Category Archives: Non Fiksi

Siap Menjadi StudentPreneur


Judul: Siap Menjadi StudentPreneur
Penulis: Rizal Fikri dan Ferrial Pondrafi
Penerbit: Metagraf
Tahun terbit: 2016
Tebal: 173

“Tak ada istilah terlalu muda untuk memulai bisnis”

Masih sekolah tapi ingin menjadi wirausaha, hm…bisa nggak ya?
Tentu saja bisa. Keriuhan media sosial di era digital tidak hanya membuat orang tahu banyak hal tetapi juga bisa membuka peluang bagi pelajar sepertimu untuk berbisnis. Nggak percaya? Coba perhatikan linimasa mu, adakah kawan atau remaja seusiamu yang mengiklankan bisnis mereka?

Menjadi wirausaha saat ini dapat dimulai sejak di bangku sekolah. Kemajuan teknologi dengan internetnya turut memberikan andil bagi anak muda untuk menggeluti bisnis. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh jika seseorang memulai bisnis pada waktu muda. Salah satunya, faktor risiko yang lebih kecil. Apa maksudnya?

Mengutip tulisan di buku, “Studnetpreneur adalah sebuah gambaran bagaimana masa-masa sekolah dapat diamnfaatkan untuk memulai suatu bisnis yang sangat menguntungkan. Memakai perumpamaan memancing, memulai bisnis di usia sekolah dapat menjadi landasan awal dalam berbisnis, seakan-akan telah melakukan start terlebih dahulu. Studentpreneur memulainya dari benar-benar membangun sebuah tangga, hingga apa yang harus dilakukan ketika sudah berada di puncak tangga.” (halaman Prakata)

Banyak yang mengatakan bahwa membangun bisnis itu susah-susah gampang. Fase membangun ini yang sangat berat. Banyak orang yang percaya diri untuk membangun usaha tetapi berat memulai. Biasanya dikarenakan banyak pertimbangan yang akhirnya membuat calon entrepreneur mengurungkan niatnya. Tanpa niat yang tulus, tekad yang kuat dan semangat pantang menyerah maka bisnis yang telah disiapkan dengan baik tidak akan terealisasikan. Kuncinya adalah keberanian untuk memulai membuka sebuah usaha.

Keberanian saja tidak cukup loh. Ketika akan membuka usaha kamu harus memperhatikan opportunity (kesempatan) dari pasar sasaranmu. Adakah pasar yang menerima produk atau bisnis yang kamu tawarkan. Untuk mengetahui hal ini kamu harus jeli terhadap kebutuhan orang lain. Selanjutnya, kreativitas. Nah, ini penting. Kreatif atau dalam bahasa inggris, creative berasal dari kata to create, yang artinya menciptakan. Jadi, bisa berarti menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada. Mencipta bisa berarti apa saja, mulai dari ide atau gagasan, produk, jasa, seni, tulisan, lagu, dan lain-lain. Itu sebabnya orang-orang yang menciptakan sesuatu sering dianggap sebagai orang yang kreatif.

Sebentar deh, …apakah artinya orang yang nggak kreatif nggak bisa jadi pengusaha?
Oh, nggak begitu. Menurut buku ini kreativitas itu adalah sesuatu yang pada dasarnya dapat dipelajari dan dilatih. Kalau begitu, bagaimana cara melecutkan kreativitas?

Hm, pertanyaan menarik. Bagaimana kalau membaca bukunya langsung? ๐Ÿ™‚
Nggak rugi kok. Buku ini mengisahkan pengalaman para usahawan sukses yang memulai bisnisnya sejak usia sekolah. Kegagalan, keberhasilan, ataupun usaha dalam kondisi BEP (rugi nggak, untung juga nggak) pernah mereka rasakan. Juga rasa mendua antara mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang bejibun dengan menyiapkan orderan untuk pelanggan. Kuncinya adalah disiplin dan bertanggungjawab dengan kondisi yang dipilih.

Nah, untuk Anda, remaja, yang ingin menapaki jalan menjadi seorang wirausaha, buku ini patut dipertimbangkan untuk dibaca (jangan disimpan di bawah bantal aja ya.. hehe). Cerita dan langkah-langkah penting yang menjadikan mereka sukses dirangkum dalam kalimat-kalimat ringan dan sederhana untuk membangun sebuah tangga kesuksesan.

5W1H


Judul: 5W1H
Penulis: Yoris Sebastian
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal: 131

Ingin bikin bisinis, tapi masih bingung usaha apa? Jangan khawatir, buku ini akan membedah jurus-jurus memulai bisnis online. Tentunya kita harus bersyukur bahwa kita ada di era dimana peluang terbuka untuk siapa saja dan dimana saja.

