Sang Harimau

Judul asli: The Tiger Rising
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Sang harimau bercerita tentang seorang anak laki-laki yang bernama Rob. Dunianya berubah setelah Ibu yang dikasihinya meninggal dunia. Kehilangan besar itu mengubah pribadinya menjadi seorang yang sangat tertutup. Rob menyimpan semua kesedihannya sendiri. Ia mengibaratkan dirinya sebuah koper, yang di dalam koper itu semua harapan, masalah dan kesedihannya tersimpan. Ia memasukkan semua perasaannya ke dalam koper itu dan menjejalkannya rapat-rapat dan menguncinya. Namun sekali waktu isi koper itu memaksa diri mereka keluar sehingga ia merasa perlu menduduki koper itu. Itu pun belum cukup sampai suatu hari ia melihat sang harimau. Harimau dengan bulunya yang berwarna kuning keemasan dan tatap mata yang tajam datang memberinya sebuah kekuatan yang baru. Rob tak sengaja melihat harimau ini, terkurung dalam kandang di sebuah hutan, dekat dengan motel yang menjadi tempat tinggalnya sekaligus merupakan tempat mata pencarian sang Ayah.

Kekuatan dari harimau itu membantunya untuk tetap tegar menghadapi kenakalan beberapa kawannya. Setiap kali mereka mengolok-olok serta menindasnya Rob tak pernah melawan. Ia juga tak menangis. Ia hanya perlu memikirkan hal-hal lain selama penyiksaan berlangsung. Dan bagi Rob, hal lain itu adalah seekor harimau. Setiap kali ia memikirkan harimau maka Rob merasakan kekuatannya bertambah besar.

Rob juga tahu jika ia tak melawan maka anak-anak itu lama kelamaan akan bosan dan meninggalkannya. Dan Rob tak pernah menangis walaupun rasa perih dan sakit dirasakannya akibat pukulan dan tendangan dari temannya itu.

Suatu hari, di sekolah tempat Rob belajar kedatangan murid baru, Sistine nama anak perempuan itu. Berbalikan dengan Rob, Sistine adalah seorang anak yang sangat pemarah. Sistine berani menantang siapapun yang mengejeknya. Perbedaan kepribadian yang saling bertolak belakang ini justru menjadikan mereka dua orang yang saling bersahabat.

Mengutip sinopsisi dari buku ini “Seiring mereka belajar saling memercayai dan bersahabat, bersama-sama mereka mendapati bahwa kenangan dan luka hati-serta harimau tidak bisa dikurung selamanya.

**
Ada banyak bagian menarik dari buku ini. Salah satunya saya suka bagian ketika Rob merasakan kebahagiaan akan hadirnya seorang teman dalam hidupnya, sesuatu yang tak pernah berani diharapkannya lagi. Kate menuliskannya dengan sangat manis, seperti ini:

“….. Mereka berlari bersama, dan Rob merasakan jantungnya berdentam di dalam–. ……Rasanya jiwanya seolah mengembang dan mendorong semuanya naik di dalam tubuhnya. Anehnya, ia mengenali perasaan itu, namun ia tidak dapat mengingat apa nama perasaan tersebut. ……. Lalu Rob ingat nama perasaan yang mendorong ke atas dalam dirinya, memenuhi dirinya seperti akan meluap. Namanya kebahagiaan. Itulah namanya.”

Bagaimana Kate melukiskan ketegaran Rob yang sebenarnya rapuh itu juga sungguh mengharu biru perasaan. Bagaimana setiap kali Rob membisikkan kata “jangan menangis. jangan menangis” kepada dirinya itu sungguh indah sekaligus mengiris hati.

Pesan indah dari novel ini adalah:
Ketika kamu tersakiti, bayangkanlah sesuatu yang membuatmu bahagia. Entah menyanyi, menggambar, menulis, membaca atau apa saja yang bisa memberimu kekuatan. Jika kamu ingin menangis, menangis lah. Tapi, yakinlah bahwa dirimu berharga dan layak untuk dicintai.

