaan yang bagus nih.. hehe, karena sebaiknya Anda membaca dan menuntaskan buku ini serta mengikuti berbagai latihan yang diberikan di dalam buku. Ada juga latihan yang bisa dikerjakan bersama putra-putri Anda.

Siap untuk menjadi pendidik yang menumbuhkan? Pasti bisa. Zaman berubah maka bekali agar anak kita tidak hanya sekadar bisa memperoleh pekerjaan dan penghasilan tetapi juga bisa merasakan kepuasan dari gaya hidup sebuah profesi yang elegan. Profesi yang mereka cintai sehingga bisa memberikan kebermanfaatan bagi diri dan sesama. Tidak hanya karir yang cemerlang tetapi yang terpenting bekali mereka agar menjadi manusia yang mandiri dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Untuk Pak Bukik, terima kasih untuk bukunya yang menarik. Saya suka bacanya ๐Ÿ™‚

Fenomenologi Wanita Ber-high heels

6315196_B
Judul: Fenomenologi Wanita Ber-high heels
Penulis: Ika Noorharini
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
Tahun terbit: 2015
Tebal: 112

Wanita dan high heels adalah dua kata yang nyaris tak terpisahkan. Sepatu hak tinggi yang kehadirannya begitu biasa di masyarakat ternyata memiliki latar belakang sejarah yang menarik. Hai, tahukah Anda, ternyata pelopor sepatu high heels adalah kaum pria loh ๐Ÿ™‚

Walaupun saya sendiri bukan penyuka high heels, tetapi membaca buku karangan Ika memperluas wawasan saya tentang sepatu favorit kaum hawa ini. Bermula dari kecintaannya terhadap sepatu tumit tinggi, Ika membuka rasa ingin tahunya mengenai beragam pandangan wanita mengenai high heels. Buku ini adalah adaptasi dari hasil tesis pascasarjananya. Namun demikian jangan membayangkan bahwa buku ini sarat dengan hasil penelitian yang kaku dan formal, sebaliknya Ika menggambarkan dengan apik dan gamblang mengenai hubungan erat wanita dengan high heels. Disertai kisah menarik dan unik dari pengalaman para pecinta high heels, dijamin Anda tidak bosan membacanya.

Review
Tak perlu diperdebatkan bahwa wanita selalu ingin tampil cantik. High heels adalah salah satu elemen cantik wanita. Sepatu tumit tinggi yang memiliki bentuk ramping dan desain menarik ini mampu memukau perhatian para wanita. High heels mampu memberikan rasa percaya diri kepada pemakainya. Tidak hanya menaikkan kepercayaan diri, namun high heels memiliki keberagaman makna tersendiri bagi pemakainya.

Uniknya, keberadaan sepatu hak tinggi ini ternyata dipelopori oleh kaum adam. Tepatnya, pasukan berkuda dari Shah Abbas I, raja Persia. Penggunaan high heels masa itu selain untuk menguatkan penampilan fisik juga memiliki makna simbolik untuk menunjukkan superioritas dan kelas yang lebih tinggi. Ternyata pengaruh ketampanan ini menulari kaum bangsawan Eropa barat (saat itu, raja Persia memiliki pasukan berkuda terbesar di dunia dan tengah berupaya memperbesar wilayah kekuasaan mereka di Eropa). Sementara itu sebagian besar Eropa saat itu dikuasai oleh kerajaan Ottoman (Turki). Karenanya, raja Shah mencoba membangun hubungan diplomasi dengan Eropa Barat untuk memperkuat pasukan dan mengalahkan kerajaan Ottoman. Hubungan diplomatik ini secara perlahan memberikan pengaruh estetika bagi para kaum bangsawan Eropa Barat yang kemudian mengadopsi high heels.

High heels kemudian mengalami perubahan dan pengembangan. Siapapun bisa mengenakan sepatu dengan hak tinggi. High heels umumnya banyak dikenakan oleh pekerja kantoran. Sepatu yang awalnya berfungsi sebagai pelindung kaki menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih dalam, yaitu media komunikasi, sebagai interaksi si pemakai kepada dunia luar, untuk mengungkapkan apa yang ada di hati dan pemikiran penggunanya. Mengutip tulisan di buku,

“Ada motif, makna, status diri dan perilaku di dalamnya.”

Pada akhirnya, menurut Ika, dikutip dari halaman 100.

“high heels bukanlah sekedar makna dan benda konkret karena wanita mendapatkan kepercayaan diri yang dapat membius siapapun di sekitarnya. Mungkin saja terbangun sifat superior, walaupun yang paling utama adalah bagaimana meningkatkan kualitas interaksi dengan siapapun melalui keindahan fisik dan mental. Keragaman makna high heels bagi wanita membentuk konsep diri masing-masing yang berbeda secara diametral. Artinya, tidak semua wanita terpengaruh dengan pemaknaan fashion sebagai citra diri dalam pergaulan masyarakat.”

Untuk Ika, terima kasih untuk bukunya yang mencerahkan ๐Ÿ™‚

The Innovators

The-Innovator-depan
Judul: The Innovators
Penulis: Walter Isaacson
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2015
Tebal: 450

Internet awalnya dibuat untuk memfasilitasi kolaborasi (kerja tim) sementara PC terutama yang ditujukan untuk penggunaan di rumah dirancang guna mengakomodasi kreativitas individual. Perkembangan kemajuan di bidang jaringan komputer dan PC baru bersinggungan pada akhir 80-an, berkat munculnya modem, penyedia jasa internet dan World Wide Web. Perkawinan antara komputer dan jaringan terdistribusi Internet mencetuskan Revolusi Digital, sehingga siapapun kini dapat menciptakan, menyebarluaskan, dan mengakses informasi darimana saja. (hal xx)

Perkembangan digital saat ini telah memungkinkan orang biasa untuk lebih mudah menciptakan dan berbagi konten.