Nah, apa saja yang harus dipersiapkan untuk mulai membangun sebuah bisnis? Yoris Sebastian merangkumnya dalam 4 huruf yang juga menjadi judul buku ini, yaitu 5W1H. Apa sih 5W1H itu?
1. Who am i?
Kenalilah dirimu. Mengenali diri sendiri itu ternyata perlu loh jika kamu ingin memulai bisnis pribadi. Banyak enterpreneur sukses karena mereka mengenali kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri. Perjalanan hidup setiap individu bisa dijadikan ide bisnis yang baru. Jeli dan peka terhadap talenta yang kamu miliki.
2. What am i offering?
Setelah mengenali diri sendiri lalu apa? Apakah cukup dengan mengetahui kesukaan diri sendiri maka bisnis dapat dimulai? Ide bisnis yang baik tidak dapat dijalankan hanya cukup dengan minat namun juga memiliki dasar-dasar yang kuat.
3. Why does it matter?
Tanyakan alasan mengapa produkmu perlu? Untuk mengetahui jawabannya kamu harus banyak membaca, browsing, bertanya kepada teman, mentor, dan jangan lupa dengarkan kata hati. Misalnya, kamu ingin membuat usaha kaos. Apa yang membedakan kaos mu dengan kaos lain? Apa pentingnya produk kaos yang kamu buat? Kisah anak SMA di sini mungkin bisa menjadi sumber inspirasi bisnis mu.
4. Whom are we talking to?
Kepada siapa pasar kita tujukan? Nah, ini bagian yang penting loh. Karena di sini kamu akan memilih pelanggan untuk awal bisnis mu. Jika pun produk yang kita buat nantinya ditujukan untuk semua kalangan, ada baiknya kamu menentukan pasar utamamu terlebih dahulu.
5. When is the right time?
Tidak ada yang waktu yang benar-benar tepat untuk menjalankan sebuah bisnis selain kamu harus memulainya. Adakalanya bisnis dimulai secara tidak sengaja atau bertepatan dengan situasi atau kondisi saat itu.
6. How to attract customer?
Bagian terakhir dari sebuah proses menjalankan bisnis adalah memasarkan. Bagaimana cara kamu mempromosikan bisnis mu agar dikenal dan diingat orang. Manfaatkanlah dunia digital untuk mempromosikan bisnismu. Berbagai layanan sosial media, blog, ataupun bergabung di market place dapat kamu coba untuk mengenalkan produkmu di masyarakat.

Itu tadi di atas adalah poin-poin untuk memulai sebuah bisnis yang saya rangkum dari buku 5W1H. Di dalam bukunya sendiri diberikan contoh dan pengalaman beberapa onlinepreneur kreatif di Indonesia disertai proses perjalanan bisnis mereka. Jika kamu tertarik menjadi seorang enterpreneur maka buku ini bisa menjadi rujukan. Ditulis dalam kalimat yang ringan dan mudah dicerna maka membaca buku ini tidak akan membuatmu bosan. Oya, ada juga halaman catatan pembaca untuk setiap tahapan proses memulai bisnis yang dapat kamu isi. Siapa tahu kelak halaman catatan yang kamu isi dan tulis itu sendiri bisa diwujudkan menjadi sebuah bisnis kelak :).

Time is More Valuable Than Money. Dampak Transportasi pada Hidup Kita.


Judul: Time is More Valuable Than Money
Penulis: Yoris Sebastian
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal: 145

Time is Money. Kalau kata penulisnya, time is more valuable than money.

Waktu adalah uang. Uang di sini menurut saya tidak diartikan uang dalam bentuk fisik semata. Di dalam masyarakat kita mengenal uang sebagai benda yang memiliki nilai. Maka, uang di sini merepresentasikan sesuatu yang berharga. Dengan demikian semboyan waktu adalah uang bertujuan mengingatkan manusia agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik, karena waktu yang hilang tidak akan pernah bisa kembali.

Nah, penulis di buku ini memberikan berbagai solusi bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di tengah keriuhan kehidupan modern dan perkembangan teknologi yang semakin maju. Teknologi yang berkembang pesat sejatinya dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi hidup manusia. Oleh karena itu gunakanlah teknologi semaksimal mungkin untuk membuat waktu kita berharga. Alih-alih menunggu taxi lewat, mengapa tidak menggunakan fitur aplikasi untuk memesan taxi. Dengan demikian sambil menunggu pesanan taxi kita datang, kita masih bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor pada hari itu.

Tidak hanya itu. Beberapa permasalahan transportasi terbukti dapat diminimalisir dengan keberadaan fasilitas app di ponsel. Dikutip dari buku, “Pertumbuhan pasar gadget di Indonesia adalah yang paling pesat di ASEAN dengan penjualan sebesar 1,2 juta unit smartphone pada 2009 dan diperkirakan meningkat hingga 18,7 juta unit pada 2015 alias menguasai 43% pasar ASEAN. (halaman 89).
Maka, peluang untuk menciptakan berbagai app di ponsel yang dapat membantu kehidupan orang banyak sungguh terbuka lebar di Indonesia ini. Pasar bagus buat para programmer :).

Kembali ke buku Time is more valuable than money, maka transportasi adalah faktor yang berperan penting di dalam mewujudkan peningkatan kualitas hidup manusia. Transportasi masa depan semustinya mampu memberikan alternatif kendaraan yang lebih cepat, lebih aman, lebih nyaman dan tentu saja terintegrasi dengan perkembangan teknologi digital. Dengan demikian maka moda transportasi yang nyaman dan bergerak lebih cepat tidak hanya dapat menghemat waktu melainkan juga memberikan kita kesempatan untuk memanfaatkan waktu melakukan aktivitas lainnya.

Bakat Bukan Takdir

IMG_20160329_214407
Judul: Bakat Bukan Takdir
Penulis: Bukik Setiawan & Andrie Firdaus
Penerbit: Buah Hati
Tahun terbit: 2016
Tebal: 250

Menuntaskan buku ini di tengah-tengah ‘paksaan’ istirahat di RS. Bahkan Ibu dokternya pun berkomentar, suka baca ya mbak?, begitu melihat sampul buku ini menyembul dari balik bantal ;).