Manis, lembut, dan indah adalah pujian yang pantas diberikan untuk karya-karya Kate.

Dwilogi Padang Bulan

Judul: Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal terbit: Juni – 2010

Di novel pertama, Padang Bulan, Andrea lebih banyak bercerita tentang Enong, si guru kesedihan serta bagaimana cinta membuat Ikal -tokoh cerita kita ini- bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.

Enong adalah gadis kecil dengan semangat belajar yang tinggi. Namun sayang, sebuah peristiwa di suatu siang membuat Enong menanggalkan mimpinya untuk terus sekolah. Ayah yang dicintai dan merupakan tulang punggung keluarga meninggal tertimbun tanah ketika sedang menambang timah. Sejak saat itu Enong beralih tugas menggantikan peran sang Ayah. Ia harus membantu Ibu dan adik-adiknya untuk menyambung hidup. Enong keluar dari sekolah dan mulai mencari pekerjaan. Namun, tentu saja tidak mudah bagi anak seusia Enong untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah beberapa kali tak berhasil mendapatkan pekerjaan, Enong mencoba menjadi penambang timah. Kelak, ia menjadi perempuan penambang timah pertama di desanya.

Ketika Enong merasa lelah bekerja, ia akan membuka Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata yang dibelikan ayahnya dahulu. Kamus itu selalu menemani Enong. Ia sering menandai kata yang sangat asing baginya, seperti: sacrifice, honesty, dan freedom. Enong sangat terpukau dengan kata-kata itu, terdengar hebat.

Andrea, si penulis, melukiskan ketiga kata itu dengan kalimat yang menarik.

“Arti yang mewakili jeritan hatinya. Ia siap berkorban untuk keluarganya, ia ingin menjadi orang yang jujur, dan ia ingin memerdekakan dirinya dari kesedihan.”

Kisah Enong adalah bagian yang mengharu biru sekaligus memancarkan semangat dan kekuatan yang luar biasa.

Dan, kegilaan cinta macam apa yang dilakukan si Ikal untuk merebut kembali A Ling?

Kekonyolan Ikal dalam upayanya merebut kembali A Ling adalah bagian yang akan membuat kita menertawakan diri sendiri. Sebab apa? Ya, kawan, cinta itu memang absurd, bukan? Sanggup membuat pelakunya melakukan ketidakwarasan dalam berpikir dan bertindak.

Ikal, yang mendapat kabar dari detektif M.Nur bahwa A Ling dijodohkan oleh keluarganya dengan Zinar, lelaki yang tampan dan pandai dalam bidang olahraga serta mempunyai rasa seni yang tinggi. Kecemburuan Ikal yang disertai oleh rasa tak ingin mengalah membuat ia melakukan hal-hal yang seringkali mempermalukan dirinya sendiri.

Kegilaan oleh sebab cinta itu pada akhirnya mereda. Itulah saat Ikal menyadari bahwa cinta Zinar dan A Ling tak dapat ia lawan. Namun di kemudian hari diketahui bahwa kabar tentang perjodohan A Ling dan Zinar itu adalah tidak benar. Ternyata, Zinar adalah sahabat pamannya. Dan jika selama ini A Ling tidak bisa menemani Ikal oleh karena ia sibuk membantu Zinar membuka toko dan mempersiapkan perkawinan sahabat pamannya itu.

Cerita Padang Bulan ditutup dengan kegembiraan, tidak saja karena Ikal mendapatkan A ling nya kembali tapi juga karena Ikal menyadari pertikaian antara ia dan ayahnya telah berakhir dengan damai.