Nah, siapa sajakah para inovator yang telah menghantarkan kita kepada era digital yang nyaman ini?

Berawal dari ambisi Babbage untuk menciptakan mesin yang dapat menjalankan beragam operasi berdasarkan instruksi pemrograman, dimana alat itu dapat mengerjakan satu tugas lalu beralih mengerjakan tugas lainnya. Meminjam istilah Babbage, mesin yang dapat mengubah ‘pola kegiatannya’. Keinginan Babbage untuk membuat mesin yang ia beri nama dengan mesin analitis ini didorong oleh minat masa kecilnya pada mesin-mesin yang bisa merampungkan pekerjaan manusia.

Ide Babbage untuk mesin analitis impiannya itu terlalu maju untuk zamannya, sehingga ia tidak berhasil menarik perhatian media massa atau pun jurnal ilmiah saat itu. Namun demikian seorang wanita penyuka matematika dan teknologi, Ada Lovelace memercayai mesin impian Babbage. Ia satu-satunya orang yang bisa melihat keindahan dan kegunaan yang menakjubkan dari mesin tersebut.

Bagi Ada, mesin tersebut tidak hanya mampu untuk menghitung angka dan menjalankan operasi matematika (seperti keinginan Babbage) namun juga berpotensi untuk memproses notasi simbol apapun, termasuk notasi musik dan artistik.

Terinspirasi penggunaan aljabar dalam logika formal yang diajarkan oleh tutornya de Morgan, Ada menegaskan bahwa pada prinsipnya Mesin Analitis bisa menyimpan, memanipulasi, memproses dan menindaklanjuti apapun yang dapat diekspresikan sebagai simbol, entah itu kata, logika, musik, ataupun yang lain-lain.

Pemahaman di atas merupakan konsep inti yang menggerakkan abad digital: konten, data, atau informasi apa saja-musik, teks, gambar, bilangan, simbol, suara, video-dapat dieskpresikan dalam format digital dan dimanipulasi oleh mesin.

Ide kartu berlubang yang ada di mesin tenun jacquard dan dipinjam oleh Babbage untuk mesin analitis rekaannya itu nantinya disempurnakan oleh Herman Hollerith sehingga pas untuk dimanfaatkan dalam komputer.

Mesin Hollerith dan Babbage berkarakter digital. Gagasan mesin analog kemudian muncul oleh karya kakak beradik Lord Kelvin dan James Thomson pada tahun 1870-an. Alat ini mampu melakukan perhitungan kalkulus namun gagal memecahkan persamaan dengan banyak variabel. Kesulitan ini akhirnya terjawab pada 1931 oleh Profesor Teknik dari MIT, Vannevar Bush. Beliau berhasil membuat komputer analog elektromekanis pertama di dunia. Mesin itu diberi nama Differential Analyzer. Mesin ini nantinya bayak digunakan untuk mendidik dan mengilhami para pionir komputer generasi selanjutnya. Namun demikian mesin ini tidak mengambil peran penting dalam sejarah komputer karena karakter analognya. Sebaliknya, Differential Analyzer menjadi cikal bakal berakhirnya mesin analog.

Namun demikian, berbagai pendekatan, teknologi, dan teori anyar bermunculan pada tahun 1937, tepat seratus tahun Babbage kali pertama menerbitkan makalahnya mengenai mesin analitis. Lompatan matematika terjadi pada tahun ini yang salah satunya menghasilkan konsep formal mengenai komputer universal. Dan konsep ini digagas oleh matematikawan brilian asal Inggris, Alan Turing yang terkenal dengan mesin Komputasi Logis atau mesin Turing.

Disusul oleh berbagai penemuan dan tokoh pelopor komputer lainnya, Claude Shannon penemu teori informasi sampai Bill Gates, Steve Jobs yang tak asing lagi dan diakhiri oleh komputer buatan IBM, Watson yang memenangi kuis jeopardy di tahun 2011.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tentu tidak berhenti sampai di sini, akan lahir banyak para penerus yang melanjutkan mimpi-mimpi dari para generasi sebelumnya.

Ulasan
Buku ini berkisah tentang kemajuan serempak internet dan PC. Merunut keterkaitan antara perkembangan internet dan komputer. Inilah kisah mengenai para inovator era digital, mereka yang telah berjasa melahirkan revolusi digital.

Ada sebuah kesamaan yang dimiliki para pelopor komputer itu, yaitu mencari cara agar perhitungan matematika (yang itu-itu saja) dapat dikerjakan secara lebih praktis dan cepat.

Kolaborasi antargenerasi ini lah yang melahirkan era digital. Ide yang diwariskan dari satu jajaran inovator ke jajaran berikutnya melahirkan revolusi digital yang luar biasa menakjubkan.

Bekerjasama, kolaborasi adalah nilai-nilai keterampilan hidup yang harus dilatih dan dikembangkan. Kisah salah satu tokoh yaitu John Atanasof membuktikan bahwa amat sukar untuk menjadi penemu yang bekerja sendiri. Kesendirian Atanasof menjadi titik kelemahnnya, karena di sekelilingnya tidak ada orang yang mampu memberikan masukan atau membantu memecahkan tantangan teoretis ataupun teknis.

