Category Archives: Non Fiksi

Teach Like Finland


Judul: Teach Like Finland
Penulis: Timothy D. Walker
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2017
Tebal: 197

Siapa yang tak kenal Finlandia? Negeri ini menjadi rujukan bagi sebuah sistim pendidikan terbaik di dunia. Pada tahun 2001 Finlandia mengejutkan dunia dengan pencapaian siswanya yang berhasil mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan pertama PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2001. Sejak itu banyak negara berkiblat kepada sistem pendidikan di negeri Nordik ini. Tak terkecuali Indonesia. Walau tentu saja jalan panjang masih harus ditempuh oleh bangsa yang budaya literasinya masih sangat rendah ini.

Nah, penasaran seperti apa sih sistem pendidikan di Finlandia? Buku ditulis oleh Timothy D. Walker, seorang guru berkebangsaan Amerika yang tinggal di Finlandia. Walker sebelumnya adalah guru Amerika. Berbekal pengalamannya menjadi guru di Amerika, ia menerapkan cara mengajar Amerika nya di awal tahun ia mengajar di Finlandia. Ternyata, Walker mengalami banyak kejutan yang tak ia bayangkan di sekolah Finlandia nya. Proses belajar dan interaksi Walker bersama guru dan murid-murid kecilnya (setingkat sekolah dasar) memberikan banyak pengalaman berharga, yang membuat ia mencatat rahasia-rahasia di balik kesuksesan sekolah-sekolah Finlandia. Tulisan dan artikel Walker mengenai rahasia-rahasia ini dan cara mengimplementasikan model pembelajaran sekolah-sekolah di Finlandia kemudian menuai tanggapan antusias dari para pembacanya di Atlantic.

Ada 33 strategi sederhana yang dapat dipraktikkan di ruang kelas. Umumnya strategi yang ada di buku ini memang diterapkan di usia sekolah dasar. Namun beberapa dapat juga diaplikasikan untuk siswa sekolah menengah dengan beberapa modifikasi dan perkembangan. Agar anak-anak tetap fokus misalnya, sekolah-sekolah Finlandia menerapkan istirahat berkali-kali yang bertujuan untuk menyegarkan otak mereka. Mengistirahatkan otak ini bisa dilakukan dengan beragam cara sederhana, yaitu Guru memberikan blok waktu pilihan dalam satu hari, yang di dalamnya ada berbagai alternatif istirahat yang dapat mereka pilih seperti membaca bebas selama 10 menit, menulis bebas, atau permainan matematika yang menyenangkan. Lainnya adalah belajar sambil bergerak. Alih-alih duduk manis maka anak-anak di sekolah Finlandia boleh menyelesaikan tugas sambil berdiri atau mengganti kursi konvensional dengan bola senam sehingga murid dapat belajar dan bergerak dalam waktu yang bersamaan. Tentu masih banyak strategi menarik lainnya. Silakan dibaca sendiri ya 🙂

Buku ini memuat strategi dan anjuran yang sangat mudah dipraktikkan dari sistem pendidikan kelas dunia, sangat tepat dibaca oleh para pengajar dan praktisi pendidikan.

Ulasan
Satu hal yang saya pelajari dari keseluruhan buku ini adalah adanya kolaborasi antara Guru, siswa, orang tua, dan masyarakat dari berbagai bidang keilmuan. Guru yang bagus tidak bisa bekerja sendiri tanpa peran serta keaktifan siswa-siswa mereka. Sebagai pengajar saya melihat ada banyak rekan-rekan Guru yang memiliki ide-ide menarik dan menyenangkan di dalam proses KBM mereka bersama siswa. Untuk membuat sebuah perubahan yang positif maka diperlukan kesungguhan dari Guru dan siswa untuk bersama-sama belajar dan mengubah diri menjadi lebih baik. Ketika berdialog bersama murid sering saya perhatikan siswa-siswa saya membanding-bandingkan sistim pendidikan di Indonesia dengan di luar, yang seperti ini, seperti itu, gurunya begini dan seterusnya. Biasanya saya akan diam dan mendengarkan, sebelum bagian saya berbicara :).

Singkatnya, mengadopsi sebuah sistem pendidikan dari suatu tempat tidak semudah seperti yang tertuang dalam banyak tulisan. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, budaya, kebiasaan, dan lain-lain. Berdasarkan hasil survei dari studi Most Littered Nation In the World 2016, minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara. Miris memang. Menurut saya pribadi sih, kurangnya minat baca ini lah yang harus diperbaiki dahulu, bukan hanya dari sekolah akan tetapi yang lebih utama dari rumah. Orang tua yang gemar membaca akan menularkan kegemarannya kepada anak. Anak yang gemar membaca sejak kecil biasanya juga mencintai ilmu pengetahuan. Sulitnya, tidak banyak orang tua di Indonesia yang suka membaca. Bagaimana bisa mengajak anak mencintai buku kalau orang tuanya sendiri tidak suka membaca? Nah, itu PR untuk kita semua jika ingin sistem pendidikan negeri ini menjadi baik.

Strawberry Generation


Judul: Strawberry Generation
Penulis: Prof. Rhenald kasali, Ph.D.
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 2017
Tebal: 279

Strawberry adalah buah mungil yang indah dan menawan. Namun begitu terkena sedikit benturan maka strawberry mudah terkoyak dan hancur. Begitulah gambaran generasi muda saat ini, mereka yang lahir dari tangan orang tua yang jauh lebih sejahtera dari generasi sebelumnya. Rhenald mengatakan, generasi ini adalah mereka yang dimanja oleh fasilitas dan pelayanan orangtua, dimana orangtua turut campur dalam berbagai hal. Oleh karenanya, anak-anak ini kemudian tumbuh menjadi generasi yang mudah menyerah, tidak berani menghadapi tantangan dan mudah sakit hati. Anak-anak seperti ini hidupnya galau bahkan untuk hal sepele. Orang-orang seperti ini memiliki cara berpikir yang digolongkan ke dalam kategori fixed mindset. Fixed mindset yaitu orang-orang yang walau tingkat kecerdasannya tinggi namun statis. Mereka ingin tampak hebat tetapi sebenarnya mudah menyerah dalam menghadapi tantangan baru. Mereka tidak memiliki upaya untuk belajar dan sangat peka terhadap kritik. Keberhasilan orang lain akan dilihat sebagai ancaman.