Bagian yang saya suka dari buku pertama Dwilogi Padang Bulan ini adalah kisah Enong dengan ketiga kata ajaibnya. Dan, kutipan kalimat berikut ini:

“Sering aku disiksa oleh pertanyaan: mengapa A Ling bisa begitu? Apa salahku sehingga ia begitu? Apa yang ada di dalam kepala seorang perempuan? ……. Sungguh aku tak mengerti. Namun, perlukah aku mengerti? Kurasa tidak. Yang kuperlukan hanyalah menghormati keputusannya, dan karena Tuhan telah menciptakan manusia dengan hati dan pikiran yang boleh punya jalan masing-masing, penghormatan seharusnya tidak memerlukan pengertian“. Hal 237, Rukun Islam

Untuk semua pertanyaan yang menari di kepala, memang tidak ada yang perlu dimengerti. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghormati setiap keputusan yang diambil oleh orang lain, walaupun itu mungkin sangat menyakitkan.

Gajah Sang Penyihir

Judul: Gajah Sang Penyihir
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Peter adalah seorang anak yang tinggal di apartemen kecil dengan seorang teman ayahnya, seorang mantan tentara. Ayahnya meninggal dalam peperangan dan Ibunya menyusul sang ayah usai melahirkan adik Peter. Peter dipisahkan dengan si adik. Hari-hari sepi dilalui Peter. Hati kecil Peter meyakini bahwa sang adik masih hidup walaupun teman ayahnya berulangkali mengatakan bahwa adiknya meninggal dunia.

Suatu hari, Peter memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang peramal. Peramal hanya memberikan kata kunci: Gajah. Ya, gajah itu akan membawa Peter menemui kembali adiknya. Sejak saat itu dimulailah petualangan menarik Peter dalam pengembaraannya menjemput adik tersayangnya.

Buku ini sangat menarik, memberi pesan bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang meyakininya.

“Pernahkah kau, sejujurnya, melihat sesuatu yang begitu indah? Harus kita apakan dunia tempat bintang-bintang bersinar gemerlap di tengah kegelapan dan kemuraman yang begitu pekat ini?”

Pekat tidak selamanya gelap. Pendar-pendar cahaya itu tidak lindap, jika kita percaya.

Jawablah Aku

Judul asli: Rispondimi
Penulis: Susanna Tamaro
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Halaman: 219

Buku ini terdiri dari 3 kumpulan cerita yang terpisah tapi mempunyai dilema yang sama, cinta, kebencian, dendam, perjuangan untuk hidup dan Tuhan.

Kisah pertama bercerita seorang anak yatim piatu bernama Rosa. Ibu Rosa adalah seorang pelacur yang meninggal karena kecelakaan ketika sedang menjajakan dirinya di kelokan sebuah jalan. Rosa kecil kemudian tinggal bersama paman dan bibinya. Namun bukan kasih sayang yang ia peroleh melainkan kebencian dalam hidupnya.

“Apakah cinta itu benar-benar ada? Dan dalam bentuk apakah cinta menyatakan diri?”
“Sewaktu kanak-kanak aku percaya pada cinta, sama seperti aku percaya pada peri. Namun pada suatu hari aku mencari di celah-celah kayu dan di balik tudung-tudung jamur. Dan aku tidak menemukan peri atau makhluk-makhluk gaib, hanya lumut, jamur, tanah, dan serangga. Serangga itu bukannya berciuman, melainkan saling memangsa.”

Ketika usianya beranjak remaja Rosa meninggalkan paman dan bibinya. Ia mendapat kesempatan untuk menjadi pengasuh di sebuah keluarga muda. Di sana kehidupan Rosa berubah. Sejenak ia menemukan keluarga yang tepat. Sampai suatu ketika Rosa terlibat cinta dengan pria majikannya. Sayangnya, laki-laki ini ternyata hanya ingin memanfaatkan kepolosan Rosa. “Cinta berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang lain, tanpa berpikir untuk menyembunyikan apapun.” Dan dengan cinta itu pula Rosa akhirnya harus menanggung resiko yang lebih besar.

“Apakah seseorang mendampingi kita, ataukah kita hanya sendirian?
“Jawablah aku.”

Kisah kedua bercerita tentang seorang wanita yang tidak mampu menghadapi kekejaman suaminya sehingga menyebabkan ia kehilangan putra tercintanya. Cinta yang ia miliki pupus bersama kebencian yang terus menghinggapi dirinya dan berubah menjadi dendam.