Membaca tulisan di awal buku Pak Bukik ini mengingatkan saya kepada pertanyaan serupa yang pernah saya tanyakan kepada Ibu, apa perlunya saya belajar banyak hal? Jawaban Ibu saya sederhana saja, nggak pp kamu belajar banyak (pengetahuan), karena kamu akan menemukan kesukaanmu (minat). Dan dari sana kamu bisa mengembangkan potensi yang kamu miliki.

Saya kira Ibu saya benar :). Dan serupa dengan yang dituliskan Pak Bukik, ketika seorang anak bertanya apa perlunya mereka belajar banyak hal, pada titik itu lah peran orangtua menjadi sangat penting. Karena orangtualah yang dapat membantu anak merajut semua pengetahuan menjadi kearifan yang mengarah pada tujuan hidup anak. Karena orangtualah yang dapat memfasilitasi anak untuk menerapkan pengetahuan menjadi keterampilan dan kebiasaan hidup. (halaman 6).

Lalu, bagaimana cara orang tua atau pendidik mengarahkan putra-putri mereka untuk kelak dapat meniti karir sesuai minat dan bakat mereka? Nah, buku ini tidak sekedar berteori namun juga memberikan latihan praktis bagi orang tua untuk menyiapkan anak-anak mereka berkarier cemerlang di zaman kreatif.

Zaman kreatif? Yup, itu lah zaman yang akan dihadapi anak-anak kita. Zaman dimana teknologi berkembang pesat, semakin terbatasnya sumber daya namun semakin beragamnya pilihan. Jika zaman orang tua mereka profesi yang mungkin diminati adalah menjadi dokter, guru, atau pilot. Nah, di zaman kreatif akan muncul berbagai pilihan karir baru yang memberi peluang kepada bakat dan minat seorang anak. Semisal anak yang berbakat di bidang seni, dengan segala kemajuan teknologi maka potensi yang ia miliki mempunyai banyak wadah untuk ditumbuhkembangkan. Menukil kalimat di sampul belakang buku, “Kemampuan anak untuk berkreasi sesuai bakatnya akan semakin menentukan perannya di zaman kreatif.”

Apa sih bakat itu? Bukankah bakat adalah takdir? Kalau takdirnya nggak bisa nulis ya nggak bisa jadi penulis, begitu? ๐Ÿ™‚
Nah, kalau Anda memiliki anggapan seperti itu, buku ini layak dibaca.

Buku Bakat Bukan Takdir menolak anggapan klasik yang menyatakan bahwa bakat adalah bawaan lahir. Bahwa bakat adalah takdir.

Bakat bukanlah potensi melainkan suatu tindakan nyata. Bakat bukan sekadar sesuatu yang dibawa sejak lahir, tapi pengembangan potensi anak hingga menjadi tindakan nyata atau suatu karya yang bermanfaat.
Kecerdasan aksara adalah potensi. Menulis buku adalah bakat. Menulis skenario film adalah bakat.
Kecerdasan sosial adalah potensi. Menjual barang adalah bakat. Meyakinkan orang adalah bakat. (halaman 21)

Jadi, bakat adalah hasil belajar yang berkelanjutan pada suatu bidang tertentu. Tanpa proses belajar, bakat tidak akan berkembang.

Hm, menarik, bukan? Saya sangat setuju sekali dengan kesimpulan di atas. Kenapa? Hehe, karena itu terjadi pada diri saya. Tanpa bimbingan dan kepercayaan orang tua terhadap saya, barangkali impian saya menerbitkan buku hanya sekedar di awang-awang :).

Oke, kembali ke topik semula. Apa itu kecerdasan aksara, kecerdasan sosial? Apa ada kecerdasan lainnya? Tentu, jangan khawatir, masih banyak. Dan setiap orang, percaya atau tidak, bisa memiliki banyak bakat loh, nggak hanya satu seperti yang diyakini orang selama ini. Seperti yang telah dipaparkan di atas, bakat adalah hasil belajar, maka pada dasarnya setiap orang bisa punya lebih dari satu bakat, tergantung kesesuaian potensi diri dan kesempatan di masyarakat.

Adalah seorang tokoh pendidikan bernama Howard Gardner, pencetus pemikiran mengenai kecerdasan majemuk. Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu produk yang bernilai dalam suatu budaya. Gardner membagi kecerdasan menjadi delapan bagian, yaitu: kecerdasan aksara (Bahasa), kecerdasan logika (Matematika), kecerdasan musik (Musikal), kecerdasan kinestetik (tubuh), kecerdasan alam (Naturalis), kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan interpesonal dan kecerdasan intrapersonal. Atau dalam buku ini masing-masing kecerdasan di atas diberikan penamaan sebagai berikut: Katanya (kecerdasan aksara), Anka (kecerdasan logika), Rada (kecerdasan musik), Geradi (kecerdasan kinestetik), Alata (kecerdasan alam), Akso (kecerdasan relasi atau interpersonal), Sivisi (kecerdasan visual dan spasial) serta Krevi (kecerdasan diri atau intrapersonal).

Gardner menyatakan bahwa setiap anak memiliki semua komponen kecerdasan. Yang mana yang dominan barangkali kembali kepada pemahaman di atas bahwa sekali lagi, bakat adalah proses belajar berkelanjutan.