Yang perlu diingat, kreativitas adalah proses kolaboratif. Kreativitas tidak muncul sendiri. Maka seorang inovator yang baik adalah mereka yang memahami alur perubahan teknologi dan meneruskan tongkat perjuangan inovator terdahulu.

Zero to One

zero-to-one
Judul: Zero to One
Penulis: Peter Thiel
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2014
Tebal: 238

Zero to One berbicara tentang bagaimana membangun perusahaan-perusahaan yang menciptakan hal-hal baru.

Meniru adalah hal paling mudah dibandingkan menciptakan sesuatu yang baru. Ketika Anda mengerjakan sesuatu yang sudah diketahui caranya sama dengan membawa dunia dari 1 ke n, hanya menambahkan sesuatu ke hal yang sudah ada dan sudah biasa. Sebaliknya menciptakan sesuatu yang baru membawa Anda berangkat dari 0 ke 1, atau from zero to one.

Maka, seorang inovator tidak akan meniru pendahulunya. Menurut Thiel, penerus Bill Gates tidak akan membuat sistim operasi. Demikian juga penerus Mark Zuckerberg tidak akan menciptakan jejaring sosial. Seorang inovator akan menghasilkan karya inovasi yang baru dan unik.

Meniru hal-hal yang sudah berhasil diistilahkan dengan kemajuan horisontal (atau ekstensif). Kemajuan seperti ini lebih mudah diramalkan. Sebaliknya, mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakan orang lain akan lebih sulit dibayangkan, ini lah yang disebut dengan kemajuan vertikal atau intensif. Di tingkat makro, kata untuk menggambarkan kemajuan horisontal adalah globalisasi. Sementara kata untuk menggambarkan kemajuan vertikal adalah teknologi.

Ingat, teknologi adalah cara membuat sesuatu supaya lebih baik dan mudah :).

Untuk menciptakan dunia yang lebih makmur dan sejahtera di abad ke 21 ini maka Thiel berpendapat bahwa perkembangan teknologi memiliki peran yang sangat besar, berbalikan dengan keyakinan banyak orang yang mengira masa depan dunia ditentukan oleh globalisasi. Sebagai contoh, Tiongkok. Tiongkok selama ini meniru segala sesuatu yang telah berhasil di negara-negara maju seperti penyejuk udara, dan lainnya. Jika Tiongkok menggandakan produksi energinya selama dua dasawarsa mendatang, negara itu juga akan menggandakan pencemaran udaranya. Akibatnya bencana lingkungan yang masif. Di sebuah dunia dengan sumber daya yang sudah langka maka globalisasi tanpa teknologi tidak akan berkelanjutan.

Teknologi baru memang tidak datang secara tiba-tiba, namun melalui eksperimen-eksperimen baru-dari usaha-usaha rintisan atau startup. Sejarah telah membuktikan bahwa kelompok-kelompok kecil yang bergabung karena merasa mempunyai misi telah mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Sama dengan prinsip usaha startup.

Sebuah startup adalah kelompok paling besar tempat Anda dapat meyakinkan orang-orang akan sebuah rencana untuk membangun masa depan yang berbeda. Kekuatan terpenting usaha rintisan ini adalah pola pikir baru. Prinsip usaha startup mengharuskan Anda bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai sesuatu, tetapi juga harus cukup kecil sehingga Anda dapat mengerjakannya.

Buku ini akan memberikan latihan berpikir terutama bagi Anda yang ingin berhasil dalam usaha membuat hal baru. Selaras dengan yang harus dikerjakan oleh sebuah usaha startup yaitu mempertanyakan gagasan-gagasan yang muncul dan memikirkan kembali sesuatu dari nol.

Jadi, jangan menjadi pengekor tetapi jadilah pelopor ๐Ÿ™‚

Istanbul

Sinopsis buku Istanbul karya Orhan Pamuk ini sudah saya posting di tulisan sebelumnya. Lalu apa yang membuat saya menuliskannya kembali? Membaca buku ini membuat saya tertarik mencari tahu sejarah Khilafah Utsmaniyah. Dalam peradaban islam, khilafah Utsmaniyah ini termasuk yang memiliki periode paling lama kekuasaanya, sekitar 625 tahun (enam seperempat abad) di sekitaran abad ke-12 sampai abad 16.

Kejayaan dan keruntuhan sebuah pemerintahan ditentukan oleh pemimpinnya. Ini lah yang terjadi di Istanbul. Menjelang jatuhnya Kesultanan Utsmaniyah, disebabkan oleh perilaku para pemimpinnya yang tamak dan hidup bermewah-mewah serta menyengsarakan rakyatnya melalui pajak yang tinggi. Dan juga disebabkan oleh ketidaktegasan penguasa yang memimpin kota serta konflik internal diantara para penguasa.

Sementara itu, Eropa muncul sebagai kekuatan baru dengan teknologi perangnya yang modern. Kekuatan Kesultanan Turki Usmani yang semakin turun membuka peluang bagi Barat untuk mengambil kembali seluruh wilayah Eropa yang pernah dikuasai Kesultanan Usmani.

Istanbul kemudian menjadi negara Republik sekuler melalui presiden pertamanya, Mustafa Kemal Atatรผrk. Menjadi sekuler barangkali bukanlah keinginan penduduk Istanbul, namun mungkin pilihan terbaik saat itu, ketika sebagian mereka merasakan bahwa agama telah dijadikan alat untuk menindas dalam sebuah sistem kenegaraan.