Kisah ketiga bercerita tentang sebuah cinta yang posesif. Rasa takut kehilangan dapat membawa kita pada munculnya prasangka dan sifat jahat.

Jadi, apakah cinta itu?
Entah. Mungkin cinta bisa melukaimu, memberimu dendam dan kebencian. Tapi cinta juga memberimu kebahagiaan dan kebijaksanaan.

Kerutan dalam Waktu

Judul asli: A Wrinkle in Time
Penulis: Madeleine L’Engle
Penerbit: Atria
Hal: 267
Genre: Fiksi-sains

Meg adalah seorang gadis yang pintar. Namun di sekolahnya ia sering mendapat masalah. Adiknya, Charles adalah orang yang mengetahui kapan Meg merasa sedih. Kedua orang tua mereka adalah ilmuwan. Namun sudah lama ayah mereka pergi tak ada kabarnya. Mulanya selalu ada surat namun kemudian surat-surat itu lenyap tanpa berita. Menghilangnya ayah mereka menimbulkan desas-desus yang tak menyenangkan. Walau seperti Ibu bilang, Ayah pergi demi sebuah tugas rahasia.

Dan petualangan yang menakjubkan dimulai di suatu malam. Meg bersama adiknya, Charles dan teman sekolahnya Calvin melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu, bahkan memasuki dimensi kelima. Bersama mereka akan menyelamatkan Ayah sekaligus memerangi kejahatan yang sebenarnya.

Di sebuah planet, di kegelapan yang misterius, di sanalah Ayah Meg terperangkap dalam pilar yang beku dan dingin serta pekat. Sanggupkah anak-anak ini menyelamatkan Ayah mereka?

Kekuatan apakah yang dapat mengalahkan kejahatan dan kebencian? Cinta. Ya, itulah jawabnya. Cinta lah yang kemudian menyelamatkan Meg dan adiknya, Charles.

Membaca buku ini seperti menghadirkan bayangan-bayangan makhluk asing (alien) yang tinggal di sebuah planet. Apakah sebenarnya kita hidup sendiri? Apakah kita berevolusi sendirian di ruang angkasa yang hingar bingar ini? Benar-benar sendiri? Tak terjamah oleh makhluk lain di luar tata surya kita?

Seperti juga dituliskan dalam buku ini bahwa kehidupan kita di bumi ibarat sebuah soneta.

“Sebuah bentuk yang ketat, tapi ada kebebasan di dalamnya.”
“Kita diberi sebuah bentuk, tapi kita harus menuliskan soneta kita sendiri. Yang akan kau ungkapkan benar-benar terserah padamu sendiri.”

Kisah Despereaux

Judul Asli: The Tale of Despereaux
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ini cerita tentang seekor tikus kastil yang jatuh cinta pada seorang putri, Pea, namanya. Tikus kastil ini bernama Despereaux. Berbeda dengan tikus lainnya, Despereaux adalah seekor tikus yang tertarik pada musik, dan cerita yang ada dalam buku. Keganjilan yang ada padanya menyebabkan Despereaux kemudian dihukum dan dimasukkan ke dalam ruang tahanan bawah tanah. Kehidupan yang sepenuhnya gelap dan pekat. Serta menakutkan. Di sanalah tinggal bangsa pemangsa, para tikus got yang kejam dan licik. Mereka tak pernah mengenal kasih sayang. Mereka hanya tahu balas dendam dan kebencian. Tak sepercikpun cahaya mereka biarkan masuk. Seluruhnya kelabu. Tapi, ada satu tikus got yang berbeda. Ia lah Roscuro. Tikus got yang merindukan cahaya.

Dan ada seorang pelayan yang bernama Miggeri Sow. Perempuan yang sejak kecil belajar bahwa tak ada seorangpun yang peduli pada keinginannya. Namun Miggeri menyimpan satu harapan yang sederhana tapi mustahil.

Bersama Roscuro, Miggeri berkomplot. Masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Roscuro ingin membalas dendam dan sakit hatinya pada Putri Pea dan Miggeri dengan lamunannya, menggantikan kedudukan putri Pea sebagai putri raja.