Lalu, bagaimana menumbuhkan potensi ini? Sejak dahulu kita percaya bahwa pendidikan menanamkan adalah solusi terbaik untuk mencetak anak-anak yang cemerlang. Eh, begitu? ๐Ÿ™‚
Pendidikan menanamkan bahkan dikritik oleh Bapak Pendidikan kita, KI Hajar Dewantara. Menurut Beliau, agar anak-anak dapat menghadapi tantangan di masa depan maka sebaiknya pendidikan menanamkan ditinggalkan dan beralih lah kepada pendidikan menumbuhkan.

Loh, apa itu pendidikan menanamkan dan apa pula menumbuhkan?
Bagi pendidikan menanamkan, anak diibaratkan kertas kosong. Maka orang dewasa merasa berhak memberi lukisan di atas kertas kosong tersebut. Anak menjadi objek dan orang dewasa sebagai subjek. Berbeda dengan pendidikan menumbuhkan. Pendidikan menumbuhkan percaya bahwa anak bukanlah kertas kosong. Mereka memiliki pikirannya sendiri. Anak pun dapat bertanggungjawab terhadap dirinya. Bagaimana? Pertanyaan yang bagus nih.. hehe, karena sebaiknya Anda membaca dan menuntaskan buku ini serta mengikuti berbagai latihan yang diberikan di dalam buku. Ada juga latihan yang bisa dikerjakan bersama putra-putri Anda.

Siap untuk menjadi pendidik yang menumbuhkan? Pasti bisa. Zaman berubah maka bekali agar anak kita tidak hanya sekadar bisa memperoleh pekerjaan dan penghasilan tetapi juga bisa merasakan kepuasan dari gaya hidup sebuah profesi yang elegan. Profesi yang mereka cintai sehingga bisa memberikan kebermanfaatan bagi diri dan sesama. Tidak hanya karir yang cemerlang tetapi yang terpenting bekali mereka agar menjadi manusia yang mandiri dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Untuk Pak Bukik, terima kasih untuk bukunya yang menarik. Saya suka bacanya ๐Ÿ™‚

Fenomenologi Wanita Ber-high heels

6315196_B
Judul: Fenomenologi Wanita Ber-high heels
Penulis: Ika Noorharini
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
Tahun terbit: 2015
Tebal: 112

Wanita dan high heels adalah dua kata yang nyaris tak terpisahkan. Sepatu hak tinggi yang kehadirannya begitu biasa di masyarakat ternyata memiliki latar belakang sejarah yang menarik. Hai, tahukah Anda, ternyata pelopor sepatu high heels adalah kaum pria loh ๐Ÿ™‚

Walaupun saya sendiri bukan penyuka high heels, tetapi membaca buku karangan Ika memperluas wawasan saya tentang sepatu favorit kaum hawa ini. Bermula dari kecintaannya terhadap sepatu tumit tinggi, Ika membuka rasa ingin tahunya mengenai beragam pandangan wanita mengenai high heels. Buku ini adalah adaptasi dari hasil tesis pascasarjananya. Namun demikian jangan membayangkan bahwa buku ini sarat dengan hasil penelitian yang kaku dan formal, sebaliknya Ika menggambarkan dengan apik dan gamblang mengenai hubungan erat wanita dengan high heels. Disertai kisah menarik dan unik dari pengalaman para pecinta high heels, dijamin Anda tidak bosan membacanya.

Review
Tak perlu diperdebatkan bahwa wanita selalu ingin tampil cantik. High heels adalah salah satu elemen cantik wanita. Sepatu tumit tinggi yang memiliki bentuk ramping dan desain menarik ini mampu memukau perhatian para wanita. High heels mampu memberikan rasa percaya diri kepada pemakainya. Tidak hanya menaikkan kepercayaan diri, namun high heels memiliki keberagaman makna tersendiri bagi pemakainya.

Uniknya, keberadaan sepatu hak tinggi ini ternyata dipelopori oleh kaum adam. Tepatnya, pasukan berkuda dari Shah Abbas I, raja Persia. Penggunaan high heels masa itu selain untuk menguatkan penampilan fisik juga memiliki makna simbolik untuk menunjukkan superioritas dan kelas yang lebih tinggi. Ternyata pengaruh ketampanan ini menulari kaum bangsawan Eropa barat (saat itu, raja Persia memiliki pasukan berkuda terbesar di dunia dan tengah berupaya memperbesar wilayah kekuasaan mereka di Eropa). Sementara itu sebagian besar Eropa saat itu dikuasai oleh kerajaan Ottoman (Turki). Karenanya, raja Shah mencoba membangun hubungan diplomasi dengan Eropa Barat untuk memperkuat pasukan dan mengalahkan kerajaan Ottoman. Hubungan diplomatik ini secara perlahan memberikan pengaruh estetika bagi para kaum bangsawan Eropa Barat yang kemudian mengadopsi high heels.

High heels kemudian mengalami perubahan dan pengembangan. Siapapun bisa mengenakan sepatu dengan hak tinggi. High heels umumnya banyak dikenakan oleh pekerja kantoran. Sepatu yang awalnya berfungsi sebagai pelindung kaki menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih dalam, yaitu media komunikasi, sebagai interaksi si pemakai kepada dunia luar, untuk mengungkapkan apa yang ada di hati dan pemikiran penggunanya. Mengutip tulisan di buku,

“Ada motif, makna, status diri dan perilaku di dalamnya.”

Pada akhirnya, menurut Ika, dikutip dari halaman 100.