Berbeda dengan fixed mindset, growth mindset adalah kelompok orang-orang yang cepat beradaptasi ketika menerima hal-hal baru. Meski saat sekolah mereka tidak pintar namun kecerdasan mereka dapat dikembangkan dan dilatih karena mereka terbuka terhadap masukan dan kritik. Tantangan bagi mereka merupakan kesempatan bagus untuk membuat diri menjadi lebih unggul dan kegagalan adalah peluang untuk belajar. Mereka siap belajar hal-hal baru.

Yang perlu orangtua perhatikan adalah anak-anak yang berhasil menemukan potensinya bukanlah anak-anak yang IQ-nya atau IP nya tinggi melainkan anak-anak yang pikirannya terbuka atau tertutup, mengembang atau menguncup, demikian menurut Rhenald. Karena itu, tugas orangtua dan pendidik untuk merombak cara berpikir agar anak tumbuh.

Rhenald, penulis buku ini adalah seorang profesor di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Terinspirasi oleh kutipan bagus ini, “Those who do not travel read only one chapter (mereka yang tidak melakukan perjalanan, -alias cuma belajar di kelas dan mengurung diri- dapat diibaratkan hanya membaca satu bab), Rhenald kemudian mengirim mahasiswanya pergi ke luar negeri. Syaratnya, harus sendiri dan ke negara yang berbeda. Tanpa orangtua, saudara, kenalan, atau jemputan. Pokoknya pergi ke tempat yang jauh dan cari uang sendiri. Rhenald sendiri sempat diprotes oleh orangtua yang khawatir secara berlebihan terhadap anak-anak mereka. Menurut Rhenald rasa khawatir berlebihan ini lah yang merusak anak-anak kita yang sesungguhnya hebat. Didera khawatir anak-anak mereka akan menderita maka orangtua memberikan segala yang dibutuhkan anak-anak itu. Takut berlebihan orangtua ini yang bisa membuat anak-anak ‘lumpuh’ dan akhirnya bermental penumpang. Yang harus dilakukan orangtua adalah memberi ruang dan kepercayaan pada anak-anaknya. Biarkan anak mengalami kegagalan, atau barangkali tersasar ketika ia berada di negara asing. Karena melalui itu semua seseorang memperbaiki cara berpikirnya sekaligus mengembangkan potensi diri yang dimilikinya.

Ingat, kan, kalimat Columbus ketika ia ditertawakan oleh rekan-rekannya karena tersasar? Begini,
“Kalau tidak pernah berani tersasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru.”

Jadi, ringkasnya, kalau ingin anak hebat, maka orangtua harus berubah. Orangtua harus rela melepas anak-anaknya belajar dari alam. Ya, belajar itu berarti menghadapi realitas, bertemu dengan aneka kesulitan, mengambil keputusan, dan berhitung soal hidup, bukan matematika imajiner. Belajar itu bukan cuma memindahkan isi buku ke kertas, melainkan menguji kebenaran dan menghadapi aneka ketidakpastian. (halaman 63)

Memercayai kehebatan anak merupakan awal kehebatan itu sendiri. Nah, siapkah Anda orangtua berubah?
Melatih anak-anak berpikir dan mengambil keputusan sedari muda amatlah penting. Sepenting membangun pertahanan dan keamanan negara, kita butuh penerus yang cerdas dalam menghadapi kesulitan dan ketidakpastian. Sebab, itulah situasi yang dihadapi anak kita kelak pada abad ke-21 ini. (Hal 64)

Manusia yang hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai mata pelajaran tinggi, melainkan manusia yang memiliki karakter yang kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka, mau belajar dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik.

Tentang Penulis
Rhenald Kasali, Ph.D., Guru Besar FEUI, praktisi manajemen dan penulis serangkaian buku-buku perubahan dan manajemen. Saat buku ini ditulis, Rhenald Kasali tengah memimpin sebuah Social Enterprise: Rumah Perubahan dan komisaris pada bebrapa perusahaan. Ia mempunyai relasi yang kuat pada dunia usaha dan sektor pemerintah.

Setelah menyelesaikan program doktornya dari University of Illinois at Urbana & Champaign-USA, ia banyak terlibat dalam berbagai program dengan Harvard Busniness School dan Yale School of Management. Ia juga banyak diminta nasihatnya oleh dunia usaha untuk mendampingi proses transformasi dan melatih para top executive. Training center-nya di kawasan seluas 5 hektare di tengah-tengah perkampungan yang asri di Desa Jati Murni Bekasi- setiap hari ramai didatangi para eksekutif dan tokoh-tokoh perubahan. Di sana, Rhenald Kasali menebarkan gelombang perubahan.

Saat ini, bukunya yang berjudul Self Driving telah menginspirasi banyak orang. Disusul dengan buku-buku lainnya yang juga menjadi national bestseller, yaitu Reinventing, Change Leadership, dan Curse to Blessing.

Kudeta Mekkah


Judul: Kudeta Mekkah (Sejarah yang Tak Terkuak)
Penulis: Yaroslav Trofimov
Penerbit: Alvabet
Tahun terbit: 2017
Tebal: 336

20 November 1979, awal bulan Muharram 1400 H, saat musim haji telah berakhir namun Mekkah masih disesaki oleh banyaknya kaum muslimin yang tinggal untuk berdoa memohonkan ampunan atas segala dosa yang hanya dapat dicapai di tempat suci, Mekkah. Pada hari itu pula, umat muslim merayakan tahun baru islam. Sesuai tradisi, orang-orang Mekkah melakukan ziarah dari kampung mereka masing-masing ke Masjid al-Haram.

Sekitar 100.000 jamaah datang dari pelbagai penjuru dunia berbaur dengan penduduk lokal. Diantara lautan manusia itulah terdapat ratusan pemberontak yang dipimpin oleh Juhaiman al-Utaibi. Sekelompok orang itu adalah orang Arab Badui yang akan mengambil alih secara paksa tempat tersuci umat islam, Masjid al-Haram. Juhaiman, seorang pria dari kaum Muhajir-Sajir dan mantan kopral pasukan Garda Nasional Arab Saudi, menganggap kekuasaan Arab Saudi saat itu tidak sah dan melenceng dari nilai-nilai islam.