Akankah misi kejahatan itu dapat digagalkan oleh cinta dari seekor tikus? Silakan baca bukunya 🙂

Yang menarik adalah pesan dari Kate, bahwa hidup tidak selamanya manis dan menyenangkan. Namun sepahit apapun kehidupan, selalu ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai itu ibarat cahaya, yang bersinar, membimbing dan menuntun kita agar lebih baik setiap harinya sambil tak lupa selalu bersyukur.

Perjalanan Ajaib Edward Tulane

Judul buku: The Miraculous Journey of Edward Tulane.
Penulis: Kate Dicamilo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ini kisah seekor kelinci porselen yang bernama Edward Tulane. Ia dimiliki oleh seorang anak perempuan bernama Abilene. Abilene sangat menyayangi Edward dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Sebaliknya, Edward tidak mempedulikan Abilene. Edward terlalu bangga pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah sepatutnya dilimpahi kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Dan, suatu hari ia menghilang.

Dunia yang sesungguhnya harus dihadapi oleh kelinci porselen ini. Edward terlempar dari genggaman seorang anak dalam perjalanan menggunakan kapal laut. Tubuhnya tenggelam ke dasar laut yang gelap dan pekat. Keyakinan bahwa Abilene akan menjemputnya perlahan memudar. Edward memikirkan bintang-bintang. Apakah bintang-bintang itu tetap bersinar walaupun ia kini tak lagi bisa melihatnya.

Dan suatu hari badai yang besar terjadi. Badai itu berulangkali menghempaskan tubuhnya, membawanya naik kemudian menurunkannya kembali, berulang-ulang. Di tengah keputusasaan sebuah jaring nelayan menyambar tubuhnya. Seorang nelayan kemudian membawa Edward pulang. Untuk beberapa lama hidup Edward nyaman bersama nelayan yang menyayanginya. Wanita tua, istri nelayan itu sering mengajaknya berbicara. Dan untuk pertama kali Edward menyadari bahwa ia bisa mendengarkan orang lain berbicara kepadanya. Sebelumnya, ia tak pernah mempedulikan jika Abilene bercerita. Di malam hari, jika cuaca cerah, pasangan itu akan mengajak Edward berjalan-jalan. Laki-laki nelayan itu akan memberitahu nama-nama rasi bintang. Edward sangat menyukainya. Sampai suatu ketika hidup Edward berubah ketika anak perempuan pasangan itu datang. Anak perempuan itu membenci kehadiran Edward. Dilemparnya Edward ke tempat sampah. Dan untuk beberapa lama hidup Edward berada di gundukan sampah.

Suatu hari seekor anjing mengendus keberadaan Edward dan membawa kepada majikannya, seorang gelandangan. Hari-hari dilalui Edward bersama gelandangan dan anjingnya. Edward mulai merasa menyayangi anjing itu. Mereka bersahabat. Sampai kemudian suatu hari seorang kondektur menangkap basah mereka di dalam gerbong kereta api. Edward tidak dapat berbuat apa-apa ketika melihat kondektur itu menendang sahabatnya. Hatinya menjerit dan marah, tapi ia tak berdaya. Tak lama, ia pun dilempar keluar oleh kondektur itu. Dari jauh didengarnya suara lolongan sedih sahabatnya.

Edward mendarat dengan tertelentang. Ditatapnya langit malam. Ia mengingat semua nama pemiliknya terdahulu, ketika tiba-tiba sesuatu jauh di dalam hatinya terasa sakit. Rasanya ia ingin sekali bisa menangis.

Bagaimana perjalanan Edward selanjutnya? Setelah menjadi teman bagi seorang anak perempuan yang sakit keras, kemanakah Edward pergi? Mampukah Edward membuka dirinya kembali untuk disayangi setelah kehilangan untuk kesekian kalinya?