“high heels bukanlah sekedar makna dan benda konkret karena wanita mendapatkan kepercayaan diri yang dapat membius siapapun di sekitarnya. Mungkin saja terbangun sifat superior, walaupun yang paling utama adalah bagaimana meningkatkan kualitas interaksi dengan siapapun melalui keindahan fisik dan mental. Keragaman makna high heels bagi wanita membentuk konsep diri masing-masing yang berbeda secara diametral. Artinya, tidak semua wanita terpengaruh dengan pemaknaan fashion sebagai citra diri dalam pergaulan masyarakat.”

Untuk Ika, terima kasih untuk bukunya yang mencerahkan ๐Ÿ™‚

The Innovators

The-Innovator-depan
Judul: The Innovators
Penulis: Walter Isaacson
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2015
Tebal: 450

Internet awalnya dibuat untuk memfasilitasi kolaborasi (kerja tim) sementara PC terutama yang ditujukan untuk penggunaan di rumah dirancang guna mengakomodasi kreativitas individual. Perkembangan kemajuan di bidang jaringan komputer dan PC baru bersinggungan pada akhir 80-an, berkat munculnya modem, penyedia jasa internet dan World Wide Web. Perkawinan antara komputer dan jaringan terdistribusi Internet mencetuskan Revolusi Digital, sehingga siapapun kini dapat menciptakan, menyebarluaskan, dan mengakses informasi darimana saja. (hal xx)

Perkembangan digital saat ini telah memungkinkan orang biasa untuk lebih mudah menciptakan dan berbagi konten.

Nah, siapa sajakah para inovator yang telah menghantarkan kita kepada era digital yang nyaman ini?

Berawal dari ambisi Babbage untuk menciptakan mesin yang dapat menjalankan beragam operasi berdasarkan instruksi pemrograman, dimana alat itu dapat mengerjakan satu tugas lalu beralih mengerjakan tugas lainnya. Meminjam istilah Babbage, mesin yang dapat mengubah ‘pola kegiatannya’. Keinginan Babbage untuk membuat mesin yang ia beri nama dengan mesin analitis ini didorong oleh minat masa kecilnya pada mesin-mesin yang bisa merampungkan pekerjaan manusia.

Ide Babbage untuk mesin analitis impiannya itu terlalu maju untuk zamannya, sehingga ia tidak berhasil menarik perhatian media massa atau pun jurnal ilmiah saat itu. Namun demikian seorang wanita penyuka matematika dan teknologi, Ada Lovelace memercayai mesin impian Babbage. Ia satu-satunya orang yang bisa melihat keindahan dan kegunaan yang menakjubkan dari mesin tersebut.

Bagi Ada, mesin tersebut tidak hanya mampu untuk menghitung angka dan menjalankan operasi matematika (seperti keinginan Babbage) namun juga berpotensi untuk memproses notasi simbol apapun, termasuk notasi musik dan artistik.

Terinspirasi penggunaan aljabar dalam logika formal yang diajarkan oleh tutornya de Morgan, Ada menegaskan bahwa pada prinsipnya Mesin Analitis bisa menyimpan, memanipulasi, memproses dan menindaklanjuti apapun yang dapat diekspresikan sebagai simbol, entah itu kata, logika, musik, ataupun yang lain-lain.

Pemahaman di atas merupakan konsep inti yang menggerakkan abad digital: konten, data, atau informasi apa saja-musik, teks, gambar, bilangan, simbol, suara, video-dapat dieskpresikan dalam format digital dan dimanipulasi oleh mesin.

Ide kartu berlubang yang ada di mesin tenun jacquard dan dipinjam oleh Babbage untuk mesin analitis rekaannya itu nantinya disempurnakan oleh Herman Hollerith sehingga pas untuk dimanfaatkan dalam komputer.

Mesin Hollerith dan Babbage berkarakter digital. Gagasan mesin analog kemudian muncul oleh karya kakak beradik Lord Kelvin dan James Thomson pada tahun 1870-an. Alat ini mampu melakukan perhitungan kalkulus namun gagal memecahkan persamaan dengan banyak variabel. Kesulitan ini akhirnya terjawab pada 1931 oleh Profesor Teknik dari MIT, Vannevar Bush. Beliau berhasil membuat komputer analog elektromekanis pertama di dunia. Mesin itu diberi nama Differential Analyzer. Mesin ini nantinya bayak digunakan untuk mendidik dan mengilhami para pionir komputer generasi selanjutnya. Namun demikian mesin ini tidak mengambil peran penting dalam sejarah komputer karena karakter analognya. Sebaliknya, Differential Analyzer menjadi cikal bakal berakhirnya mesin analog.

Namun demikian, berbagai pendekatan, teknologi, dan teori anyar bermunculan pada tahun 1937, tepat seratus tahun Babbage kali pertama menerbitkan makalahnya mengenai mesin analitis. Lompatan matematika terjadi pada tahun ini yang salah satunya menghasilkan konsep formal mengenai komputer universal. Dan konsep ini digagas oleh matematikawan brilian asal Inggris, Alan Turing yang terkenal dengan mesin Komputasi Logis atau mesin Turing.

Disusul oleh berbagai penemuan dan tokoh pelopor komputer lainnya, Claude Shannon penemu teori informasi sampai Bill Gates, Steve Jobs yang tak asing lagi dan diakhiri oleh komputer buatan IBM, Watson yang memenangi kuis jeopardy di tahun 2011.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tentu tidak berhenti sampai di sini, akan lahir banyak para penerus yang melanjutkan mimpi-mimpi dari para generasi sebelumnya.