Di waktu luangnya, Juhaiman menghadiri banyak diskusi dan kuliah keagamaan. Juhaiman adalah salah satu murid terbaik dari Ibn Baz, seorang ulama yang beraliran wahhabi dan pendiri gerakan Dakwah Salafiyah al-Muhtasiba yang tersohor sampai ke seluruh penjuru Arab Saudi. Melalui serangkaian tulisannya, Juhaiman merangkum ide-idenya mengenai terbentuknya masyarakat islam yang ideal. Ia dengan tegas menulis bahwa pemerintahan raja Arab Saudi saat itu haram. Selain itu ia juga menyinggung bahwa akan muncul Imam Mahdi, sang juru selamat yang akan menyelamatkan kaum muslim. Buku kecil biru dan hijau setebal 170 halaman karya Juhaiman segera menyebar di kampus-kampus di Mekkah, Madinah, Iran, Irak, dan Mesir dengan cara diselundupkan. Sejak itu dukungan dan simpat mengalir. Pemikiran-pemikiran Juhaiman tumbuh subur terutama di kalangan muda. Banyak kaum muda kemudian bergabung dengan gerakan yang dibentuk Juhaiman.

Tumbuh dalam tradisi Wahhabi, Juhaiman dididik untuk mencari semua jawaban mengenai kejayaan Islam masa lalu. Oleh karena itu Juhaiman merenungkan langkah-langkah selanjutnya dari gerakannya. Ia kemudian menemukan jawabannya dari sekumpulan jilid besar kitab hadits yang sudah berdebu, yang menerangkan konsep yang kokoh bagi teologi Islam yang terlihat begitu benar dalam masa yang kacau seperti saat itu, Mahdi. Ide tentang Mahdi sendiri tidak disebut dalam Al-Quran, Tetapi Nabi Muhammad, menurut beberapa perawi, meramalkan bahwa Allah akan mengirimkan seorang juru selamat untuk memerintah dunia Islam dan mendirikan masyarakat Ideal, setelah terjadinya peperangan dengan kekuatan jahat.

Juhaiman dan para pengikutnya mulai menyiapkan langkah selanjutnya, yaitu melindungi Imam mahdi dan akan membaiatnya di tanah suci: dekat Ka’bah di Mekkah. Muhammad bin Abd Allah Al-Qahtani, adalah sosok yang diyakini oleh Juhaiman sebagai Imam Mahdi. Maka, disusunlah rencana pemberontakan yang menjadi babak suram bagi pemerintahan kerajaan Arab Saudi saat itu.

Peristiwa berdarah itu dimulai tepat setelah Imam Masjid al-Haram menutup doa dan menyambut pergantian tahun. Masjidil Haram dikuasai dalam waktu yang singkat oleh pengikut Juhaiman. Diiringi tembakan Juhaiman mengatakan bahwa Imam Mahdi telah datang dan sekarang menduduki Al-Haram sambil menunjuk saudara iparnya tersebut. Para pengikutnya kemudian menyebarkan buku Tujuh Risalah, kumpulan tulisan Juhaiman ke kerumunan jamaah yang disandera.

Perebutan itu berlangsung selama 2 minggu. Juhaiman berhasil ditangkap dan Muhammad Abdullah al-Qahtani tewas tertembak. Juhaiman dihukum pancung di Mekkah. Pemberontak lainnya dihukum pancung yang tersebar di delapan kota. Akibat kudeta ini, beberapa bagian Masjid al-Haram rusak parah meski tak merusaki Ka’bah secuil pun.

Ulasan:
Sejujurnya, saya baru tahu bahwa pernah terjadi kudeta di Mekkah. Barangkali juga, banyak kaum muslim lainnya yang seperti saya. Mereka mungkin pernah mendengar tetapi tak paham apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat itu. Dikutip dari sinosis buku, “Para pengamat politik dan sejarawan menganggap kejadian itu sebagai insiden lokal semata, dan karena itu tak bersangkut-paut dengan peristiwa internasional yang belakangan merebak: terorisme. Tetapi penulis buku ini, Yaroslav Trofimov, berpendapat sebaliknya. Menurutnya, peristiwa itu merupakan akar sejarah gerakan terorisme global, terutama yang dimotori Al-Qaeda.”

Pemerintah Arab Saudi barangkali telah membersihkan orang-orang yang terlibat di dalam gerakan Juhaiman namun mengabaikan ideologi yang berada dibelakangnya, dan membiarkan ajaran itu tumbuh subur dan menyebar.

Penulis:
Untuk menyibak detail peristiwa ini, Trofimov memburu sumber-sumber penting dan tepercaya, perpustakaan British, satu-satunya tempat di Eropa yang menyimpan pelbagai surat kabar Saudi tahun 1979, arsip Pemerintah AS dan Inggris yang berisi laporan rahasia dari para Diplomat dan mata-mata; serta CIA dan British Foreign Office.

Kesan:
Ini buku yang paling bikin nderedeg untuk dibikin review. Dan sukses membuat saya nekad sampai menjelang pagi menuntaskan membacanya sampai akhirnya nggak berani ke toilet sendiri malam itu. Buku bagus sekaligus seram.
Tetapi dibalik keseraman buku ini, ada satu pernyataan Juhaiman yang menyatakan penyesalannya, dinukil dari halaman 248, “Ketika Juhaiman dibawa pergi, salah satu perwira bertanya lagi kepadanya, mengapa dia memperlakukan tempat suci seperti itu. Kenyataan kekalahan mendalam mulai dirasakan, “Jika aku tahu akan berakhir dengan cara seperti ini, aku tidak akan melakukannya,” Juhaiman menjawab dengan nada mengeluh.”

Siap Menjadi StudentPreneur


Judul: Siap Menjadi StudentPreneur
Penulis: Rizal Fikri dan Ferrial Pondrafi
Penerbit: Metagraf
Tahun terbit: 2016
Tebal: 173

“Tak ada istilah terlalu muda untuk memulai bisnis”

Masih sekolah tapi ingin menjadi wirausaha, hm…bisa nggak ya?
Tentu saja bisa. Keriuhan media sosial di era digital tidak hanya membuat orang tahu banyak hal tetapi juga bisa membuka peluang bagi pelajar sepertimu untuk berbisnis. Nggak percaya? Coba perhatikan linimasa mu, adakah kawan atau remaja seusiamu yang mengiklankan bisnis mereka?