Di bawah kepemimpinan Atatรผrk yang sekuler (Sekuler secara harfiah berarti memisahkan hukum negara dengan agama) maka meninggalkan agama berarti menjadi modern dan Barat.
Eforia kebudayaan Eropa melanda kaum borjuis yang ditampakkan dalam rumah-rumah mereka. Pamuk menggambarkan ini dalam cerita benda-benda ala Eropa yang dipamerkan di lemari-lemari kaca kaum kaya Istanbul. Menjadi Eropa adalah pilihan kaum kaya Istanbul untuk meningkatkan status mereka. Sementara itu agama menjadi lekat bagi masyarakat miskin. Keluarga borjuis menyamakan kesalehan dengan kemiskinan, sementara kaum mereka sendiri yang tidak percaya kepada Tuhan tidak sepenuhnya memiliki keberanian untuk memutuskan ikatan.

Keinginan untuk lepas dari (kejayaan) dan keruntuhan masa lalu dan menjadi negara yang modern dan makmur menjadi sebuah tekad bagi bangsa Turki dan karenanya mereka meyakini bahwa segala yang berkaitan dengan agama harus dihindari. Walaupun nyatanya pengingkaran itu menimbulkan rasa ambigu.

Istanbul dalam buku Orhan Pamuk memberi gambaran bagaimana sebuah kota yang mengalami kegemilangan lalu runtuh dan mencoba bangkit kembali dalam perasaan seorang anak yang keterikatannya dengan kota kelahirannya begitu lekat. Kenangan akan sebuah kota yang membentuk keseluruhan dirinya dalam baris-baris puisi dan kisah romantik laut Bosphorus, laut yang menjadi hiburan satu-satunya bagi penduduk saat kepekatan pernah melanda negeri dimana sebuah peradaban agung pernah berdiri.

Istanbul Kenangan Sebuah Kota

istanbul_kenangan_sebuah_kota_
Judul: Istanbul. Kenangan Sebuah Kota.
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: 2015
Tebal: 561

Istanbul atau dulunya dikenal dengan nama Byzantium merupakan kota yang paling penting dalam sejarah. Kota ini menjadi ibu kota dari empat kekaisaran, yaitu Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Romawi Timur, Kekaisaran Latin dan terakhir Kekaisaran Utsmaniyah. Penyebaran agama kristen mengalami kemajuan pada masa kekaisaran romawi dan romawi timur sebelum utsmaniyah menaklukkannya pada tahun 1453 di bawah kepemimpinan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) yang mengubahnya menjadi pertahanan islam sekaligus ibu kota kekhalifahan terakhir.

Sinopsis
Kesultanan utsmaniyah berakhir pada tahun 1922. Istanbul beralih menjadi Republik Turki pada tahun 1923. Namun tak banyak kemajuan yang terjadi pada periode ini. Kota yang dahulunya pernah menjadi rebutan karena kekayaan dan posisinya yang strategis mendadak diabaikan setelah Kesultanan Usmani jatuh. Sebaliknya, kota ini menjadi lebih miskin, kumuh dan terasing. Kegemilangan kota ini perlahan memudar. Rakyat hidup dalam kemiskinan dan penderitaan akan kenangan kejayaan masa lalu.

“seakan-akan begitu kami aman berada di rumah kami, kamar tidur kami, ranjang kami, maka kami dapat kembali pada mimpi-mimpi tentang kekayaan kami yang telah lama hilang, tentang masa lalu kami yang legendaris.” (halaman 50)

Buku memoar Istanbul ini berisi catatan atau rekaman, kenangan yang dialami oleh penulis dari masa kecil sampai dewasa mengenai kota kelahirannnya. Dilahirkan dari keluarga kaya, Pamuk tinggal di apartemen yang setiap lantainya dihuni oleh masing-masing keluarga besar. Seperti rumah keluarga istanbul kaya lainnya, pernak-pernik pengaruh barat tersimpan di dalam lemari kaca yang dingin, suram dan tak tersentuh. Perabotan itu sekedar memamerkan diri kepada para tamu bahwa pemilik rumah adalah orang yang berpikiran Barat.

“, kemurungan dari kebudayaan yang sekarat ini terasa di mana-mana di sekeliling kami. Sebesar apa pun hasrat untuk meniru Barat dan menjalankan modernisasi, tampaknya keinginan yang lebih mendesak adalah terlepas dari seluruh kenangan pahit dari kesultanan yang jatuh: lebih menyerupai tindakan seorang pria yang diputus cinta membuang seluruh pakaian, barang-barang, dan foto-foto bekas kekasihnya. Namun, karena tidak ada sesuatu pun, baik dari Barat maupun dari tanah air sendiri, yang bisa digunakan untuk mengisi kekosongan itu dorongan kuat untuk berkiblat ke Barat sebagian besar merupakan usaha untuk menghapus masa lalu; pengaruhnya pada kebudayaan bersifat mereduksi dan membuat kerdil, mendorong keluarga-keluarga seperti keluargaku yang, meskipun senang melihat kemajuan Republik, melengkapi perabot rumah mereka layaknya museum. Sesuatu yang di kemudian hari aku ketahui sebagai misteri dan kemurungan yang mewabah, kurasakan pada masa kanak-kanakku sebagai kebosanan, dan kemuraman, rasa jemu mematikan, yang kuhubungkan dengan musik “alaturka” yang membuat nenekku tergerak untuk mengetuk-ngetukkan kakinya yang bersandal: aku melarikan diri dari situasi ini dengan membangun mimpi.” (halaman 43)

Pamuk membangun mimpi melalui fantasi-fantasi yang ia ciptakan sejak kecil. Pada usia lima tahun ia tinggal bersama pamannya yang saat itu menjadi editor majalah Hayat (Hidup), majalah yang paling populer di Turki. Kegemaran berimajinasi dan tinggal bersama paman yang menerbitkan banyak ratusan buku dan memberikan buku-buku tersebut kepada Pamuk setelah ia bisa membaca sedikit banyak memengaruhi dirinya. Diakui oleh Pamuk kemudian bahwa rekan dari banyak penyair dan penulis pamannya juga sangat memengaruhi gagasan-gagasannya mengenai Istanbul.