Ulasan
Buku ini berkisah tentang kemajuan serempak internet dan PC. Merunut keterkaitan antara perkembangan internet dan komputer. Inilah kisah mengenai para inovator era digital, mereka yang telah berjasa melahirkan revolusi digital.

Ada sebuah kesamaan yang dimiliki para pelopor komputer itu, yaitu mencari cara agar perhitungan matematika (yang itu-itu saja) dapat dikerjakan secara lebih praktis dan cepat.

Kolaborasi antargenerasi ini lah yang melahirkan era digital. Ide yang diwariskan dari satu jajaran inovator ke jajaran berikutnya melahirkan revolusi digital yang luar biasa menakjubkan.

Bekerjasama, kolaborasi adalah nilai-nilai keterampilan hidup yang harus dilatih dan dikembangkan. Kisah salah satu tokoh yaitu John Atanasof membuktikan bahwa amat sukar untuk menjadi penemu yang bekerja sendiri. Kesendirian Atanasof menjadi titik kelemahnnya, karena di sekelilingnya tidak ada orang yang mampu memberikan masukan atau membantu memecahkan tantangan teoretis ataupun teknis.

Yang perlu diingat, kreativitas adalah proses kolaboratif. Kreativitas tidak muncul sendiri. Maka seorang inovator yang baik adalah mereka yang memahami alur perubahan teknologi dan meneruskan tongkat perjuangan inovator terdahulu.

Zero to One


Judul: Zero to One
Penulis: Peter Thiel
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2014
Tebal: 238

Zero to One berbicara tentang bagaimana membangun perusahaan-perusahaan yang menciptakan hal-hal baru.

Meniru adalah hal paling mudah dibandingkan menciptakan sesuatu yang baru. Ketika Anda mengerjakan sesuatu yang sudah diketahui caranya sama dengan membawa dunia dari 1 ke n, hanya menambahkan sesuatu ke hal yang sudah ada dan sudah biasa. Sebaliknya menciptakan sesuatu yang baru membawa Anda berangkat dari 0 ke 1, atau from zero to one.

Maka, seorang inovator tidak akan meniru pendahulunya. Menurut Thiel, penerus Bill Gates tidak akan membuat sistim operasi. Demikian juga penerus Mark Zuckerberg tidak akan menciptakan jejaring sosial. Seorang inovator akan menghasilkan karya inovasi yang baru dan unik.

Meniru hal-hal yang sudah berhasil diistilahkan dengan kemajuan horisontal (atau ekstensif). Kemajuan seperti ini lebih mudah diramalkan. Sebaliknya, mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakan orang lain akan lebih sulit dibayangkan, ini lah yang disebut dengan kemajuan vertikal atau intensif. Di tingkat makro, kata untuk menggambarkan kemajuan horisontal adalah globalisasi. Sementara kata untuk menggambarkan kemajuan vertikal adalah teknologi.

Ingat, teknologi adalah cara membuat sesuatu supaya lebih baik dan mudah :).

Untuk menciptakan dunia yang lebih makmur dan sejahtera di abad ke 21 ini maka Thiel berpendapat bahwa perkembangan teknologi memiliki peran yang sangat besar, berbalikan dengan keyakinan banyak orang yang mengira masa depan dunia ditentukan oleh globalisasi. Sebagai contoh, Tiongkok. Tiongkok selama ini meniru segala sesuatu yang telah berhasil di negara-negara maju seperti penyejuk udara, dan lainnya. Jika Tiongkok menggandakan produksi energinya selama dua dasawarsa mendatang, negara itu juga akan menggandakan pencemaran udaranya. Akibatnya bencana lingkungan yang masif. Di sebuah dunia dengan sumber daya yang sudah langka maka globalisasi tanpa teknologi tidak akan berkelanjutan.

Teknologi baru memang tidak datang secara tiba-tiba, namun melalui eksperimen-eksperimen baru-dari usaha-usaha rintisan atau startup. Sejarah telah membuktikan bahwa kelompok-kelompok kecil yang bergabung karena merasa mempunyai misi telah mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Sama dengan prinsip usaha startup.

Sebuah startup adalah kelompok paling besar tempat Anda dapat meyakinkan orang-orang akan sebuah rencana untuk membangun masa depan yang berbeda. Kekuatan terpenting usaha rintisan ini adalah pola pikir baru. Prinsip usaha startup mengharuskan Anda bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai sesuatu, tetapi juga harus cukup kecil sehingga Anda dapat mengerjakannya.

Buku ini akan memberikan latihan berpikir terutama bagi Anda yang ingin berhasil dalam usaha membuat hal baru. Selaras dengan yang harus dikerjakan oleh sebuah usaha startup yaitu mempertanyakan gagasan-gagasan yang muncul dan memikirkan kembali sesuatu dari nol.

Jadi, jangan menjadi pengekor tetapi jadilah pelopor ๐Ÿ™‚

Show Your Work

B2sUGDeCcAAZwMc
Judul: Show Your Work
Penulis: Austin Kleon
Penerjemah: Rini NB
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2014
Tebal: 215

Ingin diperhatikan? Atau ingin dipromosikan? Kleon punya nasihat yang bagus untuk ini, jangan sibuk membicarakan promosi diri. Sebaliknya, “Berkaryalah sebagus mungkin supaya tidak diabaikan.”

“Bila kamu berfokus pada kualitas, orang akan datang kepadamu.” Bagaimana caranya agar mereka menemukanmu? Berbagi lah.