Menjadi wirausaha saat ini dapat dimulai sejak di bangku sekolah. Kemajuan teknologi dengan internetnya turut memberikan andil bagi anak muda untuk menggeluti bisnis. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh jika seseorang memulai bisnis pada waktu muda. Salah satunya, faktor risiko yang lebih kecil. Apa maksudnya?

Mengutip tulisan di buku, “Studnetpreneur adalah sebuah gambaran bagaimana masa-masa sekolah dapat diamnfaatkan untuk memulai suatu bisnis yang sangat menguntungkan. Memakai perumpamaan memancing, memulai bisnis di usia sekolah dapat menjadi landasan awal dalam berbisnis, seakan-akan telah melakukan start terlebih dahulu. Studentpreneur memulainya dari benar-benar membangun sebuah tangga, hingga apa yang harus dilakukan ketika sudah berada di puncak tangga.” (halaman Prakata)

Banyak yang mengatakan bahwa membangun bisnis itu susah-susah gampang. Fase membangun ini yang sangat berat. Banyak orang yang percaya diri untuk membangun usaha tetapi berat memulai. Biasanya dikarenakan banyak pertimbangan yang akhirnya membuat calon entrepreneur mengurungkan niatnya. Tanpa niat yang tulus, tekad yang kuat dan semangat pantang menyerah maka bisnis yang telah disiapkan dengan baik tidak akan terealisasikan. Kuncinya adalah keberanian untuk memulai membuka sebuah usaha.

Keberanian saja tidak cukup loh. Ketika akan membuka usaha kamu harus memperhatikan opportunity (kesempatan) dari pasar sasaranmu. Adakah pasar yang menerima produk atau bisnis yang kamu tawarkan. Untuk mengetahui hal ini kamu harus jeli terhadap kebutuhan orang lain. Selanjutnya, kreativitas. Nah, ini penting. Kreatif atau dalam bahasa inggris, creative berasal dari kata to create, yang artinya menciptakan. Jadi, bisa berarti menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada. Mencipta bisa berarti apa saja, mulai dari ide atau gagasan, produk, jasa, seni, tulisan, lagu, dan lain-lain. Itu sebabnya orang-orang yang menciptakan sesuatu sering dianggap sebagai orang yang kreatif.

Sebentar deh, …apakah artinya orang yang nggak kreatif nggak bisa jadi pengusaha?
Oh, nggak begitu. Menurut buku ini kreativitas itu adalah sesuatu yang pada dasarnya dapat dipelajari dan dilatih. Kalau begitu, bagaimana cara melecutkan kreativitas?

Hm, pertanyaan menarik. Bagaimana kalau membaca bukunya langsung? 🙂
Nggak rugi kok. Buku ini mengisahkan pengalaman para usahawan sukses yang memulai bisnisnya sejak usia sekolah. Kegagalan, keberhasilan, ataupun usaha dalam kondisi BEP (rugi nggak, untung juga nggak) pernah mereka rasakan. Juga rasa mendua antara mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang bejibun dengan menyiapkan orderan untuk pelanggan. Kuncinya adalah disiplin dan bertanggungjawab dengan kondisi yang dipilih.

Nah, untuk Anda, remaja, yang ingin menapaki jalan menjadi seorang wirausaha, buku ini patut dipertimbangkan untuk dibaca (jangan disimpan di bawah bantal aja ya.. hehe). Cerita dan langkah-langkah penting yang menjadikan mereka sukses dirangkum dalam kalimat-kalimat ringan dan sederhana untuk membangun sebuah tangga kesuksesan.

5W1H


Judul: 5W1H
Penulis: Yoris Sebastian
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal: 131

Ingin bikin bisinis, tapi masih bingung usaha apa? Jangan khawatir, buku ini akan membedah jurus-jurus memulai bisnis online. Tentunya kita harus bersyukur bahwa kita ada di era dimana peluang terbuka untuk siapa saja dan dimana saja.

Nah, apa saja yang harus dipersiapkan untuk mulai membangun sebuah bisnis? Yoris Sebastian merangkumnya dalam 4 huruf yang juga menjadi judul buku ini, yaitu 5W1H. Apa sih 5W1H itu?
1. Who am i?
Kenalilah dirimu. Mengenali diri sendiri itu ternyata perlu loh jika kamu ingin memulai bisnis pribadi. Banyak enterpreneur sukses karena mereka mengenali kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri. Perjalanan hidup setiap individu bisa dijadikan ide bisnis yang baru. Jeli dan peka terhadap talenta yang kamu miliki.
2. What am i offering?
Setelah mengenali diri sendiri lalu apa? Apakah cukup dengan mengetahui kesukaan diri sendiri maka bisnis dapat dimulai? Ide bisnis yang baik tidak dapat dijalankan hanya cukup dengan minat namun juga memiliki dasar-dasar yang kuat.
3. Why does it matter?
Tanyakan alasan mengapa produkmu perlu? Untuk mengetahui jawabannya kamu harus banyak membaca, browsing, bertanya kepada teman, mentor, dan jangan lupa dengarkan kata hati. Misalnya, kamu ingin membuat usaha kaos. Apa yang membedakan kaos mu dengan kaos lain? Apa pentingnya produk kaos yang kamu buat? Kisah anak SMA di sini mungkin bisa menjadi sumber inspirasi bisnis mu.
4. Whom are we talking to?
Kepada siapa pasar kita tujukan? Nah, ini bagian yang penting loh. Karena di sini kamu akan memilih pelanggan untuk awal bisnis mu. Jika pun produk yang kita buat nantinya ditujukan untuk semua kalangan, ada baiknya kamu menentukan pasar utamamu terlebih dahulu.
5. When is the right time?
Tidak ada yang waktu yang benar-benar tepat untuk menjalankan sebuah bisnis selain kamu harus memulainya. Adakalanya bisnis dimulai secara tidak sengaja atau bertepatan dengan situasi atau kondisi saat itu.
6. How to attract customer?
Bagian terakhir dari sebuah proses menjalankan bisnis adalah memasarkan. Bagaimana cara kamu mempromosikan bisnis mu agar dikenal dan diingat orang. Manfaatkanlah dunia digital untuk mempromosikan bisnismu. Berbagai layanan sosial media, blog, ataupun bergabung di market place dapat kamu coba untuk mengenalkan produkmu di masyarakat.