Istanbul bagi Pamuk adalah kota yang mengingatkan ia pada reruntuhan dan kemurungan, kemuraman yang menular kepada dirinya. Ia menggambarkan Istanbul dengan sangat menyentuh, kota ini seolah hidup dan nyata dalam penggambaran masa lalu. Disertai foto-foto hitam putih, Istanbul bercerita banyak tentang kegemilangan masa lalu sekaligus kemuraman yang diberikan sesudahnya.

Istanbul adalah kota sarat sejarah. Bangunan-bangunan tua yang berdiri di kota ini adalah peninggalan dari sebuah peradaban agung yang pernah berdiri di kota itu.

Tak salah kalau Istanbul (Turki) dijadikan pilihan sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi. Kota yang sarat sejarah ini pasti menyimpan banyak kisah menarik. Empat kekaisaran dari pendahulunya dan peralihan dari kristen, islam dan kemudian kota ini memilih menjadi negara republik yang demokratis, sekuler. Wow, bayangkan betapa kaya peninggalan yang diberikan dari sejarah kota ini. Seperti apa kira-kira Istanbul ya?

Show Your Work

B2sUGDeCcAAZwMc
Judul: Show Your Work
Penulis: Austin Kleon
Penerjemah: Rini NB
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2014
Tebal: 215

Ingin diperhatikan? Atau ingin dipromosikan? Kleon punya nasihat yang bagus untuk ini, jangan sibuk membicarakan promosi diri. Sebaliknya, “Berkaryalah sebagus mungkin supaya tidak diabaikan.”

“Bila kamu berfokus pada kualitas, orang akan datang kepadamu.” Bagaimana caranya agar mereka menemukanmu? Berbagi lah.

Buku ini untuk kamu yang tidak suka mempromosikan diri. Austin memberikan alternatif cara promosi yang lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Berbagi adalah kunci untuk memperkenalkan karyamu kepada banyak orang. Dengan demikian kamu pun mudah ditemukan dan berfokus menjadi ahli di bidangmu.

Alih-alih pelit dengan ilmu yang kamu miliki, bermurah hati membagi ide dan pengetahuan akan membukakan jalan kepada peluang dan kesempatan yang bahkan tidak kamu bayangkan. Berbagilah proses kreatifmu dengan banyak orang. Yang kamu perlukan hanya menunjukkan karyamu.

Nah, ingin tahu cara alternatif promosi dari mr. Austin? Mari kita simak beberapa tips Beliau di bawah ini.
1. Tidak perlu menjadi genius?
He? Serius? Iya, ini era digital, bukan? Dengan internet maka siapapun saling terhubung. Blog, media sosial, grup e-mail, ruang diskusi, forum, semuanya menjadi tempat virtual yang bisa didatangi orang untuk membicarakan hal-hal yang mereka anggap penting. Di dunia maya, semua orang mampu menyumbangkan sesuatu tanpa mengenal status, kekayaan, atau pun gelar.
“Berikan yang kamu punya. Bagi seseorang, bisa jadi itu berguna baginya melebihi dugaanmu.” – Henry Wadsworth (halaman 9, Show Your Work).

Untuk berani berbagi, kamu harus berani menjadi amatir. Seorang amatir bersedia mencoba apa saja dan berbagi hasilnya. Seorang amatir tahu bahwa menyumbangkan sesuatu lebih baik daripada tidak sama sekali. Yang membedakan adalah berkarya atau tidak berkarya. Kalaupun hasil karyamu belum termasuk bagus, selalu ada kesempatan untuk berlatih. Menjadi amatir adalah menjadi pembelajar seumur hidup. Dan itu menyenangkan, menurut saya ๐Ÿ™‚
Selain menjadi amatir, kamu harus menemukan dan menggunakan suaramu sendiri. Maksudnya? Bicarakan hal yang kamu suka dan suaramu akan datang sendiri. Jika ingin karyamu dianggap ada maka kamu harus berbagi. Internet memberi kamu banyak kesempatan untuk menemukan dan menggunakan suaramu. Berikutnya, baca obituarium. Kata Kleon, membaca tentang orang-orang yang sudah tiada dan berbuat banyak dalam hidup akan membuat kita bangkit dan mengukir hidup sendiri dengan baik. Ambil inspirasi dari orang-orang yang berjuang dalam hidup-mereka semua mulai sebagai amatir, mencapai tujuan dengan mengolah apa yang dimiliki, lalu memberanikan diri menunjukkannya pada dunia. Teladani mereka. (halaman 25)

2. Pikirkan proses bukan hasil.
Kebanyakan kita sudah memahami bahwa proses lebih bernilai dibandingkan hasil. Dengan berbagi poses harian maka kita pun menjalin keakraban dengan penikmat karya kita. Berbagi proses sebuah karya membuka kemungkinan bagi orang-orang untuk terus terhubung dengan kita dan karya kita sehingga membantu promosi produk lebih jauh. (hal 38). Selanjutnya, arsipkan semua yang telah kamu kerjakan. Potongan arsip adalah juga bagian proses kreatif yang dapat kamu kumpulkan untuk kemudian kamu tunjukkan.

