
Judul: Sampar
Penulis: Albert Camus
Alih Bahasa: NH.Dini
Penerbit: Pustaka Obor
Tebal: 386
“Kita mungkin tidak mampu memperbaiki negeri ini sendirian. Tetapi kita selalu bisa memastikan bahwa diri kita tidak menjadi bagian dari kerusakannya. Dan mungkin, dalam dunia yang sedang sakit, itulah bentuk perlawanan yang paling sederhana, tetap berusaha menjadi manusia yang baik.”
Sampar bercerita tentang sebuah kota yang dikarantina karena wabah penyakit. Kota itu terlepas dari dunia luar. Orang-orang yang berada di dalamnya tidak dapat keluar, sementara mereka yang masuk harus menerima kenyataan bahwa mereka mungkin tidak akan bisa meninggalkan kota tersebut. Saya pernah menuliskan review singkatnya di sini.
Di tengah kepanikan dan bayang-bayang kematian, para tokohnya menampilkan versi diri mereka masing-masing. Ada Dr. Rieux, tokoh utama yang memilih untuk tetap menjalankan tugasnya dengan baik setiap hari, walaupun ia tidak pernah benar-benar yakin bahwa ia akan mampu mengalahkan wabah untuk selamanya. Ada Grand, pegawai balai kota yang sederhana, tetapi memiliki kebaikan-kebaikan yang justru langka di tengah situasi yang kacau. Ada pula seorang jurnalis yang bersedia melakukan berbagai cara agar dapat melarikan diri dari kota, serta orang-orang lain yang melihat wabah sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan dan memperkaya diri sendiri.
Kisah Sampar pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah wabah penyakit. Ia juga bercerita tentang manusia ketika hidup dalam situasi yang rusak dan penuh ketidakpastian. Dalam keadaan seperti itu, kita bisa melihat diri seseorang yang sebenarnya, apakah ia memilih ikut mengambil keuntungan dari kerusakan, atau tetap berusaha tidak menambah kerusakan yang sudah ada.
Seperti Dr. Rieux yang tetap merawat orang sakit dan menjalankan tanggung jawabnya, tanpa membiarkan ketidakpastian membuatnya berhenti, mungkin inilah salah satu gagasan penting Camus bahwa kita tidak harus yakin akan berhasil untuk tetap memilih melakukan yang benar. Kita mungkin tidak mampu mengakhiri seluruh penderitaan, tetapi kita tetap dapat memilih untuk tidak menambah penderitaan itu.
Barangkali Sampar menjadi relevan ketika kita melihat kehidupan kita hari ini. Di tengah kerusakan yang dilakukan oleh sebagian pemimpin dan pejabat negara, kita mungkin merasa begitu kecil dan tidak berdaya. Kita bahkan mungkin tidak tahu apakah keadaan akan menjadi lebih baik. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita bersikap. Kita bisa memilih untuk tidak ikut merusak. Tidak ikut berbohong karena orang lain berbohong. Tidak ikut mengambil keuntungan karena orang lain melakukannya. Tidak membalas keburukan dengan keburukan yang sama.