Itu tadi di atas adalah poin-poin untuk memulai sebuah bisnis yang saya rangkum dari buku 5W1H. Di dalam bukunya sendiri diberikan contoh dan pengalaman beberapa onlinepreneur kreatif di Indonesia disertai proses perjalanan bisnis mereka. Jika kamu tertarik menjadi seorang enterpreneur maka buku ini bisa menjadi rujukan. Ditulis dalam kalimat yang ringan dan mudah dicerna maka membaca buku ini tidak akan membuatmu bosan. Oya, ada juga halaman catatan pembaca untuk setiap tahapan proses memulai bisnis yang dapat kamu isi. Siapa tahu kelak halaman catatan yang kamu isi dan tulis itu sendiri bisa diwujudkan menjadi sebuah bisnis kelak :).

Time is More Valuable Than Money. Dampak Transportasi pada Hidup Kita.


Judul: Time is More Valuable Than Money
Penulis: Yoris Sebastian
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal: 145

Time is Money. Kalau kata penulisnya, time is more valuable than money.

Waktu adalah uang. Uang di sini menurut saya tidak diartikan uang dalam bentuk fisik semata. Di dalam masyarakat kita mengenal uang sebagai benda yang memiliki nilai. Maka, uang di sini merepresentasikan sesuatu yang berharga. Dengan demikian semboyan waktu adalah uang bertujuan mengingatkan manusia agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik, karena waktu yang hilang tidak akan pernah bisa kembali.

Nah, penulis di buku ini memberikan berbagai solusi bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di tengah keriuhan kehidupan modern dan perkembangan teknologi yang semakin maju. Teknologi yang berkembang pesat sejatinya dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi hidup manusia. Oleh karena itu gunakanlah teknologi semaksimal mungkin untuk membuat waktu kita berharga. Alih-alih menunggu taxi lewat, mengapa tidak menggunakan fitur aplikasi untuk memesan taxi. Dengan demikian sambil menunggu pesanan taxi kita datang, kita masih bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor pada hari itu.

Tidak hanya itu. Beberapa permasalahan transportasi terbukti dapat diminimalisir dengan keberadaan fasilitas app di ponsel. Dikutip dari buku, “Pertumbuhan pasar gadget di Indonesia adalah yang paling pesat di ASEAN dengan penjualan sebesar 1,2 juta unit smartphone pada 2009 dan diperkirakan meningkat hingga 18,7 juta unit pada 2015 alias menguasai 43% pasar ASEAN. (halaman 89).
Maka, peluang untuk menciptakan berbagai app di ponsel yang dapat membantu kehidupan orang banyak sungguh terbuka lebar di Indonesia ini. Pasar bagus buat para programmer :).

Kembali ke buku Time is more valuable than money, maka transportasi adalah faktor yang berperan penting di dalam mewujudkan peningkatan kualitas hidup manusia. Transportasi masa depan semustinya mampu memberikan alternatif kendaraan yang lebih cepat, lebih aman, lebih nyaman dan tentu saja terintegrasi dengan perkembangan teknologi digital. Dengan demikian maka moda transportasi yang nyaman dan bergerak lebih cepat tidak hanya dapat menghemat waktu melainkan juga memberikan kita kesempatan untuk memanfaatkan waktu melakukan aktivitas lainnya.

Bakat Bukan Takdir

IMG_20160329_214407
Judul: Bakat Bukan Takdir
Penulis: Bukik Setiawan & Andrie Firdaus
Penerbit: Buah Hati
Tahun terbit: 2016
Tebal: 250

Menuntaskan buku ini di tengah-tengah ‘paksaan’ istirahat di RS. Bahkan Ibu dokternya pun berkomentar, suka baca ya mbak?, begitu melihat sampul buku ini menyembul dari balik bantal ;).

Membaca tulisan di awal buku Pak Bukik ini mengingatkan saya kepada pertanyaan serupa yang pernah saya tanyakan kepada Ibu, apa perlunya saya belajar banyak hal? Jawaban Ibu saya sederhana saja, nggak pp kamu belajar banyak (pengetahuan), karena kamu akan menemukan kesukaanmu (minat). Dan dari sana kamu bisa mengembangkan potensi yang kamu miliki.

Saya kira Ibu saya benar :). Dan serupa dengan yang dituliskan Pak Bukik, ketika seorang anak bertanya apa perlunya mereka belajar banyak hal, pada titik itu lah peran orangtua menjadi sangat penting. Karena orangtualah yang dapat membantu anak merajut semua pengetahuan menjadi kearifan yang mengarah pada tujuan hidup anak. Karena orangtualah yang dapat memfasilitasi anak untuk menerapkan pengetahuan menjadi keterampilan dan kebiasaan hidup. (halaman 6).

Lalu, bagaimana cara orang tua atau pendidik mengarahkan putra-putri mereka untuk kelak dapat meniti karir sesuai minat dan bakat mereka? Nah, buku ini tidak sekedar berteori namun juga memberikan latihan praktis bagi orang tua untuk menyiapkan anak-anak mereka berkarier cemerlang di zaman kreatif.

Zaman kreatif? Yup, itu lah zaman yang akan dihadapi anak-anak kita. Zaman dimana teknologi berkembang pesat, semakin terbatasnya sumber daya namun semakin beragamnya pilihan. Jika zaman orang tua mereka profesi yang mungkin diminati adalah menjadi dokter, guru, atau pilot. Nah, di zaman kreatif akan muncul berbagai pilihan karir baru yang memberi peluang kepada bakat dan minat seorang anak. Semisal anak yang berbakat di bidang seni, dengan segala kemajuan teknologi maka potensi yang ia miliki mempunyai banyak wadah untuk ditumbuhkembangkan. Menukil kalimat di sampul belakang buku, “Kemampuan anak untuk berkreasi sesuai bakatnya akan semakin menentukan perannya di zaman kreatif.”

Apa sih bakat itu? Bukankah bakat adalah takdir? Kalau takdirnya nggak bisa nulis ya nggak bisa jadi penulis, begitu? 🙂
Nah, kalau Anda memiliki anggapan seperti itu, buku ini layak dibaca.