Kate selalu mampu mengharu biru perasaan pembacanya. Melalui tokoh Edward, saya seperti diingatkan bahwa berbagai kekecewaan, kesedihan dan keputusasaan yang kita alami seringkali membuat kita lebih mampu memahami perasaan orang lain.

Mengutip sinopsis di buku tersebut “Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu-bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.”

Belajar Tiada Henti

Judul: Cacuk Sudarijanto, Belajar Tiada Henti
Penulis : Cacuk Sudarijanto bersama Bondan Winarno
Penerbit : Pustaka keluarga
Cetakan pertama : 2004
Tebal buku : xvi + 255 halaman

“Belajarlah sebanyak-banyaknya. Get all the education you can! Sesudah itu, lakukanlah sesuatu. Bagi bangsa Indonesia!” (Cacuk Sudarijanto)

Bagi Cacuk, hidup adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Buku ini berkisah tentang berbagai hal yang telah Beliau pelajari dari orang-orang dan lingkungan selama hidupnya.

Cacuk memulai karirnya di USI-IBM kemudian bergabung di Indosat sebelum akhirnya memimpin di PT. Telkom. Setelah berhenti dari PT. Telkom Cacuk dipercaya untuk menjabat sebagai direktur pelaksana Indonesia Emas, memimpn Bank Mega, menjadi dirjen UKM, dan menjadi kepala BPPN merangkap sebagai menteri muda urusan restrukturisasi perekonomian nasional.

Bagi Cacuk, yang paling berkesan adalah ketika ia menjabat sebagai direksi di PT. Telkom. Mantan petinggi dari perusahaan telekomunikasi, dahulu dikenal dengan nama Perumtel, ini memulai awal karirnya sebagai direktur utama di PT Telkom. Tidak seperti sekarang, saat itu para karyawannya tidak mempunyai kebangaan institusional pada diri mereka. Dengan 40 ribu karyawan dan jumlah sarjana hanya 2% membuat perusahaan itu dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, tidak saja citranya yang kumuh dalam artian fisik tetapi juga mental.

Cacuk melakukan banyak perubahan di perusahan besar yang sedang tertidur itu. Terobosan Cacuk membuahkan hasil. Perumtel bangkit dengan wajah baru, berubah bentuk menjadi PT. Dengan menjadi PT, Telkom menjadi badan usaha yang modern, profesional, dan customer driven. Sayang, tahun 1992 Cacuk diberhentikan dari PT. Telkom.

“Kegalauan yang paling menonjol dalam diri saya adalah pergumulan batin untuk
mencoba menemukan apa salah saya dan di mana letak kesalahan saya, sehingga
saya diberhentikan dari PT Telkom.”

Banyak yang telah dilakukan Cacuk selama menjadi pimpinan di PT. Telkom. Setelah berhenti dari PT. Telkom Cacuk masih sering diminta sebagai pembicara untuk menceritakan kiat suksesnya memimpin perusahaan milik pemerintah itu.

Apa yang saya pelajari dari buku ini? Semangat, kejujuran, dedikasi dan loyalitas. Cacuk meyakini bahwa ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya harus dikembalikan untuk membangun negeri ini. Seperti lagu kesukaan Beliau, Bagimu Negeri. Lagu ini kemudian sempat menjadi lagu wajib di PT. Telkom yang diperdengarkan pada saat-saat tertentu, seperti pagi dan sore hari.

Oya, karena saya sangat terinspirasi oleh Beliau, saya memberi tagline blog saya dengan “Belajar Tiada Henti” 🙂

Candide

Judul: Candide
Penulis: Voltaire
Penerbit: Liris Publishing

Candide adalah salah satu karya filsuf Perancis pada era pencerahan, dengan nama pena Voltaire. Nama aslinya adalah Francois Marie Arouet.

Sinopsis:
Candide adalah seorang laki-laki yang berwatak lembut, tabah dan berkemauan keras. Ia meyakini bahwa ia tinggal di dunia yang terbaik dari semua kemungkinan yang ada. Ia sangat mempercayai ajaran gurunya yang menyatakan “semua yang terjadi di dunia ini selalu yang terbaik.”