3. Berbagilah hal kecil setiap hari.

Nah, di atas itu 3 tips dari Kleon. Masih banyak tips lainnya yang menarik dari Beliau, kamu bisa membaca bukunya untuk mengetahui nasihat lainnya dari Kleon.

Jadi, sesibuk apapun dirimu, jangan mengunci diri dan menimbun karya untuk diri sendiri. Berbagilah, tunjukkan karyamu kepada orang lain. Perhatikanlah, akan ada orang-orang yang memberi perhatian lebih kepada karyamu.

Dan mengutip pesan Kleon, “Dokumentasikan perkembanganmu, lalu bagikan prosesnya supaya orang lain bisa belajar bersamamu. Tunjukkan karyamu, dan ketika orang yang tepat muncul, amati mereka baik-baik, karena banyak yang akan mereka perlihatkan kepadamu.”

Para Pencari Keadilan

PARA PENCARI KEADILAN.indd

Pengarang: Pipiet Senja
Penerbit: Emir
Tahun terbit: 2015
Tebal: 221 halaman
Harga buku: Rp 80.000,-
Dimensi buku: 14,5 x 21

Sinopsis

Rumondang Siregar adalah satu-satunya Jaksa di Indonesia blasteran Batak-Tionghoa. Sejak bayi ia dalam pengasuhan keluarga besar ayahnya di kawasan Tapanuli Selatan, sementara kedua orang tuanya mengejar karier di Ibukota. Acapkali ia menerima tindak kekerasan dari neneknya. Beruntunglah ia memiliki seorang kakek yang sangat mengasihinya, sehingga membentuk karakter yang mandiri, dan istiqomah sebagai muslimah tangguh.

Ketika ia berhasil menduduki jabatan Jaksa di daerah, segenap pikiran dan upayanya dipusatkan demi memberantas para koruptor. Sepak-terjangnya ternyata membuat gerah para seniornya, maka ia pun ditarik ke Ibukota. Di sini ternyata ia harus berhadapan dengan situasi yang tak pernah terbayangkan; mulai dari intrik, isu murahan, sampai fitnah yang keji. Serbuan dan tantangan lawan itu bukan saja dari kalangan sejawat, melainkan juga dari keluarga besar ibunya sendiri, etnis Tionghoa.

Bagaimana sepak-terjangnya, saat ia harus berhadapan dengan para sepupu dan pamannya sendiri yang ternyata adalah gembong narkoba? Dan ia pun menjadi korban dalam suatu tragedi pemboman di Mall. Dapatkah ia bangkit dari situasi in-coma yang mengenaskan itu?

Keunggulan Buku
Novel karya penulis legendaris Indonesia ini, merupakan salah satu novel lintas etnis yang tidak biasa dari novel kebanyakan saat ini. Pipiet Senja seorang penulis yang dikenal sebagai sosok perempuan yang konsisten dengan kesederhanaan, baik dalam kehidupan maupun karya-karyanya. Dapat dilihat dari salah satu novel karyanya, Para Pencari keadilan. Novel ini menceritakan perjuangan seorang wanita tangguh di tengah maraknya kasus peradilan yang berakhir dengan tidak adil.
Sangat menarik, karena di dalamnya penuh konflik yang mengharukan, serta sarat dengan nilai-nilai Islam yang tercermin dari tokoh utama seorang muslimah, bernama Rumondang. Tentu saja dapat menginspirasi tidak hanya bagi wanita, tetapi juga untuk semua orang yang sangat mendambakan keadilan di dunia ini.

sumber: Erlangga

Romansa 2 Benua

ROMANSA DUA BENUA.indd

Penulis: Pipiet Senja
Penerbit: Erlangga
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2015
Cetakan: Ke-1
Deskripsi Fisik: 223 Halaman
Kode Buku: 808-813-002-0
ISBN: 978-602-0935-24-9

Sinopsis Romansa 2 Benua

Soli tak pernah tahu siapa ayah kandungnya dan mengapa ibunya sampai hati membuangnya begitu saja? Masa kecilnya dihiasi dengan pergulatan seru melawan kemiskinan dan kekerasan fisik bahkan seksual dari kaum adam. Soli yang tinggal hanya berdua dengan neneknya tercinta harus menjalani pahitnya hidup di sebuah desa kecil di Jawa Barat. Di usianya yang masih belia, Soli telah mendapat pelecehan dan perlakuan sadis dari seorang lelaki jahim. Drama hidup terus berlanjut, ketika Soli harus kehilangan neneknya tercinta, satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Kini, ia harus menjalani kerasnya hidup sebatang kara. Hingga suatu hari, Soli kembali mengalami babak pahit dalam skenario hidupnya. Soli disekap berhari-hari di gerbong kereta, kesuciannya kembali direnggut untuk kedua kali. Namun, kali ini Soli telah berubah, dia berani bangkit melawan dan menghabisi si Durjana. Berbagai hujatan dan penghinaan bertubi-tubi menyerangnya. Kegetiran hidupnya tak kunjung bermuara.