Buku Bakat Bukan Takdir menolak anggapan klasik yang menyatakan bahwa bakat adalah bawaan lahir. Bahwa bakat adalah takdir.

Bakat bukanlah potensi melainkan suatu tindakan nyata. Bakat bukan sekadar sesuatu yang dibawa sejak lahir, tapi pengembangan potensi anak hingga menjadi tindakan nyata atau suatu karya yang bermanfaat.
Kecerdasan aksara adalah potensi. Menulis buku adalah bakat. Menulis skenario film adalah bakat.
Kecerdasan sosial adalah potensi. Menjual barang adalah bakat. Meyakinkan orang adalah bakat. (halaman 21)

Jadi, bakat adalah hasil belajar yang berkelanjutan pada suatu bidang tertentu. Tanpa proses belajar, bakat tidak akan berkembang.

Hm, menarik, bukan? Saya sangat setuju sekali dengan kesimpulan di atas. Kenapa? Hehe, karena itu terjadi pada diri saya. Tanpa bimbingan dan kepercayaan orang tua terhadap saya, barangkali impian saya menerbitkan buku hanya sekedar di awang-awang :).

Oke, kembali ke topik semula. Apa itu kecerdasan aksara, kecerdasan sosial? Apa ada kecerdasan lainnya? Tentu, jangan khawatir, masih banyak. Dan setiap orang, percaya atau tidak, bisa memiliki banyak bakat loh, nggak hanya satu seperti yang diyakini orang selama ini. Seperti yang telah dipaparkan di atas, bakat adalah hasil belajar, maka pada dasarnya setiap orang bisa punya lebih dari satu bakat, tergantung kesesuaian potensi diri dan kesempatan di masyarakat.

Adalah seorang tokoh pendidikan bernama Howard Gardner, pencetus pemikiran mengenai kecerdasan majemuk. Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu produk yang bernilai dalam suatu budaya. Gardner membagi kecerdasan menjadi delapan bagian, yaitu: kecerdasan aksara (Bahasa), kecerdasan logika (Matematika), kecerdasan musik (Musikal), kecerdasan kinestetik (tubuh), kecerdasan alam (Naturalis), kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan interpesonal dan kecerdasan intrapersonal. Atau dalam buku ini masing-masing kecerdasan di atas diberikan penamaan sebagai berikut: Katanya (kecerdasan aksara), Anka (kecerdasan logika), Rada (kecerdasan musik), Geradi (kecerdasan kinestetik), Alata (kecerdasan alam), Akso (kecerdasan relasi atau interpersonal), Sivisi (kecerdasan visual dan spasial) serta Krevi (kecerdasan diri atau intrapersonal).

Gardner menyatakan bahwa setiap anak memiliki semua komponen kecerdasan. Yang mana yang dominan barangkali kembali kepada pemahaman di atas bahwa sekali lagi, bakat adalah proses belajar berkelanjutan.

Lalu, bagaimana menumbuhkan potensi ini? Sejak dahulu kita percaya bahwa pendidikan menanamkan adalah solusi terbaik untuk mencetak anak-anak yang cemerlang. Eh, begitu? 🙂
Pendidikan menanamkan bahkan dikritik oleh Bapak Pendidikan kita, KI Hajar Dewantara. Menurut Beliau, agar anak-anak dapat menghadapi tantangan di masa depan maka sebaiknya pendidikan menanamkan ditinggalkan dan beralih lah kepada pendidikan menumbuhkan.

Loh, apa itu pendidikan menanamkan dan apa pula menumbuhkan?
Bagi pendidikan menanamkan, anak diibaratkan kertas kosong. Maka orang dewasa merasa berhak memberi lukisan di atas kertas kosong tersebut. Anak menjadi objek dan orang dewasa sebagai subjek. Berbeda dengan pendidikan menumbuhkan. Pendidikan menumbuhkan percaya bahwa anak bukanlah kertas kosong. Mereka memiliki pikirannya sendiri. Anak pun dapat bertanggungjawab terhadap dirinya. Bagaimana? Pertanyaan yang bagus nih.. hehe, karena sebaiknya Anda membaca dan menuntaskan buku ini serta mengikuti berbagai latihan yang diberikan di dalam buku. Ada juga latihan yang bisa dikerjakan bersama putra-putri Anda.

Siap untuk menjadi pendidik yang menumbuhkan? Pasti bisa. Zaman berubah maka bekali agar anak kita tidak hanya sekadar bisa memperoleh pekerjaan dan penghasilan tetapi juga bisa merasakan kepuasan dari gaya hidup sebuah profesi yang elegan. Profesi yang mereka cintai sehingga bisa memberikan kebermanfaatan bagi diri dan sesama. Tidak hanya karir yang cemerlang tetapi yang terpenting bekali mereka agar menjadi manusia yang mandiri dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Untuk Pak Bukik, terima kasih untuk bukunya yang menarik. Saya suka bacanya 🙂

Fenomenologi Wanita Ber-high heels

6315196_B
Judul: Fenomenologi Wanita Ber-high heels
Penulis: Ika Noorharini
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
Tahun terbit: 2015
Tebal: 112

Wanita dan high heels adalah dua kata yang nyaris tak terpisahkan. Sepatu hak tinggi yang kehadirannya begitu biasa di masyarakat ternyata memiliki latar belakang sejarah yang menarik. Hai, tahukah Anda, ternyata pelopor sepatu high heels adalah kaum pria loh 🙂

Walaupun saya sendiri bukan penyuka high heels, tetapi membaca buku karangan Ika memperluas wawasan saya tentang sepatu favorit kaum hawa ini. Bermula dari kecintaannya terhadap sepatu tumit tinggi, Ika membuka rasa ingin tahunya mengenai beragam pandangan wanita mengenai high heels. Buku ini adalah adaptasi dari hasil tesis pascasarjananya. Namun demikian jangan membayangkan bahwa buku ini sarat dengan hasil penelitian yang kaku dan formal, sebaliknya Ika menggambarkan dengan apik dan gamblang mengenai hubungan erat wanita dengan high heels. Disertai kisah menarik dan unik dari pengalaman para pecinta high heels, dijamin Anda tidak bosan membacanya.