Candide menyukai Cunegonde, putri bangsawan seorang baroness. Suatu hari sang baroness melihat Candide mencium putri kesayangannya. Sang baroness marah dan ditendanglah Candide dari istana. Di luar istana ia menemui kenyataan yang bertolak belakang dengan ajaran gurunya. Ia menemui kejahatan, peperangan, bencana, musibah. Namun ia masih meyakini ajaran gurunya, bahwa semua diciptakan dalam bentuk yang terbaik.

Sampai suatu ketika ia bertemu gurunya, Panglos yang terlunta-lunta dan menderita sakit. Kemudian gurunya bercerita bahwa istana baroness dihancurkan musuh, nona cunegonde dikabarkan meninggal. Selanjutnya, guru dan murid ini kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan mereka. Sampai kemudian Panglos dihukum gantung.

Setelah menghadapi kenyataan-kenyataan pahit yang dilaluinya, Candide mulai menggugat ajaran gurunya. “Seandainya ini adalah dunia terbaik dari yang paling mungkin, lalu bagaimana dengan kemungkinan dunia yang lainnya?”

Voltaire di sini sebenarnya ingin menyindir filosofis optimisme yang memandang bahwa semua bencana, musibah, kejahatan yang dibuat oleh manusia sendiri dapat dianggap sebagai kehendak Tuhan.

Yang ditentang oleh Voltaire adalah sikap pasrah manusia. Alih-alih menyalahkan takdir karena banjir, misalnya, bukankah sebaiknya kita bergerak, melakukan sesuatu? Bukankah itu gunanya akal dan pikiran yang Tuhan berikan? Untuk kita berpikir dan tidak hanya berpangku tangan saja? Manusia tidak boleh menyerah pada nasibnya, ia harus berkarya untuk memperbaiki kehidupannya. Seperti dinyatakan dalam kutipan di bawah ini:

“Aku juga tahu,” Candide berkata,”bahwa kita harus menggali kebun kita.”
“Kau benar,” Pangloss berkata, “karena ketika manusia ditempatkan di taman Eden maka dia ditempatkan di sana ut operaretur eum-sehingga dia bisa bekerja: itulah bukti bahwa manusia dilahirkan bukan untuk menganggur.”
“Mari bekerja kalau begitu, dan jangan berdebat,” Martin berkata. “Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat hidup menjadi berguna.”

Voltaire kemudian menutup kisah Candide dengan sindiran halus menggelitik.
Setiap kali Panglaoss berkata seperti ini kepada Candide: “Tentu saja ada rangkaian peristiwa dalam dunia yang terbaik ini. Pertimbangkan saja: seandainya kau tidak ditendang keluar dari kastel indah karena mencintai Nona Cunegonde – seandainya kau tidak…… – seandainya kau…. ”

“Sungguh pengamatan yang luar biasa,” Candide berkata. “Tapi ayo kita mencangkuli kebun kita.”

Maysitoh

Judul: Maysitoh
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : Pustaka Jaya

Kisah Masyitoh adalah cerita yang terdapat dalam al-Hadist. Kisah seorang sahaya Fir’aun, yang bertugas menyisiri rambut putri sang Raja. Suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut tuan putri, tiba-tiba sisir terjatuh dari tangannya. Maysitoh terkejut dan langsung mengucapkan beberapa kalimat yang menyentak hati tuan putri. Singkat cerita, sang putri mengadukan percakapan yang telah terjadi antara dirinya dan Maysitoh kepada baginda raja Fir’aun. Fir’aun yang murka segera menimpakan hukuman kepada Maysitoh dan keluarganya, yaitu digodog dalam timah mendidih.

Dalam buku ini dilukiskan pengorbanan Maysitoh bukanlah pengorbanan sekedar mengharapkan surga dan takut masuk neraka. Pengorbanan Maysitoh dilandasi oleh keikhlasan untuk menegakkan hak Allah dan martabat manusia serta menjalani hidup dengan sebaiknya seperti yang diamanahkan oleh-Nya.