Buku ini untuk kamu yang tidak suka mempromosikan diri. Austin memberikan alternatif cara promosi yang lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Berbagi adalah kunci untuk memperkenalkan karyamu kepada banyak orang. Dengan demikian kamu pun mudah ditemukan dan berfokus menjadi ahli di bidangmu.

Alih-alih pelit dengan ilmu yang kamu miliki, bermurah hati membagi ide dan pengetahuan akan membukakan jalan kepada peluang dan kesempatan yang bahkan tidak kamu bayangkan. Berbagilah proses kreatifmu dengan banyak orang. Yang kamu perlukan hanya menunjukkan karyamu.

Nah, ingin tahu cara alternatif promosi dari mr. Austin? Mari kita simak beberapa tips Beliau di bawah ini.
1. Tidak perlu menjadi genius?
He? Serius? Iya, ini era digital, bukan? Dengan internet maka siapapun saling terhubung. Blog, media sosial, grup e-mail, ruang diskusi, forum, semuanya menjadi tempat virtual yang bisa didatangi orang untuk membicarakan hal-hal yang mereka anggap penting. Di dunia maya, semua orang mampu menyumbangkan sesuatu tanpa mengenal status, kekayaan, atau pun gelar.
“Berikan yang kamu punya. Bagi seseorang, bisa jadi itu berguna baginya melebihi dugaanmu.” – Henry Wadsworth (halaman 9, Show Your Work).

Untuk berani berbagi, kamu harus berani menjadi amatir. Seorang amatir bersedia mencoba apa saja dan berbagi hasilnya. Seorang amatir tahu bahwa menyumbangkan sesuatu lebih baik daripada tidak sama sekali. Yang membedakan adalah berkarya atau tidak berkarya. Kalaupun hasil karyamu belum termasuk bagus, selalu ada kesempatan untuk berlatih. Menjadi amatir adalah menjadi pembelajar seumur hidup. Dan itu menyenangkan, menurut saya ๐Ÿ™‚
Selain menjadi amatir, kamu harus menemukan dan menggunakan suaramu sendiri. Maksudnya? Bicarakan hal yang kamu suka dan suaramu akan datang sendiri. Jika ingin karyamu dianggap ada maka kamu harus berbagi. Internet memberi kamu banyak kesempatan untuk menemukan dan menggunakan suaramu. Berikutnya, baca obituarium. Kata Kleon, membaca tentang orang-orang yang sudah tiada dan berbuat banyak dalam hidup akan membuat kita bangkit dan mengukir hidup sendiri dengan baik. Ambil inspirasi dari orang-orang yang berjuang dalam hidup-mereka semua mulai sebagai amatir, mencapai tujuan dengan mengolah apa yang dimiliki, lalu memberanikan diri menunjukkannya pada dunia. Teladani mereka. (halaman 25)

2. Pikirkan proses bukan hasil.
Kebanyakan kita sudah memahami bahwa proses lebih bernilai dibandingkan hasil. Dengan berbagi poses harian maka kita pun menjalin keakraban dengan penikmat karya kita. Berbagi proses sebuah karya membuka kemungkinan bagi orang-orang untuk terus terhubung dengan kita dan karya kita sehingga membantu promosi produk lebih jauh. (hal 38). Selanjutnya, arsipkan semua yang telah kamu kerjakan. Potongan arsip adalah juga bagian proses kreatif yang dapat kamu kumpulkan untuk kemudian kamu tunjukkan.

3. Berbagilah hal kecil setiap hari.

Nah, di atas itu 3 tips dari Kleon. Masih banyak tips lainnya yang menarik dari Beliau, kamu bisa membaca bukunya untuk mengetahui nasihat lainnya dari Kleon.

Jadi, sesibuk apapun dirimu, jangan mengunci diri dan menimbun karya untuk diri sendiri. Berbagilah, tunjukkan karyamu kepada orang lain. Perhatikanlah, akan ada orang-orang yang memberi perhatian lebih kepada karyamu.

Dan mengutip pesan Kleon, “Dokumentasikan perkembanganmu, lalu bagikan prosesnya supaya orang lain bisa belajar bersamamu. Tunjukkan karyamu, dan ketika orang yang tepat muncul, amati mereka baik-baik, karena banyak yang akan mereka perlihatkan kepadamu.”

Tiada Ojek di Paris

ojekparis
Judul: Tiada Ojek di Paris
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Mizan
Tebal: 207

Jakarta, Rembulan, dan Keterasingan

Bulan telah pingsan
di atas Kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya!

Bulan telah pingsan
Mama, bulan telah pingsan
Menusuk tikaman beracun
dari lampu-lampu Kota Jakarta
dan gedung-gedung tak berdarah
berpaling dari bundanya

Siapa yang terasingkan dari Jakarta? Bahkan bulan pun merasa tak seorang menatapnya. Begitulah personifikasi rembulan yang merupakan identifikasi diri dari manusia yang merasa terasing di Kota Jakarta.

Keterasingan atau alienasi adalah wacana yang tumbuh bersama lahirnya sebuah kota, tempat manusia tak dihubungkan oleh kesatuan adat, apalagi darah, seperti dalam masyarakat tradisional dalam pola kekerabatan di kampung, melainkan oleh kesatuan kepentingan. Orang datang ke Jakarta untuk menyambung dan mempertahankan hidup, dalam arti kiasan atau sebenarnya, bukan karena cinta kepada Jakarta. Kepentingan survival ini membuat orang Jakarta berkompetisi. Keakraban mengalami reduksi. Maka manusia pun hidup dalam keterasingan.