Review
Tak perlu diperdebatkan bahwa wanita selalu ingin tampil cantik. High heels adalah salah satu elemen cantik wanita. Sepatu tumit tinggi yang memiliki bentuk ramping dan desain menarik ini mampu memukau perhatian para wanita. High heels mampu memberikan rasa percaya diri kepada pemakainya. Tidak hanya menaikkan kepercayaan diri, namun high heels memiliki keberagaman makna tersendiri bagi pemakainya.

Uniknya, keberadaan sepatu hak tinggi ini ternyata dipelopori oleh kaum adam. Tepatnya, pasukan berkuda dari Shah Abbas I, raja Persia. Penggunaan high heels masa itu selain untuk menguatkan penampilan fisik juga memiliki makna simbolik untuk menunjukkan superioritas dan kelas yang lebih tinggi. Ternyata pengaruh ketampanan ini menulari kaum bangsawan Eropa barat (saat itu, raja Persia memiliki pasukan berkuda terbesar di dunia dan tengah berupaya memperbesar wilayah kekuasaan mereka di Eropa). Sementara itu sebagian besar Eropa saat itu dikuasai oleh kerajaan Ottoman (Turki). Karenanya, raja Shah mencoba membangun hubungan diplomasi dengan Eropa Barat untuk memperkuat pasukan dan mengalahkan kerajaan Ottoman. Hubungan diplomatik ini secara perlahan memberikan pengaruh estetika bagi para kaum bangsawan Eropa Barat yang kemudian mengadopsi high heels.

High heels kemudian mengalami perubahan dan pengembangan. Siapapun bisa mengenakan sepatu dengan hak tinggi. High heels umumnya banyak dikenakan oleh pekerja kantoran. Sepatu yang awalnya berfungsi sebagai pelindung kaki menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih dalam, yaitu media komunikasi, sebagai interaksi si pemakai kepada dunia luar, untuk mengungkapkan apa yang ada di hati dan pemikiran penggunanya. Mengutip tulisan di buku,

“Ada motif, makna, status diri dan perilaku di dalamnya.”

Pada akhirnya, menurut Ika, dikutip dari halaman 100.

“high heels bukanlah sekedar makna dan benda konkret karena wanita mendapatkan kepercayaan diri yang dapat membius siapapun di sekitarnya. Mungkin saja terbangun sifat superior, walaupun yang paling utama adalah bagaimana meningkatkan kualitas interaksi dengan siapapun melalui keindahan fisik dan mental. Keragaman makna high heels bagi wanita membentuk konsep diri masing-masing yang berbeda secara diametral. Artinya, tidak semua wanita terpengaruh dengan pemaknaan fashion sebagai citra diri dalam pergaulan masyarakat.”

Untuk Ika, terima kasih untuk bukunya yang mencerahkan 🙂

The Innovators

The-Innovator-depan
Judul: The Innovators
Penulis: Walter Isaacson
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2015
Tebal: 450

Internet awalnya dibuat untuk memfasilitasi kolaborasi (kerja tim) sementara PC terutama yang ditujukan untuk penggunaan di rumah dirancang guna mengakomodasi kreativitas individual. Perkembangan kemajuan di bidang jaringan komputer dan PC baru bersinggungan pada akhir 80-an, berkat munculnya modem, penyedia jasa internet dan World Wide Web. Perkawinan antara komputer dan jaringan terdistribusi Internet mencetuskan Revolusi Digital, sehingga siapapun kini dapat menciptakan, menyebarluaskan, dan mengakses informasi darimana saja. (hal xx)

Perkembangan digital saat ini telah memungkinkan orang biasa untuk lebih mudah menciptakan dan berbagi konten.

Nah, siapa sajakah para inovator yang telah menghantarkan kita kepada era digital yang nyaman ini?

Berawal dari ambisi Babbage untuk menciptakan mesin yang dapat menjalankan beragam operasi berdasarkan instruksi pemrograman, dimana alat itu dapat mengerjakan satu tugas lalu beralih mengerjakan tugas lainnya. Meminjam istilah Babbage, mesin yang dapat mengubah ‘pola kegiatannya’. Keinginan Babbage untuk membuat mesin yang ia beri nama dengan mesin analitis ini didorong oleh minat masa kecilnya pada mesin-mesin yang bisa merampungkan pekerjaan manusia.

Ide Babbage untuk mesin analitis impiannya itu terlalu maju untuk zamannya, sehingga ia tidak berhasil menarik perhatian media massa atau pun jurnal ilmiah saat itu. Namun demikian seorang wanita penyuka matematika dan teknologi, Ada Lovelace memercayai mesin impian Babbage. Ia satu-satunya orang yang bisa melihat keindahan dan kegunaan yang menakjubkan dari mesin tersebut.

Bagi Ada, mesin tersebut tidak hanya mampu untuk menghitung angka dan menjalankan operasi matematika (seperti keinginan Babbage) namun juga berpotensi untuk memproses notasi simbol apapun, termasuk notasi musik dan artistik.

Terinspirasi penggunaan aljabar dalam logika formal yang diajarkan oleh tutornya de Morgan, Ada menegaskan bahwa pada prinsipnya Mesin Analitis bisa menyimpan, memanipulasi, memproses dan menindaklanjuti apapun yang dapat diekspresikan sebagai simbol, entah itu kata, logika, musik, ataupun yang lain-lain.

Pemahaman di atas merupakan konsep inti yang menggerakkan abad digital: konten, data, atau informasi apa saja-musik, teks, gambar, bilangan, simbol, suara, video-dapat dieskpresikan dalam format digital dan dimanipulasi oleh mesin.

Ide kartu berlubang yang ada di mesin tenun jacquard dan dipinjam oleh Babbage untuk mesin analitis rekaannya itu nantinya disempurnakan oleh Herman Hollerith sehingga pas untuk dimanfaatkan dalam komputer.