Penantian panjang yang begitu indah dalam imajinasinya itu kini di depan mata. Soli telah menemukan ibu kandungnya yang telah meninggalkannya sejak masih bayi. Kebahagiaan yang menghiasi relungnya kala berjumpa untuk pertama kalinya dengan sosok perempuan yang sudah melahirkannya ke dunia fana itu pun hanya ada dalam kisah dongeng belaka. Sang ibu justru menolak kehadirannya, bahkan mengusirnya. Tidak ada sedikit pun kasih dan sayang seorang ibu yang layaknya dicurahkan kepada buah hatinya. Soli pun pasrah, dia sudah tak mampu berharap.Pada suatu hari, ibu Soli pun datang dan mengajaknya untuk tinggal bersama layaknya keluarga. Bukan girang Soli mendengar kabar itu dan sontak dia langsung mengiayakan. Tak ada sedikit pun rasa curiga terhadapo niat baik sang ibu. Namun, di balik kebaikan hatinya, sungguh tega sang ibu justru menjual Soli. Soli pun tak berdaya. Dia benar-benar telah terpenjara di rumah Baba Liong, tauke tembakau dari Deli yang juga mempunyai bisnis di kota kembang. Soli menjalani hidupnya yang baru bergelimang harta dan kemewahan di rumah Baba Liong hingga pada suatu hari Soli menemukan cinta pertamanya yang bernama Nuwa.

Cinta pertama yang telah membutakan matanya. Cinta pertama yang begitu manis di awalnya. Cinta pertama yang selalu menggetarkan hatinya setiap waktu. Cinta yang justru membawa petaka. Cinta yang justru menorehkan luka, cinta yang perih tak terperi yang meninggalkannya sorang diri di Negri Kincir Angin. Cinta yang membuahkan benih manusia di dalam rahimnya. Hingga akhirnya dia pun benar-benar tidak tahu arah setelah Nuwa meninggalkannya sebatang kara dengan janinnya. Tuhan tidak pernah melepas Soli begitu saja, Sang Maha Agung yang tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Titik terang dalam hidupnya kembali datang. Jan van Hartland, pria bule bertubuh sangat subur, berperawakan tinggi kini telah mengisi lembar hidupnya dengan penuh kebahagiaan. Kini, Soli telah melahirkan Nuwa, buah hatinya dengan cinta pertamanya yang telah membutakannya yang juga bernama Nuwa. Hidup terus berjalan penuh kebahagiaan hingga Soli pun melahirkan buah hati lainnya yaitu Beatrice dan Martin.

Kini, Soli bukan lagi gadis desa lugu yang bodoh dan miskin. Soli van Hartland kini telah menjadi menjelma menjadi wanita cerdas dan bergelimang harta karena kesuksesan bisnisnya di Negeri Kincir Angin. Namun, kesedihan kembali menimpanya kala dia mendengar kabar bahwa putranya meninggal karena tenggelam di laut bersama kapal pesiar pribadinya. Hatinya hancur menerima kenyataan itu. Soli mempunyai cucu bernama Max, yang tak lain adalah anak kandung Nuwa van Hartland dan istrinya, Jennifer Hamilton, artis Hollywood. Kini, Max dirawat oleh Soli. Dia begitu mencintai cucunya. Namun, Soli kembali harus kehilangan orang yang dicintainya, Jan Van Hartland, suaminya tercinta. Kini, dia membiarkan skenario Tuhan berjalan apa adanya. Seiring berjalannya waktu, usia Soli semakin tua. Kesehatannya pun semakinmenurun. Soli kini tengah tak berdaya terbaring di rumah sakit. Max, cucunya telah beranajk dewasa dan memilih jalan hidup yang benar, kini dia menjadi muslim sejati dan mengganti namanya menjadi Faiz. Bagaimana pun panjang nya perjalanan hidup Soli, kini ia kembali teringat pada Nuwa, cinta pertamanya. Ia masih menyimpan dendam yang tak kunjung padam. Faiz pun mulai tahu akan kisah cinta pertama sang nenek yang getir. Dia pun berusaha mencari sosok Nuwa, cinta pertama neneknya. Maka dia terbang ke Indonesia, tepatnya di Papua.

Pencariannya pun tak sia-sia, hingga dia menemukan cinta pertama sang nenek. Soli pun semakin sehat. Kini dia telah belajar ilmu agama dari perawatnya, Laila. Perjalanan hidup memang tak bisa ditebak, Soli tak pernah menyangka bahwa dia akan kembali ke Indonesia dan dipertemukan dengan Nuwa. Kini Soli sudah memaafkannya. Faiz merasa bahagia karena bisa mempertemukan dua insan yang saling mencintai walupun penuh dengan tragedi.

Unsur Intrinstik Novel
1. Tema
a. Seorang wanita yang kuat dan tegar dalam menghadapi kegetiran hidup
b. Wanita yang lugu dan baik hati namun terlalu mudah percaya terhadap perkataan orang lain yang justru membuatnya lara.
c. Perjuangan hidup penuh tragedi seorang gadis yang ditinggal ibu kandung sejak bayi dan kemudian harus hidup sebatang kara setelah neneknya, satu-satunya keluarganya meninggal dunia dan akhirnya ibunya tega menjualnya.

2. Tokoh
a. Tokoh Utama : Soli
b. Tokoh Kedua : Titin
c. Tokoh Ketiga : Nuwa
d. Tokoh Keempat: Jan Van Hartland
e. Tokoh Kelima: Faiz
f. Tokoh Pembantu :Mak Dijah, Tunem, Baba Liong, Beatrice, Martin

3. Penokohan :
a. Soli: Sosok perempuan yang kuat dan tegar, keinginannya untuk mandiri sejak muda, dan sangat menyayangi nenek dan ibunya.
b. Titin: Ibu kandung Soli yang cinta harta hingga tega menjual anaknya.
c. Nuwa: Sosok laki-laki yang cerdas dan mampu memikat hati Soli namun dia tega meninggalkan Soli seorang diri dalam keadaan mengandung anaknya
d. Jan van Hartland: Laki-laki bule yang berperawakan tinggi, baik hati, penyayang, dan mencintai Soli apa adanya.
e. Penokohan lainnya.