Namun, keterasingan bukanlah akhir dunia. Seterasing-asingnya, mereka yang tinggal di Jakarta selalu mempunyai perasaan mesra tentang kotanya. Keterasingan selalu bertimbal balik dengan kerinduan. (hal 35-36)

Ulasan:
Siapa tak kenal Seno? Tulisan-tulisannya selalu bernas. Tiada Ojek di Paris adalah kumpulan esai Seno tentang masyarakat urban dan kota metropolitan. Esai ini terdiri dari 44 cerita pendek yang dapat dibaca secara terpisah.

Buku ini berisi pengamatan Seno tentang masyarakat urban. Jakarta adalah kota yang dipilih Seno sebagai latar belakang kisah-kisah di dalam buku ini. Kota yang terus bertumbuh dan menuntut semua elemen di dalamnya untuk ikut bergerak gegas dan cepat. Kehidupan urban menjadi simbol perkembangan sebuah kota. Mobilitas kaum urban dikenal sangat tinggi dikarenakan beragamnya kegiatan yang mereka ikuti. Tak ketinggalan gaya hidup yang menjadi identitas kaum urban yang dapat menentukan strata sosial mereka di masyarakat.

Barangkali kita akan merasa sedikit tertohok, atau bahkan tertawa dan kemudian mengernyitkan kening ketika membaca kumpulan esai yang bercerita tentang berbagai polah kaum urban. Sadar atau tidak kita seringkali tertipu dan terkungkung oleh kehidupan yang kita sebut dengan modern itu.

The Boy Who Loved Math

content
Judul: The Boy Who Loved Math
Penulis: Deborah Heiligman
Penerbit: Roaring Book Press, New York
Tebal: 37

Paul Erdล‘s adalah seorang anak laki-laki yang tinggal bersama ibunya di Budapest, Hungaria. Sang mama sangat menyayangi Paul. Ketika Paul berumur 3 tahun ibunya harus kembali bekerja sebagai Guru matematika. Maka, Paul kemudian dititipkan kepada Frรคulein (pengasuh).

Frรคulein mempunyai banyak peraturan, sebaliknya Paul benci pada peraturan. Satu-satunya hiburan yang paling menyenangkan Paul adalah menanti musim semi datang. Pada saat itu ibu Paul akan datang dan menghabiskan waktunya di rumah bersama Paul. Maka, Paul sibuk menghitung hari kapan saat itu tiba. Dan itu lah asal mula Paul menyukai angka.

Pada umur 4 tahun, Paul mengajukan pertanyaan tahun lahir dan jam kepada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Dan dengan perhitungan di luar kepala, Paul menyebutkan jumlah detik yang telah dilalui sang tamu. (Bayangkan, anak umur 4 tahun loh itu ๐Ÿ™‚ ). Paul menyukai trik itu dan ia sering melakukannya.

Paul senang bermain dengan angka-angka. Dia menambah dan mengurang angka-angka tersebut. Suatu hari ia mengurangkan angka besar dengan angka kecil. Hasil yang diperoleh adalah lebih kecil dari 0. Ibu Paul menerangkan bahwa angka tersebut disebut dengan bilangan negatif. Paul merasakan keajaiban. Sejak saat itu ia bercita-cita untuk menjadi seorang matematikawan.

Paul kemudian menjadi seorang matematikawan yang berkelana dari satu universitas ke universitas untuk membagikan ilmunya. Ia berdiskusi dengan matematikawan lainnya dan terus menghasilkan karya. Kontribusinya di dunia matematika membuka jalan bagi generasi setelahnya untuk memahami bagaimana komputer dan mesin pencari bekerja. Dan yang tak kalah penting adalah pemrograman.

Dikutip dari Wikipedia di sini
“Sepertinya Paul Erdos tidak mencintai uang dan wanita seperti pria lainnya. Paul Erdos hanya mencintai angka dan matematika. Erdos pernah memenangi hadiah $50000 dari Wolf Prize, sebuah ajang paling bergengsi di bidang matematika. Namun, dari $50000 itu, Erdos hanya menyimpan $720 untuk dirinya, sisanya didonasikan ke sebuah yayasan di Israel. Uang $720 bersama satu koper berisi baju-bajunya menjadi bekal dirinya untuk berkelana menuju universitas-universitas di dunia ini. Paul Erdos menetap di tempat matematikawan di dunia ini, kemudian berdiskusi, kemudian menghasilkan karya. Setidaknya itu menjadi bukti bahwa Paul Erdos tidak mencari kesuksesan berupa uang, tapi Paul Erdos mencari sebuah kesempurnaan dalam hidupnya. Kesempurnaan itu yang mengantarkan dirinya menuju kesuksesan melalui karya-karyanya.”

**
Di satu cerita dikisahkan Paul sangat tertarik dengan bilangan prima. Ketertarikan Paul terhadap bilangan prima membangkitkan rasa ingin tahu saya. Iseng saya membayangkan flow chart untuk mencari rumus bilangan prima. Haha. Sungguh saya baru sadar ternyata kok nggak ketemu ya? Dan kalau sudah buntu sementara rasa penasaran nggak mau hilang bertanyalah saya kepada si mas.

Ini lah jawabannya:
Bilangan prima tidak bisa dikalkukasi, oleh sebab itu bilangan prima digunakan untuk enkripsi.

Wow, menarik ya? Pantas saja Paul Erdos menyukai bilangan prima, ternyata bilangan ini memang sangat unik ๐Ÿ™‚