Mesin Hollerith dan Babbage berkarakter digital. Gagasan mesin analog kemudian muncul oleh karya kakak beradik Lord Kelvin dan James Thomson pada tahun 1870-an. Alat ini mampu melakukan perhitungan kalkulus namun gagal memecahkan persamaan dengan banyak variabel. Kesulitan ini akhirnya terjawab pada 1931 oleh Profesor Teknik dari MIT, Vannevar Bush. Beliau berhasil membuat komputer analog elektromekanis pertama di dunia. Mesin itu diberi nama Differential Analyzer. Mesin ini nantinya bayak digunakan untuk mendidik dan mengilhami para pionir komputer generasi selanjutnya. Namun demikian mesin ini tidak mengambil peran penting dalam sejarah komputer karena karakter analognya. Sebaliknya, Differential Analyzer menjadi cikal bakal berakhirnya mesin analog.

Namun demikian, berbagai pendekatan, teknologi, dan teori anyar bermunculan pada tahun 1937, tepat seratus tahun Babbage kali pertama menerbitkan makalahnya mengenai mesin analitis. Lompatan matematika terjadi pada tahun ini yang salah satunya menghasilkan konsep formal mengenai komputer universal. Dan konsep ini digagas oleh matematikawan brilian asal Inggris, Alan Turing yang terkenal dengan mesin Komputasi Logis atau mesin Turing.

Disusul oleh berbagai penemuan dan tokoh pelopor komputer lainnya, Claude Shannon penemu teori informasi sampai Bill Gates, Steve Jobs yang tak asing lagi dan diakhiri oleh komputer buatan IBM, Watson yang memenangi kuis jeopardy di tahun 2011.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tentu tidak berhenti sampai di sini, akan lahir banyak para penerus yang melanjutkan mimpi-mimpi dari para generasi sebelumnya.

Ulasan
Buku ini berkisah tentang kemajuan serempak internet dan PC. Merunut keterkaitan antara perkembangan internet dan komputer. Inilah kisah mengenai para inovator era digital, mereka yang telah berjasa melahirkan revolusi digital.

Ada sebuah kesamaan yang dimiliki para pelopor komputer itu, yaitu mencari cara agar perhitungan matematika (yang itu-itu saja) dapat dikerjakan secara lebih praktis dan cepat.

Kolaborasi antargenerasi ini lah yang melahirkan era digital. Ide yang diwariskan dari satu jajaran inovator ke jajaran berikutnya melahirkan revolusi digital yang luar biasa menakjubkan.

Bekerjasama, kolaborasi adalah nilai-nilai keterampilan hidup yang harus dilatih dan dikembangkan. Kisah salah satu tokoh yaitu John Atanasof membuktikan bahwa amat sukar untuk menjadi penemu yang bekerja sendiri. Kesendirian Atanasof menjadi titik kelemahnnya, karena di sekelilingnya tidak ada orang yang mampu memberikan masukan atau membantu memecahkan tantangan teoretis ataupun teknis.

Yang perlu diingat, kreativitas adalah proses kolaboratif. Kreativitas tidak muncul sendiri. Maka seorang inovator yang baik adalah mereka yang memahami alur perubahan teknologi dan meneruskan tongkat perjuangan inovator terdahulu.

Zero to One


Judul: Zero to One
Penulis: Peter Thiel
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2014
Tebal: 238

Zero to One berbicara tentang bagaimana membangun perusahaan-perusahaan yang menciptakan hal-hal baru.

Meniru adalah hal paling mudah dibandingkan menciptakan sesuatu yang baru. Ketika Anda mengerjakan sesuatu yang sudah diketahui caranya sama dengan membawa dunia dari 1 ke n, hanya menambahkan sesuatu ke hal yang sudah ada dan sudah biasa. Sebaliknya menciptakan sesuatu yang baru membawa Anda berangkat dari 0 ke 1, atau from zero to one.

Maka, seorang inovator tidak akan meniru pendahulunya. Menurut Thiel, penerus Bill Gates tidak akan membuat sistim operasi. Demikian juga penerus Mark Zuckerberg tidak akan menciptakan jejaring sosial. Seorang inovator akan menghasilkan karya inovasi yang baru dan unik.

Meniru hal-hal yang sudah berhasil diistilahkan dengan kemajuan horisontal (atau ekstensif). Kemajuan seperti ini lebih mudah diramalkan. Sebaliknya, mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakan orang lain akan lebih sulit dibayangkan, ini lah yang disebut dengan kemajuan vertikal atau intensif. Di tingkat makro, kata untuk menggambarkan kemajuan horisontal adalah globalisasi. Sementara kata untuk menggambarkan kemajuan vertikal adalah teknologi.

Ingat, teknologi adalah cara membuat sesuatu supaya lebih baik dan mudah :).

Untuk menciptakan dunia yang lebih makmur dan sejahtera di abad ke 21 ini maka Thiel berpendapat bahwa perkembangan teknologi memiliki peran yang sangat besar, berbalikan dengan keyakinan banyak orang yang mengira masa depan dunia ditentukan oleh globalisasi. Sebagai contoh, Tiongkok. Tiongkok selama ini meniru segala sesuatu yang telah berhasil di negara-negara maju seperti penyejuk udara, dan lainnya. Jika Tiongkok menggandakan produksi energinya selama dua dasawarsa mendatang, negara itu juga akan menggandakan pencemaran udaranya. Akibatnya bencana lingkungan yang masif. Di sebuah dunia dengan sumber daya yang sudah langka maka globalisasi tanpa teknologi tidak akan berkelanjutan.

Teknologi baru memang tidak datang secara tiba-tiba, namun melalui eksperimen-eksperimen baru-dari usaha-usaha rintisan atau startup. Sejarah telah membuktikan bahwa kelompok-kelompok kecil yang bergabung karena merasa mempunyai misi telah mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Sama dengan prinsip usaha startup.

Sebuah startup adalah kelompok paling besar tempat Anda dapat meyakinkan orang-orang akan sebuah rencana untuk membangun masa depan yang berbeda. Kekuatan terpenting usaha rintisan ini adalah pola pikir baru. Prinsip usaha startup mengharuskan Anda bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai sesuatu, tetapi juga harus cukup kecil sehingga Anda dapat mengerjakannya.

Buku ini akan memberikan latihan berpikir terutama bagi Anda yang ingin berhasil dalam usaha membuat hal baru. Selaras dengan yang harus dikerjakan oleh sebuah usaha startup yaitu mempertanyakan gagasan-gagasan yang muncul dan memikirkan kembali sesuatu dari nol.

Jadi, jangan menjadi pengekor tetapi jadilah pelopor 🙂