4. Alur
Alur maju mundur, dimana novel menceritakan keadaan Soli yang sedang tak berdaya berbaring di rumah sakit. Kemudian alur kembali mundur menceritakan kisah hidup Soli sejak bayi hingga remaja yang penuh tragedi hingga ia hamil namun ditinggal oleh Nuwa dan kemudian dia berjumpa dengan Jan van Hartland di Negeri Kincir Angin dan menikah dengan Jan van Hartland dan kemudian mempunyai dua anak, Beatrice dan Martin. Alur maju ditutup dengan bertemunya Soli dan Nuwa.

5. SudutPandang
Sudut pandang orang ketiga

6. Amanat :
a. Tidak ada anak yang dilahirkan dengan keadaan haram. Perbuatan orang tuanya lah yang haram.
b. Sepahit apapun hidup, tidak boleh menyerah. Hidup terus berlanjut. Berusahalah menjalani hidup dengan baik.
c. Memaafkan orang yang telah berbuat jahat memang susah, akan tetapi kita harus mampu melakukannya agar hidup tenang.
d. Jangan mudah terpercaya oleh perkataan orang, terkadang berujung sengsara.
e. Sebagai wanita, kita harus menjadi wanita yang cerdas, kuat, mandiri, dan tangguh dalam menjalani warna warni kehidupan yang tak terduga.

Keunggulan dan kelemahan novel

1. Keunggulan Novel

  • Novel ini mengajarkan kita akan apa arti tegar, kuat, mandiri dan tangguh bagi wanita
  • Sebuah bacaan menarik yang sangat inspiratif
  • Bahasanya mudah dipahami
  • Pewatakan tokoh mudah dipahami dan digambarkan secara jelas
  • Alur cerita mudah dipahami meski alur maju mundur, dan alur tersebutlah yang membuat kita menjadi semakin penasaran.
  • Sarat akan nilai religi

2. Kelemahan Novel

  • Terlalu banyak nama tokoh
  • Ada beberapa sesi cerita yang cukup panjang dan sedikit membosankan karena intinya sama saja.

Kesimpulan
Novel ini pantas dibaca untuk siapa saja, terutama untuk wanita. Novel ini mampu menginspirasi para wanita dalam menjalani hidup yang penuh tantangan agar selalu kuat, tangguh, dan mandiri. Novel ini juga mengandung nilai religi. Bahwa sejatinya hidup harus seimbang antara dunia dan akhirat. Banyak pesan dan kesan yang dapat diambil sebagai pelajaran hidup dari novel ini. Sebuah novel yang mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang sederhana namun mampu membangkitkan emosi pembaca.

Sumber: Erlangga

Tiada Ojek di Paris

ojekparis
Judul: Tiada Ojek di Paris
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Mizan
Tebal: 207

Jakarta, Rembulan, dan Keterasingan

Bulan telah pingsan
di atas Kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya!

Bulan telah pingsan
Mama, bulan telah pingsan
Menusuk tikaman beracun
dari lampu-lampu Kota Jakarta
dan gedung-gedung tak berdarah
berpaling dari bundanya

Siapa yang terasingkan dari Jakarta? Bahkan bulan pun merasa tak seorang menatapnya. Begitulah personifikasi rembulan yang merupakan identifikasi diri dari manusia yang merasa terasing di Kota Jakarta.

Keterasingan atau alienasi adalah wacana yang tumbuh bersama lahirnya sebuah kota, tempat manusia tak dihubungkan oleh kesatuan adat, apalagi darah, seperti dalam masyarakat tradisional dalam pola kekerabatan di kampung, melainkan oleh kesatuan kepentingan. Orang datang ke Jakarta untuk menyambung dan mempertahankan hidup, dalam arti kiasan atau sebenarnya, bukan karena cinta kepada Jakarta. Kepentingan survival ini membuat orang Jakarta berkompetisi. Keakraban mengalami reduksi. Maka manusia pun hidup dalam keterasingan.

Namun, keterasingan bukanlah akhir dunia. Seterasing-asingnya, mereka yang tinggal di Jakarta selalu mempunyai perasaan mesra tentang kotanya. Keterasingan selalu bertimbal balik dengan kerinduan. (hal 35-36)

Ulasan:
Siapa tak kenal Seno? Tulisan-tulisannya selalu bernas. Tiada Ojek di Paris adalah kumpulan esai Seno tentang masyarakat urban dan kota metropolitan. Esai ini terdiri dari 44 cerita pendek yang dapat dibaca secara terpisah.

Buku ini berisi pengamatan Seno tentang masyarakat urban. Jakarta adalah kota yang dipilih Seno sebagai latar belakang kisah-kisah di dalam buku ini. Kota yang terus bertumbuh dan menuntut semua elemen di dalamnya untuk ikut bergerak gegas dan cepat. Kehidupan urban menjadi simbol perkembangan sebuah kota. Mobilitas kaum urban dikenal sangat tinggi dikarenakan beragamnya kegiatan yang mereka ikuti. Tak ketinggalan gaya hidup yang menjadi identitas kaum urban yang dapat menentukan strata sosial mereka di masyarakat.

Barangkali kita akan merasa sedikit tertohok, atau bahkan tertawa dan kemudian mengernyitkan kening ketika membaca kumpulan esai yang bercerita tentang berbagai polah kaum urban. Sadar atau tidak kita seringkali tertipu dan terkungkung oleh kehidupan yang kita sebut dengan modern itu.